• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metodologi Penelitian

17

Azhar)", fakultas Ushuluddin, program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta. Skripsi ini membahas tentang penjelasan mengenai ayat-ayat yang dipakai oleh kaum radikal (untuk membenarkan tindakannya) menggunakan penafsiran Al-Azhar karya Hamka. Dalil yang dipakai adalah ayat-ayat tentang jihad serta amar ma'ruf dan nahi munkar.29 Antara skripsi ini dan penelitian penulis sama-sama membahas bentuk ghazw al-fikr (perang pemikiran), namun perbedaannya adalah skripsi ini membahas tentang salah satu program ghazw al-fikr yaitu radikalisme, sedangkan penulis membahas ghazw al-fikr secara lebih luas dan umum, tidak hanya tentang radikalisme.

G. Metodologi Penelitian

primer, yaitu Al-Qur'an, tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb, tafsir Al-Azhar karya Hamka, dan tafsir Al-Qur’an al- Karim karya Ibnu Katsir. Sedangkan data sekunder, penulis menggunakan buku-buku umum yang menjelaskan segala aspek terkait ghazw al-fikr, seperti yang penulis sebutkan dalam Tinjauan Pustaka, termasuk di dalamnya jurnal, majalah, internet, atau surat kabar.

3. Teknik dan Metode Pengumpulan Data

Adapun dalam menyusun penelitian skripsi ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan teknik dokumentatif, yaitu dengan mengumpulkan berbagai sumber data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, kitab, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya.

4. Metode Analisis Data

Metode analisis ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu berupaya untuk mengungkapkan dan menjelaskan penafsiran ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Sesuai dengan jenisnya, penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Hasil penelitian akan disampaikan dalam bentuk uraian verbal yang diberikan secara sistematis sebagai hasil pembacaan dan analisis terhadap objek kajian.

I. Teknik dan Sistematika Penulisan

Pada teknik penulisan penelitian ini, penulis menggunakan buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal dan Skripsi yang diterbitkan oleh IIQ Jakarta pada tahun 2016.

19

Untuk mengarahkan alur pembahasan secara sistematis dan mempermudah pembahasan, maka penelitian ini akan dibagi menjadi beberapa bab:

Bab pertama, Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, untuk memberikan penjelasan secara akademik mengapa penelitian ini perlu dilakukan dan hal apa yang melatarbelakangi penelitian ini.

Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi, pembahasan, dan perumusan masalah agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terfokus dan memiliki batasan yang jelas. Poin selanjutnya ialah tujuan penelitian yang merupakan tujuan yang ingin dicapai penulis berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat. Manfaat penelitian memaparkan kegunaan apa saja yang diharapkan oleh penulis ketika karya ini selesai dituliskan, baik secara teoritis maupun praktis.

Adapun tinjauan pustaka dimaksudkan untuk menjelaskan di mana posisi topik ini dalam khazanah keilmuan Islam serta di mana letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang lainnya. Sedangkan metode penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana cara yang akan ditempuh penulis dalam melakukan penelitian ini.

Bab kedua, menjabarkan secara detail dan mendalam tentang ghazw al-fikr, termasuk di dalamnya definisi, latar belakang, bentuk- bentuk, strategi penerapan, dan dampak negatifnya terhadap berbagai aspek kehidupan umat Islam. Pada bab ini penulis menggunakan referensi yang lebih dominan kepada buku-buku umum.

Bab ketiga, menjelaskan biografi mufassir yakni Sayyid Quthb serta profil kitab tafsirnya yaitu Fî Zhilâl al-Qur’ân. Termasuk di dalamnya berupa riwayat kehidupan, pendidikan dan karir, perkembangan pemikiran dan pengalaman organisasi,dan karya-

karya. Sedangkan profil kitab tafsir terbagi pada sumber penafsiran, metode, corak, dan sistematika.

Bab keempat, berupa inti dari penelitian ini, yaitu analisis tematik ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena ghazw al-fikr menggunakan tafsir Fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb.

