THE RELATION BETWEEN STREET FOOD CONSUMPTION WITH NUTRITIONAL STATUS OF STUDENT IN SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I
AND SD INPRES KARUNRUNG AT RAPPOCINI DISTRICT OF MAKASSAR CITY 2012
HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI SISWA DI SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I DAN SD INPRES
KARUNRUNG KECAMATAN RAPPOCINI KOTA MAKASSAR TAHUN 2012
M. AKBAR YUNUS 10542 0030 08
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2012
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
TELAH DISETUJUI UNTUK DICETAK DAN DIPERBANYAK
Judul Skripsi :
“HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI SISWA DI SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I DAN
SD INPRES KARUNRUNG KECAMATAN RAPPOCINI KOTA MAKASSAR TAHUN 2012”
MAKASSAR, FEBRUARI 2012
Pembimbing ,
dr. Suryani Tawali, MPH
PANITIA SIDANG UJIAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Skripsi dengan judul “HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN JAJANAN DENGAN STATUS GIZI SISWA DI SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I DAN SD INPRES KARUNRUNG KECAMATAN RAPPOCINI KOTA MAKASSAR TAHUN 2012” telah diperiksa, disetujui, serta dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar pada:
Hari/Tanggal : Senin, 27 Februari 2012 Waktu : 10.00 – 10.30 WITA
Tempat : Ruang Kuliah FK Unismuh Gedung F Lantai 4 Ketua Tim Penguji :
(dr. Suryani Tawali, MPH)
Anggota Tim Penguji : Anggota I
(dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc)
Anggota II
(dr. M. Ikhsan Madjid, MS, PKK)
iii
KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan mengucap dan memuji Asma-Nya, kami mencoba dan mengecup Keesaan-Nya yang telah memberi kami rahmat dan hidayah-Nya hingga saat ini, dan oleh karena itulah skripsi yang berjudul “Hubungan Konsumsi Makanan Jajanan dengan Status Gizi Siswa di SD Negeri Kompleks IKIP I dan SD Inpres Karunrung Kecamatan Rappocini Kota Makassar Tahun 2012” dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa sejak penulisan skripsi ini berbagai hambatan dan tantangan penulis hadapi, namun atas bimbingan dan bantuan baik moril maupun materil dari bebagai pihak, maka hambatan dan tantangan tersebut dapat teratasi. Olehnya itu dengan penuh keikhlasan hati, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada dr. Suryani Tawali, MPH selaku pembimbing yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis hanturkan pula kepada :
1. dr. Mahmud Gaznawie, Ph.D, Sp.PA(K). Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
2. dr. Budu, Ph.D, Sp.M-KVR yang telah banyak memberikan motivasi.
3. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah banyak memberi bekal pengetahuan.
4. Hj. Winda Natsir, S.Sos (Kepala Sekolah SD Negeri Kompleks IKIP I) dan Drs. Zainal Arifin (Kepala Sekolah SD Inpres Karunrung) beserta staf yang sangat membantu penelitian ini.
iv
5. Para murid (SDN Komp. IKIP I dan SDI Karunrung) yang menjadi sampel, penulis sangat berterima kasih atas kerelaannya, tetap setia mengikuti penelitian ini sehingga penelitian ini bermanfaat.
6. Penulis menghanturkan ucapan terima kasih kepada Ayahanda H. M.
Yunus Mansyur dan Ibunda Hj. St. Hawa yang telah memberikan dukungan moril dan materil hingga penulis dapat menyelesaikan studi.
7. Teman-teman Cerebrum 08 khususnya teman kelompok belajar (Bulad, Ririn, Ita, Iam, Ira, Puangka, Ilo, Kanda) yang telah menemani penulis selama pendidikan dalam suka maupun duka.
8. Teman-teman gizi khususnya kelompok anak sekolah (Dewi, Marwah, Safma, Mitha, Anty, dan Kipli)
9. Terima kasih pula kepada Renny, Rahma, dan Rere, serta sahabatku Ibrahim dan Fikar yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.
Akhirnya penulis menghanturkan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis membuka hati dan pikiran menerima segala bentuk kritikan guna lebih mendekatkan karya ini pada kata sempurna. Semoga dan hanya Allah SWT yang dapat membalasnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Makassar, Februari 2012
Penulis
v
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi, Februari 2012 M. AKBAR YUNUS (10542 0030 08)
Suryani Tawali
“HUBUNGAN KONSUMSI JAJANAN DENGAN STATUS GIZI SISWA DI SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I DAN SD INPRES KARUNRUNG KECAMATAN RAPPOCINI KOTA MAKASSAR TAHUN 2012”
(xvi + 101 halaman + 55 tabel + 2 gambar + 7 lampiran) ABSTRAK
LATAR BELAKANG : Masalah gizi utama anak usia sekolah adalah gizi kurang yang disebabkan oleh kekurangan asupan energy dan protein, dari hasil penelitian hampir mencapai 18,57 %. Di sini banyak factor yang mempengaruhi status gizi diantaranya pola jajan yang merupakan bagian dari pola makan anak sehari-hari.
TUJUAN :Mengetahui hubungan konsumsi makanan jajanan terhadap status gizi anak sekolah dasar.
METODE :Penelitian ini menggunakan desain crossectional analitic yang dilakukan di SD Negeri Kompleks IKIP I dan SD Inpres Karunrung. Jumlah populasi keseluruhan sebanyak 931 siswa dan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 168 siswa yang diambil secara sistematic sampling. Data status gizi diperoleh dari hasil pengukuran antropometri, data asupan energi dan protein diperoleh melalui recall 24 jam, data pola konsumsi makanan jajanan dan makanan di rumah diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner.
Uji statistik yang dipakai adalah chi-square atau fisher sebagai uji alternatifnya.
HASIL : Sebagian besar siswa memiliki status gizi baik/normal, untuk BB/U sebanyak 74 siswa (44,0%) dari 115 sampel sedangkan untuk TB/U dan IMT/U masing-masing sebanyak 132 siswa (78,6%) dan 118 siswa (70,1%) dari 168 sampel. Sebagian besar siswa memiliki tingkat kecukupan energi yang kurang (92 siswa, 54,8%) dan tingkat kecukupan protein jajanan yang baik (97 siswa, 57,7%).
Rata-rata siswa mengkonsumsi makanan jajanan dengan energi sebesar 331,9 kkal, protein sebesar 9,5 gram, lemak sebesar 12,4 gram, dan karbohidrat 55,2 gram. Terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah, pekerjaan ayah, penghasilan ayah dengan status gizi siswa (P=0,03; POR=2,28, P=0,04;
POR=2,14, P=0,01; POR=2,69). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi energi dan protein jajanan dengan status gizi siswa (P=0,25, P=0,69).
KESIMPULAN:Tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan jajanan (konsumsi energi dan protein) terhadap status gizi anak sekolah dasar.
