PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
- Penelitian Relevan
- Semantik
- Fungsi Bahasa
- Pengertian Representasi
- Masyarakat Tradisional
- Masyarakat Modern
- Etnis Bugis
- Pamali (Pemmali)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemmali dalam budaya Bugis Baring dalam perspektif pendidikan Islam yaitu: (1) bentuk pemmali terbagi menjadi dua yaitu pemmali yang memiliki akibat yang jelas dan pemmali yang tidak memiliki akibat yang tidak jelas, (2) fungsi pemali yaitu cara mendidik anak, penanaman nilai budaya, mekanisme pertahanan adat, serta kepedulian masyarakat, (3) Pemmali dalam masyarakat Baring Bugis termasuk urf yang memenuhi syarat urf yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pendidikan Islam dan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Sedangkan perbedaannya terletak pada tujuan penelitian serta kegunaan penelitian ini sebagai acuan penulis untuk menyelesaikan penelitian. 2019) dengan judul penelitian “Bentuk, Makna dan Fungsi Pamali dalam Perilaku Masyarakat Pesisir di Kabupaten Maros”. Implikasi bagi pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran.
Kemiripan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Pamali merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan masyarakat Bugis dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Pamali tidak berdiri sendiri dalam masyarakat Bugis, tetapi berjalan beriringan dengan pappangaja (mengalihkan/mengajak) dan paseng (nasehat).
Hal ini sejalan dengan konsep pangngaderang yang ingin menegakkan ketertiban dan keteraturan dalam kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar (Abidin, dkk 2019: 100). Pamali dalam masyarakat Bugis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pamali dalam bentuk kata-kata dan pamali dalam bentuk perbuatan.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Definisi Istilah
- Data dan Sumber Data
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini data masyarakat modern dan masyarakat tradisional berupa ekspresi atau ekspresi pamali oleh tokoh masyarakat yang berbeda di Kecamatan Pinrang, Kecamatan Mattiro Bulu dan Desa Barang Palie diklasifikasikan menurut analisis yang diteliti. Sumber data dari masyarakat modern dan masyarakat tradisional berupa ungkapan atau ucapan pamali, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Barang Palie Kabupaten Pinrang. Alasan peneliti memilih lokasi penelitian antara lain karena Desa Barang Palie merupakan kampung halaman peneliti.
Selain itu, alasan peneliti memilih desa Barang Palie sebagai lokasi penelitian karena di desa ini belum ada penelitian serupa yang mempelajari pamali. Lokasi Kampung Barang Palie berada di Kecamatan Lanrisang Kecamatan Pinrang dengan luas kampung ±720 Ha dan berpenduduk ±2323 jiwa dengan total 756 KK JY M 21 tahun Pelajar Indonesia Barang Palie/ Pelajar Bugis 4. IL L 20 tahun Barang Palie Pelajar Indonesia/Bugis 5. RB L 30 tahun M L 37 tahun Barang Palie Indonesia/Bugis Polisi 10.
Berikut petikan wawancara dengan berbagai narasumber terkait penelitian yang dilakukan mengenai representasi makna dan fungsi pamali dalam masyarakat etnis Bugis modern dan tradisional di Desa Barang Palie. Jawab: Pemmali matinro elek, mabela dallek, pantangannya memang baik untuk kesehatan, tapi kutukannya kurang tepat. pemmali mattobak kanuku ko mawenni, pelanggan maponcok sungekki, itu juga tidak pantas, umur ada di tangan Tuhan jika hanya memotong kuku kita berumur pendek, itu tidak bisa diterima akal sehat. Jawab: Misalnya Pemmali Iyaritu Iyatteangki matinro moppang nasabak mate ammata, artinya barak ipodangki dek ta matinro moppang nasabak narekko matinro moppangki mapaddik attange sibawa aroe. Pemmali adalah larangan tidur tengkurap karena ibu kita akan meninggal, artinya kita disuruh tidak tidur tengkurap karena nanti perut dan dada kita sakit).
Masyarakat modern mengartikan pamali ini dengan lebih rasional, yaitu jika kita tidur tengkurap, perut dan dada kita akan sakit. Masyarakat modern mengartikan pamali ini sebagai peringatan untuk berperilaku sopan, karena melangkahi orang lain adalah perilaku yang tidak sopan. Masyarakat modern masih mempercayai pamali ini karena tidur pagi memang merupakan kebiasaan yang tidak sehat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi makna dan fungsi pamali dalam kehidupan masyarakat etnis Bugis modern dan tradisional di Desa Barang Palie. Sementara itu, dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada masyarakat etnis Bugis modern dan tradisional di Desa Barang Palie. Masyarakat adat Bugis khususnya di Desa Barang Palie masih menerapkan pamali dalam kehidupan sehari-hari untuk mendidik dan membentuk karakter anak cucunya sejak dini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Karakteristik Informan
- Hasil Wawancara
Jawab : Kalau saya kurang begitu percaya dengan kutukan, karena menurut saya ada beberapa kutukan yang sejalan dengan kutukan. Jawab : Ada beberapa pemli yang masih saya pakai atau tidak, tergantung logikanya, kalau pemli itu masih bisa diterima nalar ya saya pakai, tapi kalau tidak masuk akal saya juga tidak percaya. Jawab : Mengenai larangan pemmali ya tetap saya terapkan, hanya saja saya sudah tidak percaya lagi dengan kutukan, karena banyak pemmali yang digunakan untuk menyesuaikan dengan kehidupan orang jaman dulu, seperti menjahit dan memotong kuku di malam hari.
