• Tidak ada hasil yang ditemukan

ITAN DENGAN PROSES UBAHAN HIDROTHERMAL

Yang termasuk dalam kelornpok ini adalah barit, talk, magnesit, grps, toseki,

pirofilit

dan kaolin. Ketiga

jenis

bahan galian yang tersebut terakhir pada umumnya berasosiasi satu sama

lain

karena terbentuk oleh proses dan dari sumber yang sama.

1. BARIT

Barit dengan rumus kimia BaSO+, bentuk kristai tabular, tidak berwarna/putih apabila murni, kuning, merah, hijau kadang-kadang hitarn akibat adanya kontaminasi. Kumpulan kristal dapat membentuk kenampakan seperti kipas, roset

(=

desert roses). Sifat kristal yang lain kompak, granular, masive, ataupun berbentuk sellagui stalaktit.

Mempunyai kekera;.an 2,5-3,5, berat jcnis 4,48, cukup bcrat walaupun bukan termasuk logam. Mudah pecah ntembentuk belal-r:rn prismatik transparan atau translusen dengan luster vitreus, cerat putih, sulit terbakar dan tidak larut dalarn asam, apabrla dipanasi memberi nyala kuning-hijau.

Barit

sangat umum sebagai mineral gang pada proses hidro- thermal tingkat menengah sampai rendah. Barit kadang-kadang ber- asosiasi dengan timbal, perak, sulfida antintonit. Endapan barit sangat rnungkin berasosiasi dengan

bijih

crnas cpithcrrnal dan merupakan

I

f

204

salah satu mineral indeks. Saat

ini bijih

emas dijumpai pula barit mengisi celah

batu

gamping/dolomit

1=

saat

ini

dikenal sebagai

endapan residual

tipe

Karst). Dalam jumlah sedikit terbentuk pada mata air panas

(=

hot springs). Terdapat juga dalam bentuk masive pada iron-manganese bearing jasper, pada celah baiuan basalt dalam bentuk kristal.

Tempat Diketemukan

o

Jawa Barat: Cikondang, Kec. Cineam, Kab. Tasikmalaya (berupa urat-urat pada celah-celah batuan tufa breksi).

o

Jawa Tengah:

Kp.

Plampang Kukusan, Watutugu, Sermo, Kab.

Kulon Progo (berupa urat-urat pada celah-celah batuan andesit, ditandai dengan kenampakan warna coklat tua); Durensari, Bagelen, Kab. Purworejo (seperti yang terdapat di Plampang).

o

Kalimantan Barat: Desa Lanjut, Kec. Kendawangan, Kab. Pontianak (berupa urat/pengisian pada rekahan-rekahan silicified limestone dengan komposisi BaSO+

=

96,5-98,57o, SiO2 = 0,9-2,2Vo, FezOr = 0,3-0,57Vo.

o

Nusa Tenggara Timur: Tg. Merah dan Pakuoyong (P. Lomblen), Kab. Flores Timur (berupa urat-urat berasosiasi batuan kuarsa pada dasit); Kec. Riung Kab. Ngada (berupa urat-urat dalam batuan tufa dasit).

o

Sulawesi Selatan: Sangkanropi, Kab. Tanotoraja (berasosiasi dengan bijih sulfida pada zona riolit/dasit yang terkersikkan).

Teknik Penambangan

Penambangan

barit

lebih banyak ditunjukan oleh singkapan yang tampak dipermukaan. Oleh sebab itu sistem penambangan yang diterapkan adalah penambangan terbuka dengan peralatan sederhana.

Pada umumnya barit terakumulasi pada retakan-retakan ataupun pada patahan.

Oleh

sebab

itu

penambangan sistem gophering sangat mungkin dilakukan tetapi harus sangat hati-hati karena terjadinya runtuhan tanah akan sangat mungkin terjadi.

