FENOMENA GHAZW AL-FIKR DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN (ANALISIS TEMATIK PADA TAFSIR FI ZHILÂL AL-QUR’ÂN KARYA
SAYYID QUTHB)
Skripsi ini Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Kinda Naim NIM. 14210581
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 1439 H/2018 M
PERSPEKTIF AL-QUR’AN (ANALISIS TEMATIK PADA TAFSIR FI ZHILÂL AL-QUR’ÂN KARYA
SAYYID QUTHB)
Skripsi ini Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Kinda Naim NIM. 14210581
Pembimbing:
Hj. Muthmainnah, MA
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 1439 H/2018 M
ABSTRAK
Kinda Naim (14210581)
Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fi Zhilal Al-Qu’ran Karya Sayyid Quthb)
Perkembangan agama Islam yang semakin pesat menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan oleh bangsa-bangsa Eropa khususnya Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab). Berbagai perang demi perang dilancarkan satu persatu melawan kekuatan Islam namun tetap saja gagal, terutama kegagalan besar mereka pada Perang Salib yang berlangsung selama 200 tahun lamanya. Dari sini mereka menyadari kekuatan Islam yang tidak akan pernah luntur, yaitu kekuatan jihad membela agama Allah dan tertanamnya nilai-nilai Al-Qur’an dalam hati umat Islam. Karena itulah, para musuh Islam, khususnya orientalisme berusaha mendalami agama Islam untuk dicari kelemahan- kelemahannya. Dari sini mereka mulai bersatu padu dengan tujuan yang sama, yaitu menghancurkan Islam dari dalam menggunakan strategi yang lebih dikenal dengan istilah ghazw al-fikr (perang pemikiran).
Skripsi ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research), yaitu dengan merujuk pada berbagai sumber-sumber tertulis dan juga bersifat kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasar pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.
Penelitian ini merupakan analisis tematik dengan mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema.
Adapun kesimpulan dari skripsi ini adalah, dalam tafsirnya Sayyid Quthb menegaskan betapa kerasnya kebencian musuh-musuh Islam terutama Ahli Kitab yang beliau sebutkan berulang-ulang. Para musuh Islam saling bekerja sama dengan satu tujuan, yaitu memalingkan kaum muslimin dari agamanya kemudian mengikuti kesesatan, kemusyrikan, dan persepsi mereka yang buruk. Quthb juga menyebutkan beberapa program ghazw al-fikr seperti Zionisme, Komunisme, Humanisme, dan Salibisme, membuktikan bahwa program ghazw al-fikr yang pada zaman Quthb masih berjumlah sedikit, sekarang telah berkembang menjadi program yang lebih banyak, lebih memikat, dan lebih berbahaya, menandakan bahwa musuh-musuh Islam tak akan berhenti berupaya dari generasi ke generasi untuk memusnahkan syariat Islam, berupa Westernisasi, Pluralisme Agama, Feminisme, Hedonisme, Materialisme, dan sebagainya. Maka solusinya adalah dengan berpegang teguh kepada satu-satunya petunjuk yang benar, yaitu petunjuk Allah swt.
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi dengan judul “Fenomena Ghazw Al-Fikr dalam Perspektif al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fi Zhilâl al-Qur’ân Karya Sayyid Quthb” yang disusun oleh Kinda Naim dengan Nomor Induk Mahasiswa: 14210581 telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan ke sidang munaqasyah.
Jakarta, 8 Agustus 2018 Pembimbing,
Hj. Muthmainnah, MA
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi dengan judul “Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Quthb)”
oleh Kinda Naim dengan NIM 14210581 telah diujikan pada sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2018. Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Jakarta, 3 Oktober 2018 Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta,
Dra. Hj. Maria Ulfah, MA Sidang Munaqasyah
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang
Dra. Hj. Maria Ulfah, MA Dra. Siti Ruqoyyah Tamami Penguji I, Penguji II,
Dr. KH. Ahsin Sakho M., MA Dra. Mursyidah Thahir, MA Pembimbing,
Hj. Muthmainnah, MA
iii
PERNYATAAN PENULIS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Kinda Naim
NIM : 14210581
Tempat/Tgl. Lahir : Damaskus, 15 April 1996
Menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an Karya Sayyid Quthb)” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.
Jakarta, 8 Agustus 2018
Kinda Naim NIM. 14210581
iv
PERSEMBAHAN
Teruntuk mama dan papa, yang dengan cinta dan kasih sayang sepanjang masanya selalu mengingatkanku untuk bersyukur atas kebaikan-Nya.
Untuk kedua kakakku yang baik, perhatian, dan selalu siap siaga saat kubutuhkan pertolongannya.
Untuk ibu guru MA Al-Hikmah yang telah menggoreskan kebaikan dan uswatun hasanahnya dalam benak hingga kini.
Untuk sahabat-sahabatku tercinta, yang dengan tulus dan ikhlas mewarnai jiwa ini dalam indahnya kebersamaan.
Semoga selalu dalam perlindungan Allah swt. di dunia dan akhirat, dan semoga senantiasa berada dalam jalan-Nya yang baik.
v MOTTO
“Cara terbaik bersyukur adalah menggunakan nikmat itu sesuai dengan ridho pemberinya.” – dr. Gamal Albinsaid
“Tidak perlu memikirkan penilaian atau pandangan orang lain terhadapmu, tapi khawatirkan penilaian Allah terhadap akhlakmu.”
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn, segala puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan semesta alam yang dengan kasih dan sayang-Nya saya telah menyelesaikan penelitian ini dengan judul, “Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fî Zhilâl Al-Qur’ân Karya Sayyid Quthb)” dalam rangka menyelesaikan tugas akhir fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sang Nabi yang telah menuntun umatnya dari kegelapan menuju cahaya-Nya dengan risalah agama Islam.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa dalam proses pembuatan skripsi ini dipenuhi dengan tantangan dan rintangan, salah satunya adalah masih minimnya buku yang khusus membahas tentang tema terkait. Karena itu, saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang selalu mensupport dan turut membantu penyelesaian skripsi ini, baik dalam bentuk buku maupun diskusi. Tanpa mereka, saya tak akan bisa menyelesaikannya dengan tuntas.
Saya juga mengucapkan terima kasih khususnya kepada papa dan mama, yang telah mengizinkan saya menuntut ilmu di Institut Ilmu Al-Qur’an, yang mendorong saya untuk selalu maju ke depan meski penuh dengan rintangan, dan yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk saya. Semoga Allah berikan balasan yang lebih baik, dan semoga saya bisa menjadi perantara kebaikan-Nya untuk orang tua saya.
vii
Selanjutnya, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Khuzaimah Tahido Yanggo, Lc, MA selaku Rektor Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta.
2. Ibu Dr. Hj. Maria Ulfah, MA selaku Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta, atas kesediannya menyetujui judul penulis.
3. Bapak Dr. H. M. Ulinnuha Husnan, Lc, MA selaku Kepala Jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta, dan juga dosen matakuliah metode penelitian yang telah mengajarkan dan mengarahkan mahasiswinya dalam menyusun penelitian ini, baik dari segi tema pembahasan maupun sistematika penulisan.
