• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia merupakan publikasi triwulanan yang diterbitkan oleh Kedeputian Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, yang didasarkan pada data dan informasi yang sudah dipublikasikan oleh Kementerian/Lembaga, instansi internasional, asosiasi, maupun hasil dari diskusi terbatas perkembangan ekonomi yang dilakukan bersama dengan beberapa Kementerian/Lembaga, pengamat, dan praktisi ekonomi.

Publikasi triwulan I tahun 2019 ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan I tahun 2019. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I tahun 2019 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi dan kerja sama internasional, industri dalam negeri, serta perekonomian daerah.

Sangat disadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna dan memerlukan banyak perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, masukan dan saran yang membangun dari pembaca tetap sangat diharapkan, agar tujuan dari penyusunan dan penerbitan publikasi ini dapat tercapai.

Jakarta, Mei 2019

Deputi Bidang Ekonomi BAPPENAS

(4)
(5)

i

Ringkasan Eksekutif

Sebagian besar negara mengalami perlambatan ekonomi efek perang dagang. Hanya Amerika Serikat yang pertumbuhannya tetap meningkat. Pada triwulan I tahun 2019, perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih cepat sebesar 3,2 persen (YoY).

Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh mencapai 2,7 persen (YoY), khususnya konsumsi barang (2,9 persen, YoY).iImpor tumbuh lebih lambat (1,6 persen, YoY).

Perekonomian Tiongkok tumbuh stabil pada triwulan I tahun 2019 sebesar 6,4 persen (YoY). Penyelesaian perang dagang yang belum mencapai kesepakatan, menahan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun kondisi tersebut diimbangi dengan stimulus moneter yang diberlakukan sehingga perekonomian dapat tetap tumbuh. Perlambatan ekonomi juga terjadi di kawasan Eropa. Negara-negara di kawasan tersebut seperti Spanyol dan Perancis mengalami perlambatan pertumbuhan masing-masing sebesar 1,1 dan 2,4 persen.

Akibat perekonomian global yang masih belum stabil, sebagian besar negara berhati-hati dengan menahan tingkat suku bunganya. Di sisi lain, harga komoditas internasional bergerak turun selama triwulan I tahun 2019. Meski begitu, harga minyak mentah justru mengalami peningkatan. Hal ini merupakan keberhasilan bagi negara-negara yang tergabung dalam OPEC+ yang sepakat menurunkan produksinya untuk kembali menaikkan harga minyak.

Ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2019 itumbuh sebesar 5,07 persen (YoY), sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan I tahun 2018. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, menunjukkan adanya penguatan ekonomi domestik. Secara kewilayahan, hampir semua kawasan mengalami pertumbuhan positif, kecuali kawasan Maluku dan Papua. Perkembangan perekonomian domestik banyak dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, harga komoditas internasional, agenda nasional, yakni Pemilihan Umum, serta perubahan musim panen.

Perkembangan sektor fiskal, digambarkan dengan realisasi penerimaan perpajakan, dimana hingga akhir triwulan I tahun 2019 mencapai Rp350,1 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, realisasi terhadap target APBN relatif menurun. Pendapatan Negara dan Hibah turun dibandingkan tahun sebelumnya, disebabkan oleh turunnya harga komoditas. Di sisi lain, realisai Belanja Negara turun dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Kondisi ini disebabkan oleh menurunnya Belanja Pemerintah Pusat (BPP) dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga BI7DRR pada level 6,00 persen. Langkah tersebut merupakan upaya untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik yang diharapkan menjaga stabilisasi

(6)

ii

nilai tukar Rupiah. Sepanjang triwulan I tahun 2019, nilai tukar Rupiah cenderung menguat didukung oleh kinerja ekonomi domestik yang membaik. Di sisi lain, normalisasi kebijakan Amerika Serikat mendorong masuknya portofolio ke negara-negara berkembang. Inflasi dalam negeri berada dalam rentang ±3,5 persen, dan mencapai tingkat terendah dalam sepuluh tahun terakhir yang didorong oleh turunnya harga komoditas dan pangan.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I tahun 2019 surplus sebesar USD2,4 miliar, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai USD5,4 miliar. Kinerja tersebut lebih baik dari triwulan I tahun 2018 yang defisit. Surplus yang terjadi didorong oleh turunnya defisit neraca transaksi berjalan serta tingginya surplus transaksi modal dan finansal. Sementara itu, neraca perdagangan membaik , ditopang oleh neraca perdagangan nonmigas yang meningkat serta defisit migas yang menurun.

Penerapan kebijakan terkait kerjasama energi berhasil membawa dampak positif pada defisit neraca migas.

Perekonomian global kedepannya, diprediksi masih akan tumbuh melambat. Hal ini ditandai dengan penurunan target pertumbuhan ekonomi oleh beberapa negara besar.

Perlambatan ini masih dibayangi oleh isu perang dagang yang masih belum menemukan titik temu. Sementara perekonomian Indonesia diprediksi masih tumbuh positif dan stabil pada 5,2 persen. Pertumbuhan didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring stabilnya tingkat inflasi dan meningkatnya bantuan sosial. Konsumsi LNPRT akan tumbuh melambat pada sisa triwulan 2019 terkait dengan pelaksanaan pemilu nasional. Selain itu, investasi juga akan melambat, pengaruh tahun politik. Ekspor dan impor juga diprediksi melambat terkait lemahnya kondisi perekonomian global. Di sisi lain, sektor Pertanian pada triwulan II tahun 2019 diprediksi meningkat seiring dengan pergeseran masa panen.

Meski diperkirakan menguat, perekonomian domestik dibayangi beberapa risiko negatif yang dapat membuat realisasi pertumbuhan ekonomi meleset. Beberapa risiko utamanya adalah eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, harga komoditas internasional yang menurun, realisasi pendapatan negara yang lebih rendah dari target, ketidakpastian pasca pemilu nasional, dan kinerja sektor migas yang belum pulih.

(7)

iii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... .iii

Daftar Tabel ... .iv

Daftar Gambar ... .vi

Policy Brief: Analisis Defisit Ocean Freight di Indonesia ... ..1

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL ... ..5

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA ... 13

1.Perkembangan Sektor Riil ... 13

Perkembangan Ekonomi Nasional ... 13

Perkembangan Ekonomi Regional ... 16

Investasi ... 19

Sektor Industri ... 25

2.Sektor Fiskal ... 31

3.Moneter dan Jasa Keuangan ... 35

Perkembangan Moneter ... 35

Sektor Jasa Keuangan ... 39

4.Eksternal ... 47

Neraca Pembayaran ... 47

Perdagangan ... 50

Kerjasama Ekonomi Internasional ... 53

PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI ... 59

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global ... 59

Perkiraan Perekonomian Indonesia ... 60

(8)

iv

Daftar Tabel

Tabel 1. Suku Bunga Kebijakan Beberapa Negara ...9

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Jenis Pengeluaran (persen, YoY) ...14

Tabel 3. Pertumbuhan Ekonomi di Maluku dan Papua ...17

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi ...17

Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi di Jawa ...18

Tabel 6. Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera ...18

Tabel 7. Pertumbuhan Ekonomi di Bali dan Nusa Tenggara ...19

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi di Kalimantan ...19

Tabel 9. Perkembangan Pembentukan Modal Tetap Bruto ...19

Tabel 10. Realisasi PMA dan PMDN Berdasarkan Kategori Utama Sektor Ekonomi ...20

Tabel 11. Lima Sektor dengan Realisasi PMA Terbesar ...20

Tabel 12. Lima Sektor dengan Realisasi PMDN Terbesar ...21

Tabel 13. Realisasi dan Target Realisasi PMA dan PMDN dalam Triliun Rupiah ...21

Tabel 14. Proporsi PMA dan PMDN terhadap Realisasi Investasi (dalam Persen) ...21

