• Tidak ada hasil yang ditemukan

Selama kamu yakin, kamu pasti bisa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Selama kamu yakin, kamu pasti bisa "

Copied!
193
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu alternatif bahan ajar yang dapat dikembangkan untuk memandu pola berpikir siswa dan meningkatkan kemandirian siswa adalah Lembar Kerja Siswa (SLWs). Berdasarkan observasi dan wawancara terhadap guru matematika pada tanggal 24 Juli 2017 di SMP Negeri 4 Takalar diketahui bahwa LKS yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika masih belum maksimal, meskipun ada beberapa guru yang mengembangkan LKS sendiri. LKS yang digunakan hanya memuat materi dan soal-soal yang masih monoton dan belum memenuhi kebutuhan siswa, artinya LKS tersebut tidak memuat kegiatan pembelajaran yang melibatkan langsung siswa dalam penemuan dan penggunaan konsep matematika.

LKS seperti ini tidak memberikan pengalaman belajar bagi siswa dan tidak mendorong berkembangnya kemampuan berpikir siswa, sehingga perlu dikembangkan LKS yang bersifat suportif. LKS yang disusun diharapkan dapat melatih kemandirian siswa dalam menemukan, menerapkan dan memperdalam konsep matematika. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi dasar penulis untuk mengembangkan bahan ajar berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) matematika berbasis penemuan terbimbing.

Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan topik “Pengembangan Lembar Kerja Siswa (SWW) Berbasis Metode Penemuan Terbimbing pada Materi Lingkaran Kelas VIII di SMP Negeri 4 Takalar”.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Hasil pengembangan LKS ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi guru matematika dan dapat dijadikan alternatif Lembar Kerja Siswa (LKS) matematika berbasis penemuan terbimbing. Menambah pengalaman dan wawasan peneliti dalam pengembangan lembar kegiatan siswa (SAS) matematika sebagai bahan ajar yang akan digunakan.

Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan

TINJAUAN PUSTAKA

Pembelajaran Matematika di SMP

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran adalah upaya guru mengarahkan dan membimbing interaksi atau proses belajar siswa dengan sumber belajarnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Guru juga harus menyediakan sumber belajar yang memungkinkan siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Materi matematika numerik mengarahkan siswa SMP untuk mempelajari tentang bilangan bulat, pecahan, bilangan pangkat tak nyata, barisan dan himpunan.

Materi matematika aljabar memandu siswa sekolah menengah dalam mempelajari bentuk-bentuk aljabar, sistem persamaan dan pertidaksamaan linier, besaran dan hubungan, serta fungsi. Materi statistika matematika dan probabilitas mengarahkan siswa sekolah menengah untuk belajar tentang perhitungan statistik data kuantitatif tunggal dan peluang kejadian sederhana. Materi matematika geometri dan pengukuran mengarahkan siswa sekolah menengah untuk mempelajari tentang garis dan sudut, bangun datar, lingkaran, persamaan dan kekongruenan bangun datar dan bangun ruang bersisi melengkung.

Teori Piaget (dalam Budiningsih, 2005:37) menjelaskan bahwa proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahapan perkembangan sesuai dengan usia struktur kognitif anak.

Tabel 2.1 Tahapan  Perkembangan Kognitif Anak Jean Piaget
Tabel 2.1 Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Jean Piaget

Metode Penemuan Terbimbing

Setiawan (2008:31) menyatakan bahwa dalam metode penemuan terdapat dua jenis penemuan, yaitu metode penemuan murni dan metode penemuan terbimbing. Oleh karena itu, muncullah metode yang dikenal dengan metode penemuan terbimbing sebagai metode pengajaran yang berguna untuk pembelajaran matematika. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat model pembelajaran penemuan terbimbing ini adalah mengubah kondisi pembelajaran yang pasif menjadi aktif dan kreatif.

Agar penerapan metode penemuan terbimbing dapat efektif, maka urutan langkah-langkah dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut (Markaban, 2006:32). Apabila kepastian kebenaran dugaan telah diperoleh, maka verbalisasi dugaan tersebut hendaknya diserahkan pula kepada siswa untuk menyusunnya. Untuk itu, guru harus mengajak siswa berpikir kreatif dengan mengidentifikasi keterkaitan antara materi yang akan diajarkan dengan materi lain serta meminta siswa membuat hipotesis mengenai materi yang akan diajarkan.

Penggunaan metode penemuan terbimbing memerlukan keahlian guru yang cukup tinggi, sehingga guru dan siswa yang terbiasa dengan metode konvensional mungkin akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing.