KATA KUNCI: Makanan Jajan, Anak Sekolah, Status Gizi
vi
FACULTY OF MEDICINE MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR Skripsi, February 2012 M. AKBAR YUNUS (10542 0030 08)
Suryani Tawali
“THE RELATION BETWEEN STREET FOOD CONSUMPTION WITH NUTRITIONAL STATUS OF STUDENT IN SD NEGERI KOMPLEKS IKIP I AND SD INPRES KARUNRUNG AT RAPPOCINI DISTRICT OF MAKASSAR CITY 2012”
(xvi + 101 pages + 55 table + 2 picture + 7 appendix) ABSTRACT
BACKGROUND : The primary nutritional problems of school age are undernutrition caused by deficiency energy and protein intake, the results of research almost 18.57%. Many factors affect the nutritional status such as street food which is a part of the diet of children everyday.
OBJECTIVE : Determine the relationship streetfood consumption on the nutritional status of primary school children.
METHODS : This study uses a design crossectional analitic conducted in SD Negeri Kompleks IKIP I and SD Inpres Karunrung. The number of population are 931 students and the number of samples studied are 168 students who taken from sistematic sampling. Nutritional status data obtained from the results of anthropometric measurements, energy and protein intake data obtained through 24-hour recall, data street food consumption patterns and food consumption in the house obtained through interviews using questionnaires. Statistical tests used were Chi-square test or Fisher as an alternative.
RESULT : Most students have a good nutritional status/normal, BB/U by 74 students (44.0%) of 115 samples, while for TB/U and BMI/U of each of 132 students (78.6%) and 118 students (70.1%) of 168 samples. For street food comsumption, most students have sufficient levels of energy are not enough (92 students, 54.8%) and sufficient levels of protein are enough (97 students, 57.7%).
The average student have street foods comsumption with an energy of 331.9 kcal, protein of 9.5 grams, 12.4 grams of fat, and carbohydrates 55.2 grams. There is a significant association between father's education, father's employment, income fathers with student nutritional status (P=0.03; POR = 2.28, P=0.04; POR=2.14, P=0.01, POR=2.69). There is no significant association between the consumption of energy and protein intake of street food with nutritional status of students (P=0.25, P=0.69).
CONCLUSION : There was no significant association between street food consumption (consumption of energy and protein) on the nutritional status of primary school children.
KEYWORDS : Street foods, School Children, Nutritional Status
vii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Anak Sekolah ... 9
2.1.1 Pengertian Anak Sekolah ... 9
2.1.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Sekolah ... 9
2.1.3 Kebutuhan Nutrisi Anak Sekolah Dasar ... 10
2.2 Status Gizi ... 11
2.2.1 Pengertian Status Gizi ... 11
2.2.2 Zat-Zat Gizi ... 11
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi ... 14
2.2.4 Penilaian Status Gizi Anak ... 16
2.3 Makanan Jajanan ... 20
2.3.1 Pengertian Makanan Jajanan ... 20
2.3.2 Peranan Makanan Jajanan ... 20
viii
2.3.3 Jenis Makanan Jajanan ... 21
2.3.4 Dampak Negatif Makanan Jajanan ... 21
2.3.5 Daftar Kandungan Gizi Makanan Jajanan ... 22
BAB III KERANGKA KONSEP ... 25
3.1 Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti ... 25
3.2 Bagan Hubungan Variabel-Variabel yang Diteliti ... 27
3.3 Hipotesis Penelitian ... 28
3.4 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif ... 28
3.4.1 Variabel Dependen ... 28
3.4.2 Variabel Independen ... 30
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 33
4.1 Desain Penelitian ... 33
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33
4.3 Populasi dan Sampel ... 33
4.3.1 Populasi ... 33
4.3.2 Sampel ... 34
4.4 Jenis Data dan Instrumen Penelitian ... 36
4.4.1 Jenis Data ... 36
4.4.2 Instrumen Penelitian ... 37
4.5 Pengumpulan Data ... 37
4.5.1 Data Primer ... 37
4.5.2 Data Sekunder ... 38
4.6 Pengolahan dan Penyajian Data ... 39
4.6.1 Pengolahan Data ... 39
4.6.2 Analisis Data ... 39
4.6.3 Penyajian Data ... 41
4.7 Etika Penelitian ... 41
ix
BAB V HASIL PENELITIAN ... 42
5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 42
5.2 Karakteristik Siswa ... 43
5.3 Karakteristik Orang Tua ... 44
5.3.1 Pendidikan Orang Tua ... 44
5.3.2 Pekerjaan Orang Tua ... 45
5.3.3 Penghasilan Orang Tua ... 45
5.4 Pola Konsumsi Makanan Jajanan ... 46
5.5 Pola Konsumsi Makanan di Rumah ... 48
5.5.1 Kebiasaan Makan di Rumah ... 48
5.5.2 Frekuensi Makan di Rumah ... 48
5.6 Status Gizi Siswa ... 49
5.7 Asupan Zat Gizi Makanan ... 50
5.7.1 Makanan Jajanan ... 50
5.7.2 Makanan di Rumah ... 50
5.7.3 Makanan Sehari ... 51
5.7.4 Kontribusi Makanan Jajanan Terhadap Makanan Sehari ... 51
5.8 Tingkat Kecukupan Zat Gizi ... 52
5.8.1 Makanan Jajanan ... 52
5.8.2 Makanan Sehari ... 52
5.9 Crosstabulasi ... 53
5.9.1 Karakteristik Orang Tua dengan Status Gizi ... 53
5.9.2 Pola Konsumsi Makanan Jajanan dengan Status Gizi ... 58
5.9.3 Pola Konsumsi Makanan di Rumah dengan Status Gizi . 59 5.9.4 Konsumsi Zat Gizi Makanan Jajanan dengan Status Gizi ... 62
5.9.5 Konsumsi Zat Gizi Total Sehari dengan Status Gizi ... 64
5.10 Crosstabulasi Tabel 2x2 ... 65
5.10.1 Karakteristik Orang Tua dengan Status Gizi ... 66
5.10.2 Pola Konsumsi Makanan Jajan dengan Status Gizi ... 69
x
5.10.3 Pola Konsumsi Makanan di Rumah
dengan Status Gizi ... 70
5.10.4 Pola Kebiasaan Makanan Jajanan dengan Tingkat Konsumsi Makanan di Rumah ... 72
5.10.5 Konsumsi Zat Gizi Jajanan dengan Status Gizi ... 73
5.10.6 Konsumsi Zat Gizi Total Sehari dengan Status Gizi .... 74
BAB VI PEMBAHASAN ... 76
6.1 Keternatasan Penelitian ... 76
6.2 Status Gizi Anak Sekolah Dasar ... 77
6.3 Pola Konsumsi Jajanan Anak Sekolah Dasar ... 78
6.4 Pola Konsumsi Makanan di Rumah Anak Sekolah Dasar ... 79
6.5 Hubungan Pola Konsumsi Jajanan dengan Status Gizi ... 80
6.6. Hubungan antara kebiasaan jajan dengan tingkat konsumsi makan di rumah ... 80
6.7 Hubungan Antara Karakteristik Orang Tua dengan Status Gizi ... 81
6.7.1 Hubungan Pendidikan Ayah dengan Status Gizi ... 81
6.7.2 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Status Gizi ... 82
6.7.3 Hubungan Pekerjaan Ayah dengan Status Gizi ... 83
6.7.4 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi ... 84
6.7.5 Hubungan Penghasilan Ayah dengan Status Gizi ... 84
6.7.6 Hubungan Penghasilan Ibu dengan Status Gizi ... 86
6.8 Hubungan Konsumsi Zat Gizi Jajanan dengan Status Gizi ... 86