205 Pengolahan dan Pemanfaatan

Barit dari penambangan pada umumnya kotor dan dilekati oleh batuan yang lain. Sehingga langkah awal barit

ini

dicuci dengan air dengan cara disemprot. Yang bersih dan kering dapat ditumbuk dan digerus, kemudian disaring dengan ukuran tertentu. Karena barit mempunyai berat jenis besar (+ 4,4) maka proses floatasi dapat meng- hasilkan

fraksi barit

murni. Pada instalasi pengolahan yang agak modern, fraksi barit yang merupakan hasil proses pemecahan, dicuci dengan log-washer, kemudian disaring, Fraksi yang berukuran halus diproses dengan

jig untuk

selanjutnya dikonsentrasi dengan cara floatasi. Hasilnya dikeringkan untuk selanjutnya dibuat dalam bentuk tepung.

Tepung barit dimanfaatkan sebagai bahan cat, industri karet, kaca atau gelas, kertas dan plastik. Tepung barit juga dimanfaatkan untuk lumpur pemboran minyak dan gas (untuk mengangkut cutting dari dasar lubang bor keatas lubang bor). Dalam hal pemakaian yang demikian

barit yang

sudah dipakai dapat dimanfaatkan kembali (dengan sistem sirkulasi). Karena berat jenis besar, barit cukup baik untuk bahan tambahan dalam membangun reaktor atom. Barit dicam- pur dengan f'enol-forrnal dehid, silikat, asbes dan arang kemudian digerus halus akan diperoleh sernen t-enolik yan_q mempunyai daya tahan yang besar terhadap berbagai bahan kirnia.

2.

GIPSUM

Gipsunr dengan rumus kirnia CaSO+ 2HrO atau dalam bentuk Anhydrit CaSO+ HzO dapat terbentuk karena proses segregasi dan evaporasi

juga

dapat terbentuk karena proses hidrothermal. Uraian secara rinci dapat dilihat pada Bab IV nonror 8.

206

3. KAOLIN

Kaolin yang disebut oleh masyarakat tanah lempung putih atau tanah

liat

putih merupakan endapan residual atau dapat pula terjadi sebagai akibat proses hidrothermal. Uraian secara rinci dapat dilihat pada Bab VII, nomor 4.

4. TALK

Talk

dengan rumus

kimia

Mg3 Si+ Oro (OH)z merupakan kelompok mineral hydrous magnesium silicate, berwarna putih, putih kehijauan, abu-abu atau kecoklatan.

Di

lapangan menunjukkan perla- pisan yang sangat tipis, kenampakan seperti hersisik, memperlihatkan foliasi. Talk mempunyai tingkat kekerasan 1 (dipakai sebagai indeks skala

Mohs),

mudah dibentuk

tetapi tidak

elastis, perlapisannya mengkilat seperti berlemak, tidak larut dalam air dan tidak terbakar, mempunyai berat jenis 2,58-2,83, penghantar panas kurang baik. Talk terbentuk dari hasil alterasi mineral magnesium silikat dalam batuan

beku

ultrabasa,

umum

didapatkan

pada batuan hasil

proses

metamorfose regional khususnya pada batuan sekis. Talk juga dapat terbentuk oleh proses metasomatisme pada marmer dolomitan. Talk yang mutunya baik berasal dari batuan induk dolomit. Mineral talk umumnya berasosiasi dengan

tremolit [Ca

Mg5 Sis Ozz

(OH)]

=

hydrous calcium magnesium silicate, aktinolit [Ca2 (Mg, Fe): Sir Ozz

(OH):l =

hydrous calcium magnesium

iron

silicate, dan mineral malihan lainnya.

Talk

yang merupakan hasil ubahan hidrotherrnal metamorfose sudah dapat terbentuk pada temperatur 300o

C

atau

lebih.

Tempat Diketemukan

o

Jawa Tengah: daerah Karangsambung,

Luk

Ulo, Kebumen; daerah Bayat, Klaten (hasilalterasi batuan sekis).

r

Sulawesi Tengah: Daerah Pompongeo,

Kab.

Poso-Taripa, S.

201

Uwemadago (terdapat sebagai sisipan/pengisian dalam sekis, meru- pakan ubahan dari seryentinit).

o

Maluku: Desa Fayaul sepanjang S. Wayalele, Kec. Wasile, Halma- hera Tengah (ubahan dalam breksi serpentinit didaerah jalur patahan dengan arah

timur

laut

-

barat daya); Kopel Labuna,

P.