4. Ibu Hj. Muthmainnah, MA selaku dosen pembimbing penulis. Terima kasih untuk kesediaannya meluangkan waktu, kesabaran ibu dalam membimbing, serta arahan-arahan untuk menyempurnakan penulisan skripsi penulis.
5. Ibu Atiqah, Ibu Mahmudah, Ka A’yuna dan seluruh Insrukur tahfidz IIQ Jakarta. Instruktur tahfidz yang menjadi panutan saya untuk bisa menjadi seperti mereka, yaitu meluangkan seluruh waktunya dengan ikhlas untuk Al-Qur’an dan menjaganya sepanjang hayat.
6. Seluruh dosen Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta yang telah memberikan ilmunya kepada saya, sehingga saya mampu memahami banyak hal terkait ilmu-ilmu Al-Qur`an dan tafsir.
7. Seluruh pengurus Pesantren Takhassus IIQ, yang telah memberikan saya pengalaman menjadi santri untuk pertama kalinya, serta teman- teman sekamar dan seperjuangan untuk terus mengaji dalam indahnya kebersamaan. Semuanya adalah pengalaman yang sangat indah untuk saya.
8. Seluruh staf fakultas yang telah membantu setiap tangga proses yang saya lalui.
viii
9. Pimpinan dan staf perpustakaan IIQ Jakarta, perpusakaan umum UIN Syarif Hidayatullah, perpustakaan PSQ dan perpustakaan Iman Jama’
yang telah memberikan sarana kepada saya untuk mencari bahan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.
10. Teman-teman IIQ Jakarta khususnya Fakultas Ushuluddin A angkatan 2014, terima kasih atas pertemanan suka-duka kita selama empat tahun ini, semoga silaturahim kita selalu terjalin erat sampai akhir hayat.
11. Untuk sahabat-sahabat terbaik saya yang dengan kebaikan dan perhatian kalian, saya tak henti-hentinya menggores kenangan- kenangan yang indah dalam masa perkuliahan. Terima kasih karena selalu menjadi kelebihan dalam segala kekurangan.
Jakarta, 8 Agustus 2018 Kinda Naim
ix DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN PENULIS ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xii
ABSTRAK ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 11
C. Pembatasan Masalah ... 12
D. Perumusan Masalah ... 12
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 13
F. Tinjauan Pustaka ... 13
G. Metodologi Penelitian ... 17
1. Jenis Penelitian ... 17
2. Sumber Data ... 17
3. Teknik dan Metode Pengumpulan Data ... 18
4. Metode Analisis Data ... 18
H. Teknik dan Sistematika Penulisan ... 18
BAB II SEKILAS TENTANG GHAZW AL-FIKR DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN UMAT ISLAM A. Definisi Ghazw al-fikr ... 21
B. Latar Belakangdan Perkembangan Ghazw al-fikr ... 24
C. Program-program Ghazw al-fikr ... 29
x
1. Westernisasi ... 30
2. Sekularisme ... 31
3. Liberalisme ... 33
4. Modernisme Agama ... 35
5. Pluralisme Agama ... 37
6. Feminisme ... 41
D. Strategi dalam Menerapkan Ghazw al-Fikr ... 43
E. Dampak Negatif Fenomena Ghazw al-Fikr terhadap Kehidupan Umat Islam ... 47
1. Penghancuran Akidah dan Akhlak ... 47
2. Penetrasi Budaya ... 49
F. Solusi dalam Menghadapi Fenomena Ghazw al-Fikr ... 53
BAB III BIOGRAFI SAYYID QUTHB DAN PROFIL KITAB TAFSIRNYA A. Biografi dan Karya ... 57
a. Riwayat Hidup ... 57
b. Pendidikan dan Karir ... 59
c. Pengalaman Organisasi ... 62
d. Karya ... 65
B. Profil Kitab Tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân ... 66
a. Motivasi dan Tujuan Penulisan ... 66
b. Kronologi Penulisan Tafsir ... 68
c. Sumber Penafsiran ... 69
d. Metode Tafsir ... 70
e. Corak Tafsir ... 71
f. Sistematika Tafsir ... 72 BAB IV ANALISIS TERHADAP AYAT-AYAT GHAZW AL-FIKR
A. Awal Mula Munculnya Ghazw al-fikr (QS. Al-A’râf: 20 &26) 75
xi
B. Pelaku Ghazw al-fikr ... 80
a. Setan Jin dan Manusia (QS. An-Nâs [114]: 4-6) ... 80
b. Ahli Kitab (QS. Al-Mâ`idah [5]: 59) ... 86
C. Metode Penerapan Ghazw al-fikr ... 93
a. Mengenal Agama Islam (QS. Al-An’âm [6]: 20) ... 93
b. Dengan Mulut atau Ucapan (QS. Ash-Shaff [61]: 8) ... 99
D. Tujuan Penciptaan Ghazw al-Fikr (QS. Al-Baqarah [2]: 120) 103 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 109
B. Saran ... 111
DAFTAR PUSTAKA ... 114
xii
PEDOMAN TRANSLITERASI
Skripsi ini ditulis dengan menggunakan pedoman transliterasi sebagaimana diuraikan di bawah ini. Transliterasi ini ditulis dengan menggunakan pedoman transliterasi huruf Arab ke huruf latin yang telah disusun oleh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Tahun 2017
1. Konsonan
أ
: aط
: thب
: bظ
: zhت
: tع
: ‘ث
: tsغ
: ghج
: jف
: fح
: hق
: qخ
: khك
: kد
: dل
: lذ
: dzم
: mر
: rن
: nز
: zو
: wس
: sه
: hش
: syء
: `ص
: shي
: yض
: dhxiii 2. Vokal
Vokal Tunggal : Vokal Panjang : Vokal Rangkap:
Fathah : a أ: â ْ ي : ai ...
Kasrah: i ي: î ْ و…: au
Dhammah: u و: û
3. Kata Sandang
a. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, Contoh:
ةرقبلا : Al-Baqarah ةدئاملا : Al-Mâ
`
idahb. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:
لجرلا : ar-Rajulu ْةديسلا: as-Sayyidah شلا
سم : asy-Syams ْيمرادلا: ad-Dârimî
c. Syaddah (Tasydîd) dalam system aksara Arab digunakan lambang (ّ_), sedangkan untuk alih aksara dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah. Contoh:
ِْللاِبْاّنَمأ: Âmannâ billâhi ْ ءاَهَفّسلاَْنَمأ : Âmana as-Sufahâ’u
َْن يِذَّلاْ َّنِإ : Inna al-ladzîna ِْعَّك ُّرلا َو : waar-rukka’i d. Ta Marbûthah(ة)
Ta Marbûthah (ة) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h”.
Contoh:
ةدئفلأا : al-Af`idah ةيملاسلأاْةعماجلا : al-Jâmi’ah al-Islâmiyah
xiv
Sedangkan ta marbûthah (ة) yang diikuti atau disambungkan (di- washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:
ٌْةَب ِصاَنٌْةَلمِاَع : Âmilatun Nâshibah e. Huruf Kapital
Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain.
Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainya.
xv ABSTRAK
Kinda Naim (14210581)
Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fi Zhilal Al-Qu’ran Karya Sayyid Quthb)
Perkembangan agama Islam yang semakin pesat menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan oleh bangsa-bangsa Eropa khususnya Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab). Berbagai perang demi perang dilancarkan satu persatu melawan kekuatan Islam namun tetap saja gagal, terutama kegagalan besar mereka pada Perang Salib yang berlangsung selama 200 tahun lamanya. Dari sini mereka menyadari kekuatan Islam yang tidak akan pernah luntur, yaitu kekuatan jihad membela agama Allah dan tertanamnya nilai- nilai Al-Qur’an dalam hati umat Islam. Karena itulah, para musuh Islam, khususnya orientalisme berusaha mendalami agama Islam untuk dicari kelemahan-kelemahannya. Dari sini mereka mulai bersatu padu dengan tujuan yang sama, yaitu menghancurkan Islam dari dalam menggunakan strategi yang lebih dikenal dengan istilah ghazw al-fikr (perang pemikiran).
Skripsi ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research), yaitu dengan merujuk pada berbagai sumber-sumber tertulis dan juga bersifat kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasar pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.
Penelitian ini merupakan analisis tematik dengan mencari ayat-ayat Al- Qur’an yang berkaitan dengan tema.
Adapun kesimpulan dari skripsi ini adalah, dalam tafsirnya Sayyid Quthb menegaskan betapa kerasnya kebencian musuh-musuh Islam terutama Ahli Kitab yang beliau sebutkan berulang-ulang. Para musuh Islam saling bekerja sama dengan satu tujuan, yaitu memalingkan kaum muslimin dari agamanya kemudian mengikuti kesesatan, kemusyrikan, dan persepsi mereka yang buruk. Quthb juga menyebutkan beberapa program ghazw al-fikr seperti Zionisme, Komunisme, Humanisme, dan Salibisme, membuktikan bahwa program ghazw al-fikr yang pada zaman Quthb masih berjumlah sedikit, sekarang telah berkembang menjadi program yang lebih banyak, lebih memikat, dan lebih berbahaya, menandakan bahwa musuh-musuh Islam tak akan berhenti berupaya dari generasi ke generasi untuk memusnahkan syariat Islam, berupa Westernisasi, Pluralisme Agama, Feminisme, Hedonisme, Materialisme, dan sebagainya. Maka solusinya adalah dengan berpegang teguh kepada satu-satunya petunjuk yang benar, yaitu petunjuk Allah swt.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Saat kita menelusuri kembali sejarah peradaban Islam, dalam perjalanannya umat Muslim selalu menghadapi berbagai ujian, cobaan, fitnah, dan serangan.1 Selagi Islam tetap sebagai kebenaran yang diridhai Allah bagi semua manusia dan sebagai kenikmatan yang dilimpahkan kepada mereka, maka akan muncul pula persekongkolan yang hendak mencabut akar-akarnya. Sirah Muhammad saw. menjadi saksi atas semua ini. Sejak beliau berdakwah secara terus terang, maka berbagai persekongkolan selalu menghadangnya. Namun kehendak Allah tampil sebagai pemenang, dibuktikan dengan perkembangan agama Islam yang saat ini tergolong terbesar di dunia.2
Berdasarkan Forum Riset Pew, dalam lebih dari empat dekade mendatang, agama Kristen akan tetap menjadi kelompok agama terbesar, tetapi Islam akan tumbuh lebih cepat ketimbang agama besar mana pun.
Saat ini, Islam masih ada di peringkat kedua dengan jumlah pemeluk sebanyak 1,59 miliar jiwa, atau sekitar 23% dari total populasi dunia.
Jumlah muslim diperkirakan akan naik hampir dua kali lipat. Hingga 2050, diperkirakan jumlah Muslim di seluruh dunia (2,8 miliar atau 30%
dari populasi) akan hampir sama banyaknya dengan jumlah penganut Nasrani (2,9 miliar atau 31% dari populasi), dan ini akan menjadi kemungkinan kali pertama dalam sejarah. Peningkatan yang signifikan ini terutama disumbang populasi muslim di Eropa yang merangkak naik
1 Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, (Yogyakarta: NFP Publishing, 2011), h. 91 2 Isma’il Al-Kilany, Sekularisme, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), h. 217
2
3 Shelina Janmohamed, Generation M; Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia, penerj. Yusa Tripeni, (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2017), h. 16
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Saat kita menelusuri kembali sejarah peradaban Islam, dalam perjalanannya umat Muslim selalu menghadapi berbagai ujian, cobaan, fitnah, dan serangan.1 Selagi Islam tetap sebagai kebenaran yang diridhai Allah bagi semua manusia dan sebagai kenikmatan yang dilimpahkan kepada mereka, maka akan muncul pula persekongkolan yang hendak mencabut akar-akarnya. Sirah Muhammad saw. menjadi saksi atas semua ini. Sejak beliau berdakwah secara terus terang, maka berbagai persekongkolan selalu menghadangnya. Namun kehendak Allah tampil sebagai pemenang, dibuktikan dengan perkembangan agama Islam yang saat ini tergolong terbesar di dunia.2
Berdasarkan Forum Riset Pew, dalam lebih dari empat dekade mendatang, agama Kristen akan tetap menjadi kelompok agama terbesar, tetapi Islam akan tumbuh lebih cepat ketimbang agama besar mana pun.
Saat ini, Islam masih ada di peringkat kedua dengan jumlah pemeluk sebanyak 1,59 miliar jiwa, atau sekitar 23% dari total populasi dunia.
Jumlah muslim diperkirakan akan naik hampir dua kali lipat. Hingga 2050, diperkirakan jumlah Muslim di seluruh dunia (2,8 miliar atau 30%
dari populasi) akan hampir sama banyaknya dengan jumlah penganut Nasrani (2,9 miliar atau 31% dari populasi), dan ini akan menjadi kemungkinan kali pertama dalam sejarah. Peningkatan yang signifikan ini terutama disumbang populasi muslim di Eropa yang merangkak naik
1 Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, (Yogyakarta: NFP Publishing, 2011), h. 91 2 Isma’il Al-Kilany, Sekularisme, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), h. 217
sampai 10%.3 Amerika Serikat misalnya, diperkirakan minimal sekitar 20 ribu orang-orang Amerika yang memeluk Islam setiap tahunnya.
Dengan kuasa-Nya, mereka mulai mengagumi agama Islam dan menyatakan syahadat dengan berbondong-bondong sebagaimana dalam firman Allah, 4
ُحرتَفرلٱَو ِ هللَّٱ ُ رصَۡن َءٓاَج اَذِإ ١
ا ٗجاَورف َ
أ ِ هللَّٱ ِنيِد ِفِ َنو ُلُخردَي َساهلنٱ َتريَأَرَو ٢
َكِ بَر ِدرمَ ِبِ رحِ ب َس َف اََۢباهوَت َن َكَ ۥُههنِإ ُُۚهررِفرغَترسٱَو
٣
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada- Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. Al- Nashr: 1-3)
Namun ada kontradiksi atau paradoks yang terjadi dalam dunia Islam. Di satu sisi kita yakini agama ini sebagai agama dengan segala aspeknya membawa pada kemajuan, kekuatan, dan keberhasilan.