6.8.1 Hubungan Konsumsi Energi Jajanan dengan Status Gizi ... 86
6.8.2 Hubungan Konsumsi Protein Jajanan dengan Status Gizi ... 87
6.9 Hubungan Konsumsi Zat Gizi Total Sehari dengan Status Gizi ... 88
xi
6.9.1 Hubungan Konsumsi Energi Total Sehari
dengan Status Gizi ... 88
6.9.2 Hubungan Konsumsi Protein Total Sehari dengan Status Gizi ... 90
BAB VII TINJAUAN ISLAM ... 92
7.1 Makanan dalam pandangan islam ... 92
7.2 Adab Makanan ... 96
BAB VIII PENUTUP ... 97
8.1 Kesimpulan ... 97
8.2 Saran ... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 99 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan
Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional, Riskesdas 2007 ... 3
Tabel 2.1 Angka Kecukupan Gizi Rata-Rata yang Dianjurkan (Per Orang Per Hari) Anak Umur 7 –12 Tahun ... 11
Tabel 2.2 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS ... 18
Tabel 5.1 Distribusi Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur ... 43
Tabel 5.2 Distribusi Siswa Berdasarkan Pendidikan Orang Tua ... 44
Tabel 5.3 Distribusi Siswa Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua ... 45
Tabel 5.4 Distribusi Siswa Berdasarkan Penghasilan Orang Tua ... 45
Tabel 5.5 Distribusi Siswa Berdasarkan Pola Konsumsi Makanan Jajanan 46 Tabel 5.6 Distribusi Siswa Berdasarkan Jenis Makanan Jajanan ... 47
Tabel 5.7 Distribusi Siswa Berdasarkan Kebiasaan Makanan di Rumah .... 48
Tabel 5.8 Distribusi Siswa Berdasarkan Frekuensi Makanan di Rumah ... 48
Tabel 5.9 Distribusi Siswa Berdasarkan Status Gizi (BB/U) ... 49
Tabel 5.10 Distribusi Siswa Berdasarkan Status Gizi (TB/U & IMT/U) ... 49
Tabel 5.11 Nilai Asupan Zat Gizi Makanan Jajanan ... 50
Tabel 5.12 Nilai Asupan Zat Gizi Makanan Rumah ... 50
Tabel 5.13 Nilai Asupan Zat Gizi Total Makanan Sehari ... 51
Tabel 5.14 Persentase Kontribusi Makanan Jajanan Terhadap Makanan Sehari ... 51
Tabel 5.15 Distribusi Siswa Berdasarkan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makanan Jajanan ... 52
Tabel 5.16 Distribusi Siswa Berdasarkan Tingkat Kecukupan Zat Gizi Makanan Sehari ... 52
Tabel 5.17 Crosstabulasi Pendidikan Ayah dengan Status Gizi ... 53
Tabel 5.18 Crosstabulasi Pendidikan Ibu dengan Status Gizi ... 54
xiii
Tabel 5.19 Crosstabulasi Pekerjaan Ayah dengan Status Gizi ... 55
Tabel 5.20 Crosstabulasi Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi ... 56
Tabel 5.21 Crosstabulasi Penghasilan Ayah dengan Status Gizi ... 57
Tabel 5.22 Crosstabulasi Penghasilan Ibu dengan Status Gizi ... 57
Tabel 5.23 Crosstabulasi Kebiasaan Jajan dengan Status Gizi ... 58
Tabel 5.24 Crosstabulasi Frekuensi Jajan dengan Status Gizi ... 59
Tabel 5.25 Crosstabulasi Kebiasaan Makan Pagi dengan Status Gizi ... 59
Tabel 5.26 Crosstabulasi Kebiasaan Makan Siang dengan Status Gizi ... 60
Tabel 5.27 Crosstabulasi Kebiasaan Makan Malam dengan Status Gizi ... 61
Tabel 5.28 Crosstabulasi Frekuensi Makan di Rumah dengan Status Gizi ... 62
Tabel 5.29 Crosstabulasi Konsumsi Energi Jajanan dengan Status Gizi ... 62
Tabel 5.30 Crosstabulasi Konsumsi Protein Jajanan dengan Status Gizi ... 63
Tabel 5.31 Crosstabulasi Konsumsi Energi Total Sehari dengan Status Gizi 64 Tabel 5.32 Crosstabulasi Konsumsi Protein Total Sehari dengan Status Gizi 65 Tabel 5.33 Hubungan Pendidikan Ayah dengan Status Gizi ... 66
Tabel 5.34 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Status Gizi ... 66
Tabel 5.35 Hubungan Pekerjaan Ayah dengan Status Gizi ... 67
Tabel 5.36 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi ... 67
Tabel 5.37 Hubungan Penghasilan Ayah dengan Status Gizi ... 68
Tabel 5.38 Hubungan Penghasilan Ibu dengan Status Gizi ... 69
Tabel 5.39 Hubungan Kebiasaan Jajan dengan Status Gizi ... 69
Tabel 5.40 Hubungan Frekuensi Jajan dengan Status Gizi ... 70
Tabel 5.41 Hubungan Kebiasaan Makan Pagi dengan Status Gizi ... 70
Tabel 5.42 Hubungan Kebiasaan Makan Siang dengan Status Gizi ... 71
Tabel 5.43 Hubungan Kebiasaan Makan Malam dengan Status Gizi ... 71
Tabel 5.44 Hubungan Frekuensi Makan di Rumah dengan Status Gizi ... 72
Tabel 5.45 Hubungan Kebiasaan Jajan dengan Kebiasaan Makan Pagi ... 72
Tabel 5.46 Hubungan Kebiasaan Jajan dengan Kebiasaan Makan Siang ... 73
Tabel 5.47 Hubungan Kebiasaan Jajan dengan Kebiasaan Makan Malam ... 74
Tabel 5.48 Hubungan Konsumsi Energi Jajanan dengan Status Gizi ... 74
Tabel 5.49 Hubungan Konsumsi Protein Jajanan dengan Status Gizi ... 74
xiv
Tabel 5.50 Hubungan Konsumsi Energi Total Sehari dengan Status Gizi .... 75 Tabel 5.51 Hubungan Konsumsi Protein Total Sehari dengan Status Gizi ... 76
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1 KerangkaTeori ... 26 Gambar 3.2 Bagan kerangka konsep penelitian ... 27
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Pola Konsumsi Makanan Jajanan Lampiran 2 Formulir Food Fecall 24 Jam
Lampiran 3 Tingkat Konsumsi Makanan Di Rumah Lampiran 4 Hasil Olahan Data
Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari Balitbangda Sulawesi Selatan Lampiran 6 Surat Izin Penelitian dari Pemerintah Kota Makassar Lampiran 7 Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan Kota Makassar
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Dalam menyonsong era globalisasi ini dibutuhkan modal untuk agar kita sukses di era ini. Salah satu modal yang paling utama adalah kualitas dari sumber daya manusianya sendiri. Jika kualitas dari sumber daya manusia (SDM) bagus yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima disamping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berkaitan dengan hal tersebut, untuk mewujudkan suatu sumber daya manusia yang berkualitas perlu diperhatikan beberapa faktor, antara lain faktor gizi, kesehatan, pendidikan, informasi, teknologi, dan jasa pelayanan lainnya. Dari sekian banyak faktor, faktor gizilah yang memiliki peranan paling penting. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas sumber daya manusia dan dapat mencegah masyarakat untuk ikut berkiprah dan berpartisipasi dalam pembangunan. Ini merupakan tantangan berat untuk berasing dalam era globalisasi ini.Oleh karena itu, perbaikan gizi sangat memegang peranan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena anak usia tersebut adalah generasi penerus bangsa. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut
2
pemberian nutrisi atau asupan zat gizi pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Banyak sekali masalah yang ditimbulkan dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang.
Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ dan sistem tubuh anak.
Pencapaian gizi seimbang masih merupakan masalah yang cukup berat. Pada hakikatnya berpangkal pada keadaan ekonomi yang kurang dan terbatasnya pengetahuan tentang nilai gizi dari makanan yang ada.
Berdasarkan paparan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Zaenal Abidin, MHkes, pada Koran To:day 2 maret 2011, angka prevalensi kurus secara nasional pada anak laki-laki usia sekolah (6-14 tahun) adalah 13,3%, sedangkan pada anak perempuan usia sekolah 10,9 %. Angka ini menunjukkan adanya permasalahan gizi.
Data yang dilaporkan oleh Ahli Gizi Universitas Indonesia, 94,5% dari 250 anak yang diteliti di lima SD di wilayah DKI Jakarta mengkonsumsi kalori dibawah 1800 kkal sesuai yang dianjurkan (Syamsu, 2011).
Hal ini dapat kita lihat dari laporan riset kesehatan dasar nasional (RISKESDAS) tahun 2007 yang mengatakan bahwa Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13,3% dan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10,9% sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9,5%, sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6,4%.
3
Pemenuhan kebutuhan energy dan protein sangatlah penting bagi anak usia sekolah untuk mencapai gizi yang seimbang, namun pada kenyataannya pemenuhan kebutuhan energy dan protein masih dibawah rerata nasional. Menurut laporan riset kesehatan dasar nasional (RISKESDAS) persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59,0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58,5%.
Tabel 1.1 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional, Riskesdas 2007
Provinsi Presentase RT
Energi Protein
NAD 51,4 35,6
Sumatera Utara 50,4 42,8
Sumatera Barat 53,6 54,0
Riau 64,8 51,2
Jambi 59,6 51,9
Sumatera Selatan 61,4 56,1
Bengkulu 81,4 74,9
Lampung 82,3 72,5
Bangka Belitung 59,9 39,1
Kepulauan Riau 58,9 35,8
DKI Jakarta 63,9 50,3
Jawa Barat 63,1 61,1
Jawa Tengah 61,6 65,9
DI Yogyakarta 67,1 66,9
JawaTimur 37,5 55,2
Banten 76,8 64,0
Bali 59,6 57,7
Nusa Tenggara Barat 62,9 63,1
Nusa Tenggara Timur 48,4 65,6
Kalimantan Barat 66,8 55,5
Kalimantan Tengah 69,8 51,5
Kalimantan Selatan 69,3 53,0
Kalimantan Timur 78,4 59,1
Sulawesi Utara 80,5 75,9
Sulawesi Tengah 56,5 60,6
Sulawesi Selatan 71,7 61,7
Sulawesi Tenggara 53,8 38,8
Gorontalo 77,4 72,2
Sulawesi Barat 80,3 62,3
Maluku 53,8 57,2
Maluku Utara 57,7 58,6
Papua Barat 52,0 49,4
Papua 57,9 60,9
Indonesia 59,0 58,5
Sumber: Riskesdas 2007, berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal) dan Protein (55,5 gram)
4
Dari tabel 1.1, sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat dimana Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1.735,5 kkal. Sedangkan daerah yang mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional sebanyak 16 provinsi, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat dimana Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55,5 gram.
Munurut Asah (2004) dalam penelitiannya, masalah gizi utama yang dihadapi oleh oleh anak-anak usia sekolah adalah gizi kurang yang secara umum disebabkan oleh adanya kekurangan asupan energy dan protein, dari hasil penelitian hampir mencapai 18,57 %. Di sini banyak factor yang dapat mempengaruhi status gizi diantaranya pola jajan yang merupakan bagian dari pola makan anak sehari-hari. Sedangkan dari penelitian yang dilakukan oleh Sartika tahun 2006, pada anak usia 9-12 tahun di SDN 50 lompue pare-pare menemukan tingkat konsumsi energi,
5
karbohidrat, dan protein masih kurang yaitu masing-masing 74,4%, 92,7%
dan 69,5% dari 82 responden (Sartika, 2006).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan energi dan protein tersebut adalah makanan jajanan. Jenis makanan ini umumnya sangat disukai oleh anak-anak usia sekolah karena praktis, murah, dan memiliki cita rasa yang lebih menarik serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat itu sendiri (Judarwanto, 2008). Jika jajanan yang dipilih kurang nilai gizinya seperti es dan gula- gula maka dapat mempengaruhi keadaan gizi anak (Moehji, 2003).
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di SDN Pamengkang II kecamatan Mundu kabupaten Cirebon tahun 2004. Hasil penelitian yaitu responden mempunyai pola jajan sehat sebesar 47,14%
dan pola jajan kurang sehat sebesar 35,48%. Sedangkan responden dengan status gizi baik sebesar 75,71%. Status gizi kurang sebesar 18,57% dan gizi lebih/ gemuk sebesar 5,1%. Hal ini menunjukkan bahwa pola jajan anak usia sekolah mempunyai hubungan yang signifikan dengan status gizi sebesar 0,469.
Oleh karena itu, berdasarkan dari uraian yang telah dikemukakan diatas, peneliti tertarik ingin mengetahui hubungan konsumsi makanan jajanan dalam memenuhi kebutuhan energi dan protein terhadap status gizi anak sekolah dasar.
6 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah pokok yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran status gizi anak sekolah dasar?
2. Bagaimana pola kebiasaan jajan pada anak sekolah dasar?
3. Bagaimana pola konsumsi makanan dirumah anak sekolah dasar?
4. Apakah ada hubungan antara pola konsumsi makanan jajanan terhadap status gizi anak sekolah?
5. Apakah ada hubungan antara kebiasaan jajan dengan tingkat konsumsi makanan di rumah?
6. Apakah ada hubungan karakteristik orang tua (pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan) terhadap status gizi anak sekolah?
7. Apakah ada hubungan antara konsumsi makanan jajanan dengan status gizi anak sekolah dasar?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan konsumsi makanan jajanan terhadap status gizi anak sekolah dasar.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui status gizi anak sekolah dasar.
2. Mengetahui pola konsumsi jajanan pada anak sekolah dasar.
7
3. Mengetahui pola konsumsi makanan anak sekolah dasar di rumah.
4. Mengetahui hubungan pola konsumsi makanan jajanan dengan status gizi anak sekolah dasar.
5. Mengetahui hubungan karakteristik orang tua (pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan) dengan status gizi anak sekolah?
