PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MODEL PEMBELAJARAN COOVERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH PADA MATERI SURAH
AL-MAUN SISWA KELAS V SDN MALIKU BARU 6
Syahruni
Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya E-mail: [email protected]
Abstrak
Permasalahan yang terjadi di SDN Maliku Baru 6 adalah guru PAI masih sangat mendominasi kegiatan pembelajaran dengan terlalu banyak menggunakan metode ceramah, sehingga siswa menjadi pasif pada saat pembelajaran di kelas, menjadi malas dan mengantuk seerta memperoleh hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan hal tersebut peneliti berupaya menawarkan satu langkah strategis pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model yang efektif dan sejalan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar, yaitu Model Cooperatif Learning tipe make a match. Dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hasil belajar siswa pada materi QS. Al-Maun menggunakan Model Cooperatif Learning tipe make a match.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Reserach). Dengan menggunakan Tipe Kurt Lewin yang dilaksanakan melalui empat tahapan utama yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi atau pengamatan, dan refleksi. Adapun subyek penelitian adalah siswa Kelas V SDN Maliku Baru 6 yang terdiri 10 orang siswa yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : tes, observasi dan dokumen dan teknik analisis data yang dilakukan dengan analisis dan refleksi pada setiap siklusnya.
Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukan bahwa hasil belajar siswa meningkat tiap siklusnya dimana pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya 7 siswa atau 70
% dengan rata-rata nilai 71. Kemudian pada siklus II bahwa pada siklus ini terdapat 9 siswa telah mencapai nilai diatas KKM dengan rata-rata nilai 80 dengan ketuntasan belajar mencapai 90%.
Kata Kunci: Model, Make a Match, Hasil Belajar
Pendahuluan
Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa yang beriman dan berakhlak Islami. Tujuan utamanya adalah membentuk siswa yang mampu mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi contoh yang baik dalam masyarakat. Dalam konteks ini, proses pembelajaran di sekolah diharapkan dapat memberikan dampak yang nyata dalam kehidupan siswa. Namun, terdapat tantangan dalam menghadapi perubahan perilaku siswa dalam mengamalkan ajaran agama Islam.
Pendidikan Islam bertujuan mengarahkan peserta didik untuk mengabdi dan beribadah sesuai dengan ajaran Islam, serta mewariskan nilai-nilai luhur Islam kepada mereka. Namun, beberapa kendala sering muncul dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, seperti preferensi penggunaan metode ceramah oleh guru, cakupan substansi yang luas, inovasi kurikulum yang terus berkembang, dan kurangnya minat siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Salah satu faktor penting dalam pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang digunakan. Guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswa dan menciptakan suasana yang kondusif bagi pemahaman mereka terhadap materi ajaran. Dalam konteks ini, penulis tertarik untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif, khususnya tipe pembelajaran
"Make A Match" (mencari pasangan), dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Menurut Alvinje dkk, (2022, 147) Metode make a match dikenal sebagai model mencari pasangan lewat kartu, siswa menerima kartu yang berisi pertanyaan atau jawaban, kemudian mereka mencari pasangan yang cocok sesuai kartu yang dipegangnya.
Kelebihan dari model pembelajaran make a match, diantaranya: (1) mewujudkan kondisi pembelajaran yang mengasyikkan; (2) materi belajar disajikan lebih menarik perhatian peserta didik; (3) dapat memperbaiki hasil beljar peserta didik guna mencapai taraf ketuntasan belajar; (4) Kerjasama antarsesama peserta didik terwujud dengan dinamis (Kurniasih dan Berlin, 2015: 56). Menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2017:244) model pembelajaran merupakan perencanaan yang diterapkan untuk membuat kurikulum, menyusun perangkat pembelajaran, dan melakukan kegiatan belajar dikelas
.
