• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons Pengurusan Perusahaan terhadap Alam dan Kekayaan Alam

N/A
N/A
Ozik Syahreza

Academic year: 2024

Membagikan "Respons Pengurusan Perusahaan terhadap Alam dan Kekayaan Alam"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

Madq University

Press ' 'r*1* * . lrr*li''.,..,r' &,-t:
(2)

BAHAN GALIAN INDUSTRI

Prof.

Ir.

Sukandarrumidi, MSc.' PhD.

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS

(3)

Hak Penerbitan @ 2009 GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS P.O. Box 14, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

E-mail :

[email protected] Homepage

:

http://www.gmup.ugm.ac.id

Cetakan portama Cetakan kedua Cetakan ketlga

Maret 1998 September 20M Maret 2009

Dilarang mengulip dan memperbanyak tanpa izin teftulis dari penerbil, sobarTrrrr atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak, plr<ttoprint, microfilm dan sebagainya.

1499.10.03.09

Diterbitkan dan dicetak oleh:

GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS Anggota IKAPI

081'1171,-C2E

lsBN 979420-449-8

KATA PENGANTAR

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, antara lain disebutkan:

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalqh pokok-pokok kemakmuran ralqtat. Sebab

itu

harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran ralqtat.

Kekayaan alam yang dimaksudkan di atas adalah sumber daya mineral yang salah satunya adalah Bahan Galian Industri. Secara keseluruhan Indonesia memiliki Bahan Galian Industri dalam jumlah dan variasi yang cukup melimpah, tetapi secara setempat-setempat pada umum-

nya

sangat terbatas.

Oleh

sebab

itu

pemberdayaan Bahan Galian Industri yang paling sesuai, diusahakan oleh rakyat, dan dapat diusa- hakan dengan teknologi sederhana.

Buku ini disusun dari berbagai pustaka dan hasil penelitian serta pengalaman lapangan, diramu dan dikemas secara praktis dengan tidak meninggalkan kaidah-kaidah ilmiah. Buku ini terdiri dari sebelas Bab dengan urutan Bab

I-I[

membahas tentang Pendahuluan; Perusa- haan Pertambangan; Teknik Eksplorasi dan Eksploitasi; Bab

IV-IX

membahas tentang Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuarl sedimen, Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan gunung

api,

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan intrusi plutonik batuan asam dan

ultra

basa, Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan endapan residu dan endapan letakan, Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan proses ubahan hidrothermal dan Bahan Galian lndustri yang berkaitan dengan batuan malihan, Bab

X

meng- uraikan tentang Keselamatan Keq'a yang perlu mendapat perhatian oleh semua pelaku industri, diakhiri dengan Bab

XI

yang membahas

tentang Strategi Pengelolaan Sumber Daya Mineral.

Dari uraian singkat tersebut, memberi gambaran bahwa buku

ini

(4)

vt

tidak hanya dapat dipergunakan oreh mereka yang menaruh minat tentang Ilmu geologi tetapi juga dapat dirrpnfaaikari oreh masyarakat yang ingin memberdayakan Bahan Galian Industri sebagai komoaitas ekonomi.

Semoga apa yang diuraikan dalam buku ini bermanfaat.

Yogyakarta, September I 99g Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

vii xii

xiii

DAF-TAR ISI

DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I.

BAB II.

BAB III.

PENDAHULUAN

1.

Sumber Daya Mineral

...

I

2.

Sumber Daya (Resource) dan Cadangan (Re-

serve)

2

3.

Menghitung Cadangan

...

5

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN

1.

Kuasa Pertambangan

(KP)

7

2.

Persyaratan dan Prosedur Permohonan

KP ...

8

3.

Pengawasan

dan

Pembinaan Usaha Pertam-

bangan

I I

4.

Surat Izin Pertambangan Daerah

(SIPD)

12

5.

Persyaratan dan Prosedur Permohonan SIPD

.... l3 6.

Proscdur Pennohonan SIPD

...

14

7.

Pengendulian dan Pengawasan Usaha Pertam-

- bangan

15

TEKNIK EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI

l.

Teknik

Eksplorasi

16

2.

Kualitas Contoh

Batuan

18

3.

Tcknik

Ekploitasi

26

-1. Peledakan

...

28
(5)

viii

5.

Pengolahan Bahan Galian Industri

6.

Pemasaran

BAB IV. BAHAN

GALIAN

INDUSTRI YANG BERKAITAN DENGAN BATUAN SEDIMEN

A.

SUBKELOMPOK

A

1. Batu gamping

2.

Dolomit

3.

Kalsit

4.

Marmer

5.

Oniks

6.

Fosfat

B. SUBKELOMPOK B 1. Bentonit

2.

Ball clay dan Bond clay

3.

Fire

clay

...

4.

Zeolit

5. Diatomea

...

6.

Yodium

7.

Mangan

8.

Feldspar

BAB

V

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN DENGAN BATUAN GLTNLTNG API

l.

Obsidian

2.

Perlit

3.

Pumice

4.

Tras

5.

Belerang

6.

Trakhit

7.

Kayu terkersikan

8.

Opal

34 36

38 55 57 59

65 67 62 63

128 130 132 72 19 82 83

9r

93 95 103

109

ll1

113 116

t22 t27

9.

Kalscdon

6. Pirofilit

1X

l0.Andesit dan

basalt

135

I l.Pasir gunung

api

140

BAB

VI

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN DENGAN INTRUSI PLUTONIK

BATUAN

ASAM DAN ULTRA BASA

1. Granit dan Granodiorit

2.

Gabro dan

Peridotit

...

3.

A1kali Felspar

4.

Bauksit

5.

Mika

6.

Asbes

BAB VII BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN

DENGAN

ENDAPAN RESIDU

DAN

ENDAPAN LETAKAN

l. Lempung

160

2.

Pasir

Kuarsa

170

148 150

t52

152 1s5 157

178 185 192 r93 195 198 201

3.

Intan

4.

Kaolin

5.

Zirkon

6.

Korundum

7.

Kelompok Kalsedon

8.

Kuarsa Kristal

9.

Sirtu

BAB

VIIIBAHAN GALIAN

INDUSTRI

YANG

BERKAIT-

AN

DENGAN PROSES

UBAHAN

HIDROTHER-

MAL

1. Barit

2.

Gipsum

3.

Kaolin

4.

Talk

5. Magnesit

...

203 205 206 206 207 209

(6)

7.

8.

9.

Oker

Toseki

2tt

215 Tawas 217

BAB IX.

BAB X.

BAB XI.

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAIT.

AN DENGAN BATUAN

MALIHAN

l. Kalsit

...:...,.,-,....

2.

Marmer

3.

Batu Sabak

4.

Kuarsit

5.

Grafit

6.

Mika

7.

Wolastonit

KESELAMATAN KERIA

l.

Kecelakaan Akibat Kerja dan Pencegahannya ..

2.

Statistik Kecelakaan Kerja ...

3.

Peraturan Perundangan Dibidang Keselamatan Kerja ...

4.

Keselamatan Kerja Bidang Kebakaran

5.

Pesawat/Pembangkit Uap ...

6.

Pengamanan Mesin dan Alat Mekanik

7.

Bahan Berbahaya dan Keselamatan

Kerja

...

8.

Alat-alat Tangan

9.

Aneka Pendekatan Keselamatan lain ...

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

l.

