• Tidak ada hasil yang ditemukan

AN DENGAN BATUAN GUNUNG API

I.

OBSIDIAN

Merupakan "ienis batuan beku luar, hasil pembekuan magma yang kaya silika. Pembekuan terjadi demikian cepat sefiingga mineral pembentuknya tidak sempat mengkristal dengan baik dan kedudukan kristalnya

tidak

beraturan. Obsidian kebanyakan bdrwarna putih keabu-abuan hingga hitam, kadang-kadang ada garis merah kecoklat- an dan hitam. Dijumpai pula obsidian yang berwarna kehijauan, ungu ataupun warna perak.

jenis ini

dikenal dengan obsidian pelangi.

Obsidian dengan silika sebagai komposisi utama mempunyai kekeras- an lebih dari 6 menurut skala Mohs, berat jenis 3-3,5, rnempunyai sifat pecahan konkoidal. Menurut reaksi Bowen, mineral silika akan mele- bur pada temperatur 700" - 800' C.

Tempat Diketemukan

Kebanyakan obsidian didapatkan sebagai batuan beku luar pada

jalur gunung api di [ndonesia yang berumur relatif rnuda (Pleistosen -

Kuarter). Ter-npat diketemukannya obsidian antara lain:

o

Jarnbi:

G.

Cianturrg,

S.

Purgut dan

S.

Penuh (pada batuan lava andesit)

o

Jawa Barat: Nagreg Kab. Bandung (berupa sisipan dan bongkah pada batuan tras); G. Cian-ris Kab. Gamt (terdapat selang-seling dengan

I

{I

i

it II

ii

SiOz$o)

Al2O3 (Vo) KzOzNaz(Vo) FezOt (Vo)

Ukuran

butir

+ 16 mesh (maksimum) + 20 mesh (maksimum)

68,00 - 69,99

>ll

>il

0,t

-0,2 nol

l7o

- 100 mesh (maksimum) :25Vo

Spesifikasi feldspar untuk industri gelas "amber" (berwarna coklat) Kalium feldspar (7o) :99,5 (-20 mesh)

FezOt (7o) KzO (7o)

AlzOt (7o)

:0,05 (maksimum)

:>

10

:>18

Silika bebas

(7o)

: 6 (maksimum) CaO (7o) :2 (maksimum)

Spesifikasi feldspar untuk industri kaca lembaran

Al2O3(7o):>18 FeOt(Vo) : < 0,8

KzO(7o) :>10

Oksidasi Jenis industri

Porselen 7o SaniterTo Gerabah halus padat 7o K2O + Na2O

Fe2Oj Ti02 CaO

6 - t5 0,5

ol

0,5

6 - 15 0,7 0,7 0.5

6 - t5 0,8

t,0

I

110

perlit diatas andesit); Ciasmara Kab. Bogor; Leuwiliang, G. Kiara- beres, kurang lebih 6 km sebelah barat G. Salak (merupakan lava dan kurang lebih panjang 2 km dan aliran lava yang merupakan susunan

balok berwarna abu-abu dengan steroida); Terogog, Priangan (sing- kapan 100

-

150 m panjang, tebal 1-5 m); Anyer, G. Barengkong sebelah selatan/barat Barengkok, Banten.

o

Lampung: Pulau Krakatau, Pulau Panjang, Wai Seputih (meiupakan singkapan bulat sepanjang

I

km).

o

Kalimantan: dekat Sampit

r

Sulawesi Utara: Tataaran, Tomohon Kab. Minahasa

o

Irian Barat: P. Namotote

Teknik Penambangan

Dilakukan dengan sistem

kuari

dengan peralatan sederhana.

Karena obsidian merupakan tubuh batuan yang keras, pada tahap awal penambangan untuk memperoleh blok-blok yang cukup besar dimulai proses peledakan.

Pengolahan dan Pemanfaatan

o

Obsidian mempunyai wama indah dan keras, disamping

itu

mudah dibentuk. Pada jaman Prasejarah, manusia purba memanfaatkan obsidian untuk senjatalkapak atau "titikan" penimbul api.

o

Bangunan

Karena sifatnya yang keras dan sangat resisten, obsidian dapat dimanfaatkan sebagai fondasi bangunan. Obsidian tidak porous, hal

ini

mengakibatkan daya rekat semen menjadi berkurang. Obsidian apabila dipecah mempunyai sifat konkoidal dengan pinggiran yang tajam. Oleh karenanya dalam pengerjaannya harus hati-hati.