Tabel 15. Realisasi PMA Berdasarkan Negara Asal Investasi ...22

Tabel 16. Realisasi PMA Berdasarkan Lokasi (dalam triliun Rupiah) ...22

Tabel 17. Realisasi PMDN Berdasarkan Lokasi (dalam triliun Rupiah) ...23

Tabel 18. Lima Provinsi dengan Realisasi PMA dan PMDN Terbesar ...23

Tabel 19. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ...28

Tabel 20. Komposisi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (triliun Rupiah) ...34

Tabel 21. Perkembangan Komponen Pembiayaan (triliun Rp) ...34

Tabel 22. Suku Bunga Operasi Moneter BI 7 Day Reverse Repo Rate Triwulan I Tahun 2019 (persen) ...35

Tabel 23. Tingkat Inflasi Domestik Triwulan I Tahun 2019 ...37

Tabel 24. Tingkat Inflasi Domestik berdasarkan Komponen ...38

Tabel 25. Inflasi Kelompok Pengeluaran (MtM), Januari–Maret 2019 ...38

Tabel 26. Perkembangan Kredit Bank Umum Konvensional di Indonesia Tahun 2018-2019 (miliar Rupiah) ...41

Tabel 27. Perkembangan Pembiayaan Perbankan Syariah 2018 –2019 (miliar Rupiah) ...45

Tabel 28. Penyaluran Kredit Berdasarkan Sektor Tahun 2018-2019 (miliar Rupiah) ...45

Tabel 29. Pertumbuhan Aset IKNB Syariah 2018–2019 (miliar Rupiah) ...47

Tabel 30. Neraca Perdagangan dan Tingkat Pertumbuhan Ekspor Impor ...50

Tabel 31. Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Ekspor ...51

Tabel 32. Perkembangan Nilai Ekspor Nonmigas Berdasarkan 10 Negara Tujuan Ekspor Utama ...51

Tabel 33. Nilai dan Tingkat Pertumbuhan Impor ...52

Tabel 34. Perkembangan Niai Impor Nonmigas Berdasarkan 10 Negara Asal Impor Utama ...53

Tabel 35. Perkembangan Perjanjian Internasional Indonesia ...54

Tabel 36. Nilai Ekspor Berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) Preferensi ...55

Tabel 37. Nilai Ekspor Berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) Nonpreferensi ...55

Tabel 38. Kinerja Perdagangan Indonesia dengan Negara Mitra FTA ...56

Tabel 39. Proyeksi Pertumbuhan Menurut Kawasan ...59

(9)

v

Tabel 40. Konsensus Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ...60 Tabel 41. PDB Berdasarkan Pengeluaran...61 Tabel 42. PDB Berdasarkan Pengeluaran...61

(10)

vi

Daftar Gambar

Gambar 1. Perbandingan Rasio Volume Muatan terhadap Jumlah Kapal

Tahun 1990-2018 (DWT/unit) ... 1

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I Tahun 2019 di Beberapa Negara ... 8

Gambar 3. Perkembangan Harga Minyak Mentah ... 10

Gambar 4. Perkembangan Harga Gas Alam ... 10

Gambar 5. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 13

Gambar 6. Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi terhadap PDB ... 15

Gambar 7. Indeks Tendensi Bisnis Tahun 2018-2019 ... 16

Gambar 8. Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Spasial ... 16

Gambar 9. Pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas ... 25

Gambar 10. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Non Migas Triwulan I-2019 ... 25

Gambar 11. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan I-2019 ... 26

Gambar 12. Ekspor Produk Industri ... 26

Gambar 13. Investasi Domestik (PMDN) Sektor Industri... 27

Gambar 14. Investasi Asing (PMA) Sektor Industri ... 27

Gambar 15. Perkembangan Produksi Mobil ... 28

Gambar 16. Perkembangan Penjualan Mobil ... 29

Gambar 17. Produksi, Penjualan Domestik, dan Ekspor Semen ... 29

Gambar 18. Purchasing Manager Index (PMI) Sektor Manufaktur ... 30

Gambar 19. Nilai Ekspor Jasa Perjalanan ... 30

Gambar 20. Jumlah Wisatawan Mancanegara ... 31

Gambar 21. Realisasi Komponen Penerimaan Perpajakan (triliun Rupiah) ... 32

Gambar 22. Perkembangan Komponen Belanja Negara ... 32

Gambar 23. Perkembangan Realisasi Defisit APBN ... 34

Gambar 24. Perkembangan Utang Pemerintah Pusat ... 35

Gambar 25. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah ... 36

Gambar 26. Real Effective Exchange Rate ASEAN-5, Maret 2012 – Maret 2019 (2010=100) ... 36

Gambar 27. Perkembangan Uang Beredar Triwulan I Tahun 2019 ... 37

Gambar 28. Perkembangan Indeks Harga Pangan Strategis Nasional Januari– Maret 2019, (2019=100) ... 39

Gambar 29. Kinerja Perbankan Konvensional ... 39

Gambar 30. Pertumbuhan DPK Bank Konvensional ... 40

Gambar 31. Pertumbuhan Kredit Bank Konvensional ... 40

Gambar 32. Capaian Penyaluran KUR... 42

Gambar 33. Pertumbuhan Total Aset Industri Asuransi 2018-2019 ... 42

Gambar 34. Perkembangan Jumlah Aset Bersih dan Jumlah Investasi Dana Pensiun 2018-2019 ... 42

Gambar 35. Perkembangan IHSG dan Nilai Kapitalisasi Pasar Saham 2018-2019 ... 43

Gambar 36. Perkembangan Obligasi Korporasi 2018-2019 ... 43

Gambar 37. Perkembangan Kinerja Perbankan Syariah 2018-2019 ... 44

Gambar 38. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga dan Kredit Perbankan Syariah 2018 – 2019 ... 44

(11)

vii

Gambar 39. Perkembangan Nilai Kapitalisasi Pasar Saham ISSI dan JII 2018-2019

(dalam juta Rupiah) ... 46

Gambar 40. Perkembangan Outstanding Sukuk Korporasi 2018-2019 (triliun Rupiah) ... 46

Gambar 41. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (miliar USD) ... 48

Gambar 42. Neraca Jasa Perjalanan dan Transportasi ... 49

Gambar 43. Neraca Pendapatan Primer dan Sekunder ... 49

Gambar 44. Neraca Transaksi Finansial Indonesia ... 50

(12)

i

(13)

ii

(14)

1

Policy Brief: Analisis Defisit Ocean Freight di Indonesia

Latar Belakang

Defisit Ocean Freight diidentifikasi menjadi salah satu penyebab terjadinya defisit transaksi berjalan di Indonesia, khususnya pada komponen neraca jasa.

Temuan Skha Consulting pada tahun 2018 menunjukkan defisit ocean freight mencapai USD5,5 miliar atau sekitar 70 persen dari total defisit neraca jasa secara keseluruhan.