6. Mengetahui hubungan antara pola kebiasaan jajanan dengan tingkat konsumsi makanan di rumah.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Dibidang keilmuan
a. Sebagai tambahan bahan referensi ilmu pengetahuan khususnya dibidang gizi anak sekolah.
b. Peneliti mampu meningkatkan / mengembangkan ilmu pengetahuan kedokteran yang dimiliki.
2. Dibidang pelayanan masyarakat
a. Sebagai bahan masukan bagi orang tua agar dapat mengontrol / mengawasi makanan jajanan yang dikonsumsi oleh anaknya.
b. Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah agar lebih tepat mencanangkan program-program dalam meningkatkan status gizi anak sekolah.
8 3. Bagi pengembangan penelitian
a. Diharapkan adanya kontribusi positif yang dapat diberikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, khususnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
b. Menjadi bahan acuan dan referensi bagi penelitian lebih lanjut.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anak Sekolah
2.1.1. Pengertian Anak Sekolah
Anak sekolah menurut definisi WHO (World Health Organization) adalah anak sekolah yang berusia antara 7-15 tahun. Pada usia ini anak mulai mencoba mengembangkan kemandirian dan menentukan batas- batasan atau aturan. Disinilah variasi individu lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan dan perkembangan, pola aktivitas, kebutuhan zat gizi, perkembangan kepribadian serta asupan makanan (Judiono, 2003).
Menurut Moehji (2003), anak sekolah biasanya banyak memiliki aktivitas bermain yang menguras banyak tenaga sehingga terjadi ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan keluar.
Ketidakseimbangan ini dapat membuat tubuh anak menjadi kurus. Oleh karena itu, untuk mengatasinya diperlukan pengontrolan waktu bermain anak sehingga anak memiliki waktu istirahat yang cukup.
2.1.2. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Sekolah
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa sekolah akan mengalami proses percepatan pada umur 10-12 tahun. Pada usia sekolah ini secara umum aktivitas fisik pada anak semakin tinggi dan memperkuat kemampuan motoriknya. Kemampuan kemandirian anak akan semakin
10
dirasakan dimana lingkungan luar rumah dalam hal ini adalah sekolah cukup besar, sehingga beberapa masalah sudah mampu diatasi dengan sendirinya dan anak sudah mampu menunjukkan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada. Perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral, dan spiritual sudah mulai menunjukkan kematangan pada masa ini (Hidayat, 2005).
2.1.3. Kebutuhan Nutrisi pada Anak Sekolah Dasar
Pertumbuhan gizi anak sekolah semakin meningkat seiring dengan pertambahan umur dan aktivitas fisik anak seperti bermain dan berolah raga. Anak laki-laki lebih membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan anak perempuan karena adanya perbedaan aktivitas fisik diantara keduanya. Seorang yang gemuk lebih banyak menggunakan energi daripada seorang yang kurus (Almatsier, 2003).
Adapun jumlah energi dan protein yang dianjurkan oleh Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi bagi anak umur 7-12 tahun tertera pada tabel 2.1
11
Tabel 2.1 Angka Kecukupan Gizi Rata-Rata yang Dianjurkan (Per Orang Per Hari) Anak Umur 7 –12 Tahun
Golongan Umur Berat (kg)
Tinggi (cm)
Energi (kkal)
Protein (g)
7-9 tahun 25 120 1800 45
10 –12 tahun (pria) 35 138 2050 50
10 –12 tahun (wanita) 38 145 2050 50
Sumber : Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII Jakarta 17- 19 Mei 2004.
2.2. Status Gizi 2.2.1. Pengertian Gizi
Gizi berasal dari bahasa Arab “Al Gizzai” yang artinya makanan dan manfaatnya untuk kesehatan. Dapat diartikan juga sebagai sari makanan yang bermanfaat bagi kesehatan (Siswanto, 2010). Sedangkan status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2004).
2.2.2. Zat-zat Gizi
Masing-masing jenis bahan makanan atau hidangan mengandung berbagai jenis zat gizi yang berbeda baik kualitas maupun kuantitasnya satu sama lain.
Menurut Siswanto (2010), zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yang terdapat dalam bahan makanan terdiri atas :
12 1. Karbohidrat
Karbohidrat sebagai sumber energi yang utama dan sumber panas yang diperlukan oleh sistem tubuh dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak. Karbohidrat menyediakan energi bagi tubuh, satu gram karbohidrat menghasilkan empat kalori. Karbohidrat ini dapat diperoleh dari bahan makanan seperti :
a. Padi-padian b. Serealia c. Umbi-umbian d. Kacang-kacangan e. Gula
f. Hasil bahan olahan (bihun, mie, roti tepung-tepungan, sirup, dan sebagainya)
2. Protein
Protein merupakan zat gizi yang sangat penting, karena paling erat hubungannya dengan proses kehidupan. Nama protein berasal dari kata protebos yang artinya “yang pertama” atau “yang terpenting”. protein menyediakan energi bagi tubuh sebesar empat kalori per gramnya.
Berdasarkan sumbernya protein diklasifikasikan menjadi :
a. Protein hewani, yaitu protein dalam bahan makanan yang berasal dari binatang seperti daging, ayam, ikan, telur, udang, kerang, kepiting, susu, dan sebagainya.
13
b. Protein nabati, yaitu protein yang berasal dari bahan makanan tumbuh-tumbuhan seperti tahu, tempe/kedelai, kacang-kacangan, dan sebagainya.
3. Lemak
Lemak berfungsi sebagai pemberi kalori dan pelarut vitamin A, D, E, dan K. Jaringan lemak di bawah kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh dari suhu dingin. Mengkonsumsi lemak sangat penting untuk setiap anak tetapi bagi orang dewasa lemak memberikan kecenderungan meningkatkan kadar cholesterol darah. Lemak menyediakan sembilan kalori per gramnya. Lemak terbagi atas :
a. Lemak jenuh
Lemak jenuh bersumber dari minyak dan lemak hewani.
b. Lemak tak jenuh
Lemak tak jenuh bersumber dari minyak nabati.
4. Vitamin
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya tidak bisa dibentuk oleh tubuh.
Namun demikina ada beberapa vitamin yang dapat disentesis oleh tubuh seperti vitamin A, Vitamin D dan Vitamin Niasin. Vitamin diperoleh dari zat-zat yang ada di makanan, sayuran, dan buah-buahan.
Vitamin dapat digolongkan sebagai berikut :
14 a. Vitamin larut dalam lemak
Vitamin A, D, E, K b. Vitamin larut dalam air
Vitamin B dan C
5. Mineral
Mineral berperanan penting dalam pemeliharaan fungsi-fungsi tubuh baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun secara keseluruhan.
Mineral digolongkan ke dalam : a. Mineral makro
Natrium (Na), Klorida (Cl), Kalium (K), Kalsium (Ca), Fosfor (P), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S).
b. Mineral Mikro
Besi (Fe), Seng (Zn), Iodium (I), Selenium (Se), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Fluor (F), Krhom (Cr), dan Molibden (Mo)
2.2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Suatu penyakit timbul akibat interaksi berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Dalam epidemiolgi dikenal istilah trias epidemiologi (host, agen, dan environment) yang berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Timbulnya penyakit akbat gangguan interaksi antara host, agen, dan environment (Bustan, 2006).