o

Bahan batu mulia

Karena sifatnya yang kompak, beberapa jenis berwarna terang dan transparan obsidian dapat dibentuk menjadi batu mulia. Menurut

klasifikasi Kinge, obsidian

termasuk

batu mulia

tanggung

1il

( H alfe de I s t e n e n) batu kelas [V.

o

Bahan perlit rekayasalartificial perLit

Perlit

anificial

dapat direkayasa dengan bahan baku dari obsidian (Sukandamrmidi, 1983). Dari penelitian dengan bahan baku obsidran dari Nagreg sesudah dipanaskan dengan oven selama 90 menit pada temperatur 1000"

-

1 100' C terjadi perubahan sebagai berikut:

I

semula warna hitam berubah meniadi putih keabuan

i

volume berkembang menjadi 5 kali lipat

r

berat jenis yang semula 3,35 menjadi 0,6

o

selama terjadinya perubahan warna, keluar air dari massa batuan, dan batuan menjadi berpori dan lengket antara fragmen yang satu dengan yang lain

Dengan demikian maka artificial

perlit

beratnya menjadi sangat

kurang dengan kekuatan yang tinggi. Oleh sebab

itu

perlit hasil rekayasa dari obsidian, dapat digunakan untuk bahan beton ringan ataupun dinding peredam dan isolasi panas.

2. PERLIT

Perlit terbentuk karena pembekuan magma asam yang tiba-tiba dengan tekanan yang tinggi dalam suasana basah. Komposisi utama adalah mineral silikat berbutir sangat halus, terbangun oleh steroida- steroida kecil, ringan. Warnanya abu-abu muda hingga abu-abu kehi- taman.

Perlit ini bila

dipanaskan bertahap hingga mencapai suhu antara 950-1050' C, akan mencapai perkembangan isi yang tetap dan maksimum. Sifat perkembangan

ini

sangat penting untuk penggu- naannya sebagai bahan baku pembuatan bahan bangunan ringan.

Menurut hasil penelitian perlit yang baik mengandung SiOz707o, air 2-5Vo,Na dan K sebanyak 5-8Vo berat. Dengan susunan ini perlit akan mempunyai suhu kelembaban/pencairan rendah demikian pula suhu pemuaiannya tidak jauh berbeda. Banyaknya air yang dikandungnya akan berpengaruh terhadap pemuaian.

Air

yang terlalu banyak akan mengakibatkan desintegrasi. Berat jenis perlit sebelum diolah/dipanas- kan antara l,10-2,50, setelah dipanaskan menjadi 0,11-0,15.

112 Tempat Diketemukan

Seperti halnya obsidian, perlit didapatkan disekitar gunung api yang berumur relatif muda. Tempat diketemukan antara lain:

o

Sumatera Utara: Pansur Napitu, Kec. Silindung Kab. Tapanuli Utara (prosentase nilai ekspansi I 58,3Vo terdapat sebagai bongkah-bongkah dalam tufa dan berasosiasi dengan obsidian)

o

Sumatera Barat: Bukit Rasam, Kec. Lubuk Sikaping Kab. pasaman (prosentase nilai ekspansi maksimum 5l,5l7o HzO 0,03' ',r, minimum 50,007o HzO 2,837o terdapat sebagai bongkah dalam tufa); Bukit Sipinang Kec. Sepuluh Koto, Singkarak Kab. Solok.(prosentase nilai ekspansi 947o terdapat sebagai bongkah dalam tufa dan berasosiasi dengan obsidian); Bukit Batu Kambing, Kab. Solok (nilai ekspansi maksimum 63,15%o H2O 0,057o, minimum 8,50Vo

H2O

l,12%o terdapat dalam Formasi Andesit)

o

Jambi: S. Tutung Kec.

Air

Hangat, Kab. Kerinci; G. Gantung S.

Purgut dan S. Penuh (nilai ekspansi l00Vo terdapat dalam satuan batuan lava andesit)

o

Bengkulu:

Bukit

Naning, Kotadonok, Bengkulu (terdapat dalam benmk bongkah dialiran sungai terdiri breksi vulkanik)

e

Sumatera Selatan: Gunung Batu dan Uladanau, Kec. Pulau Beringin, Kab. Ogan Komering Ulu (nilai ekspansi maksimum 75Vo sebagai fragmen dalam breksi tufa);

o

Lampung: Mutar Alam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung Utara (nilai ekspansi 16,21-269Ea, berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit dalarn graben Gedongsurian); Gedong Surian,

Kec.

Surnberjaya Kab.