Studi Ridwan dkk (2016) mengungkapkan penyebab tingginya defisit ocean freight bersumber dari dominasi penggunaan kapal asing dalam aktivitas perdagangan luar negeri. Hal yang mendorong tingginya penggunaan kapal asing di

Indonesia, karena faktor kapasitas muatan. Wilmsmeier dan Zarzoso (2009) menyatakan, semakin tinggi kapasitas muatan suatu kapal akan mendorong tingkat efisiensi jauh lebih tinggi.

Data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTaD) kurun waktu 1990-2018, rasio volume muatan kapal asing jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kapal yang berbendera Indonesia. Rata-rata kapal asing dapat mengangkut muatan 15.000 Dead Weight Ton (DWT), lebih tinggi dibandingkan rata-rata kapal Indonesia yang hanya 5.000 DWT.

Gambar 1. Perbandingan Rasio Volume Muatan terhadap Jumlah Kapal Tahun 1990-2018 (DWT/unit)

Sumber: United Nations Conference on Trade and Development Hasil Focus Group Discussion (FGD) dan Rekomendasi Kebijakan Berdasarkan Focus Group Discussion

(FGD), rendahnya muatan kapal Indonesia disebabkan beberapa hal

diantaranya insentif pembiayaan.

Minimnya dukungan dari sisi pembiayaan terhadap industri 0

5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000

Berbendera Asing Berbendera Indonesia

(15)

2 perkapalan tercermin suku bunga yang diberlakukan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2019, rata- rata suku bunga di sektor transportasi sebesar 10,2 persen atau lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Singapura yang hanya 5 persen.

Dampak tingginya suku bunga menyebabkan Non Performing Loan (NPL) di industri perkapalan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pada tahun 2018, rata-rata NPL industri perkapalan mencapai 4,09 persen lebih tinggi dari nasional sebesar 2,37 persen.

Selain faktor minimnya insentif pembiayaan, prospek bisnis pengangkutan oleh kapal domestik juga menjadi perhatian lainnya. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan regulasi berupa Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.

80 tahun 2018 mengenai kewajiban eksportir dan importir nasional untuk menggunakan kapal domestik.

Aturan ini menjadi keuntungan bagi para pengusaha jasa angkutan nasional, sehingga permintaan jasa kapal domestik dapat meningkat. Namun, belum adanya petunjuk teknis mengenai implementasi aturan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pengusaha, sehingga memicu ketidakpastian. Jika aturan tersebut memiliki kejelasan dari sisi teknis, maka pengusaha dapat memperkirakan jumlah kapal yang dibutuhkan, termasuk mengajukan pembiayaan untuk membeli kapal dengan kapasitas besar.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah skema perdagangan luar negeri (Term of Trade). Saat ini aktivitas ekspor Indonesia menggunakan skema Free on Board (FoB) dan Impor menggunakan

skema Cost Insurance Freight (CIF).

Skema ini dinilai merugikan industri pengangkutan domestik, sebab Indonesia tidak memiliki daya tawar dalam memilih kapal untuk pengiriman barang.

Pada skema FoB, eksportir Indonesia hanya bertanggung jawab terhadap barang yang diekspor hingga pelabuhan.

Sementara aktivitas pengangkutan dibebankan sepenuhnya kepada importir barang dari luar negeri. Artinya dalam pemilihan kapal untuk mengirim barang tersebut keluar negeri ditentukan oleh importir. Hal tersebut menyebabkan peluang pemakaian kapal domestik menjadi minim.

Sementara pada skema CIF, importir Indonesia tidak bertanggung jawab terhadap pengiriman barang dari luar negeri ke Indonesia. Aktivitas dari mulai pengiriman barang hingga pelabuhan sepenuhnya menjadi tanggung jawab eksportir luar negeri. Seperti pada halnya skema FoB, skema ini juga kurang menguntungkan bagi industri pengangkutan domestik sebab eksportir luar negeri akan cenderung memilih kapal asing sebagai transportasi pengangkutan.

Berdasarkan beberapa temuan di atas, maka ada beberapa rekomendasi kebijakan awal yang dapat diterapkan.

Pertama, penerapan subsidi bunga. Dihn, dkk (2013) menyatakan, skema subsidi bunga efektif untuk mengurangi beban pelaku usaha dalam mengajukan pembiayaan ke sektor perbankan. Jika pemerintah mampu menyediakan skema kebijakan pembiayaan berbunga rendah seperti hanya Kredit Usaha Rakyat (KUR),

(16)

3 maka bisa jadi insentif bagi pelaku usaha jasa pengangkutan di Indonesia.

Kedua, penyusunan petunjuk teknis Permendag No 80 tahun 2018 secara menyeluruh dan sesegera mungkin. Hal ini penting agar para pelaku usaha memahami secara menyeluruh sehingga tidak terjadi mis-komunikasi dalam implementasi aturan tersebut kedepannya.

Ketiga, peralihan skema perdagangan.

Skema aktivitas ekspor diusulkan beralih dari FoB menjadi CIF dan skema aktivitas impor beralih dari CIF menjadi FoB.

Adanya peralihan ini akan memberi peluang lebih besar bagi penggunaan jasa angkutan kapal domestik karena posisi daya tawar Indonesia akan jauh lebih besar.

Beberapa rekomendasi kebijakan ini masih bersifat sementara, dan masih memerlukan kajian lebih mendalam.

Namun sebagai tahap awal, beberapa rekomendasi ini dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dominasi kapal asing dalam aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia.

(17)

4

(18)

5

(19)

6

(20)

7

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL

Pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang triwulan I tahun 2019 masih melambat.

Pada triwulan I tahun 2019, perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara. Hanya Amerika Serikat yang mampu tumbuh lebih cepat dari triwulan I tahun 2018. Sementara pertumbuhan Tiongkok tidak berbeda dari triwulan sebelumnya namun melambat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 3,2 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2019, lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan I tahun 2018.

Pertumbuhan tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan I berada pada kisaran 2,2-2,4 persen. Pendorong pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat adalah meningkatnya konsumsi masyarakat sebesar 2,7 persen (YoY), khususnya konsumsi barang (2,9 persen, YoY). Impor tumbuh melambat sebesar 1,6 persen (YoY) sedangkan pertumbuhan ekspor stabil sebesar 2,3 persen (YoY). Pertumbuhan impor Amerika Serikat melambat dampak perang dagang yang terjadi dengan Tiongkok dan lesunya perekonomian domestik.

Inflasi di Amerika Serikat meningkat 0,8 persen pada triwulan I tahun 2019.

Harga makanan naik 3,0 persen sementara harga energi turun sebesar 16,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok bergerak stabil pada triwulan I tahun 2019 sebesar 6,4 persen (YoY). Angka ini

tidak berubah dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2018. Inflasi Tiongkok pada triwulan I tahun 2019 sebesar 2,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun triwulan I tahun 2018 yang sebesar 2,1 persen. Perang dagang yang belum mencapai kesepakatan hingga akhir Maret 2019 membuat pelaku ekonomi di Tiongkok lebih berhati-hati. Stimulus kebijakan moneter yang diterapkan oleh bank sentral Tiongkok membantu pertumbuhan ekonomi Tiongkok tetap stabil.

Cadangan devisa Tiongkok meningkat pada triwulan I tahun 2019. Sepanjang periode tersebut, cadangan devisa Tiongkok naik 0,85 persen dari triwulan sebelumnya, ditopang oleh penguatan Yuan dan kebijakan proteksi impor.