Pengikutnya adalah manusia pilihan yang diutus untuk membawa keselamatan bagi seluruh manusia. Akan tetapi di sisi lain, realitas di dunia Islam tidak atau belum menggambarkan idealisme Islam yang sesungguhnya. Seolah Islam menjadi agama tumpu dan lumpuh karena tidak mampu membawa perubahan dalam kehidupan umatnya. Umat besar, bergelimang dengan sumber daya alam yang dahsyat, tetapi hidup dalam suasana yang memprihatinkan.5
3 Shelina Janmohamed, Generation M; Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia, penerj. Yusa Tripeni, (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2017), h. 16 4 Imam Shamsi Ali, Telling Islam to The World (Kisah Perjalanan Dakwah Seorang Imam New York), (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2017), h. 86
5 Imam Shamsi Ali, Telling Islam to The World (Kisah Perjalanan Dakwah Seorang Imam New York), h. 88
3
Transparency International tahun 2017 mencatat, mayoritas negeri Muslim berada pada urutan atas merajalelanya korupsi. Indonesia, Pakistan, Bangladesh, yang penduduk muslimnya secara total mencakup 30% dari umat Islam sedunia, termasuk parah korupsinya. Indonesia indeks korupsinya berada di peringkat 96, Pakistan dan Mesir peringkat 117, serta Bangladesh peringkat 143. Saat ini, selain Selandia Baru dan Denmark, negara yang indeks korupsinya rendah alias bersih dari korupsi mayoritas berada di Negara Barat.6
Sedangkan menurut Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) tahun 2018 yang diukur lewat harapan hidup, melek huruf, dan penghasilan berbagai bangsa, mayoritas bangsa-bangsa Muslim masih berada di urutan menengah bawah dan urutan bawah yang dikategorikan sebagai negara berkembang, bahkan ada negara yang ranking IPMnya menurun drastis akibat konflik kekerasan (perang), yaitu Suriah, Yaman, dan Libya. Dari sekitar 50 negara berpenduduk Muslim, yang berkategorikan negara maju terhitung hanya 8 negara saja7, sedangkan mayoritasnya dikuasai oleh negara-negara Barat.8 Muhammad Tholhah Hasan menyimpulkan bahwa masalah yang sebenarnya memprihatinkan adalah kondisi kualitatif umat Islam, suatu kumpulan manusia yang sebanyak itu belum banyak yang menampilkan potensi riilnya. Banyak di antaranya yang dikenal sebagai mayoritas di suatu negara, tapi mayoritasnya masih terbatas pada “numerical
6 http://riset.ti.or.id/corruption-perceptions-index-2017/ diakses pada tanggal 29 September 2018
7 Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia tahun 2018, negara berpenduduk mayoritas Muslim yang termasuk dalam kategori negara maju (very high human development) adalah negara Uni Emirat Arab pada peringkat 34, Qatar peringkat 37, Brunei Darussalam dan Arab Saudi peringkat 39, Bahrain peringkat 43, Kuwait peringkat 56, Malaysia peringkat 57, dan Kazakhstan peringkat 58
8 http://www.hdr.undp.org/ diakses pada tanggal 29 September 2018
mayority” (mayoritas angka), dan pada hakikatnya masih tetap dalam
“energetical minority” (minoritas dalam kekuatannya). Menurut beliau, kenyataan ini salah satunya disebabkan oleh kekurangpahaman masyarakat muslim terhadap hakikat ajaran Islam, karena pengaruh orientasi Barat yang sengaja mengacaukan pengertian-pengertian tentang Islam, dan juga karena dakwah Islamiyah yang kehilangan aktualitasnya, karena kurang menemukan relevansi degan tuntutan dan perkembangan yang terjadi dalam realitas sosial yang dihadapi.9
Realitas ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.,
ُنْبا اَنَ ثَّدَح ،ٍرْكَب ُنْب ُرْشِب اَنَ ثَّدَح ،ُّيِقْشَمِ دلا َميِهاَرْ بِإ ُنْب ِنَْحَّْرلا ُدْبَع اَنَ ثَّدَح ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َِّللَّا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ،َنَبَْوَ ث ْنَع ،ِم َلََّسلا ِدْبَع وُبَأ ِنَِثَّدَح ،ٍرِباَج :َمَّلَسَو َأ ُمَمُْلْا ُكِشوُي «
اَهِتَعْصَق َلَِإ ُةَلَكَْلْا ىَعاَدَت اَمَك ْمُكْيَلَع ىَعاَدَت ْن
» ،
: َلاَق ؟ٍذِئَمْوَ ي ُنَْنَ ٍةَّلِق ْنِمَو :ٌلِئاَق َلاَقَ ف ٌءاَثُغ ْمُكَّنِكَلَو ،ٌيرِثَك ٍذِئَمْوَ ي ْمُتْ نَأ ْلَب «
ا ُمُكِ وُدَع ِروُدُص ْنِم َُّللَّا َّنَعَزْ نَ يَلَو ،ِلْيَّسلا ِءاَثُغَك ِفِ َُّللَّا َّنَفِذْقَ يَلَو ،ْمُكْنِم َةَباَهَمْل
َنْهَوْلا ُمُكِبوُلُ ق : َلاَق ؟ُنْهَوْلا اَمَو ،َِّللَّا َلوُسَر َيَ :ٌلِئاَق َلاَقَ ف ، »
،اَيْ نُّدلا ُّبُح «
ِتْوَمْلا ُةَيِهاَرَكَو
»
“Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim ad- Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Jabir, telah menceritakan kepada kami Abu Abdis-Salam, dari Thauban, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,
‘Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.’ Maka seseorang bertanya: ‘Apakah karena sedikitnya jumlah kita?’,‘Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit al-wahn.’
9 Muhammad Tholhah Hasan, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), h. 4-5
5
Seseorang bertanya: ‘Ya Rasulullah, apakah al-wahn itu?’ Nabi bersabda: ‘Cinta dunia dan takut akan kematian.’” (HR. Abû Dâwud)10 Degradasi (kemunduran) pada umat Islam ini menandakan berhasilnya salah satu program yang telah direncanakan secara terperinci dan dilancarkan oleh sejumlah kelompok anti-Islam, khususnya oleh orang-orang Barat yang khawatir dengan perkembangan pesat agama Islam ini. Di satu sisi, karena Barat ditampilkan sebagai representasi modernitas dan kemajuan, maka hadirnya Islam di dunia Barat juga berarti ancaman kepada modernitas dan kemajuan. Inilah sesungguhnya yang melandasi pemikiran orang semacam Huntington atau Fukuyama ketika mengajukan hipotesis bahwa Islam dan peradaban Barat mengalami perbenturan. Ketakutan dan kekhawatiran mereka ini adalah salah satu faktor terjadinya gejala Islamofobia11 di Barat.12
Semenjak kekalahan kaum Barat dalam Perang Salib, mereka menyadari bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama kekuatan Islam. Maka tidaklah mungkin kaum Muslimin diperbudak selama mereka tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an, mengamalkannya dan menerapkan hukum-hukumnya. Islam adalah agama kekuatan, agama keagungan dan agama perjuangan. Maka kaum Muslimin tidak akan pernah bertekuk
10 Abû Dâwud Ismâ’îl, Sunan Abû Dâwud, (Beirût: Al-Maktabah Al-‘Isriyah, t.t.), Jilid 4, dalam Kitab Al-Malâhim, bab Fî Tadâ’î al-Umami fî al-Islâm, no. 4297, h. 111
11 Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim,"
dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang
bengis daripada berupa suatu agama. (lihat Wikipedia,
https://id.wikipedia.org/wiki/Islamofobia, diakses pada tanggal 29 September 2018)
12 Imam Shamsi Ali, Telling Islam to The World (Kisah Perjalanan Dakwah Seorang Imam New York), h. 90
lutut kepada siapa pun selama mereka menyadari hal tersebut.13 Inilah yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ dalam memerangi umat Islam. Mereka telah berusaha mengalahkan Islam secara militer, menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk membeli tank, amunisi, dan pesawat, menggunakan tenaga yang besar hingga mengorbankan banyak warga dan tentara dalam pertempuran tersebut. Hal ini terbukti dengan adanya perang di Afghanistan, Irak, Chechnya, Suriah, dan masih banyak lagi negeri-negeri muslim yang mereka perangi namun upayanya selalu gagal dalam melenyapkan umat Islam yang sebaliknya justru berkembang semakin banyak.14
Karenanya, mereka mencoba menyusun langkah strategis dengan jalan merusak akidah umat Islam, menebar keragu-raguan di benak dan hati mereka, mencabik-cabik persatuan dan persaudaraan mereka, mereduksi serta membelokkan aspek kesejarahan mereka. Samuel Zwemer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi, menyatakan bahwa jalan satu-satunya menghancurkan Islam dan kaum muslimin adalah dengan merusak akidah Islam dan mencerai-beraikan persatuan Islam.
