• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL BUMN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL BUMN "

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

TUFPLIHANI NURIN NIM: 105731134917

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2022

(2)

ii

KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA

JUDUL PENELITIAN:

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN DESENTRALISASI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL BUMN

(Studi Kasus pada PT. Pertamina dan PTPN XIV Kota Makassar)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Oleh:

TUFPLIHANI NURIN NIM: 105731134917

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Ekonomi Pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas

Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022 M/1443 H

(3)

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Gapailah Pendidikan setinggi mungkin dan kembalilah kepada masyarakat untuk memberikan kebaikan

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT atas Ridho-Nya serta karunianya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik, Alhamdulillah Rabbil’alamin,

Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku tercinta Orang-orang yang saya sayang dan Almamaterku

PESAN

Jadilah mahasiswa yang tidak mudah menyerah, yang bisa melalui segala rintangan dengan hati yang sabar serta semangat yang tak

akan goyah.

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya.

Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial BUMN (Studi Kasus pada PT. Pertamina dan PT.Perkebunan Nusantara XIV Kota Makassar)”.

Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Teristimewa dan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Bapak Nur Sandi Ali dan Ibu Klara Murdian yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus. Dan saudara-saudaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, serta dukungan baik materi maupun moral, dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan didunia dan diakhirat.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan

(8)

viii

yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Andi Jam’an, SE., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Mira, SE., M.Si, selaku Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak Dr.Ismail Badollahi, SE., M.Si. Ak. CA. CSP, selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi selesai dengan baik.

5. Bapak Abd.Salam HB, SE., M.Si. Ak. CA. CSP, selaku Pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.

6. Bapak/Ibu dan Asisten/Konsultan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Segenap Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Makassar.

8. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Angkatan 2017 yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis.

9. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi dan dukungannya sehingga penulis dapat merampung penulisan skripsi ini.

(9)

ix

Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan skripsi ini.

Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater tercinta kampus biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Nashrun min Allahu wa Fathun Karien, Billahi Fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Makassar, 06 Januari 2022 Penulis

Tufplihani Nurin

(10)

x ABSTRAK

TUFPLIHANI NURIN, 2022, Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial BUMN. Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Dr. Ismail Badollahi dan Abd.Salam HB.

Tujuan penelitian ini merupakan jenis penelitian bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial BUMN Kota Makassar. Sampel ini diambil dari PT. Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV Kota Makassar.

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner yang dibagikan dan berhubungan dengan masalah yang dteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan pembagian kuesioner. Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan dalam pengumpulan data mencakup data primer. Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode skala Likert.

Hasil penelitian ini menunjukkan data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package for the Social Science (SPSS) versi 26 mengenai pengaruh sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial BUMN yang telah dibahas dari bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan penting yaitu sistem akuntansi manajemen berpengaruh signifikan terjadap kinerja manajerial, desentralisasi berpengaruh signifikan dan sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial. Sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi.

Kata Kunci: Sistem Akuntansi Manajemen, Desentralisasi dan Kinerja Manajerial

(11)

xi ABSTRACT

TUFPLIHANI NURIN, 2022, Effect of Management Accounting System and Decentralization on Managerial Performance of SOEs. Accounting Study Program, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar. Supervised by Dr. Ismail Badollahi and Abd Salam HB.

The purpose of this study is a type of quantitative research with the aim of knowing the effect of the management accounting system and decentralization on the managerial performance of SOEs in Makassar City. This sample was taken from PT. Pertamina and PT. Nusantara XIV Plantation, Makassar City. The type of data used in this study is quantitative data obtained from questionnaires distributed and related to the problem being studied. Data was collected by direct observation and distributing questionnaires. In this study, the data sources used in data collection include primary data. The research instrument used in this study used the Likert scale method.

The results of this study show data using statistical calculations through the application of the Statistical Package for the Social Science (SPSS) version 26 regarding the effect of management accounting systems and decentralization on the managerial performance of SOEs that have been discussed from the previous chapter, the authors draw an important conclusion that management accounting systems have an effect significant effect on managerial performance, decentralization has a significant effect and management accounting systems and decentralization have a significant effect on managerial performance.

Management accounting system and decentralization.

Keywords: Management Accounting System, Decentralization and Managerial Performance

(12)

xii DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN KEABSAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... x

ABSTRACK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori ... 8

(13)

xiii

1. Landasan Teori ... 8

2. Sistem Akuntansi Manajemen ... 9

a. Pengertian ... 9

b. Tujuan ... 9

c. Karakteristik ... 10

3. Desentralisasi ... 11

a. Pengertian ... 11

b. Kelebihan ... 12

c. Kelemahan ... 13

d. Faktor-faktor ... 14

4. Kinerja Manajerial ... 15

a. Pengertian ... 15

b. Tahap Penilaian Kinerja ... 16

c. Indikator ... 16

d. Manfaat Penilaian Kinerja ... 18

B. Tinjauan Empiris ... 18

C. Kerangka Konsep ... 21

D. Hipotesis ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 27

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 27

C. Populasi dan Sampel ... 27

D. Definisi Operasional Variabel ... 28

E. Teknik Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Analisis ... 31

(14)

xiv BAB IV PEMBAHASAN

A. Sejarah Perusahaan ... 37

B. Struktur Organisasi ... 42

C. Hasil Penelitian ... 44

D. Pembahasan ... 58

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Peneliti Terdahulu ... 18

Tabel 3.1 Tabulasi Skala Likert ... 32

Tabel 3.2 Klasifikasi Deskripsi Presentase ... 33

Tabel 4.1 Hasil Uji Deskriptif ... 44

Tabel 4.2 Hasil Uji Deskriptif SAM ... 45

Tabel 4.3 Hasil Uji Deskriptif Desentralisasi ... 47

Tabel 4.4 Hasil Uji Deskriptif Kinerja Manajerial ... 49

Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas Variabel SAM ... 51

Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Variabel Desesntralisasi ... 52

Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja Manajerial ... 53

Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas ... 54

Tabel 4.9 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 55

Tabel 4.10 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 55

Tabel 4.11 Hasil Uji t ... 57

Tabel 4.12 Hasil Uji F ... 58

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 ... 22 Gambar 4.1 ... 42 Gambar 4.2 ... 43

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Di era sekarang ini, revolusi teknologi telah melanda seluruh aspek kehidupan manusia. Apalagi dalam dunia bisnis, revolusi teknologi telah menyebabkan persaingan Sumber Daya Manusia (SDM), pemasaran dan pengolahan mengalami perubahan yang luar biasa. Akibatnya, terjadi persaingan global dan semakin ketat dalam dunia bisnis. Dalam era yang sangat erat kaitannya dengan persaingan keberhasilan organisasi perusahaan bergantung pada kesiapan perusahaan itu sendiri dalam menghadapi tantangan dan ancaman yang dihadapinya, yaitu memahami informasi manajemen perusahaan atau organisasi. Lingkungan ekonomi saat ini sedang mengalami perubahan pesat yang ditandai dengan gejala-gejala seperti globalisasi dan pasar bebas yang bertambah meningkat.

Peralihan dalam kebutuhan konsumen dan investor serta meningkatnya persaingan pasar bisa menjadi komponen utama dari sebagian besar bisnis.