Bacan (terdapat pada batuan ultrabasa, sekitarialur patahan).

.

Irian Jaya: Dekat Ifar (pengisian rekahan dalam batuan ultrabasa).

Teknik Penambangan.

Endapan talk diketahui karena tampak dipermukaan. Oleh sebab

itu sistem penambangan yang dilakukan adalah sistem tambang terbu- ka, dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Pengolahan talk yang telah berhasil dikumpulkan dari tempat penambangan dapat dilakukan seperti pengolahan bentonit. Talk digunakan dalam berbagai

industri

seperti

industri cat,

farmasi, keramik, kosmetika, kertas,

karet,

isolator,

tekstil dan

sebagai pembawa dalam insektisida.

5.

MAGNESIT

Magnesit dengan rumus kimia MgCaOj = magnesium karbonat,

dijumpai dalam bentuk kompak dan mikrokristalin,

bentuk rhombohedral jarang didapatkan, warna putih, kuning atau abu-abu, kadang-kadang memperlihatkan kenampakan seperti porselin dengan fraktur konkoidal. Mineral ini mempunyai tingkat kekerasan (3,5-4,5), berat

jenis

3,0, tidak larut dalam asam klorida tetapi berbuih bila dipanaskan, tidak terbakar. Apabila disinari ultraviolet akan meman- carkan warna biru atau hijau. Kristal magnesit umumnya terbentuk oleh proses dolomitisasi hidrothermal batu gamping ganggang atau penggantian

dolomit

amfibolit, piroksenit, diabas, peridotit, riolit,

i

I I

1

208

basalt dan granit. Magnesit kriptokristalin atau amorf terbentuk dari alterasi larutan serpentin atau larutan ultrabasa lainnya. Magnesit jenis yang tersebut terakhir

ini

umumnya terdapat dalam jumlah sedikit karena sebarannya terbatas hanya dipermukaan batuan induk.

Tempat Diketemukan

Di Indonesia mineral magnesit dijumpai antara lain:

Daerah Istimewa Aceh: Daerah Kr. Jreue Kab. Aceh Besar (cukup baik, berupa urat-urat pada bahran ultrabasa berasosiasi dengan talk).

Nusa Tenggara

Timur: P. Moa

(berasosiasi dengan peridotit - serpentinit).

Timor Timur: Desa Vemasse dan Laleia antara Manatuto, Baucau (mengisi rekahan pada batuan ultrabasa, kadar MgO = 6,75-9,24o/o).

Sulawesi Tenggara:

P.

Padamarang (berasosiasi dengan batuan ultrabasa, peridotit serpentinit

yang

berumur

Pra

Tersier); P.

Lambasina (berasosiasi dengan batuan ultrabasa, peridotit serpentinit yang berumur Pra Tersier).

Teknik Penambangan

Endapan magnesit

di

Indonesia kebanyakan mengisi rekah- an/dalam bentuk urat-urat dan tampak dipermukaan. Oleh karenanya teknik penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dengan alat- alat sederhana

Pengolahan dan Pemanfaatan

Magnesit

hasil dari

penambangan dibersihkan

dari

pengo-

tor/kontaminan. Tahap berikutnya disemprot dengan air untuk meng- hilangkan kotoran yang masih menempel. Proses lanjutan dapat diperlakukan seperti pada kaolin. Keterdapatan magnesit alam sangat terbatas, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dibuat magnesit sintetis dari dolomit atau batu gamping dolomitan (dikenal sebagai seuwqter magnesia). Magnesit alam dan magnesit sintetis banyak digunakan

209

dalam industri refraktori, farmasi, kosmetik, karet, plastik, kertas (terutama kertas rokok), cat, pembuatan logam Mg, pertanian, isolator pipa.

6.

PIROFTLIT

Pirofilit

termasuk mineral hydrus alumunium silicate dengan rumus kimia Alz Si4

Ol0

(OH)

=

Al2Or 4SiO:. H:O. Seperti halnya kaolin,

pirofilit

terbentuk pada zona ubahan argilik lanjut (hipogen) pada temperatur tinggi (250' C) dan PH asam.

