LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SERAT, LATEKS DAN RESIN PEMBUATAN PERNIS
DISUSUN OLEH : NUR ANNISA (2011131021) DOSEN PENGAMPU : Dr.FITRIANI KASIM, S.TP, M. Si ASISTEN : RAKHA ABYAN FADHAL
TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. LANDASAN TEORI
Hasil hutan di Indonesia sendiri terbagi menjadi Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). HHBK dapat dipahami sebagai hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani serta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Selain itu, HHBK dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan yang dapat dimanfaatkan pada kegiatan ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.35/Menhut-II/2007, resin damar merupakan suatu komoditas HHBK yang paling diminati. Damar umumnya digunakan sebagai bahan baku industri seperti bahan baku cat dan pernis. Resin damar dihasilkan dari pohon yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai pohon damar. Pohon damar sendiri termasuk dalam klasifikasi famili Dipterocarpaceae dan Burseraceae. Jenis resin damar yang terkenal antara lain resin damar mata kucing dan resin damar batu.
Damar mata kucing merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan hasil hutan bukan kayu di Indonesia. Damar mata kucing Indonesia mendominasi perdagangan damar di dunia, Indonesia telah mengekspor sekitar 75% dari total produksi resin damar mata kucing di berbagai negara. Resin ini berasal dari tanaman Shorea javanica yang terbaik dan berkualitas tinggi.
Damar merupakan salah satu resin alami yang dihasilkan oleh tanaman dari famili Dipterocarpaceae (marga Shorea, Hopea, Balanocarpus, dan Vateria) dan Burseraceae (marga Canarium) (BBSRC, 2004; Kuspradini et al., 2016). Pohon penghasil damar tumbuh baik di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku (Kuspradini et al., 2016). Berdasarkan data BPS, Sumatera Barat merupakan salah satu Propinsi penghasil damar utama di Indonesia dengan jumlah produksi 31756 kg di tahun 2017 (BPS, 2020). Dari total produksi damar Sumatera Barat tersebut 61% diantaranya untuk tujuan ekspor.
Salah satu resin yang banyak dikenal di Indonesia selain damar mata kucing adalah damar batu. Damar mata kucing dikenal memiliki mutu terbaik dibandingkan jenis damar lainnya. Damar batu merupakan hasil hutan bukan kayu yang berasal dari jenis tumbuhan Shorea, antara lain S. eximia, S. lamellata Foxw., S. virescens Parijs, S.
retinodes Sloot., S. guiso, dan S. robusta. Terbentuknya resin damar mata kucing tidak terjadi secara alami. Pohon damar sengaja dilukai dan getah yang keluar ditampung dalam wadah. Bentuk fisik yang dihasilkan jauh lebih bersih dibandingkan resin damar batu.
Resin damar mata kucing terlihat lebih jernih dan kualitasnya lebih baik, sedangkan resin damar batu sendiri berasal dari getah pohon damar yang mengeras dan membentuk bongkahan. Proses pembentukan damar ini adalah ketika kulit pohon damar yang terluka mengeluarkan getah secara alami. Lama kelamaan getahnya akan menggumpal dan jatuh ke tanah. Resin damar batu yang jatuh ke tanah berwarna coklat kehitaman dan bentuknya tidak beraturan, itulah sebabnya damar tersebut dinamakan resin damar batu
Damar banyak digunakan pada berbagai industri misalnya sebagai bahan emulsi (campuran) pewarna, pembuatan cat, lilin, plastik, bahan isolator, bahan campuran pernis, bahan pengisi kertas, dan industri pangan serta bahan obat-obatan (BBSRC, 2004;
Abdulmalik et al, 2016; Kuspradini et al., 2016). Selain kegunaan di atas damar juga dapat dipergunakan dalam bahan perekat kapal dalam pembuatan kapal boat, sedangkan bila dicampur dengan kusen dapat dipakai sebagai bahan pengawet (Arianti et al., 2018;
Kuspradini et al., 2016). Menurut Kartika dan Pratiwi (2018) secara tradisional, damar digunakan sebagai bahan bakar obor penerang, penambal perahu, dan kerajinan tangan.
Damar dapat digunakan sebagai lilin pengeras pada industri semir, kertas karbon, pita mesin ketik, industri vernis, dan bantalan objek mikroskopik.
Pernis adalah suatu cairan yang komposisinya tersusun dari resin, oli, pelarut, pigmen, bahan pengering, aditif atau bahan tambahan yang apabila diaplikasikan pada suatu permukaan bahan dapat membentuk lapisan kering, kertas dan rekatt pada permukaan.