Perusahaan harus dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Untuk dapat bersaing, perusahaan harus mampu meningkatkan kinerjanya dan perusahaan juga harus memiliki manajer yang unggul dan tangguh agar bisa mengidentifikasi masalah serta memilih dan melaksanakan proses penyesuaian dengan tepat. Manajer yang tepat dapat bertahan dan mengendalikan organisasi sampai tujuan yang diinginkan perusahaan bisa tercapai. Konsistensi antara tujuan yang ingin dicapai organisasi dan tujuan tersebut membutuhkan kinerja manajemen atau kinerja manajerial.

(18)

Kinerja manajerial berfungsi untuk mengetahui dan menginformasikan aspek-aspek tertentu dan kondisi dalam menentukan tingkat pencapaian pimpinan yang sedang berjalan. Efektivitas manajemen dalam suatu organisasi merupakan salah satu tanggapan terhadap berhasil tidaknya suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Untuk meningkatkan efisiensi kegiatan manajemen harus ada penyesuaian antara tingkat desentralisasi dan sistem informasi akuntansi manajemen. Dalam hal konsistensi atau penyesuaian ini berarti bahwa jika perusahaan mempunyai tingkat desentralisasi yang lebih tinggi maka harus diselaraskan dengan karakteristik yang lebih dipercaya untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Hal ini diperkuat oleh (Qibtiyah dan Ananda, 2018) yang menyebutkan bahwa desentralisasi terjadi saat sejauh mana manajer tingkat atas mendelegasikan kebebasan pengambilan keputusan kepada manajer tingkat bawah sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kinerja manajerial.

Keadaan struktur organisasi yang terdesentralisasi, membuat manajer dapat memainkan peran yang semakin besar dalam pengambilan keputusan dan implementasi, serta dapat membuat manajer bertanggung jawab atas pekerjaan cabang dibawah kepemimpinannya. Dengan adanya desentralisasi maka akan membuat manajer yang mendapat pelimpahan wewenang dari manajer atas, membutuhkan informasi yang berkualitas dan relevan dalam menunjang keputusan yang bermutu. Oleh sebab itu, para manajer memerlukan sistem akuntansi manajemen yang andal untuk dapat menyediakan kebutuhan informasi yang diantisipasi secara tepat waktu dan relevan dalam pembuatan kebijakan untuk mencapai tujuan yang telah diinginkan. Menurut (Damayanti, 2015) bahwa sistem akuntansi manajemen

(19)

dapat menghasilkan informasi yang produktif dalam membantu karyawan, pimpinan, manajer, dan pelaksana dalam membuat keputusan yang lebih baik.

Atasan atau manajer perusahaan biasanya tidak fokus pada tujuan organisasi dengan cara sebaik mungkin, selain apabila kondisi perusahaan tersebut sudah semakin menurun. Manajer juga biasanya tidak menyadari bagaimana kinerja perusahaan, yang dapat menyebabkan perusahaan menemui krisis yang serius. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah strategis dalam memprediksi penurunan kinerja. Salah satu hal yang dibutuhkan yaitu menciptakan arah yang jelas dan sistem informasi yang sangat terintegritas. Informasi suatu perusahaan dalam dunia bisnis mempunyai tujuan utama. Informasi tersebut sangat berguna untuk kegiatan perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan perusahaan.

Informasi akuntansi manajemen sebagai sub sistem pengendalian tersebut selalu ada didalam suatu organisasi. Perusahaan perlu merancang sistem akuntansi manajemen untuk membantu organisasi yang terlibat melalui para manajernya, yaitu dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengambilan keputusan untuk kegiatan mereka sendiri, para manejer perlu menjadi sarana komunikasi untuk mendapatkan dukungan informasi.

Sistem Akuntansi Manajemen (SAM) memiliki sistem formal yang dirancang untuk memberikan informasi kepada para manajer dan juga merupakan bagian dari sistem pengendalian organisasi yang memerlukan perhatian khusus, agar dapat memberikan sumbangan positif dalam mendukung kesuksesan sistem pengendalian manajemen. Sistem Akuntansi Manajemen (SAM) dapat mendukung manajer dalam mengendalikan

(20)

kegiatan, yang diharapkan bisa membantu perusahaan dalam memenuhi tujuannya.

Beberapa peneliti membahas hal yang sama sebelumnya. (Habibie, 2018) memberikan kesimpulan bahwa, Sistem Akuntansi Manajemen mempengaruhi kinerja manajemen, desentralisasi mempengaruhi kinerja manajerial, Sistem Akuntansi Manajemen (SAM) dan desentralisasi mempengaruhi kinerja manajemen. (Nuramal, 2017) memberikan kesimpulan bahwa karakteristik sistem akuntansi manajemen berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial, desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. (Irawati & Ardianshah, 2018) memberikan kesimpulan bahwa sistem akuntansi manajemen berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajeman namun setelah dimoderasi secara hierarki interaksi antara karaketristik sistem informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja aktivitas manajemen tidak berpengaruh signifikan. Perbedaan dari penelitian ini dengan peneliti sebelumnya adalah terletak pada objek penelitian. Penelitian kali ini mengambil objek penelitian pada perusahaan Persero/BUMN yaitu PT.

Pertamina yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang industri minyak dan gas bumi dan PT Perkebunan Nusantara XIV yang merupakan anak perusahaan dari Badan Usaha Milik Negara PT Perkebunan Nusantara III yang bergerak dibidang pengelolaan sektor hutan tanaman.

Perusahaan ini merupakan organisasi yang berkembang pesat, baik kegiatan operasionalnya maupun jaringan usahanya cenderung menggunakan strategi unit bisnis dalam memecahkan kerumitan operasionalnya. PT. Pertamina (Persero) dan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) sebagai Badan Usaha Miliki Negara (BUMN) yang berpengaruh

(21)

terhadap kehidupan banyak orang masih menghadapi masalah klasik yang belum terpecahkan. Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) perusahaan. Faktor internal yang memiliki pengaruh terbesar dalam perusahaan dan berpengaruh signifikan terhadap permasalahan perusahaan yaitu kinerja manajemen perusahaan itu sendiri. Kinerja Manajerial begitu penting untuk operasional suatu organisasi karena kinerja manajerial meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan yang baik. Sehingga perusahaan secara keseluruhan juga bisa dikatakan baik.

Mengingat pentingnya desentralisasi dan sistem akuntansi manajemen dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan maka penelitian ini diberi judul tentang “Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial pada BUMN (Studi Kasus pada PT.Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV Kota Makassar)”.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah sistem akuntansi manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada PT Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV?

2. Apakah desentralisasi berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada PT.

Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV?

3. Apakah sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi secara bersama- sama berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada PT. Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV?

(22)

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial pada PT Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV.

2. Untuk mengetahui pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial pada PT Pertamina dan PT. Perkebunan Nusantara XIV.

3. Untuk mengetahui pengaruh sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial pada PT. Pertamina dan PT.

Perkebunan Nusantara XIV.

D. Manfaat penelitian 1. Manfaat teoritis

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan bagi kepustakaan khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

2) Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi para akademisi dalam pengembangan penelitian selanjutnya, serta dapat dijadikan sebagai referensi khususnya dibidang akuntansi.

3) Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai pengaruh sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial.

2. Manfaat praktis

1) Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan wawasan bagi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis.

2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran terhadap pengaruh sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial.

(23)

3) Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi pihak yang berkepentingan dalam perusahaan.