Cadangan devisa triwulan ini sebesar USD3.098 miliar masih lebih kecil dari cadangan devisa pada triwulan I tahun 2018 yang mencapai USD3.142 miliar atau turun sebesar 1,4 persen.

Pertumbuhan negara-negara di Kawasan Eropa pada triwulan I tahun 2019 secara umum tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan triwulan I tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi Italia menurun dari sebelumnya 1,37 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2018, menjadi 0,05 persen (YoY) pada triwulan I tahun 2019. Kinerja tersebut lebih baik dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -0,01 persen.

Pertumbuhan ekonomi Perancis dan Spanyol juga mengalami perlambatan masing-masing sebesar 1,12 dan 2,43

(21)

8 persen. Tingkat inflasi di Kawasan Eropa cenderung stabil sebesar 1,6 persen, tidak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya.

Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I Tahun 2019 di Beberapa Negara

Sumber: CEIC

Tingkat pengangguran menurun sepanjang awal tahun 2019.

Tingkat pengangguran di AS mengalami penurunan sepanjang triwulan I tahun 2019. Meskipun tingkat PHK pada triwulan ini meningkat hingga 10,3 persen, namun tingkat pengangguran masih tetap terjaga. Pada Maret 2019, tingkat pengangguran sebesar 3,8 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 4,0 persen.

Hal yang sama juga terjadi di kawasan Eropa. Tingkat pengangguran di Eropa menurun selama triwulan I tahun 2019.

Pada Januari dan Februari, tingkat pengangguran sebesar 6,5 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 6,6 persen. Pada bulan Maret, tingkat pengangguran kembali turun

menjadi 6,4 persen. Kondisi tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 2000. Negara Uni Eropa dengan tingkat pengangguran tertinggi adalah Yunani sebesar 18,5 persen.

Tingkat pengangguran di Singapura pada triwulan I tahun 2019 meningkat menjadi 3,2 persen setelah pada periode sebelumnya sebesar 3,1 persen. Pelaku bisnis di Singapura berusaha untuk mempertahankan laba di tengah lesunya perekonomian dengan melakukan pengurangan pekerja terutama di sektor manufaktur.

Sebagian besar negara menahan kenaikan suku bunga kebijakan.

Bank Sentral Tiongkok, The People Bank of China (PBoC), menahan tingkat suku bunga bank sentral sepanjang triwulan I tahun 2019 pada level 2,25 persen.

Keputusan ini diambil sebagai upaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri. PBoC menilai pemotongan suku bunga merupakan langkah terakhir yang akan diambil untuk mendorong aktivitas perekonomiannya.

The Fed menahan suku bunga sepanjang triwulan I tahun 2019. Hal ini dilakukan atas pertimbangan laju inflasi yang tetap rendah sebesar 1,9 persen dan pengangguran yang menurun, sehingga belum dirasa perlu untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya. Langkah tersebut juga merupakan bentuk antisipasi dari ketidakpastian perekonomian.

Kebijakan The Fed mempengaruhi keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga pada level 6,00 persen sepanjang triwulan I tahun 2019. Langkah tersebut diambil sejalan -1

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2017 2018 2019

Tiongkok Amerika Serikat

Korea Italia

Perancis

(22)

9 dengan upaya Bank Indonesia memperkuat ketahanan eksternal terutama untuk menurunkan defisit neraca transaksi berjalan ke batas yang aman serta mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

Tabel 1. Suku Bunga Kebijakan Beberapa Negara

Jan Feb Mar

ASEAN

Indonesia 6,00 6,00 6,00

Thailand 1,75 1,75 1,75

Filipina 4,75 4,75 4,75

Malaysia 3,25 3,25 3,25

Vietnam 6,25 6,25 6,25

Negara Maju Kawasan

Eropa 0,00 0,00 0,00

Amerika

Serikat 2,25-2,5 2,25-2,5 2,25-2,5

Inggris 0,75 0,75 0,75

Jepang -0,1 -0,1 -0,1

Sumber: CEIC

Sepanjang triwulan I tahun 2019 nilai tukar Rupiah bergerak fluktuatif. Kondisi pasar keuangan yang masih menghadapi ketidakpastian pasar global, membuat pergerakan Rupiah sensitif. Pada awal tahun 2019, nilai tukar Rupiah berada pada level Rp14.458 per USD.

Dibandingkan dengan awal tahun, Rupiah menguat pada akhir Maret ke level Rp14.243 per USD. Penguatan tertinggi terjadi pada minggu pertama bulan Februari yang menempatkan Rupiah pada level Rp13.920 per USD.

Nilai tukar Yen sepanjang triwulan I tahun 2019 cenderung melemah.

Pelemahan tertinggi terjadi pada awal Maret yang mencapai JPY111,9 per USD.

Pada akhir triwulan I tahun 2019, Yen ditutup pada level JPY110,86 per USD,

melemah dibanding awal tahun 2019 yang sebesar JPY109,74 per USD.

Nilai tukar Yuan bergerak menguat terhadap Dolar AS pada triwulan I tahun 2019. Pada Februari 2019, Yuan menguat tertinggi selama triwulan I tahun 2019 hingga level CNY6,6 per USD. Hingga akhir Maret, nilai tukar Yuan ditutup pada level CNY6,7 per USD.

Harga sebagian besar komoditas internasional cenderung bergerak

turun.

Harga beberapa komoditas pertanian pada triwulan I tahun 2019 naik, seperti kakao (2,1 persen, YoY), jagung (2,3 persen, YoY), dan gandum (4,3 persen, YoY). Sementara itu, harga kedelai turun sebesar -10 persen (YoY).

Harga batubara sepanjang periode Januari-Maret 2019 turun USD5,4 menjadi USD93,1/MT pada akhir Maret 2019. Turunnya harga batubara didorong oleh lesunya permintaan akibat perlambatan ekonomi global dan pemberlakuan proteksi impor yang dilakukan oleh Tiongkok. Selain itu harga minyak sawit sepanjang triwulan I tahun 2019 juga bergerak turun. Rata-rata harga minyak kelapa sawit sebesar USD586,9 per MT, turun dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (USD850 per MT).

Harga komoditas logam dan mineral, mayoritas melemah sepanjang triwulan I tahun 2019. Semua komoditas mengalami perlambatan dipengaruhi dampak perang dagang antara AS dan Tiongkok. Harga komoditas emas juga turun sebesar -1,86 persen dibandingkan triwulan I tahun 2018. Komoditas seng turun hingga -20,7 persen. Selain itu

(23)

10 harga logam dan aluminium juga anjlok masing-masing sebesar -19,2 dan 13,5 persen.

Harga minyak mentah menunjukkan tren meningkat sepanjang triwulan I

tahun 2019.

Hingga Maret 2019 harga rata-rata sudah kembali ke level USD63,79 per barel.

Peningkatan ini disebabkan oleh pemangkasan produksi oleh negara- negara peserta OPEC+ serta pengenaan sanksi Amerika Serikat kepada Venezuela sebagai salah satu produsen utama minyak dunia. Berkurangnya suplai minyak mentah global pada akhirnya berhasil meningkatkan harga minyak mentah dunia. Selain itu, kondisi tersebut ikut meningkatkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) hingga USD60,49 per barrel. Namun, harga minyak mentah secara rata-rata pada triwulan I tahun 2019 masih lebih rendah dibandingkan triwulan I tahun 2018 maupun triwulan sebelumnya.