Penghancuran ini adalah menanggalkan akidah Islam agar mereka tidak percaya kepada Al-Qur’an atau menjadikan mereka ateis.15
Inilah yang disebut dengan perang pemikiran (ghazw al-fikr), perang tanpa darah, perang tanpa peluru, tapi korban dan lukanya jauh lebih dalam dan lebih parah dari perang-perang yang telah dilancarkan pada negara-negara Islam seperti Irak, Afghanistan, Palestina, dan yang
13 Abdul Aziz Al-Khayyath, Islam dalam Berbagai Ancaman, (Jakarta: Bonafida Cipta Pratama, 1993), h. 22
14 Muharram Al Hakim, Mengapa Mereka Melakukan Ghazwul Fikri, https://www.facebook.com/555638731129296/posts/ghazwul-fikri-(perang-pemikiran)- ghazwul/688979311128570/, diakses pada tanggal 31 Juli 2018
15 Abdullah Al-Thail, Yahudi Sang Penghancur Dunia, (Jakarta: Mirqat Publishing, 2008), h.191
7
lainnya. Yang mereka perlukan hanya dengan menyebarkan ide-ide yang mereka usung ke seluruh belahan dunia. Bahkan dengan cara ini yang tidak terjangkau oleh perang fisik bisa terjangkau dengan perang pemikiran. Perang yang satu ini mampu dan bisa mengubah tidak saja cara berpikir, tapi jauh lebih dalam lagi mampu mengubah nilai-nilai fundamental ajaran Islam. Islam tentu tidak berubah, karena Allah yang menjaga dan menyucikan agama ini. Yang berubah adalah cara kita melihat Islam. Yang berubah adalah cara kita mengartikan Islam. Dan sesungguhnya, itulah yang dikehendaki musuh-musuh Islam, sesuai dengan cara yang mereka tentukan.16 Musuh-musuh Islam secara gencar dan sistematis berupaya keras mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang dan berupaya pula menghancurkan Islam dari dalam.
Program eliminasi dan penghancuran ini terangkum dalam program ghazw al-fikr yang mereka rencanakan.17
Hal ini mereka lakukan sesuai dengan firman Allah swt. berikut,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang
16 Herry Nurdi, Belajar Islam dari Yahudi, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2007), h. 9 17 Tardjono Abu Muas, "Ghazwul Fikri", dalam Jurnal Syakhshiyyah Islamiyyah, Edisi 30/XI Maret 2014, h. 01-04
kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)
Mereka menyebarkan kata-kata yang dapat dibaca, dilihat dan didengar melalui media informasi. Mereka melakukan distorsi dan menyusupkan ideologi ke dalam masyarakat Islam. Cara ini sangat efektif untuk menghancurkan Islam dan melemahkan kekuatan kaum Muslimin karena media dengan mudah menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Muncul berbagai usaha yang menghujat hadis nabi serta sejarah Islam guna menyebarkan keragu-raguan terhadap kebenaran syariat Islam. Misalnya saja, Bukaille dan Garaudi, melalui buku- bukunya, sangat semangat menafikan ketidakmampuan Islam dalam menandingi Eropa. Di sisi lain, muncul usaha menghidupkan kembali aliran-aliran atau kelompok-kelompok baru yang menyesatkan dan merusak, seperti aliran Qadiyaniyah dan Baha’iyah.18
Ideologi-ideologi yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam berupa pemisahan agama dari negara seperti paham sekularisme, nasionalisme, kesukuan, materialisme, dan berbagai pemikiran Barat yang semuanya jauh berbeda dengan Islam.19 Pluralisme adalah isme kufur yang sengaja dikampanyekan untuk menggusur akidah tauhid. Liberalisme, demokrasi, kapitalisme, dan humanisme, dikampanyekan untuk menyingkirkan syariat Islam.20
Dewasa ini kita menyaksikan pemikiran dan gerakan Islamofobia.
M. Amin Rais dalam karyanya ‘Masa Depan Muhammadiyah’
menyatakan, mereka yang membenci Islam tanpa alasan apa pun
18 Anwar Jundi, Islam dan Dunia Kontemporer, (Jakarta: Gema Insani, 1994), h. 110 19 Isma’il Al-Kilany, Sekularisme, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1993), h. 217
20 Abdurrahman Al-Wasithi dan Abu Fatiah Al-Adnani, Renungan Akhir Zaman, (Jakarta: QultumMedia, 2008), h. 157
9
dinamakan Islamophobes. Manusia pembenci Islam ini di Barat maupun di Timur semakin bertambah dengan menggunakan media cetak, media sosial, dan ceramah di kampus dengan tujuan tunggal: mencemarkan nama baik Islam, melakukan disinformasi dan distorsi, sekaligus demonisasi21 Islam agar agama samawi terakhir ini berwajah seram, seolah-olah pendendam, dan menyukai kekejaman. Di Amerika Serikat saja ada 46 lembaga yang melancarkan serangan Islamofobia. Para Islamophobes di AS itu terdiri atas akademisi, orientalis, wartawan, ketua lembaga studi, pendeta, dan lainnya. Apa yang mereka namakan sebagai ‘Islam fundamentalis’, ‘Islam ekstrimis’, ‘Islam teroris’, dan lain-lain tak lebih adalah jargon-jargon Islamofobia non-muslim.22
Fenomena ghazw al-fikr ini telah berhasil melemahkan akidah umat Islam, menjauhkan mereka dari Al-Qur’an, dan memecahkan umat menjadi beberapa kelompok yang fanatik membela kepentingan kelompok masing-masing.
Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis memiliki beberapa pertanyaan besar mengenai ghazw al-fikr, yaitu apa motif utama/tujuannya, siapa saja pelakunya, bagaimana cara kerjanya, apa saja sarana-sarana yang digunakan untuk menyebarkan fenomena ghazw al-fikr, dan mengapa umat Muslim sangat mudah terperdaya olehnya.