3. Manfaat dari segi kebijakan

Hasil penelitian ini memberikan arahan kebijakan untuk pengembangan sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi bagi para pimpinan dan manajer terhadap kinerja manajerial yang baik dan efektif untuk diterapkan dalam perusahaan.

(24)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori 1. Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan teori kontingensi sebagai landasan teori.

Teori kontingensi merupakan teori kesesuaian pemimpin dimana dapat diartikan bahwa menyesuaikan pemimpin menggunakan kondisi yang tepat. Filosofi pola pikir teori kontingensi didasarkan bahwa pada setiap organisasi mempunyai karakteristik masing-masing dan juga mengahadapi masalah yang berbeda. Oleh sebab itu, pendekatan ini memiliki sudut pandang bahwa situasi yang berbeda harus dihadapi menggunakan perilaku yang berbeda pula dan setiap organisasi harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tersendiri.

Pendekatan kontingensi berdasarkan sistem akuntansi manajemen berdasarkan dalam suatu premis bahwa tidak terdapat sistem akuntansi manajemen secara universal selalu tepat untuk diterapkan dalam semua organisasi dan setiap keadaan. Tetapi sistem akuntansi manajemen juga dalam faktor situasional yang terdapat dalam organisasi. Dengan berdasarkan teori ini, sistem pengukuran kinerja dan proses sosialisasi perlu untuk digeneralisasikan dengan mempertimbangkan faktor organisasi dan situasional seperti perilaku individu yaitu kerja sama dan saling bergantung sehingga dapat diterapkan secara efektif pada perusahaan.

(25)

2. Sistem Akuntansi Manajemen

a. Pengertian Sistem Akuntansi Manajemen

Menurut (Natasha, 2017) Sistem Akuntansi Manajemen merupakan suatu sistem yang dipakai oleh sebuah organisasi dalam mengendalikan dan menyampaikan informasi yang berhubungan dengan perusahaan dan membantu semua pihak dalam perusahaan ketika mengambil keputusan dimasa yang akan datang.

(Salman dan Farid, 2016) mendefinisikan “Sistem akuntansi manajemen adalah sistem informasi yang menggunakan input dan berbagai proses yang diperlukan dalam mencapai tujuan manajemen tertentu untuk menghasilkan output”. Berdasarkan pemahaman para ahli diatas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi akuntansi manajemen merupakan sistem yang digunakan oleh organisasi untuk mengelola dan mengkomunikasikan informasi terkait perusahaan, dan dapat berguna bagi semua pihak dalam perusahaan untuk mengambil keputusan di masa yang akan datang.

b. Tujuan Sistem Akuntansi Manajemen

Ada tiga tujuan umum sistem akuntansi manajemen menurut Don R.

Hansen yang dikutip dari (Kholmi, 2019) sebagai berikut:

1) Memberikan informasi yang diperlukan untuk menghitung layanan komoditas, biaya produk, dan tujuan lain yang diharapkan oleh manajemen

2) Memberikan informasi yang diperlukan untuk perencanaan, pengendalian, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan

3) Memberikan informasi untuk pengambilan keputusan

(26)

c. Karakteristik sistem akuntansi manajemen

Menurut pandangan Chenhall dan Morris yang dikutip oleh (Herdiansyah, 2012) memberikan definisi karakteristik informasi sistem akuntansi manajemen adalah sebagai berikut:

1) Karakteristik Broad Scope

Didalam sistem informasi, broad scope mengacu pada dimensi fokus, kuantifikasi, dan horizon waktu. Sistem Akuntansi Manajemen (SAM) tradisional memberikan informasi yang terfokus pada kejadian- kejadian dalam perusahaan yang dikuantifikasi dalam ukuran moneter dan yang berhubungan dengan data histori.

2) Karakteristik Timeliness

Kemampuan para manajer untuk bereaksi secara cepat terhadap suatu peristiwa kemampuan dipengaruhi oleh kecepatan sistem akuntansi manajemen. Informasi yang tepat waktu meningkatkan kemampuan SAM untuk melaporkan kejadian terkini dan memberikan umpan balik tentang keputusan yang tepat waktu.

Oleh karena itu timeliness mencakup frekuensi ketepatan dan kecepatan pelaporan.

3) Karakteristik Aggregation

Sistem akuntansi manajemen membagikan informasi dalam berbagai bentuk aggregat yang berkisar dari menyediakan bahan dasar, data yang belum diproses hingga berbagai aggregate berdasarkan periode waktu atau sektor tertentu seperti pusat pertanggungjawaban atau fungsional lain.

(27)

4) Karakteristik Integration

Aspek penting dari pengendalian suatu organisasi adalah koordinasi bagian-bagian yang berbeda dari setiap segmen dalam sub-sub organisasi. Karakteristik SAM yang mendukung koordinasi mencakup spesifikasi target yang menunjukkan dampak interaksi segmentasi dan informasi tentang pengaruh keputusan terhadap kinerja semua subunit operasi.

3. Desentralisasi

a. Pengertian Desentralisasi

Menurut (Handayani dan Melasari, 2018) Desentralisasi adalah pendelegasian otoritas atau wewenang dan tanggung jawab terhadap manajer. Derajat desentralisasi itu sendiri ditujukan sejauh mana manajer tingkat atas membolehkan manajer tingkat bawah dalam merumuskan kebijakan dengan cara mandiri. Pada dasarnya, desentralisasi memindahkan titik pengambilan keputusan kepada manajerial yang paling rendah untuk setiap keputusan yang perlu dibuat.

Derajat desentralisasi tergantung pada tingkat kekuasaan pengambilan keputusan yang telah didelegasikan oleh manajemen puncak kepada lapisan manajemen di bawahnya. Pada organisasi yang terdesentralisasi, tanggung jawab atas suatu perencanaan dan pengendalian kegiatan operasional didelegasikan diantara para manajeman. Para manajer ini memiliki kekuatan dalam membuat keputusan tanpa perlu meminta persetujuan dari manajer tingkat atas.

(28)

b. Kelebihan Desentralisasi

Saat menjalankan fungsi organisasi, setiap metode memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. Menurut Garisson dan Norren dalam (Islam, 2020), keuntungan menggunakan metode desentralisasi antara lain:

1) Kedekatan dengan pihak sasaran

Pendekatan terdesentralisasi memungkinkan organisasi untuk lebih dekat dengan pihak sasaran. Untuk organisasi komersial, apabila pendekatan desentralisasi dilaksanakan, maka sebuah organisasi yang menjalankan perusahaan didaerah tersebut akan lebih mudah mengenali target pasar dibandingkan dengan, misalkan, pihak pusat yang berlokasi di tempat yang lain. Kedekatan dengan sisi target akan lebih memudahkan organisasi untuk memenuhi kebutuhan dari pihak sasaran.

2) Pengetahuan lokal atau lapangan

Desentralisasi menunjukkan bahwa adanya cara dalam pengorganisasian yang dapat diketahui didasarkan pada basis pengetahuan lokal atau lapangan secara lebih baik. Dapat kita bayangkan apabila sebuah perusahaan yang mempunyai sepuluh cabang di kota yang berbeda menggunakan pendekatan yang sama untuk kesepuluh cabang tersebut, mungkin ada beberapa hal yang mengalami ketidaksesuaian dengan area tertentu, karena umumnya pendekatan yang sama bagi berbagai tempat lebih bersifat umum dan belum tentu mematuhi apa yang diperlukan di pasar sasaran atau di lapangan.