Lampung Utara (berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit dalam graben Gedongsuriiur); Suwoh Kec. Belalau Kab. Lampung Utara (nilai ekspansi maksimum 68,757o, berasosiasi dengan dasit, tufa breksi, sebagai hasil erupsi Plio-Pleistosen pada sesar Semangko/Graben Suwoh);

G.

Asahan, desa Pumawiwitan Kec. Sumberjaya Kab.

Lampung Utzra (nilai ekspansi 100-200Vo); Antatai (berwama hitam perlitik kompak); Penaga/tepi pantai berwarna hitam keabuan perlitik kompak);

G. Muhul Kec.

Belalau

Kab.

Lampung Utara (nilai ekspansi maksimum 329To,berasosiasi dengan tufa breksi, lava riolit

l13

dan dasit sebagai erupsi celah pada Plio-Plistosen)

Jawa Barat: Ciasmara Kab. Bogor (nilai ekspansi l27Vo terdapat sebagai fragmen dalam breksi lahar dan aliran lava gelas volkanik);

G. Kiamis Kec. Samarang Kab. Garut (nilai ekspansi ll9%o terdapat berselang-seling dengan obsidian diatas breksi); Santrijaya Kec.

Karangnunggal Kab. Tasikmalaya (terdapat sebagai aliran gelas volkanik dalam tufa dasit-andesit dan sebagai fragmen dalam breksi.

Nusa Tenggara Barat: Dorodonggamasa Kec. Sape Kab. Bima (nilai ekspansi 300Vo, sebagai gang dalam andesit).

Sulawesi Utara: Tataaran Kec. Tomohon Kab. Minahasa (nilai eks- pansi 1767o terdapat sebagai sisipan dalam aliran lava gelas volkanik riolitik

Teknik Penambangan

Dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Karena perlit merupakarf bahan galian lunak penambangan dilakukan dengan alat sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Perlit

disamping didapatkan

dialam,

dapat

pula

direkaya- sa/dibuat dari obsidian derrgan pemanasan

Bahan bangunan

Perlit dimanfaatkan sebagai "very light aggregate" untuk beton atau

bata cetak yang sangat ringan. Disamping

itu perlit

dapat pula meninggikan daya isolasi terhadap panas dan suara/peredam, tetapi mempunyai daya tekan rendah.

Dalam bentuk ukuran pasir dipergunakan untuk penyaring air.

3.

PUMICE/BATU APUNG

'

Pumice terjadi

bila

magma asam muncul

ke

permukaan dan bersentuhan dengan udara

luar

secara tiba-tiba.

Buih

gelas alam

114

dengan gas yang terkandung didalamnya mempunyai kesempatan untuk keluar dan magma membeku dengan tiba-tiba. Pumice umum- nya terdapat sebagai fragmen yang terlemparkan pada saat letusan gunung

api

dengan ukuran

dari kerikil

sampai bongkah. Pumice umumnya terdapat sebagai lelehan atau aliran permukaan, bahan lepas atau fragmen dalam breksi gunung api. Batu apung dapat pula dibuat dengan cara memanaskan obsidian, sehingga gasnya keluar. Pema- nasan

yang

dilakukan pada obsidian

dari

Krakatau, suhu yang dipe^rlukan untuk mengubah obsidian menjadi batu apung rata-rata 880oC. Berat jenis obsidian yang semula

236

turun menjadi 0,416 sesudah perlakuan tersebut oleh sebab

itu

mengapung didalam air.

Batu apung

ini

mempunyai sifat hydraulis. Pumice berwama putih abu-abu, kekuningan sampai merah, tekstur vesikuler dengan ukuran lubang, yang bervariasi ukurannya baik berhubungan satu sama lain atau tidak struktur skorious dengan lubang yang terorientasi. Kadang- kadang lubang tersebut

terisi oleh

zeolit/kalsit. Batuan

ini

tahan terhadap pembekuan embun (frost), tidak begitu higroskopis (meng- isap air). Mempunyai sifat pengantar panas yang rendah. Kekuatan- tekan antara 3O-2Okglcm2. Komposisi utama mineral silikat amorf.

Tempat Diketemukan

Keterdapatan batu apung

di

Indonesia selalu berkaitan dengan rangkaian gunung api Kuarter sampai Tersier muda. Tempat dimana batu apung didapatkan antara lain:

o

Jambi: Salambuku, Lubukgaung, Kec. Bangko, Kab. Sarko (meru- pakan piroklastik halus yang berasal dari satuan batuan gunung api atau tufa dengan komponen batu apung diameter 0,5-15 cm terdapat dalam Fonrlasi Kasai).

o

Lampung: sekitar kepulauan Krakatau terutama

di P.