Penggolongan Bahan Galian

2.

Usaha Pertambangan Bahan Galian

3.

Pengusaha Pertambangan Bahan Galian

4.

Kuasa Pertambangan ...

-5. Bentuk Kuasa Pertambangan ...

6.

Isi Kuasa Pertambangan ...

7.

Peranan Gubernur/Kepala Daerah

Dati I-pro- pinsi

...

219 220 220 222 223 224 226 228 230 231 232 237 239 241 24s 247

)\) 25t

253 253 254 255 255

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

DAFTAR PUSTAKA

xl

Pemindahan Kuasa Pertambangan ... 251.

Hubungan Kuasa Pertambangan dengan Hak

Tanah

257

Pemilik Bahan

Galian

258

Batasan Pertambangan

Rakyat

258

Macam Bahan Galian yang Diusahakan

...

259

Kuasa (Izin)

Pertambangan

259

Yang Melakukan

Penambangan

259

Bentuk Usaha Pertambangan

...

259 Tujuan Adanya Pertambangan Rakyat

Pungutan Negara Berkaitan dengan Kuasa Pertambangan ...

260 260 262

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1.

Bagan alir kegiatan pada kuari andesit Gambar

2.

Bagan alir pengolahan gipsum

Gambar

3.

Bagan alir pengolahan butir bentonit Gambar

4.

Bagan alir pengolahan mineral

zeolit

...

Gambar

5.

Bagan alir pengolahan feldspar

Gambar

6.

Bagan alir pengolahan

tras

...

Gambar

8. Bagan alir

proses pengolahan bongkah ande- sit/basalt menjadi ukuran sesuai dengan keperluan Gambar

9.

Bagan alir pengolahan batuapung ...

Gambar 10. Bagan alir pengolahan pasir kuarsa

Gambar 1 1. Bagan alir proses pengolahan kaolin secara umum Gambar l2.Bagan alir pengolahan kaolin untuk pengisi

28 70 78 86 107

t2t

t24

139 146 175 r89

190

Tabel 1.

Tabel2.

Tabel 3.

Tabel 4.

Tabel 5.

Tabel 6.

TabelT.

Tabel 8.

Tabel 9.

Tabel 10.

Tabel 11.

Tabel 12

Tabel 13.

Tabel 14.

Tabel 15.

Tabel 16.

DAFTAR TABEL

Ukuran dan

jumlah

agregat pada pengujian keta- hanan terhadap pelapukan

Susunan gradasi agregat yang

diuji

dan jumlah bola baja ...

Tujuan dan sistem pengolahan bahan galian industri Tatanama batugamping sesuai dengan kadar mag- nesium

Susunan kimia kapur tohor yang diperdagangkan di Amerika Serikat

Species zeolityangumum didapatkan dalam batuan . Persyaratan bijih mangan untuk batere kering

Standart komposisi kimia Tras

Sifat fisik breksi pumice, bata merah dan batako ...

Spesifikasi pasir kuarsa untuk industri gelas/kaca ...

Spesifikasi pasir kuarsa untuk bata tahan api

Spesifi kasi pasir kuarsa untuk pengecoran ...

Derajat kejernihan intan ...

Wama dan kejernihan intan

Sifat bahaya kebakaran beberapa bahan yang dipakai dalam industri

23

24 35

40

47 84 100

tt6

t44

176 t77

t78

183

t84

233 Klasifikasi bahan-bahan yang dapat meledak menu-

rut kecepatan naiknya

tekanan

235
(8)

BAB I

PBNDAHULUAN

1.

SUMBER DAYA

MINERAL

Mineral merupakan sumberdaya alam yang proses pemben- tukannya memerlukan waktu jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan. Mineral dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri/produksi. Dalam hal demikian mineral lebih dikenal sebagai bahan galian. Betapa pentingnya kedudukan bahan galian

di

Indonesia maka melalui Peraturan Pernerintah No.

27

tahun 1980. Pemerintah Republik Indonesia membagi bahan galian menjadi 3 golongan yaitu:

o

Bahan galian strategis disebut pula sebagai bahan galian golongan A terdiri dari: minyak bumi, bitumen cair, lilin bek-u, gas alam, bitumen padat, aspal, antrasit, batubara, batubara muda, uranium radium, thoriurn bahan galian radioaktif lainnya, nikel, kobalt, timah.

o

Bahan galian vital disebut pula sebagai bahan galian golongan B.

terdiri dari: besi, mangaan, molibden, khrom, wolfram, vanidium, titan, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas, platina, perak, air raksa, arsen, antimon, bismut, ytriunt, rhutenium, cerium, dan logam-logam langka lainnya, berillium, korundum, zirkon, kristal kuarsa, kriotit, fluorspar, barit, yodium, brom, khlor, belerang.

.

Bahan galian non strategis dan non vital, disebut pula sebagai bagan

galian golongan

C.

Terdiri. dari: nitrat,

nitrit,

fbsfat, garam batu

(halit), asbes,

talk.

mika. grafit. magnesit, yarosit. leusit, tawas (alum), oker, batu pemata, batu setengah permata, pasir kuarsa, kao-

lin. feldspar, gipsum, bentonit. tanah diatomea. tanah serap (fuLler

(9)

2

earth'), batu apung, trass, obsidian, marmer, batutulis, batu kapur, doiomit, kalsit, granit, andesit, basalt, trakhit, tanah liat, pasir, sepan-

jang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan

A

maupun golongan

B

dalam skala yang berarti dari segi ekonomi pertam- bangan.

Bahan galian industri sebagian besar termasuk bahan galian golongan

C,

walaupun beberapa jenis t;rmasuk dalam bahan galian golongan yang lain. Secara geologi bahan galian industri terdapat dalam ketiga jenis batuan yang ada dialam yaitu terdapat dalam batuan beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf, mulai dari yang berumur Pra Tersier sampai Kuarter. Bahan bangunan alam tidak lain adalah bahan

galian industri yang belum diientuh rekayasa teknik. Oleh sebab itu dengan semakin majunya rekayasa teknik tidak tertutup kemungkinan

jenis

bahan galian industri akan bertambah jenisnya. Bahan galian industri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari, bahkan dapat dikatakan bahwa manusia hidup tidak terlepas dari bahan

galian industri. Hampir semua peralatan rumah tangga, bangunan fisik, obat, kosmetik, alat rulis, barang pecah belah sampai kreasi seni dibuat langsung atau

dari

hasil pengolahan bahan galian industri melalui rekayasa teknik.

2.

SUMBER DAYA (RESOURCE) DAN CADANGAN (RESERVE)

Di Indonesia cukup banyak terdapat batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf yang berumur Pra Tersier sampai Kuarter. Sebagai akibat proses geologi yang telah berlangsung jutaan tahun secara kese-

luruhan menghasilkan macafi) dan jumlah bahan galian industri yang cukup banyak, namun secara setempat-setempat mempunyai jumlah yang mungkin sangat terbatas. Untuk mengetahui kualitas suatu bahan galian dikenal istilah sumberdaya ( Re source ) dan Cadangan ( Re se n,e ).

3

a.