Kemudian penulis menambahkan referensi dari tafsir lainnya, yaitu tafsir Al-Azhar karya Hamka dan tafsir Al-Qur`ân al-Karîm karya Ibnu Katsîr. Pada bab ini penulis menggunakan referensi yang lebih dominan kepada kitab-kitab tafsir.

Bab kelima, merupakan bab penutup yang akan menyampaikan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian serta saran.

21 BAB II

SEKILAS TENTANG GHAZW AL-FIKR DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN UMAT ISLAM

A. Definisi Ghazw al-Fikr

1. Pengertian Ghazw al-Fikr menurut Bahasa

Al-Ghazwu (

َ و ز غ َ اَ ل

) berasal dari mashdar Ghazâ (

ا ز غ

), memiliki dua makna. Yang pertama sebagai

َ ًنًا و ز غ َ – َاًو ز غ َ – َا ز غ

yaitu ‘serangan terhadap musuh’, artinya bertolak untuk menyerangnya dan menciduk dari rumahnya. Penyerangnya disebut

َ زا غ

Jamaknya adalah

ٌَةا ز غ

1

Kemudian makna yang kedua adalah 2

َ اًو ز غَ–َو ز غ يَ-َا ز غ

yaitu

‘maksud atau menuju’.3

Sedangkan al-Fikru (

َ ركِف ل ا

)

اًر ك ف َ – َ رِك ف ي َ – َ ر ك ف َ

berarti

‘pemikiran dan pendapat’ atau ‘menggunakan akal yang diketahui untuk mencapai sesuatu yang tidak diketahui’. Jamaknya menurut Ibnu Duraid adalah 4

اًرا ك ف أ

contohnya seperti

ٌَر كِفَِر م لْاَ ِفَِ ِلَِا مَ و

(Saya tidak mempunyai pemikiran tentang masalah ini.) 5

Jadi, ghazw al-fikr menurut bahasa adalah perang dengan

menggunakan pikiran.

1 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, (Mesir: Maktabah Shurûq al-Dauliyyah, 2004), h.

652

2 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, (t.tp: Qaulan Tsaqila Publisher, 2012), h. 9

3 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, t.t.), h. 3253

4 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, h. 3451

5 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, h. 698

BAB II

SEKILAS TENTANG GHAZW AL-FIKR DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN UMAT ISLAM

A. Definisi Ghazw al-Fikr

1. Pengertian Ghazw al-Fikr menurut Bahasa

Al-Ghazwu (

َ و ز غ َ اَ ل

) berasal dari mashdar Ghazâ (

ا ز غ

), memiliki dua makna. Yang pertama sebagai

َ ًنًا و ز غ َ – َاًو ز غ َ – َا ز غ

yaitu ‘serangan terhadap musuh’, artinya bertolak untuk menyerangnya dan menciduk dari rumahnya. Penyerangnya disebut

َ زا غ

Jamaknya adalah

ٌَةا ز غ

1

Kemudian makna yang kedua adalah 2

َ اًو ز غَ–َو ز غ يَ-َا ز غ

yaitu

‘maksud atau menuju’.3

Sedangkan al-Fikru (

َ ركِف ل ا

)

اًر ك ف َ – َ رِك ف ي َ – َ ر ك ف َ

berarti

‘pemikiran dan pendapat’ atau ‘menggunakan akal yang diketahui untuk mencapai sesuatu yang tidak diketahui’. Jamaknya menurut Ibnu Duraid adalah 4

اًرا ك ف أ

contohnya seperti

ٌَر كِفَِر م لْاَ ِفَِ ِلَِا مَ و

(Saya tidak mempunyai pemikiran tentang masalah ini.) 5

Jadi, ghazw al-fikr menurut bahasa adalah perang dengan

menggunakan pikiran.

1 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, (Mesir: Maktabah Shuruq al-Dauliyyah, 2004), h.

