PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Galuh Puspa Rini (212022005)
DAFTAR ISI
PENGERTIAN FILSAFAT FILSAFAT PANCASILA HAKIKAT SILA – SILA
PANCASILA
Pengertian Filsafat
Secara etimologis, Filsafat berasal dari kata “Philein” yang berarti mencintai dan “Sophia” yang berarti kebijaksanaan.
Dengan demikian filsafat adalah mencintai kebijaksanaan.
Adapun secara terminologis banyak tokoh yang memberikan definisi tentang filsafat ini, secara umum bisa dikatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu secara kritis, sistematis, komprehensif dan radikal (mengakar) sampai menemukan hakikatnya.
Pengertian Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila adalah hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai kenyataan, norma – norma dan nilai-nilai yang benar, adil, bijaksana, dan paling sesuai dengan kehidupan dan kepribadian bangsa Indonesia.
Filsafat Pancasila merupakan penggunaan butir - butir Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bernegara. Pada dasarnya, Pancasila sebagai filsafat ialah perluasan manfaat yang bermula sebagai dasar dan arti ideologi, kemudian merambah sampai produk filsafat (falsafah).
Pancasila sebagai produk filsafat artinya Pancasila digunakan sebagai pandangan hidup dalam kegiatan praktis. Hal tersebut menunjukkan bahwa Filsafat Pancasila memiliki fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai filsafat juga dapat dapat diartikan bahwa pancasila mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang bisa menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Hal yang menjadi dasar pernyataan tersebut adalah karena pada
hakikatnya Pancasila mempunyai sistem nilai (value system) yang diperoleh dari penggalian dan pengejawantahan nilai-nilai luhur mendasar dari kebudayaan bangsa Indonesia sepanjang sejarah.
Selain itu, Pancasila juga berakar dari unsur – unsur kebudayaan dari luar yang sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.
Hal itulah yang kemudian ditangkap sebagai hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para tokoh pendiri bangsa (The Founding Father) Indonesia dan merumuskannya dalam suatu sistem dasar negara yang diatasnya berdiri sebuah Negara Republik Indonesia.
Pengertian Filsafat Pancasila Menurut Para Ahli
1. Soekarno
Ir. Soekarno mengembangkan filosofi Pancasila dari tahun 1955 hingga pemerintahannya berakhir pada tahun 1965. Ketika itu Soekarno selalu menyatakan bahwa filosofi asli Indonesia adalah Pancasila. Nilai – nilai pancasila diambil dari budaya dan tradisi Indonesia, serta akulturasi dari India (Hindu – Budha) Barat (Kristen), dan Arab (Islam).
Beliau juga berpendapat bahwa (Ketuhanan) adalah asli berasal dari Indonesia (keadilan sosial) terinpirasi dari konsep ratu adil, Soekarno tidak pernah menyinggung atau
memprogandakan (persatuan), selanjutnya bahwa Soekarno merupakan pemikir pancasila yang menyatukan para pemikir – pemikir terdahulu.
2. Soeharto
Soeharto berpendapat bahwa filsafat Pancasila telah mengalami proses Indonesianisasi. sebgaia presiden ke dua Soeharto berpendapat Semua sila asli Pancasila diangkat dari budaya Indonesia dan kemudian
diterjemahkan ke dalam rincian lebih lanjut dari butir Pancasila.
3. Muh. Yamin
Dalam bukunya Nsakah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, Muh. Yamin menyebutkan bahwa ajaran Pancasila tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat. Hakikat filsafatnya ialah satu sinthese fikiran yang lahir dari antithese fikiran.
Pertentangan pikiran dapat melahirkan perpaduan pendapat yang harmonis, sama halnya dengan ajaran Pancasila, satu sinthese negara yang lahir dari pada satu anithese.
Pada kalimat pertama dari mukadimah Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang berbunyi: bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu
penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai atau bertentangan dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Kalimat pertama tersebut merupakan kalimat antithese.
Ketika antithese tersebut hilang maka lahirlah kemerdekaan. Dan kemerdekaan itulah yang kita akan susun menurut ajaran filsafat Pancasila.
4. Ruslan Abdulgani
Ruslan Abdulgani mengemukakan pendapat bahwa Pancasila merupakan filsafat negara yang lahir sebagai ideologi kolektif (cita-cita bersama) seluruh bangsa
Indonesia, serta berpendapat bahwa pancasila merupakan pandang hidup.
5. Notonagoro
Notonagoro mengartikan bahwa Filsafat Pancasila memberikan pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat pancasila.
