MENGENAL AKSIOLOGI
Oleh Virgianisa Masieva NIM: 2088203005
Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris semester 3 STKIP Muhammadiyah Sampit
A. Pendahuluan.
Filsafat sejak dulu sudah dikenal sebagai ilmu yang mempelajari tentang eksistensi manusia dan salah satu cabangnya adalah Aksiologi. Persoalan-persoalan filsafat dapat dideskripsikan menjadi lima berdasarkan ciri-cirinya (Tim dosen, 2007; Rapar, 1996). Kelima persoalan filsafat tersebut adalah metafisika, epistemologi, logika, etika, dan estetika. Istilah metafisika berasal dari kata Yunani meta ta physika, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda-benda fisik (Tim dosen, 2007). Metafisika juga dapat diartikan sebagai pemikiran tentang sifat yang paling dalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Persoalan metafisika dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu ontologi, kosmologi (alam), dan antropologi (manusia).
B. Pembahasan
Secara etimologis, Axios berasal dari kata Yunani kuno “aksios” yang berarti nilai dan “logos” yang berarti teori. Oleh karena itu, teori nilai merupakan bidang filsafat yang mempelajari nilai. Dengan kata lain, teori nilai adalah teori nilai.
Suriasumantri (1990) mendefinisikan teori nilai sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan yang diperoleh. Teori nilai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) adalah ilmu yang mempelajari tentang pemanfaatan ilmu, nilai, khususnya etika bagi kehidupan manusia.
Menurut Wibisono yang dikutip oleh Surajiyo (2007), teori nilai bukan hanya aplikasi ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai sebagai ukuran kebenaran, etika, dan moralitas sebagai landasan normatif penelitian dan eksplorasi. The Philosophy Encyclopedia menjelaskan bahwa teori nilai setara dengan nilai dan evaluasi.
Seperti dikutip dalam pepatah (2009), Bramel membagi aksiologi menjadi tiga bagian: perilaku moral, ekspresi estetika, dan kehidupan sosial-politik. Perilaku moral, yaitu perilaku moral. Bidang ini, bidang khusus lahir dari etika. Ekspresi estetis, yaitu ekspresi keindahan di mana daerah ini menghasilkan keindahan. Dan terakhir, lahirnya falsafah kehidupan sosial politik. Pembahasan nilai tentu membahas dan menganalisis persoalan nilai.
Apa sebenarnya nilai ini? Bertens (2007) menggambarkan nilai sebagai sesuatu yang menarik bagi seseorang, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang dicari, sesuatu yang disukai dan didambakan. Singkatnya, nilainya bagus. Lawan dari nilai adalah tidak berharga atau tidak berharga. Ada yang mengatakan bahwa ketidakberhargaan adalah nilai negatif. Sesuatu yang baik adalah nilai yang positif.
Filsuf Jerman-Amerika Hans Jonas menggambarkan Wort sebagai penerima Yesus.
Ya saya berurusan dengan sesuatu. Nilai adalah apa yang kita tegaskan atau yakini.
Nilai selalu berimplikasi positif (Bertens, 2007). Ada tiga sifat yang dapat diidentifikasi dengan nilai: subjektif, praktis, dan nilai yang terkait dengan penambahan pada objek (ibid., 141). Pertama, nilai relevan dengan subjek. Artinya, nilai berkaitan dengan keberadaan orang yang dituju. Jika tidak ada yang memberi nilai, nilai itu tidak ada. Bahkan tanpa manusia, Gunung Merapi meletus saat meletus. Sebab, misalnya, ketika Gunung Merapi meletus, "indah" atau
"berbahaya" bagi kehidupan manusia.
