AGAMA DAN EKONOMI
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Agama
Disusun oleh : Moh. Hisyam MS (U20182041) Muhammad Shodikil Amin (221104020008)
Dosen Pengampu : Dr. H. Imam Bonjol Juhari, M.Si.
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KH. ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
PROGRAM STUDI ILMU HADIS
NOVEMBER 2023
KATA PENGANTAR
Puji Syukur atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Agama yang diampu oleh Dr. H. Imam Bonjol Juhari, M.Si. Selain itu makalah ini juga bertujuan memperkaya diskursus kita mengenai Sosiologi Agama, khususnya seputar diskursus Agama dan Ekonomi.
Penulis menyadari, bahwa makalah yang disajikan kali ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah sederhana ini mampu memberikan manfaat berupa surplus pengetahuan terhadap pembacanya.
Jember, 02 November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
Hal Halaman Judul ...
Kata Pengantar ...
Pedoman Transliterasi ...
BAB I PENDAHULUAN ...
A. Latar Belakang ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan Penulisan ...
BAB II PEMBAHASAN ...
A. Definisi Agama ...
B. Definisi Ekonomi ...
C. Keterkaitan antara Agama dan Ekonomi ...
BAB III PENUTUP ...
A. Kesimpulan ...
B. Saran ...
Daftar Pustaka ...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama dan ekonomi merupakan dua hal penting dalam dimensi kehidupan manusia. Keduanya nyaris tak dapat dipisahkan sebab senantiasa berkait-kelindan dalam kehidupan sosial. Kajian tentang keduanya sebenarnya sudah sejak lama dilakukan oleh para sosiolog, sebut saja misalnya Max Weber dengan penelitiannya yang berjudul “Etika Protestan & Spirit Kapitalisme”.1 Dalam penelitiannya tersebut, Max Weber mengemukakan bahwa orang-orang Protestan berbeda dengan orang-orang Katolik dalam hal etos kerja. Weber mendapati bahwa orang-orang Protestan berdasarkan paham keagamaannya memiliki etos kerja yang lebih besar dari pada orang-orang Katolik.
Di dalam dunia Islam kajian mengenai agama dan ekonomi sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum adanya penelitian Max Weber tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet nama-nama ekonom muslim seperti Abu Yusuf, Yahya ibn Adam, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, al-Izz ibn ‘Abd al-Salam, al-Farabi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, al-Marqizi, dan lain-lain.2
Selain tokoh-tokoh tersebut, masih terdapat tokoh-tokoh yang melakukan penelitian tentang bagaimana agama memberikan pengaruh dalam aktivitas ekonomi, khususnya dalam konteks Indonesia. Sebut saja misalkan Clifford Geertz yang meneliti tentang reformisme Islam dan perkembangan ekonomi modern di Jawa; Lance Castle melakukan penelitian tentang aktivitas agama, politik dan ekonomi di Jawa pada masyarakat industri rokok di Kudus;
Radjasa dan Munir Mulkhan meneliti tentang bisnis kaum sufi studi Tarekat dalam masyarakat industrial dengan mengambil kasus di Kudus Kulon; dan
1 Max Weber, Etika Protestan & Spirit Kapitalisme, trans. TW Utomo and Yusup Priya Sudiarja (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).
2 Choirul Huda, “Pemikiran Ekonomi Bapak Ekonomi Islam; Ibnu Khaldun,” Economica: Journal of Islamic Economics 4, no. 1 (2013): 103–24.
Dobbin yang meneliti ekonomi petani gerakan paderi 1784-1847 di Minangkabau.3
Melalui paparan tentang adanya fokus terhadap kajian ekonomi dan agama tersebut di atas, kendati penulis hanya menyebutkan Protestan dan Islam, bukan berarti dalam agama lainnya tidak terdapat nilai-nilai moral dalam memberikan etos kerja bagi pemeluknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pengantar yang begitu sederhana dalam diskursus agama dan ekonomi. Sebab ia didasarkan pada literatur yang serba minimal, sedangkan topik yang diangkat begitu maksimal.
Dengan literatur yang serba minimal, kemudian penulis memberanikan diri untuk mengangkat tema kajian yang berat dan kompleks ini, yaitu tentang
“Agama dan Ekonomi”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi agama?
2. Bagaimana definisi ekonomi?
3. Bagaimana keterkaitan antara agama dan ekonomi?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi agama 2. Untuk mengetahui definisi ekonomi
3. Untuk mengetahui keterkaitan antara agama dan ekonomi
3 Nanang Rustandi, “AGAMA DAN PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI,” Tsaqafah 18, no. 02 (2020): 185–216.
