• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unsur I Unsur I Kisaran 7o berat

12. BREKSI PUMICE

r

142

dengan sekop dengan pemilihan endapan secara selektif. Hasil yang diperoleh diangkut dengan truck untuk dipasarkan. Dengan cara penambangan seperti ini junrlah produksi sangat terbatas. Apabila diinginkan produksi dalam

jurnlah

banyak, penggalian dengan showel dan backhoe dapat dilakukan. Pemilahan besar butir (untuk memisahkan ukuran pasir dan ukuran kerikil dapat dilakukan secara

semi mekanis dengan memakai saringan pasir). Hasil yang sudah dipisahkan kemudian dinaikan ke truck ungkit dengan showel, untuk selanjutnya

dikirim

ketempat penimbunan

diluar alur

sungai.

Ditempat

ini

truck pengangkut siap untuk mengirim ke konsumen.

Cara penambangan seperti

ini

telah dilakukan

di S.

Boyong G.

Merapi dan S. Cikunir, G. Galunggung.

Endapan pasir gunung api yang telah membentuk Formasi

Tipe

endapan seperti

ini

telah tertutup oleh tanah penutup/soil.

Pekerjaan awal dilakukan dengan land clearinglpembersihan tanah penutup. Endapan pasir jenis ini pada umumnya sudah agak keras, tercampur dengan lempung. Untuk mendapatkan pasir yang bebas dengan lempung/kotoran organik sistem penambangan dengan cara

pompa

tekan/semprot tekanan

tinggi dan

pencucian sangat dianjurkan. Untuk menghemat penggunaan air pemakaian air dengan sistem sirkulasi dapat dilakukan. Hasilnya pasir yang bersih bebas

dari lempung dan bahan organik. Model

ini

telah dilakukan pada penambangan pasir didaerah desa Lebak Mekar, Kab. Cirebon.

Apabila air tidak tersedia, cara penambangan rakyat dengan peralatan sederhana dapat dilakukan. Cara

ini

telah dilakukan pada penam- bangan pasir di lereng G. Muria Kab. Kudus.

Endapan Pasir Pantai

Endapan

ini

merupakan pengendapan lanjutan dari pasir yang ada disekitar muara sungai/dilepas pantai. Untuk menambang pasir yang demikian dipergunakan pompa isap berkekuatan tinggi dan hasil pemompaan langsung ditampung ditongkang dan siap diangkut dan dipasarkan. Untuk menghindarkan terjadinya longsoran bawah laut, perlu ditentukan jarak pemompaan terhadap garis pantai. Pasir yang diperoleh dengan cara ini mengandung garam NaCl dan zat organik cukup banyak, sehingga jenis

ini

tidak sesuai untuk dimanfaatkan

143

sebagai bahan bangunan. Cara penambangan seperti

ini

telah dila- kukan didaerah pantai Riau.

Pemanfaatan utama pasir gunung api untuk bahan konstruksi bangunan. Persyaratan utama apabila akan dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, pasir tersebut harus bersih, bebas dari lempung dan zat organik yang dianggap sebagai pengotor.

t44 Teknik Penambangan

Endapan breksi pumice tersingkap dipermukaan. Oleh sebab itu

teknik

penambangan dilaksanakan

dengan tambang

terbuka mempergunakan alat-alat sederhana. Breksi pumice mudah lapuk menghasilkan tanah yang warnanya gelap. Oleh karenanya pada saat akan mulai ditambang lapisan tanah ini harus dikupas terlebih dahulu.

Untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi, breksi pumice pada awalnya ditambang dalam bentuk balok.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Balok breksi pumice (disebut pula sebagai breksi batu apung), diproses ditempat pemotongan batu dengan gergaji khusus. Pemo- tongan dengan ukuran tertentu dapat dilakuken dengan sistem basah ataupun sistem kering. Sistem basah lebih disukai karena membuat gergaji lebih awet disamping proses pemotongan menjadi lebih cepat.

Breksi pumice yang sudah dipotong siap untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan konstruksi yang tidak menahan bahan.

Breksi pumice dengan ukuran

5 cm x l0

cm

x

22 cm bila dibandingkan dengan bata merah dan batako dengan dasar sifat fisiknya adalah sebagai berikut (Tabel 9).

Dengan demikian breksi pumice mempunyai kelebihan sifat fisik dibandingkan dengan bata merah dan batako.

