• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajari dan analisis Argentometri

N/A
N/A
Briliant Ghaustin Yoly Ala Nurin

Academic year: 2024

Membagikan "Pelajari dan analisis Argentometri "

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

A R G E N T O M E T R I

(2)

PRINSIP : TITRASI PENGENDAPAN

REAKSI : ANION (sampel) + AgNO3 (pentiter) Ag-Anion (end.)

endpoint : Ag+ (kelebihan) + Indikator end. warna berbeda

SYARAT : - reaksi berlangsung cepat/spontan

- reaksi berlangsung stoikiometri dan kuantitatif - titik akhir titrasi jatuh bersamaan/ berdekatan dengan titik ekivalen.

PENETAPAN TITIK AKHIR TITRASI :

a. Terbentuknya endapan II yang berbeda dengan endapan I Metoda MOHR.

Sampel (Cl atau Br ) + AgNO3 (pentiter) AgCl atau AgBr putih putih kng AgNO3 (kelebihan) + CrO4= Ag2CrO4

indikator coklat kemerahan

(3)

CONTOH : 25.0 ml larutan NaCl 0.1N + 1 ml indikator K2CrO4 5% - dititrasi dengan larutan baku AgNO3 0.1N sampai nampak endapan merah kecoklatan. (pKsp dari AgCl = 10 & Ag2CrO4 = 11.7)

TINJAUAN (kesalahan titrasi) :

1. Reaksi : Cl + AgNO3  AgCl

AgNO3 (kelebihan) + CrO4=  Ag2CrO4

(titik akhir titrasi) 2. Menghitung Vol. ekivalen :

Vol. AgNO3 x N- AgNO3 = Vol. Cl x N- Cl Vol. AgNO3 = (25 x 0.1) / (0.1) = 25 ml

3. Menetukan volume akhir titarasi = (25 + 1 + 25) + kelebihan AgNO3 = 51 ml.

4. Menghitung [Ag+] dan [CrO4=] pada titik ekivalen :

[Ag+] = √ (Ksp) = √ (1x10–10) = 10– 5

[CrO4=] = (1/51) x (50/194.21) = 5.05 x 10– 3

(4)

5. TINJAUAN ADANYA ENDAPAN Ag2CrO4 (end point) : [Ag+]2 x [CrO4=] = (10- 5)2 x (5.05 x 10–3) = 5.05 x 10–13 Ksp Ag2CrO4 = 10–11.7 = 2.00 x 10–12 > 5.05 x 10–13

 saat ekivalen (penambahan titran AgNO3) : belum ada endapan.

6. MENGHITUNG KELEBIHAN TITRAN AgNO3 untuk endpoint : [Ag+]2 x [CrO4=] = [Ag+]2 x (5.05 x 10–3) = 2.00 x 10–12

[Ag+] = √ (2.00 x 10–12 / 5.05 x 10–3) = 2.00 x 10–5

Atau kelebihan AgNO3 = {(X/(51+X)} x 0.1 = 2.00 x 10–5

= 51 x 2.00 x 10–4 = 1.02 x 10–2 ml 0.1N

Atau untuk mencapai endpoint perlu AgNO3 (25.00 + 0.0102) ml 0.1N.

(5)

7. Apakah memungkinkan bila titik ekivalen = titik akhir titrasi ?

 [CrO4=] = (Ksp Ag2CrO4) / [Ag+]2 = (1.20 x 10–12) / (10–5)2 = 1.20 x 10–2

CATATAN :

1. Indikator [CrO4=] seyogyanya + 5 x 10-3 M, bila digunakan konsentrasi lebih besar maka warna larutan menjadi kuning

kecoklatan sehingga mempersulit pengamatan perubahan warna pada titik akhir titrasi (teramatinya warna merah kecoklatan).

Untuk mengatasi : digunakan titrasi blanko yaitu mengganti larutan

NaCl (25.0 ml) dengan aquades + larutan indkator (1 ml) dan dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai diperoleh warna : merah kecoklatan dan AgNO3 yang diperlukan/ yang harus ditambahkan pada titrasi blanko ini merupakan koreksi terhadap titrasi sampel yang

sesungguhnya.

2. Suasana titrasi netral atau sedikit basa lemah (pH 7 – 10.5) 3. Dalam suasana asam ion CrO4=  HCrO4

4. Dalam suasana basa : Ag+ + OH  Ag(OH)2  Ag2O

(6)

5. Anion lain yang mengendap dengan Ag

+

dalam suasana netral/alkali lemah akan mengganggu penetapan kadar Cl

atau Br

6. Metoda Mohr umumnya digunakan untuk penetapan kadar sampel klorida atau bromida dalam suasana netral / alkali lemah.

HCl : tak dapat ditetapkan langsung sebab suasana asam.