Pirofilit

mempunyai sistem kristal monoklin. pada umumnya memperlihatkan lapisan tipis atau merupakan agregat foliasi yang radial berwarna kuning-putih.

hijau pucat atau hijau-coklat.

Pirofilit

rlempunyai tingkat kekerasan rendah

(l-2),

berat jenis 2, relatif ringan, mempunyai belahan nyata.

Dalam keadaan pipih mudah dibentuk (flexible) tetapi tidak elastis.

Kenampakan yang lain mengkilat atau terlihat seperti berminyak tidak larut dalam

air,

dan tidak terbakar tetapi apabila dipanaskan akan membentuk serpih. Secara megaskopis pirofilit sulit dibedakan dengan

talk

kecuali dengan analisa

kimia

atau analisa sinar-X. Apabila diperhatikan rumus kimianya pirofilit termasuk jenis mineral lempung yang berair dan rnempunyai komposisi kirnia hampir sama dengan mineral lempung lainnya.

Di

Jepang. batuan ubahan yang banyak mengandung

pirofilit

disebut sebagai roseki. Berdasarkan jenis nrine- ral lenrpung yang dikandungnya

pirofilit

(roseki) dibedakan rnenjadi jenis kaolinit [= 41,5i,r5(OH)+1. sericit dan roseki

pirofilit. Di

Indo- nesia

pirofilit

terbentuknya berkaitan erat dengan sebaran Fonnasi Andesit Tua yang berurnur Oligo-Miosen. nrenriliki kontrol struktur darr intensitas ubahan lridrothernral yarr-s kuat atau terbentuk sebagai hasil ubahan hidrotherrnal batuan glulung api (tutir riolit atau dasit).

Tempat Diketemukan

o

Daerah Istinrewa Acelr: Takengon Kab. Acelr Tengah

.

Bengkulu: Sungai Batuintan dan S. Musna, desa

Air

Kopras, Kec.

210

Lebong Utara,

Kab.

Rejang Lebong (berwarna abu-abu muda keputihan, kompak, agak keras dari tufa dasitis terubah, komposisi SiO2 = 58,48-6-5,5.17c, AlzOt

=

13,25-l4,37Vo,Fe2O1= 1,2'7-2,36Vc,

MgO = 0,12-0,487c, CaO = 4,03-4,370/o).

Jawa Barat: Desa Cikatulampa, Kec. Cipatujah. Kab. Tasikmalaya (wama putih kecoklatan, berasosiasi dengan urat kuarsa, ubahan dari tufa dasit anggota Formasi Jampang).

Jawa Timur: Desa Mlokomanis, Temon Kab. Pacitan (hasil ubahan hidrothermal dari tufa dasit, komposisi SiO2

=

72,877o, AlzOr =

7,224k, Fe:O:

=

0,2-1o/c, NazOr

+

KzO

=

0,05-0,4o/a, TiO2

=

0,67-

0,12o/a); Wonokerto, Lorok, Kab. Pacitan; G. Tales, Nglebo, Kec.

Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit anggota dari Fomrasi Andesit Tua, hasil X-RD adalah mika serisit, kaolinit, kuarsa dan

pirofilit);

Wonokerto, Kec. Karangan Kab. Trenggalek (ubahan hidrothermal dari Formasi Andesit Tua, komposisi SiO2 = 61,66ok, AlzOr

-

16,517o, Fe2Oj = 6,907o, K2O = 0,087o, Na2O

=

0,027o, analisa X-RD

=

kaolinit, pirofilit, kuarsa, kristobalit dan serisit); Pojok desa Mlinjon, Kec. Karangan Kab.

Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit anggota dari Fonnasi Andesit Tua, mutu cukup baik, telah digunakan sebagai bahan wall tile/floor tile di pabrik keramik Tulungagung); Ngepring Kec. Kule Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit anggota Formasi Andesit Tua, setelah dibakar pada suhu 1200o

C warna putih, komposisi: SiOz = 83,847o, Al2Oi = 9,70Vo, FezOr = 0,997a, Na2O = 0,02ck, K2O = 0,207o, TiO2 = 0,187o); Masaran, Kec.