Penulis tertarik untuk membahas lebih dalam tentang ghazw al-fikr dan ingin meninjaunya dari perspektif Al-Qur’an menggunakan metode analisis tematik. Dalam hal ini penulis menggunakan tafsir Fî Zhilâl al-
21 Demonisasi berasal dari kata “demon” yang berarti “setan” atau “iblis”. Kata ini
digunakan untuk menunjukkan perilaku seseorang yang kerap menganggap orang lain seperti
“setan” atau “iblis”, merasa dirinya paling benar dan paling bersih. Mereka menunjukkannya dengan perilaku intoleran dan tertutup.
22 Abdul Rohim Ghazali, Abdul Mu’ti, dkk., Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan;
Catatan Kritis Muktamar Teladan ke-47 Muhammadiyah di Makassar 2015, (Surakarta:
Muhammadiyah University Press, 2016), h. 420
Qur’ân karya Sayyid Quthb yang berperan untuk menjelaskan lebih rinci ayat-ayat Al-Qur’an tentang ghazw al-fikr. Alasan mengapa ghazw al- fikr sangat penting untuk dikaji, adalah karena: pertama, ghazw al-fikr adalah suatu realitas yang sudah sangat akrab dengan kehidupan sehari- hari, namun ia sangat berbahaya terhadap nilai keislaman seorang muslim. Kedua, masih minimnya pengetahuan, kesadaran dan perhatian umat terhadap virus penghancur nilai-nilai Islam ini pada seluruh lini kehidupan. Ketiga, ghazw al-fikr merupakan senjata dan strategi yang sangat efektif daripada perang fisik.23
Oleh karena itu, penulis menggunakan metode tematik agar pembahasan tentang ghazw al-fikr dalam Al-Qur’an dapat diketahui secara menyeluruh. Untuk mendalami perang di bidang pemikiran ini, penulis mendalaminya dengan aspek 5W (What ‘apa’, Who ‘siapa’, Why
‘mengapa’, When ‘kapan’, Where ‘di mana’) dan 1H (How ‘bagaimana’), menemukan letak kesalahannya, kemudian menemukan solusi terhadap kesalahan tersebut dalam perspektif Al-Qur’an.
Sayyid Quthb, penulis tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân, adalah seorang tokoh revolusioner dan pembaharu Islam. Pada masa hidupnya, negara Mesir sedang berada dalam penjajahan Inggris. Rezim Mesir ingin memodernisasi/memperbaharui pemerintahannya menjadi sekuler dan menerapkannya pada semua sektor kehidupan. Oleh karena itu, Sayyid Quthb dengan karya-karya ilmiahnya berusaha untuk mengarahkan perhatian masyarakat Mesir dan seluruh umat Muslim agar waspada
23 Hizqil Mubarok, Dahsyatnya Ghazwul Fikri, Perang Pemikiran Menghancurkan Generasi Islam, https://alfidy.com/ghazwul-fikri/, diakses pada 14 Mei 2018
11
terhadap bahaya ini.24 Sekularisasi dan modernisasi merupakan salah satu produk ghazw al-fikr sehingga Sayyid Quthb mengalami dan menyaksikan secara langsung akibat dan dampak negatif dari fenomena ghazw al-fikr tersebut.
Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Fenomena Ghazw al-Fikr dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Tematik pada Tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân Karya Sayyid Quthb)”.
B. Identifikasi Masalah
Sesuai uraian yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah, maka muncullah beberapa persoalan yang perlu diidentifikasi. Diantara pembahasan yang dapat diidentifikasi penulis yakni:
a. Nash (Al-Qur’an dan hadis) yang menjelaskan dan membuktikan adanya fenomena ghazw al-fikr.
b. Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an mengenai fenomena ghazw al-fikr dalam perspektif para mufassir.
c. Sejarah dan latar belakang munculnya Islamofobia atau kebencian terhadap Islam sebagai cikal bakal lahirnya program ghazw al-fikr.
d. Sebab dan faktor yang menyebabkan kaum Barat sangat membenci dan takut terhadap perkembangan peradaban Islam.
e. Motivasi yang mendorong kaum Barat dan Orientalis dalam menghancurkan agama Islam.
f. Terdapat berbagai macam program ghazw al-fikr yang berupa ideologi buatan manusia, seperti sekularisme, kapitalisme,
24 K. Salim Bahnasawi, Butir-butir Pemikiran Sayyid Quthb, Menuju Pembaruan Gerakan Islam, penerj. Abdul Hayyie al-Kattani dkk., (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), h.
200
fundamentalisme, liberalisme, dan sebagainya. Masing-masing memiliki metode tersendiri yang terorganisir secara baik dan terencana.
g. Kebutuhan sarana dan prasarana agar dapat dimanfaatkan oleh kaum Barat dalam menyusupkan ghazw al-fikr.
h. Berbagai macam metode atau strategi yang digunakan kaum Barat dalam mengembangkan ghazw al-fikr.
i. Dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh ghazw al-fikr dalam menghancurkan kehidupan umat Islam.
j. Upaya yang perlu dilakukan oleh umat Islam agar tidak dipengaruhi oleh ghazw al-fikr.
C. Pembatasan Masalah
Setelah diketahui latar belakang dan identifikasi masalah di atas, perlu disampaikan pembatasan dan perumusan masalah. Hal ini dilakukan agar penelitian tidak keluar dari jalur pembahasannya dan tetap terkait pada permasalahan yang sedang dibahas. Adapun pembatasan masalah penelitian ini adalah “analisis ayat-ayat tematik dalam Al-Qur’an tentang Ghazw al-Fikr menggunakan tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb”.
D. Perumusan Masalah
Dalam melakukan penelitian ini penulis merumuskan permasalahannya menjadi “Bagaimana penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân terhadap ayat-ayat yang membahas tentang ghazw al-fikr?”
13
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Setiap penelitian tentu memiliki tujuan yang mendasari penelitian tersebut. Berdasarkan perumusan masalah di atas, berikut ini beberapa tujuan penelitian:
a. Untuk menjelaskan secara deskriptif fenomena ghazw al-fikr yang sedang terjadi saat ini dan mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an tentangnya.
b. Untuk menguraikan dan menganalisis penafsiran Sayyid Quthb terhadap ayat-ayat tematik dalam Al-Qur'an yang berkaitan dengan ghazw al-fikr.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Secara teoritis penelitian ini dapat digunakan untuk memperkaya khazanah pengetahuan Islam pada bidang Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dengan penelitian tematik, terutama tentang fenomena perang pemikiran/ghazw al-fikr.
b. Secara praktis penelitian ini dapat digunakan oleh cendekiawan yang menggarap tema serupa sehingga dapat diteliti lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih luas sesuai dengan proses perkembangan masalah fenomena ghazw al-fikr.
c. Sebagai sumbangan nyata bagi umat Islam dalam menghadapi atau mencegah fenomena ghazw al-fikr.