Sumber Daya (Resource)

Dikenal dua istilah yaitu Sumber Daya yang diketahui (identified resource') dan Sumber Daya yang belum ditemukan (wtdiscot,ered resource). Disamping itu dikenal pula istilah:

o

Sumber Daya Tingkat Spekulatif (Speculutive Resource)

Adalah potensi sumber daya bahan galian yang mungkin dapat diproduksi dari suatu daerah prospek bahan galian dimana data yang dijadikan dasar perhitungan terutama mengacu pada hasil stucli pustaka dan penelitian lapangan sepintas (rer:ognii.e).

.

Sumber Daya Tingkat Hipotetis (HypotheticaL Resource)

Adalah potensi sumber daya bahan galian yang mungkin dapat diproduksi dari suatu daerah prospek bahan galian dimana data yang dijadikan dasar adalah tinjauan lapangan secara regional serta hasil analisa laboratorium. Dengan demikian maka sumber daya tingkat spekulatif merupakan tingkat perhitungan yang relatif sangat kasar dibandingkan dengan sumber daya tingkat hiporetis.

b.

Cadangan (Reserve)

Mengacu pada klasifikasi hasil Koordinasi Teknis Neraca Sumber Daya Alam Nasional (1991), Cadangan (Resente) dibedakan menjadi:

o

Cadangan Hipotetik (Hypothetir:al Resen,e)

Adalah cadangan suatu bahan galian yang bersifat deduktif/ dugaan

dari kemungkinan faktor-faktor geologi yang mengontrolnya atau

dugaan

dari hasil

penyelidikan arvaVtinjau. Tingkat keyakinan cadangan sebesar (10-15)7o dari total cadangan yang diduga.

o

Cadangan Tereka (Probable Reserve)

Adalah caclangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan atas tinjauan lapangan dengan tingkat keyakinan cadangan (20-30)Ea dari total cadangan yang ada

.

Cadangan Terindikasi (lndicated Resente)

Adalah cadangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan atas penelitian lapangan dan hasil analisa laboratorium dengan

tingkat keyakinan cadangan (50-60)Vo dari total cadangan yang

(10)

4

terindikasi.

o

Cadangan Terukur (Measured Reserve)

Adalah cadangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan atas penelitian lapangan secara sistematis dan hasil analisa labora-

torium dengan tingkat keyakinan cadangan (80-85)Vo

dari

total cadangan yang ada.

Disamping istilah tersebut di atas didalam perhitungan cadang- an suatu bahan galian dikenal pula:

.

Cadangan Ditempat (ln Place/Geologicctl Reserve/Reserve Base) Adalah jumlah bahan galian yang sebenarnya terdapat

di

bawah tanah yang telah dihitung melalui persyaratan ekonomi pertambangan dalam kondisi tertentu. Dalam kegiatan penambangan komersial cadangan ditempat selanjutnya dievaluasi untuk memperhitungkan berapa sebenamya jurnlah bahan galian yang dapat dimanfaatkan

melalui

operasi penambangan.

Dalam hal ini dikenal

istilah Cadangan dapat ditambang.

o

Cadangan Dapat Ditambang (Recoverable Resen,e)

Adalah jumlah cadangan bahan galian yang diharapkan akan dapat ditambang dengan menggunakan teknologi pada saat perhitungan.

Cadangan dapat ditambang dalam metode tambang

blka

(open cut mining) pada umumnya diperhitungkan lebih dari 907o dari cadangan ditempat, tetapi dalam lingkungan tambang dalam (underground mining) khususnya yang cukup dalam pada umumnya diperhitungkan faktor perolehan kurang dari 60Vc. Kondisi struktur endapan, metoda penambangan memegang peranan penting dalam menentukan faktor pembatas bagi bahan galian yang mempunyai afti ekonomi. Angka prosentase tersebut sangat mungkin bersifat lokal, diperoleh dari pengalaman operasi tambang dan hanya berlaku untuk bahan galian yang bersangkutan.

o

Cadangan Dapat Dijual (SaleabLe Reserue)

Apabila bahan

galian dari hasil

tambang dapat

dijual

tanpa mengalami benefisiasi/peningkatan mutu seperti pencucian, pemilah- an dan sebagainya seluruh perolehan tambang tersebut seluruhnya akan dapat dijual. Tetapi apabila hasil tambang tersebut terlalu kotor

5

dan perlu dibenefiasi untuk memenuhi permintaan pasar. maka jumlah bahan galian yang akan dapat dijual

di

kurangi oleh faktor benefisiasi. Faktor ini sebagian ditentukan oleh kualitas bahan galian

itu

sendiri dan sebagian oleh spesifikasi bahan galian yang akan dijual sesuai dengan permintaan pembeli. Bilamana data pencucian dan spesifikasi sudah dapat ditentukan maka akan dapat diperkirakan besarnya cadangan dapat dijual (Saleable Reserve) yang menyatakan nilai ekonomis sebenarnya dari endapan bahan galian tersebut.

3.

MENGHITUNG CADANGAN

Memperhitungkan Sumber Daya atau Cadangan bahan galian industri sangat sederhana dibandingkan dengan bahan galian yang lain.

Hal ini pada dasamya disebabkan oleh kesederhanaan geometri endapan

bahan galian tersebut terutama yang telah dideliniasi oleh kegiatan eksplorasi. Evaluasi Sumber Daya atau Cadangan bahan galian industri dalam lingkup Pengelolaan Sumber Daya (Resource Management) memerlukan tindak tambahan sehubungan dengan ketelitian pelaporan eksplorasi. Penilaian suatu cadangan bahan galian industri dapat dilakukan dengan beberapa metoda sesuai dengan tingkat eksplorasinya sepefti metode poligon, esopah, penampang melintang atau metode geometri lainnya. Dengan metode tersebut atau metode konvensional lainnya dianggap bahwa ketebalan lapisan bahan galian industri yang bersangkutan dapat

diikuti

dan diketahui

dari

singkapan yang ada.

Karena kesederhanaan geometri endapan bahan

galian

tersebut, ditunjang dapat diamati dilapangan biasanya metode konvensional tersebut cukup dapat diterima.

Catatan:

Data planimeter ditetapkan untuk perhitungan cadangan bahan

galian dari data permukaan (peta geologi). Asumsinya adalah bahwa volurne cadangan diperhitungkan sebagai hasil perkalian antara kelas dua bidang pembatas yang saling sejajar (yang merupakan manifestasi

(11)

6

interval garis kontur). Tubuh bahan galtan dianggap sebagai bukit, yang terdiri atas bentuk prisma terpancung/bentuk piramid/bentuk kerucut.

Rumusan pri sma terpancung

Y =1l2xHx(A+B) V

= volume (mr)

H -

jarak (selisih) dua bidang pembatas (m)

A

= luas biclang kontur bawah (mr)

B

= luas bidang kontur atas (rnr) Rumusan piramid/kerucut

V=l/3HxA

V, H dan A identik keterangan diatas

Parameter A, B dan H dapat dihitung dari peta topografi sedang H merupakan beda tinggi (elevasi) dari bidang A ke bidang B, luas bidang A dan B dihitung dengan cara planimeter.

