PENDAHULUAN
Latar Belakang
Imam Lapeo adalah seorang imam sederhana di Lapeo yang menyebarkan agama Islam hingga ke tanah Bugi. Peran Ajaran Imam Lapeo Sebagai Ulama Sufi Pada Masyarakat Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar.”
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dan menginformasikan peran ajaran Imam Lapeo sebagai ulama sufi. Hal ini dapat membantu peneliti masa depan menyelidiki peran ajaran Imam Lapeo sebagai seorang ulama sufi.
Definisi Operasional
TINJAUAN PUSTAKA
Perkembangan Agama Islam di Mandar
Peran Imam Lapeo dalam Pembaharuan Agama Islam di
Peran Ajaran Imam Lapeo Sebagai Ulama Sufi
Salah satu strategi pengembangan Islam yang dikembangkan oleh Imam Lapeo adalah jalur Tassawuf atau tasawuf. Tahap awal dakwah yang dibangun oleh Imam Lapeo adalah tahap pengosongan jiwa murid-muridnya yang disebut dengan “Takhalli”.
Pengaruh Dakwah Imam Lapeo Sebagai Ulama Sufi
Imam Lapeo memulai perjuangan dakwah Islam di Mandar, seperti desa-desa terpencil, terutama di daerah pegunungan. Selain itu, Imam Lapeo menebang pohon dan menghancurkan batu-batu besar yang dikeramatkan masyarakat. Dakwah Islam yang demikian dapat digolongkan sebagai pemberantasan ajaran sesat dan khurafat yang merupakan peran besar yang ditunjukkan Imam Lapeo dalam perjuangan dakwahnya.
Dengan cara ini, Imam Lapeo melakukan yang terbaik untuk mengubah bentuk kepercayaan masyarakat dan praktik keagamaan yang dianutnya. Ada beberapa masjid yang dibangun Imam Lapeo bersama orang-orang ternama, antara lain Masjid Nur Al-Taubah di Lapeo, Masjid Timbu di Mamuju, dan masjid di kawasan Tappalang. Bukti peran Imam Lapeo, khususnya dalam membangun masjid sebagai sarana paling tepat untuk mensejahterakan umat, masih kokoh berdiri.
Dengan demikian peran perjuangan dakwah Imam Lapeo masih dirasakan oleh masyarakat Mandar hingga saat ini, dan sebagian santrinya masih hidup dan meneruskan perjuangan Imam Lapeo sebagai pembela terlaksananya ajaran Islam dengan benar. Meski kini pesantren berada di bawah naungan DDI, namun ide pendiriannya berasal dari Imam Lapeo.
Interaksi Simbolik
Kemunculan pesantren meskipun dengan sistem gaya lama, namun dapat memberikan ciri khas tersendiri pada pendidikan agama. Menurut teori interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol.Mereka tertarik pada cara orang menggunakan simbol untuk mewakili apa artinya berkomunikasi satu sama lain dan pengaruh interpretasi simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pelanggan. . - peserta dalam interaksi sosial. Menurut Mead, komunikasi autentik terjadi hanya ketika masing-masing pihak memberikan makna pada perilakunya sendiri, namun memahami atau berusaha memahami makna yang diberikan pihak lain.
Pendekatan interaksionisme simbolik melihat agama terdiri dari serangkaian simbol yang digunakan masyarakat untuk membela dan menjelaskan kehidupan. Simbol yang digunakan dalam agama antara lain benda-benda seperti batu, sungai, gunung bahkan binatang seperti sapi dan harimau. Hewan dan benda dianggap suci dan termasuk dalam ibadah umat beragama.
Perbedaan keyakinan agama muncul dalam konteks sosial dan sejarah yang berbeda, karena konteks sosiokulturallah yang membingkai keyakinan agama. Dengan demikian, teori interaksi simbolik dapat menjelaskan bahwa agama dan kepercayaan yang sama dapat menghasilkan penafsiran yang berbeda karena konteks sosial budaya antar masyarakat berbeda.
Kerangka Pikir
Imam Lapeo memperkenalkan reformasi Islam di Mandar melalui pernikahan, pendidikan dan tarekat (Sufisme). Dalam penelitian ini penulis memperoleh pandangan berbeda dari masyarakat mengenai peran ajaran Imam Lapeo di wilayah Camapalagian. Reformasi Islam yang dilakukan Imam Lapeo di Mandar merupakan perilaku yang dapat dikategorikan sebagai tindakan sosial.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Metode sejarah menggunakan analisis peristiwa masa lalu untuk merumuskan prinsip-prinsip umum (Soerjono, 2012:43).