Semua ini masih membutuhkan kehadiran orang untuk melakukan penilaian. Dalam hal ini, nilai subjektivitas hanya bergantung pada pengalaman manusia. Kedua, nilai dalam konteks praktis. Dengan kata lain, subjek ingin membuat lukisan dan gerabah. Ketiga, didasarkan pada nilai tambah properti. Nilai tambah bisa berupa budaya, estetika, komitmen, kemurnian, kebenaran, atau yang lainnya. Objek yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda untuk topik yang berbeda. Perbedaan nilai sesuatu terletak pada sifat nilai itu sendiri. Nilai adalah ide atau abstrak (bukan realitas). Nilai bukanlah fakta yang dapat ditangkap oleh indera. Perilaku manusia dan hal-hal yang berharga dapat dirasakan karena tidak nyata. Ketika kita kembali ke sains, kita membahas masalah benar dan salah.
Kebenaran adalah masalah logika, nilai adalah masalah rasa syukur, emosi dan kepuasan. Rangkuman masalah nilai bukan tentang membahas apa yang benar dan apa yang salah (apa yang benar dan apa yang salah), melainkan tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan apakah Anda bahagia atau tidak. Nilai kebenaran berkaitan erat dengan nilai, tetapi nilai didasarkan pada nilai logika. Tantangan teori nilai adalah untuk memecahkan masalah etika dan estetika. Teori nilai dalam filsafat
menyangkut masalah etika dan estetika. Etika memiliki dua pengertian. Artinya, predikat yang digunakan untuk membedakan antara kumpulan pengetahuan tentang penilaian perilaku dan perilaku manusia, tingkah laku, atau yang lainnya.
Nilai bersifat objektif, tetapi bisa juga subjektif (Amsal, 2009). Jika nilainya tidak tergantung pada subjek atau kesadaran penilai, itu dianggap objektif. Kriteria ide didasarkan pada objek, bukan target evaluasi. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pendapat individu, tetapi pada objektivitas fakta. Sebaliknya, ketika subjek dilibatkan dalam penilaian, nilainya menjadi subjektif. Kesadaran manusia adalah standar evaluasi.
Oleh karena itu, nilai-nilai subjektif selalu memperhatikan perbedaan pandangan intelek manusia, seperti perasaan suka atau tidak suka satu sama lain yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia. Beberapa kelompok memiliki pandangan yang berbeda tentang nilai. Nilai dari sudut pandang agama tentu berbeda dengan positivisme, kepraktisan, fatalisme, Hindu, dll. Sekarang, bagaimana pandangan Anda tentang kawin sirih yang penuh pro dan kontra. Atau poligami? Tentu, masingmasing orang akan memberikan penilaian yang berbeda sesuai dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Sinclair seperti dikutip Suseno (1993), mengemukakan bahwa nilai itu merujuk pada sistem, seperti sosial, politik, dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan, dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi yang dapat terwujud. Rune (1963) mengemukakan beberapa masalah dengan nilai, seperti sifat nilai, jenis nilai, acuan nilai, dan keadaan metafisik nilai.
Suseno (2007) berpendapat bahwa esensi nilai terdiri dari kehendak (independence), keinginan (hedonisme), minat, preferensi (preferensi), dan pada akhirnya asumsi atau opini yang berasal dari kehendak akal murni. Jenis-jenis nilai dapat dikategorikan menurut perubahannya. Misalnya, baik dan buruk, sarana dan tujuan, penampilan dan realitas, subjektivitas dan objektif, murni dan campuran, realitas dan kemungkinan. Kriteria nilai adalah kriteria tes yang kemungkinan dipengaruhi oleh aspek psikologis dan logis.
Hedonis menemukan standar nilai dalam jumlah kegembiraan yang dijelaskan oleh individu atau masyarakat. Idealisme mengakuinya atas dasar sistem objektif norma- norma rasional. Naturalis menganggap resistensi biologis sebagai patokan. Keadaan nilai metafisik terutama ditentukan oleh subjektivitas, objektivisme logis, dan objektivisme metafisik. Subjektivisme adalah nilai yang hanya bergantung pada pengalaman manusia. Objektivisme logis adalah makhluk logis atau logis, terlepas dari nilai yang diketahui.
