• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar K3 dan Aspek Hukum dalam Industri Konstruksi

N/A
N/A
Beh Buh

Academic year: 2024

Membagikan " Konsep Dasar K3 dan Aspek Hukum dalam Industri Konstruksi"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI BAHAYA DAN RISIKO DI TEMPAT KERJA

Chapter · September 2023

CITATIONS

0

READS

3,193

1 author:

Aditya Wardhana Telkom University

328PUBLICATIONS   747CITATIONS    SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Aditya Wardhana on 05 October 2023.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

COVER

(3)

vi

(4)

1

1

KONSEP DASAR K3 DAN ASPEK HUKUM DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI

Bambang Herianto Talamati, ST., M.Si Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika

Perspektif Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Di Indonesia, K3 telah mulai diberlakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, telah muncul kebijakan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengatasi permasalahan keselamatan kerja dengan adanya perundangan keselamatan kerja yang dikenal dengan Veiligheid Ordonantie/Reglement pada 1905 yang menjadi salah satu cikal bakal penerapan K3 di Indonesia. K3 memiliki beberapa definisi dari berbagai perspektif, mulai dari filosofi, etimologi dan keilmuan.

Menurut Filosofi, K3 (Occupational Safety) merupakan suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan Makmur.

Menurut Keilmuan, K3 adalah semua ilmu dan penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, ledakan dan pencemaran lingkungan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, Pengertian

(5)

2

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Atau K3 merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. K3 secara etimologi merupakan upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja dan bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan proses produksi dapat digunakan secara aman dan efisien dalam pemakaian (Indonesia safety centre, 2023).

Kecelakaan dan Keselamatan kerja

Kecelakaan yang dimaksud adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan manusia atau dalam hal ini pekerja dan dapat merusak harta benda. sedangkan Keselamatan kerja adalah bebas dari kecelakaan (Accident) pada waktu bekerja ditempat kerja (Occupational Safety) means free from accident at the place of work) (Erni Darmayanti, 2018).

Kesehatan Kerja

Kesehatan merupakan nikmat dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, setiap manusia ingin mendapatkan kesehatan dan menjaganya agar terhindar dari segala penyakit yang dapat mengganggu segala aktivitas manusia. Kesehatan merupakan suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan dalam lingkungan dan pekerjaan. Kesehatan kerja termasuk kedalam perlindungan sosial, karena berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Dimana pengusaha memperlakukan pekerjanya sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan memandang pekerja sebagai mahluk Tuhan yang mempunyai hak asasi.

Pekerja yang menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami

(6)

3

kecelakaan kerja. Jadi peraturan mengenai kesehatan kerja bermaksud untuk melindungi atau menjaga pekerja dari kejadian atau keadaan hubungan kerja yang merugikan kesehatan dan kesusilaan pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang dijalankan oleh pekerja untuk pengusaha dalam hubungan kerja dengan menerima upah dalam suatu hubungan kerja sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Erni Darmayanti 2018).

Penerapan K3 pada Konstruksi

Pekerja Konstruksi sangat rentan terhadap kecelakaan.

Sehingga merupakan hal yang mustahil untuk menyatakan bahwa dalam proyek konstruksi tidak akan terjadi kecelakaan kerja. Pembangunan yang dilaksanakan dengan teknologi tingkat tinggi maupun dengan teknologi sederhana pasti memiliki resiko yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja pemerintah telah menghasilkan undang- undang serta berbagai peraturan menyangkut keselamatan serta kesehatan kerja (K3) (Christie Pricilia, 2015).

Dengan majunya Industrialisasi, mekanisasi, elektrifikasi, dan modernisasi, maka dalam banyak hal mengakibatkan pengerahan tenaga secara intensif dari para pekerja.

Kelelahan, kurang perhatian, kehilangan keseimbangan dan lain-lain merupakan akibat sebab terjadinya kecelakaan. Perkembangan yang teradi pada negara Indonesia sekarang ini terutama dalam hal industrialisasi akan menjadi permasalahan dalam ketenagakerjaan dan berdampak pada masa depan Industri Indonesia.

Permasalahan-permasalahan itu menjadi sangat penting untuk diatasi secara bertahap oleh pemerintah, pemberi kerja dan pekerja sendiri, dalam mengatasi permasalahan tersebut akan mempengaruhi peningkatan produktifitas

(7)

4

industri sehingga mempengaruhi pembangunan nasional.

