• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMAMPUAN MENULIS PUISI BERBANTUAN MEDIA GAMBAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 27 PADANG

N/A
N/A
Syafira Nurfa`Izah

Academic year: 2023

Membagikan "KEMAMPUAN MENULIS PUISI BERBANTUAN MEDIA GAMBAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 27 PADANG "

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)

NUR HASNAH NPM 11080219

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG

2016

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Nur Hasnah (NPM: 11080219) Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang 2016

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan, guru menggunakan strategi, teknik dan media pembelajaran tidak bervariasi, dan tidak menarik. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilaksanakan penelitian pembelajaran menulis puisi berbantuan media gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang.

Jenis penelitiaan ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang yang terdaftar pada tahun ajaran 2015/2016. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII.C SMP Negeri 27 Padang yang diambil berdasarkan sampel bertujuan (purposive sampling) yaitu sebanyak 31 orang. Data dalam penelitian ini adalah hasil kerja siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang menulis puisi berbantuan media gambar.

Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang sebagai berikut; (1) kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator diksi tergolong baik sekali (BS) dengan rata-rata 88,17 berada pada rentangan 86-95% pada skala 10, (2) kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator citraan tergolong baik sekali (BS) dengan rata-rata 91,31 berada pada rentangan 86-95%, (3) kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator majas tergolong cukup (C) dengan rata-rata 59,14 berada pada rentangan 56- 65% pada skala 10, dan (4) kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kela VIII SMP Negeri 27 Padang untuk gabungan ketiga indikator tergolong baik (B) dengan rata-rata 79,93 berada pada rentangan 76-85% pada skala 10.

(6)

ii

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul”

Kemampuan Menulis Puisi dengan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang”. Penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan, bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak berikut ini.

1. Aruna Laila, M.Pd., sebagai pembimbing I dan Dina Ramadhanti, M.Pd., sebagai pembimbing II, yang telah bersedia berbagi ilmu dan membantu penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.

2. Dra. Indriani Nisja, M.Pd., sebagai penguji I, Helki Syuriadi, M.Pd., sebagai penguji II, dan Rahayu Fitri, M.Pd., sebagai penguji III yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan kritikan dan saran pada penelitian ini.

3. Iswadi Bahardur, M.Pd., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia beserta Dra. Indriani Nisja, M.Pd., sebagai Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

4. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat yang telah membekali penulis dengan ilmu pendidikan.

5. Kedua orang tua yang tidak hentinya memberikan semangat, motivasi, dan doa kepada penulis.

(7)

iii

mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Padang, Februari 2016

Penulis

(8)

iv

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Batasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 6

G. Definisi Operasional ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 8

1. Hakikat Menulis ... 8

a. Pengertian Menulis ... 8

b. Tujuan Menulis ... 9

c. Manfaat menulis ... 10

2. Hakikat Puisi ... 10

a. Pengertian Puisi ... 11

b. Jenis-jenis Puisi ... 10

c. Unsur-unsur Pembangun puisi... 13

3. Hakikat Media Pembelajaran ... 21

a. Pengertian Media Pembelajran ... 21

(9)

v

c. Fungsi Media pembelajaran... 22

4. Hakikat Media Gambar ... 24

a. Pengertian Media Gambar ... 24

b. Kelebihan Media Gambar ... 25

c. Langkah-langkah Penerapan Media Gambar ... 25

d. Langkah-langkah Penggunaaan Media Gambar dalam Pembelajaran Menuli Puisi ... 25

B. Penelitian yang Relevan ... 26

C. Kerangka Konseptual ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian ... 30

B. Populasi dan Sampel ... 30

C. Variabel dan Data... 31

D. Instrumen Penelitian ... 32

E. Teknik Pengumpulan Data ... 32

F. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 36

B. Analisis Data ... 39

C. Pembahasan ... 52

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 69

B. Saran ... 69

KEPUSTAKAAN ... 71

LAMPIRAN ... 73

(10)

vi

Halaman Lampiran 1 Tabel Identitas Sampel Penelitian Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 27 Padang... ... 66

Lampiran 2 Tabel Perhitungan Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang .... 67

Lampiran 3 Tabel Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang ... 68

Lampiran 4 Tabel Nilai Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator 1 (Diksi) ... 69

Lampiran 5 Tabel Nilai Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Indikator 2 (Citraan) ... 70

Lampiran 6 Tabel Nilai Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator 3 (Majas) ... 71

Lampiran 7 Tabel Nilai Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk gabungan ketiga indikator ... 72

Lampiran 8 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...73

Lampiran 9 Media gambar pengumpulan data dan latihan ...82

Lampiran 10 Instrumen Penelitian ...83

Lampiran 11 Dokumentasi ... ….85

Lampiran 12 Data Tulisan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Berbantuan Media Gambar ... 86

Lampiran 13 Surat Izin Observasi ...116

Lampiran 14 Surat Izin Penelitian ...11

(11)

Halaman Tabel 1 Populasi dan Sampel ... 30 Tabel 2 Format Penilaian Kemampuan Menulis Puisi

Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 27 Padang ... 33 Tabel 3 Pedoman Konversi Skala 10 ... 34 Tabel 4 Skor Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar

Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang ... 36 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menulis Puisi

Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 27 Padang indikator 1 (Diksi) ... 41 Tabel 6 Klasifikasi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27

Padang untuk indikator 1 (Diksi) ... 42 Tabel 7 Distribusi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27

Padang untuk indikator 2 (Citraan) ... 43 Tabel 8 Klasifikasi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VII SMP Negeri 27 Padang

untuk Indikator 2 (Citraan) ... 44 Tabel 9 Distribusi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

untuk indikator 3 (Majas) ... 46 Tabel 10 Klasifikasi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VII SMP Negeri 27 Padang

untuk Indikator 3 (Majas)... 47

Tabel 11 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

untuk Gabungan Ketiga Indikator ... 49 Tabel 12 Klasifikasi Gambaran Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

untuk Gabungan Ketiga Indikator ... 50

vii

(12)

Halaman Gambar 1. Bagan Kerangka Konseptual ... 29 Gambar 2. Histogram Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri

27 Padang untuk Indikator 1 (diksi) ... 43 Gambar 3. Histogram Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media GambarSiswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

Untuk Indikator 2 (citraan) ... 46

Gambar 4. Histogram Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri

27 Padang untuk Indikator 3 (majas) ... 49 Gambar 5. Histogram Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan

Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

Untuk gabungan Ketiga Indikator ... 52

viii

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah mencakup empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Keempat keterampilan ini saling berkaitan satu sama lain. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang perlu dilatih secara intensif kepada siswa dibandingkan dengan keterampilan lainnya karena siswa menganggap keterampilan menulis merupakan hal yang sulit.

Kemampuan menulis tidak dapat dikuasai dengan mempelajari teori saja, tetapi harus melalui latihan yang tersusun sehingga menghasilkan tulisan yang baik. Kemampuan menulis diperoleh sesorang di bangku sekolah. Mulai dari diajarkan sejak Sekolah Dasar sampai Pengguruan Tinggi, tetapi tidak semua orang mampu menggungkapkan ide dan pikirannya secara tertulis dengan baik. Kemampuan menulis selalu menjadi tujuan akhir yang harus dicapai dalam kemampuan lainnya. Kemampuan menulis merupakan kemampuan berbahasa yang harus dikuasai siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Pembelajaran kemampuan menulis harus mendapatkan perhatian khusus agar terciptanya kemampuan siswa dalam menuangkan ide, gagasan dan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang bermakna.