Gambar 3. Perkembangan Harga Minyak Mentah

Sumber: World Bank

Gambar 4. Perkembangan Harga Gas Alam

Sumber: World Bank

Sementara itu, harga gas alam mengalami tren menurun sepanjang triwulan I tahun 2019 dengan harga rata- rata USD2,9 per mmbtu (gas alam Eropa). Harga gas alam yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat lebih rendah dari triwulan sebelumnya maupun triwulan I tahun 2018. Turunnya harga gas alam disebabkan oleh oversupply dan menurunnya permintaan setelah musim dingin berakhir.

0 20 40 60 80

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2017 2018 2019

Crude Oil; Brent Crude Oil; Dubai Crude Oil; WTI

0 2 4 6 8 10

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2017 2018 2019

Gas Alam (Europe) Gas Alam (US)

(24)

11

(25)

12

(26)

13

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA

1. Perkembangan Sektor Riil Perkembangan Ekonomi Nasional

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2019 meningkat.

Target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang ditetapkan sebesar 5,3 persen dirasa sulit untuk dicapai melihat pertumbuhan pada triwulan pertama.

Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,07 persen (YoY), meningkat tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Namun, pertumbuhan tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sesuai dengan pola musiman. Angka tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi pada triwulan I dalam lima tahun terakhir, yang menunjukkan adanya penguatan ekonomi domestik.

Gambar 5. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sumber: Badan Pusat Statistik

Perkembangan Produk Domestik Bruto dari sisi lapangan usaha menunjukkan Jasa Perusahaan, Jasa lainnya, dan Informasi dan Komunikasi merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini yang masing-masing

tumbuh sebesar 10,36 persen, 9,99 persen, dan 9,03 persen.

Industri pengolahan tumbuh melambat.

Industri Pengolahan merupakan sektor sumber pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini dengan sumbangan terhadap pertumbuhan mencapai 0,83 persen.

Pertumbuhan industri pengolahan sebesar 3,86 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan I tahun 2018 maupun triwulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 4,6 persen dan 4,25 persen. Kinerja tersebut terutama dipengaruhi oleh Industri Batubara dan Pengilangan Migas semakin terkontraksi hingga -4,19 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar -0,01 persen (YoY), juga lebih rendah dari triwulan I tahun 2018 (0,66 persen, YoY).

Namun demikian, subsektor Industri Tekstil dan Pakaian Jadi mendorong perkembangan sektor dengan pertumbuhan yang mencapai 18,98 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya (10,82 persen, YoY) maupun triwulan I tahun 2018 (7,46 persen, YoY).

Produksi yang meningkat dari subsektor Industri Tekstil dan Pakaian Jadi dipengaruhi oleh momentum pemilu serta persiapan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Selain industri yang disebutkan sebelumnya, pemilu juga mendorong pertumbuhan pada subsektor Industri Kertas dan Barang dari Kertas;

Percetakan dan Reproduksi Media 5,01 5,01

5,06 5,19

5,06 5,27

5,17 5,18 5,07

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2017 2018 2019

(27)

14 Rekaman sebesar 9,22 persen (YoY) meskipun lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 10,28 persen. Pertumbuhan triwulan ini masih lebih tinggi dari triwulan I tahun 2018 yang sebesar -5,99 persen. Hal tersebut didorong oleh aktivitas kampanye yang telah dimulai sejak akhir tahun 2018 hingga menjelang bulan pemilihan.

Pertumbuhan sektor Pertanian melambat disebabkan perubahan masa

panen.

Sementara itu, terkontraksinya pertumbuhan subsektor Tanaman Pangan sebesar -5,94 persen memperlambat pertumbuhan di sektor Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Perikanan. Pertumbuhan pada triwulan ini sebesar 1,81 persen (YoY), lebih kecil dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,87 persen (YoY) maupun triwulan I tahun 2018 yang sebesar 3,34 persen (YoY). Faktor gagal panen dan pergeseran masa panen raya menyebabkan perlambatan tersebut.

Tanaman pangan diperkirakan akan panen pada bulan April.

Kinerja sektor Transportasi dan Pergudangan melambat.

Pertumbuhan sektor Transportasi dan Pergudangan pada triwulan I tahun 2019 sebesar 5,25 persen, lebih lambat dibandingkan triwulan I tahun 2018 (8,56 persen, YoY) maupun triwulan sebelumnya (5,34 persen, YoY). Hal tersebut terutama disebabkan oleh tingginya harga tiket pesawat sehingga pertumbuhan Angkutan Udara terkontraksi hingga -10,15 persen pada triwulan ini. Kondisi ini mendorong terjadinya pergeseran penumpang pada moda transportasi lainnya yakni kereta

api dan transportasi laut yang tumbuh signifikan sebesar 6,78 persen dan 5,62 persen.

Konsumsi LNPRT tumbuh paling tinggi dari sisi pengeluaran.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2019 didorong oleh Konsumsi LNPRT yang tumbuh mencapai 16,9 persen (YoY).

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari triwulan I tahun 2018 yang sebesar 8,1 persen maupun dari triwulan sebelumnya sebesar 10,79 persen.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas partai politik dan organisasi masyarakat berskala nasional pada masa kampanye Pemilu 2019.

Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Jenis Pengeluaran (persen, YoY) Jenis Pengeluaran 2018 2019

Q1 Q4 Q1

Konsumsi RT 4,94 5,08 5,01

Konsumsi LNPRT 8,10 10,79 16,93 Konsumsi

Pemerintah

2,71 4,56 5,21

PMTB 7,94 6,01 5,03

Ekspor 5,94 4,33 -2,08

Impor 12,64 7,10 -7,75

PDB 5,06 5,18 5,07

Sumber: Badan Pusat Statistik

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi yang merupakan penggerak perekonomian Indonesia tumbuh melambat pada triwulan ini. Investasi tumbuh dibawah pertumbuhan Produk Domestik Bruto. Perlambatan kedua sektor tersebut membuat perekonomian tidak tumbuh maksimal.

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh sebesar 5,01 persen pada triwulan ini lebih rendah dibanding triwulan I tahun 2018 yang sebesar 5,08 persen, namun lebih tinggi dari triwulan I

(28)

15 tahun 2018 (4,94 persen, YoY).

Pendorong pertumbuhan terutama dari kelompok Kesehatan dan Pendidikan sebesar 5,66 persen dan kelompok Makanan dan Minuman Selain Restoran sebesar 5,29 persen.

Pertumbuhan investasi sebesar 5,03 persen mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya (6,01 persen, YoY) maupun triwulan I tahun 2018 yang mencapai 7,94 persen. Hal ini sejalan dengan turunnya indikator investasi swasta maupun pemerintah.

Turunnya investasi pemerintah tercermin dari realisasi belanja modal yang terkontraksi sebesar 6,7 persen pada triwulan ini. Investasi Mesin dan Peralatan tumbuh melambat menjadi 8,4 persen dari tahun lalu yang rata-rata mampu mencapai 20 persen.

Gambar 6. Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi terhadap PDB

Sumber: Badan Pusat Statistik

Ekspor dan impor terkontraksi sepanjang triwulan I tahun 2019.