Perlindungan terhadap tenaga kerja berupa keselamatan dan Kesehatan kerja merupakan bagian integral dari pembangunan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD Tahun 1945, dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk meningkatkan harkat, martabat dan harga diri tenaga kerja, serta mewujudkan masyarakat sejahtera, adil, Makmur, dan merata, baik materil, maupun spiritual. Pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga hak-hak perlindungan dasar bagi tenaga kerja dan pekerja serta bersamaan diwujudkanya kondisi kondusif bagi pembangunan usaha dunia (Jefri Hutapea, 2016).

Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menurut Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Pada Tahun 1957, didirikan Lembaga Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Pada Tahun 1970, Undang-Undang Nomor 1 Tentang Keselamatan Kerja diundangkan.

Undang-undang ini mengganti ”Veiligheidsreglement”

Tahun 1910. Pada Tahun 1973 berdiri Ikatan Higene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), yang menghimpun juga profesi dalam keselamatan kerja.

Beberapa peraturan mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yaitu:

1. Undang-Undang

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Undang-undang ini diundangkan untuk menggantikan Veiligheidsregement Tahun 1910 (stb.

No. 406). UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja ini tidak secara tegas dicabut, dengan demikian hal-hal yang belum diatur dalam peraturan pelaksana

(8)

5

lainnya maka ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1970 dianggap masih berlaku dan mencakup di semua tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara di wilayah negara Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja mengalami pembaharuan dan perluasan, yaitu:

1. Perluasan ruang lingkup

2. Perubahan pengawasan yang bersifat represif menjadi preventif

3. Perumusan teknis yang lebih tegas

4. Penyesuaian tata usaha/administrasi yang diperlukan bagi pelaksana pengawas

5. Tambahan pengaturan pembinaan keselamatan kerja bagi manajemen dan tenaga kerja

6. Tambahan pengaturan pemungutan retribusi tahunan.

Menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja maupun setiap orang yang berada di tempat kerja harus terjamin keselamatannya. Menurut Permen PUPR RI No.10 Tahun 2021 Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat SMKK adalah bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi untuk menjamin terwujudnya Keselamatan Konstruksi. Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan adalah pedoman teknis keamanan, keselamatan, kesehatan tempat kerja konstruksi, dan perlindungan sosial tenaga kerja, serta tata lingkungan setempat dan pengelolaan lingkungan hidup dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi Berdasarkan undang-

(9)

6

undang tersebut setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 (SMK3) yang terintegerasi dangan sistem manajemen perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja.

Budaya keselamatan sebagai aspek-aspek dari budaya organisasi yang akan mempengaruhi sikap dan perilaku terkait dengan peningkatan atau penurunan risiko (Guldenmund, 2010).

Setiap tempat kerja yang pekerjaannya memiliki banyak faktor resiko dan melibatkan manusia, peralatan, serta lingkungan kerja dapat menimbulkan potensi bahaya yang menyebabkan risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. dalam Penyebab utama kecelakaan secara umum berasal dari faktor manusia serta faktor konstruksi, alat dan lingkungan. Sebagai contoh, beberapa sifat manusia seperti emosional, kejenuhan, kecerobohan, kelengahan, terlalu percaya diri dan instruksi kerja yang tidak jelas atau kurang dipahami oleh pekerja. Hal tersebut kurang diperhatikan oleh para pelaku konstruksi yang dengan seringnya mengabaikan penggunaan peralatan pelindung (personal fall arrest system) yang sebenarnya telah diatur dalam pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) konstruk Berdasarkan uraian diatas, dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan infrastruktur, maka dari itu perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai implementasi SMK3 serta strategi apa yang perlu dilakukan guna mengurangi angka kecelakaan kerja demi terwujudnya keamanan serta keselamatan dilingkungan kerja pada proyek konstruksi (Moch Hamim, 2021).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup serta meningkatkan produktivitas pekerja.

Dengan demikian, hal tersebut akan berdampak pada

(10)

7

keuntungan perusahaan. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pun telah dinyatakan pada Pasal 86 ayat 2 angka 31 UU Nomor 13 Tahun 2013 yang menegaskan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyi hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi keselamatan pekerja/

buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal di selenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja” (Moch Hamim, 2021).

Dengan melihat pengertian masing masing dari keselamatan kerja dan kesehatan kerja, maka keselamatan dan kesehatan kerja dapat diartikan sebagai kondisi dan faktor-faktor yang berdampak pada kesehatan karyawan, pekerja kontrak, personel kontraktor, tamu dan orang lain di tempat kerja.