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Agama
Hal pertama yang perlu diketengahkan sebelum membahas agama secara definitif adalah bahwa yang akan diuraikan dalam pembahasan ini adalah definisi agama dalam konteks kajian sosiologi-antropologi. Dalam hal ini posisi agama tidak hanya dilihat sebagai suatu hal yang berorientasi pada wilayah teologis-eskatologis. Akan tetapi agama ditinjau sebagai suatu hal yang memberikan impact pada kebudayaan dan aktivitas sosial manusia.
Setidaknya secara garis besar, terdapat dua perspektif atau paradigma dalam penelitian atau kajian agama. Kedua perspektif tersebut adalah perspektif normatif dan perspektif sosio-historis. Perspektif pertama dalam dunia ilmiah dikenal dengan sebutan studi islam teologik, yang meliputi; ulum al-Qur’an, ulum al-Hadis, ilmu tafsir, ilmu kalam, fiqh, dan tasawuf dengan masing- masing ilmu bantunya. Pendekatan ini lebih fokus pada pencarian moralitas ajaran agama berdasarkan referensi-referensi keilmuan Islam masa klasik.
Perspektif ini berupaya menangkap “pesan langit” berdasarkan penalaran deduktif untuk kepentingan umat di bumi.4
Sedangkan menurut perspektif yang kedua (sosio-historis), agama dilihat dan ditempatkan dalam tataran sosial-budaya umat manusia dalam ikatan sejarah yang tidak terlepas dari lingkungan dan kurun waktu yang melingkupinya. Dalam perspektif ini, agama (baca: keberagamaan) dipotret dari gejala-gejalanya yang empirik yang dapat ditangkap dengan panca indera dalam realitas sosial. Dalam konteks ini, agama dianggap dan diyakini sebagai bagian (sub-sistem) sosial-budaya yang tidak berbeda kaidah dan dasar-dasarnya untuk dianalisis seperti juga pranata-pranata sosial-budaya yang lain. Dalam perspektif kedua inilah para ilmuwan sosial banyak berhimpun. Kedua
4 Muhammad Yazid, “Agama Dan Etos Kerja : Studi Analisis Terhadap Paham Keagamaan Dan Prilaku Ekonomi,” Al-Qanun 10, no. 2 (2007): 426–39.
perspektif tersebut telah membawa kita kepada implikasi- implikasi metodologis tertentu dengan sudut kebenaran masing-masing.5
Agama dalam pengertian teologis sebagai seperangkat ajaran yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya, antara manusia dengan manusia lainnya, dan antara manusia dan alam lingkungannya, tak lagi dapat dipakai untuk menjelaskan gejala-gejala sosiologis hubungan interaksional timbal balik antara agama dan masyarakat. Alasannya, definisi agama seperti itu, ternyata lebih menekankan peran agama sebagai pengatur kehidupan dan kurang memberikan tekanan pada faktor manusia sebagai penganut dan penginterpretasi ajaran agama.6
Dari sini, ahli sosiologi atau antropologi lebih menyukai definisi agama sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz, yaitu sebagai sistem simbol yang bertindak untuk memantapkan perasaan (moods) dan motivasi secara kuat, menyeluruh dan bertahan lama pada diri manusia, dengan cara memformulasikan konsepsi mengenai suatu hukum (order) yang berlaku umum, berkenaan dengan eksistensi (manusia), dan menyelimuti konsepsi ini dengan suatu aura tertentu yang mencerminkan kenyataan, sehingga perasaan dan motivasi tersebut tampaknya secara tersendiri (unik) yakni nyata ada.7
Selain Geertz, sebut saja Durkheim misalnya, memberikan definisi yang berbeda terhadap apa yang disebut dengan agama. Dalam pandangan Durkheim, agama merupakan sistem yang menyatu mengenai berbagai kepercayaan dan peribadatan dengan benda-benda sakral, benda-benda terpisah dan terlarang, kepercayaan dan peribadatan yang mempersatukan semua orang yang menganutnya ke dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja. Durkheim tertarik pada unsur-unsur solidaritas masyarakat. Dia mencari prinsip yang mempertalikan anggota masyarakat. Durkheim menyatakan agama harus mempunyai fungsi. Agama bukan ilusi, melainkan merupakan fakta sosial yang dapat diidentifikasi dan mempunyai kepentingan sosial. Bagi Durkheim, agama