Metode/Metodologi
Jenis penelitian yang kami lakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2002:67), PTK adalah suatu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru sekaligus peneliti di kelasnya dengan merancang, melaksanakan tindakan, dan merefleksikannya dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran. Menurut Wardani (2014:03) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan satu penelitian pula, yang dengan sendirinya mempunyai berbagai aturan dan langkah yang harus diikuti.
Sesuai dengan pernyataan Arikunto (2002), dalam PTK ada tiga unsur atau konsep yaitu:
(1) Penelitian, yaitu aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui metodologi ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah;
(2) Tindakan, yaitu suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus-siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran.
(3) Kelas, yaitu sekelompok siswa dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Ada empat tahap yang dilalui dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada setiap siklus nya; Menurut Kurt Lewin Penelitian tindakan adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi (Kunandar, 2010: 42).
Gambar 1. Pelaksanaan Siklus PTK Siklus
1
Siklus 2
Selesai Perenca
naan
Pengama tan Pelaksan
aan Refleks i Perenca
naan
Pengama Masalah tan
Pelaksanaa n
Yang menjadi subjek dalam penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri Maliku Baru 6 Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau tahun pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 10 siswa, yang terdiri dari 5 siswa dan 5 siswi.
Sedangkan objek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Hasil Belajar siswa kelas V SD Negeri Maliku Baru 6 Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau tahun pelajaran 2023/2024 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024.
Waktu Penetilian Tindakan Kelas ini dimuali pada bulan 21 Juli dan berakhir 21 Agustus 2023. Penelitian berlangsung pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024.
Menurut (Arikunto, 2015:46) Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran sehingga terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Adanya tuntutan mutu pendidikan yang berkualitas sangat berimbas kepada tuntutan kinerja guru dalam melakukan tugas pokoknya. Guru dituntut untuk lebih profesional dan harus mampu meningkatkan kemampuan siswa secara maksimal.Kondisi inilah yang membutuhkan tindakan kongkrit dari guru yang salah satu wujudnya dengan melakukan PTK.
Tujuan utama dalam penelitian ini adalah mendapatkan data. Menurut Sugiyono (2010 :114-115) ada 3 teknik pengumpulan data yaitu
a. Teknik Wawancara
Wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menjadi informan atau responden. Caranya adalah dengan tanya jawab secara secara langsung.
b. Teknik pengamatan (Observasi)
Dalam penelitian kualitatif, observasi dipahami sebagai pengamatan langsung terhadap objek, untuk mengetahui kebenarannya, situasi, kondisi, konteks, ruang, serta maknanya dalam upaya pengumpulan data suatu penelitian.
c. Teknik Tes
Data dalam penelitian yang berupa alat test sebelum diberikan kepada siswa harus diketahui terlebih dahulu apakah tes tersebut baik dan sudah siap diberikan kepada siswa untuk diambil datanya. Dalam penelitian ini setelah data terkumpul selanjutnya data tersebut dianalisa.
Menurut (Ali dalam Latif, 2012: 79-80).Ada tiga tahapan yang digunakan dalam menganalisis data yang didapatkan yaitu :
1. Reduksi data (data reduction), adalah proses memilih, menyederhanakan, menfokuskan, mengabstraksi, dan mengubah data kasar yang muncul dari catatan- catatan lapangan.
2. Penyajian data (data display ) adalah suatu cara merangkai data dalam suatu organisasi yang memudahkan untuk membuat kesimpulan atau tindakan yang diusulkan.