Salah satu proses menulis kreatif adalah menulis puisi yang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk susunan kata yang indah.

Sebelum menghasilkan karya berupa puisi siswa harus mengetahui struktur

1

(14)

fisik dan batin yang dituangkan ke dalam puisi. Setiap siswa memiliki kreativitas masing-masing dalam menuangkan gagasan ke dalam susunan kata- kata sehingga membentuk tulisan indah yang disebut puisi. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu memberikan motivasi agar siswa senang dalam pembelajaran menulis puisi dan mudah dalam menuangkan ide kreatifnya.

Pembelajaran menulis puisi di sekolah merupakan salah satu langkah untuk memperkenalkan siswa dengan karya sastra berupa puisi. Menulis puisi terdapat di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP mata pelajaran bahasa Indonesia salah satu Standar Kompetensi (SK) 16 yaitu mengungkapkan pikiran, dan perasaan dalam puisi bebas. Kompetensi dasar dari standar kompetensi yaitu, KD 16. 1 menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SMP Negeri 27 Padang masalah yang ditemukan sebagai berikut: pertama, buku yang digunakan di sekolah hanya berupa buku teks bahasa Indonesia dan LKS. Keterbatasan buku pelajaran mengakibatkan siswa kurang memahami kemampuan menulis puisi.

Kedua, media yang digunakan guru dalam proses pembelajaran kurang bervariasi dan tidak menarik, sehingga siswa tidak kreatif dalam menulis puisi.

Ketiga, siswa masih mengutamakan bermain daripada belajar di sekolah. Siswa sering tidak terfokus dan hanya bermain di kelas pada jam belajar. Hal ini disebabkan karena siswa bosan dengan pembelajaran tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP Negeri 27 Padang Bapak Dafri, S.Pd. pada tanggal 12

(15)

September 2015 ditemukan masalah terhadap kemampuan menulis puisi siswa yaitu sebagai berikut: Pertama, siswa sulit menemukan ide-ide dan merangkai kata demi kata ke dalam bentuk tulisan. Kedua, siswa menganggap menulis puisi merupakan kegiatan yang membosankan karena pelajaran menulis yang sering diterapkan pada siswa sekedar teori dan terfokus di dalam kelas. Ketiga, puisi yang ditulis siswa belum menggunakan diksi yang tepat. Siswa juga belum menuliskan citraan dan majas dalam puisinya karena siswa tidak memahami konsep dasar diksi, citraan dan gaya bahasa.

Wawancara juga dilakukan secara nonformal dengan salah seorang siswa yang bernama Nadya Rachmadani kelas VIII SMP Negeri 27 Padang diperoleh keterangan bahwa, siswa merasakan pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang paling membosankan, siswa kurang bisa merangkai kata-kata dalam menulis puisi, siswa menjadi malas menulis puisi karena media yang digunakan kurang menarik. Jadi, guru perlu memberikan proses pembelajaran yang sangat menyenangkan bagi siswa.

Berdasarkan masalah di atas, siswa SMP Negeri 27 Padang perlu seorang guru dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis puisi. Salah satu cara yang harus dilakukan oleh guru adalah menggunakan metode, strategi, teknik, dan media pembelajaran yang sesuai dan menarik, karena tidak semua metode, strategi, teknik dan media pembelajaran yang bisa digunakan dalam menulis puisi. Selain itu, guru juga harus memperhatikan kemampuan siswa dalam menanggapi pembelajaran menulis puisi. Siswa akan merasa bosan jika media yang digunakan selalu menoton atau hanya dengan

(16)

menyampaikan teori saja. Siswa menginginkan media yang digunakan menarik dan mampu mengembangkan idenya dalam menulis puisi. Salah satu media yang dapat digunakan dalam menulis puisi adalah dengan menggunakan media gambar. Media gambar dapat meningkatkan kreativitas siswa digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat meningkatkan semangat belajar siswa. Melalui media gambar siswa terbantu dalam mengembangkan imajinasi untuk menciptakan ide yang tepat dan sesuai dengan gambar sehingga menghasilkan puisi yang memiliki kepuitisan dan keindahan.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka penelitian ini perlu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan kemampuan menulis puisi siswa berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah penelitian ini adalah :

1. Siswa kesulitan menuangkan ide-ide dan merangkai kata demi kata ke dalam bentuk tulisan, sehingga siswa perlu dilatih dalam merangkai kata-kata dengan menggunakan imajinasinya.

2. Siswa menulis puisi belum menggunakan diksi yang tepat, citraan dan majas yang menarik. Sehingga siswa harus diberi konsep dasar diksi, citraan dan majas.

3. Guru menggunakan strategi, teknik dan media pembelajaran tidak bervariasi sehingga siswa merasa bosan dalam pembelajaran menulis puisi. Oleh karena itu, peranan guru dalam menggunakan metode,

(17)

strategi, teknik dan media harus diperhatikan. Salah satu media yang akan membantu siswa dalam menulis puisi adalah media gambar.

4. Masih kurangnya buku panduan yang akan digunakan siswa dalam belajar. Sehingga pentingnya peranan pihak sekolah dalam melengkapi fasilitas belajar siswa.

5. Siswa tidak terfokus belajar dan lebih memilih bermain dikelas.

Sehingga pelunya peranan guru untuk menciptakan suasana belajar yang baik dalam kelas.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi pada kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 padang.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang.

(18)

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi kepentingan praktis dan teoritis.

1. Manfaat praktis yaitu:

a. Bagi siswa, agar menjadi lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran menulis puisi dan mudah menuangkan ide-ide.

b. Bagi guru bahasa Indonesia, dapat memberikan pengalaman untuk menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran menulis puisi.

c. Bagi peneliti sendiri, dapat dijadikan bahan kajian akademik oleh peneliti.

d. Peneliti lain, dapat dijadikan pedoman untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat teoritis yaitu:

a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang media pembelajaran.

b. Untuk memberikan informasi tentang media pembelajaran menulis puisi.

G. Definisi Operasional

Sebagai bahan acuan perlu dijelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan dalam melakukan sesuatu.

(19)

2. Menulis adalah serangkaian kegiatan dalam menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran dengan menggunakan lambang-lambang bahasa sebagai medianya.

3. Puisi adalah bentuk karya sastra yang imajnatif terdiri dari struktur fisik dan batin.

4. Media gambar adalah salah satu media yang mampu mendeskripsikan suatu objek dalam bentuk gambar atau foto.

(20)

BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori

Penelitan ini menguatkan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang telah dikemukakan. Teori yang dimaksud adalah (1) hakikat menulis, (2) hakikat puisi, (3) hakikat media, dan (4) hakikat media gambar.

1. Hakikat Menulis

Pada bagian ini akan dijelaskan teori yang berkaitan dengan hakikat menulis yaitu: (a) pengertian menulis, (b) tujuan menulis, dan (c) manfaat menulis.

a. Pengertian Menulis

Menulis merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa selain dari menyimak, berbicara, dan membaca. Menurut Tarigan (2008:21) menulis adalah menurunkan dan melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh ssesorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut. Semi (2009:7) memaparkan bahwa menulis merupakan proses yang kreatif. Sebagai suatu proses yang kreatif, menulis harus mengalami suatu proses yang secara sadar dilalui dan secara sadar pula dilihat dengan hubungan satu dengan yang lain, sehingga berakhir pada satu tujuan yang jelas. Menurut Suparno dan Yunus (2003:13) menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya.