Rumusan perhitungan cara planimeter

A

=(P-Q)x(m/n)2xUu

A

= luas kontur (m2)

P

= pembacaan akhir pada planimeter

Q -

pembacaan awal pada planimeter

m

= skala peta-peta topografi

n

= skala planimeter (ditetapkan) Ua = unit area, merupakan konstante

BAB II

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN

Di dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33, Ayat (3) dise- butkan, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai

oleh

negara

dan

dipergunakan

untuk

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Di dalam pasal tersebut tersirat didalam kekaya- an alam salah satu

di

antaranya adalah bahan galian industri. Agar semua bahan galian tersebut

di

atas memberi manfaat sebesar-

besarnya

untuk

kemakmuran rakyat. Disadari sepenuhnya bahwa kegiatan penambangan bahan galian tidak terkecuali juga bahan galian industri akan mengubah keadaan lingkungan. Oleh karenanya semua kegiatan yang berkaitan wajib diusahakan secara benar dan memper- hatikan keseimbangan alam yang dilaksanakan dengan sadar dan tidak perlu pengawasan. Berkaitan dengan hal tersebut seorang pengusaha bahan galian diwajibkan untuk memahami dan melaksanakan konsep- konsep Pengelolaan Sumber Daya Alam (Resource Management).

Untuk

mewujudkan

hal

tersebut

telah diatur

pengusahaan pertambangan bahan galian golongan

A

dan

B

yang diatur dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP) sedang untuk bahan galian golong- an C dalam bentuk Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD).

I.

KUASA PERTAMBANGAN (KP)

Dikenal 6 jenis KP yaitu KP Penyelidikan Umum, KP Eksplo- rasi, KP Eksploitasi, KP Pengolahan dan Pemurnian, KP Pengangkut- an dan KP Penjualan. Kuasa Pertambangan dapat diberikan kepada:

(12)

8

o

Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Pertambangan

o

Perusahaan Negara

o

Perusahaan Daerah

o

Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan daerah

o

Koperasi

o

Badan atau Perseorangan Swasta yang memenuhi syarat

o

Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan atau daerah dengan koperasi dan atau badan/perseorangan swasta yang meme- nuhi syarat-syarat

o

Pertambangan Rakyat.

Perlu diketahui bahwa bahan galian golongan

A

pada hakekat- nya hanya dapat diusahakan oleh Instansi Pemerintah yang ditunjuk

oleh

Menteri Pertambangan dan Energi dan Perusahaan Negara.

Selain itu dapat pula diusahakan oleh swasta maupun Pertambangan Rakyat dengan syarat tertentu seperti telah diatur dalam Undang- Undang No. I

I

tahun 1967, pasal 7 dan pasal 8.

2. PIiRSYARATAN DAN PROSEDUR PBRMOHONAN KP Persyaratan dan prosedur permohonan

KP oleh

perusahaan yang berlaku, diajukan kepada Menteri Pertambangan dan Energi

(MPE).

Wewenang

Menteri

Pertambangan

dan Energi

tersebut kemudian dilimpahkan kepada Direktur Direktorat Jendral pertam- bangan Umum (DJPU) dengan mengacu pada Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi (Kepmen MPE No. 2027, WZO\/ME/1985 tanggal

28

September 1985), sehingga permintaan

Kp

dan penye- lesaiannya menjadi wewenang Direktorat Jendral pertambangan Umum. Sebagai pelaksanaan keputusan menteri tersebut, oleh Direk-

torat

Jendral Pertambangan

Umum

dikeluarkan Keputusan No.

667.W2011040000/1986 tanggal I

I

November 1986.

9

a. Persyaratan Permohonan KP

Persyaratan yang harus dilengkapi oleh pemohon dalam. surat permohonan KP adalah sebagai berikut:

o

Surat permohonan bagi perusahaan harus diajukan di atas kop surat perusahaan pemohon dengan dibubuhi materai tempel dan bagi perorangan diajukan di atas kertas bermaterai dengan ketentuan yang berlaku.

o

Peta bagan/wilayah yang dimohon dengan skala 1:50.000 untuk Pulau Jawa dan Pulau Bali, atau skala l:250.000 di luar Pulau Jawa dan Pulau Bali.

o

Surat Jaminan Bank dari Bank Pemerintah sesuai dengan Keputusan

MPE

No.

749/I{PTSIM/Pertamben/1981 dengan ketentuan bahwa Jaminan Bank tersebut baru dapat dicairkan setelah disetujui atau ditolaknya permohonan KP yang bersangkutan.

r

Setoran Pajak Terhitung (SPT) tahun terakhir.

o

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

o

Pernyataan tenaga ahli, perjanjian kerja tenaga ahli, fotokopi ljazah, daftar riwayat hidup dan fotokopi Karru Tanda Penduduk (KTp).

o

Fotokopi KTP penanda tangan surat permohonan.

o Akte

Pendirian Perusahaan

yang

salah satu

dari

maksud dan

tujuannya menyebutkan berusaha

di

bidang pertambangan dengan disertai

bukti

pendaftaran akte tersebut pada pengadilan Negara setempat

bagi CV

dan Firma serta tambahan pengesahan dari Departemen Kehakiman bagi PT dan Anggaran Dasar yang disahkan oleh instansi yang berwenang bagi Koperasi.

Untuk

permohonan

KP

Eksploitasi

di

samping persyaratan tersebut di atas ditambah lagi dengan:

o

Laporan Eksplorasi lengkap.

o

Laporan Studi Kelayakan juga meliputi Rencana Kerja Eksploitasi.

b. Prosedur Permohonan KP

Secara umum prosedur permohonan dan proses yang diakui

oleh

Direktur Direktorat Jendral Pertambangan Umum atas nama
(13)

L2

3. PENGAWASAN DAN PBMBINAAN USAHA

PERTAM- BANGAN

Pengawasan dan pembinaan pengusahaan pertambangan, baik mencakup aspek teknis pertambangan maupun manajerial, secara umum menjadi wewenang dan tanggung jawab Menteri pertambangan

dan

Energi.

Menteri

tersebut melaksanakan wewenang eksekutif Pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan di bidang pertambang- an sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Direktur Direktorat Jendral Pertambangan Umum dalam hal

ini

melaksanakan

wewenang

yang dilimpahkan oleh MPE untuk

menjalankan pengawasan

dan

pembinaan terhadap pengusahaan pertambangan

umum, kecuali

sebagian bahan

galian

golongan

C

.yang telah dilimpahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I.

Pengawasan

dan

pembinaan

yang dilakukan

tersebut terutama

melip'rti

keselamatan

dan

kesehatan kerja, pengawasan produksi, prinsip konservasi dan pengelolaan lingkungan yang baik. Selama berlakunya

KP, Direktur

Jendral Pertambangan

Umum

(DJPU) berkewajiban mengurusi dan membina pelaksanaan

Kp,

menjamin hak-hak serta

di lain

pihak menjaga agar kewajibannya dipenuhi sesuai dengan ketentuan KP, mulai dari tahap penyelidikan umum sampai tahap operasi produksi termasuk pemasarannya.

Para

pemegang

KP

berkewajiban menyampaikan laporan berkala setiap triwulan dan laporan tahunan mencakup segala kegiatan utama yang dilakukan. Pemegang KP juga berkewajiban membayar iuran pertambangan (iuran tetap dan iuran produksi), memberikan batas wilayah

KP

Eksplorasi dan atau Eksploitasi serta membayar ganti rugi tanah yang dipakai. Di lain pihak para pemegang Kp berhak atas pelayanan, antara lain dalam benuk bantuan dalam pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi, seperti masalah pembebasan lahan, permasalahan lingkungan, gangguan para penambang tanpa izin dan lain-lain.