Lembar Kerja Siswa (LKS)

Validitas materi pertama pada LKS 3 berjudul “Tensant to Circle”. dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Artinya kegiatan dalam LKS mengaktifkan siswa dalam proses penemuan konsep. b) LKS sesuai dengan tujuan untuk memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan. Aktivitas belajar mengajar aktif dengan rata-rata skor aktivitas siswa dan guru sebesar 3,85.

5 2) Tentukan perbandingan antara sudut pusat dan sudut lingkaran.. dengan panjang busur dan keliling dan dengan luas lingkaran dan luas lingkaran. Terampil menentukan perbandingan sudut pusat, sudut lingkaran, panjang busur dan keliling, serta luas lingkaran dengan luas lingkaran. Terampil menentukan kedudukan suatu garis relatif terhadap lingkaran. Metode penemuan terbimbing digunakan dalam pengembangan LKS materi lingkaran kelas VIII di SMP Negeri 4 Takalar.”

Gambar  2.1 Diagram Alur Penyusunan LKS (Prastowo 2011: 212)  1.  Melakukan analisis kurikulum
Gambar 2.1 Diagram Alur Penyusunan LKS (Prastowo 2011: 212) 1. Melakukan analisis kurikulum

Pengembangan LKS berbasis Metode Penemuan Terbimbing 21

Model Pengembangan LKS

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian berupa analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk agar dapat bekerja di masyarakat luas maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut. Model pengembangan LKS ada beberapa jenis antara lain model ASSURE, ADDIE, 4-D, Kemp, Dick and Carrey, Hannafin and Peck, Gagne and Briggs, Borg and Gall. Analisis siswa merupakan kajian terhadap karakteristik siswa yang meliputi kemampuan, latar belakang, pengetahuan, dan tingkat perkembangan kognitif siswa.

Tes ini merupakan alat untuk mengukur perubahan perilaku siswa setelah kegiatan belajar mengajar. Pemilihan format ini dapat dilakukan, misalnya dengan mengkaji format perangkat yang ada dan yang dikembangkan di negara-negara lebih maju. Tahapan ini meliputi: (1) validasi perangkat oleh ahli yang dilanjutkan dengan revisi, (2) simulasi, yaitu kegiatan pelaksanaan RPP, dan (3) uji coba terbatas dengan siswa nyata.

Tahap diseminasi merupakan tahap penggunaan alat-alat yang telah dikembangkan dalam skala yang lebih luas, misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh guru lain.

Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan Yulita (2012) dengan judul : Penggunaan Metode Penemuan Terbimbing Berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 11 Kota Bengkulu. Pada siklus I rata-rata nilai aktivitas siswa sebesar 17,5, pada siklus II menjadi 26, dan pada siklus III meningkat menjadi 30. Hasil belajar siswa pun meningkat setiap siklusnya, pada siklus I rata-rata nilai dan persentase ketuntasan klasikal siswa prestasi belajar. berturut-turut sebesar 64,2 dan 44%, pada siklus II meningkat menjadi 73,97 dan 70%, pada siklus III juga terjadi peningkatan dengan rata-rata nilai klasikal siswa sebesar 77,8 dan persentase ketuntasan klasikal siswa sebesar 91 %.

Penelitian yang dilakukan oleh Normawati (2013) berjudul: Pengembangan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKS) Berbasis Penemuan Terbimbing Kaitannya dengan Efektivitas Pembelajaran Materi Ruang Dua Dimensi Kelas X SMK N 3 Pati. Penelitian yang dilakukan oleh Aldila (2013) berjudul: Pengembangan Lembar Kerja Terstruktur Berbasis Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) pada topik Konstruksi Ruang Sisi Datar untuk Kelas VIII Semester 2 SMP Negeri 2 Morgorejo. Hasil penelitian menunjukkan antara kelompok eksperimen dan kontrol dalam uji hipotesis diperoleh thitung = 1,895 dan ttabel = 1,67.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian relevan di atas adalah perbedaan jenis penelitian yang dilakukan, model pengembangan LKS, topik penelitian, kompetensi yang ingin dicapai dan tujuan pengembangan.

Kerangka Berpikir

Hasil analisis rerata skor evaluasi kelas eksperimen berjumlah 21 siswa dan kelas kontrol berjumlah 25 siswa adalah 79,7 dan 7,14. Dengan menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari 5 tahap yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Karena thitung > ttabel dan Ho ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan LKS terstruktur berbasis pembelajaran penemuan terbimbing lebih baik dibandingkan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Metode Penemuan Terbimbing membantu siswa menemukan pengetahuan secara aktif dan mandiri dengan bantuan guru. LKS yang ada dan sering digunakan kurang menarik, kurang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Hipotesis Penelitian

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Sasaran Penelitian

Prosedur Penelitian

Instrumen Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Analisis terhadap metode pengajaran yang relevan menunjukkan bahwa metode penemuan terbimbing merupakan salah satu metode pengajaran yang relevan untuk KTSP dan cocok untuk topik lingkaran dan garis singgung lingkaran, terutama ketika menemukan hubungan antara sudut pusat, panjang busur dan garis singgung lingkaran. luas lingkaran sempit. Validitas materi yang pertama Validitas ini berkaitan dengan . Penggunaan bahasa dalam perancangan indikator adalah “mengetahui sifat-sifat garis singgung lingkaran”. Bahasa awal yang digunakan tidak persis seperti pada gambar berikut... mengidentifikasi sifat-sifat garis singgung lingkaran."