7. Untuk penetapan kadar I atau CNS hasilnya kurang bagus sebab AgI dan AgCNS mempunyai adsorbsi terhadap indikator.

(7)

b. METODA FAJANS

: terbentuk warna endapan yang berbeda dari warna semula karena adanya adsorpsi terhadap zat warna tertentu (dyes)

REAKSI :

Na+ NO3 Cl Ag+

Na+ Cl.. AgCl ..Cl Na+ NO3 Ag+ ..AgCl.. Ag+ NO3

Cl Ag+ Na+ NO3

keadaan awal / keadaan sesudah ekivalen sebelum ekivalen pentiter AgNO3

berlebih

(8)

NO3 Flrsc Ag+ Ag+

NO3 Ag+ ..AgCl.. Ag+ NO3 Flrsc Ag+ ..AgCl.. Ag+ Flrsc

Ag+ Ag+

NO3 Flrsc

keadaan sesudah ekivalen

pentiter AgNO3 berlebih dan mengadsorpsi ind. Fluorescein warna : merah .

(9)

PRINSIP KERJA INDIKATOR :

- endapan Ag-Halida mempunyai daya adsorpsi terhadap ion dari pembentuknya, yaitu terhadap ion Ag+ atau Halida

- Suasana Halida (sampel) berlebih (sebelum ekivalen)  ion Halida yang teradsorpsi sebagai “inner ion”.

- Suasana AgNO3 (pentiter) berlebih, saat titik akhir titrasi  inner ion adalah Ag+

- Inner ion akan mengadsorpsi ion berlawanan muatan sehingga pada saat akhir titrasi dimana indikator Fluorescein bermuatan negatif akan diadsorpsi oleh ion Ag+ daripada ion NO3  warna merah pada partikel-partikel endapan, bukan larutannya.

- Ion Fluorescein teradsorpsi lebih kuat dari ion NO3 oleh Ag+ sebab Ag-Fluoresceinat mempunyai ikatan yang lebih kuat (berupa

endapan) dibandingkan AgNO3 (berupa larutan).

Ion dengan berat molekul lebih besar juga akan teradsorpsi lebih kuat ( Hukum PANETH – FAJANS – HAHN ).

(10)

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN :

• 1. endapan Ag-Halida mudah terurai oleh cahaya matahari langsung

 Ag2O (abu-abu) dan ini akan mengganggu pengamatan perubahan warna pada titik akhir titrasi

• 2. endapan berupa sistem koloid  perubahan warna jelas, kalau perlu + koloid pelindung untuk mencegah flokulasi

• 3. yang teradsorpsi adalah bentuk ion  pH (suasana larutan)

sangat berperan dalam terjadinya warna adsorpsi, sebab besarnya konsentrasi ion dyes (indikator) yang berupa senyawa elektrolit

dipengaruhi oleh pH.

Misalnya : Fluorescein digunakan pada pH : 7 – 10 Eosin digunakan pada pH : 3 – 10

( Eosin mempunyai keasaman lebih kuat dari Fluorescein )

(11)

c. METODA VOLHARD :

- terbentuknya warna senyawa II yang berupa larutan yaitu Fe(CNS)2+

dalam suasana endapan Ag-Halida dan AgCNS

REAKSI :

Cl (sampel) + AgNO3 (baku) berlebih  AgCl + Ag+ (kelebihan) Ag+ (kelebihan + CNS (pentiter) + ind. Fe3+  AgCNS end. +

FeCNS2+ larutan

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN :

1. Pentiter CNS tidak boleh mendesak / mensubsitusi endapan sebelumnya (Ag-Halida).

Misalnya : AgCl dapat didesak oleh CNS,

sebab pKsp dari AgCl = 10 sedangkan AgCNS = 12

AgBr dan AgI : tidak terdesak oleh CNS sebab pKsp nya > 12.

 pada titrasi Cl : perlu penyaringan .

(12)

2. Suasana titrasi : asam, sebab Fe3+ dalam suasana netral  Fe(OH)3 : koloid kecoklatan, mengganggu pengamatan

endpoint.

3. Ag-Anion yang sukar larut dalam air tetapi larut dalam suasana asam  ion Oksalat, Fosfat, Arsenat, Kromat, Sulfida.

a. diendapkan dengan AgNO3 (berlebih) suasana netral 

disaring,  FILTRAT (kelebihan AgNO3) dititrasi dengan larutan baku CNS dan indikator Fe3+ / suasana asam.

b. diendapkan dengan AgNO3 (berlebih) suasana netral  disaring  ENDAPAN dilarutkan dalam asam (HNO3) dan Ag+ yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku CNS dan

indikator Fe3+.