Lokus Penelitian
Informan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yaitu menggunakan bahan-bahan yang sulit diukur dengan angka meskipun bahan-bahan tersebut terdapat di masyarakat (Syarbaini, 2009:23).
Fokus Penelitian
Instrumen Penelitian
Jenis dan Sumber Data Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Analisis Data
- Triangulasi (Validitas Data)
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian, analisis data kualitatif sangat sulit dilakukan karena tidak adanya pedoman yang baku, tidak adanya proses yang linier dan tidak ada aturan yang sistematis. Menurut jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk menggambarkan situasi atau fenomena berdasarkan fakta yang terlihat atau sebenarnya. Dengan demikian dalam analisis data yang terkumpul tidak digunakan uji statistik sebagaimana penelitian deskriptif, kalaupun ada data kualitatif akan digunakan untuk memudahkan penafsiran.
Model analisis dalam penelitian ini dilakukan melalui empat langkah, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang memuat apa yang dilihat, didengar, disaksikan dan juga temuan tentang apa yang ditemui selama penelitian. Proses ini disebut juga dengan proses transformasi data, yaitu perubahan data mentah yang dihasilkan.
Peneliti mencoba mencari pola model, tema, hubungan, persamaan, kejadian yang sering terjadi, hipotesis dan tahap penarikan kesimpulan ini mengenai interpretasi peneliti yaitu gambaran makna dari data yang ditampilkan. Teknik triangulasi merupakan teknik untuk mengekstrak keabsahan data dengan menggunakan sesuatu selain data tersebut untuk keperluan pelengkap atau sebagai pembanding dengan data yang sudah ada.
Etika Penelitian
Kemudian, kata ini menimbulkan ritme khusus dalam perhubungan dan dzikir Imam Lapeo dan murid-muridnya. Dari penelitian yang telah dilakukan di Distrik Kampala mengenai peranan ajaran Imam Lapeo sebagai ulama sufi di masyarakat, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan:
GAMBARAN DAN HISTORI LOKASI PENELITIAN
Deskripsi Kecamatan Campalagian
Kecamatan Campalagian merupakan salah satu dari enam belas kecamatan yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Luyo. Luas wilayah Kecamatan Campalagian tercatat 87,85 km2 atau 4,34 persen dari luas wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Kecamatan Campalagian terbagi menjadi satu kelurahan dan enam desa yaitu Desa Pappang, Desa Sumarang, Desa Ongko, Desa Lampoko, Desa Panyampa, Desa Botto, Desa Katumbangan, Desa Laliko, Desa Padang Timur, Desa Katumbangan Lemo, Desa Lagi Agi, Desa Suruang, Desa Parappe, Desa Gattungan, Desa Kenje, Desa Lapeo, Desa Padang dan Desa Bonde.
Selama tahun 2016, jumlah hari hujan dan curah hujan yang terjadi di Kecamatan Campalagian setiap tahunnya bervariasi. Sedangkan Desa Lapeo dan Desa Padang mempunyai dusun/lingkungan yang paling sedikit, masing-masing memiliki 3 dusun/lingkungan. Jumlah PNS yang bekerja pada berbagai instansi pemerintah di wilayah Kabupaten Campalagian dapat dilihat lebih detail pada.
Jika dilihat sebaran penduduk di tingkat desa/kelurahan, Desa Bonde mempunyai jumlah penduduk terbanyak. Untuk mengetahui rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan dapat dilihat pada nilai rasio gender.
Kehidupan Sosial Ekonomi Kecamatan Campalagian
Mengacu pada hal tersebut, perkembangan sektor pendidikan di Kecamatan Campalagian dinilai sudah maksimal hingga tahun 2017. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kecamatan Campalagian hingga tahun 2015 meliputi 21 Taman Kanak-Kanak, 43 Sekolah Dasar Negeri (SDN), 6 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMA). ), 10 Madrasah Ibtidaiyah ( MI), 9 Madrasah Tsanawiyah (MTS), 2 Sekolah Menengah Pertama (SMA). ) dan 4 Madrasah Aliyah (MA). Tanaman pangan yang banyak ditanam masyarakat di Kecamatan Campalagian selama tahun 2017 adalah padi sawah, jagung, dan singkong.