(29)

3) Penerimaan dari pihak sasaran

Jika desentralisasi dilakukan maka perusahaan, misalnya dapat dilakukan pendekatan berdasarkan daerah dimana pasar sasaran ditujukan. Bagi masyarakat Sumatra mungkin membutuhkan pendekatan budaya Sumatra. Demikian juga dengan daerah sasaran yang lain. Pendekatan ini akan membantu organisasi agar lebih bisa diterima oleh pihak sasaran atau target pasar.

4) Keputusan yang lebih fleksibel

Sebagai hasil konsekuensi logis dari desentralisasi, maka keputusan yang diambil oleh perusahaan akan lebih fleksibel karena sangat disesuaikan dengan kondisi lokal dimana organisasi tersebut berada.

c. Kelemahan desentralisasi

Desentralisasi juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:

1) Memungkinkan manajemen pada tingkat yang lebih rendah agar membantu keputusan tanpa harus sepenuhnya memahami, sedangkan manajer tingkat puncak terkadang mempunyai informasi yang terperinci tentang operasi dari para manajer pada tingkat yang lebih rendah.

2) Organisasi yang benar terdesentralisasi, memungkinkan suatu kekurangan koordinasi di antara manajemen yang mempunyai otonomi. Masalah ini bisa dihindari dengan cara mendefinisikan strategi perusahaan secara jelas dan diterapkan secara efektif keseluruh perusahaan.

(30)

3) Manajeman pada tingkat yang lebih rendah mungkin mempunyai tujuan yang berbeda dari tujuan perusahaan secara menyeluruh.

4) Manajemen yang terdesentralisasi, mungin akan sulit untuk secara efektif menyebarkan inspirasi yang inovatif. Seseorang disatu bagian organisasi mungkin memiliki suatu inspirasi yang luar biasa yang akan memberikan manfaat untuk bagian lain dari organisasi, namun tanpa adanya arahan dari pusat, tanggapan tersebut mungkin tidak di bagi bersama dan digunakan oleh bagian lain dari perusahaan.

d. Faktor yang menjadi pertimbangan desentralisasi

Adapun penentuan pertimbangan dalam menentukan pendekatan desentralisasi menurut Hansen dan Mowen dalam (Islam, 2020) yaitu terdiri dari:

1) Biaya dan resiko yang terkait dengan keputusan desentralisasi

Terkadang desentralisasi akan membawa hasil yang baik dan lebih cepat, tetapi ketika desentralisasi ini akan menyebabkan organisasi menanggung biaya dan resiko yang lebih besar, maka tidak dapat dilaksanakan, terutama untuk perusahaan bisnis yang meninjau biaya dan resiko.

2) Kecenderungan manajer dalam memandang bawahan

Desentralisasi hanya mungkin jika pimpinan mempercayai bahwa bawahannya mempunyai kemampuan untuk melakukan tugas yang akan didelegasikan. Kepercayaan manajer kepada bawahan akan sangat berpengaruh apakah akan melakukan desentralisasi.

(31)

3) Budaya organisasi

Budaya organisasi yang dibangun oleh perusahaan akan sangat menentukan apakah perusahaan siap untuk desentralisasi, atau sebaliknya apakah digunakan dalam membuat keputusan demokratis atau bottom up, lalu perusahaan memastikan sebagian besar pengembangan karyawan dari hierarki tertinggi sehingga desentralisasi terendah mungkin bukan piihan yang sulit.

4. Kinerja Manajerial

a. Pengertian kinerja manajerial

Kinerja adalah fungsi dari motivasi dan keterampilan dalam menyelesaikan suatu tugas seseorang yang harus mempunyai kemauan serta skill-skill tertentu. Kemauan seseorang tidak cukup efektif dalam mengerjakan sesuatu tanpa adanya pemahaman yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengerjakannya.

Secara umum, seorang manajer merupakan anggota organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mengintegrasikan, mengawasi dan mengkoordinasikan pekerjaan yang dilakukan oleh anggota organisasi yang lain.

Menurut Apriansyah dkk dalam (Rahayu, 2018) kinerja manajerial adalah proses menjalankan fungsi manajemen dimana dalam proses ini bawahan dan atasan saling berinteraksi dalam merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan kinerja karyawan. Kinerja manajerial merupakan faktor penting suatu organisasi karena peningkatan kinerja manajemen dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Damayanti, 2015). Sedangkan menurut (Pratama, 2021)

(32)

kinerja manajerial adalah hasil dari penilaian atas efektivitas kegiatan kepemimpinan yang dilakukan oleh manajer lini, rekan kerja, diri sendiri dan bawahan didalam organisasi.

b. Tahap Penilaian Kinerja

Tahapan evaluasi kinerja menurut (Mulyadi, 2015) terdiri dari 3 tahapan:

1) Perbandingan kinerja aktual dengan tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.

2) Menentukan alasan mengapa kinerja aktual menyimpang dari yang ditentukan dalam standar.

3) Menegakkan perilaku dan tindakan yang diinginkan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan.

c. Indikator kinerja manajerial

Kinerja manajerial merupakan sejauh mana manajer dapat melaksanakan fungsi manajemen, kinerja manajerial ini diukur dengan menggunakan indikator Mahoney dalam (Suryani, 2016).

1) Perencanaan adalah pengertian dari suatu kebijakan dan serangkaian tindakan yang harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi saat ini dengan waktu yang akan datang.

Perencanaan ini bertujuan untuk memberikan arahan dan tata cara pelaksanaan tujuan, kearifan, prosedur, anggaran dan rencana kerja agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2) Investigasi adalah pelaksanaan pemeriksaan dengan mengumpulkan dan menyebarkan informasi sebagai catatan dan pembuatan laporan,

(33)

sehingga dapat memudahkan pelaksanaan hasil pengukuran dan analisis terhadap pekerjaan yang dilakukan.

3) Koordinasi menyelaraskan tindakan yang meliputi penukaran informasi dengan departemen organisasi lain, sehingga dapat menghubungkan dan mengkoordinasikan program yang akan dicanangkan.

4) Evaluasi adalah penilaian yang dilakukan oleh seorang manajer terhadap suatu rencana yang sudah disusun dan ditunjukkan untuk mengevaluasi karyawan dan catatan hasil kerja sehingga dari hasil penilaian itu bisa diambil keputusan yang diperlukan.

5) Supervise, yaitu penilaian atas suatu usulan kinerja yang diamati serta dilaporkan.

6) Staffing yaitu pemeliharaan dan mempertahankan bawahan dalam suatu unit kerja, menyeleksi pekerjaan baru, menempatkan dan mempromosikan pekerjaan tersebut dalam unitnya atau unit kerja yang berbeda.

7) Negosiasi, adalah suatu upaya untuk mencapai kesepakatan tentang pembelian, penjualan atau kontrak barang dan jasa.

8) Represents, yaitu memberikan informasi tentang visi, misi dan kegiatan perusahaan dengan menghadiri pertemuan kelompok bisnis dan berkonsultasi dengan kantor lain. Menurut Indrianto dalam (Suryani, 2016), kinerja dianggap efektif ketika target anggaran tercapai dan bawahan mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan anggaran serta memotivasi bawahan, mengidentifikasi dan melakukan negosiasi dengan atasan mengenai

(34)

target anggaran, menerima kesempatan anggaran dan melaksanakannya sehingga akan dihindarkan dari dampak negatif anggaran yaitu faktor kriteria sistem penganggaran reward dan konflik.

d. Manfaat penilaian kinerja manajerial

Menurut Mulyadi dalam (Habibie, 2018), manfaat evaluasi kinerja adalah:

1) Memaksimalkan semangat karyawan dengan mengelola operasional organisasi secara efektif dan efisien.