4. Garam sulfida dari : Pb, Bi, Zn, Mn, Co dan Ni dapat membentuk Ag2S secara kuantitatif.

(13)

TINJAUAN : AgCl + CNS === AgCNS + Cl

[Cl] / [CNS] = (Ksp AgCl) / (AgCNS) = (10–10) / (10–12) = 100

• 100 ml suspensi AgCl + 0.1ml 0.1N CNS  [Cl] / [CNS–] = 100 [CNS] = {(0.1) / (100 + 0.1)} x 0.1 = 10– 4

 [Cl] = (1/100) x 10– 4 = 10– 2

 [CNS] = (99/100) x 10– 4 = 10– 6

Sensitivitas ind. Fe3+ thd CNS adalah [CNS] = 10– 5

 Untuk membentuk warna Fe(CNS)2+ perlu CNS= 1 ml 0.1N tetapi reaksi AgCl dg CNS berlangsung lambat, maka untuk

menghindari/menghambat reaksi dapat (sebelum dititrasi dg CNS : + 1 ml nitrobenzen (Caldwell) atau

eter, benzen, ligroin, pelarut organik lainnya yang bercampur dg air (Rothmund & Burgstaller).

(14)

Tinjauan lebih lanjut : AgCl + CNS === AgCNS + Cl sebagian CN + Fe3+ === FeCNS2+

 [Ag+] = [Cl] + [CNS] dan

[Cl

] / [CNS

] = 100

Pada endpoint : AgCl AgCNS

Fe(CNS)2+ ( Fe3+)

 [Ag+] = [Cl] + [CNS] + [FeCNS2+]

warna teramati pada : [FeCNS2+] = 6.4 x 10– 6

 [Ag+] = [Cl] + 0.01 [Cl] + 6.4 x 10– 5 [Ag+] x [Cl] = 10– 10

 Pada endpoint : (10– 10) / [Cl] = 1.01 [Cl] + 6.4 x 10– 6 1.01 [Cl]2 + 6.4 x 10– 6 [Cl] – 10– 10 = 0  [Cl] = 7.28 x 10– 6

K = {[Fe3+] x [CNS]} / [FeCNS2+] = 7.25 x 10– 3

 [Fe3+] = {(7.25 x 10– 3) x (6.4 x 10– 6)} / (7.28 x 10– 8) = 0.64M

(15)

• Realita pada endpoint : [Fe3+] = 0.2M

• Teoritis = 0.64M : warna larutan kecoklatan  endpoint sukar diamati.

•  dengan memperkecil [Fe3+] : endpoint memerlukan CNS lebih banyak. (Swift cs.) - Hal ini tidak terjadi pada titrasi terhadap Br

- Untuk I – : harus diwaspadai bahwa : Fe3+ + I === Fe2+ + ½ I2  Indikator Fe3+ baru ditambahkan setelah semua I terendapkan dengan Ag+ (berlebih)

(16)

d. METODA LIEBIG – DENIGES :

Ag+ + 2 CN === Ag(CN)2

Ag+ + Ag(CN)2 === Ag.Ag(CN)2 endapan putih

• Ag(CN)2 === Ag+ + 2 CN

• K-instabilita = {[Ag+] x [CN]2} / [ Ag(CN)2] = 10– 21

• Misal pada endpoint : [Ag(CN)2] = 0.05M  2 [Ag+] = [CN]

• {[Ag+] x [2Ag+]2} / (0.05 – [Ag+]) = 10– 21

• [Ag+] = {(0.05 x 10– 21) / (4)} 1/3  [Ag+] = 2.32 x 10– 8

• Ag Ag(CN)2 === Ag+ + Ag(CN)2

• Ksp = [Ag+] x [ Ag(CN)2] = 2 x 10– 12

• [Ag+] = (2 x 10– 12) / (0.05) = 4 x 10– 11

•  endapan (endpoint) teramati sebelum endpoint stokiometri (adanya Ag+ = 4 x 10– 11 , sedangkan yang ada : 2.32 x 10– 8)

(17)

KAJIAN : 100 ml 0.2M KCN + 99.90 ml 0.1N AgNO3

apakah sudah terjadi endapan Ag.Ag(CN)2 ?