Bendungan Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit dan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komposisi: SiOz

=

54,43Vo, Fe2Oj = 0,997o, AlzOr

-

3,37o, Na2O

=

0,027a, K2O = 0,04, TiOz

=

0,277a); G. Soblo, Tumpak soblah Kab. Blitar (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasitik berasosiasi dengan kaolin, komposisi: SiO2

-

79,14Vo, AlzOr

-

11,957a, FezO:

=

0,407o); G.

Sampirubuh, Sembor, Gebang, Kab. Blitar (komposisi: SiO2

-

69,10-

75,807o, Al2Oj

=

16,68-17,147c, Fe2O3 =0,14-2,52Va); Sumberbende Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang (hasil ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, berasosiasi

2ll

dengan toseki dan kaolin, telah digunakan untuk pembuatan wal/

tile/floor tile, mutu cukup baik, komposisi SiO:

=

83,417o, Al2Oi = 12,457o, Fe2O3

-

0,307c, TiO2

-

0,58Vo); Tambakrejo Kab. Malang (ubahan hidrothermal dari batuan tuta dasitik, komposisi: SiO2 = 53,19-69,827o,

Al:Or =

19,92-30,367a, Fe2O3

=

0,20-2,257a);

Pujiharjo, Ampelgading, Kab. Malang (ubahan hidrothermal tufa dasirik).

Nusa Tenggara Barat: Desa Wawo, Kec. Sape, Kab. Bima; Prado, Kab. Bima (warna abu-abu, komposisi SiO2

-

65,277a, AlzOt

-

l5Va,

Fe2O3

-

8,147r,, K2O = 0,207o, Na2O = 0,80Vo, TiO2 = 0,617o); Bukit Tonggo Tata, Desa Sari Kab. Birna.

Kalimantan Tengah: Kuala Kurun Tewah.

Kalimantan Barat: Desa Sememeng, Kec. Sekayam, Kab. Sanggau (berasal dari tufa terubah, wama putih).

Teknik Penambangan

Dilakukan seperti penambangan kaolin.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Pengolahan dilakukan sepefii pada

kaolin. Pirofilit

banyak digunakan pada industri keramik, refraktori, kosmetik, kertas, cat, plastik, karet, dan industri kimia/sabun.

7.

TOSEKI

Nama mineral ini relatif baru, sehingga belum banyak dikenal.

Toseki atau batuan kuarsa-serisit terbentuk pada zona ubahan

filik,

yakni pada suhu 220 nC, dan kondisi

PH

netral. Endapan toseki biasanya berasosiasi dengan batuan vulkanik yang berkomposisi asam dan terbentuk sebagai hasil ubahan hidrothermal batuan vulkanik jenis tufariolitik ataupun dasitik. Komposisi utama dari toseki adalah mine-

ral

kuarsa 59-707a, serisit l5-307o, kaolinit l-12Vo, feldspar 1-3Vo.

a a

2t2

Berdasarkan atas kandungan mineral utama toseki dibagi menjadi 3

tipe yaitu tipe serisit, tipe kaolinit dan tipe

feldspar, sedang berdasarkan atas kandungan Fe2O3 nya toseki dikelompokan menjadi 4 kelas yaitu kelas

I

dengan kandungan FezOr

-

(0,4-0,5Vo), kelas 2 dengan kandungan FezO: (0,5-0,77o); kelas

3

dengan kandungan Fe2O3

=

(0,7-0,9); kelas

4

dengan kandungan TiO2 kurang dari 0,004Vo dan MgO kurang dari 0,17o. Sifat umum dari toseki'hampir

sama dengan sifat roseki khususnya pada sifat fisiknya.

Tempat Diketemukan

o

Sumatera Barat: Barangan, Kab. Padang Pariaman.

r

Bengkulu: Tambang Sawah: Muaraaman (wama putih-keabuan, keras).

o

Lampung: Sukamantri, Kec. Sumberjaya, Kab. Lampung Utara, komposisi: SiO2 = 88,90-94,98Vo, AlzOr =2,31-4,30Vo, FezOr = 0,89- 7,25Vo, CaO = 0,58-0,J4Vo, MgO = 0,48-0,51Vo,TtOz= 1,'72-2,107o, H2O = 0,ll-33,957o.

o

Jawa Barat: Bujal Kec. Cipanas Kab. Lebak (ubahan hidrothermal dari batuan riolitik, komposisi: kuarsa = 50Va, serisit = 257o,lempung

= 22Vo, zeolit = 27o, dan bijih

=

l7o); Cicarucup Kec. Cikotok Kab.