6. Soediman Kartohadiprodjo
Dalam bukunya yang berjudul Beberapa Pikiran sekitar Pancasila, beliau berpendapat bahwa Pancasila disajikan sebagai pidato untuk memenuhi permintaan memberikan dasar filsafat negara, maka disajikan Pancasila sebagai filsafat.
Fungsi Filsafat Pancasila
1. Sebagai jiwa Bangsa Indonesia
Setiap bangsa di dunia memiliki jiwanya sendiri. Hal ini disebut dengan istilah Volkgeish, yang berarti “jiwa bangsa” atau “jiwa rakyat”. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah jiwa yang telah memainkan peranan penting dalam kehidupan Indonesia dalam semangat Pancasila sejak kelahirannya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
2. Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia
Filsafat Pancasila juga berfungsi sebagai
kepribadian bangsa Indonesia, donor yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia dan menjadi ciri pembeda bangsa kita di tengah bangsa lain di dunia. Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai kepribadian bangsa juga dimanifestasikan sebagai identitas nasional melalui perilaku dan sikap spiritual, sehingga ciri khas bangsa ini datang dalam bentuk kepribadian Indonesia.
3. Sebagai Sumber dari Semua Sumber Hukum
Indonesia adalah negara hukum yang menerapkan hukum secara adil berdasarkan peraturan yang berlaku. Dalam hal ini, fungsi filsafat Pancasila merupakan sumber dari seluruh sumber daya hukum di Indonesia. Dengan kata lain, sifat standar hukum di Indonesia harus sesuai dan diperoleh di Pancasila. Dan tidak hanya itu, semua warga negara Indonesia harus mematuhinya. Tidak boleh ada hukum dan peraturan mengenai Pancasila.
Masing-masing dari sila yang terkandung dalam Pancasila berfungsi sebagai nilai dasar, sedangkan hukum adalah nilai instrumental atau keterangan tentang sila Pancasila-please. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan dalam Pembukaan Konstitusi 1945, ayat 4, yang menunjukkan bahwa posisi Pancasila bagi bangsa Indonesia sebagai dasar, kerangka dan pedoman untuk Indonesia dan tata tertib hukum. Di Indonesia, yang pada dasarnya terkandung dalam prinsip spiritual Pancasila.
Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai prinsip mutlak untuk susunan mutlak hukum di Indonesia, yang akhirnya diimplementasikan dalam semua aspek pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila memiliki posisi sebagai sumber dari semua sumber daya hukum. Pancasila adalah sama dengan nilainya, yang dianggap sebagai sumber dasar hukum, berfungsi sebagai wadah yang fleksibel untuk mengembangkan berbagai pengertian positif dan dasar ketentuan yang menolak ketidakpatuhan terhadap Pancasila, seperti ateisme, Kolonialisme, kediktatorisme dan sebagainya.
4. Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
Tidak hanya itu, filsafat Pancasila juga berfungsi sebagai cara hidup dari Indonesia. Dengan kata lain, Pancasila merupakan pedoman dan instruksi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Pancasila merupakan Pedoman Perilaku dan presupputing norma yang berlaku di masyarakat. Segala bentuk
idealisme dan moral bangsa Indonesia dan budaya harus bersumber di Pancasila.
5. Sebagai Cita-Cita dan Tujuan Bangsa Indonesia
Baru-baru ini disebutkan bahwa idealisme bangsa harus dibawa ke Pancasila. Hal ini dapat disimpulkan dari pembukaan Konstitusi 1945 yang secara jelas berisi Pancasila, yang merupakan tujuan dan ideal bangsa Indonesia, yaitu menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.
6. Sebagai Dasar Negara
Jika telah disebutkan bahwa fungsi filsafat Pancasila merupakan salah satu sumber dari semua sumber hukum, maka Pancasila juga berfungsi sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan atau penyelenggaraan negara. Segala sesuatu yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia, baik rakyat, pemerintah, wilayah maupun aspek negara lainnya harus didasarkan pada Pancasila.
Pancasila dirumuskan oleh para pendiri bangsa dan lahir dari cara hidup Indonesia. Proses merumuskan Pancasila sebagai dasar negara melalui perjanjian penelitian dan investigasi berlangsung di pertemuan BPUPKI. Dalam pidato oleh Ir. Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945, disebutkan betapa pentingnya keberadaan suatu instrumen persatuan bangsa.