652

2 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, (t.tp: Qaulan Tsaqila Publisher, 2012), h. 9

3 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, (Kairo: Dâr al-Ma’ârif, t.t.), h. 3253 4 Ibnu Manzhur, Lisânul ‘Arab, h. 3451

5 Syauqi Dhaif, al-Mu’jâm al-Wasîth, h. 698

22

2. Pengertian Ghazw al-fikr menurut Istilah

a. Menurut Dr. Humud bin Ahmad al-Rohily, seorang dosen fakultas Dakwah dan Ushûluddîn Universitas Islam di Madinah

ه فِل ت مَُ ِلِئا س وِبَ مِهِن يِدَ ن عَ يِْمِل س م لاَِدا ع بِإَ ة ل وا مُ

َ ة عِدا خَ ءا سْ أَ ت تَ و ،َ

َِب يِر غَّ تلاَ: ل ثِمَ ة ق يِق ر

َِة ثا د لْاَ و أَ ِث يِد حَّتلا ،َ

َِن يِد مَّتلا ،َ

َِرُّض حَّتلا ،

َِ يِْي غَّ تلا ،َ

ىِع مِت جِ لْا

َ ة يِنا م لِع لاَِة لِم ع و ،َ

ا ِتِ لْا مََ ِفِ ،َ

.ا هيِرا مََ ِفَِا ه ق يِر طَ تَّق شَ و ،َ

َ

Sebuah rekayasa untuk menjauhkan umat Islam dari dien mereka dengan sarana-sarana yang bermacam-macam dan dengan propaganda-propaganda yang menipu dan halus, seperti:

westernisasi, modernisasi, nasionalisme, materialisme, modernisasi masyarakat, sekularisme yang bekerja pada lapangannya, dan terbukalah jalan pada salurannya.”6

b. Menurut Aliy bin Nayif al-Syuhud, seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah

َِةا ي لْاَِرِها ظ مَِة لا زِِلَُِِّبِ يِلَّصلاَ و ز غ لاَا ه ذ َّتَّاَ ِتَِّلاَِة يِر ك س ع لاَ يْ غَ لِئا س و لا

َ ِكُّس م تلاَ ِن عَ يِْمِل س م لاَ ِف ر ص وَ ِة يِم لَ سِ لِا

َ قَّل ع ت يَ اَِّمَِ ِم لَ سِ لِِبِ

َِة د يِق ع لِبِ

َ و ز غ لا فَ. ك و ل سَ ِطا نْ أَ وَ ديِلا ق ت وَ را ك ف أَ نِمَا ِبَِ لِصَّت يَا م و ،َ

َِر كِف لاَى ل عَ ل خ د تَ ِتَِّلاَِرا ك ف لْا وَ تا دِق ت ع م لاَ نِمَة ع و م مََاًذِإَُّىِر كِف لا

َ ف د هَىِم لَ سِ لِا

َ ن عَ ه فَّر حَ ِل ق لْاَى ل عَ و أَر كِف لاَا ذ هَى ل عَ ة ر ط يَّسلاَا ه

.ِة ح يِحَّصلاَِهِت ه ج و

Cara-cara (peperangan) non militer yang digunakan pada perang Salib untuk menghilangkan eksistensi kehidupan Islam dan melepaskan kaum muslimin dari berpegang teguh terhadap Islam tentang perkara yang berkaitan dengan akidah dan apa- apa yang berhubungan dengan pemikiran-pemikiran, taklid- taklid, dan cara-cara bertingkah laku. Maka Ghazw al-fikr kalau begitu adalah sejumlah ideologi dan pemikiran-pemikiran yang merasuk ke dalam pemikiran Islam di mana tujuannya untuk

6 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, h. 10

mendominasi pemikiran tersebut atau sekurang-kurangnya dapat menyelewengkannya dari maksud dan tujuan yang sebenarnya.7

c. Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, seorang ulama kontemporer Arab Saudi yang ahli di bidang sains, hadis, aqidah, dan fiqh

َا ِبَِ م و ق تَ ِتَِّلاَِد و ه لْاَ ة ع و م مََ ِنِ ع يَ ث يِد حَ ح ل ط ص مَ و هَُّىِر كِف لاَ و ز غ لا

ََّت تَ َّتِ حَا ه ي ل عَِ يِْث أ تلاَ و أَى ر خ أَ ةَّم أَى ل عَِء لَ يِت س لَِلَ ِم م لْاَ نِمٌَةَّم أ