5 Yazid.
6 M. Ridwan Lubis, Sosiologi Agama: Memahami Perkembangan Agama Dalam Interaksi Sosial (Jakarta: Kencana, 2015), 86.
7 Lubis, 87.
memainkan peranan yang fungsional, karena agama merupakan prinsip solidaritas masyarakat.8
B. Definisi Ekonomi
Ekonomi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani oikonomikos, oikonomia, dari kata oikos (rumah, tempat tinggal) dan nemein (mengurus, mengelola). Sedangkan secara terminologi adalah sebuah ilmu sosial yang objeknya ialah sumber-sumber yang langka, terbatas di satu pihak, dan keinginan atau kebutuhan yang tidak terbatas di lain pihak. Ekonomi berusaha mewujudkan keseimbangan (equilibrium) antara penawaran (barang-barang yang terbatas dan pelayanan) dan permintaan (kebutuhan yang tidak terbatas, sehingga kemakmuran sebesar-besarnya dapat dicapai dan dengan demikian hal itu merupakan satu segi kebudayaan dan bagian integral dari hidup sosial manusia.9
Pemikiran tentang ekonomi sudah berkembang sejak era Yunani klasik (abad ke-5 sampai ke-4 SM). Pada era ini ekonomi masih menjadi bagian dari filsafat, khususnya filsafat moral. Walaupun masih belum cukup kompleks, akan tetapi pemikiran ekonomi di era ini merupakan peletak dasar dari perkembangan ekonomi di era selanjutnya. Dua peletak dasar yang menjadi kunci perkembangan ekonomi adalah Plato dan Aristoteles.
Gagasan Plato tentang ekonomi terdapat dalam gagasannya tentang keadilan dalam konsep negara ideal-nya yang terdapat dalam buku The Republic. Plato sangat tidak setuju dengan kemewahan, dan menginginkan agar manusia hidup sejahtera dengan merata. Oleh karenanya, bagi Plato keinginan dan kebutuhan manusia harus dikendalikan.10
Sedangkan Aristoteles yang merupakan murid dari Plato memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran ekonomi dengan gagasannya tentang pertukaran barang (exchange of commodities) dan kegunaan uang dalam pertukaran barang tersebut. Dalam pandangan Aristoteles, kebutuhan manusia
8 Lubis, 92.
9 Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 183.
10 Muhammad Hasan et al., Sejarah Pemikiran Ekonomi, Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Bandung: Penerbit Media Sains Indonesia, 2020), 4.
(man’s need) tidak terlalu banyak, tetapi keinginannya (man’s desire) relatif tanpa batas. Ia membenarkan dan menganggap alami kegiatan produksi yang dimaksudkan untuk menghasilkan barang-barang guna memenuhi kebutuhan akan tetapi, kegiatan produksi untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas itu disebutnya sebagai sesuatu yang tidak alami (unnatural).
Melalui gagasan dasar dari era Yunani klasik tersebut, ilmu ekonomi terus mengalami perkembangannya. Ia berjalan mengarungi era skolastik, modern, dan hingga kini. Dan keseluruhan pergulatannya membahas sebagaimana definisi awal yang telah disebut sebelumnya, yaitu tentang kehendak menuju keseimbangan (equilibrium) dalam menghadapi penawaran yang terbatas dan permintaan yang tidak terbatas.
C. Keterkaitan antara Agama dan Ekonomi
Keterkaitan agama dan ekonomi dalam kajian sosiologi agama merupakan kajian multidisipliner yang membutuhkan berbagai pendekatan.
Sebab dalam kajian ini akan diurai bagaimana agama sebagai suatu bagian spiritual dalam kehidupan manusia memiliki keterkaitan dengan tindak-tanduk perekonomian di tengah-tengah arena sosial.
Perspektif atau paradigma di atas sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Dalam pandangan Amin Abdullah sebagaimana dikutip oleh Yazid, keduanya bisa diintegrasikan dengan asas saling melengkapi untuk menghasilkan paradigma yang lebih mapan dalam wacana ilmiah. Hal ini kita sadari, karena pada dasarnya peradaban umat beragama tidak lain adalah suatu hasil akumulasi perjalanan pergumulan penganut agama ketika berhadapan dengan proses dialektika antara “normativitas” ajaran wahyu yang permanen dan “historisitas” pengalaman kekhalifahan manusia di muka bumi yang terkait ruang dan waktu. Hubungan tarik-menarik antara kedua dimensi tersebut, senantiasa mewarnai perjalanan pemikiran keagamaan sepanjang masa.11
Yazid menambahkan bahwa sebenarnya penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti kewahyuannya, melainkan meneliti manusia
11 Yazid, “Agama Dan Etos Kerja : Studi Analisis Terhadap Paham Keagamaan Dan Prilaku Ekonomi.”
atau kelompok manusia yang menghayati, meyakini, dan memperoleh pengaruh dari agama. Atau dengan kata lain, penelitian agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi, tetapi terfokus pada bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosial-kultural.