Jawab: pemmali makdada uttuk, nasabak macilaka”, logikanya tidak ada hubungannya, tapi pemmali ini membuat kita tidak malas. Jawab : Secara pribadi saya tidak begitu percaya dengan bullying, walaupun orang tua saya di rumah kadang mengatakan itu bullying juga, tapi saya pribadi tidak percaya, karena banyak pembeli yang menurut saya tidak masuk akal. . Jawab: pemmali mappallettuk salat, customer battoa timeue”, mengadu domba itu tidak baik, walaupun akibatnya tidak ada kaitannya dengan larangan, setidaknya mengajarkan kita untuk menjauhi perbuatan yang tidak terpuji.
Jawaban: pemmali manrei passampo, pembeli mancajiki passampo iri. Saya tidak terlalu percaya pada sumpah selain karena saya bukan laki-laki, juga karena sumpah tidak ada hubungannya dengan itu. Namun ada juga pemmal yang larangannya tidak masuk akal dengan menggunakan larangan yang tidak sesuai dengan kutukan. Jawab : Pemmali itu baik, secara tidak langsung dari larangan tersebut kita bisa belajar bagaimana menghargai waktu dan orang lain, namun disisi lain terkadang ada keadaan yang membuat saya meremehkan pemmali.
Tidak ada salahnya mempercayai pemmala karena aturan tersebut sangat mendidik dan membentuk karakter anak sejak kecil). Jawab: Pemmali naseng taue pappasengna tau matoae lao ro idik, geladak barak ta mappigauk ri suar paggaukang. kata orang pemmali adalah pesan dari orang tua kita terlebih dahulu kepada anak cucu kita agar terhindar dari perbuatan buruk).
Pembahasan
Berdasarkan wawancara yang dilakukan yaitu 10 informan masyarakat modern dan 10 masyarakat tradisional diketahui bahwa bagi masyarakat modern terdapat beberapa tabu yang masih umum digunakan yaitu tabu yang masih dapat diterima akal sehat. Oleh karena itu, mereka mengartikan pamali ini sebagai larangan memecahkan dan meledakkan bantal. Fungsi bahasa yang digunakan dalam pamali ini adalah fungsi persuasi dengan cara membujuk dan mengajak pendengar untuk tidak duduk di atas bantal karena bantal bisa terpental.
Oleh karena itu, mereka mengartikan pamali ini sebagai perintah untuk melakukan ibadah kemudian melanjutkan pekerjaan setelah ibadah. Fungsi bahasa yang digunakan dalam pamali ini adalah fungsi informasi yang secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa tidur pagi merupakan kebiasaan yang tidak sehat. Masyarakat pamali modern mengenai larangan menjahit pada malam hari merupakan bentuk kehati-hatian dari para orang tua terdahulu karena pada saat itu listrik masih minim sehingga hanya menggunakan penerangan yang mereka sebut pelleng (penerangan yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya).
Namun, saat ini listrik dan penerangan sudah semakin maju, sehingga masyarakat modern mulai mengabaikan tabu ini. Fungsi bahasa yang digunakan para pamali adalah fungsi persuasi, yaitu mengajak mereka untuk tidak menjahit pada malam hari dan dalam keadaan gelap gulita. Pamali yang meninggalkan makanan atau minuman adalah pamali yang mengajarkan nilai kesopanan kepada orang yang menyajikan makanan, selain itu pamali ini juga mengajarkan nilai saling menghargai antar sesama.
Akibat dari melanggar pamali ini kemungkinan besar umurnya pendek. Fungsi dari pamali ini adalah agar generasi muda memahami bahwa perbuatan melangkahi orang adalah perbuatan yang tidak terpuji. Pamali ini mengajarkan bahwa orang yang sering marah dan begitu menyendiri akan diculik talimpau dan dibawa pergi dari rumah.
Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam puisi ini adalah untuk selalu menjaga kebiasaan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pesan yang terkandung dalam ayat ini adalah saling menghargai, saling mengasihi, dan saling mendoakan. Masyarakat modern menilai pamal lebih karena rasionalitas kutukannya, beberapa pantangan sudah tidak lagi diterapkan karena dianggap tidak rasional.
PENUTUP
Simpulan
Pamali digunakan dalam masyarakat adat untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, kerja keras, saling menghargai (sipakalebbi) dan lain-lain.
Saran
Integrasi nilai-nilai budaya etnis Bugi Makassar dalam proses pembelajaran sebagai salah satu strategi menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Masyarakat Adat Pemmali matinro moppang, nasaba mate ammata' (pamali tidur tengkurap, ibu meninggal nanti). Pemmali tojjokka narekko manrei taue, nasaba macilakaki. daun pamali saat orang makan karena nanti kecelakaan di jalan).
Penulis kemudian melanjutkan SMA pada tahun 2011 di SMPN 1 Bajeng dan lulus pada tahun 2014. Pada tahun 2017 penulis mendaftar sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.