Beberapa

hal

yang perlu dicermati dalam pemakaian breksi pumice sebagai bahan bangunan konstruksi antara lain:

o

Mempunyai kuat tekan tinggi, hampir

2 x

kuat tekan bata merah Tabel 9. Sifat fisik brEksi pumice, bata merah dan batako.

Sifat fisik Breksi

pumice

Bata

merah

Batako

145

dan

4 x

kuat tekan batako. Walaupun demikian disarankan breksi pumice dimanfaatkan sebagai bahan bangunan yang tidak menahan beban.

Lebih ringan dibandingkan dengan bata merah dan batako. Oleh karenanya sangat sesuai untuk bangunan bertingkat.

Menyerap panas dengan porositas tinggi, apabila dipakai sebagai

dinding akan mudah menyerap kelembaban udara sehingga menye- jukkan ruangan pada siang hari.

Daya hantar panas rendah, sehingga menghangatkan ruangan pada malam hari.

o

Mempunyai pori-pori cukup Uunyut sehingga dapat berfungsi seba- gai peredam suara, sangat sesuai untuk dinding gedung pertemuan.

o

Mempunyai tekstur alami yang cukup menarik, sehingga tidak memerlukan plesteran.

o

Komposisi

breksi

pumice mempunyai

tingkat

resistensi yang berbeda. Oleh sebab itu disarankan sebagai bahan bangunan dipasang ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung dan air hujan. Disamping itu tidak disarankan untuk dimanfaatkan sebagai

lantai. Penggunaan breksi pumice untuk bangunan candi Boko, diselatan candi Prambanan telah membuktikan hal tersebut di atas.

Disamping breksi pumice dimanfaatkan untuk bahan bangunan konstruksi sebagai pengganti bata merah, juga dapat dibentuk menjadi berbagai ornamen. Hal ini diutamakan karena teksturnya yang sangat artistik.

Dalam hal batu apung yang merupakan pecahan

dari

breksi pumice akan dimanfaatkan untuk bata beton ringan tahapan pengo- lahan dilakukan sebagai berikut:

Batu apung dari tempat penambangan terlebih dahulu dipisah- kan dari bahan pengotor (antara lainkayu/zat organik, tanah dan lain- lain), kemudian dicuci dengan air untuk mendapatkan batuapung yang bersih, dengan cara disemprot dengan

air

bersih.

Air

yang sudah dipergunakan bercampur dengan lempung dialirkan

di

bak pengen- dapan, yang nantinya dipergunakan untuk menyemprOt

lagi.

Batu apung yang sudah bersih

dikeringkan.

i

Berat jenis (grlcm3) Daya serap/porositas (7o)

Kuat tekan (kg/cm2) Berat rata-rata (kg)

1,28 43 66,81

1,43

1,7 5 40 36,12

1,93

))a

38 17,85

2,45

146

Batu apung tersebut kemudian diayak, fraksi yang mempunyai ukuran lebih besar dari20 mm dilakukan penghancuran, sedang fraksi yang berukuran +5

-

20 mm dimasukkan ke dalam mesin pengaduk (mixer).

Ke dalam mesin pengaduk tersebut kemudian ditambahkan air dan semen dengan proporsi campuran tertentu. Dalam hal

ini

perlu

diperiksa homogenitas bahan campuran.

Setelah adukan

cukup

memadahi/memenuhi syarat, maka adukan dicetak dengan mesin cetak. Cetakan batu apung tersebut kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Adapun bagan

alir

pengolahan batu apung untuk bata beton ringan adalah sebagai berikut (Gambar 9).

Pencetakan

Produk Akhir Siap Dipasang

Gambar 9. Bagan alir pengolahan batu apung.

Catatan: Hasil percobaan terhadap batu apung dari P. Lombok diperoleh:

o

Analisa kimia: SiO2

-

52,30-65,607o, Fe2O3 = 4,53-8,77Vo, 0,52-1,26Vo, Al2O3

=

15,75-l9,l9%a, CaO

=

2,89-9,51Vo,

1,30-3,54Vo.

147

Hasil

pengujian sifat

fisik:

Kadar

air

rata-rata; 27,03Vo, Kadar lumpur; 3,02Vo, Penyerapan

ur

50,64Vo, berat jenis; 0,99, bobot (grllt), gembur; 805,60, padat; 87 2,53

Hasil ujian batu apung sebagai bahan baku beton ringan untuk berat semen: batu apung; 7:6, l'.7,1:8, cukup baik dimana ukuran butir +5 - 20 mm dengan kuat tekan

3l

- 57 kglcm2.

Tio2

-

MgO =

Penghancuran (Crushing)

Pengayakan (Screening)