8

(21)

Berdasarkan uraian pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan menyampaikan atau berkomunikasi pada orang lain melalui media bahasa yang berbentuk ujaran yaitu bahasa tulis. Jadi, dengan menulis sesorang dapat menyampaikan ide, pikiran, maupun gagasan ke dalam bentuk lambang-lambang tulis dan disusun sebaik mungkin agar mudah dipahami oleh sipembaca.

b. Tujuan Menulis

Tarigan (2008:24) mengemukakan tujuan menulis tersebut yaitu, (1) untuk memberitahukan atau mengajar, (2) menyakinkan atau mendesak, (3) untuk menghibur atau menyenangkan pembaca, (4) untuk mengungkapkan ekspresi perasaan dan emosi yang kuat.

Semi (2009:17-19) menyatakan tujuan menulis ada lima macam.

Pertama, memberikan arahan, yaitu memberikan petunjuk kepada orang lain dengan mengerjakan sesuatu. Kedua, menjelaskan sesuatu, yaitu memberikan uraian atau penjelasan tentang sesuatu hal yang harus diketahui orang lain.

Ketiga, menceritakan kejadian, yaitu memberikan informasi tentang sesuatu yang berlangsung di suatu tempat pada suatu waktu. Keempat, meringkaskan, yaitu membuat rangkuman suatu tulisan sehinggga menjadi lebih singkat.

Kelima, menyakinkan, yaitu tulisan yang berusaha menyakinkan orang lain agar setuju atau sependapat dengannya. Menurut Suparno dan Yunus (2003:1- 4) tujuan menulis adalah sebagai berikut, (1) peningkatan kecerdasan, (2) pengemban daya inisiatif dan kreatif, (3) penumbuhan keberanian, (4) pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

(22)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah menuangkan ide, pikiran dan perasaan untuk disampaikan kepada pembaca yang berupa informasi, mempengaruhi pembaca, menghibur pembaca dan membantu pembaca memecahkan masalah yang dihadapi.

c. Manfaat Menulis

Tarigan (2008:22) mengemukakan empat manfaat menulis (1) alat komunikasi tidak langsung, (2) menolong dalam berfikir secara kritis, (3) memperdalam daya tanggap atau persepsi, memecahkan maslah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman, (4) membantu dalam menjelaskan pikiran.

Suparno dan Yunus (2003:1-4) mengungkapkan empat manfaat menulis.

Pertama, peningkatan kecerdasan. Kedua, pengmbangan daya insiatif dan kreatif. Ketiga, penumbuhan keberanian. Keempat, pendorong kemauan dan kemapuan mengumpulkan informasi.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat menulis adalah sebagai sarana seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran dan gagasan melalui tulisan, sehingga daat menghasilkan kepuasan tersendiri bagi penulis dalam memecahkan masalah bagi sipembaca.

2. Hakikat Puisi

Pada bagian ini akan dijelaskan teori yang berkaitan dengan hakikat puisi yaitu: (a) pengetian puisi, (b) jenis-jenis puisi, (c) unsur-unsur puisi, (d) pengukuran kemampuan menulis puisi.

(23)

a. Pengertian Puisi

Waluyo (1987:25) menjelaskan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang menggungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajiantif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batin. Semi (2008:178) menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang paling penting.

Puisi secara umum ditulis dengan menekankan kepada larik-larik sehingga jarang ditulis samapai pada baris pinggir kertas. Sedangkan menurut Atmazaki (2005:37) puisi merupakan salah satu dati tiga genre sastra. Ketiga genre sastra tersebut secara umum, yaitu yang berbentuk prosa, yang berbentuk puisi dan yang berbentuk drama.

Menurut Hasanuddin (2002:4-5) puisi adalah karya sastra yang terikat oleh baris, bait, dan irama. Puisi merupakan pernyataan persamaan yang imajinatif yaitu, perasaan yang direkakan. Perasaan dan pikiran yang masih abstrak dikongkretkan. Untuk mengonretkan peristiwa yang telah direkam di dalam pikiran dan perasaan penyair, puisi merupakan salah satu sarananya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa puisi adalah salah satu genre sastra yang terikat dengan bait, baris, dan irama. Selain dari itu, puisi juga merupakan rekaan perasaan seorang penyair.

b. Jenis-Jenis Puisi

Waluyo (1987:135-144) menyatakan bahwa puisi ini juga memiliki beberapa macam yaitu: (1) puisi naratif, lirik dan deskriptif, (2) puisi kamar dan puisi Auditorium, (3) puisi fisikal, platonik, dan metafisikal, (4) puisi

(24)

subyektif dan puisi obyektif, (5) puisi konkret, (6) puisi diafan, gelap, dan prismatis, (7) puisi parnasian dan puisi inspiratif, ( 9) puisi demontrasi dan pamflet, (10) alegori.

Menurut Semi (1988:101) ditinjau dari segi periodisasi kelahiran puisi kita mengenal adanya istilah puisi lama dan puisi baru atau sering pula dibedakan atas puisi tradisional dan puisi modern. Dalam puisi tradisional kita jumpai pula berbagai bentuk syhair, pantun, gurindam, peribahasa, sonata dan lain-lain. Dalam pengertian puisi baru atau modern kita jumpai istilah puisi bebas. Ditinjau dari gaya penulisan, kita dapat membagi puisi atas dua jenis.

Pertama, puisi dapat diaphaan (polos). Puisi diaphaan adalah puisi yang menyatakan suatu maksud dengan sedikit sekali menggunakan lambang- lambang atau simbol-simbol. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata denotatif, yaitu kata-kata yang masih mendukung arti dikenal secara umum dalam pemakaiannya sehari-hari. Dengan demikian, puisi tersebut disampaikan secara polos tanpa lambang-lambang dan dapat ditangkap makna atau maksudnya dengan mudah. Kedua, puisi prismatik (membias). Puisi ini menyatakan lambang-lambang dengan kiasan-kiasan, dan dengan kalimat yang tidak langsung menyatakan maksud. Kata-kata yang dipakai pada umumnya adalah kata-kata yang konotatif.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa puisi terbagi dari beberapa jenis. Setiap jenis puisi tersebut terdapat perbedaan dengan jenis puisi yang lainnya.

(25)

c. Unsur-Unsur Pembangun Puisi

Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) mengemukakan bahwa puisi terdiri atas dua unsur yaitu tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik atau unsur semantik puisi menunjuk ke arah struktur batin, sedangkan unsur sintaksis menunjuk ke struktur fisik. Inti puisi adalah unsur tematik yang diungkapkan melalui medium bahasa yang mengandung kesatuan sintaksis. Struktur batin puisi terdiri atas tema, nada, perasaan, amanat.

Sedangkan struktur fisik puisi terdiri atas diksi, pengimajian (citraan), kata konkret, majas, verifikasi dan tipografi puisi. Majas terdiri atas lambang dan kiasan, verifikasi terdiri atas rima, ritme dan metrum. Sedangkan menurut M.S Hutagalung (dalam Waluyo, 1987:27) mengatakan dua unsur puisi dengan tema struktur. Tema di sini adalah struktur batin, sedangkan yang dimaksud struktur di sini adalah struktur fisik.