Lebak (ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik, komposisi; SiO2

=

82,167o, AlzOr

-

8,757o, Fe2Oj = 0,657o, Na2O = 0,64Vo, K2O = 3,027o, bijih Oksida = 2,867o); Talang, Kab. Sukabumi (komposisi;

kuarsa = 50-557a, serisit = Z5-Z9Vo,lempung = 2jVo,t:tjth = 47o).

.

Jawa Tengah: Batuwarno, Wonogiri (hasil ubahan hidrothermal dari

batuan

tufa dasitik); G.

Rahtawu,

Wonogiri (hasil

ubahan hidrothermal, baik untuk bahan baku wall tile dan floor tile, mutu cukup baik, komposisi ; SiOz = 7 1,32-7 7,897o, Al2C) 1

=

12,08- \J,97 o/o,

Fe2O3 = 1,08-3,477a).

o

Jawa Timur: Pojok, Kec. Karangan Kab. Trenggalek (hasil ubahan dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, baik untuk bahan baku wall tile danJloor /i/e, komposisi;kuarsa, serisit, mineral lempung, plagioklas, telah diusahakan oleh CV. Sinar Agung; G.

213

Sambi, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal

dari

batuan

tufa

dasitik anggota Formasi Andesit

Tua,

warna kecoklatan banyak mengandung oksida besi, mutu kurang baik); G.

Miri, Kec. Karangan Kab. Trenggalek (keadaan seperti di G, Sambi, Kec. Karangan); Wonokerto, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komposisi; SiOz = 48,17-57,147o, AlzOt = 35,69-29,llVo,Fe2O3

=

0,99

=

0,797o, Na2O

=

0,22-0,06Vo, K2O

=

0,66-0,55Vo, telah digunakan sebagai bahan baku wall

tile

dan

floor tile

oleh pabrik keramik

CV. Dian

Karisma

Tulung Agung;

Ngentrong Kec.

Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, mutu cukup baik, komposisi;

SiO2 = 74,167o, AlzOr

=

14,907o, FezOr

=

1,18, K2O

-

lVo, Na2O3 =

1,187o, TiOr = 0,217a, sudah diusahakan untuk bahan baku wall tile dan

floor tile;

Temptran Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal

dari

batuan

tufa

dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komposisi; feldspar

=

137a, kuarsa = 87o, serisit --37Vo, lempung =25Vo, klorit = J7c dan oksida besi

=

l07o); G. Banjiran, G.

Gliner, G. Sapu, G. Jabung, Klepu Kec. Karangan Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, mutu kurang baik); Kp. Dringu, Kp. Dungowo, Kp.

Jorongan, Desa Ngeni, Kec. Sutoyayan, Kab. Blitar (hasil ubahan hidrothermal dari batuan tufa riolit,

di

Kp. Dringu berumutu baik);

Pujiharjo, Lengosono, Kec. Tirtoyudo, Kab. Malang (hasil ubahan

hidrothermal

dari batuan dasit); Desa

Sumberbende Kec.

Sumbermanjing Wetan, Kab. Malang (hasil ubahan hidrothermal dari batuan

tufa

dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komplek G.

Kitiran); Cokrokembang, Tanjung lor dan Bogoharjo, Kec. Ngadirejo Kab. Pacitan (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit, banyak mengandung oksida besi dan

pirit,

warna agak kecoklatan); G.

Nglenglengan, Wonosidi, Kec. Tulakan Kab. Pacitan (hasil ubahan hidrothermal dan batuan dasit, wama putih agak kompak); G. Pelet Kalibaru, Kaliseren, Malangsari, Kab. Banyuwangi (hasil ubahan hidrothermal dari batuan tufa, mutu cukup baik, komposisi; SiOz = 76,357o, Al:Or

-

l2,8JVa, Fe2Oj = 0,83o/a, Na:Or = 4,l4Va, K2O =

214

1,53c/c,

TiO2 =

0,53c/o); Sumberkuat, Karangrejo, Karangdoro, Gleenmore, Kab. Banyuwangi (mutu belum ciiketahui).