َ هِج

.ًة نَّ ي ع مًَة ه ج و

Ghazw al-fikr adalah sejumlah daya upaya yang dilakukan oleh bangsa-bangsa untuk menguasai bangsa lain atau mempengaruhinya sehingga dapat mengarahkannya ke arah yang ditentukan.”8

d. Menurut Abu Ridho

Al-Ghazw al-fikr, penyerbuan atau invasi pemikiran, merupakan bagian tak terpisahkan dari ghazawat (berbagai jenis penyerbuan) yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Istilah tersebut dapat dikatakan masih baru di kalangan umat Islam, di mana ia populer setelah orang-orang kafir mengalihkan (meragamkan) penyerbuan konvensional mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Bukan saja hanya bersifat fisik, tetapi juga bentuk- bentuk penyerbuan lainnya seperti penyerbuan ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan pemikiran.”9

e. Menurut Hamka

“Ialah suatu teknik propaganda hebat melalui segala jalan, baik kasar maupun halus, dari sisi kebudayaan maupun ilmiah agar

7 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, h. 11 8 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, h. 10-11 9 Yoyo Rodiya Dzulfikar, Perang Pemikiran di Era Globalisasi, h. 12

24

cara berpikir dunia Islam berubah dari dasarnya, tanpa menyadari bahwa satu-satunya jalan yang benar supaya orang Islam maju adalah dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran Islam. Untuk itu tidak perlu berpindah agama, tetap menjadi orang Islam, tetapi tidak lagi meyakini ajaran Islam.”10

Dilihat dari berbagai pendapat para tokoh di atas, maka pengertian ghazw al-fikr dapat disimpulkan sebagai berikut: “Sebuah invasi (perang) non-militer yang tidak menyerang secara fisik namun dengan cara yang lebih halus (terselubung), menargetkan pemikiran seorang Muslim dengan menggunakan berbagai sarana/propaganda. Tujuannya untuk mengarahkan pemikiran Muslim kepada pemikiran yang mereka kehendaki kemudian sedikit demi sedikit syariat Islam tidak lagi diamalkan pada segala aspek hidupnya, baik dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan sosial. Sehingga ia hanya beragama Islam namun kehilangan identitasnya sebagai Muslim, bahkan bisa berujung murtad (keluar dari agama Islam).”

B. Latar Belakang dan Perkembangan Ghazw al-Fikr

Gladstone, seorang mantan Perdana Menteri Inggris dalam menyikapi agenda ghazw al-fikr melawan umat Islam pernah berkata,

“Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al- Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.” Gladstone tampaknya menyadari bahwa militansi pemuda-pemuda Muslim menjadi mustahil untuk digoyang selama Al-Qur’an tertancap di hati mereka. Al-

10 Hamka, Ghirah Cemburu karena Allah, (Jakarta: Gema Insani, 2016), h. 47

Qur’an bagi umat Islam jauh berbeda layaknya Injil bagi agama Kristen saat ini, karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang langsung turun dari Allah dan dijaga kesuciannya hingga akhir zaman. Sedangkan Injil tidak.

Ia telah terdistorsi.11

Sejarah telah membuktikan kekuatan umat Islam ini. Perang Salib contohnya, yang dicanangkan oleh Paus Urbanus di Roma untuk menggerakkan umat Kristen di Eropa menyerbu negeri kaum muslimin dengan tujuan utamanya adalah menduduki kota Yerusalem khususnya dan negeri Syam umumnya, yang berjalan selama dua abad dari tahun 1092 sampai 1291 Masehi. Ribuan orang Islam dibunuh secara bengis dan ratusan ribu kitab-kitab agama Islam dibakar dan dibuang. Namun dengan kegigihan pahlawan Islam yaitu Shalahuddin al-Ayyubi, akhirnya perang Salib dimenangkan oleh kaum muslimin dan mereka dapat merebut kembali kota Yerusalem.12 Kehebatan pasukan Muslim pimpinan para petinggi militer itu terbukti dapat membuat pasukan salib Eropa tak berkutik ketika di medan perang. Setiap kali kaum muslimin memperoleh kemenangan, kemenangan lain didapatkan secara bergiliran.