F. Tinjauan Pustaka
Terdapat banyak buku-buku umum yang membahas tentang program ghazw al-fikr seperti kapitalisme, sekularisme, liberalisme, materialisme, dan sebagainya. Salah satunya adalah buku “Perang Pemikiran di Era Globaliasasi” menjelaskan tentang program- program ghazw al-fikr dalam penghancuran pola pikir, perusakan
moral, dan pelarutan kepribadian. Buku ini juga dilengkapi dengan penjelasan tentang media atau sarana yang digunakan dalam menghancurkan Islam. Buku kedua, “Mengupas Hakikat Modernisasi, Liberalisme, dan Westernisasi Ajaran Islam” karya Muhammad Hamid An-Nashir ini mengkaji tentang akar historis dan pemikiran dari gerakan modernisme, hakikat dan peran propagandis westernisasi, serta pemikiran modernisme dalam kaca mata Islam.
Ketiga, buku yang berjudul “Ketika Barat Memfitnah Islam” karya Lathifah Ibrahim Khadhar, membahas tentang pandangan Barat terhadap perkembangan agama Islam serta solusi dalam membangkitkan peradaban Islam. Buku keempat, “Al-Qur’an dan Sekularisme” karya Muhammad Hasan Qadran Qaramaliki, secara khusus membahas latar belakang munculnya sekuler, berbagai jenis model sekuler, dan prinsip-prinsip sekuler. Buku-buku umum yang sejenis ini akan penulis gunakan dalam penelitian.
Beberapa karya tulis berupa skripsi dan tesis yang penulis jumpai yang berkaitan dengan obyek penelitian ini antara lain;
Pertama, tesis yang ditulis oleh Ahmad Husein Harahap pada tahun 2016 dengan judul "Ghazw al-fikr dalam Sosial Politik dalam Pemikiran Abdul Shabur Marzuq", fakultas Hukum Islam, program studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam (SPPI), Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Tesis ini menjelaskan tentang pemikiran Abdul Shabur Marzuq tentang ghazw al-fikr dan dampaknya terhadap pemikiran politik Islam.25 Antara tesis ini dan penelitian penulis sama-sama membahas tentang ghazw al-fikr. Perbedaannya adalah, tesis ini hanya berfokus pada bidang politik saja, sedangkan penelitian
25 Ahmad Husein Harahap, "Ghazw al-fikr dalam Sosial Politik dalam Pemikiran Abdul Shabur Marzuq", tesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2016. Tidak diterbitkan (t.d)
15
penulis membahas ghazw al-fikr secara umum dalam beberapa bidang, dengan fokus utamanya adalah mengkaji penafsiran ayat-ayat ghazw al-fikr.
Kedua, skripsi karya Lina Fitria dengan judul “Revolusi Mental dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)” pada tahun 2017, fakultas Ushuluddin dari UIN Raden Intanlampung. Skripsi ini membahas tentang revolusi mental yang sesuai dengan revolusi secara syari’at. Pemikiran Sayyid Quthb yang Islami cocok dijadikan sebagai landasan kinerja Indonesia dalam revolusi mental yang berkaitan dengan etos kerja dan leadership. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis. Secara tema, antara skripsi ini dengan penelitian penulis berbeda. Namun sama-sama menggunakan tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb dalam menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema masing-masing.26
Ketiga, makalah yang ditulis oleh Bahron Ansori dengan judul
“Ghazw al-Fikr dan Kelompok Penebar Permusuhan” dalam seminar
‘Mengembalikan Islam kepada Tauhid’, Februari 2012. Dalam perjalanannya, umat Islam selalu dihadapkan dengan berbagai rintangan. Di antara rintangan itu adalah musuh-musuh yang harus dihadapi oleh umat Islam. Sejak zaman Nabi saw, Islam selalu dihadapkan dengan berbagai musuh; selain kaum munafik, Yahudi juga kaum Nasrani. Namun demikian, ada di antara musuh-musuh itu yang tunduk dan patuh dengan aturan Islam ketika mereka lemah tak berdaya. Sebaliknya, ketika musuh-musuh itu berjaya, maka umat Islam tidak pernah merasa aman dari gangguan mereka. Seperti yang
26 Lina Fitria, “Revolusi Mental dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)”, skripsi, Lampung: UIN Raden Intan, 2017. Tidak diterbitkan (t.d)
menimpa Muslim Rohingya; mereka dibantai, rumah-rumahnya dibakar bersama bayi dan anak-anak mereka, para wanitanya diperkosa. Semua itu adalah bukti keji perbuatan musuh-musuh Islam.27 Pada makalah ini dibahas tentang musuh-musuh Islam yang melancarkan ghazw al-fikr. Sedangkan penelitian penulis khusus membahas ayat-ayat yang berkaitan dengan ghazw al-fikr dalam perspektif mufassir.
Keempat, skripsi karya Fitri Handayani, dengan judul “Marahil al-Ghazwil Fikri al-Gharby”, fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Malang, tahun 2013. Penelitian ini menjelaskan bahwa ghazw al-fikr (perang pemikiran) adalah hal yang sangat mungkin terjadi pada zaman seperti ini, dimana era teknologi sudah sangat canggih yang telah mendominasi kehidupan masyarakat sehingga sangat mudah dan menjangkau semua kalangan dalam menyebarkan informasi. Perang pemikiran merupakan suatu cara yang sangat ampuh untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok melalui globalisasi informasi. Dorongan untuk menerapkan ghazw al- fikr sebagai upaya penganekaragaman serbuan terhadap kaum Muslim merupakan kegagalan pasukan non-muslim menaklukkan dunia Islam melalui perang secara konvensional (secara fisik militer).28 Skripsi ini dan penelitian penulis membahas tema yang sama, namun penulis menggunakan metode analisis tematik pada ayat-ayat yang membahas tentang ghazw al-fikr dalam pandangan Sayyid Quthb.
Kelima, skripsi yang ditulis oleh Siti Juhro, tahun 2015 dengan judul "Radikalisme dalam Perspektif Al-Qur'an (Kajian Tafsir Al-
27 Bahron Ansori, “Ghazw al-fikr dan Kelompok Penebar Permusuhan”, dalam makalah yang disampaikan dalam Seminar ‘Mengembalikan Islam kepada Ajaran Tauhid’ yang dilaksanakan di Semarang, 12-15 Februari 2012.
28 Fitri Handayani, “Marahil al-Ghazwil Fikri al-Gharby”, Skripsi, Malang: UIN Malang, 2013. Tidak diterbitkan (t.d)
17
Azhar)", fakultas Ushuluddin, program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta. Skripsi ini membahas tentang penjelasan mengenai ayat-ayat yang dipakai oleh kaum radikal (untuk membenarkan tindakannya) menggunakan penafsiran Al-Azhar karya Hamka. Dalil yang dipakai adalah ayat-ayat tentang jihad serta amar ma'ruf dan nahi munkar.29 Antara skripsi ini dan penelitian penulis sama-sama membahas bentuk ghazw al-fikr (perang pemikiran), namun perbedaannya adalah skripsi ini membahas tentang salah satu program ghazw al-fikr yaitu radikalisme, sedangkan penulis membahas ghazw al-fikr secara lebih luas dan umum, tidak hanya tentang radikalisme.
G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) dengan merujuk pada berbagai sumber- sumber tertulis. Penulis mengumpulkan dan mempelajari sebanyak mungkin data yang relevan dengan pembahasan, terutama tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb. Penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasar pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Penelitian ini lebih fokus pada makna dan terkait nilai.