Selain itu, ada juga kontribusi dari para pendiri bangsa lain, seperti Moh. Yamin, Ki Hadi Bagoes Koesoema dan orang lain yang juga ingin mempertahankan filsafat dasar negara, yang akhirnya membantah filsafat dasar bangsa dan negara Indonesia, adalah Pancasila.
7. Menjadi Faslsafah Hidup Bangsa
Dengan kata lain, filsafat Pancasila memiliki fungsi kesatuan bangsa. Hal ini mungkin dikarenakan pandangan bahwa Pancasila mengandung nilai kepribadian yang paling tepat dan sesuai dengan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, Pancasila juga dianggap sebagai nilai yang paling bijaksana, paling adil dan paling tepat untuk menyatukan seluruh rakyat Indonesia.
8. Seperti Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia
Setelah Deklarasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia masih belum memiliki hukum dasar secara tertulis. Oleh karena itu, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengukuhkan pembukaan dan lambung Konstitusi 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila. Oleh karena itu, orang dapat melihat bahwa Pancasila adalah hasil dari kesepakatan antara PPKI, yang merupakan wakil rakyat, dengan masyarakat, agar selalu membela Pancasila.
9. Memberi Hakikat Kehidupan Bernegara
Filsafat Pancasila juga memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan mendasar atau sangat mendasar, seperti sifat kehidupan negara. Dengan filsafat Pancasila, kita dapat mengetahui bahwa sifat kehidupan pedesaan adalah semua aspek yang memiliki hubungan erat
dengan kehidupan sosial dan kelangsungan hidup negara.
Sebagai contoh, pengaturan politik, bentuk pemerintahan, pengaturan ekonomi negara dan sebagainya.
10. Memberi Substansi Tentang Hakikat Negara, Ide Negara dan Tujuan Bernegara
Dengan filsafat Pancasila kita juga dapat menemukan kebenaran yang penting tentang sifat negara, gagasan negara dan tujuan negara kita. Hal ini disebabkan oleh substansi yang memiliki kebenaran universal bagi bangsa Indonesia selama berabad-abad, baik pertama, sekarang, dan di masa yang akan datang.
Konsep substansi juga memiliki keuntungan menjadi faktor penentu untuk pengurangan dan induktif titik penurunan. Atau dapat juga diartikan sebagai mengijinkan substansi untuk diuji, apakah kondisi yang menjadi konkret dalam masyarakat adalah bertentangan dengan nilai Pancasila.
11. Menjadi Perangkat Ilmu Kenegaraan
Fungsi filsafat Next Pancasila adalah perangkat ilmu pengetahuan yang berbeda, khususnya ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan negara. Hal ini dapat tercermin dalam berbagai contoh Pancasila sebagai pengetahuan ilmiah yang kami temukan setiap harinya.
Fungsi Pancasila sebagai instrumen ilmu pengetahuan ini akan terlihat jelas jika pemerintah negara secara teratur dipimpin, seperti kehidupan negara seharusnya.
Tujuan Filsafat Pancasila
Berikut dibawah ini tujuan filsafat pancasila, yaitu :
1.Untuk menciptakan bangsa yang religius dan patuh kepada Allah yang Maha kuasa.
2.Menjadi bangsa yang menjaga keadilan baik secara sosial maupun ekonomi.
3.Untuk menjadi bangsa yang menghormati hak asasi manusia, untuk dapat berada dalam kaitannya HAM dengan Pancasila sebagai dasar negara kita.
4.Untuk menciptakan sebuah bangsa yang menjunjung tinggi demokrasi.
5.Menjadi negara nasionalis dan cinta tanah air Indonesia.
Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Pancasila dikatakan sebagai sistem filsafat karena merupakan hasil penerungan yang mendalam dari para tokoh kenegaraan Indonesia, selain itu juga telah memenuhi ciri – ciri berfikir ke filsafatan yaitu:
Artinya antar sila dalam Pancasila berhubungan satu sama lain secara runtut, tidak mengandung pernyataan yang saling bertentangan di dalamnya.
1. Koheren
2. Menyeluruh (Komprehensif)
Artinya mencakup segala hal dan gejala yang terdapat dalam kehidupan manusia.
3. Mendasar
Artinya suatu bentuk perenungan mendalam yang sampai ke inti mutlak permasalahan, sehingga ditemukan aspek yang sangat fundamental
4. Spekulatif
Artinya buah pikir hasil perenungan sebagai praanggapan yang menjadi titik awal yang menjadi pola dasar penalaran logis, serta menjadi pangkal tolak pemikiran tentang segala sesuatu.