2) Membantu membuat keputusan yang berkaitan dengan karyawan.

3) Menentukan persyaratan kebutuhan pelatihan dan pengembangan untuk memberikan dasar bagi pemilihan dan evaluasi rencana pelatihan karyawan.

4) Melakukan umpan balik kepada karyawan tentang bagaimana atasan mereka mengevaluasi kinerjanya.

5) Memberikan dasar bagi distribusi penghargaan.

B. Tinjauan Empiris

Penelitian mengenai Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial sudah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Penelitian terdahulu tersebut diantaranya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

NO. Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1.

Selfi Dwi Septiani (2018)

Pengaruh

Desentralisasi dan Penggunaan Sistem

Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Desentralisai (X1)

(35)

Akuntansi

Manajemen (SAM) terhadap Kinerja Manajerial pada PT.

Mifan Utama Mandiri

terhadap Kinerja Manajerial (Y) yang berarti semakin meningkat

desentralisasi maka kinerja manajerial akan menurun.

2. Muhammad Habibie (2018)

Pengaruh sistem Akuntansi

Manajemen Dan Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial Pada PT Marajasa Kabupaten Aceh

1. Sistem akuntansi manajemen

mempengaruhi kinerja manajerial

2. Desentralisasi mempengaruhi kinerja manajerial

3. Sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi

mempengaruhi kinerja manajerial.

3. HestinYusnita

Cahyaningrum dan Sri Suprapti (2016)

Pengaruh Karakteristik

Informasi Akuntansi dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial (Studi pada Palang Merah Indonesia Provinsi Jawa Tengah)

Karakteristik informasi akuntansi yang

bersifat relevant berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial pada Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Tengah 4. Fitri Dwinarian, SE1

Dr.M.Si2 Mariolin Sanggenafa,SE,.M.SA2 (2017)

Pengaruh

Desentralisasi Dan Sistem Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial (Studi Kasus Di Perbankan Kota Jayapura Dan Kabupaten Jayapura)

1. Desentralisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

2. Sistem akuntansi manajemen

berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

3. Desentralisasi dan sistem akuntansi

(36)

manajemen

berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap kinerja manajerial 5. Ranti melasari, Fitri

Handayani (2018)

Pengaruh

Desentralisasi Dan Sistem Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Pada PT Sinar Mas Kempas Jaya

1.Tidak ada pengaruh antara sistem

akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial

2.Tidak ada pengaruh antara sistem

akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial dengan strategi bisnis sebagai variabel moderasi.

6. Ulfiah Mukaromah (2018)

Pengaruh Partisipasi Anggaran,

Desentralisasi, Akuntabilitas Publik terhadap Kinerja Manajerial SKPD Dengan Pengawasan Internal Sebagai Variabel Moderasi

Desentralisasi tidak berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial SKPD dengan pengawasan internal.

7. Mariyatul Qibtiyah (2018)

Pengaruh

Desentralisasi dan Sistem Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial pada Politeknik Kesehatan Siteba

1. Desentralisasi dan Sistem Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial pada Politeknik Kesehatan Siteba.

2. Sistem akuntansi manajemen

berpengaruh negatif terhadap kinerja manajerial di Poltekes Siteba

8. Angina Sonia Natasha (2017)

Pengaruh

Desentralisasi Dan

Desentralisasi Berpengaruh

(37)

Ketidakpastian Lingkungan Dan Terhadap Kualitas Sistem Akuntansi Manajemen (studi pada PT

Indoneptune Net Manufacturing

Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dan Ketidakpastian Lingkungan

berpengaruh terhadap kualitas Sistem

Informasi Akuntansi Manajemen.

9. Irma Wulandari (2017) Pengaruh

Desentralisasi Dan Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen

Terhadap Kinerja Manajerial Studi Pada Balai Besar PULP Dan Kertas

Desentralisasi

mempengaruhi kinerja manajerial dan

karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen

mempengaruhi kinerja manajerial

10. Nirmala (2020) Pengaruh

Desentralisasi Dan System Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Pt Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Cabang Enrekang

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel desentralisasi dan sistem akuntansi manajemen

berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial Pt bank rakyat Indonesia (persero) Tbk. Cabang Enrekang

C. Kerangka Konsep

Kerangka berfikir adalah model konseptual yang menunjukkan bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai isu penting (Sugiyono, 2017).

(38)

Berdasarkan landasan teori tersebut maka dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir D. Hipotesis

“Menurut Cresswel, hipotesis adalah pernyataan dalam penelitian kuantitatif yang mana peneliti membuat prediksi atau dugaan tentang hasil hubungan antara atribut atau karakteristik (Echdar, 2017).“

1. Sistem Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial

Informasi keuangan yang dihasilkan sistem akuntansi manajemen membantu para pekerja, manajer dan eksekutif organisasi untuk membuat keputusan yang benar dan pada akhirnya meningkatkan kinerja manajerial pada organisasi tersebut. Perusahaan merancang sistem akuntansi manajemen dan membantu organisasi dalam perencanaan, pengorganisasian, bimbingan atau arahan dan pengambilan keputusan melalui personel manajemen. Manajer membutuhkan dukungan informasi untuk menjalankan aktivitasnya. Seberapa banyak informasi yang

Kinerja Manajerial (Y) Sistem Akuntansi

Manajemen (X1)

Desentralisasi (X2)

(39)

dibutuhkan manajer tergantung pada variabel lingkungan dari tugas yang dihadapi.

Sistem akuntansi manajemen berdampak positif terhadap kinerja manajerial. Karena dengan adanya sistem akuntansi manajemen yang canggih akan mengedepankan komitmen manajemen pada semua tingkatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Putri, 2020).

Sedangkan (Sari, 2016) mengungkapkan bahwa jika manajer menggunakan informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen , itu akan mengarah pada peningkatan pekerjaan dan kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin handal sistem akuntansi manajemen maka semakin tinggi kinerja manajerial. Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1: Adanya pengaruh positif dan signifikan sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial

2. Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial

Desentralisasi adalah pendelegasian kekuasaan dan tanggung jawab kepada manajer tingkat bawah. Tingkat otorisasi atau pendelegasian menunjukkan sejauh mana manajemen atas memungkinkan manajemen yang lebih rendah untuk secara mandiri merumuskan kebijakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi. Dimana, jika tidak dilimpahkan akan menghambat proses pencapaian tersebut. Dalam sebuah perusahaan yang terdesentralisasi, tanggung jawab untuk merencanakan dan mengendalikan kegiatan operasional didelegasikan kepada manajer. Para manajer memiliki kekuatan dalam membuat keputusan tanpa perlu

(40)

meminta persetujuan dari manajemen yang lebih tinggi. Manajer diberikan hak untuk mengambil keputusan oleh superior (atasannya) serta dapat mengimplementasikannya. Namun, disisi lain manajer juga bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah ditetapkan.