15
Menurut UNICEF (The United Nations Children's Fund), status gizi dipengaruhi oleh penyebab langsung maupun tidak langsung.
1. Penyebab Langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang.
Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit.
2. Penyebab Tidak Langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu : a. Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga
diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.
b. Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.
c. Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan
16
air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.
2.2.4. Penilaian Status Gizi Anak
Status gizi dapat dinilai secara langsung maupun tidak langsung.
Penilaian langsung dapat dilakukan secara antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sedangkan penilaian secara tidak langsung dapat dilakukan melalui survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi (Supariasa, 2002)
1. Pengukuran Antropometri
Menurut Depkes RI (2004), ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a. Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
17
kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan
b. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu.
18 c. Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita.
Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun.
Tabel 2.2 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS No Indeks Batas Pengelompokan Status Gizi
1 BB/U < -3 SD Giziburuk
- 3 s/d <-2 SD Gizikurang - 2 s/d +2 SD Gizibaik
> +2 SD Gizilebih
2 TB/U < -3 SD SangatPendek
- 3 s/d <-2 SD Pendek - 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Tinggi
3 BB/TB < -3 SD SangatKurus
- 3 s/d <-2 SD Kurus - 2 s/d +2 SD Normal
> +2 SD Gemuk
19 2. Survei Makanan
a. Food Recall 24 jam
MenurutAs’ad (2004) prinsip dari metode food recall 24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini responden menceritakan semua yang diamkan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Food Recall 24 jam sebaiknya dilakuan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Langkah-langkah dalam pelaksanaan food recall 24 jam adalah sebagai berikut:
- Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan atau minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu, kemudian petugas melakukan konversi kedalam ukuran berat (gram).
- Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) - Membandingkan dengan daftar Kecukupan Gizi yang
Dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.
b. Food Record
Food record adalah catatan responden tentang jenis dan jumlah makanan dan minuman dalam suatu periode waktu, biasanya antara 1 sampai 7 hari. Makanan dan minuman yang dikonsumsi dapat
20
dikuantifikasikan dengan estimasi mengunakan ukuran rumah tangga (estimated food record) atau menimbang (weighed food record) (Supariasa, 2002)
2.3. Makanan Jajanan
2.3.1. Pengertian Makanan Jajanan
Makanan jajanan menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut (Judarwanto, 2008).
Pangan jajanan termasuk dalam kategori pangan siap saji yaitu makanan dan minuman yang dijual untuk langsung dikonsumsi tanpa proses pengolahan lebih lanjut. Ragam pangan jajanan antara lain: bakso, mie goreng, nasi goreng, ayam goreng, burger, cakue, cireng, cilok, cimol, tahu, gulali, es jepit, es lilin dan ragam pangan jajanan lainnya (Direktorat Perlindungan Konsumen, 2006).
2.3.2. Peranan Makanan Jajanan
Peranan makanan jajanan antara lain: (Khomsan,2003)
1. Merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas fisik di sekolah yang tinggi (apalagi bagi anak yang tidak sarapan pagi).
21
2. Pengenalan berbagai jenis makanan jajanan akan menumbuhkan penganekaragaman pangan sejak kecil.
3. Meningkatkan perasaan gengsi anak pada teman-temannya di sekolah.
2.3.3. Jenis Makanan Jajanan
Jenis makanan jajanan menurut widya karya nasional pangan dan gizi (1998) yang dikutip oleh Dewi (2010) dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu :
1. Makanan jajanan yang berbentuk panganan, misalnya kue-kue kecil, pisang goreng, kue bugis, dan sebagainya.
2. Makanan jajanan yang diporsikan (menu utama), misalnya pecal, mie bakso, nasi goreng, mie rebus, dan sebagainya.
3. Makanan jajanan yang berbentuk minuman, misalnya es krim, es campur, jus buah, dan sebagainya.
2.3.4. Dampak Negatif Makanan Jajanan
Jajan yang terlalu sering dan menjadi kebiasaan akan berakibat negatif, antara lain: (Irianto, 2007)
1. Nafsu makan menurun.
2. Makanan yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit.
3. Salah satu penyebab terjadinya obesitas pada anak.
22
4. Kurang gizi sebab kandungan gizi pada jajanan belum tentu terjamin.
5. Pemborosan.
Keamanan makanan jajanan juga masih diragukan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella paratyphi A di 25%- 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab ditemukan borax, formalin, dan rhodamin B pada jajanan tersebut. Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit (Judarwanto, 2008).
2.3.5. Daftar Kandungan Gizi Makanan Jajanan (DKGJ)
DKGJ adalah daftar yang memuat angka-angka kandungan zat gizi berbagai jenis makanan jajanan. Hardinsyah dan Dodik Briawan (1990) telah membuat rangkuman berbagai jenis makanan jajanan yang khas dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi baru sebagian kecil dari keaneka ragaman makanan jajanan tersebut yang telah dianalisis
23
kandungan zat gizinya. Rangkuman tersebut diperoleh dari berbagai sumber hasil penelitian.
Daftar Kandungan Zat Gizi Makanan Jajanan (DKGJ) dibuat tersendiri, tanpa digabung dengan DKBM yang sudah ada. Pemisahan ini dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
1. Makanan jajanan merupakan campuran dari berbagai bahan makanan yang dianalisis bersamaan dalam bentuk olahan.
2. Dalam DKGJ susunan zat-zat gizi tercantum dalam satuan gram Bagian yang Dapat Dimakan (BDD), menurut ukuran rumah tangga masing-masing (buah, bungkus, potong, iris, porsi, dan sebagainya), sehingga tidak perlu lagi dicantumkan kolom BDD.
3. DKGJ hanya memuat kandungan energy dan sembilan jenis zat gizi, yaitu protein, lemak, karbohidrat, kalsium, besi (Fe), vitamin A, vitamin C, vitamin B1, dan air.
Apabila akan menghitung kandungan zat gizi suatu makanan jajanan yang dikonsumsi oleh responden, dengan menggunakan DKGJ, maka rumus yang digunakan sebagai berikut:
Sumber : Hardinsyah dan Dodik Briawan IPB Bogor, 1990 Keterangan:
G : Kandungan zat gizi makanan jajananpada tabel DKGJ
24
Sebagian besar makanan jajanan di Indonesia dihasilkan oleh berbagai industri rumah tangga, sehingga terdapat variasi antar-daerah, oleh karena itu dalam menghitung kandungan zat gizi makanan jajanan dengan DKGJ perlu diperhtungkan bahwa ukuran berat makanan jajanan tidaklah sama dan ukuran yang dipergunakan adalah gram bukan URT.
25 BAB III
KERANGKA KONSEP
3.1. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Status gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pertama, pengetahuan gizi dimana jika seseorang memiliki pengetahuan tentang makanan yang dikonsumsi, maka mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh maka status gizi orang tersebut akan baik, begitu juga sebaliknya. Yang kedua, pendapatan dan anggaran belanja keluarga.
Hal ini berhubungan dengan penyediaan makanan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari baik kualitas maupun jumlahnya.
Faktor ketiga yaitu kesehatan, kesehatan yang dimaksudkan disini adalah ada tidaknya penyakit yang diderita oleh anak tersebut. Pada umumnya anak-anak terserang penyakit infeksi yang menyebabkan turunnya nafsu makan sehingga masukkan zat gizi berkurang atau meningkatkan metabolisme basal jika anak tersebut demam sehingga asupan makanan yang dibutuhkan juga meningkat.