Hasanudin WS (2002:45) mengungkapkan bahwa sebuah sajak dibangun oleh unsur-unsur sebagai berikut: (a) Bunyi, (b) Arti atau makna, (c) Dunia sajak berupa: tokoh, latar cerita, (d) Pemikiran atau ide, (e) Bentuk termasuk tipografi, dan (f) Suasana. Semua unsur tersebut tidaklah berdiri sendiri-sendiri dengan fungsi yang dimilikinya, melainkan secara padu dan koheren menciptakan efek puitis.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya. Puisi terdiri dari dua struktur yaitu struktur batin dan struktur fisik. Karena puisi tersusun dari macam-macam unsur dan sarana kepuitisan. Sesuai dengan penelitian ini, unsur-unsur

(26)

pembangun puisi yang penulis bahas dalam penelitian ini adalah pilihan kata (diksi), pengimajian (citraan) dan Majas.

1) Diksi (Pilihan Kata)

Waluyo (1987:72-78) memaparkan bahwa diksi atau pemilihan kata yang harus diperhatikan oleh seorang penyair yaitu: Hal-hal yang harus di perhatikan dalam penggunaan diksi adalah sebagai berikut: (a) Perbendaharaan kata, pebendaharaan kata penyair di samping sangat penting untuk kekuatan ekspresi, juga menunjukkan ciri khas penyair. Dalam memilih kata-kata, di samping penyair memilih berdasarkan makna yang akan disampaikan dan tingkat perasaan serta suasana batinnya, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya penyair. (b) Urutan kata, dalam menulis puisi urutan kata yang bersifat beku artinya utrutan tidak dapat dipindah-pindahkan tempatnya meskipun makanya tidak berubah oleh perpindahan tempat itu. Cara menyusun urutan kata-kata itu bersifat khas karena penyair yang satu berbeda caranya dari penyair lainnya. (c) Daya sugesti kata-kata, dalam memilih kata-kata, penyair memperimbangkan daya sugesti kata-kata itu. Sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesi kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah dan sebagainya.

Sudjiman (dalam Hasanuddin, 2002:19) menyatakan bahwa diksi berhubung dengan pemilihan kata bermakna tepat dan selaras yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan atau peristiwa. Sesuai

(27)

dengan pernyataan ini, sering kali ditemui penyair memperbaikikata-kata yang telah dipilih sebelumnya. Usaha memperbaiki kata-kata itu karena kata sebelumnya dianggap tidak mengena baik dari segi makna, kepuitisan, dan segi apapun.

Keraf (dalam Thahar, 2008:16) memaparkan bahwa kata merupakan suatu unit dalam bahasa yang memiliki stabilitas internal dan mobilitas possional. Dikatakan memiliki mobilitas posisional artinya sebuah kata yang berganti posisi pada sebuah kalimat. Rangkaian yang terpenting dari kata adalah pengertian yang tersirat dibalik kata itu. Selanjutnya, Barfield (dalam Pradopo, (2002:54) mengemukakan bahwa bila kata-kata yang dipilih dan disusun dengan cara yang sedemkian rupa sehingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis.

Altenbernd (dalam Pradopo, 2002:54) menjelaskan bahwa penyair ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya secara padat dan intens. Untuk hal ini memilih kata yang tepat dapat menjelaskan pengalaman jiwanya. Untuk mendapatkan kepadatan intensitas serta supaya selaras dengan sarana komunikasi puitis yang lainnya, maka penyair memilih kata-kata secermat- cermatnya.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa diksi atau pilihan kata mampu menimbulkan nilai estetik. Oleh karena itu seorang penyair harus cermat dalam memilih kata-kata untuk menimbulkan nilai estetik.

(28)

2) Pengimajian (Citraan)

Menurut Waluyo (1987:78-79) pengimajian atau pencitraan merupakan kata atau susunan kata-kata yang mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Ungkapan rasa penyair itu dijelmakan ke dalam gambaran konkret seolah-olah pemabaca bisa mendengar, melihat, atau merasakan sendiri apa yang dirasakan oleh penyair. Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata yang konkret.

Pradopo (1999:79) menjelaskan bahwa gambaran angan atau pengimajian dalam sajak disebut citra atau imaji (image), sedangkan setiap gambaran-gambaran pikiran dan bahasa yang menggambarkan ini disebut imagery atau citraan. Sedangkan menurut Hasanuddin (2002:117-132) citraan dibagi atas enam jenis sebagai berikut:

1) Citraan Penglihatan

Citraan penglihatan adalah citraan yang timbul karena daya sarang penglihatan. Citraan penglihatan memberi rangsangan kepada indera penglihatan, sehingga sering hal-hal yang tidak terlihat seolah-olah terlihat.

2) Citraan pendengaran

Segala sesuatu yangberhubungan dengan usaha memancing bayangan pendengaran guna membangkitkan suasana tertentu di dalam sajak dapat digolongkan kepada citraan pendengaran. Lewat citraan pendengaran, sesuatu yang abstrak digambarkan sebagai sesuatu yang terdengar dan merangsang indera pendengaran.

(29)

3) Citraan penciuman

Ide-ide abstrak coba dikonkretkan oleh penyair dengan cara melukiskannya atau menggambarkannya lewat suatu rangsangan yang seoalah- olah dapat ditangkap oleh indera penciuman. Citraan ini mungkin saja dipergunakan secara bersama-sama dengan citraan-citraan yang lain.

4) Citraan rasaan

Lewat citraan ini, digambarkanlah sesuatu oleh penyair dengan mengentengahkan atau memilih kata-kata untuk membangkitkan emosi pada sajak guna menggiring daya bayang pembaca lewat sesuatu yang seolah-olah dapat dirasakan oleh indera pengecapan pembaca.

5) Citraan rabaan

Citraan rabaan adalah citraan berupa lukisan yang mampu menciptakan suatu daya saran bahwa seoalah-olah pembaca dengan tersentuh, bersentuhan, atau apapun yang melibatkan efektivitas indera kulitnya. Citraan rabaan memang seringkali dimanfaatkan untuk menggambarkan suasana sendu, perih, meskipun terkadang di dalamya dijumpai sentuhan erotis.

6) Citraan gerak

Citraan gerak ini dimanfaatkan dengan tujuan lebih menghidupkan gambaran dengan melukiskan sesuatu yang diam itu seolah-olah bergerak.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa citraan itu terbagi dari citraan penciuman, citraan rabaan, citraan rasaan, citraan penglihatan, citraan pendengaran dan citraan gerak. Dengan adanya citraan ini pembaca seolah-olah merasakan apa yang dituliskan oleh penyair.

(30)

3) Bahasa Bermajas (Majas)

Menurut Waluyo (1987:83-86) bahasa figurafif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara langsung mengungkapkan makna. Untuk memahami bahasa figuratif pembaca harus menafsirkan kiasan atau lambang yang dibuat penyair baik lambang konvensional maupun nonkonvensional. Penyair modern membuat kiasan yang baru dan tidak menggunakan kiasan-kiasan lama yang sudah ada. Kiasan-kiasan yang dibicarakan disini adalah sebagai berikut ini. (1) Metafora. Metafora adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan. Contoh klasik:

lintah darat, bunga desa, kambing hitam, bunga sedap malam dan sebagainya.