Selain tanaman pangan, tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan enau/enau banyak ditanam masyarakat di distrik Campalagian. Pada tahun 2017, populasi ternak besar di Kabupaten Campalagian antara lain sapi potong 3.015 ekor, kerbau 26 ekor, dan kuda 200 ekor. Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Campalagian beragama Islam dengan jumlah penduduk 100 persen.
Kebudayaan yang ada di kabupaten Campalagian sama dengan kebudayaan suku Mandar yang sebagian besar bermukim di wilayah Sulawesi Barat. Hal inilah yang menjadi kekhasan masyarakat Mandar pada umumnya termasuk wilayah Kampalagian, dimana mereka dapat membuat kuda melompat hanya dengan mendengar suara rebana yang dimainkan oleh suku Mandar.
Sejarah Masuknya Agama Islam di Sulawesi Selatan
Di Lapeo, jamaah tetap berhubungan dengan cucu dan anak perempuan Imam Lapeo yang masih hidup (dari istri pertamanya, Sitti Rugayah).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Peran Imam Lapeo dalam Pembaharuan Islam di Mandar
- Perintis Pembangunan Masjid Nurut Taubah Lapeo
- Kharismatik Imam Lapeo
- Pandangan Masyarakat terhadap Peran Imam Lapeo
- Teori Tindakan Sosial (Mx Weber)
Selepas kematiannya, ramai jemaah Imam Lapeo datang menziarahi kubur Imam Lapeo dan memohon doa selamat.
Peran Ajaran Imam Lapeo Sebagai Ulama Sufi
- Doa Keselamatan Imam Lapeo
- Terekat Imam Lapeo
- Wirid dan Zikir
- Teori Peran
Imam Lapeo datang ke Lapeo pada tahun 1982 setelah pendahulunya dibunuh karena tidak diterima masyarakat. Dalam mendoakan keselamatan dunia, Imam Lapeo menggunakan hadis Nabi Muhammad SAW, sebagai pakaian yang diyakini efisien/berkualitas. Menurut Imam Lapeo, orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah harus melalui maqam.
Selain di jamaah "Nur Muhammad", pengembaraan Imam Lapeo untuk mencari ilmu agama (Islam) tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri. Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai peran ajaran Imam Lapeo sebagai ulama sufi, maka teori yang relevan terkait dengan pembahasan ini adalah teori peran. Peran Peran dan sumbangsih Imam Lapeo melalui kiprahnya di bidang sosial keagamaan dan nasional menjadi tempat berkembang biaknya kharisma, popularitas, dan sebagainya.
Perluasan pemberantasan berhala dilakukan Imam Lapeo mengingat masyarakat saat itu masih menganut animisme dan dinamisme. Dapat membantu peneliti selanjutnya untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang peran ajaran Imam Lapeo sebagai ulama sufi serta membantu penelitian lebih lanjut yang relevan.
Interpetasi Penelitian
PENUTUP
Kesimpulan
Peran reformasi Islam yang dilakukan Imam Lapeo di Mandar sangat berperan dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Imam Lapeo berusaha mengubah bentuk keyakinan masyarakat dan perlakuan keagamaan yang dianut masyarakat. Terlihat dari wujud keimanan terhadap Keesaan Allah SWT, berkurangnya masyarakat yang meyakini kekuasaan di luar kekuasaan Allah SWT merupakan akibat nyata yang terlihat dalam perjuangan dakwah Imam Lapeo.
Adapun ajaran Imam Lape sebagai ulama sufi dalam masyarakat daerah Campalagi, beliau memainkan peranan penting dalam perubahan sosial dan agama.
Saran
Widyawati Dwi Vina. 2014. Peran Sunan Ampel dalam Penyebaran Islam di Surabaya 1443-1481. Surabaya: Universitas Jember. Sebelum menjawab daftar pertanyaan yang telah digunakan, lengkapi terlebih dahulu daftar identitas yang tersedia. Penulis menempuh pendidikan di SD Negeri 041 Inpres Puccadi pada tahun 2001 dan lulus pada tahun 2007, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Campalagian pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2010.
Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Campalagian dan lulus pada tahun 2013. Kemudian pada tahun 2013 penulis melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi swasta khususnya Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) dan menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam. Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Sosiologi, selesai pada tahun 2017.