Volume akhir = 100 + 99.90 = 200 ml (dibulatkan) [CN] sisa = (0.1 / 200) x 0.2 = 10– 4

Reaksi : 2 CN + Ag+ === Ag(CN)2

20 mgrl  ½ x 20 mgrl = 10 mgrl = 10/200 = 0.05M

 {[Ag+] x [CN]2} / [Ag(CN)2] = 10– 21

 [Ag+] = {(10– 21) x (0.05)} / (10– 4)2 = 5 x 10– 15

 dari perhitungan sebelumnya, endpoint bila [Ag+] = 4 x 10– 11

 kajian diatas pada + 99.90 ml 0.1N AgNO3  [Ag+] = 5 x 10– 15

 BELUM ADA ENDAPAN (belum endpoint) atau kesalahan titrasi akan < 0.1 % (karena + 99.90 ml belum endpoint)

(18)

PENGGUNAAN LARUTAN BAKU : Hg(NO3)2 Hg(ClO4)2

• PENETAPAN Cl& Br : Hg2+ + 2 Cl === HgCl2

Hg2+ + 2 Br === HgBr2

HgCl2 dan HgBr2 : senyawa yang sukar terdisosiasi, meskipun mudah larut tak ada ion Hg2+ bebas

penetapan endpoint : + indikator yg dapat bereaksi dg Hg2+ (ion)

misal: Na-NITROPRUSID kekeruhan.

DIFENIL KARBASID dan DIFENIL KARBASON violet intensif (pada pH tertentu)

untuk : Cl, Br, dan I (< 0.0003N)

(19)

PENETAPAN Hg

2+

dg CNS

:

Hg2+ (sampel) + CNS(baku) === Hg(CNS)2 Fe3+ (ind.) + CNS === Fe(CNS)2+ merah

• Hg(CNS)2 : sukar terdisosiasi, mudah larut (dalam bentuk molekul)

• Bila [Hg2+] : Hg(CNS)2 dapat mengendap sebelum endpoint tetapi tidak mengganggu

 titrasi pada suhu : < 20o C : tak perlu blanko

 CYANIDA : dapat juga ditetapkan berdasarkan reaksi diatas

 CN (sampel) + Hg(NO3)2 baku === Hg(CN)2 + Hg2+ lebih Hg2+ (lebih) + CNSbaku === Hg(CNS)2 Fe3+ (ind.) + CNS kelebihan  FeCNS2+

merah Catatan : Klorida dan Bromida : mengganggu !

(20)

PENGGUNAAN TITRASI ARGENTOMETRI

A. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV :

1. AMMONII CHLORIDUM :

100.0 mg sampel + 100 ml air + 1 ml indikator Diklorofluoresein LP – dititrasi dg AgNO3 0.1N LV  flokulasi  warna : merah muda lemah.

2. KALII CHLORIDUM :

250.0 mg sampel + 150 ml air + 1 ml HNO3 P – dititrasi dg

AgNO3 0.1N LV – endpoint : potensiometri dg elektroda perak- kalomel

3. NATRII CHLORIDUM :

250.0 mg sampel + 140 ml air + 1 ml diklorofluoresein LP – dititrasi dg AgNO3 0.1N LV  flokulasi  merah muda lemah

(21)

B. FARMAKOPE RUSIA IX :

a. 1. NH4Br, NH4Cl 10.0 ml sampel + 40 ml air +

2. NaBr, NaCl ind K2CrO4 – dititrasi dg AgNO3

3. KBr orange kuning

b. 1. KI 15.0 ml sampel (0.3 g) + 2 ml HNO3 + 25.0 ml 2. NaI AgNO3 0.1N (berlebih) – kelebihannya

dititrasi dg baku NH4CNS dan ind. Fe(NH4) (SO4)2

c. EPHEDRIN HCl : 0.3 g sampel + 10 ml air + 2 tts birubromfenol + HAc sampai kuning hijau – dititrasi dg baku AgNO3  violet.

Referensi

Dokumen terkait

Reaksi titrasi yang akan dilakukan untuk membuktikan bahwa kurkumin dapat digunakan sebagai indikator dalam menunjukkan titik akhir titrasi adalah titrasi basa

indikator EBT= 2,8 – 4,8 EBT tidak dapat digunakan sebagai indikator pd titrasi ion logam Ca dengan EDTA. titik

Setelah menambahan indikator murexid, larutan sempel tersebut dititrasi dengan larutan EDTA sampai tercapainya titik akhir titrasi yaitu larutan berubah warna menjadi ungu..

Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum

Beberapa analit tidak dapat dititrasi dalam air karena kelarutannya rendah atau memiliki kekuatan asam/ basa yang tidak memadai untuk mencapai titik akhir,

Beberapa analit tidak dapat dititrasi dalam air karena kelarutannya rendah atau memiliki kekuatan asam/ basa yang tidak memadai untuk mencapai titik akhir, Titrasi

Pengukuran Muatan Variabel Prinsip Nilai pH 0 yaitu terjadi ketika titik persimpangan kurva titrasi dalam suatu elektrolit dengan berbagai variasi konsentrasi, kapasitas tukar kation

Titik Ekivalen dan Titik Akhir Titrasi • Titik ekuivalen diketahui dari adanya perubahan dalam larutan yang disebabkan karena penambahan indikator yang dapat menyebabkan