(Febrianti dan Fitri, 2019) mengatakan bahwa desentralisasi berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Dimana sifat independen manajer dapat mempengaruhi kebebasan manajer untuk berfikir dan bertindak dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Dengan semakin kompleksnya kondisi administrasi, maka perusahaan perlu melakukan desentralisasi. (Damayanti, 2015) dan (Senduk dan Tirayoh, 2017) telah melakukan penelitian sebelumnya dan menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara desentralisasi dan kinerja manajerial. Dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa sangat penting bagi manajer tingkat yang lebih tinggi untuk mendelegasikan kekuasaan kepada manajer tingkat yang lebih rendah, sehingga manajer tingkat bawah dapat merespon dengan cepat dan tepat terhadap kondisi ekonomi dan budaya lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, desentralisasi dapat meningkatkan efektivitas kinerja manajerial.

H2: Adanya pengaruh positif dan signifikan desentralisasi terhadap kinerja manajerial

3. Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi terhadap Kinerja Manajerial

Sistem informasi akuntansi manajemen adalah suatu pengawasan (pengontrolan) organisasi, yang dapat mempromosikan pengawasan

(41)

dengan melaporkan evaluasi kinerja setiap komponen organisasi dan merumuskan tindakan tertentu.

Desentralisasi merupakan pelimpahan wewenang serta tanggung jawab kepada pimpinan. Struktur desentralisasi memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada para manajer tingkat bawah. Desentralisasi tidak hanya berarti pelimpahan wewenang dari manajer tingkat atas ke manajer tingkat bawah tetapi juga pelimpahan beberapa wewenang manajer ke pihak swasta dalam bentuk privatisasi.

Kinerja manajemen adalah persepsi kinerja pribadi anggota organisasi dalam kegiatan manajemen. Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya sangat tergantung pada kinerja para manajernya. Ketika organisasi secara keseluruhan, atau para manajer departemen bisnis dapat menjalankan tugasnya dengan baik bersama- sama, maka organisasi mampu mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

(Putu Eka Damayanti (2015). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang positif Sistem akuntansi Manajemen terhadap peningkatan kinerja manajerial pada suatu perusahaan. Pengaruh ini terjadi karena dengan adanya Sistem Akuntansi Manajemen, manajer yang terdesentralisasi dapat memberikan keputusan yang tepat karena mereka yang lebih paham mengenai kondisi di lapangan sehingga lebih akurat dalam penentuannya. Dan manajer tau langkah apa yang akan diambil untuk kedepannya agar dapat meningkatkan kualitas kinerja manajerial dengan memanfaatkan informasi yang ada untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.

(42)

Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H3: Adanya pengaruh positif serta signifikan sistem akuntansi manajemen dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial

(43)

27 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Asosiatif atau kausal adalah masalah tentang hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat (cause-effect relationship, causal-effectual relationship) antara satu atau lebih variabel dan satu atau lebih variabel lain atau sebaliknya, hubungan tersebut menunjukkan ada variabel sebab dan ada variabel akibat (Kusumastuti et al., 2020).

Pada penelitian ini terdapat dua variabel independent yaitu Sistem Akuntansi Manajemen dan Desentralisasi. Sedangkan variabel dependennya yaitu Kinerja Manajerial.

B. Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT. Pertamina (PERSERO) yang terletak di Sulawesi Selatan kota Makassar, Jl. Garuda No.1 dan PT. Perkebunan Nusantara XIV berlokasi di Jl. Urip Sumoharjo 72-76, Makassar. Telah dilaksanakan selama tiga bulan pada bulan September sampai dengan November 2021.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan suatu wilayah atau tempat objek penelitian baik itu orang, benda, peristiwa, nilai atau hal lain dengan jumlah dan ciri tertentu untuk memperoleh informasi. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, populasi yang menjadi objek penelitian adalah PT. Pertamina (Persero)

(44)

dan PT. Perkebunan Nusantara XIV. Populasi penelitian ini terdiri atas seluruh jajaran manajer, pimpinan, dan kepala bidang PT. Pertamina (Persero) dan PT. Perkebunan Nusantara XIV. Jumlah populasi penelitian ini sebanyak 60 orang.

2. Sampel

Sugiyono berpendapat bahwa, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya (Fatihudin, 2020).

Penentuan sampel yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling yang akan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap elemen (anggota) dalam populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Jenis probability sampling adalah sampel jenuh atau dengan istilah lain dari sampel jenuh yaitu sensus, dimana jumlah sampel sama dengan total populasi, karena populasinya masih sedikit.

Teknik ini juga digunakan untuk kelompok dengan anggota yang tidak merata dan berstrata secara proporsional. Sampel pada penelitian ini yaitu seluruh jajaran manajer, dan atau kepala bidang dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden.

D. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Bebas (X)

Ada dua variabel bebas atau variabel independent dalam penelitian ini, yaitu:

(45)

a. Variabel X1 Sistem Akuntansi Manajemen merupakan proses mengidentifikasi, mengukur, mengumpulkan, menganalisis, menyiapkan, menjelaskan dan mengkomunikasikan informasi yang membantu manajer dalam mencapai tujuan organisasi (Hertati, 2015). Sistem Akuntansi manajemen yang baik dalam suatu perusahaan akan mempengaruhi kualitas proses manajemen. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat keandalan informasi akuntansi manajemen dibagi menjadi empat, yaitu:

1) Broad Scope

Broad scope memiliki tiga dimensi, yaitu: Fokus berkaitan dengan informasi yang berasal dari dalam atau luar organisasi. Kuantifikasi berkaitan dengan informasi keuangan dan non keuangan, dan waktu berkaitan dengan estimasi peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

2) Timelines

Timeliness merupakan informasi yang tepat waktu. Informasi yang tepat waktu akan mempengaruhi kemampuan manajer dalam merespon segala kejadian dan permasalahan.

3) Aggregation

Aggregation merupakan rangkuman informasi menurut fungsi, periode waktu, dan model keputusan.

4) Integration

Integration merupakan informasi integrasi yang berperan sebagai koordinator dalam mengendalikan pengambilan keputusan yang

(46)

bermacam-macam juga memberikan sarana koordinasi antar segmen dalam subunit organisasi.

b. Variabel X2 Desentralisasi adalah pendelegasian kekuasaan dan tanggung jawab kepada manajer. Tingkat pendelegasian itu sendiri menunjukkan sejauh mana manajemen yang lebih tinggi memungkinkan manajemen yang lebih rendah untuk merumuskan kebijakan secara independent. Berikut adalah indikator desentralisasi, yaitu:

1) Wewenang untuk membuat keputusan keuangan 2) Wewenang untuk penempatan pegawai

3) Wewenang untuk pembelian dan pemeliharaan peralatan kantor 4) Wewenang untuk pengalokasian anggaran

5) Wewenang untuk pengembangan usaha 2. Variabel Terikat (Y)

Kinerja Manajerial (Y) merupakan kinerja pribadi anggota organisasi dalam kegiatan manajemen untuk mencapai tujuan organsasi. Kinerja manajemen mengukur sejauh mana manajer dapat menjalankan fungsi manajemen, termasuk perencanaan, bimbingan organisasi dan pengawasan. Kinerja manajemen adalah hasil siklus dari operasi manajerial berdasarkan standar dan pedoman target yang telah ditentukan sebelumnya.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian ini yaitu Metode Angket atau Kuesioner:

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menyebarkan kuesioner atau angket kepada para responden. Dengan tujuan untuk

(47)

mencari informasi lengkap tentang pertanyaan dari narasumber tanpa perlu khawatir jika jawaban yang diberikan narasumber pada saat pengisian daftar pertanyaan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Jenis kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yaitu kuesioner terstruktur yang dirancang untuk memberikan jawaban sehingga responden hanya memberikan tanda bahwa jawaban yang dipilih sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jawaban lain yang termasuk dalam penelitiaan ini adalah: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS)

F. Teknik Analisis 1. Uji Analisis Deskriptif

Analisis yang dilakukan meliputi diskusi deskriptif terkait tanggapan responden terhadap kuesioner. Statistik deskrptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau mendeskripsikan data yang dikumpulkan (tidak bermaksud membuat kesimpulan umum).