Dalam upaya peningkatan pemanfaatan damar telah dilakukan penelitian pembuatan pernis dari damar mata kucing kualitas rendah atau kualitas asalan.Varnish bertujuan untuk melindungi pulpa dari iritasi kimia bahan-bahan yang berkontak dengannya dan dapat terdiri dari satu atau lebih resin yaitu resin sintetis dan resin alami seperti copal.
Bahan lain yang digunakan yaitu terpentin. Terpentin adalah cairan yang didapat melalui destilasi resin alamiah dari pohon, utamanya pohon pinus. Ia terdiri dari senyawa- senyawa terpen, utamanya monoterpene (alpa-pinene dan beta-pinene). Dua kegunaan utama terpentin dalam industry adalah sebagai pelarut organic dan sumber bahan dalam sintesa organic. Sebagai bahan pelarut, terpentin digunakan untuk melarutkan dan mengencerkan cat yang berbasis minyak , untuk membuat pernis dan bahan untuk bahan baku industry kimia. Menurut Jusko, D. (2007), terpentin melarutkan damar dengan baik dan juga merupakan pengencer terbaik untuk cat berbasis minyak lainnya.
B. TUJUAN PRAKTIKUM
1. mahasiswa mengetahui komposisi yang tepat dalam pembuatan pernis 2. mahasiswa mengetahui sifat karakteristik dari pernis yang dihasilkan
C. ALAT DAN BAHAN 1. ALAT
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah wadah pencampuran, gelas ukur, batang pengaduk, kuas, timbangan analitik, ayakan 60 mesh, papan kayu.
2. BAHAN
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah damar mata kucing, minyak kemiri, dan terpentin.
D. PROSEDUR KERJA
Berikut berupakan prosedur kerja pada pembuatan pernis :
1. getah damar dilakukan pengecilan ukuran dengan cara digiling gingga menjadi serbuk.
2. Setelah itu diayak dengan ayakan 60 mesh.
3. kemudian dilakukan pencampuran dengan terpentin dan minyak kemiri berdasarkan komposisi yang telah ditentukan lalu homogenkan.
4. oleskan pada papan kayu dan lakukan pengamatan terhadap karakteristik pernis.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Tabel hasil pengamatan sifat pernis hasil penelitian dengan perlakukan 30 gram damar : 35 ml minyak kemiri : 70 ml terpentin.
No .
Pengamatan Hasil
1. Warna Coklat transparan
2. Kekentalan kental
3. Lama pengeringan 60 menit
4. Daya kilap mengkilap
5. Kesan raba Lengket sebelum kering, halus setelah kering 6. Warna pada kayu Coklat mengkilap
B. PEMBAHASAN
Resin damar mata kucing dipanen dengan cara melukai kulit pohonnya kemudian resin yang keluar dibiarkan mengalir dan terkumpul di lubang sadap sampai mengering dan mengeras. Secara visual resin damar mata kucing memiliki warna kuning bening dan mengkilat. Resin damar batu merupakan resin yang keluar dengan sendirinya dari pohon yang terluka. Damar mata kucing inilah yang digunakan pada pembuatan pernis di praktikum kali ini.
Pada masing-masing bahan yang digunakan memiliki peran dan fungsinya masing- masing pada pernis yang telah dibuat. Bahan utama yang diperlukan pada pembuatan pernis pada praktikum ini adalah damar mata kucing yang telah diayak dengan ayakan 60 mesh sebanyak 30 gram. Fungsi utama damar pada pernis yang telah dibuat adalah sebagai bahan perekat atau bahan yang menempel dan mongering pada kayu yang diolesi pernis.
Bahan selanjutnya adalah minyak kemiri yang pada perlakukan 2 digunakan sebanyak 35ml. minyak kemiri memiliki fungsi sebagai pengkilap dan memberikan warna coklat pada pernis yang dibuat. Dengan warna coklat mengkilat ini, pernis dapat bekerja seperti yang seharusnya. Bahan yang erakhir yaitu terpentin. Terpentin berfungsi sebagai bahan pelarut pada damar dan minyak kemiri, setelah melarut oleh terpentin, damar dan minyak kemiri akan homogen dengan bantuan pengadukan.
Kekentalan pada hasil diperoleh berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada pernis hasil dari damar. Kekentalan adalah salah satu sifat cat dan pernis yang dapat mengidentifikasikan tebal lapisan atau tingkat polimerisasi dan tingkat kemudahan dalam pengaplikasian pernis ke contoh uji, yaitu papan.