(2)Perbandingan. Kiasan yang tidak langsung disebutkan perbandingan atau simile. Benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya dan digunakan kata-kata seperti, laksana, bagaikan, bak, dan sebaginya. (3) Personifikasi. Keadaan atau peristiwa alam yang sering dialami oleh manusia.

Dalam hal ini benda mati dianggap sebagai manusia atau persona. (4) Hiperbola. Hiperbola adalah kiasan yang berleb ih-lebihan. (5) Sinekdoce.

Sinekdoce adalah menyebutkan sebagian. (6) Ironi. Ironi yakni kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran.

Teori lain menurut Hasanudin (2002:133-142) untuk menciptakan unsur kepuitisan dapat dimanfaatkan sarana kebahasaan, yaitu bahasa bermajas.

Majas sendiri adalah peristiwa pemakaian yang melewati batas-batas

(31)

maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiahnya. Majas yang sering digunakan oleh penyair adalah: majas perbandingan yaitu, bahasa yang menyamakan sesuatu hal dengan yang lain dengan menggunakan perbandingan seperti: bak, bagai, seperti, lakasana, umpama, ibarat, dan lain-lain. Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang mengambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.

Metafora adalah semacam analogi yang memandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk singkat. Alegori adalah majas yang mengandung makna kiasan. Parabel atau parabola merupakan suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia yang selalu mengandung tema moral. Fabel adalah suatu bentuk pengucapan yang dapat dikategorikan kepada bentuk bahasa bermajas metafora juga, yaitu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesuatu yang tidak biasa. Bahasa figuratif (majas) atas dari metafora, hiperbola, personifikasi, simile, sinekdot, ironi dan alegori.

4) Tipografi

Menurut Waluyo (1987:97) tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf, melainkan berbentuk bait. Sedangkan menurut Hasanuddin (2002:150) tipografi yang diciptakan sedemikian rupa dengan serta merta

(32)

mampu menarik perhatian. Bahkan tipografi ikut menentukan kepuitisan sebuah sajak.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tipografi adalah pembeda antara puisi dengan karya sastra lainnya. Tipografi ini mampu menarik perhatian pembaca bahkan ikut dalam menentukan sebuah sajak.

Indikator yang akan dinilai dalam menulis puisi adalah kemampuan penggunaan diksi yang sesuai, penggunaan citraan yang tepat dan majas dalam puisi yang ditulis siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang. Indikator tersebut sesuai dengan unsur-unsur puisi yang terdapat pada struktur fisik puisi yang terdapat dalam teori Herman J. Waluyo. Struktur fisik puisi merupakan keadaan fisik puisi yang dibuat oleh siswa yakni meliputi unsur-unsur: diksi (pilihan kata), Pengimajian (citraan), dan bahasa figuratif (majas).

d. Pengukuran Kemampuan Menulis Puisi

Pada penelitian ini sesuai dengan Kompetensi Dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan Pedidikan (KTSP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan berlandasan pada teori yang dikemukakakn oleh Herman J. Waluyo. Siswa harus memenuhi syarat berikut ini.

1) Pengunaan diksi

Siswa harus menggunakan diksi (pilihan kata) yang mampu mengungkapkan suasana, perasaan dan keindahan dalam puisi. Kata-kata yang digunakan dalam puisi harus sesuai dengan gambar. Siswa yang mampu

(33)

menggunakan lima diksi yang tepat pada puisinya, maka siswa tersebut dikatakan sudah mampu dalam menerapkan diksi di dalam puisi.

2) Penggunaan pengimajian (citraan)

Siswa harus menggunakan citraan dalam puisi yang mampu membawa pembaca ke dalam susasan puisi tersebut. Sesuai dengan materi yang ada dalam pembelajaran SMP siswa harus menguasai citraan dengan empat jenis citraan. Jadi, siswa yang sudah mampu menggunakan tiga atau lebih jenis citraan, maka siswa tersebut sudah dikatakan mampu dalam menerapkan citraan di dalam puisi.

3) Penggunaan majas

Siswa harus menggunakan majas di dalam puisi. Majas yang harus dikuasai siswa sebanyak empat jenis majas. Hal ini sesuai dengan materi yang harus dikuasai oleh siswa SMP dalam pembelajaran. Siswa yang sudah menuliskan tiga jenis majas, maka siswa sudah dikatakan mampu untuk menulis puisi dengan menggunakan majas.

3. Hakikat Media Pembelajaran

Landasan teoritis tentang media pembelajaran sebagai berikut, (a) pengertian media pembelajaran, (b) jenis-jenis media pembelajaran, dan (c) fungsi media pembelajaran.

a. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah kata media memiliki arti “perantara”. Arsyad (2005:3) mengemukakan “Media

(34)

adalah alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Serupa dengan itu, Asnawir dan Usman (2002:11) media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media yang kreatif akan membangkitkan semangat belajar audien (siswa) menjadi lebih baik dan meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan media adalah alat perantara untuk menyalurkan pesan yang dapat meningkatkan semangat belajar siswa untuk lebih baik dalam menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi yang didapatkan. Media digunakan untuk menarik perhatian siswa dalam memperhatikan pembelajaran.

b. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Menurut Sudjana dan Ahmad Rivai (2013:3-4) ada beberapa jenis media pengajaran yang biasanya digunakan dalam proses pembelajaran.

Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid padat), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain. Keempat, penggunaan lingkngan sebagai media pengajaran.

(35)

Hamdani (2010:244-245) memaparkan bahwa media pembelajaran terbagi atas delapan yaitu Pertama, media audio yaitu media yang hanya dapat didengar atau memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara. Kedua, media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Ketiga, media audio visual yaitu media yang mengandung unsur suara dan unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, film, dan sebagainya. Keempat, orang (people) yaitu orang yang menyimpan informasi dan berperan sebagai sumber belajar. Kelima, bahan (materials) yaitu suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku paket, alat peraga, dan sebagainya. Keenam, alat (device) yaitu benda- benda yang berbentuk fisik yang sering disebut dengan perangkat keras yang berfungsi untuk menyajikan bahan pembelajaran, seperti komputer, radio, dan sebagainya. Ketujuh, teknik yaitu cara yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran, seperti ceramah, diskusi, seminar, dan sejenisnya.

Kedelapan, latar (setting) yaitu lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun di luar sekolah yang secara khusus disiapkan untuk pembelajaran, seperti ruang kelas, studio, perpustakaan, dan sebagainya.

c. Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Asnawir dan Usman (2002:24) media pengajara berfungsi sebagai: (1) membantu memudahkan belajar bagi siswa/mahasiswa dan membantu memudahkan mengajar bagi guru/dosen; (2) memberikan pengalaman lebih banyak; (3) menarik perhatian siswa lebih besar dan membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan; (4) semua indra murid

(36)

dapat diaktifan, dan kelemahan satu indra dapat di imbangi oleh kekuatan indra lainnya; dan (5) dapat membangkitkan dunia teori dengan realitanya.

4. Hakikat Media Gambar

Landasan teoritis dalam media gambar ini adalah sebagai berikut: (a) pengertian media gambar; (b) kelebihan media gambar, (d) pengaruh media gambar dalam menulis puisi (c) langkah-langkah penerapan dalam media gambar, (d) langkah-langkah penggunaan media gambar dalam pembelajaran menulis pusi.

a. Pengertian Media Gambar

Teknik pembelajaran menulis dari gambar ini bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa. Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar (Suyatno, 2004:81).