Filsafat dan Kaitannya dengan Pancasila
Filsafat Dan Kaitannya Dengan Pancasila dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
Ontologis merupakan filsafat tentang ada.
Sebuah pemikiran filosofil atas hakikat dan raison d’etre sila – sila Pancasila sebagai dasar filosofis negara Indonesia.
Pemahaman atas hakikat sila – sila Pancasila itu di perlukan sebagai bentuk pengakuan atas modus eksistensi bangsa Indonesia.
1. Ontologis
Prinsip-prinsip Pancasila menurut Sastrapratedja:
1. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), merupakan pengakuan atas kebebasan beragama, saling menghormati dan bersifat toleransi.
2. Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab), mengakui bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama dan harus diperlakukan adil sebagai manusia.
3. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia), Perbedaan Budaya, Etnis, Bahasa dan agama tidak menghambat atau mengurangi partisipasi sebagai warga negara kebangsaan.
4. Sila Keempat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawarahan / Perwakilan), sistem demokrasi diusahakan melalui proses musyawarah untuk tercapainya mufakat untuk menghindari dikotomi mayoritas dan minoritas.
5. Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia), prinsip tidak adanya kemiskinan dalam negara Indonesia Merdeka, hidup dalam kesejahteraan (welfare state)
2. Epistemologis
Epistemologis merupakan filsafat tentang pengetahuan.
Nilai – nilai Pancasila digali dari pengalaman (empiris) bangsa Indonesia, kemudian disintesiskan menjadi sebuah pandangan yang komprehensif tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sila – sila Pancasila secara epistemologis dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), digali dari pengalaman kehidupan beragama bangsa Indonesia.
2. Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab), digali dari pengalaman Masyarakat yang ditindas oleh penjajah selama berabad – abad.
3. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia), digali dari pengalaman bahwa ke terpecah belahan yang dilakukan oleh Belanda menimbulkan konflik antar Masyarakat Indonesia.
4. Sila Keempat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawarahan / Perwakilan), digali dari budaya bangsa Indonesia yang sudah mengenal pengambilan keputusan berdasarkan semangat musyawarah untuk mufakat.
5. Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia), prinsip-prinsip yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang tercermin dalam sikap gotong royong.
3. Aksiologis
Aksiologis merupakan filsafat tentang nilai
Nilai atau kualitas yang terkandung dalam sila – sila Pancasila, yaitu:
1. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), mengandung nilai kualitas monoteheis, spiritual, kekudusan, sakral
2. Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab), mengandung nilai martabat, harga diri, kebebasan, tanggung jawab
3. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia), mengandung nilai solidaritas, kesetiakawanan
4. Sila Keempat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawarahan / Perwakilan), mengandung nilai demokrasi, musyawarah, mufakat, berjiwa besar
5. Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia), mengandung nilai kepedulian, gotong royong.
Hakikat Sila – Sila Pancasila
1.Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa), Hakikat sila Ketuhanan terletak pada keyakinan bangsa Indonesia bahwa Tuhan merupakan prinsip utama dalam kehidupan semua makhluk.
2.Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab), Hakikat sila Kemanusiaan adalah manusia monopluralis, yang terdiri atas tiga monodualis, susunan kodrat, sifat kodrat, dan kedudukan.
3.Sila Ketiga (Persatuan Indonesia), Hakikat sila Persatuan terkait dengan semangat kebangsaan, yang terwujud dalam bentuk cinta Tanah Air (Tanah Air Real, Formal, dan Mental).
a.Tanah Air Real: Bumi tempat orang dilahirkan dan dibesarkan, bersuka dan berduka, yang dialami secara fisik sehari-hari.
b.Tanah air formal: Negara bangsa yang berundang – undang dasar, manusia Indonesia, menjadi salah seorang warganya, yang membuat undang-undang, menggariskan hukum dan peraturan, menata, mengatur dan memberikan hak serta kewajiban, mensahkan atau membatalkan, memberikan perlindungan dan menghukum, memberikan paspor atau surat pengenal lainnya.
c.Tanah air mental: Imajinasi yang dibentuk dan dibina oleh ideologi atau seperangkat gagasan vital
4.Sila Keempat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawarahan / Perwakilan), Hakikat sila Kerakyatan terletak pada prinsip musyawarah, di mana setiap pengambilan keputusan didasarkan atas semangat musyawarah untuk mufakat.
5.Sila Kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia), Hakikat sila Keadilan meliputi tiga aspek, yaitu keadilan distributif, legal, dan komutatif.