Proses kering pernis yang telah dioelskan pada kayu dipengaruhi oleh komposisi pembuatan pernis yang dilakukan. Pada praktikum pembuatan pernis ini, terdapat 3 perlakuan, yaitu perlakuan dengan komposisi minyak kemiri yang berbeda, sedangkan damar dan terpentin yang digunakan sama banyaknya. Pada perlakuan kedua yang saya
lakukan menggunakan damar sebanyak 30 gram, terpentin sebanyak 70 ml dan minyak kemiri sebanyak 35 ml.
Proses pembuatan pernis ini cukup mudah, yaitu dengan mencampurkan damar mata kucing yang sudah menjadi bubuk dan diayak dengan terpentin lalu tambahkan minyak kemiri. Lakukan pengadukan hingga damar sudah tidak ada lagi yang menggumpal (homogen). Setelah homogen, pernis sudah dapat diaplikasikan pada kayu dengan menggunakan kuas.
Berdasarkan literatur, dengan komposisi damar 30 gram , terpentin 70 ml dan minyak kemiri 35 ml, pernis yang dihasilkan akan mongering setelah digunakan selama 40 menit. Namun pada saat praktikum dan dicobakan pada balok kayu, waktu yang dibutuhkan pernis untuk mongering lebih lama dibandingkan dengan literatur, yaitu selama 60 menit. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor yaitu yang pertama, permukaan balok kayu yang saya gunakan sebagai uji coba pernis memiliki permukaan yang kurang rata atau halus, sehingga menyebabkan pernis jadi lama untuk kering.
Faktor lainnya adalah pada saat praktikum minyak kemiri yang digunakan pada proses pengolahnnya, biji kemiri yang digunakan dipanaskan terlebih dahulu, berdasarkan literatur minyak kemiri yang dipanaskan viskositasnya akan menurun. Meningkatnya suhu pengepresan pada biji kemiri menghasilkan rendemen minyak yang semakin berkurang.
Seiring dengan meningkatnya suhu pemanasan maka kadar air dalam biji kemiri semakin berkurang. Berkurangnya kadar air dalam biji kemiri menyebabkan partikel biji kemiri menjadi keras sehingga minyak sulit ke luar.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa damar sebagai salah satu bahan pembuatan pernis dapat dibuat dengan berbagai kombinasi dari minyak kemiri yang digunakan. Penggunaan minyak kemiri pada pembuatan pernis juga mempengaruhi lama pengeringan pernis yang dibuat. Semakin banyak minyak kemiri yang digunakan, pernis yang dihasilkan akan semakin mengkilat dan bagus namun waktu yang dibutuhkan untuk mongering juga semakin lama.
B. SARAN
Sebaiknya praktikum dilakukan dengan baik dan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan serta gunakan kayu sebagai bahan yang akan diolesi pernis memiliki permukaan yang telah halus agar pernis yang diaplikasikan dapat menempel sempurna pada kayu.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlian, E., Hartoyo, H. and Yusnita, E., 2003. Optimasi Pembuatan Pernis dari Damar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 21(1), pp.23-30.
Gusti, R.E.P. and Zulnely, Z., 2014. Sifat Fisiko Kimia Damar Mata Kucing Hasil Pemurnian Tanpa Pelarut. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 32(3), pp.167-174.
Guritno, W.M., 2016. Damar Alam untuk Industri Cat. Jurnal Riset Teknologi Industri, 2(4), pp.9-18
Kasim, A., Permata, D.A. and Malrianti, Y., 2020. KARAKTERISASI DAMAR DARI PESISIR SELATAN DAN APLIKASINYA UNTUK PEMBUATAN PERNIS. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas, 24(2), pp.210-218.
Kholidah, F., Usri, K. and Hidayat, O.T., 2022. Perbedaan nilai kekuatan tekan resin damar mata kucing (Shorea javanica) dengan resin damar batu The difference in compressive strength value of mata kucing dammar resin (Shorea javanica) and batu dammar resin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students, 6(2), pp.98- 103.
Mei Guritno, Wiwit. 2008. Damar Alam Untuk Industri Cat. Jurnal Riset Teknologi Pertanian. Vol. 2 No. 4 Desember 2008.
Dokumentasi
No
. Gambar Keterangan
1. Persipan bahan (damar,
terpentin dan minyak kemiri)
2. Pernis yang dihasilkan dan
siap untuk digunakan
3. Hasil pernis setelah kering
pada kayu