Faktor yang keempat yaitu konsumsi makanan, status gizi seseorang tergantung dari makanan yang dikonsumsi baik kualitas yang menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam susunan makanan tersebut maupun kuantitas yang menunjukkan jumlah masing- masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Pada usia sekolah anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah sehingga selain konsumsi
26
makanan utama dirumah anak juga mengkonsumsi makanan jajan. Dimana hal ini akan berpengaruh pada status gizi tergantung dari jenis jajanan dan kandungan gizi pada jajanan tersebut serta frekuensi atau seberapa sering anak tersebut mengkonsumsi makanan jajan.
Gambar 3.1 KerangkaTeori STATUS
GIZI
Makanan Jajan Makanan Di rumah Jenis &Jumlah Frekuensi
Asupan Makanan
Konsumsi makanan
Kand.Zat Gizi Nafsu makan menurun
Penyakit Infeksi
Pendapatan Orang Tua Sanitasi
Lingkungan Pendidikan
Orang Tua
Higiene Perorangan Pemberian uang Jajan
Budaya Pola Asuh
Ketersediaan Pangan
27
3.2. Bagan Hubungan Variabel-variabel yang Diteliti
Keterangan gambar :
- : Variabel yang diteliti
- : Variabel yang tidak diteliti
- : Variabel dependent
Gambar 3.2 Bagan kerangka konsep penelitian Pendidikan orang tua
Makanan Utama
Konsumsi Makanan Penyakit penyerta
Pendapatan &
Anggaran Belanja Keluarga
Jenis dan jumlah
Makanan jajanan
Frekuensi Kandungan zat gizi
(energi & protein)
STATUS GIZI Pekerjaan orang tua
Variabel Independent
28 3.3. Hipotesis Penelitian
Dengan mengacu pada uraian diatas, rumusan masalah, dan tujuan penelitian, maka hipotesis dari penelitian ini yaitu adanya hubungan antara konsumsi makanan jajanan dengan status gizi anak sekolah dasar.
3.4. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 3.4.1. Variabel Dependen
1. Berat Badan - Definisi
Berat badan adalah berat badan anak sekolah dasar yang diukur pada saat penelitian dengan menggunakan timbangan Platform balance scale/bathroom scale (timbangan injak) merek Miyako dengan tingkat ketelitian 0,1 kg.
- Hasil Ukur
Angka yang terdapat pada alat ukur yang dinyatakan dalam Kg.
2. Tinggi Badan - Definisi
Tinggi badan adalah tinggi badan anak sekolah dasar yang diukur pada saat penelitian dengan menggunakan microtoice dengan tingkat ketelitian 0,1 cm.
- Hasil Ukur
Angka yang tertera pada alat ukur yang dinyatakan dalam cm.
29 3. Umur
Umur adalah usia murid sekolah dasar yang dihitung dari saat kelahiran sampai dilakukannya penelitian berdasarkan setahun penuh.
4. Status Gizi
Status gizi adalah keadaan keseimbangan gizi anak sekolah dasar yang didapatkan berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan dengan memakai standar WHO-NCHS (dalam Z-score) dengan rumus:
Atau menggunakan software WHO Antrho plus.
Kategori berdasarkan BB/U yaitu : 1) Gizi buruk : < -3 SD 2) Gizi kurang : -3 s.d. < -2 SD 3) Gizi baik : -2 SD s.d. +2 SD 4) Gizi Lebih : > +2 SD
Kategori berdasarkan TB/U yaitu : 1) Sangat Pendek : < -3 SD 2) Pendek : -3 s.d. < -2 SD 3) Normal : -2 SD s.d. +2 SD 4) Tinggi : > +2 SD
30 Kategori berdasarkan BB/TB yaitu : 1) Sangat Kurus : < -3 SD 2) Kurus : -3 s.d. < -2 SD 3) Normal : -2 SD s.d. +2 SD 4) Gemuk : > +2 SD
3.4.2. Variabel Independen 1. Makanan jajanan
Makanan jajanan adalah semua jenis makanan dan minuman yang dibeli dan siap dikonsumsi atau terlebih dahulu diolah oleh penjual jajanan baik di sekolah maupun di sekitar lingkungan sekolah.
2. Makanan di rumah
Makanan di rumah adalah semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak selama di rumah.
3. Pola konsumsi makanan (makanan jajanan dan makanan dirumah) Cara siswa dalam memiliih dan mengkonsumsi makanan (makanan jajanan dan makanan di rumah) yang meliputi jumlah ,jenis makanan dan frekuensi per hari yang diketahui dengan cara menanyakan langsung atau dengan menggunakan kuosioneer.
31 4. Jenis makanan jajan dan di rumah
Semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi pada saat anak berada di sekolah dan dirumah, yang diketahui dengan cara menanyakan langsung atau dengan menggunakan kuosioneer atau form recall.
5. Kandungan zat gizi makanan jajan
Kandungan zat gizi makanan jajanan adalah kandungan energi dan protein yang terkandung dalam semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi kemudian dihitung berdasarkan rumus yang telah ditetapkan dan mengacu pada daftar kandungan gizi jajanan (DKGJ).
Adapun rumus umum yang digunakan untuk mengetahui kandungan zat gizi makanan jajanan yang dikonsumsi adalah (Supariasa, 2002):
Keterangan :
KGIJ = Kandungan zat gizi i makanan jajanan j
Bj = Berat makanan jajanan j yang akan dianalisis (gram) Bjd = Berat maknan jajanan j yang tercantum dalam DKGJ (gram)
Gij = Kandungan zat gizi I maknan jajanan j pada tabel DKGJ KGij= (Bj / Bjd) x Gij
32
6. Kandungan zat gizi makanan di rumah
Kandungan zat gizi makanan di rumah adalah kandungan energi dan protein yang terkandung dalam semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi di rumah kemudian dihitung berdasarkan daftar komposisi bahan makanan (DKBM).
7. Frekuensi konsumsi makanan (makanan jajanan dan makanan di rumah)
Frekuensi konsumsi makanan adalah seberapa sering anak tersebut mengkonsumsi makanan atau berapa kali dalam sehari anak tersebut mengkonsumsi makanan jajan dan makanan dirumah yang diketahui dengan cara menanyakan langsung atau dengan menggunakan kousiuner.
8. Pendidikan orang tua
Pendidikan orang tua adalah jenjang pendidikan tertinggi yang diselesaikan oleh orang tua (ayah dan ibu) siswa yang diketahui dari data sekolah atau dari kuisioner yang diberikan ke orang tua siswa:
1. SD 2. SMP 3. SMA 4. PT
33 9. Pekerjaan orang tua (ayah dan ibu)
Kegiatan orang tua di luar rumah untuk memperoleh penghasilan dalam rangka pemenuhan kebutuhan keluarga yang diketahui dari data sekolah atau dari kuisioner yang diberikan ke orang tua siswa.
10. Penghasilan orang tua (ayah dan ibu)
Pendapatan ekonomi ayah/ibu yang diakumulasikan selama sebulan.