Demikian juga setiap kali mereka melakukan penaklukan, penaklukan lain berikutnya berhasil dilakukan tanpa merasa letih dan jenuh.13

Salah seorang Kristiani, Louis XI, Raja Perancis, setelah kekalahan bala tentaranya pada masa Perang Salib II, menulis sebuah catatan penting yang berbahaya. Ia menyinggung bahwa mereka tidak akan bisa menguasai kaum Muslimin melalui perang dan kekuatan. Sebabnya adalah karena kaum Muslimin memiliki faktor jihad fî sabîlillâh. Maka

11 Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam, (Solo:

Aqwam Media Profetika, 2014), h. 363

12 A. Munir dan Sudarsono, Aliran Modern dalam Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h. 120

13 Periode Perang Salib VII, Kemenangan Telak Pasukan Muslim, https://kumparan.com/potongan-nostalgia/periode-perang-salib-vii-kemenangan-telak- pasukan-muslim, diakses pada tanggal 25 Juli 2018

26

tidaklah mungkin kaum Muslimin diperbudak selama mereka tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an, mengamalkannya dan menetapkan hukum-hukumnya. Islam adalah agama kekuatan dan agama perjuangan.

Maka kaum Muslimin tidak akan pernah bertekuk lutut kepada siapapun selama mereka menyadari hal tersebut.14 Peperangan melawan kaum Muslimin harus dimulai dengan merusak akidah mereka yang sudah mengakar sehingga membentuk kekuatan jihad dan perlawanan. Harus segera dipisahkan antara akidah dengan syariat. Dari situ mulailah program ghazw al-fikr berkembang dalam bentuk Kristenisasi, Orientalisme, Westernisasi, dan perang budaya.15

Fenomena ghazw al-fikr ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman Khalifah ‘Utsmân bin ‘Affân ra., yang dilakukan oleh seorang tokoh Yahudi dalam beberapa referensi dipanggil Ibnu as-Sauda’ ‘Abdullâh bin Saba’ al-Yahudi. Meski mengaku sebagai muslim, akan tetapi dia kemudian menyembunyikan pengkhianatannya, lalu secara diam-diam berusaha memengaruhi orang-orang Arab Baduwi dan orang-orang yang baru masuk Islam dari berbagai daerah, dan pengkhianatan ini tidak jauh dari pemikiran jahiliyyah yang kental. Mulai dari menjelek-jelekkan para pemimpin muslim hingga melakukan makar untuk menurunkan para gubernur. Sejak masa kekhalifahan ‘Utsmân bin ‘Affân, Ibnu Saba’ dan para pengikutnya kerap melakukan makar.16

Ibnu Saba’ mencuci otak orang-orang Arab Baduwi dan orang-orang yang baru masuk Islam tersebut secara besar-besaran, memperdayakan kebodohan dan ketidakpahaman mereka terhadap nilai-nilai Al-Qur’an,

14 Abdul Aziz Al-Khayyath, Islam dalam Berbagai Ancaman, terj. oleh Anwar Wahdi Hasi, (Jakarta: Bonafida Cipta Pratama, 1993), h. 23-25

15 Muhammad Hamid an-Nashir, Mengupas Hakikat Gerakan Modernisasi, Liberalisasi, dan Westernisasi Ajaran Islam, terj. Al-Ashrâniyyûn Baina Mazâ’im at-Tajdîd wa Mayâdîn at-Taghrîb oleh Abu Umar Basyir, (Jakarta: Darul Haq, 2016), h. 92-93

16 Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam, h. 15

dan kecondongan mereka terhadap berbagai bentuk penyimpangan. Dia lalu membuat fitnah dan melakukan berbagai bentuk kejahatan di sekitar mereka hingga terbunuhnya ‘Utsmân bin ‘Affân di tangan sekelompok pengkhianat yang mengikuti jejak Ibnu Saba’ dan dilatih olehnya untuk memusuhi Islam dan kaum muslimin.17

Di Mesir dan Irak, Ibnu Saba’ juga menyebarkan fitnah dengan mengembangkan ajaran ar-Raj’ah (reinkarnasi)18 dan mengatakan,