Subana dan Sunarti (2011:322) juga menyatakan bahwa gambar adalah media visual dua dimensi di atas bidang yang tidak transparan. Guru dapat menggunakan gambar untuk memberikan gambaran tentang sesuatu sehingga penjelasannya lebih konkret daripada diuraikan dengan kata-kata.

Melalui gambar, guru dapat menterjemahkan ide-ide abstrak dalam bentuk yang realisitik.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa media gambar merupakan media visual yang dihasilkan melalui fotografi.

(37)

Media gambar juga untuk memberikan gambaran tentang sesuatu sehingga penjelasannya lebih konkret daripada diuraikan dengan kata-kata. Gambar yang dapat dihasilkan adalah berupa gambar orang, gambar bintang, gambar tumbuhan dan sebagainya.

b. Kelebihan Media Gambar

Menurut Subana dan Sunarti (2011:324-325), kelebihan media gambar ada lima. Pertama, gambar mudah diperoleh daripada buku, majalah, Koran, album, foto dan sebagainya. Kedua, dapat menterjemahkan ide-ide abstrak dalam bentuk yang lebih nyata. Ketiga, gambar mudah dipahami karena tidak membutuhkan peralatan. Keempat, gambar relative murah. Kelima, gambar dapat digunakan dalam banyak hal dan berbagai disiplin ilmu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan kelebihan media gambar adalah mudah dan murah didapatkan serta digunakan. Media gambar juga memilki sifat yang konkret atau tidak berubah-ubah. Media gambar juga baik digunakan sebagai media pembelajaran.

c. Langkah-langkah Penerapan dalam Media Gambar

Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi ini adalah dengan menggunakan media gambar yang merupakan satu komponen media visual. Kaitan antara pembelajaran menulis dengan media ini adalah terdapat pada langkah pembelajarannya. Langkah yang dilakukan oleh guru adalah menyediakan sebuah gambar sebagai media.

Teknik pembelajaran menulis dari gambar bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Guru dapat

(38)

menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa. Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar. Media ini dapat dipergunakan secara perseorangan maupun kelompok (Suyatno, 2004: 81).

Maka langkah-langkah penerapannya dalam pembelajaran menulis puisi adalah sebagai berikut ini. Pertama, guru menyampaikan pengantar.

Kedua, guru menempelkan gambar di depan kelas. Ketiga, setelah siswa melihat gambar tersebut, siswa mulai menulis kata-kata yang ada di dalam gambar. Keempat, siswa menyusun kata-kata tersebut dalam bentuk puisi.

Kelima, guru menanyakan hasil kerja siswa.

d. Langkah-langkah Penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran Menulis Puisi

Sebelum mengumpulkan penelitian maka guru memulai pembelajaran terlebih dahulu. Setelah itu baru melakukan penelitian, maka langkah-langkah dalam pembelajaran menulis puisi adalah sebagai berikut ini. Pertama, guru menyampaikan pengantar pembelajaran. Kedua, guru membagikan gambar kepada siswa. Ketiga, siswa menanyakan informasi yang ada di dalam gambar.

Keempat, siswa menyusun kata-kata tersebut dalam bentuk puisi. Kelima, guru menanyakan hasil kerja siswa.

B. Penelitian Yang Relevan

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan menulis puisi yang pernah dilakukan sebelumnya adalah :

Aflita (2013) melakukan penelitian dengan judul “keterampilan menulis deskripsi dengan menggunakan media gambar siswa kelas X SMA Negeri 1

(39)

Panti Pasaman”. Dalam penelitian tersebut ditemukan masalah bahwa kurangnya pemahaman siswa dalam menulis paragraf deskripsi, keterbatasan kosakata yang dimiliki siswa sehingga sulit mengungkapkan ide, kurang efektifnya penggunaan media terhadap pembelajaran. Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan media gambar hasilnya tergolong lebih dari cukup (LDC) dengan rata-rata keterampilan 70,39%.

Rulando (2013) melakukan penelitian dengan judul “Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Lembah Gumanti Kabupaten Solok Dengan Menggunakan Teknik Menemukan.” Dalam penelitian tersebut ditemukan masalah bahwa siswa kurang berminat terhadap pembelajaran menulis puisi, siswa jarang dilatih menulis puisi, kurangnya variasi teknik pembelajaran. Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan teknik menemukan (inquiry) hasilnya indikator tergolong baik (B) dengan means 76,3 dibulatkan menjadi 76 yang terdapat rentangan 76-85%.

Awlia Sari (2013) melakukan penelitian dengan judul “kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Padang dengan menggunakan teknik berdasarkan cerita.” Dalam peneitian tersebut ditemukan masalah bahwa siswa SMP 12 Padang sering kesulitan untuk memulai menulis puisi.

Media atau teknik yang digunakan dalam penelitia ini adalah teknik berdasarkan cerita. Setelah melakukan penelian dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMPN 12 Padang dengan menggunakan teknik berdasarkan cerita untuk penggunaan diksi tergolong baik sekali (BS) Mean 93 (berada pada rentangan 86-95% dalam skala 10).

(40)

Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu, perbedaannya terletak pada subjek,dan indikator yang dinilai. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang dan indikator yang akan dinilai yaitu diksi, citraan, dan majas. Penelitian ini lebih memfokuskan pada ” Kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media gambar siwa kelas VIII SMP Negeri Padang.

C. Kerangka konseptual

Pada penelitian ini yang akan diteliti adalah kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang dengan menggunakan media gambar.

Menulis merupakan kegiatan menyampaikan atau komunikasi kepada orang lain dengan menggunakn media bahasa yang berbentuk lambang-lambang ujaran yaitu bahasa tulis serta memiliki pengetahuan kaidah-kaidah kebahasaan sehingga tulisan dipahami pembaca. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang berupa larik dan mampu mengungkapkan emosi maupun perasaan sesorang. Puisi terdiri dari dua unsur yaitu unsur fisik dan unsur batin. Media gambar adalah media visual yang dihasilkan melalui proses fotografi.

(41)

Gambar 1. Bagan kerangka konseptual Kemampuan Menulis Puisi

Unsur Fisik Unsur Batin

Tipografi Citraan

Diksi Majas Tema

Nada dan suasana Amanat

Menggunakan Media Gambar

Kemampuan Menulis Puisi Dengan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 27 Padang

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Dikatakan kuantitatif karena data yang diolah menggunakan angka- angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2010:27). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang.

B. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang yang terdaftar pada tahun ajaran 2015/2016. Jumlah siswa 240 orang yang terdiri dari delapan kelas yaitu VIIIA, VIIIB, VIIIC,VIIID, VIIIE, VIIIF, VIIIG dan VIIIH. Mengingat jumlah populasi lebih dari 100 orang siswa, maka diperlukan teknik penarikan sampel penelitian. Untuk lebih jelasnya mengenai populasi dan sampel perhatikan tabel berikut.

Tabel 1

Populasi dan Sampel

No Kelas Populasi Sampel

1 VIII A 29 -

2 VIII B 32 -

3 VIII C 31 31

4 VIII D 32 -

5 VIII E 29 -

6 VIII F 29 -

7 VIII G 30 -

8 VIII H 28 -

Jumlah 240 31

30

(43)

Dari delapan kelas tersebut ditetapkan satu kelas sebagai sampel.

Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII.C yang berjumlah 31 orang siswa. Pengambilan kelas tersebut disebabkan karena di kelas VIII.C siswa memiliki kemampuan menulis puisi yang rendah. Hal ini sesuai dengan wawancara yang sudah dilakukan bersama guru mata pelajaran.

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampel bertujuan (purposive sampling). Sampel bertujuan atau purposive sampling diakukan dengan cara mengambil subjek bukan atas strata, random, daerah, tetapi didadasarkan atas adanya tujuan tertentu. Arikunto (2010:183) menyatakan teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yangg besar dan jauh.

C. Variabel dan Data

Menurut Arikunto (2010:161-162) variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel y (variabel terikat) dan variabel x (variabel bebas). Variabel y adalah kemampuan menulis puisi, sedangkan variabel x adalah media gambar. Data penelitian ini berupa hasil tulisan puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang. Arikunto (2010:) menjelaskan bahwa data adalah hasil pencacatan peneliti, baik yang berupa fakta maupun angka. Data tersebut diperoleh dengan cara memberikan tes unjuk kerja kepada siswa, yang bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah skor dan nilai siswa dalam menulis puisi.

(44)

D. Instrumen Penelitian

Arikunto (2010:203) menjelaskan bahwa instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah untuk diolah. Instrumen dalam penelitian ini dapat diukur dengan tes unjuk kerja. Siswa menulis puisi harus menggunakan diksi, citraan dan majas yang tepat berdasarkan gambar yang telah dipersiapkan. Indikator yang dinilai dalam penulisan siswa adalah ketepatan pilihan kata (diksi), citraan (pengimajian) dan majas.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dikumpulkan melalui tes dalam bentuk unjuk kerja, untuk mendapatkan data tentang kemampuan siswa dalam menulis puisi. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini sebagai berikut. Pertama, guru membagikan gambar kepada siswa. Kedua, siswa menulis puisi sesuai media gambar. Ketiga, guru mengumpulkan hasil kerja siswa.

F. Teknik Analisis Data

Abdurrahman dan Elya Ratna (2003:262) mengemukakan bahwa setelah tes diberi skor, kegiatan berikutnya adalah mengolah skor tersebut.

Pengolahan skor penting artinya agar hasil tes ditafsirkan sebagaimana adanya.

Skor yang telah diolah akan memperlihatkan tingkat kemampuan siswa.

Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis melalui tahap-tahap berikut ini: pertama, memeriksa hasil tulisan siswa sesuai dengan aspek-

(45)

aspek yang diteliti, yaitu ketepatan pilihan kata (diksi), citraan dan majas.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan format berikut:

Tabel 2. Format penilaian kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang

No Kode sampel

Aspek Penilaian Skor Nilai Diksi Citraan Majas

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1

2 3 4

Keterangan:

Deskriptor Penilaian Pilihan Kata

Skor 1: diberikan apabila menggunakan satu sampai dua yang tepat sesuai dengan gambar .

Skor 2: diberikan apabila terdapat tiga sampai empat diksi (pilihan) kata yang tepat sesuai dengan media gambar.

Skor 3: diberikan apabila terdapat lima sampai enam atau lebih pilihan kata yang tepat sesuai dengan gambar.

Deskriptor Penilaian Citraan

Skor 1: diberikan apabila memiliki satu jenis citraan yang sesuai dengan penggunaan media gambar.

Skor 2: diberikan apabila memiliki dua jenis citraan yang sesuai dengan media gambar yang telah diberikan.

Skor 3: diberikan apabila memiliki tiga atau lebih jenis citraan yang sesuai dengan media gambar yang telah diberikan.

Deskriptor Penilaian Majas

Skor 1: diberikan apabila memiliki satu jenis majas yang sesuai dengan media gambar yang telah diperlihatkan.

Skor 2: diberikan apabila memiliki dua jenis majas yang sesuai dengan media gambar yang telah diperlihatkan.

Skor 3: diberikan apabila memiliki tiga atau lebih jenis majas yang sesuai dengan media gambar yang telah diperlihatkan.

Kedua, mencatat skor yang diperoleh siswa. Ketiga, mengolah skor yang diperoleh siswa menjadi nilai. Menurut Abdurrahman dan Ellya Ratna (2003:264), untuk mengolah skor menjadi nilai digunakan rumus berikut ini.

N = 𝑆𝑀

𝑆𝐼 X SMax

(46)

Keterangan :

N = Tingkat penguasaan SM = Skor yang diperoleh siswa

SI = Skor yang harus dicapaidalam suatu tes (skor ideal) Smax = Skala yang digunakan (100%)

Keempat, mendeskripsikan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang dengan menggunakan skala 10.

Tabel 3

Penentuan patokan dengan perhitungan persentase untuk skala 10 Tingkat Penguasaan Nilai ubahan Skala 10 Kualifikasi

96 - 100% 10 Sempurna

86 – 95% 9 Baik sekali

76 – 85% 8 Baik

66 – 75% 7 Lebih dari cukup

56 – 65% 6 Cukup

46 – 55% 5 Hampir cukup

36 – 45% 4 Kurang

26 – 35% 3 Kurang sekali

16 – 25% 2 Buruk

0 – 15% 1 Buruk sekali

(Nurgiyantoro dalam Abdurahman dan Elya ratna, 2003: 265)

Kelima, menentukan nilai rata-rata hitung kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang dengan menggunakan media gambar, menurut Abdurrahman dan Ellya Ratna (2003:270) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

(47)

M = ∑𝐹𝑋

𝑁

Keterangan :

M = Nilai rata-rata

∑FX = skor yang diperoleh N = jumlah Sampel

Keenam, membuat histogram kemampuan menulis puisi. Ketujuh, menyimpulkan hasil deskripsi data.

(48)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Dalam bab IV ini akan diuraikan tentang hasil penelitian berdasarkan tiga hal yaitu deskripsi data, analisis data dan pembahasan. Deskripsi data berarti mendeskripsikan data yang terkumpul. Analisis data dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang telah diuraikan pada bab III. Pembahasan dilakukan berdasarkan hasil analisis data dan relevansinya dengan acuan teori yang digunakan.

A. Deskripsi Data

Data yang dideskripsikan pada penelitian ini berupa skor kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 padang. Data yang diperoleh dengan memberikan tes unjuk kerja menulis puisi pada 31 siswa yang menjadi sampel penelitian ini. Selanjutnya, puisi siswa dikoreksi sesuai dengan indikator yang diteliti, yaitu berdasarkan penggunaan diksi, pengggunaan citraan, dan penggunaan majas dalam puisi tersebut.

Setelah dilakukan pengoreksian terhadap 31 puisi siswa, diperoleh data seperti yang tertera dalam tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Skor Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VII SMP Negeri 27 Padang

No Kode Sampel Indikator yang Dinilai Skor

1 2 3

1 2 3 4 5 6

1 001 3 3 3 9

2 002 3 3 2 8

3 003 3 3 2 8

4 004 2 1 2 5

5 005 3 3 3 9

6 006 3 2 2 7

36

(49)

7 007 2 3 2 7

8 008 2 3 2 7

9 009 3 3 1 6

10 010 3 3 2 8

11 011 3 3 2 8

12 012 3 2 1 6

13 013 2 2 2 6

14 014 3 3 1 7

15 015 3 3 1 7

16 016 2 2 3 7

17 017 2 3 1 6

18 018 3 3 2 8

19 019 3 3 2 8

20 020 3 3 1 7

21 021 1 3 1 5

22 022 3 2 2 7

23 023 3 3 3 9

24 024 2 3 1 6

25 025 3 3 3 9

26 026 3 3 2 8

27 027 2 3 2 7

28 028 3 3 1 7

29 029 3 3 2 8

30 030 2 3 1 6

31 031 3 3 1 7

Jumlah 82 86 55 223

Keterangan :

Indikator 1. Kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk penggunaan diksi dalam puisi.