3. Verifikasi data atau penarikan kesimpulan dari data yang telah dianalisis. Kesimpulan dalam penulisan kualitatif menjadi saripati jawaban rumusan dan isinya merupakan kristatlisasi data lapangan yang berharga bagi praktik dan pengembangan ilmu
Selanjutnya, menurut Arikunto dalam Yaumi (2011: 162) untuk analisis kuantitatif, analisis data ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana sebagai berikut:
1. Menilai rata- rata hasil tes
Pada penilaian rata- rata hasil tes siswa, peneliti menjumlah keseluruhan skor yang diperleh siswa kemudian dibagi dengan jumlah siswa yang berpartisipasi dalam penelitian. Menghitung nilai rata- rata kelas dapat dilihat pada rumus berikut:
Dengan: X = Nilai rata- rata
ΣX = Total jumlah nilai siswa ΣN = Jumlah siswa
2. Menilai ketuntasan belajar
Terdapat dua aspek penilaian terhadap ketuntasan belajar siswa, yaitu penilaian secara individual dan penilaian secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar di SDN Maliku Baru 6 V. Dinyatakan telah tuntas belajar jika skor hasil tesnya mencapai 70 % atau angka 70. Kemudian dari skor masing- masing individu dihitung, apabila 70 % dari siswa yang mengikuti pembelajaran mencapai nilai ketuntasan belajar, maka kelas tersebut dapat dinyatakan tuntas.
Berikut rumus menentukan ketuntasan belajar secara klasikal.
∑ 𝑛1
P = ∑ 𝑛 x 100
Keterangan:
P = nilai ketuntasan belajar
∑n1 = jumlah siswa tuntas belajar secara individual
∑n = jumlah total siswa 3. Menilai Hasil belajar
Kriteria yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah kriteria penilaian standar yang diungkapkan.
Tabel 1. Acuan Kriteria Penilaian
Yang menjadi indikator ketercapaian dalam penelitian ini adalah Indicator kebehasilan tindakan dalam penelitian ini adalah jika jumlah siswa yang mencapai tingkat hasil belajar minimal dalam kategori “Cukup”, pada pengukuran hasil belajar Pendidikan Agama Islam, mencapai 75%.
Peningkatan hasil belajar ini akan dilihat dengan membandingkan jumlah siswa yang mencapai tingkat hasil belajar minimal dalam kategori “Cukup, dari prasiklus, hingga siklus II. Nilai minimal yang ditetapkan pada penelitian hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Maliku Baru 6 adalah 70 (Berkategori Cukup).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Dari hasil penelitian dan refleksi pada sebelum dan sesudah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif learning tipe make a match dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar siswa. Pada pra siklus diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 50 %. Kemudian peneliti melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran
ANGKA 100 ANGKA 10 KETERANGAN
0-54 0-5.4 Sangat Rendah
55-64 5.5-6.4 Rendah
65-79 6.5-7.9 Sedang
80-89 8.0-8.9 Tinggi
90-100 9.0-10 Sangat Tinggi
kooperatif learning tipe make a match pada siklus I ketuntasan meningkat menjadi 70 % dan masih terdapat 3 orang siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan. Selanjutnya peneliti melanjutkan untuk siklus yang kedua dan didapatkan peningkatan hasil belajar sebesar 90 %. maka dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran telah berhasil perbaikan dilakukan mulai pra siklus maupun pada tindakan siklus I dan II diperoleh kesimpulan data sebagai berikut:
Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Pra Siklus dan Setelah Tindakan Mata Pelajaran PAI Kelas V SDN Maliku Baru 6 Kec. Maliku Kab. Pulang Pisau
Pada tahap prasiklus atau sebelum penelitian dilakukan diketahui bahwa dari 10 siswa kelas V hanya ada 5 atau 50 % anak yang memperoleh nilai diatas KKM (70). . Dan rata-rata klasikal atau rata-rata kelas pada tahap ini sebesar 70. Nilai ini tentu saja kurang dari nilai standar yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu 70.
Pada perbaikan pembelajaran siklus I terlihat bahwa setelah penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe make a match didapat bahwa hasil belajar siswa meningkat dibandingkan dengan sebelum pra siklus.
Pada tahap perbaikan siklus I diketahui dari 10 siswa kelas V SDN Maliku Baru 6 Kabupaten Pulang Pisau 7 orang siswa atau sebesar 70% telah memperoleh nilai di atas KKM. Walaupun 3 anak yang tersisa atau 30 % masih memperoleh nilai di bawah rata-rata namun, terlihat bahwa setelah penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe make a match telah menunjukkan keberhasilan.