Validitas materi lain Validitas materi lain saling berkaitan. dengan kegiatan pada fase terbuka tentang sifat-sifat garis singgung lingkaran. Validitas materi pertama pada LKS 4 berjudul “Singgung persekutuan dua lingkaran” mengacu pada penggunaan bahasa pada pertanyaan “…dapatkah kamu membedakan garis singgung persekutuan dalam dan luar dua lingkaran?” tidak menggunakan kalimat yang sesuai dengan EYD, sehingga diubah menjadi “Apa perbedaan garis singgung persekutuan dalam dan luar dua lingkaran?”. Selain itu soal tersebut tidak hanya memuat satu indikator saja melainkan beberapa indikator penilaian yaitu pengenalan, menentukan panjang dan menggambar garis singgung persekutuan pada dua lingkaran seperti pada gambar di bawah ini.. lingkaran seperti pada gambar berikut.

Berdasarkan data yang diperoleh pada lembar validasi, materi yang dianalisis dengan menggunakan kriteria yang telah ditentukan dapat disimpulkan sebagai berikut. a) Materi yang disampaikan dalam LKS sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Artinya konsep yang disajikan dalam LKS sudah benar. e) Soal-soal dalam LKS ini sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Analisis validitas berdasarkan data pengisian instrumen (Lampiran C.5) hasil uji ahli materi menunjukkan bahwa LKS Draf I yang direvisi berdasarkan materi yang direvisi mendapat nilai rata-rata skor 4,53 masing-masing “Sangat Bernilai”.

Berdasarkan data yang diperoleh pada lembar validasi konstruksi yang dianalisis dengan menggunakan kriteria yang telah ditentukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. a) LKS sesuai dengan tujuan menemukan konsep dan menjadikan siswa aktif. Analisis validitas berdasarkan data pengisian instrumen (Lampiran C.5) melalui uji ahli konstruksi menunjukkan bahwa Draf I yang direvisi berdasarkan materi yang direvisi dinilai dengan skor rata-rata 4,36 yaitu “Sangat Valid”. a) Validitas bahasa. Berdasarkan data yang diperoleh pada lembar validasi bahasa yang dianalisis dengan menggunakan kriteria yang telah ditentukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. a) Tulisan LKS terlihat jelas sesuai dengan tujuan LKS.

Analisis validitas berdasarkan data kelengkapan instrumen (Lampiran C.5) hasil tes kemampuan berbahasa menunjukkan bahwa Draf I yang telah direvisi berdasarkan materi yang direvisi telah mendapat nilai rata-rata skor 4,5 yaitu “Sangat Valid”. Rata-rata skor hasil belajar siswa diperoleh dengan menjumlahkan skor hasil belajar per siswa, kemudian dibagi dengan jumlah siswa.

Tabel 4.1 Peta Kebutuhan Konsep
Tabel 4.1 Peta Kebutuhan Konsep

Pembahasan

Mampu menentukan perbandingan sudut pusat dengan sudut lingkaran dengan panjang busur dan keliling serta luas lingkaran dengan luas lingkaran. Guru mengarahkan siswa mencari perbandingan sudut pusat, panjang busur, dan luas lingkaran, kemudian mencari perbandingan sudut pusat dan sudut lingkaran dengan panjang busur. dan keliling serta luas lingkaran dengan luas lingkaran. Sudut pusat dengan sudut lingkaran terhadap panjang busur dengan keliling dan terhadap luas lingkaran dengan luas lingkaran.

Gambar 4.11 Aktivitas Merumuskan Hipotesis
Gambar 4.11 Aktivitas Merumuskan Hipotesis

Kendala dan Solusi

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Gambar

Tabel 2.1 Tahapan  Perkembangan Kognitif Anak Jean Piaget
Gambar  2.1 Diagram Alur Penyusunan LKS (Prastowo 2011: 212)  1.  Melakukan analisis kurikulum
Gambar 2.2 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4-D  (Thiagarajan, Semmel, dan Semmel, 1974)
Gambar 2.3 Kerangka Pikir Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil model isoterm ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nordin at al, (2012) mengenai pengurangan kadar asam lemak bebas pada minyak jelantah menggunakan ampas