2. Sumber Data
Untuk mengungkapkan kajian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan, penulis menggunakan sumber data
29 Siti Juhro, "Radikalisme dalam Perspektif Al-Qur'an (Kajian Tafsir Al-Azhar)", Skripsi, Jakarta: Institut Ilmu Al-Qur'an, 2015. Tidak diterbitkan (t.d)
primer, yaitu Al-Qur'an, tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb, tafsir Al-Azhar karya Hamka, dan tafsir Al-Qur’an al- Karim karya Ibnu Katsir. Sedangkan data sekunder, penulis menggunakan buku-buku umum yang menjelaskan segala aspek terkait ghazw al-fikr, seperti yang penulis sebutkan dalam Tinjauan Pustaka, termasuk di dalamnya jurnal, majalah, internet, atau surat kabar.
3. Teknik dan Metode Pengumpulan Data
Adapun dalam menyusun penelitian skripsi ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan teknik dokumentatif, yaitu dengan mengumpulkan berbagai sumber data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, kitab, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya.
4. Metode Analisis Data
Metode analisis ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu berupaya untuk mengungkapkan dan menjelaskan penafsiran ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Sesuai dengan jenisnya, penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Hasil penelitian akan disampaikan dalam bentuk uraian verbal yang diberikan secara sistematis sebagai hasil pembacaan dan analisis terhadap objek kajian.
I. Teknik dan Sistematika Penulisan
Pada teknik penulisan penelitian ini, penulis menggunakan buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh IIQ Jakarta pada tahun 2016.
19
Untuk mengarahkan alur pembahasan secara sistematis dan mempermudah pembahasan, maka penelitian ini akan dibagi menjadi beberapa bab:
Bab pertama, Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, untuk memberikan penjelasan secara akademik mengapa penelitian ini perlu dilakukan dan hal apa yang melatarbelakangi penelitian ini.
Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi, pembahasan, dan perumusan masalah agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terfokus dan memiliki batasan yang jelas. Poin selanjutnya ialah tujuan penelitian yang merupakan tujuan yang ingin dicapai penulis berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat. Manfaat penelitian memaparkan kegunaan apa saja yang diharapkan oleh penulis ketika karya ini selesai dituliskan, baik secara teoritis maupun praktis.
Adapun tinjauan pustaka dimaksudkan untuk menjelaskan di mana posisi topik ini dalam khazanah keilmuan Islam serta di mana letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang lainnya. Sedangkan metode penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara yang akan ditempuh penulis dalam melakukan penelitian ini.
Bab kedua, menjabarkan secara detail dan mendalam tentang ghazw al-fikr, termasuk di dalamnya definisi, latar belakang, bentuk- bentuk, strategi penerapan, dan dampak negatifnya terhadap berbagai aspek kehidupan umat Islam. Pada bab ini penulis menggunakan referensi yang lebih dominan kepada buku-buku umum.
Bab ketiga, menjelaskan biografi mufassir yakni Sayyid Quthb serta profil kitab tafsirnya yaitu Fî Zhilâl al-Qur’ân. Termasuk di dalamnya berupa riwayat kehidupan, pendidikan dan karir, perkembangan pemikiran dan pengalaman organisasi,dan karya-
karya. Sedangkan profil kitab tafsir terbagi pada sumber penafsiran, metode, corak, dan sistematika.
Bab keempat, berupa inti dari penelitian ini, yaitu analisis tematik ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena ghazw al-fikr menggunakan tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb.
Kemudian penulis menambahkan referensi dari tafsir lainnya, yaitu tafsir Al-Azhar karya Hamka dan tafsir Al-Qur`ân al-Karîm karya Ibnu Katsîr. Pada bab ini penulis menggunakan referensi yang lebih dominan kepada kitab-kitab tafsir.
Bab kelima, merupakan bab penutup yang akan menyampaikan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian serta saran.
21 BAB II
SEKILAS TENTANG GHAZW AL-FIKR DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN UMAT ISLAM
A. Definisi Ghazw al-Fikr
1. Pengertian Ghazw al-Fikr menurut Bahasa
Al-Ghazwu (
َ و ز غ َ اَ ل
) berasal dari mashdar Ghazâ (ا ز غ
), memiliki dua makna. Yang pertama sebagaiَ ًنًا و ز غ َ – َاًو ز غ َ – َا ز غ
yaitu ‘serangan terhadap musuh’, artinya bertolak untuk menyerangnya dan menciduk dari rumahnya. Penyerangnya disebutَ زا غ
Jamaknya adalahٌَةا ز غ
1Kemudian makna yang kedua adalah 2
َ اًو ز غَ–َو ز غ يَ-َا ز غ
yaitu‘maksud atau menuju’.3
Sedangkan al-Fikru (
َ ركِف ل ا
)اًر ك ف َ – َ رِك ف ي َ – َ ر ك ف َ
berarti‘pemikiran dan pendapat’ atau ‘menggunakan akal yang diketahui untuk mencapai sesuatu yang tidak diketahui’. Jamaknya menurut Ibnu Duraid adalah 4
اًرا ك ف أ
contohnya sepertiٌَر كِفَِر م لْاَ ِفَِ ِلَِا مَ و
(Saya tidak mempunyai pemikiran tentang masalah ini.) 5
Jadi, ghazw al-fikr menurut bahasa adalah perang dengan
menggunakan pikiran.
1 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, (Mesir: Maktabah Shurûq al-Dauliyyah, 2004), h.
652
2 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, (t.tp: Qaulan Tsaqila Publisher, 2012), h. 9
3 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, t.t.), h. 3253
4 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, h. 3451
5 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, h. 698
BAB II
SEKILAS TENTANG GHAZW AL-FIKR DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN UMAT ISLAM
A. Definisi Ghazw al-Fikr
1. Pengertian Ghazw al-Fikr menurut Bahasa
Al-Ghazwu (
َ و ز غ َ اَ ل
) berasal dari mashdar Ghazâ (ا ز غ
), memiliki dua makna. Yang pertama sebagaiَ ًنًا و ز غ َ – َاًو ز غ َ – َا ز غ
yaitu ‘serangan terhadap musuh’, artinya bertolak untuk menyerangnya dan menciduk dari rumahnya. Penyerangnya disebutَ زا غ
Jamaknya adalahٌَةا ز غ
1Kemudian makna yang kedua adalah 2
َ اًو ز غَ–َو ز غ يَ-َا ز غ
yaitu‘maksud atau menuju’.3
Sedangkan al-Fikru (
َ ركِف ل ا
)اًر ك ف َ – َ رِك ف ي َ – َ ر ك ف َ
berarti‘pemikiran dan pendapat’ atau ‘menggunakan akal yang diketahui untuk mencapai sesuatu yang tidak diketahui’. Jamaknya menurut Ibnu Duraid adalah 4
اًرا ك ف أ
contohnya sepertiٌَر كِفَِر م لْاَ ِفَِ ِلَِا مَ و
(Saya tidak mempunyai pemikiran tentang masalah ini.) 5
Jadi, ghazw al-fikr menurut bahasa adalah perang dengan
menggunakan pikiran.
1 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, (Mesir: Maktabah Shuruq al-Dauliyyah, 2004), h.
652
2 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, (t.tp: Qaulan Tsaqila Publisher, 2012), h. 9
3 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, t.t.), h. 3253 4 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, h. 3451
5 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, h. 698