Panjang

(sebagai hasil letusan G. Krakatau yang memuntahkan batu apung).

.

Jawa Barat: Kawah Danu, Banten, sepanjang pantai laut sebelah barat (diduga hasil kegiatan G. Krakatau); Nagreg, Kab. Bandung (berupa fragmen dalam batuan tufa); Mancak, Pabuaran, Kab. Serang (mutu baik untuk agregat beton, berupa fragmen pada batuan tufa dan aliran

115

permukaan); Cicurug Kab. Sukabumi (kandungan SiOz

=

63,20Vo, AlzOr

-

12,5Vo berupa fragmen pada batuan tufa); Cikatomas, Cicurug, G. Kiaraberes Bogor.

o

Daerah Istimewa Yogyakarta: Kulon Progo pada Formasi Andesit

o

Nusa Tenggara Barat: Lendangnangka, Tua. Jurit, Rempung, Pringgesela (tebal singkapan2-5 m sebaran 1000 Ha): Masbagik Utara Kec. Mas- bagik Kab. Lombok Timur (ebal singkapan 2-5 m sebaran 1000 Ha);

Kopang, Mantang Kec. Batukilang Kab. Lombok Barat (telah diman- faatkan untuk batako sebaran 3000 Ha); Narimaga Kec. Rembiga Kab. Lombok Barat (tebal singkapan}-4 m, telah diusahakan rakyat).

o

Maluku: Rum, Gato, Tidore (kandungan SiO2

-

35,92-67,89Vo; Al2O3

= 6,4- 16,98%o).

o

Nusa Tenggara Timur: Tanah Beak, Kec. Baturliang Kab. Lombok Tengah (dimanfaatkan sebagai campuran bgton ringan dan filter).

Teknik Penambangan

Batu apung sebagai bahan galian tersingkap dekat permukaan, dan relatif tidak keras. Oleh sebab itu penambangan dilakukan dengan tambang terbuka/tambang permukaan dengan peralatan sederhana.

Pemisahan terhadap pengotor dilakukan dengan cara manual. Apabila dikehendaki ukuran butir tertentu proses pemecahan (grinding) dan pengayakan dapat dilakukan.

Pengolahan dan Pemanfaatan

o

Sebagai bahan bangunan

Sebagai bahan tahan api, dinding penyekat ruangan dalam bentuk lembaran sifatnya yang hidraulis baik untuk teknik bangunan basah.

Disamping itu berfungsi pula sebagai bahan isolasi panas dan suara atau untuk isolasi kamar/peredam atau almari es

r

Industri

Sebagai bahan penyaring setelah diproses dengan ukuran butir ter- tentu disamping untuk abrasive khususnya bahan poles untuk logam.

116

4.

TRAS

Tras disebut pula sebagai pozolan, merupakan bahan galian yang cukup banyak mengandung silika amorf yang dapat larut diair atau dalam larutan asam. Nama pozolan diambil

dari

suatu desa

Puzzuoli de Napel, Italia dimana bahan tersebut diketemukan. Tras (alam) pada umumnya terbentuk dari batuan volkanik yang banyak mengandung feldspar dan

silika,

antara

lain

breksi andesit, granit,

rhyolit yang telah

mengalami pelapukan

lanjut. Akibat

proses

pelapukan feldspar akan berubah menjadi mineral lempung/kaolin dan senyawa silika amorf. Makin lanjut tingkat pelapukannya makin baik mutu dari tras. (Santoso, 1994) menyelidiki tras yang ditemukan di Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, diperoleh unsur kimia sebagai berikut: SiOz, AlzO:, CaO, FezO:, MgO, Na2O, KzO, MnO, TiO2, P2O5, HzO. Dari unsur tersebut yang menjadi perhatian adalah unsur SiO2, Al2O3, dan CaO. Standart unsur kimia untuk tras yang akan diusahakan adalah sebagai

berikut (BKPMD vide

Santoso,

1994).

Tabel 8. Standart komposisi kimia tras.

Sebagai bahan bangunan tras mempunyai sifat-sifat yang khas.

Sifat tras yang terpenting apabila dicampur dengan kapur padam (kapur tohor) dan air akan mempunyai sifat seperti semen. Sifat ini disebabkan oksida

silika

(SiOz) yang

amorf dan

oksida alumina (Al2O3)

di

dalam tras yang menjadi bersifat asam. Kedua macam oksida yang bersifat.asam tersebut bersenyawa dengan kapur tohor dan air yang akhirnya mempunyai sifat seperti semen.