No Statistik Pra Siklus Perbaikan
siklus I
Perbaikan Siklus II
1 Jumlah siswa 10 10 10
2 Jumlah nilai 700 705 758
3 Nilai rata-rata kelas
70 70 71
4 Frekuensi nilai di
bawah KKM 5 3 1
5 Frekuensi nilai di atas
KKM 5 7 9
6 Prosentase nilai di
bawah KKM 50% 30 % 10 %
7 Prosentase nilai di atas
KKM 5 % 70 % 90 %
Jumlah nilai tes pada tahap perbaikan siklus I mengalami peningkatan jika dibanding dengan jumlah nilai sebelum perbaikan pembelajaran diadakan.
Dari jumlah nilai yang semula hanya 700 dengan rata-rata nilai kelas 70 meningkat menjadi 705 dengan rata-rata 71. Dari data ini terlihat bahwa perbaikan siklus I menunjukkan kenaikan sebesar 5 pada jumlah nilai, 71 pada rata-rata kelas, dan 70% pada persentase ketuntasan klasikal.
Walaupun angka ini belum memenuhi nilai standar yang ditentukan dan persentase ketuntasan klasikalnya belum mencapai 60%, namun dapat dikatakan bahwa proses perbaikan siklus I telah berhasil.
Perbaikan pembelajaran siklus II yang merupakan kelanjutan dari perbaikan siklus I memperlihatkan bahwa jumlah nilai yang semula 705 pada siklus I meningkat sebesar 53 menjadi 758. Nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 70 menjadi 71. Persentase ketuntasan klasikal meningkat sebesar 20 % dari yang semula 70 % pada siklus I menjadi 90%. Dengan tercapainya nilai rata-rata kelas 71 dengan persentase ketuntasan klasikal 90 % menunjukkan bahwa perbaikan siklus II sudah berhasil.
Gambar 2. Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat tiap siklusnya dimana pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya 7 siswa atau 70 % dengan rata-rata nilai 71. Kemudian pada siklus II bahwa pada siklus ini terdapat 9 siswa telah mencapai nilai diatas KKM dengan rata- rata nilai 71 dengan ketuntasan belajar mencapai 90 %. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis pada penelitian ini dinyatakan benar bahwa dengan
menggunakan model cooperative learning tipe make match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas V SDN Maliku Baru 6.
Kesimpulan
Dari seluruh kegiatan Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas V SDN Maliku Baru 6 Kecamatan Maliku Kabupaten Pulang Pisau, dengan menggunakan model cooperative learning tipe make match pada mata pelajaran PAI materi Q.S Al-Maun dapat dapat disimpulkan bahwa penerapan model cooperative learning tipe make match pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas V SDN Maliku Baru 6 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang diperoleh dalam tiap tahap perbaikan.
Referensi
Alvinje Larumunde dan Suriyati Akibun, 2022, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Puasa Ramadhan Melalui Metode Make A Match Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti. Al- Muhtarif: Jurnal Pendidikan Agama Islam.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineksa Cipta.
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013
Anita Lie, Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo, 2007
Kunandar. 2010. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013)Suatu Pendekatan Praksis Disertai dengan Contoh.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Imas Kurniasih & Berlin Sani, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalitas Guru. Rineka Cipta, 2015
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007
Nila Kencana, “Penerapan TipePembelajaran Cooperative Learning Tehnik Make a Match Dengan Bermain Peran Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar PKN Siswa Kelas Va SD Negeri 07 Kota Bengkulu, Bengkulu:Skripsi UNIB Bengkulu: 2014
Rusman. 2017. Belajar & Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Sugiyono , Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R & D,Bandung : Alfabeta, 2010
Wardani I.G, AK.2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: UniversitasTerbuka