Kalimantan

Barat: Lumar, Kab.

Bengkoyang

(hasil

ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik, mutu kurang baik).

Nusa Tenggara Barat: Parado Kec. Monta. Kab. Surnbawa Besar

(hasil ubahan hidrothermal

dan

batuan

tufa

dasit, warna putih kekunrngan, kompak); Desa Sari Kec. Sape, Kab. Bima (hasil ubahan

hidrothermal dari baruan tufa dasit, meliputi G. Ranggate dan BT.

Gopah, wama putih).

Nusa Tenggara Timur: Waili Kab. Sikka (hasil ubahan hidrothermal

dari

batuan dasit); Wailolong Kab. Flores

Timur

(hasil ubahan hidrothermal

dari

batuan

dasi0;

Sambor,

Kec. Lembor

Kab.

Manggarai (hasil ubahan hidrothermal batuan dasit); Kopoone.

Wolomage, Leke, Koanaro, Kec. Wolowaru, Kab. Ende (hasil ubahan hidrotherrnal

dari dasit, warna

putih-coklat, dengan pengotoran oksida besi); Ae Bora dan Oka Moge, Wolowaru, Kab.

Ende (ubahan batuan ler-rkogranit oleh batuan andesit, berwarna

putih, agak masif);

Bukit

Batuputih, Desa Labusen

Bajo,

Kab.

Manggarai (berasal dari tufa dasitik yang terubah).

Sulawesi

Utara:

Duhurnulyo,

Kab.

Gorontalo

(hasil

ubahan

hidrothermal batuan tufa); Buhu, Kab. Gorontalo (hasil ubahan hidrothermal batuan

tufa);

Malitaga

Kab.

Bolaang Mangandow (komposisi; KzO

*

2,04c/c,, Na2O

=

3.087o, Fe2Oj

=

2p6Va\ Kec.

Tafaga (komposisi; K2O

=

2,81-3,4Vc, Na20

=

2,88-3,9Ec. Fe2Oj = l,3l-3,43ch); Kec. Isimi (kornposisi; K2O = 2,81-3,4Vc, Na:O = 2"88-

3.9c/a, Fe2O3 = I "31 -3,43).

o

Sulawesi Selatan: Sadang Malingbong, Kec. Sesean, Kab. Tator (hasil ubahan hidrothermal dalam batuan tufa dasit).

Teknik Penambangan

Dilakukan seperti penambangan pirofilit/roseki.

2 1.5

Pengolahan dan Pemanfaatan

Pengolahan toseki dapat dilakukan seperli pengolahan pirofilit.

Kegunaan toseki umunrnya dikaitkan dengan kadar Fe2O3. Toseki terutama untuk bahan baku keramik, refraktori, isolator. Sebagai bahan keramik toseki mudah dikerjakan dan tidak memerlukan bahan campuran lain.

8.

OKER

Oker adalah tanah yang lunak terdiri dari campuran oksida besi dan bahan yang

liat

kadang terdapat juga karbonat dan pasir kuarsa halr,rs (Darnrner Tietze, 1928 vide Basari. 1967). Selain itu, disebutkan pula bahwa oker adalah tanah liat yang cukup banyak mengandung oksida logarn dipergunakan sebagai bahan cat. Oksida besi yang telah digerus halus dan dapat dipergunakan sebagai bahan cat disebut juga okcr. Oker yang berwarna agak coklat atau kekuning-kuningan me- ngandung bi.iih besi dalarn bentuk limonit

(=

2Fe:Or 3H2O), yang berwarna merah mengandung hematit Fe:O:. Diantaranya terclapat bermacam tingkatan warna yang kehitam-hitaman disebabkan oleh C atau Ti, dan apabila berwarna agak ungu karena mengandung Mn atau Cu.

Di

pasaran/masyarakat dikenal 2 jenis oker yaitu oker gemuk bilamana oker tersebut banyak mengandung tanah liat dan oker kurus apabila oker tersebut mengandung banyak pasir dan sedikit tanah liat.