13

4. SURAT

IZIN

PERTAMBANGAN DAERAH (SIPD)

Pengusahaan pertambangan bahan galian golongan C termasuk bahan galian industri hanya dilaksanakan setelah mendapat izin dari yang berwenang.

Jenis-jenis SIPD adalah: SiPD Eksplorasi, SIPD Eksploitasi,

S IPD Pen golahan/Pemurn ian, S IPD Penj ualan, S IPD Pengangkutan.

SIPD dapat diberikan kepada:

o

Perusahaan Daerah

o

Koperasi

o

Badan Usaha Milik Negara

o

Badan Hukum Swasta

o

Perorangan

o

Perusahaan dengan modal milik bersama antara Negara/Badan Usaha

Milik

Negara (BLIMN) dengan Pemda

TK I

dan atau Pemda

TK II

atau Perusahaan Daerah (PD)

o

Perusahaan dengan modal bersama antara BUMN dan atau pemda TK yIyPD dengan Koperasi, Badan Hukum Swasta atau perorangan.

5. PERSYARATAN DAN PROSEDUR PERMOHONAN SIPD Persyaratan dan prosedur permohonan SIPD diajukan kepada Gubernur

KDH

seperti telah diatur oleh Peraturan Daerah (percla) Propinsi Daerah Tingkat I.

a. Persyaratan Permohonan SIPD adalah:

.

Mengajukan permohonan tertulis kepada Gubemur dengan melam- pirkan

l)

Rekomendasi dari BupatiAValikotamadya sctempat di mana penambangan akan dilaksanakan.

2)

Peta lokasi

di

mana penam- bangan akan dilaksanakan.

r

Apabila persyaratan tersebut telah dipenuhi, setelah mempertim- bangkan aspek-aspek tataguna tanah, land reform, hak-hak atas tanah
(14)

11

untuk mendapatkan data geologi lebih lanjut dalam usaha untuk mengetahui jumlah cadangan/ketebalan perlapisan dan kualitas/mutu bahan galian diperlukan pekerjaan:

BAB III

TEKNTK EKSPLORASI DAN EKPLOITASI

1. TEKNIK

EKSPLORASI

Pembagian bahan galian industri berdasarkan atas asosiasi dengan batuan tempat terdapatnya, dengan mengacu pada Tushadi dkk (1990) adalah sebagai berikut:

o

Kelompok

I:

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan Batuan sedimen. Kelompok ini dibagi menjadi:

o

Sub Kelompok

A:

Bahan

Galian lndustri yang

berkaitan dbrigan batugamping

.

Sub Kelompok

B:

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan sedimen lainnya.

o

Kelompok

II:

Bahan Galian lndustri yang berkaitan dengan batuan gunung api.

o

Kelompok

III:

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan intrusi plutonik batuan asam dan ultra basa.

.

Kelompok IV: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan endapan residu dan endapan letakan.

o

Kelompok

V:

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal.

o

Kelompok

VI:

Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan metamorf.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka teknik eksplorasi awal yang ditetapkan adalah pemetaan geologi permukaan utamanya mendasarkan atas singkapan batuan dipermukaan.

a.

Pemboran

inti

Tujuan utama pemboran inti adalah untuk mendapatkan contoh bahan galian secara vertikal yang berada dibawah permukaan tanah, disarnping itu mengetahui ketebalannya.

Teknik melerakkan

titik

rokasi pemboran

inti ini

agar dida- patkan kedalaman yang maksimal dilakukan dengan bantuan peta geologi dan peta topografi.

oleh

sebab

itu

apabila didaerah tersebut belum/tidak didapatkan pera topografi dengan skala yang meiradai, maka perlu dibuat pera topografinya terlebih dahulu.

Sesuai dengan tingkat kedaraman pemboran yang diinginkan dan waktu yang tersedia, pemboran inti dapat dilaksanakan dengan:

o Alat bor

auger, yang dioperasikan secara manual

oleh

tenaga manusia.

AIat ini

sesuai diterapkan apabila sasaran pemboran merupakan batuan

yang

lunak, sedang kemampuan kedalaman pemboran sangat dangkal. oleh sebab itu apabila batuan yang akan dibor cukup tebal/cukup dalam maka perpindahan lokasi pemboran secara sistematis perlu dilakukan. Suatu keuntungan dari metode ini adalah bahwa alat

bor

auger mudah dilepas

dari

rangkaiannya sehingga dapat diangkut dengan mudah.

o

Alat bor inti yang dioperasikan dengan mesin.

Alat ini

sesuai diterapkan pada batuan yang lunak ataupun pada bagian yang keras. Kemampuan membor alat

ini

cukup dalam, sehingga pemindahan lokasi pemboran dapat dilakukan seminimal mungkin apabila dikehendaki pencapaian keseluruhan pemboran yang sangat dalam. Didalam operasinya, mengerjakan pemboran dengan

alat ini

memerlukan keahlian khusus, terutama didalam memakai peralatan pemboran inti yang dapat dilepas.

Dari

kedua alat pemboran

inti

tersebut apabila dikehendaki perolehan

inti

pemboran dapat mencapai loovo, dan

inti

pemboran tersebut siap untuk dilakukan analisa laboratorium.

untuk

masing-
(15)

20

0,03 mm, ketebalan

ini

dapat diketahui dengan membandingkan

warna mineral yang tampak pada mikroskop pada saat nikol disilangkan (misalnya mineral homblende) dengan warna mineral baku seperti yang terlihat pada wama interferensi.

.

Apabila telah diperoleh ketebalan yang diinginkan, preparat dipanas-

kan

sebentar, kemudian ditutup dengan gelas penutup, biarkan sejenak sampaidingin.

o

Beri label sesuai dengan informasi sampel, preparat

ini

siap untuk dideterminasi.

b.

Analisa kimia

Analisa kimia

dinilai

relatif rebih

rinci

dibandingkan dengan analisa petrografi. Analisa

ini

bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia (senyawa oksida) dalam batuan. pemeriksaan komposisi kimia dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

o

Contoh batuan digiling hingga mencapai ukuran 100 mesh lalu dikeringkan pada temperatur l50o

c

dalam cawan platina, kemudian di fitsing dengan NazCO: pada suhu 1.000o C. Tambahkan aquades

dan HCl, panasi hingga kering. Ulangi perlakuan tersebut sampai larut lalu disaring untuk penentuan kadar SiO2.

Filtratnya untuk penentuan kadar trace elemenls dengan mengguna-

kan

AAS

(Atomic Absorptbn spectrophcttometer).

untuk

kadar Calsium (Ca) dan atau Magnesium

(Mg)

yang tinggi, clitentukan dengan cara Kompleksiometer. Dengan AAS akan segera dapat dike- tahui macam-macam unsur dan jumlahnya secara tepat dan cepat.

Perhitungan kandungan air dilakukan sebagai berikut: contoh batuan ditimbang beratnya. Kemudian dimasukan

ke

dalam oven pada temperatur 100

-

105" C maka semua air akan keluar dan menguap.

Sampel tersebut kemudian ditimbang

lagi.

Selisih berat yang diperoleh merupakan berat kandungan air.

Perhitungan bahan hilang terbakar dilakukan sebagai berikut: contoh dipanaskan pada suhu 105" C dan ditimbang

=

a gram. Kemudian

dipanaskan lagi pada.futnqce sampai 1.000" C, selima 1,5 -

2

jam,

21

dan ditimbang lagi = b gram. Harga selisih a

-

b gram merupakan bahan yang hilang terbakar.

c.