Menurut Sugiyono (2015: 170), analisis deskriptif dapat menganalisis data dengan mendeskripsikan data yang telah dikumpulkan, tanpa bermaksud menarik kesimpulan yang dapat diterapkan untuk umum. Tes analisis deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan secara kasar responden penelitian dan variabelnya.

Dengan pembobotan pernyataan kuesioner menurut skala likert maka kuisioner disebarkan kepada narasumber untuk mengukur sikap, opini dan persepsi. Skala likert menurut Sekaran dan Bougie biasanya dianggap

(48)

sebagai skala interval, artinya skala biasanya dianggap sebagai skala interval (Silalahi, 2015).

Indikator Desentralisasi, Sistem Akuntansi Manajemen, dan skor kinerja manajemen ditunjukkan pada tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.1 Tabulasi Skala Likert Bentuk Jawaban Simbol Skor Pernyataan

Positif (+)

Skor Pernyataan Negatif (-)

Sangat Setuju SS 5 1

Setuju S 4 2

Netral N 3 3

Tidak Setuju TS 2 4

Sangat Tidak Setuju STS 1 5

Sumber: Sugiyono (2016: 94)

Setelah menimbang masing-masing pernyataan tersebut kemudian menyajikan datanya dalam tabel yang dihitung dari presentase berdasarkan data yang diperoleh dari responden menurut Sugiyono (2015:117) sebagai berikut:

Keterangan:

Pr: Presentasi capaian Sc: Jumlah skor capaian Si: Jumlah skor ideal

Setelah menganalisis data dengan menggunakan rumus diatas, selanjutnya ditentukan klasifikasi deskripsi persentase Sugiyono (2015:

107) pada table 3.2, seperti gambar dibawah ini:

(49)

Tabel 3.2 Klasifikasi deskripsi presentase

Interval Presentase Klasifikasi

81% - 100% Sangat tinggi / sangat tepat/ sangat banyak 61% - 80% Tinggi/ tepat/ banyak

41% - 60% Cukup tinggi/ cukup tepat/ cukup banyak 21% - 40% Rendah/ tidak tepat/ tidak banyak

0% - 20% Sangat rendah/ sangat tidak tepat/ sangat sedikit Sumber: Sugiyono (2015:107)

2. Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui validitas semua data- data diperoleh dari kuesioner. Kuesioner dinyatakan valid jika pernyataan dikuesioner dapat mengungkapkan sesuatu ini akan diukur dengan kuesioner (Ghozali, 2016). Penelitian ini akan diuji dengan menggunakan prosedur pengolahan data, yakni mengaitkan skor setiap item dengan skor total, gunakan nomor tiap item, gunakan level untuk menguji 5% dari kondisi berikut:

a) r hitung > r tabel, maka pertanyaan atau indikator tersebut valid.

b) R hitung < r tabel, maka pertanyaan atau indikator tersebut tidak valid.

b. Uji Reabilitas

Uji reabilitas adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuesioner yang merupakan indikator variabel atau struktur (Ghozali, 2016: 47). Uji reabilitas telah dilakukan pada instrumen dengan koefisien cronbach’s alpha umar lebih besar dari 0,60, sehingga instrument yang

(50)

digunakan reliabel (Ghozali, 2016: 48). Untuk menguji keandalan eksekusi dengan bantuan program SPSS.

3. Uji Hiipotesis

a. Uji Regresi Linear Berganda

Pengujian hipotesis menggunakan analisis regesi linear berganda.

Selain mengukur hubungan intensitas dalam analisis regresi antara dua atau lebih variabel, arah hubungan antar variabel juga ditampilkan variabel terikat dengan variabel bebas. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen terhadap kinerja manajerial (H1), pengaruh desentralisasi terhadap kinerja manajerial (H2). Adapun langah-langkah analisis regresi linear berganda sebagai berikut:

Persamaan regresi linear berganda (Handayani & Melasari, 2018) Y = a + bX1 + bX2 + e

Keterangan:

Y : Kinerja Manajerial a : Konstan

b : Koefisien regresi X1 : Desentralisasi

X2 : Sistem Akuntansi Manajemen e : Error term

(51)

b. Uji T

Uji statistik F yang digunakan untuk menjelaskan koefisien variabel independen dapat menggunakan koefisien unstandardized dan koefisien standar (Ghozali, 2016: 99). Pada uji statstik nilai T hitung akan dibandingkan dengan T tabel sebagai berikut:

1) Jika T hitung > T tabel atau probabilitas < tingkat kepentingan (sig

<0.05), maka Ha diterima dan H0 ditolak dan variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat.

2) Jika T hitung < T tabel atau probabilitas > taraf signifikan (sig> 0.05), maka Ha ditolak H0 diterima, dan variabel independent berpengaruh terhadap variable dependen.

c. Uji F

Uji statistik F digunakan untuk menguji keberartian koefisien regresi linear berganda atau untuk menunjukkan apakah variabel bebas yang dimasukkan dalam model memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Pengujian dilakukan sebagai berikut (Dwinarian et al., 2017) :

1) Menentukan Hipotesis

Ho = βi = 0 (tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel dependen terhadap variabel independent).

Ha = β > 0 (secara Bersama-sama ada pengaruh signifikan antara variabel dependen terhadap variabel independent).

2) Jika nilai F hitung > F tabel, maka Ho ditolak pada derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain kita menerima hipotesis alternatif

(52)

(Ha) yang menyatakan bahwa semua variabel independent secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen.

3) Jika nilai F hitung < F tabel, maka Ho diterima pada derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain kita menolak hipotesis alternatif (Ha) yang artinya tidak ada pengaruh secara simultan antara variabel independent secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen.

(53)

37 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sejarah Perusahaan

1. PT. Pertamina (Persero) a. Sejarah

Tanggal 10 Desember 1957, nama perusahaan tersebut diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (disingkat PERMINA) Tanggal ini diperingati hingga hari ini sebagai hari lahir Pertamina. Pada tahun 1960 PT Permin berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina. Lalu, pada tanggal 20 agustus 1968 PN Permina bergabung dengan PN Pertamin menjadi PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina).

Selanjutnya UU No.8 tahun 1971 pemerintah telah mengatur peran pertamina dalam membuat dan mengolah migas dari lading minyak serta menyediakan kebutuhan material dengan bahan bakar gas dari Indonesia. Kemudian melalui UU No.22 tahun 2001 pemerintah mengubah posisi pertamina sehingga pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) dilakukan melalui kegiatan usaha.