Oleh karena itu, penelitian atau kajian agama di sini lebih diarahkan pada gejala-gejala keagamaan, yang terwujud dalam (1) bentuk pengetahuan dan pikiran manusia, dan (2) sikap dan tindakan manusia.12
Manusia di antara dua persoalan, yaitu agama dan ekonomi merupakan hal yang dilematis. Ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pentingnya, yaitu mengutamakan agama sehingga kehidupan ekonominya tertinggal, atau mengutamakan ekonomi sehingga manusia mengalami kepincangan spiritualitas dalam kehidupannya. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi sedemikian sempit ketika dikaji melalui pendekatan sosiologis. Tesis Max Weber tentang “Etika Protestan & Spirit Kapitalisme”13 justru membuktikan bahwa etika keagamaan mampu memberikan spirit bagi pemeluknya dalam melakukan aktivitas ekonomi.
Secara tidak langsung tesis Weber tersebut berusaha mengkritik tesis Marx yang determinan terhadap ekonomi atau materi. Marx dalam pemikirannya menegaskan bahwa keseluruhan lembaga manusia – termasuk agama – bergantung pada dasar-dasar ekonomi. Berbeda dengan hal tersebut, Weber menegaskan bahwa agama, yang dalam hal ini adalah Protestan, melalui nilai-nilainya memberikan motivasi terhadap para pengikutnya untuk bekerja keras dan mencapai prestasi dalam hal ekonomi.
Pada bagian awal bukunya, Weber menjelaskan bahwa ia melihat para pemimpin dagang dan para pemilik kapital, juga para pekerja terlatih tingkat tinggi, dan khususnya staf industri modern yang terlatih secara teknis atau komersial cenderung didominasi oleh kelompok Protestan.14
12 Yazid.
13 Weber, Etika Protestan & Spirit Kapitalisme.
14 Weber, 3-4.
Di sisi yang lain, orang-orang Katolik biasanya lebih tenang, mempunyai keinginan yang lebih kecil untuk memperoleh sesuatu. Mereka lebih menyukai kehidupan dengan kenyamanan yang terjamin walau hanya dengan mendapat penghasilan yang lebih kecil dari pada memilih kehidupan yang dipenuhi risiko dan kesenangan walau jenis pekerjaan itu memberi mereka banyak kesempatan untuk kehormatan dan kekayaan. Orang-orang Protestan lebih memilih makan enak, sedangkan orang-orang Katolik lebih suka tidur tanpa terusik.15
Selain Max Weber, jauh sebelumnya, para filsuf muslim sebenarnya sudah mengemukakan pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi dengan berlandaskan kepada Islam. Salah satu diantara mereka adalah Ibnu Khaldun yang mungkin dalam tulisan ini tidak akan diurai secara lebih jauh mengenai pemikirannya. Akan tetapi paling tidak melalui pemaparan-pemaparan tersebut, sudah cukup untuk menunjukkan bahwa nila-nilai dalam agama tertentu mampu memberikan motivasi terhadap pemeluknya untuk melakukan aktivitas ekonomi dengan corak tertentu pula.
15 Weber, 10.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian sederhana sebelumnya paling tidak terdapat beberapa poin yang bisa dijadikan sebagai buah konklusi. Pertama, agama merupakan dimensi spiritual dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang memberikan makna tersendiri dalam tindakannya, khususnya ekonomi. Kedua, agama kadangkala memberikan motivasi kepada pemeluknya untuk keaktifan ekonomi. Namun di sisi yang lain agama justru menghambat pemeluknya untuk melek terhadap ekonomi.
B. Saran
Pembahasan mengenai bagaimana agama dan ekonomi sejatinya merupakan pembahasan yang sangat penting. Sebab corak keberagamaan tertentu akan memberikan implikasi pada aktivitas ekonomi. Adapun saran dari penulis adalah hendaknya kajian mengenai agama dan ekonomi ditindaklanjuti dengan lebih serius dan mendalam.