Analisa Difraktometer Sinar X

Analisa

ini

diperlakukan untuk batuan yang

sulit

ditentukan jenis unsur kimianya dengan petrografi karena mempunyai butir yang sangat halus, antara lain untuk jenis lempung/tanah liat.

d.

Analisa besar

butir

Analisa besar/ukuran butir dilakukan dengan mengikuti prose_

dur sebagai berikut:

o

Ambil sampel secara acak seberat 100 gram.

e

Pisahkan ukuran butir dengan cara diayak pada ayakan berjenjang.

Agar

hasilnya baik pergunakan ayakan bermesin dengan waktu secukupnya.

'

Sampel yang tertampung dalam setiap ayakan dengan mesh tertenfu,

sel anj utnya diti mban g.

o

Prosentase analisa ukuran butir dapat ditentukan.

Cotatan'. Analisa ukuran butir cocok untuk contoh bahan galian yang bersifat lepas.

e.

Analisa berat jenis

Berat jenis yang diukur pada contoh batuan adalah bulk density.

Hal ini disebabkan batuan merupakan kumpulan mineral yang masing- masing mineral mempunyai berat jenis tersendiri.

Prinsip pengukuran berat jenis sebagai berikut:

o

contoh batuan dipa,askan dalam oven pada suhu minimum l00o

c

supaya semua

air

yang ada

di

dalamnya menguap, kemudian didinginkan pada suhu kamar.

o

Contoh batuan ditimbang untuk mengetahui beratnya.

o

Volume batuan ditentukan.

o

Berat jenis batuan diperoleh dengan membagi berat dengan volume.
(16)

24

sampai beratnya tetap.

o

Benda uji dan bola baja dimasukan ke dalam mesin LoS ANGELES.

o

Putar mesin dengan kecepatan 30

-

33 rpm sebanyak 500 putaran untuk gradasi A, B, C dan D, serta 1000 putaran untuk gradisi E, F dan G (lihat tabel berikut).

o

Setelah selesai pemutaran, keluarkan benda uji dari mesin, kemudian saring dengan saringan no. 12.

o

Butiran yang tertahan diatasnya, dicuci bersih, selanjutnya dikering- kan dalam oven pada suhu I l0o + 5o C sampai beratnya tetap.

o

Perhitungan keausan sebagai berikut:

K=a-bxl00Zo

b

dimana:

a =

berat benda semula (gram)

b -

berat benda uji tertahan saringan No. 12 (gram)

K -

tingkat keausan

Tabel 2. Susunan gradasi agregat yang diuji danjumlah bola baja Ukuran

Lewat (mm)

Saringan Iertahan (mm)

Berat dan gradasi benda uji (gram)

A B C D E F

c

76.2 63.5 2.500

63.5 50.8 2.500

50.8 38, r 5.000 5.000

38,1 25,4 1.250 5.000 5.000 -5.000

25.4 19.05 l'250 i!.500

r9,05 17,7 1.250 2.-500

t2.7 9,51 r.250 2.500

9,5 r 6,35 2.500

6,15 4,75 2.500

4,75 2.36 5.000

Jumlah bola 12

ll

8 6 12 t2 t2

Beraf bola (gram) 5.000 +25

4.584 +25

3.330

!20

2.500+15 5.000+25 5.000!25 5.000+25

25

o

Hasil pengujian tersebut dinyatakan sebagai bilangan bulat dalam prosen.

o

Keausan batuan yang cukup besar akan berpengaruh pada kekuatan perkerasan

jalan

karena langsung bergesekan dengan roda-roda kendaraan.

i.

Pengujian kuat tekan bebas

Untuk mencegah kerusakan konstruksi akibat beban (misalnya lalu lintas), agregat harus cukup kuat menahan tekanan.

Kuat tekan suatu bahan adalah kemampuan batuan tersebut dalam menahan beban atau gaya tekan yang dikenakan sehingga batuan tersebut pertama

kali

mengalami deformasi. Besarnya kuat tekan batuan dipengaruhi oleh tekstur, mineral penyusun, porositas maupun gesekan dengan bidang penekan. Pada pengujian kuat tekan bebas batuan diperlukan contoh batuan dengan bentuk tertentu yaitu dalam bentuk kubus atau silinder.

Hal

tersebut dimaksudkan agar perbedaan kuat tekan yang terjadi pada keduanya tidak berbeda, dan

kalaupun

ada

perbedaan tersebut sangat

kecil

sehingga dapat diabaikan.

Rumus kuat tekan bebas (Krynine dan Judd, 1957):

Kuat tekan tpl =

I

A kg/cm 2

dimana:

P

= kuat tekan bebas batuan (kg/cm2)

P

= besar gaya yang menekan (kg)

A

= luas penampang yang dikenai gaya

(.*').

Cara melakukan untuk pengujian kuat tekan bebas batuan:

o

Contoh dibuat bentuk kubus dengan sisi 7 - l0 cm.

o

Kedua sisi yang menempel pada alat tekan dibuat lebih licin.

.

Contoh dipasang pada alat penguji, pembacaan alat menunjukan nol.

o

Tekanan diberikan secara perlahanJahan sampai contoh batuan mulai pecah, pembacaan dilakukan pada saat batuan mengalami pecah awal.
(17)

26

o Nilai

P diketahui demikian pula nilai

A,

dengan mempergunakan rumus di atas nilai Kuat tekan (p) dapat dihitung.

3. TEKNIK

EKSPLOITASI

Pada umumnya bahan galian industri terdapat didekat permu- kaan tetapi juga ada yang terdapat dan terkumpul dibawah permukaan yang relatif agak dalam. Selain

itu

bahan galian tersebut ada yang keras, ada yang lunak bahkan setengah kompak. Karena teriJesak oleh keperluan bahkan ada bahan'galian

yang

berada

di

bawah air.

Sehubungan dengan hal tersebut

di

atas teknik penambangan bahan galian industri berdasarkan atas cara kerjanya teknik penambangan dapat dilakukan dengan :

o

digali misalnya penambangan batugamping

o

disemprot dengan pompa bertekanan tinggi misalnya penambangan pasir

.

disedot dengan pompa hisap misalnya penambangan pasir di laut.

Disamping

itu

berdasarkan atas tempat kegiatan penambangan dilaksanakan dikenal:

o

Tambang terbuka, semua kegiatan penambangan dilakukan diper- mukaan tanah/bumi. Pada kegiatan penambangan

ini

khususnya

untuk bahan galian industri disebut sebagai kuari. Berdasarkan atas produk yang dihasilkan, letak dan bentuknya kuari dibagi menjadi:

o

Kuari tipe sisi bukit (.sirlr

hill

type), dengan lereng yang ber- jenjang.

o

Kuari tipe lubang galian (pir type/ sun surface ry,pe), yaitu kuari yang endapannya terletak

di

bawah permukaan tanah dan topo- grafinya mendatar sehingga setelah ditambang akan membentuk cekungan (pil ) berjenjang.

o

Tambang bawah tanah,

dikenal

dengan

istilah

lubang tikus (gophering), disebut pula sebagai lubang marmot, biasa diterapkan untuk endapan bahan galian industri atau urat

bijih

dengan bentuk dan ukuran tidak teratur serta tersebar tidak merata. Arah penam-

21

bangan biasanya mengikuti arah bentuk endapan atau urat bijih yang ditambang. Beberapa contoh penambangan sistem lubang tikus antara lain terdapat pada tambang phospat didaerah Ciamis (Jawa Barat), tambang gipsum di daerah Ponorogo (Jawa Timur).