Data diperoleh dari data sekolah atau dari kuisioner yang diberikan ke orang tua siswa.
33 BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan crossectional analitic.
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Kompleks IKIP I dan SD Inpres Karunrung, Kecamatan Rappocini Kota Makassar.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Desember 2011 sampai dengan 20 Januari 2012.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi
1. Populasi target
Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa anak sekolah dasar di kota Makassar
34 2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa anak sekolah dasar di SD Negeri Kompleks IKIP I dan SD Inpres Karunrung, Kecamatan Rappocini Kota Makassar dengan pertimbangan status sosial ekonomi di kecamatan tersebut.
4.3.2. Sampel
1. Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah anak sekolah dasar kelas 2, 3, 4, dan 5 yang dipilih secara sistematic sampling berdasarkan absen kelas dimana jumlah keseluruhan populasi dibagi jumlah sampel yang akan diteliti. Hasil pembagian ini kemudian digunakan sebagai titik acuan dalam memilih sampel pada absen.
Kriteria inklusi :
a. Anak sekolah dasar kelas 2 - 5 b. Usia berkisar 8-12 tahun
c. Anak tidak mengalami penyakit infeksi pada saat penelitian dan dua minggu sebelum waktu penelitian.
Kriteria eksklusi :
a. Anak membawa bekal makanan dari rumah b. Anak yang tidak mau mengikuti penelitian
35 2. Besar Sampel
Dalam penelitian ini besar sampel dengan asumsi bahwa proporsi anak dengan status gizi baik pada kelompok dengan konsumsi jajanan sehat 80% atau 0,8, sedangkan perbedaan proporsi pada kelompok dengan pola konsumsi jajan kurang baik 20% dimana kekuatan penelitian ini adalah 80% dengan tingkat kesalahan 5%. Maka jumlah sampel minimal :
( √ √ ) ( )
Keterangan :
α = 0,05 Zα = 1,960 β = 1-power 1-0,8 = 0,2
Zβ = 0,842 P1 = 80% = 0,8 P2 = 60% = 0,6
P = = = 0,70 Q1 = 1 - P1 = 1- 0,8 = 0,2 Q2 = 1 – P2= 1-0,60 = 0,4 Q = 1 – P = 1-0,7 = 0,3
( √ √ ) ( )
36 ( )
( )
Olehkarena jumlah sampel minimal yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 164 orang, maka besar sampel dibulatkan menjadi 200 orang untuk menghindari terjadinya drop out saat pengambilan sampel.
4.4. Jenis Data dan Instrumen Penelitian 4.4.1. Jenis Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diambil oleh peneliti yaitu : - Berat Badan
- Tinggi Badan
- Data konsumsi makanan jajanandanmakanan di rumah 2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bagian administrasi sekolah yang meliputi data identitas siswa.
37 4.4.2. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Timbangan injak/Platform balance scale dengan merek Camry 2. Microtoice
3. Formulir food recall 24 jam 4. Kuisioner
4.5. Pengumpulan Data 4.5.1. Data Primer
1. Berat Badan
Berat badan diukur dengan cara :
a. Sebelum penimbangan dilakukan, pastikan timbangan diperiksa agar menunjukkan angka 0,0 kg.
b. Murid harus melepaskan sepatu, kaos kaki, jam dan acessoris lainnya, terkecuali seragam sekolahnya saat akan ditimbang.
c. Anak berdiri diatas timbangan dengan posisi tegak.
d. Lihat hasil yang ditunjukkan pada timbangan tersebut
e. Karena pengukuran dilakukan untuk beberapa siswa, maka untuk penimbangan berikutnya timbangan harus kembali menunjukkan angka 0,0 kg dan prosedur diulang dari point 1.
38 2. Tinggi Badan
Tinggi badan diukur dengan cara :
a. Microtoice ditempelkan pada dinding atau tembok yang lurus datar setinggi tepat 2 meter dengan menggunakan paku atau selotype.
Dimana angka 0 (nol) pada lantai yang rata dan datar.
b. Pada saat pengukuran, alas kaki (sepatu), kaos kaki, serta topi yang dikenakan dilepaskan.
c. Murid berdiri tegak seperti sikap sempurna dalam baris I berbaris, kaki lurus dengan tumit, pantat, dan punggung, dan kepala bagian belakang menempel pada dinding dan muka menghadap lurus dengan pandangan ke depan.
d. Turunkan microtoice sampai rapat pada kepala bagian atas.
e. Angka pada skala dibaca yaitu tampak pada lubang dalam gulungan microtoice. Angka ini menunjukkan tinggi badan anak yang diukur.
3. Konsumsi makanan jajanan dan makanan di rumah
Pola konsumsi, jenis, frekuensi, dan kandungan zat gizi (energy dan protein) makanan jajanan dan makanan di rumah, diukur dengan menggunakan kuisioner dan food recall 24 jam
4.5.2. Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan melalui data adminstrasi sekolah.
39 4.6. Pengolahan dan Penyajian Data 4.6.1. Pengolahan Data
Data yang diperoleh melalui alat ukur kuisioner masih dalam keadaan mentah. Oleh karena itu data tersebut harus diproses atau diolah menggunakan software microsoft excel 2010.
Adapun langkah-langkah dalm pengolahan data sebagai berikut:
1. Editing
Proses yang dilakukan setelah data terkumpul, untuk melihat apakah jawaban-jawaban yang ada pada kuesioner telah terisi lengkap atau belum.
2. Coding data
Proses pemberian kode dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan menggunakan computer.
3. Skoring
Pemberian nilai terhadap item yang perlu diberi skor.
4. Tabulasi
Pengelompokkan data atas jawaban yang diteliti dan diatur, kemudian dihitung dan jumlah sampel terwujud dalam tabel yang berguna.
4.6.2. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan software statistik SPSS
40
versi 20. Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji chi square dengan rumus :
Dimana :
X : Chi Square
O : Nilai observasi (Value observed) E : Nilai harapan (expected value)
Jika frekuensi sangat kecil, maka uji ini tidak tepat. Adapun keterbatasan dari uji ini adalah :
1. Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan (nilai E) kurang dari 1
2. Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan (nilai E) kurang dari 5 lebih dari 20% dari jumlah sel.
Jika keterbatasan tersebut terjadi, maka dilakukan penggabungan kategori- kategori yang berdekatan dalam rangka memperbesar frekuensi nilai
∑( )
41
harapan. Jika keterbatasan tersebut masih terjadi setelah dikategorikan menjadi tabel 2x2 maka dilakukan uji fisher sebagai uji alternatif.
4.6.3. Penyajian data
Data disajikan dalam bentuk table dan/atau diagram disertai narasi yang berisi penjelasan tentang data tersebut.
4.7. Etika Penelitian
1. Menyertakan surat izin penelitian dari Dinas Pendidikan Kota Makassar.
2. Meminta izin Kepala Sekolah Dasar yang akan diteliti.
3. Meminta izin wali kelas sebelum melakukan penelitian terhadap anak murid kelas.
4. Melakukan pengukuran status gizi dengan tidak menggangu proses belajar mengajar dikelas.
5. Melakukan pengukuran terhadap siswa-siswa SD jika siswa tersebut bersedia untuk ikut serta dalam penelitian ini.