“Tidakkah kamu tahu bahwa Isa bin Maryam akan kembali ke dunia ini?” Mereka lalu menjawab, “Iya.” Dia kemudian berkata kepada mereka, “Rasulullah Muhammad lebih utama dari Isa, tetapi mengapa kalian mengingkari bahwa Muhammad akan kembali ke dunia ini, sedangkan dia lebih utama dari Isa dan lebih mulia darinya? Memang mengherankan orang yang mengklaim bahwa Isa akan kembali dan Muhammad tidak akan kembali. Allah swt. berfirman,

َّ نِإ

َّٱ يِ لَّ

َّ

َّ َضَرَف

َّ

َّ يَلَع

ََّك

َّٱَّ ل

َّ رُق

ََّناَء

َّ

َّ اَرَل

ََّكُّد

َّ

َّى َ لِإ

َّ داَعَم َّ

َّ

٨٥ ...

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali...” (QS. Al-Qashash [28]: 85)

Jadi, menurut Ibnu Saba’, Muhammad lebih berhak untuk kembali daripada Isa.”19

Ibnu Saba’ kemudian berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia adalah nabi dan setiap nabi memiliki wasiat. Muhammad adalah penutup para nabi dan ‘Ali adalah orang yang paling terakhir diberi wasiat, maka dia lebih berhak memimpin daripada ‘Utsmân. Karena itu, bangkitlah kalian untuk urusan ini. Maka bergeraklah dan mulai menyerang para

17 Sa’ad Karim al-Fiqi, Pengkhianat-pengkhianat dalam Sejarah Islam, terj. Khiyanât Hazzat al-Tarikh al-Islâmi oleh Muhyiddin Mas Rida, (Jakarta: Al-Kautsar, 2009), h. 26 18 Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam, h. 16 19 Sa’ad Karim al-Fiqi, Pengkhianat-pengkhianat dalam Sejarah Islam, h. 26

28

pemimpin kalian.” Dia memengaruhi orang-orang untuk berkhianat kepada Utsman dan mengobarkan pemberontakan dan fitnah.20 Ghazw al-fikr oleh Ibnu Saba’ ini sifatnya terselubung dan fitnah yang ditimbulkannya sangat berpengaruh sekaligus berbahaya.

Sedangkan pada masa modern, fenomena ghazw al-fikr ini pertama kali masuk ke dunia Arab melalui Mesir (1798) pada serbuan imperialisme21 Barat modern oleh Napoleon Bonaparte. Serbuan ini berbeda dengan serbuan sebelumnya dalam perang salib, serbuan ini salah satu tujuannya adalah menjajah akal, mengganti pola pikir dan identitas bersamaan dengan pendudukan negeri, eksploitasi sumber alam dan pembudakan manusia. Sekularisme adalah satu misi yang dibawa oleh kehadiran Barat. Di semua negeri Muslim yang dijajah oleh Barat, kebijakan pemerintahannya sedikit demi sedikit menempatkan sekularisme dalam urusan negara, sosial dan kebudayaan untuk menggeser identitas Islam.22

Perkembangan pembaruan atas jasa Napoleon tersebut menjadi semakin kuat menguasai Mesir, terutama setelah diangkatnya Muhammad Ali Pasha sebagai gubernur Mesir. Muhammad Ali adalah tokoh pertama yang menerima kehadiran modernisasi Mesir. Usaha modernisasi yang dilakukan oleh Ali Pasha diawali dengan kebijakannya untuk memperbaiki Mesir hampir di segala aspek kehidupan. Seperti pertanian, administrasi, pendidikan, kemiliteran dan industri.