Aktivitas ekspor barang maupun jasa mengalami penurunan yang menyebabkan pertumbuhan ekspor total terkontraksi hingga -2,08 persen pada triwulan I tahun 2019. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan I tahun 2018 (5,94 persen, YoY) maupun triwulan sebelumnya (4,33 persen, YoY). Volume ekspor komoditas utama nonmigas turun sepanjang triwulan ini. Selain itu, ekspor migas juga mengalami penurunan volume yang disertai penurunan harga komoditas dunia sehingga terkontraksi sebesar - 9,42 persen (YoY). Selain itu, permintaan dari beberapa negara mitra dagang juga turun terkait dengan lesunya kondisi ekonomi global.

Di sisi lain, impor terkontraksi lebih dalam dari ekspor hingga -7,75 persen (YoY), lebih rendah dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya maupun triwulan I tahun 2018. Penurunan nilai dan volume impor migas menyebabkan kontraksi hingga -22,95 persen. Di sisi lain, volume impor nonmigas turun terutama pada barang modal dan bahan baku yang masing-masing terkontraksi sebesar -4,64 dan 7,17 persen. Seiring dengan turunnya aktivitas ekspor dan impor barang pada triwulan I tahun 2019, impor jasa untuk jasa angkutan juga turut terkontraksi.

Indeks Tendensi Bisnis menunjukkan optimisme yang lebih rendah.

Sesuai dengan prediksi triwulan sebelumnya, kondisi bisnis membaik namun optimisme pelaku bisnis pada triwulan I tahun 2019 kembali menurun dengan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) 0,00

1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1

2016 2017 2018 2019

PDB

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

Pembentukan Modal Tetap Bruto

(29)

16 sebesar 102,1. Kondisi bisnis yang membaik dan optimisme pelaku bisnis tertinggi terdapat pada sektor Jasa Keuangan dan Asuransi. Sementara kondisi bisnis terendah terjadi pada sektor Pertambangan dan Penggalian yang memiliki indeks sebesar 92,04. Pada triwulan II tahun 2019, kondisi bisnis seluruh lapangan usaha diperkirakan akan meningkat kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian. Selain itu optimisme pelaku usaha juga diperkirakan meningkat.

Gambar 7. Indeks Tendensi Bisnis Tahun 2018-2019

Catatan:

ITB berkisar antara 0 sampai dengan 200 dengan indikasi sebagai berikut:

a. Nilai ITB < 100 menunjukkan kondisi pada triwulan berjalan menurun dibanding triwulan sebelumnya

b. Nilai ITB=100 menunjukkan kondisi bisnis pada triwulan berjalan tidak mengalami perubahan (stagnan) dibanding triwulan sebellumnya

c. Nilai ITB > 100 menunjukkan kondisi bisnis pada triwulan berjalan lebih baik (meningkat)dibanding triwulan sebelumnya

d. * = Angka perkiraan Sumber: BPS, diolah

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) triwulan I tahun 2019 sebesar 104,35, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 103,83 namun

menurun dibanding triwulan sebelumnya (110,54). Sejalan dengan kondisi bisnis, kondisi ekonomi konsumen dapat dikatakan meningkat namun dengan tingkat optimisme yang lebih rendah dari triwulan sebelumnya.

Perkembangan Ekonomi Regional

Sebagian besar kawasan mengalami pertumbuhan positif kecuali Maluku

dan Papua.

Rata-rata perekonomian Maluku dan Papua mengalami kontraksi -10,44 persen (YoY), tumbuh lebih lambat dibandingkan triwulan I tahun 2018 yang mencapai 17,2 persen (YoY) maupun triwulan sebelumnya dengan pertumbuhan -9,4 persen (YoY).

Perlambatan ini dipengaruhi oleh penurunan yang signifikan di sektor utama perekonomian Maluku dan Papua yaitu Pertambangan dan Penggalian.

Gambar 8. Pertumbuhan dan Kontribusi Ekonomi Spasial

Sumber: Badan Pusat Statistik

Papua memiliki proporsi terbesar bagi perekonomian Maluku dan Papua, yaitu mencapai 51,79 persen. Pada triwulan I tahun 2019, perekonomian Papua terkontraksi semakin dalam menjadi 106,28

112,82 108,05

104,71 102,10

106,44

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2*

2018 2019

21,4 59,0

3,0

8,3 6,1 2,2 4,5 5,7 4,6

5,3 6,5 -10,4 Sumatera Jawa Bali dan

Nusa Tenggara

Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua

Kontribusi Pertumbuhan

(30)

17 sebesar-20,13 persen (YoY), dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2018 yang sebesar -17,79 persen (YoY) maupun triwulan I tahun 2018 sebesar - 11,12 (YoY). Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi hingga -23,55 persen yang disebabkan oleh penurunan nilai produksi PT Freeport. Jika perekonomian Papua dihitung tanpa sektor usaha Pertambangan dan Penggalian, pertumbuhannya sebesar 6,3 persen (YoY). Penurunan produksi tersebut juga berdampak pada ekspor luar negeri yang terkontraksi hingga -63,6 (YoY).

Tabel 3. Pertumbuhan Ekonomi di Maluku dan Papua

Pertumbuhan (%YoY)

Proporsi terhadap Pulau (%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 2018

Q1- 2019

Maluku 5,4 6,3 11,7 13,2

Maluku Utara

7,9 7,7 9,7 11,4 Papua Barat 5,9 -0,3 21,5 23,6 Papua 26,5 -20,1 57,1 51,8 Rata-rata 17,2 -10,4 100 100 Sumber: Badan Pusat Statistik

Sementara itu, perekonomian Sulawesi tumbuh paling cepat diantara kawasan yang lain, yakni sebesar 6,51 persen, meningkat dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2018 yang sebesar 6,2 persen (YoY). Pertumbuhan ekonomi provinsi di Sulawesi diatas 6 persen kecuali Sulawesi Barat dengan laju pertumbuhan sebesar 5,21 persen.

Pertumbuhan tersebut lebih rendah dari triwulan I tahun 2018 (5,57 persen, YoY) maupun dari triwulan sebelumnya (5,32 persen, YoY). Secara keseluruhan, kawasan Sulawesi memberi kontribusi

sebesar 6,14 persen bagi perekonomian nasional.

Sulawesi Tengah merupakan provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sulawesi yang tumbuh mencapai 6,77 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan ditopang oleh lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 17,50 persen. Struktur lapangan usaha Sulawesi Tengah didominasi oleh empat lapangan usaha utama, yaitu: Pertanian, Kehutanan dan Perikanan;

Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan; serta Konstruksi. Sementara itu dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari ekspor yang tumbuh sebesar 12,7 persen (YoY).

Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Pertumbuhan

(%, YoY)

Proporsi terhadap Pulau

(%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 201 8

Q1- 2019

Sulut 6.62 6,58 12,5 12,44 Sulteng 6.63 6,77 16,1 16,47 Sulsel 7.35 6,56 49,9 49,92 Sultra 6.15 6,33 12,5 12,49 Gorontalo 6.13 6,72 4,24 4,21 Sulbar 5.57 5,21 4,62 4,47 Rata-rata 6,83 6,51 100 100 Sumber: Badan Pusat Statistik

Kontribusi Jawa terhadap ekonomi nasional sebesar 59,03 persen . Rata-rata pertumbuhan ekonomi di Jawa sebesar 5,66 persen (YoY), sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan proporsi perekonomian terbesar di Jawa. DI Yogyakarta tumbuh paling cepat di pulau Jawa dengan pertumbuhan sebesar 7,5 persen lebih tinggi dari triwulan

(31)

18 sebelumnya maupun triwulan I tahun 2018.

Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Pertumbuhan

(%, YoY)

Proporsi terhadap Pulau (%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 2018

Q1- 2019 DKI Jakarta 5,95 6,23 29,5 29,94 Jawa Barat 5,90 5,43 22,4 22,42 Jawa

Tengah

5,37 5,14

14,6 14,42

DIY 5,41 7,50 1,49 1,51

Jawa TImur 5,42 5,51 24,9 24,69

Banten 5,84 5,42 7,03 7,03

Rata-rata 5,70 5,66 100 100 Sumber: Badan Pusat Statistik

Sumber pertumbuhan tertinggi DI Yogyakarta pada triwulan I tahun 2019 adalah sektor Konstruksi yang tumbuh hingga 20,62 persen. Pembangunan jalan serta bandara Yogyakarta International Airport menjadi pendorong laju pertumbuhan konstruksi. Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) merupakan sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi yakni 2,57 persen dengan pertumbuhan sebesar 10,39 persen.

Sumatera tumbuh sebesar 4,55 persen (YoY), cenderung stagnan dibandingkan triwulan IV tahun 2018 yang tumbuh sebesar 4,5 persen (YoY). Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan memiliki proporsi terbesar pada perekonomian Sumatera yaitu masing- masing sebesar 23,3 persen, 22,4 persen dan 13,1 persen. Sumatera Selatan merupakan provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sumatera yakni sebesar 5,68 persen. Pertumbuhannya terutama didorong oleh sektor utamanya yaitu Pertambangan dan Penggalian yang tumbuh sebesar 9,41 persen, lebih tinggi

dari triwulan sebelumnya maupun triwulan I tahun 2018. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya produksi batubara, naiknya produksi minyak dan gas bumi serta penemuan cadangan gas baru di Blok Sakakemang.

Tabel 6. Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Pertumbuhan

(%, YoY)

Proporsi terhadap Pulau

(%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 2018

Q1- 2019

Aceh 3,22 3,88 4,80 4,72

Sumut 4,73 5,30 23,1 23,33

Sumbar 4,71 4,78 7,15 7,14 Riau 2,84 2,88 23,2 22,42 Jambi 4,61 4,73 6,43 6,48 Sumsel 5,86 5,68 12,9 13,13 Bengkulu 5,10 5,01 2,07 2,13 Lampung 5,09 5,18 10,4 10,59 Kep.

Bangka Belitung

2,51 2,79 2,30 2,19 Kep. Riau 4,48 4,76 7,68 7,88 Rata-rata 4,34 4,55 100 100

Sumber: Badan Pusat Statistik

Bali dan Nusa Tenggara tumbuh sebesar 4,64 persen (YoY), lebih tinggi dari triwulan IV tahun 2018 yang sebesar 4,4 persen (YoY). Bali merupakan provinsi dengan proporsi perekonomian terbesar di Bali dan Nusa Tenggara, yaitu mencapai sebesar 51,9 persen. Pada triwulan I tahun 2019, Bali tumbuh sebesar 5,9 persen (YoY), lebih rendah dari triwulan IV tahun 2018. Sementara itu, Nusa Tenggara Barat kembali tumbuh positif (2,12 persen, YoY) setelah mengalami kontraksi sebesar -1,4 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2018 akibat gempa bumi. Pembangunan sarana dan prasarana fisik pasca bencana mendorong peningkatan di sektor Konstruksi yang merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,14 persen.

(32)

19 Tabel 7. Pertumbuhan Ekonomi di Bali dan

Nusa Tenggara Pertumbuhan

(%, YoY)

Proporsi terhadap Pulau

(%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 2018

Q1- 2019

Bali 5,58 5,94 51,4 51,85

NTB 0,06 2,12 27,5 26,82

NTT 5,01 5,09 21,2 21,33

Rata-rata 3,77 4,64 100 100 Sumber: Badan Pusat Statistik

Kawasan Kalimantan secara keseluruhan merupakan kontributor pertumbuhan terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera. Kontribusi Kalimantan pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8,26 persen. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi di Kalimatan adalah sebesar 5,3 persen (YoY), lebih rendah dari triwulan IV tahun 2018 yang sebesar 5,5 persen (YoY).

Tabel 8. Pertumbuhan Ekonomi di Kalimantan Pertumbuhan

(%, YoY)

Proporsi terhadap Pulau

(%) Q1-

2018 Q1- 2019

Q1- 2018

Q1- 2019 Kalbar 5,06 5,07 15,8 16,11 Kalteng 4,47 6,03 11,4 11,61 Kalsel 4,98 4,08 13,4 13,11

Kaltim 1,77 5,36 52,4 51,9

Kaltara 5,76 7,13 7,0 7,28

Rata-rata 3,24 5,33 100 100 Sumber: Badan Pusat Statistik

Kalimantan Timur memiliki proporsi tertinggi sebesar 51,9 persen terhadap perekonomian Kalimantan. Pada triwulan I tahun 2019, Kalimantan Timur tumbuh sebesar 5,4 persen (YoY), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan pada sektor Konstruksi yang tumbuh mencapai 16,14 persen. Sektor utama Kalimantan Timur yakni

Pertambangan dan Penggalian, tumbuh positif sebesar 7,19 persen.

Investasi

Pembentukan Modal Tetap Bruto pada triwulan I tahun 2019 tumbuh sebesar

5,03 persen YoY

Dalam perhitungan PDB sisi pengeluaran, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) triwulan I tahun 2019 tumbuh sebesar 5,03 persen (YoY) dan terkontrkasi sebesar -5,74 persen (QtQ).

Pada komponen PMTB, pertumbuhan triwulan I tahun 2019 (YoY) didorong oleh pertumbuhan Bangunan 5,48 persen; Mesin dan Kendaraan sebesar 3,34 persen; CBR sebesar 9,32 persen dan Produk Kekayaan Intelektual sebesar 9,13 persen.

Tabel 9. Perkembangan Pembentukan Modal Tetap Bruto

Kategori PDB Pengeluaran

Nilai (Miliar Rupiah) Proporsi thd Total PDB (%) 2018

Tw-I 2018 Tw-IV

2019 Tw-I Pembentukan

Modal Tetap Bruto (PMTB)

820,6 914,3 861,8 32,2 a. Bangunan 611,9 676,9 645,5 24,2 b. Mesin dan

Kendaraan 84,4 104,7 91,5 3,3 c. Kendaraan 51,1 51,2 47,4 1,6 d. Peralatan

lainnya 15,0 15,2 14,0 0,5

e. CBR 39,8 46,7 43,5 1,7

f. Produk Kekayaan Intelektual

18,3 19,6 20,0 0,8 Total PDB

Pengeluaran 2.498,5 2.638,9 2.625,0 100 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Pada triwulan I tahun 2019, realisasi PMA mencapai USD7.194,6 sedangkan realisasi PMDN mencapai Rp87,2 triliun Realisasi PMA pada triwulan I tahun 2019 adalah sebesar USD7.194,6 juta.

(33)

20 Nilai ini mengalami penurunan sebesar 11,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan komposisi antarsektor, realisasi PMA didominasi oleh sektor tersier yakni sebesar 62.3 persen.