Dalam melaksanakan kegiatan tambang terbuka tahapan kerja yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

o

Pengupasan tanah penutup (land clearing) perlu dilakukan apabila di

atas endapan bahan galian terdapat tanah penutup (.soil) dan tumbuh- tumbuhan.

o

Bagian tanah penutup yang subur sesudah dikupas, dipindahkan ke tempat penimbunan yang nantinya dimanfaatkan kembali pada saat melakukan reklarnasi.

o

Secara umum kegiatan penambangan dari suatu kuari meliputi pem- beraian (pembongkaran, pemuatan, pengangkutan dan penimbunan).

o

Cara pemberaian atau pembongkaran bahan galian dari batuan induk- nya tergantung dari kekerasan bahannya. Jika lunak pembongkaran dapat dilakukan dengan alat gali manual (cangkul, ganco, dsb) atau

alat gali mekanis yang tergolong dalam excavator. Jika agak keras pembongkaran dibantu dengan alat penggaru (ripper). Untuk bahan galian yang keras atau sangat keras, pembongkaran dilakukan dengan pemboran dan peledakan.

o

Kegiatan selanjutnya adalah pendorongan dan pemuatan, pengang- kutan diakhiri dengan penumpahan/penimbunan pada unit pengo- lahan.

Urutan kegiatan tersebut

di

atas dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 1).

Di

Indonesia bahan galian industri tersebar luas dan penam- bangannya relatif mudah dilakukan. Oleh sebab itu penambangan ba- han galian industri selain dilakukan oleh pengusaha besar juga oleh masyarakat setempat. Perbedaan kemampuan modal pengusaha me- nyebabkan mutu produk bahan yang dihasilkan akan sangat bervariasi.

Pada umumnya tambang skala

kecil

dikerjakan oleh

2 - 5

orang pekerja bekerjasama dengan pemilik tanah untuk menjual produksinya kepada pedagang pengumpul.
(18)

28

Pemboran lubang tembak Pendorongan dan

pemuatan

I

Y

I

pat.la unit pengolahan

I

Gambar l. Bagan alir kegiatan pada kuari andesit.

4.

PELEDAKAN

Pada pekerjaan tambang, tujuan penggunaan bahan peledak terutama

untuk

membongkar batuan/bahan

galian dari

batuan

induknya.

Secara garis besarjenis bahan peledak dibedakan menjadi:

o

Bahan peledak mekanis (mechanical explosives)

o

Bahan peledak kimia (chemical explosives)

o

Bahan peledak nuklir (nuclectr explosives)

Dari ketiga jenis bahan pr:ledak tersebut

di

atas yang umum digunakan sebagai bahan peledak industri ialah jenis bahan peledak kimia yang berdasarkan atas kecepatan reaksinya dibedakan:

o

Bahan peledak kuat, mempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi yaitu 5.000

-

24.000 fps

(l - 6

mile per detik), tekanan yang dihasilkan sangat tinggi yaitu 50.000

-

4.000.000 psi. Sifar reaksinya ialah detonasi, yaitu penyebaran gelombang kejut (shock wave). Termasuk jenis bahan peledak kuat yaitu semua jenis dinamit antara lain TNT

(Tri Nitro Toluena), PETN (Penta Ery-Thritol Nitrate).

o

Bahan peledak lemah, mempunyai kecepatan reaksi rendah yaitu

29

kurang dari 5.000 fps (dari beberapa inchi sampai beberapa feet per

detik). Tekanan yang dihasilkan kurang

dari

50.000

psi.

Untuk penggunaan ditempat yang mengandung gas atau berdebu bahan peledak ini harus lulus uji sebagai "permissible explosive" (permined explosives).

Bahan

peledak

jenis ini

biasanya dipergunakan ditambang batubara. Bahan peledak lemah yang tidak perlu lulus uji disebut non perntissible explosives. Contoh bahan peledak lain adalah: black powder, propellant.

a.

Bahan peledak industri (komersial)

Merupakan bahan peledak kimia yang lazim digunakan untuk keperluan pertambangan/pembangunan. Bahan peledak yang diguna- kan untuk kepentingan militer tidak termasuk dalam bahan peledak industri.

Jenis bahan peledak industri antara lain:

o

Black Powder

Terbuat dari campuran arang, belerang dan potasium nitrat 8C + 35 +

l0 KNO3---+ 3K2SO4 + 2K2CO3 + 6 COz + 5 Nz.

Dibuat dalam 2 bentuk yaitu:

o

bentuk butiran (granulzr) untuk isian sumbu api

o

bentuk pellet untuk isian lubang tembak

o

Dinamit

Tennasuk

jenis

bahan peledak kuat dengan bahan dasar Nitro Glycerin (NG). Berdasar atasFomposisinya dikenal:

.

Straight Dynamite

Komposisi: NG 20 - 6lVa, NiNOr 59 -237o

o

Celltine Dynamite

Konrposisi: campuran NG dan NC (disebut Blasting Gelatine -

BG) sebagai bahan dasar, ditambah NaNOr atau KNO3 sebagai sumber Oxygen. Gelatine dynamite tahan terhadap air sehingga mampu disimpan hingga 3 tahun.

o

Ammonia Gelatine Dynamite

Komposisi: BG sebagai bahan dasar, ditambah ammonium nitrat

(19)

30

(NHaNO:) sebagai sumber Oxygen.

Permissible Explosive

Komposisi: Ammonium Gelatine Dynamite ditambah Sotlium Chlorida (NaCl) yang berfungsi sebagai .flame depressarzl untuk mendapatkan temperatur peledakan rendah, volunre gas seclikit clan

penyalaan sesingkat mungkin sehingga mengurangi kemungkinan terjadi ledakan skunder.

Blasting Agent

Blasting

Agent

merupakan bahan

kimia yang

apabila belum dicampur, belum mempunyai daya leclak. Tetapi setelah dicampur dengan perbandingan tertentu akan merupakan bahan peleclak Bahan peledakjenis ini tennasuk bahan peledak kuat.

Contoh:ANFO (Ammonium Nitrat + Fuel Oil)

Reaksi kimia: 3NH1NO3 +

2CH2-+

CO: + 3N2 + 7H2O

(94Ea)

(47c)

Sifat ANFO: Harganya murah, sangat ni,dah rusak karena air, sesuai digunakan dibatuan yang kering.

Kecepatan detonasi sangat dipengaruhi oleh diameter lubang ternbak. Hasil terbaik apabila lubang tembak lebih dari 2.-5 inchi (6,3-5 crn).

S lurry/lVatergel Explosi ves/Emul sion

Jenis

ini

tidak peka terhadap gesekan api ataupun rangsangan me- kanis lainnya. Oleh karenanya dinilai sangat aman dalam penggu- naannya dan tahan air. Terdiri dari campuran AN atau SN (Sodium Nitrat) dengan combustible

fuel

sebagai sensitizer dan air (sampai 207o), ditambah bahan pengikat (gelling agent). pada jenis emulsi bahan pengikatnya sejenis oli dan lllin (wax). Combustible

fuel

yang

dipakai:gula

cair,

serbuk gergaji. belerang, logam

Mg

atau Al, kadang-kadalg TNT

Contoh bahan peledak jenis ini:

o

Tovex (produksi Du Pont - USA)

e

Aquagel (produksi Atlas - USA)

o

Emulite (produksiNitro Nobel - Swedia)

o

Gel. Powder (produksi Hercules - USA)

3l

b.