Modernisasi ini telah menjadi sebab Mesir memasuki masa liberal

20 Sa’ad Karim al-Fiqi, Pengkhianat-pengkhianat dalam Sejarah Islam, h. 26-27

21 Imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar (lihat KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat oleh Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 528)

22 Muhammad ‘Imarah, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terj. Ma’rakatul Musthalahât baina al-Gharbi wa al-Islâmî oleh Musthalah Maufur, (Jakarta: Robbani Press, 1998), h. 47

(liberal age). Paham liberalisme tumbuh mekar yang mengakibatkan munculnya sejumlah gagasan tentang pemisahan antara agama, kebudayaan dan politik. 23

Pada masa kekuasaan kaum kolonialis24 Barat yang sangat panjang, mereka terus berusaha menerapkan metode pendidikan dan pengajaran yang bersumber dari pemikiran mereka, dengan tujuan untuk mencetak generasi-generasi yang tunduk, patuh, dan tidak memusuhi kaum kolonialis, bahkan mereka harus merasa bangga. Metode-metode yang diterapkan kaum kolonialis tersebut bertujuan untuk menghancurkan sendi-sendi pemikiran Islam dan kebudayaan Arab di berbagai bidang;

politik, sosial, ekonomi, hukum, dan pendidikan. Juga untuk mengangkat dan menghidupkan pemahaman-pemahaman pemikiran Barat, memuliakan para pahlawan, penguasa, dan sejarah Barat. Mereka juga menyebarkan syubhat pada nilai-nilai Arab-Islam, dan merusaknya.

Kemudian, mereka menciptakan suasana baru yang penuh keraguan, kehinaan, dan kemunafikan.25

C. Program-program Ghazw al-Fikr

Dari tiga kelompok musuh besar Islam; Yahudi, Kristen Barat, dan Komunis26, lahir beberapa paham pemikiran yang sengaja dipasarkan ke

23 Siti Mahmudah, Historisitas Syari’ah; Kritik Relasi-Kuasa Khalil Abd. Al-Karim, (Yogyakarta: LKiS Printing Cemerlang, 2016), h. 74-75

24 Kolonialis adalah penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu (lihat KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat oleh Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 716)

25 Anwar Al-Jundy, Menjawab Tuduhan Musuh-musuh Islam, terj. Syubuhât fî al-Fikri al-Islâm oleh Muhammad Abdul Ghaffar, (Jakarta: Granada Nadia, 1994), h. 73

26 Penganut paham Komunisme, yaitu paham ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantinkannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara (http://www.kbbi.web.id/komunisme, diakses pada tanggal 1 Agustus 2018)

30

berbagai belahan dunia termasuk ke negeri-negeri Islam. Di antara paham-paham tersebut adalah,27

a) Westernisasi

Gerakan westernisasi28 adalah sebuah propaganda lengkap yang memiliki aturan, misi, dan berbagai sarana dan prasarana yang didukung oleh banyak gerakan yang mana gerakan terpentingnya adalah Kristenisasi dan Orientalisme.29 Kedua propaganda ini akibatnya masih bisa dirasakan sampai sekarang.

Kristenisasi terjadi sepanjang masa imperialisme terhadap negeri-negeri jajahan mereka, dengan tujuan untuk memporak- porandakan persatuan kaum Muslimin dan menanamkan keragu- raguan terhadap akidah. Mereka menggunakan metode pendidikan akademis, memberi sumbangan dan bantuan ke berbagai rumah sakit dan rumah-rumah yatim piatu. Mereka juga tidak luput untuk menggunakan penerbitan dan percetakan serta berbagai media tulis lainnya untuk mencapai target mereka.30

Sementara kalangan orientalis lebih memilih jalur penelitian.

Mereka mengklaim studi mereka sebagai “pendekatan akademis ilmiah”. Kaum orientalis telah menyebarkan banyak syubhat untuk merusak ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. dengan segala potensi yang mereka miliki. Mereka juga menanamkan keragu-raguan terhadap kenabian Muhammad saw. dan sejarah

27 Luthfi Bashori, Musuh Besar Umat Islam, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), 2000), h. 106

28 Westernisasi adalah pemujaan terhadap Barat yang berlebihan; pembaratan (KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat oleh Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 1561)

29 Muhammad Hamid an-Nashir, Mengupas Hakikat Gerakan Modernisasi, Liberalisasi, dan Westernisasi Ajaran Islam, h. 92

30 Muhammad Hamid an-Nashir, Mengupas Hakikat Gerakan Modernisasi, Liberalisasi, dan Westernisasi Ajaran Islam, h. 94