Berdasarkan PP No.31 tahun 2003 tanggal 18 Juni 2003, perusahaan produksi minyak dan gas bumi Negara berubah nama menjadi PT Pertamina (Persero) yang melakukan kegiatan migas di bidang eksplorasi dan produksi. Pada tanggal 10 desember 2005, pertamina mengubah simbol kuda laut menjadi anak panah menggunakan warna dasar hijau, biru dan merah untuk mencerminkan elemen dinamis dan kepedulian lingkungan.

(54)

Tanggal 20 juli 2006, PT Pertamina (Persero) memulai transformasi fundamental bisnis perusahaan. Pada tanggal 10 desember 2007 PT. Pertamina (Persero) mengubah visi perusahaan yaitu “Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia”. Pada tanggal 19 juli 2012 melalui RUPSLB, pertamina meningkatkan modal ditempat/disetor dan memperluas operasi bisnis perusahaan.

Tanggal 14 desember 2015, menteri Badan Usaha Milik Negara sebagai RUPS memenuhi syarat untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya, meningkatkan pengeluaran Negara dan penyertaan modal serta direksi memerlukan persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris.

Perubahan tersebut dinyatakan dalam Akta No.10 tanggal 11 januari 2016, Notaris Lenny Janis Ishak, SH.

Tanggal 24 November 2016, menteri Badan Usaha Milik Negara sebagai RUPS mendeklarasikan No.S-690/MBU/11/2016, persetujuan perubahan piagam Pertamina tentang susunan Direksi dan dewan Komisaris, wewenang bertindak atas nama Direktur Utama, pembagian tugas dan wewenang direksi, dan kehadiran Direktur Utama dan Dewan Komisaris.

Tahun 2018, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menjadi Sub Pemilik Gas Pertamina. Pembentukan sub holding gas ini adalah varian lanjutan dari fase integrasi bisnis gas BUMN penggabungan Pertamina dan PGN, yang juga merupakan salah satu implementasi pembentukan holding BUMN Sektor Migas.

Tanggal 12 Juni 2020, struktur perusahaan pertamina berubah setelah pemerintah menetapkan pertamina sebagai Holding company

(55)

dibidang energi yang menguasai hulu dengan lima sub holding melalui kementrian BUMN RI. PT Pertamina Hulu sub hold dioperasikan oleh energi, PT Pertamina Gas Sub Hold dioperasikan oleh PT Perusahaan Gas Negara, Refinery dan Petrochemical sub Holding yang dijalankan oleh PT Kilang Pertamina Internasional, Power dan NRE Dub holding yang dijalankan oleh PT Pertamina Power Indonesia, dan Commersial dan Trading Sub holding yang dijalankan oleh PT Patra Niaga.

b. Visi dan Misi

1) Visi: “Menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia”

2) Misi: “Menjalankan usaha minyak, gas serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi berdasarkan prinsi-prinsip komersial yang yang kuat”.

2. PT. Perkebunan Nusantara XIV a. Sejarah

PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) didirikan pada tanggal 11 Maret 1996, berdasarkan penggabungan PT Perkebunan XXVIII (Persero). Pada tanggal 14 Februari 1996, PT Perkebunan XXVIII dan PT Persero diubah menjadi PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero), termasuk juga proyek pengembangan asli dari PT Perkebunan XXIII (Persero) di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Modal perseroan ketika saat pendirian adalah Rp450.000.000,00 sebagai modal dasar, Rp315.000.000,00 modal yang ditempatkan/disetor dan Rp135.000.000,00 modal disetor.

(56)

Kontrak Pendirian PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) No. 47 yang dibuat oleh Harun Kamil, SH pada tanggal 11 Maret 1996, telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia, No. C2- 9087.HT.01 01 tanggal 24 September 1996 (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 81, 8 Oktober 1996, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 8678).

Berdasarkan UU No. 13 tanggal 11 aggustus 2008 dari Notaris Lola Rosalina, keterangan tentang perseroan PT Perkebunan Nusantara XIV diluar dari rapat umum pemegang saham mengenai keputusan peningkatan modal disetor dan perubanhan anggaran dasar perushaan (persero) PT Perkebunan Nusantara XIV, modal yang ditempatkan akan ditingkatkan dari 100.000.000 rupiah penyertaan modal nasional (PMN), sesuai dengan peraturan Pemerintah Nomor 68 Republik Indonesia 2007 pada bulan desember tanggal 10, modal perusahaan menjadi modal dasar sebanyak Rp540.000.000.000, modal belum disetor sebesar Rp305.000.000.000 dan modal disetor sebanyak Rp235.000.000.000.

Berdasarkan peraturan Pemerintah No.72 yang diundangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 september 2014, penyertaan modal milik Negara Republik Indonesia tersebut ditambahkan kedalam penyertaan modal perseroan PT Perkebunan Nusantara III, saham pemerintah di PTPN I,II,IV sampai sekarang XIV dialihkan ke PTPN III (Persero) 90%. Selain itu, Menteri Keuangan mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 468/KMK.06/2014 pada tanggal 1 Oktober 2014 tentang Penetapan Nilai Penambahan

(57)

Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Pada Penyertaan Modal Perusahaan . Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara III dan lain-lain menetapkan nilai saham pemerintah di PTPN XIV. Saham tersebut telah dialihkan kepada PTPN III (Persero) sebesar Rp 211.500.000.000, sehingga sisa saham pemerintah di PTPN XIV mencapai Rp23.500.000.000.-(10%).

b. Visi dan Misi

1) Visi: “Menjadi perusahaan agribisnis yang sehat, inovatif, tangguh dan berkarakter dalam mendukung kemajuan negeri”.

2) Misi:

a) Melakukan perbaikan sistem pengelolaan untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas pada unit usaha secara berkelanjutan dengan fokus utama pada produksi kelapa sawit dan tebu.

b) Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Sumber Daya Manusia melalui pengelolaan organisasi dan engagement karyawan yang kuat.

c) Membangun rantai nilai yang kuat dan responsive.

d) Meningkatkan nilai tambah bagi stakeholder dengan mengoptimalkan aset secara efektif dan efisien dengan menerapkan pengelolaan yang tepat.

e) Membangun kepercayaan stakeholder melalui sinergi kemitraan yang harmonis.

Gambar

Gambar 2.1  ....................................................................................................
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1  Kerangka Pikir  D. Hipotesis
Tabel 3.1 Tabulasi Skala Likert  Bentuk Jawaban  Simbol  Skor Pernyataan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan data menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package for the Social Science (SPSS) versi 25 mengenai pengaruh

Hasil penelitian menunjukan dengan bahwa data dengan menggunakan perhitungan statistik Melalui Aplikasi Statistical Peckage For The Social Science (SPSS) versi 23 mengenai

Hasil penelitian menunjukkan data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package For The Social Sciense (SPSS) Versi 26 mengenai

Hasil penelitian ini menunjukkan data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui Statistical Package For the Social Science (SPSS) versi 21 mengenai analisis

Hasil penelitian ini menunjukan data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package for the Social Science (SPSS) versi 24

Hasil penelitian menunjukkan data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package For The Social Scinence SPSS versi 20 mengenai Pengaruh Nilai Tukar

Berdasarkan hasil penelitian data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package for Social Science SPSS versi 25 mengenai pengaruh pengetahuan keuangan

Berdasarkan hasil penelitian data dengan menggunakan perhitungan statistik melalui aplikasi Statistical Package for the Social Science SPSS versi 26 mengenai faktor-fator yang