Pada umumnya oker dinilai bukan clari susunan kimianya, tetapi dari kenyataannya didalam praktek setelah dicampur dengan minyak dan dipulaskan.

Oker dari Ciater, Telaga warna dan Karaha terdapat dilereng- lereng bekas Gunung api. Oleh karena itu oker terjadi karena proses

hidrothermal yang semula membawa

bijih

oksida besi dari batuan gunung api, yang dalam hal ini biasanya bersifat basa.

fl

216 Tempat Diketemukan

Di

Indonesia cukup banyak proses hidrothermal

baik

yang

terjadi

pada

Tersier

maupun selama

jaman

Kuarter. Walaupun demikian tempat dimana oker diketemukan belum banyak. Beberapa tempat tersebut antara lain:

.

Jawa Barat: Ciatei Telaga Warna, Kawah Karaha, Kuningan'dekat Cipasung.

o

Jawa

Timur:

Kampak, Panggul,

Kab.

Pacitan; Songgoriti Kab.

Malang.

Teknik Penambangan

Oker keterdapatannya ditunjukan

oleh

adanya singkapan di permukaan.

Oleh

karenanya penambangan

oker

dapat dilakukan dengan cara tambang terbuka dengan peralatan yang sederhana. Untuk deposit yang terbentuk gang penam-bangan dilakukan dengan sistem gophering.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Sebelum oker digiling, kotoran yang ada harus dibuang terlebih dahulu, kemudian dilakukan penggilingan. Untuk rnemisahkan fraksi dari serbuk dapat dilakukan penyedotan sehingga nantinya diperoleh dalam bentuk tepung. Pada

waktu

tertentu proses pembakaran diperlukan guna mendapatkan warna tertentu. Pada saat pembakaran besi hidrat yang semula berwama kekuningan akan berubah menjadi merah karena airnya menguap

dan

terbentuk

besi

oksida. Pada pembakaran diudara yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi, ferro akan berubah menjadi

ferri

oksida yang warnanya merah tua. Oker dimanfaatkan sebagai bahan utama

cat

merah, dapat

pula

untuk memberi warna pada ubin atau sebagai luluh. Sebagai cat merah, oker dicampur dengan minyak cat.

2l'7

9.

TAWAS

Tawas atau alum merupakan persenyawaan garam komplek dengan rumus kimia KzSO4.AI2(SO4)3 24H2O (= tawas kalium) dan NazSO4.Alz(SO+)r 24HzO (= tawas natrium). Dialam tawas didapatkan dalam 2 bentuk yaitu dalam bentuk padat (dalam batuan/seperti yang dijumpai didaerah Ciater (dekat Bandung) dan dalam bentuk air kawah seperti yang didapatkan dikawah gunung Ijen. Pada air tersebut mengandung

I

gram K2O tiap satu

liter

dan mengandung 1,4 gram Na2O tiap satu liter. Tawas terjadi dari proses pelapukan dari batuan yang mengandung mineral sulfida didaerah volkanis (solfatara) atau

terjadi

didaerah

batu

lempung,

serpih atau batu

sabak yang mengandung

pirit

1= Fe S) dan markasit (= FeSz). Kebanyakan tawas dijumpai dalam bentuk padat pada batu lempung, seryih ataupun batu sabak.

Tempat Diketemukan

Beberapa tempat yang telah diketahui keberadaan tawas antara lain:

r

Jawa Barat: Daerah Ciater dalam keadaan padat, K. Wayang.

o

Jawa Tengah: Telaga Sari, Banyun-ras.

o

Jawa Timur: Kawah Iien (dalarn bentuk cair"an); Gua Prusi, Kediri.

Teknik Penambangan

Tawas di.junrpai pada batuan yang lunak/dijumpai dalam bentuk

cair. Oleh

sebab

itu

parda urnumnya

teknik

penambangan tawas dilakukan dengan larnbang terbuka dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfiratan

Bahan tawas yang cliperoleh dari hasil ltenarnbangan. dibentuk dalarrr bonskah-hongkah kecrl. kenrudian cligiling dengan crusher.

Tahap kenrudian cli.jcrnur pacll panas nratuhuri dcngatr cara clibentang-