Realisasi PMDN pada triwulan I tahun 2019 sebesar Rp87,2 triliun. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 14,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama

tahun sebelumnya. Kenaikan PMDN terjadi pada sektor tersier sebesar 36,6 persen dan sektor primer sebesar 12,3 persen. Sedangkan pada sektor sekunder, realisasi PMDN mengalami penurunan sebesar 24,8 persen (YoY).

Berdasarkan komposisi antarsektor, realisasi PMDN pada triwulan I tahun 2019 juga didominasi oleh sektor tersier yakni sebesar 60,6 persen.

Tabel 10. Realisasi PMA dan PMDN Berdasarkan Kategori Utama Sektor Ekonomi

Periode PMA (Triliun Rupiah) PMDN (Triliun Rupiah)

Primer Sekunder Tersier Total Primer Sekunder Tersier Total

2018 Tw-I 18.56 46.35 57.06 121.96 16,29 21,4 38,66 76,35

2018 Tw-IV 18.03 36.11 56.67 110.80 14,25 20,41 52,27 86,93

2019 Tw-I 12.54 28.10 67.28 107.92 18,29 16,1 52,81 87,2

Pertumbuhan

(QtQ) -30,42 -22,17 18,71 -2,60 28,35 -21,12 1,03 0,31

Pertumbuhan

(YoY) -32,41 -39,37 17,91 -11,51 12,28 -24,77 36,60 14,21

Proporsi (%) 11,62 26,04 62,34 100 20,97 18,46 60,56 100

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Catatan:

Kurs 2018 Tw-I: Rp13.400/USD Kurs 2018 Tw-IV: Rp13.400/USD Kurs 2019 Tw-I: Rp15.000/USD

Tabel 11. Lima Sektor dengan Realisasi PMA Terbesar

Sektor Nilai (Triliun Rupiah) Proporsi (%) Pertumbuhan YoY (%) Transportasi, Gudang dan

Telekomunikasi 24.63 22.82 400.66

Listrik, Gas dan Air 22.90 21.22 77.58

Perumahan, Kawasan Industri dan

Perkantoran 14.24 13.20 -49.79

Pertambangan 9.22 8.55 -4.01

Industri Logam Dasar, Barang Logam,

Bukan Mesin dan Peralatannya 9.17 8.50 -0.63

Gabungan Sektor Lainnya 27.76 25.72 23.29

Total 107.92 100.00 -11.51

Sumber: BKPM, diolah Catatan:

Kurs 2018 Tw-I: Rp13.400/USD Kurs 2018 Tw-IV: Rp13.400/USD Kurs 2019 Tw-I: Rp15.000/USD

Realisasi PMA terbesar adalah sektor Transportasi, Gudang dan

Telekomunikasi.

Sektor dengan kontribusi terbesar pada realisasi PMA adalah: (1) Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi; (2) Listrik, Gas dan Air; (3) Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran; (4)

(34)

21 Pertambangan; dan (5) Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya. Lima sektor di atas berkontribusi sebesar 74,28 persen terhadap total realisasi PMA pada triwulan I tahun 2019.

Tabel 12. Lima Sektor dengan Realisasi PMDN Terbesar

Sektor

Nilai (Triliun Rupiah)

Proporsi (%)

Pertumbuhan YoY (%) Konstruksi 19,25 22,08 47,59 Transportasi,

Gudang dan Telekomunikasi

12,71 14,58 23,82 Listrik, Gas dan

Air 10,29 11,80 32,45

Industri

Makanan 8,93 10,24 -6,61

Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan

8,76 10,04 -17,53 Gabungan

Sektor Lainnya 59,94 68,74 16,93

Total 87,20 100 14,2

Sumber: BKPM, diolah

Realisasi PMDN terbesar adalah sektor Konstruksi

Sektor dengan kontribusi terbesar pada realisasi PMDN adalah: (1) Konstruksi; (2) Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi; (3) Listrik, Gas, dan Air;

(4) Industri Makanan; dan (5) Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan.

Lima sektor di atas berkontribusi sebesar 68,74 persen terhadap total realisasi PMDN pada triwulan I tahun 2019.

Tabel 13. Realisasi dan Target Realisasi PMA dan PMDN dalam Triliun Rupiah

Kategori 2018 Tw-I 2018 Tw-IV 2019 Tw-I

PMA 108.9 99.0 107.9

PMDN 76.4 86.9 87.2

Total 185.3 185.9 195.1

Target RKP 765.0 765.0 850.0 Sumber: BKPM, diolah

Total Realisasi PMA dan PMDN pada triwulan I tahun 2019 sebesar Rp195,1

triliun

Total realisasi PMA dan PMDN pada triwulan I tahun 2019 adalah sebesar Rp195,1 triliun, mencapai 24,63 persen dari target realisasi investasi tahun 2019 yakni Rp792 triliun. Realisasi PMA dan PMDN pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp185,3 triliun, tumbuh sebesar 5,29 persen.

Tabel 14. Proporsi PMA dan PMDN terhadap Realisasi Investasi (dalam Persen) Periode PMA PMDN

Target RKP (Tahunan)

Target RPJMN (Tahunan) 2018 Tw-I 58,77 41,23 37,6 37,6 2018 Tw-IV 53,25 46,75 37,6 37,6 2019 Tw-I 55,30 44,70 38,9 38,9 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah

Kontribusi PMDN terhadap Total Realisasi Investasi pada triwulan I tahun

2019 sebesar 44,70 persen Realisasi PMDN pada triwulan I tahun 2019 berkontribusi sebesar 44,70 persen terhadap total Realisasi Investasi.

Realisasi ini sudah mencapai target dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2019 yakni 38,9 persen.

Gambar

Gambar 1. Perbandingan Rasio Volume Muatan terhadap Jumlah Kapal Tahun 1990-2018 (DWT/unit)
Gambar 2. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I  Tahun 2019 di Beberapa Negara
Gambar 6. Perkembangan Konsumsi Rumah  Tangga dan Investasi terhadap PDB
Tabel 10. Realisasi PMA dan PMDN Berdasarkan Kategori Utama Sektor Ekonomi
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Neraca perdagangan Kalimantan Utara pada bulan Februari 2015 surplus sebesar US$ 116,96 juta, lebih besar jika dibanding surplus bulan Januari 2015 sebesar US$ 91,19 juta,

 Neraca perdagangan Kalimantan Utara pada bulan April 2015 surplus sebesar US$ 84,90 juta, lebih kecil jika dibanding surplus bulan Maret 2015 sebesar US$ 248,99 juta,

Di tengah ancaman pandemi COVID-19 yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi secara global, pada triwulan I tahun 2020 kinerja penerimaan perpajakan Indonesia mengalami

Dengan demikian Divisi Usaha Kecil pada SBU Komersial ini menghadapi tantangan berat baik internal dan eksternal karena selain mengalami perubahan organisasi, belum banyak

 Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari  Juli 2017 naik 13,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil

TABEL 9.. Dari laporan surplus/defisit diatas, bisa dilihat bahwa sebenarnya ATHAS mengalami defisit yang cukup besar pada periode Juli 2013 sampai dengan Juni 2014. Namun

TABEL 9.. Dari laporan surplus/defisit diatas, bisa dilihat bahwa sebenarnya ATHAS mengalami defisit yang cukup besar pada periode Juli 2013 sampai dengan Juni 2014. Namun

Apabila dibandingkan dengan targetnya terhadap APBN, realisasi DAU sampai dengan akhir Juni 2019 mencapai 58,26 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi periode yang