Sifat gas beracun

Bahan peledak yang meledak dapat rnenghasilkan dua jenis gas yang berbeda silatnya yaitu:

o

Sntoke, tidak berbahaya terdiri dari uap atau asap putih

o

Funte, cukup berbahaya karena beracun, terdiri

dari

gas karbon monoksida (CO) dan Oksida Nitrogen (NO atau NO2), gas rersebut berwarna kuning. Funtes dapat terjadi bila peledak;

.

Yang diledakkan tidak memiliki keseimbangan Oksigen

.

Telah dalam keadaan rusak karena lama atau penyimpanan tak benar

o

Penyalaan yang tidak sempurna.

o

Oleh karena timbul Junrcs yang beracun dan cukup berbahaya bagi pekerja, maka dalam setiap operasi peledakan baik dipermu- kaan atau di bawah tanah, saltrh satu prosedur yang harus diikuti adalah membiarkan tempat yang baru saja diledakan sekurang- kurangnya satu jam sampai diperkirakan tempat tersebut terbebas dari furnes.

c.

Lokasi penyimpanan bahan peledak Beberapa persyaratan lokasi dimaksud:

o

Harus mudah dicapai, aman terhadap daerah lingkungan dan memperhatikan j arak keselamatan terhadap situasi sekelil ing

o

Bila dimungkinkan dipilih pada daerah berbukit yang dapat memberi perlindungan terhadap gedung, jalan raya dan instalasi umum.

.

Sesuai fungsinya tempat penyimpanan dibedakan:

o

Tempat penyimpanan induk (main storage)

o

Tempat penyimpanan sementara dilapangan

Gudang penyimpanan trahan peledak

Gudang dimaksud harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Memiliki konstruksi yang cukup kuat, tahan peluru, tahan api dengan lantai tidak lembab

d.

(20)

32

.

Atap terbuat dari bahan yang ringan, pintu dilengkapi dengan kunci yang baik

o

Terdiri dari 2 bangunan/bagian yang telpisah:

.

Bangunan pertama khusus untuk menyinlpan bahan peledak

o

Bahan kedua khusus untuk ntenyimpan detonator

o

Bahan peledak dan detonator

tidak

boleh disimpan dalam satu bangunan yang disatu tempat

.

Dilengkapi dengan penangkal petir dan harus diperiksa setiap 6 bulan.

e.

Tatacara penyimpanan bahan peledak

Tatacara penyimpanan

harus

mengikuti ketentllan sebagai berikut:

o

Bahan peledak disinrpan dan disusun menurut sistem rak dengan tumpukan yang serendah-rendahnya, 30 cm di atas lantai

.

Tinggi susunan bahan peledak tidak boleh lerbih 1,80 m, dan sirkulasi udara harus diperhatikan

.

Di dalam gudang bahan peledak tidak boleh disirnpan benda lain

o

Dilarang mentbuka peti bahan peledak pada jarak kurang dari

l5

m dari gudang bahan peledak

o

Suhu dalam gudang tidak boleh lebih dari 3.5" C.

f.

Peraturan-peraturan tentang bahan peledak

Agar

bahan

tidak

disalah gunakan

oleh

orang yang tidak bertanggung

jawab,

Pemerintah

telah

rnembuat peraturan yang menyangkut

.

Pengadaan (pembuatan dan perrbelian)

o

Pengangkutan

.

Penyimpanan dan penggunaan bahan peledak

Untuk pengamanan bahan peledak, beberapa peraturan yang berlaku;

o

Kepres no.27 tahun 1982 tentang pengadaan bahan peledak

JJ

.

Kep Men Hankam no. Kep/01/ltrVl/1984 tentang pengawasan dan pengendalian bahan peledak

o

Skep Men Hankam no.Skep/l98/MltM984 tentang perincian bahan peledak

.

Skep

Men

Hankam no.Skep/l99lM/frIll984 tentang penunjukan pelabuhan bagi pemasukan, pengeluaran dan pengangkutan antar pulau bahan peledak

o

Juklak Kapolri no.Juklak/06 BlXUl979

r Intruksi

Presiden

RI.no.9 tahun 1979 tentang

peningkatan, pengawasan dan pengendalian senjata api.

o

Dibidang. pertambangan umum, perizinan mengenai bahan peledak ditangani oleh Direktorat Teknik Penambangan

o

Untuk menjadi juru ledak diwajibkan memiliki keahlian tentang hal tersebut dengan bukti sertifikat.

g.

Pembuatan lubang temtrak

Lubang tembak dibuat pada batuan yang akan diledakan dan;

o

Dibuat dengan alat ttor

o

Jurnlah lubang tenrbak satu atau lebih tergantung kepentingan

r

Kedalaman dan lebar lubang tembak menyesuaikan dengan jenis

o

Sebelurn

diisi

dengan bahan peledak

tiap

lubang tembak harus dibersihkan dengan konrpresor.

h.

Sistem peledakan

Untuk menghemat waktu dan tenaga

untuk

menghancurkan batuan dibuat lebih dari satu lubang tembak. Oleh sebab

itu

sistem peledakau dapat di lakrrkan dengan;

o

Serentak, apabila peledakan dilakukan dengan skala kecil sehingga suara dan getaran yang ditintbulkan tidak membahayakan

o

Beruntun (deluyed blu.srirtg), apabila peledakan dilakukan dengan skala nrenengah-besar sehingga apabila dilakukan peledakan tunggal
(21)

34

suara dan getaran yang dihasilkan diduga sudah berdampik negatip.

Dampak

ini

akan menjadi lebih besar apabila pe

Gambar

Tabel  2.  Susunan gradasi  agregat yang  diuji  danjumlah  bola  baja Ukuran
Gambar  l.  Bagan  alir  kegiatan  pada  kuari  andesit.
Tabel  3.  Tujuan  dan sistem  pengolahan  bahan  galian industri
Tabel  4.  Tatanama  batu  gamping  sesuai  dengan kadar  magnesium  (pettijohn,  1949) Nama  batuan Kadar  dolomit  i7o) Kadar  MgO  (%) Batu  gamping
+7

Referensi

Dokumen terkait

“Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”...

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan?.. 4) Bagaimana ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap. pengungkapan tanggung jawab

Penelitian ini tidak sesuai dengan teori legitimasi yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, karena

Penelitian ini tidak sesuai dengan teori legitimasi yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, karena

Berbeda dengan pendapat di atas yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, Donovan dan Gibson

Pengaruh Pengungkapan CSR Dimensi Lingkungan Terhadap Kepemiikan Institusional Hipotesis kelima penelitian ini menyatakan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial

Keberadaan sumber daya alam dalam sebuah perekonomian masih menjadi bahasan menarik hingga saat ini.Ada anggapan bahwa dalam jangka panjang kekayaan sumber daya alam akan

Kabupaten Jember dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki cukup banyak industri berbasis kekayaan alam yang tersebar di wilayah pedesaan maupun perkotaan.Metode