Keselamatan Kerja telah diatur dalam Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dalam pasal 3 ayat (1) dan pasal 9 ayat (3), yang berbunyi: “Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:

1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan

2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran 3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledak

4. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya

5. Memberi pertolongan pada kecelakaan

6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja 7. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit

akibat kerja baik physic maupun psychis, keracunan, infeksi dan penularan

(11)

8

8. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan cara dan proses kerjanya

9. Menyesuaikan dan menyempurnakan

10. pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya bertambah tinggi

(Moch Hamim, 2021).

Adapun tujuan program K3 secara umum adalah mempercepat proses gerakan nasional K3 dalam upaya memberdayakan keselamatan dan kesehatan kerja guna mencapai angka kecelakaan nihil (Suma’mur, 1992).

Tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

1. Untuk melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan kinerja

2. Untuk menjamin keselamatan orang lain yang berada di tempat kerja

3. Sebagai sumber produksi dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Armanda D, 2006).

Menurut Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2014 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang Pekerjaan

(12)

9

Umum, SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum meliputi Kebijakan K3, Perencanaan K3, Pengendalian Operasional, Pemeriksaan dan Evaluasi Kinerja K3 dan Tinjauan Ulang Kinerja K3 (Tiurma Elita Saragi, 2021).

Program K3 adalah upaya untuk mengatasi ketimpangan pada unsur 4 produksi yaitu manusia, sarana, lingkungan kerja dan manajemen. Program K3 harus dirancang spesifik untuk masing-masing perusahaan sehingga tidak bisa sekedar meniru atau mengikuti arahan dan pedoman dari pihak lain (Soehatman Ramli, 2010). Menurut Wulfram Ervianto (2005), elemen-elemen yang patut dipertimbangkan dalam pengembangan serta pengimplementasian K3 adalah sebagai berikut:

1. Komitmen pimpinan perusahaan untuk mengembangkan program yang mudah dilaksanakan 2. kebijakan pimpinan tentang K3

3. Ketentuan penciptaan lingkungan kerja yang menjamin terciptanya kesehatan dan keselamatan dalam bekerja

4. Ketentuan pengawasan selama proyek berlangsung 5. Pendelegasian wewenang yang cukup selama proyek

berlangsung

6. Ketentuan penyelenggaraan pelatihan dan Pendidikan 7. Pemeriksaan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja 8. Melakukan penelusuran penyebab utama terjadinya

kecelakaan kerja

9. Mengukur kinerja program K3

10. Pendokumentasian yang memadai, mencatat kecelakaan kerja secara kontinu.

(13)

10

Dasar Hukum dari Manajemen K3 1. UUD 1945 Pasal 27 ayat 2

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan” yang layak bagi kemanusiaan”

2. UU No 1 Tahun 1970 (Keselamatan Kerja)

“empat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha;

Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana; 3) Adanya bahaya di tempat itu”

3. UU No 13 Tahun 2013 (Ketenagakerjaan)

“Pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan Kesehatan kerja”;

“Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan system manajemen perusahaan”

4. UUD 1945 Pasal 27 ayat 2

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”

5. UU No 1 Tahun 1970 (Keselamatan Kerja)

“Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha; 2) Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana;

3) Adanya bahaya di tempat itu

6. UU No 13 Tahun 2013 (Ketenagakerjaan)

“Pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan Kesehatan kerja”;

“Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan system manajemen Perusahaan.

PP No 50 Tahun 2012 (Penerapan SMK3)

“Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3”;

“Perusahaan yang memperkerjakan pekerja/buruh

(14)

11

paling sedikit 100 orang atau mempunyai potensi bahaya tinggi”

7. Permen PUPR No 5 Tahun 2014 dan No 2 tahun 2018 (SMK3 Bidang PU) Pedoman SMK3; Biaya Penyelenggaraan SMK3; Pembentukan Komite Keselamatan Konstruksi;

“Pekerjaan Konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan

perencanaan dan/atau pelaksanaan pengawasan yang mencakup bangunan Gedung, bangunan sipil, instalasi mekanikal dan elektrikal serta jasa pelaksanaan lain nya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain dalam jangka waktu tertentu“ (spada.uns.ac.id, 2021).

Hambatan dalam Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Penyebab terjadinya kecelakaan kerja dalam konstruksi dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) faktor yaitu pekerja itu sendiri, faktor metode konstruksi, faktor peralatan dan faktor manajemen (Ervianto, 2005).

Hambatan pelaksanaan K3 berdasarkan sisi pekerja adalah tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar dan banyak pekerja yang tidak menuntut jaminan K3 dikarenakan SDM yang masih rendah. Sedangkan hambatan pelaksanaan K3 berdasarkan sisi perusahan adalah perusahaan yang lebih menekankan biaya produksi atau opersional, memilih meningkatkan efisiensi pekerja untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar- besarnya, kurangnya pengetahuan tentang penerapan program K3 dari pihak perusahaan dan kurangnya pengawasan dan sangsi dari pemerintah kepada perusahaan yang bersangkutan (I Gusti Ayu Agung Manik Maharanis, 2019).

(15)

12

Perlindungan Hukum pada Pekerja

Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi suatu kenyataan. Keinginan keinginan tersebut adalah pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturaan hukum. Jaminan perlindunganatas pekerjaan dituangkan dalam ketentuan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945, yaitu “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.

Berdasarkan ketentuan tersebut menjelaskan bahwa di setiap orang warga Negara Indonesia berhak atas perlindungan dan kepastian hukum. Dan lebih lanjut di atur di dalam Pasal 86 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, sebagai berikut

“Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:

1. Keselamatan dan kesehatan kerja 2. Moral dan kesusilaan

3. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.

Perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia. Keselamatan dan Kesehatan kerja diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang mendefinisikan tempat kerja sebagai ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau berhubungan

(16)

13

dengan tempat kerja tersebut. Pada umumnya kita ingin lingkungan kerja merupakan tempat yang aman (I Gusti Ayu Agung Manik Maharanis, 2019).

Dalam Pasal 12 Undang-Indang Nomor 1 Tahun 1970 menjelaskan tentang Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja yaitu:

1. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja

2. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan 3. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat

keselamatan dan kesehatan yang diwajibkan

4. Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan yang diwajibkan 5. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana

syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat- alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas batas yang masih dapat dipertanggung-jawabkan.

Berdasarkan pasal 8, 9, 11 dan 14 Undang - Undang No.

1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pengurus berkewajiban untuk:

1. Memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya

2. maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat - sifat pekerjaan yang diberikan padanya

3. Memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, secara berkala pada Dokter yang ditunjuk oleh Pengusaha dan dibenarkan oleh Direktur

(17)

14

4. Menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang:

a. Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta apa yang dapat timbul dalam tempat kerjanya

b. Semua pengamanan dan alat - alat perlindungan yang diharuskan dalam semua tempat kerjanya c. Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang

bersangkutan Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya

5. Bertanggung jawab dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama dalam kecelakaan.

6. Melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja

7. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai Undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli kesehatan kerja (I Gusti Ayu Agung Manik Maharanis, 2019).

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Dalam undang-undang ini perlindungan hak normatif bagi tenaga kerja yaitu diatur dalam Bab X tentang perlindungan, pengupahan dan kesejahteraan.

(18)

15 1. Perlindungan

a. Perlindungan

1) Perlindungan terhadap Penyandang Cacat Pekerja cacat oleh undang-undang diberi perlindungan dan jaminan untuk melakukan hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha. Perlindungan sebagai mana dimaksud misalnya penyediaan aksesibilitas, pemberian alat kerja, dan alat pelindung diri yang disesuaikan dengan jenis dan derajat kecacatannya tersebut. Hal ini sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD NKRI Tahun 1945 dalam Pasal 27 ayat (2) dan 28 D ayat (2) 2) Perlindungan terhadap Pekerja Anak Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun

3) Perlindungan terhadap Pekerja perempuan secara keseluruhan terkait dengan perlindungan ekonomis, perlindungan sosial dan perlindungan teknis.

b. Perlindungan Jam Kerja dan waktu Istirahat

Waktu kerja dan waktu istirahat merupakan jaminan perlindungan pekerja ditempat kerja untuk menghindari adanya perlakuan tidak manusiawi terhadap pekerja mengenai jam kerja yang berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan. Waktu istirahat bagi pekerja adalah Istirahat antara jam kerja sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja dan

(19)

16

Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

2. Pengupahan

Setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 88 ayat (1) Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan), dalam hal ini ukuran layak adalah relatif. Bentuk perlindungan upah antara lain perlindungan upah saat hari libur resmi (Pasal 92 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan) dan perlindungan upah yang lainnya adalah denda (Pasal 95, Pasal 96 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).

3. Kesejahteraan

Kesejahteraan Perwujudan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ditujukan sebagai perlindungan khusus bagi tenaga kerja, yaitu dibuatlah Jamsostek. Jamsostek adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia (Erni Darmayanti, 2018).

Peraturan Pemerintah

1. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan

(20)

17

2. Peraturan Pemerintah No. 11 tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja Pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.

Peraturan Menteri

1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I.

No. Per.03/MEN/1978 tentang Penunjukan dan Wewenang, Serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Ahli Keselamatan Kerja

2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I.

No. Per.01/MEN/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.

Per.02/MEN/1992 tentang Tata Cara Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I.. No.

Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

5. Peraturan Menteri tenaga Kerja R.I. No.

Per.01/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih dari Paket Jaminan Pemeliharaan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Keputusan Menteri Tentang K3

1. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep.

155/MEN/1984 Tentang Penyempurnaan Keputusan Menteri Tenaga Dan Transmigrasi Nomor Kep.125/MEN/82, Tentang Pembentukan, Susunan Dan Tata Kerja Dewan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Nasional, Dewan Keselamatan Dan Kesehatan

(21)

18

Kerja Wilayah Dan Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

2. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja Dan Menteri Pekerjaan Umum No.: Kep.174/MEN/1986.

No.: 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi 3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi

Republik Indonesia No.:Kep.235/MEN/2003 Tentang Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Kesehatan, Keselamatan Atau Moral Anak.

Instruksi Menteri

1. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja R.I. No. : Kep. 84/BW/1998 Tentang Cara Pengisian Formulir Laporan dan Analisis Statistik Kecelakaan

2. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan No.

Kep.311/BW/2002 tentang Sertifikasi Kompetensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Teknisi Listrik.

Perlindungan hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja telah tertian dalam perundang-undangan yaitu Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang memberikan, kepastian perlindungan hukum pada pekerja, pengupahan maupun kesejahteraan. Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Keputusan Menteri Mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Instruksi Menteri, dan Surat Edaran dan Keputusan Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan (Erni Darmayanti, 2018).

(22)

19 Daftar Pustaka

Pelealu, P. 2015. Penerapan aspek hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. 3 (5): 331-340.

Hutapea, J. 2016. Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (k3) perusahaan jasa konstruksi bangunan pada PT. Adhi Persada Gedung.

Khamim, M. 2021. Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Proyek Konstruksi Bendungan sesuai dengan Permen PUPR No.10 tahun 2021.

Saragi1, T E. 2021. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (k3) pada Proyek Pembangunan Rumah Susun Lanjutan Provinsi Sumatera Utara I Medan.

Maharani I G. 2018. Pelaksanaan Perlindungan Hukum K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) pada Warung Makan di Kabupaten Badung.

Darmayanti, E. 2018. Perlidungan Hukum Terhadap Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Perusahaan.

Anton sutrisno. 2020. Dasar Hukum K3 Bidang Konstruksi.

(23)

20 Profil Penulis

Bambang Herianto Talamati, ST., M.Si

Penulis di lahirkan di Kel. Pobundayan, kec.

Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 20 Mei 1990 Ketertarikan penulis terhadap Bidang Konstruksi dimulai pada tahun 2005 silam. Hal tersebut membuat penulis memilih untuk masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan di SMK TI Cokroaminoto Kotamobagu dengan memilih Jurusan Teknik Gambar Bangunan dan berhasil lulus pada tahun 2008. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dan berhasil menyelesaikan studi S1 di prodi TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS GORONTALO pada tahun 2014.

Dua tahun kemudian, penulis menyelesaikan studi S2 di Prodi Administrasi Publik Program Pasca Sarjana STIA Bina Mandiri Gorontalo . Saat ini penulis bekerja sebagai dosen tetap di Program Studi S1 Teknik Sipil Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu. Penulis saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi S1 Teknik Sipil di Fakultas Teknik Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamoobagu. Penulis juga aktif dalam kegiatan ilmiah dan organisasi. Sehari-harinya bekerja sebagai dosen pengampuh mata kuliah dengan bidang Konsentrasi Manajemen Proyek. Selain itu penulis juga aktif dalam menulis jurnal serta aktif menulis buku ajar dan book chapter.

Email Penulis: [email protected]

(24)

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

Siswanto : Aspek Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual Atas Desain Industri, 2003... Siswanto : Aspek Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual Atas Desain

Dokumen ini membahas tentang konsep dasar ilmu sejarah yang dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa

Dokumen ini membahas tentang beberapa konsep dasar dalam pemrograman

Dokumen ini membahas tentang konsep dasar manajemen dan definisi

Dokumen ini membahas tentang capaian pembelajaran yang harus dicapai siswa di Fase E mata pelajaran Dasar – Dasar Teknik Kimia

Dokumen ini membahas tentang konsep dan tujuan hukuman dalam hukum

Dokumen ini membahas tentang analisis tegangan, regangan, dan defleksi pada batang kantilever dalam konteks industri

Dokumen tersebut membahas tentang konsep dasar supervisi akademik dalam