Nilai juga memiliki karakteristik yang bersifat abstrak (merupakan kualitas), inheren pada objek, bipolaritas yaitu baik/buruk, indah/jelek, benar/salah; dan bersifat hirarkhis; nilai kesenangan, nilai vital, nilai kerohanian.
A. Etika.
Etika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti watak. Beberapa orang mendefinisikan etika dan moralitas sebagai teori tentang perilaku manusia, baik dan jahat, tetapi mereka masih dapat dijangkau dengan akal. Moralitas adalah gagasan tentang perilaku manusia (baik dan jahat) dalam situasi tertentu. Fungsi etika adalah untuk menemukan ukuran bagaimana perilaku manusia dapat dievaluasi (baik dan jahat), tetapi dalam praktik etika banyak orang mengalami masalah. Hal ini karena ukuran perilaku manusia yang baik dan buruk dari tidak (relatif) sama, yaitu tidak terlepas dari kualitas lainnya. Namun, etika selalu mencapai tujuan akhir untuk menemukan standar etika yang diterima secara umum atau diterima oleh semua negara di dunia. Perilaku manusia tidak sama dalam arti sanksi etis, karena tidak semua perilaku manusia dapat dinilai secara etis.
Perilaku manusia yang dapat dinilai secara etis harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
1. Tingkah laku manusia dipahami dan dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu, orang yang telah melakukan kesalahan tetapi tidak mengetahui sebelumnya bahwa perilaku tersebut buruk tidak diberi izin secara etis untuk perilaku manusia semacam ini.
2. Tindakan manusia disengaja. Aktivitas manusia yang dilakukan secara tidak sengaja (kejahatan), Aktivitas manusia semacam itu tidak dinilai atau disahkan sesuai dengan etika.
3. Perbuatan manusia dilakukan secara bebas atau menurut kehendak itu sendiri.
4. Perbuatan manusia yang dilakukan dengan paksaan (di bawah paksaan) ,yang tidak dikenakan sanksi etika.
B. Estetika.
Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal dari kata Yunani yaitu aisthetika atau aisthesis. Kata tersebut berarti hal-hal yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera.
Debat estetis masih dibahas oleh 4.444 orang. Apalagi jika dikaitkan dengan agama dan nilai moral, legitimasi dan keadilan. Apa ukuran sebenarnya dari keindahan dan perannya dalam kehidupan manusia? Dan apa hubungan antara keindahan dan kebenaran? Beberapa tokoh, seperti Marcia Eaton, Edmund Burke, David, dan Immanuel Kant, memiliki pandangan yang berbeda tentang refleksi kritis nilai-nilai tentang apa yang disebut indah atau tidak sedap dipandang. Dari segi estetika, Marcia Eaton menyatakan bahwa konsep ini berkaitan dengan objek artistik dan estetika serta deskripsi dan evaluasi Event
(Wiramihardja, 2006). Edmund Burke dan David menganggap estetika sebagai konsep empiris atau terkait tujuan, seperti dilansir Wiramihardja (2006).
Pandangan kedua tokoh tersebut didasarkan pada pengamatan reaksi psikologis dan fisik yang memungkinkan individu untuk membedakan antara objek dan peristiwa yang berbeda. Tetapi Immanuel Kant melihatnya secara berbeda. Estetika ini adalah konsep subjektif, tetapi pada tingkat yang paling dasar dan universal, orang memiliki perasaan yang sama tentang apa yang membuat mereka nyaman dan bahagia, atau menyakitkan dan tidak menyenangkan.
C. Simpulan
Aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia,khususnya kajian tentang nilai-nilai etika. Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Di sinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperhatikan sebaik-baiknya. Dalam filsafat penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuan. Seorang ilmuwan mempunyai tanggungjawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan seperti nuklir dan rekayasa genetika.
Daftar Pustaka
2016, Totok Wahyu Abadi, Aksiologi: Antara Etika,Moral dan Estetika.
2017, Moh. Toriqul Chaer, Aksiologi Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Keilmuan.