Indikator 2. Kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk penggunaan citraan dalam puisi.

Indikator 3. Kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk penggunaan majas dalam puisi.

Berdasarkan data dalam tabel 4, berikut ini akan dideskripsikan perolehan skor kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang perindikator dan secara keseluruhan yang diteliti.

(50)

1. Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Indikator 1 Diksi

Berdasarkan data pada tabel 4, dapat dikemukakan bahwa kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar SMP Negeri 27 padang untuk indikator 1 (berupa penggunaan diksi) berkisar antara 1-3 dengan kata lain, skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah skor 3 dan skor terendah adalah skor 1. Perolehan skor secara lengkap untuk indikator 1 ini, yaitu (a) siswa memperoleh skor 3 berjumlah 21 orang (67,47%) , (b) siswa memperoleh skor 2 berjumlah 9 orang (29,03%), (c) siswa memperoleh skor 1 berjumlah 1 orang (3,22%)

2. Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Indikator 2 Citraan

Berdasarkan data pada tabel 4, dapat dikemukakan bahwa kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 padang untuk indikator 2 (penggunaan citraan) berkisar antara 1-3 dengan kata lain, skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 3 dan skor terendah adalah 2.

Peroleh skor secara lengkap untuk indikator ini yaitu, (a) siswa memperoleh skor 3 berjumlah 23 orang (74,19%), (b) siswa memperoleh skor 2 berjumlah 8 orang (25,80%).

3. Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Indikator 3 Majas

Berdasarkan data pada tabel 4, dapat dikemukakan bahwa kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 padang untuk indikator 3 (penggunaan majas) berkisar antara 1-3 dengan kata lain, skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 3 dan skor terendah adalah 1.

(51)

Peroleh skor secara lengkap untuk indikator ini yaitu, (a) siswa memperoleh skor 3 berjumlah 5 orang (16,12%), (b) siswa memperoleh skor 2 berjumlah 14 orang (45,16%), (c) siswa memperoleh skor 1 berjumlah 12 orang (38,70%).

4. Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Ketiga Indikator yang Diteliti

Berdasarkan data pada tabel 4, dapat dikemukakan bahwa kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 padang untuk ketiga indikator berkisar antara 1-9 dengan kata lain, skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 9 dan skor terendah adalah 5. Peroleh skor secara lengkap untuk indikator ini yaitu, (a) siswa memperoleh skor 9 berjumlah 4 orang (12,90%), (b) siswa memperoleh skor 8 berjumlah 8 orang (25,80%), (c) siswa memperoleh skor 7 berjumlah 11 orang (35,48%), (d) siswa memperoleh skor 6 berjumlah 6 orang (18,60%), (e) siswa memperoleh skor 5 berjumlah 2 orang (6,45%).

B. Analisis Data

Untuk mengetahui tingkat penguasaan dan kemampuan menulis puiai siswa berbantuan media gambar kelas VIII SMP Negeri 27 Padang, data atau skor dalam tabel 5 diolah dengan rumus persentase. Contoh penggunaan rumus tersebut untuk sampel (001) yang memperoleh skor 3 untuk indikator 1, skor 6 untuk indikator 2 dan skor 9 untuk ketiga indikator yang diteliti adalah sebagai berikut:

Rumus persentase per indikator:

SI SMax NSM

(52)

% 3 100 3 N

%

100 N

Rumus persentase seluruh indikator:

% 9 100 9

N

%

100 N

Untuk lebih jelasnya, mengenai tingkat penguasaan kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang di bawah ini akan diuraikan setiap indikator yang akan diteliti.

1. Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Indikator 1 (Diksi)

Setelah data dalam tabel 4 diolah dengan menggunakan rumus persentase, ternyata tingkat penguasaan tertinggi yang dicapai siswa adalah 100 dan terendah 55,56. Gambaran tingkat penguasaan kemampuan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator 1 secara lengkap adalah sebagai berikut ini. Pertama, siswa yang tingkat penguasaannya 100 adalah berjumlah 21 orang (67,47%). Kedua, siswa yang tingkat pengguasaannya 66,67 adalah berjumlah 9 orang (29,03%). Ketiga, siswa yang tingkat penguasaannya 33,33 adalah berjumlah 1 orang (3,22%).

Setelah tingkat penguasaan kemampuan menulis puisi setiap siswa diketahui, langkah selanjutnya menafsirkan kemampuan siswa tersebut.

Berdasarkan rata-rata hitung (M), data dalam tabel 4 di atas dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi berikut ini.

(53)

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kemampuan Menulis Puisi Berbantuan Media Gambar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 27 Padang Untuk Indikator 1

No X F FX

1 2 3

100 66,67 33,33

21 9 1

2100 600,03

33,33

N= 31 2733,36

31 36 ,

 2733

= 88,17

Dari data tabel 5 tersebut, diperoleh rata-rata hitung (M) sebesar 88,17.

Mengacu pada nilai rata-rata hitung (M) yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tingkat penguasaan atau kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator 1 tergolong baik sekali (BS) karena M-nya berada pada penguasaan 86-95 % pada skala 10.

Sesuai dengan langkah-langkah dalam teknik analisis data (Bab III), langkah selanjutnya mengklasifikasikan tingkat penguasan atau kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang untuk indikator 1 menurut skala 10. Merujuk pada pedoman konversi skala 10 tersebut, tingkat penguasaan kemampuan menulis puisi berbantuan media gambar siswa kelas VIII SMP Negeri 27 Padang dapat dikelompokkan atas tiga kelompok, yaitu (a) sempurna (S) sebanyak 21 orang (67,47%), (b) lebih dari cukup (LDC) sebanyak 9 orang (29,03%), (c) kurang sekali (KS) sebanyak 1 orang (3,22%).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui peningkatan keaktifan anak didik kelas VIII B SMP Negeri 3 Sawit Boyolali dalam pembelajaran menulis puisi

Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengangkat permasalahan yaitu mengenai peningkatan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 13 Semarang dan

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis puisi melalui media gambar pemandangan pada siswa kelas VIII SMP N 9

Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu (1) menghasilkan media pembelajaran menulis puisi SMP kelas VIII yang menarik untuk pembelajaran Bahasa Indonesia,

Untuk mendapatkan data yang akurat tentang kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Makassar menulis rupama melalui media gambar, cara.. pengumpulan data yang dilakukan

Berdasarkan analisis data terhadap kemampuan menulis puisi ditinjau dari penggunaan diksi dan pencitraan siswa kelas VIII.2 MTsN Kampung Dalam Pariaman dapat

Uji Hipotesis Kriteria yang dipilih untuk menguji hipotesis  Tidak terdapat pengaruh penggunaan media gambar animasi terhadap keterampilan menulis puisi siswa kelas VIII karena

PENERAPAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 13 PALEMBANG Supriatini Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia