Penulis ingin menyampaikan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Penempatan Kerja Psikologi Profesi (PKPP) Magister Psikologi Profesi Pendidikan Universitas Gadjah Mada. Ibu dr. Wisjnu Martani, SU, Psi selaku dosen pembimbing dan koordinator bidang psikologi pendidikan yang banyak mencurahkan waktunya untuk bimbingan, memberikan masukan dan dukungan selama praktek kerja profesi psikologi. Endang Widyorini, Psi selaku Dosen Ujian HIMPSI atas masukan dan bimbingannya untuk penyempurnaan laporan ini.
Amrizal Rustam, SU, Psi selaku pendidik internal yang memberikan masukan selama penempatan di sekolah dasar. Teman-teman sekelas Magister Psikologi Profesi Bidang Pendidikan Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada SD IT Alam Nurul Islam, kepada kepala sekolah Muhammad Ariefuddin, S.Si, atas izin yang diberikan kepada penulis untuk melaksanakan PKPP di sekolah dasar ini, untuk Bu Novia Fetria Aliza, M.Psi. , Psi., selaku dosen pembimbing lapangan yang mengarahkan dan mengarahkan kami selama pelaksanaan PKPP, serta Ustadzah Dina dan Ustadz Ryan selaku guru di sekolah yang mendampingi klien.
Dan tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada klien dan keluarga yang bersedia menjadi mitra belajar dalam proses ini.
Hasil Asesmen a. Hasil observasi
Kecepatan belajar dan menyelesaikan tugas klien di Kelas III umumnya lebih lambat dibandingkan siswa lainnya. Artinya, hasil belajar klien tersebut belum optimal dibandingkan dengan siswa lain di kelas tersebut. Oleh karena itu klien lebih sering bermain dengan salah satu anaknya yang juga terlambat menyelesaikan tugas di kelas.
Hal ini menyebabkan guru beranggapan bahwa apa yang diajarkan di sekolah tidak berlaku di rumah, sehingga perilaku klien yang terbentuk di sekolah tidak sesuai dengan perilaku di rumah. Perilaku klien di kelas I juga menunjukkan kesulitan berkonsentrasi dan membutuhkan bantuan ekstra dalam mengerjakan tugas sekolah. Artinya persyaratan pembelajaran di kelas satu disesuaikan dengan perkembangan klien sehingga berbeda dengan anak-anak di kelasnya.
Klien merupakan anak yang tenang di rumah, berbeda dengan adiknya yang lebih agresif dibandingkan klien. Di Kelas III klien sering tinggal bersama bibi karena rumah orang tua klien sedang direnovasi. Karena itu, Ibu sengaja membawa buku pelajaran keesokan harinya jika harus menginap di rumah bibinya.
Saat berada di rumah tante klien biasanya ia bermain dengan sepupunya dan jarang belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah. Kebiasaan belajar di rumah juga tidak menentu dan bergantung pada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hal ini membuat ibu merasa gaya pengasuhan yang diterapkan di rumah cenderung tidak konsisten antara ayah dan ibu.
Frekuensi klien belajar di rumah juga lebih banyak karena pekerjaan rumah di sekolah jarang berarti mengulang pelajaran sekolah. Klien juga menyatakan bahwa aktivitas ibu di rumah lebih sering bermain ponsel dan menonton televisi. Frekuensi belajar di rumah juga tidak rutin karena bergantung pada ada tidaknya tugas yang diberikan sekolah dan tidak pernah mengulang pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Kualitas dukungan terhadap klien saat belajar di rumah juga belum maksimal. Klien terkadang harus belajar sendiri, belajar di depan televisi, ibu-ibu tidak membimbing sehingga belajar dalam waktu singkat.
Integrasi Data 1. Kognitif
DINAMIKA PSIKOLOGI A. Riyawat Kasus
Klien merupakan anak pertama dalam keluarganya dan juga merupakan cucu pertama dari keluarga besar ayah dan ibunya. Sejak adiknya lahir, klien cenderung lebih bebas karena orang tuanya sibuk dengan adiknya yang mempunyai sifat berlawanan dengan klien. Setiap kali klien pulang sekolah, dia berada di rumah neneknya sambil menunggu ayahnya menjemputnya di rumah.
Ayah membatasi interaksi sosial klien di sekitar rumahnya sehingga klien hanya bermain dengan sepupunya saja, selain dengan teman di sekolah. Saat memasuki sekolah dasar, klien mempunyai surat keterangan dari guru TK sebelumnya untuk memberikan klien bantuan khusus dalam bidang pembelajaran. Pada pembelajaran berikutnya, diketahui bahwa klien sering kali terganggu dengan lingkungannya, seperti memperhatikan temannya, melamun, memindahkan sesuatu sehingga penyelesaian tugas membutuhkan waktu yang sangat lama.
Dinamika Kasus
Menurut Kerig & Wenar (2006), ciri-ciri anak inattentive cenderung off-task (tidak mengerjakan tugas), sehingga jarang menyelesaikan tugas, bekerja lambat, kurang gigih dalam menyelesaikan tugas yang dianggap membosankan, dan cenderung kembali mengerjakan tugas yang mengganggu. Hal ini digambarkan oleh klien, perilaku klien di luar tugas seperti melamun, perhatiannya teralihkan dengan melihat anak lain, perhatiannya teralihkan oleh benda-benda di atas meja, dan cenderung kurang semangat saat bekerja sehingga lambat dalam menyelesaikan tugas. . Jadi, penyebab perilaku yang muncul pada anak berasal dari apa yang dibentuk oleh orang tuanya.
Keluhan kegagalan hasil belajar juga disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua dan adanya indikasi interaksi negatif antara orang tua dan anak. Gejala inatensi yang terjadi pada perkembangan intelektual di atas rata-rata menunjukkan kurangnya rangsangan dari lingkungan. Kerig & Wenar (2006) menambahkan penyebab rendahnya tingkat stimulasi yang tidak terdeteksi pada anak, keterlambatan umpan balik mengenai pelaksanaan tugas dan kurangnya pengawasan orang tua.
Lingkungan rumah klien, dimana orang tua tidak mengawasi proses belajar anak, baik merangsang anak untuk belajar maupun menghargai usaha yang dilakukan anak, sehingga membuat anak mudah terganggu saat menyelesaikan tugas. Schunk, Pintrinch, & Meece (2012) juga menambahkan bahwa tingkat respon ibu terhadap anak, gaya ibu dalam mendisiplinkan anak, dan keterlibatan ibu dengan anak memberikan peluang adanya stimulus sehari-hari. Interaksi ibu dengan anaknya merupakan faktor penting dalam perkembangan anak Hal ini tidak ditemukan pada klien, kesibukan ibu mengasuh anak lain mengurangi interaksi ibu dengan anaknya.
Hal ini disebabkan oleh kurangnya kebiasaan belajar rutin di rumah dan juga kurangnya pendampingan yang berkualitas dari orang tua. Cara paling umum untuk terlibat dalam aktivitas anak-anak adalah dengan melibatkan diri bersama anak-anak dalam tugas pekerjaan rumah dan proyek (Schunk, Pintrinch, & Meece, 2012). Dampak positif yang dapat menjadikan perilaku belajar anak tetap berlanjut dengan adanya pendampingan belajar dari orang tua.
Orang tua jarang mendampingi klien dalam proses penyelesaian tugas dan lebih sering mengecek hasil pekerjaan ketika klien sudah selesai. Perilaku di luar tugas seperti melamun, perhatiannya teralihkan oleh anak lain, bermain dengan benda di atas meja, dan meletakkan kepala di atas meja.
Penegakan Diagnosa
Prognosis
INTERVENSI A. Tujuan Intervensi
Rancangan Intervensi 1. Penetapan baseline
Menurut Blondis & Pfiffner (2005), modifikasi perilaku dapat diterapkan pada anak dengan gangguan perhatian dengan mengidentifikasi perilaku anak yang ingin diubah oleh guru dan orang tua. Prinsip pembelajaran ini melibatkan perubahan lingkungan dan konsekuensi dari perilaku sasaran secara berkelanjutan. Metode penguatan terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku mengerjakan tugas siswa dengan menerapkan penguatan pada waktu tertentu melalui penjadwalan (Long 2011).
Soeda (2008) menyatakan bahwa penggunaan penguatan dengan menjadwalkannya pada waktu-waktu tertentu efektif dalam mengurangi perilaku off-task pada anak kelas 3 SD. Metode penguatan efektif dalam memperkuat perilaku belajar berkualitas klien di rumah dengan melibatkan orang tua untuk memberikan pendampingan. Hal serupa juga disampaikan oleh Austin & Soeda (2008), yang memberikan penguatan pada waktu yang disepakati oleh orang tua dan guru, sehingga ketika membantu pembelajaran, anak mendapat penguatan berupa pujian ketika perilaku yang diinginkan muncul dan memberikan arahan ketika perilakunya muncul. perilaku di luar tugas muncul.
Sehingga perlu diinformasikan terlebih dahulu kepada orang tua untuk menyepakati jadwal tertentu sesuai kebutuhan anak.
Prosedur Intervensi 1. Psikoedukasi Guru
Praktisi menjelaskan aktivitas yang dapat dilakukan klien setiap malam untuk membangun kebiasaan belajar, seperti mengerjakan pekerjaan rumah atau mengulang pelajaran. Praktisi menjelaskan imbalan apa yang akan diperoleh klien jika klien mampu menyelesaikan proses pemeriksaan hingga larut malam, dengan syarat ia menyelesaikannya tepat waktu sesuai kesepakatan bersama. Orang tua diajarkan untuk memberikan penguatan verbal berupa apresiasi terhadap pekerjaan yang dilakukan anak dan membimbing ketika terjadi perilaku di luar tugas.
Jika anak saat itu melakukan perilaku di luar tugas, ia dapat diarahkan secara langsung dan jika anak melakukan perilaku di luar tugas, ia dapat dipuji. Praktisi menjelaskan hasil penilaian kepada guru bahwa klien mempunyai potensi kecerdasan akademik yang baik, itu saja. Memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai kondisi klien dan faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi klien.
Hal ini menyebabkan kurangnya kualitas bantuan belajar di rumah bagi klien. Kekompakan belajar di rumah selama ini disebabkan sulitnya konsistensi pola asuh orang tua yang diterapkan ayah dan ibu di rumah. Maka praktisi menambahkan saran untuk menyetujui penetapan aturan tertentu bagi pembelajaran klien selama di rumah. Ditemukan bahwa para ayah harus meluangkan waktu untuk belajar dari kliennya di rumah karena mereka sibuk bekerja.
Intervensi yang dilakukan terhadap klien dilakukan setiap hari Sabtu di rumah pada akhir pekan sekolah. Intervensi yang dilakukan berupa pendampingan belajar di rumah untuk mengoptimalkan pendampingan belajar klien dengan memberikan penguatan baik positif maupun negative pada saat pendampingan. Hal ini dilakukan dengan memberikan contoh kepada ibu dengan memberikan penguatan positif dengan memberikan apresiasi dengan memberikan pujian dan reward serta penguatan negatif dengan membimbing ketika klien melakukan perilaku off-task dalam pelaksanaan tugas, dengan memberikan arahan pada klien untuk mengingat Memberi. Saya Lima aturan yaitu.
Hal ini dilakukan agar ketika belajar malam di rumah tanpa bantuan praktik, intervensi tersebut tetap dapat dilakukan oleh ibu atau ayah di rumah.
Hasil Intervensi
Pendampingan Orangtua
Evaluasi Proses Dan Dampak Intervensi
Para ibu mudah sekali perhatiannya teralihkan oleh ponsel saat mengawasi anaknya dan terkesan tidak sabar menemani anaknya belajar. Guru siap memberikan perhatian lebih kepada klien dan mengatur tempat duduk klien agar jauh dari gangguan dan memudahkan perhatian guru. Untuk menjaga dan meningkatkan kemajuan dengan klien, dapat diberikan rekomendasi khususnya kepada orang tua untuk lebih meningkatkan interaksi antara orang tua dan anak dalam berbagai kegiatan bersama.
Perlunya pemberian apresiasi terhadap perilaku anak terhadap apa yang dilakukan anak, sehingga anak dapat lebih percaya diri dan semangat dalam beraktivitas. Orang tua juga dapat menyepakati peran yang kuat untuk tetap konsisten mendukung pembelajaran anak di rumah. Selain itu, perlu ditingkatkan hubungan yang hangat dan penuh perhatian dengan anak, sehingga anak merasa dihargai.
Orang tua juga perlu meningkatkan komunikasi antara rumah dan sekolah agar dapat melihat perkembangan anaknya serta mengapresiasi perilaku baik yang terjadi di sekolah agar dapat menguatkannya di rumah.