• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Studi Kasus di Rumah Amal Sosial Baitul Ihsan) Bank Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(Studi Kasus di Rumah Amal Sosial Baitul Ihsan) Bank Indonesia "

Copied!
73
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Fokus dan Sub Fokus Penelitian

Perumusan Masalah

Manfaat Penelitian

Sistematika Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Konseptual Fokus dan Sub Fokus Penelitian

  • Zakat Profesi
  • Pengertian Zakat
  • Hikmah Zakat
  • Pemberdayaan
  • Efektivitas

Zakat Profesi diperkenalkan oleh Yusuf Al-Qaradawi dengan arti menekuni dan profesi, yaitu berbagai usaha yang menghasilkan kekayaan berupa uang dan sebagainya. Menurut Didin Hafiduddin, zakat profesi mulai populer di Indonesia sekitar akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an. Sejak saat itu, zakat profesional mulai banyak diterapkan oleh lembaga-lembaga pengelola zakat di Indonesia, baik BAZ (Badan Amil Zakat) milik pemerintah, BAZNAS, maupun LAZ (Lembaga Amil Zakat)16.

Oleh karena itu, zakat profesi dikeluarkan dari hasil usaha yang halal dan dapat menghasilkan keuntungan berupa uang, baik melalui suatu keahlian tertentu maupun tidak. 21Siti Mualimah, “Penerapan Pengelolaan Zakat Profesional Kementerian Agama Kabupaten Demak”, Jurnal Manajemen dan Pemberdayaan Islam (IMEJ), Volume 1, No 1, Juni 2019, hal. Majalah ini menjelaskan bahwa kontribusi zakat profesi dalam pendistribusian pendapatan ekonomi syariah mustahik sangat membantu untuk berdaya secara ekonomi.

Penelitian ini merupakan penjabaran teori dengan asumsi dasar tentang zakat, zakat profesi, manfaat dana zakat dan pemanfaatan zakat profesi. Zakat profesi mempunyai peran yang sangat strategis dalam pemerataan ekonomi syariah dalam upaya pengentasan kemiskinan atau pembangunan ekonomi. Sehingga para mustahik dengan adanya zakat profesi akan membantu, mendampingi dan membina masyarakat miskin menuju kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, sehingga mereka dapat tercukupi kebutuhan hidupnya dengan baik, serta beribadah kepada Allah SWT.

Siti Mualimah dan Edi Kuswanto, “Penerapan Pengelolaan Zakat Profesional Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama Kabupaten Demak”. 23 Tahun 2011 pasal 1 ayat 2 Zakat adalah harta yang akan dipergunakan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Zakat profesi dalam UU No. Pengelolaan zakat profesi di Kabupaten Demak dilakukan oleh Unit Pengumpul Zakat. (UPZ) di bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak dan bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Demak.

Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak bertugas melakukan pengumpulan zakat profesi dari ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak dengan menggunakan Sistem Penilaian Dinas melalui pemotongan gaji yang dilakukan oleh Bendahara Gaji. Pola penyaluran zakat profesi dilakukan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor. Selanjutnya Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak menyalurkan zakat profesi kepada pihak yang berhak yaitu 8 ashnaf, baik dalam bentuk konsumtif maupun produktif berupa pembagian kambing dan modal usaha44.

44 Siti Mualimah dan Edi Kuswanto, “Penerapan Pengelolaan Zakat Profesional Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama Kabupaten Demak”, Jurnal Manajemen dan Pemberdayaan Islam (IMEJ), Vol.1, no. Zakat kerja yang cakupannya sangat luas mempunyai potensi dan fungsi yang besar untuk mengatasi masalah kemiskinan yang saat ini menjadi agenda penting pembangunan perekonomian Indonesia.

Tujuan Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Latar Penelitian

Kemunculan Rumah Amal Sosial Baitul Ihsan (RASBI) BI merupakan salah satu bentuk wujud program sosial BI untuk membantu secara lebih spesifik dan rinci dalam penyaluran dan pemanfaatan dana sosial yang dikumpulkan dari zakat profesi pegawai BI.

Metode dan Prosedur Penelitian

Pada tahap ini, peneliti mereduksi seluruh informasi yang diperoleh pada tahap pertama untuk fokus pada suatu masalah tertentu. Pada tahap ini peneliti menguraikan secara rinci fokus yang digunakan kemudian melakukan analisis mendalam.

Data dan Sumber Data

Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Transferabilitas mengacu pada tingkat generalisasi temuan penelitian atau kemampuan temuan penelitian untuk digeneralisasikan atau ditransfer ke konteks lain. Di bidang organisasi dan sistem sistem kerja, pekerjaan tetap dilakukan dan disempurnakan melalui berbagai program, termasuk program transformasi yang sedang dilaksanakan untuk beradaptasi dengan perkembangan saat ini. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat membawa perubahan peran LAZ (Lembaga Amil Zakat) dalam pelaksanaan tugas pengelolaan zakat.

Dalam konteks ini, RASBI sebagai lembaga Amil Zakat telah menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Pengelolaan Zakat. Dengan demikian, penyaluran dan pengesahan dana zakat tetap berada dalam koridor hukum Islam sebagaimana tertuang dalam surat At-Taubah ayat 60. Asynaf terbesar yang menerima kompensasi atau bantuan dana zakat dari RASBI adalah pada sektor sumber daya manusia dan sarana pendidikan, berjumlah Rp.

Selain itu, kajian hasil penelitian ini setidaknya dapat memberikan gambaran bahwa kontribusi RASBI Bank Indonesia dalam pemberdayaan zakat profesi cukup penting dalam perbendaharaan partisipasi aktif bantuan BAZNAS dalam pengelolaan zakat nasional sebagai diwajibkan oleh hukum negara bagian. Oleh karena itu, pemberdayaan dana zakat profesional dalam RASBI Bank Indonesia cukup efektif, dalam mencapai tujuan. Selain itu, perluasan wilayah cakupan pemberdayaan dana zakat semakin diperluas ke wilayah lain di luar Jakarta.

Mualimah, Siti dan Edi Kuswanto, “Penerapan Pengelolaan Zakat Profesional Pada Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama Kabupaten Demak”, Jurnal Manajemen dan Pemberdayaan Islam (IMEJ), Volume 1, no. Pratama, Erwin Aditya, “Optimalisasi Pengelolaan Zakat Sebagai Sarana Mewujudkan Kesejahteraan Sosial (Studi pada Badan Amil Zakat Kota Semarang”, (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2013) Siti Mualimah, “Penerapan Pengelolaan Zakat yang Profesional Bagi Aparatur Sipil Negara Aparatur Kementerian Agama Kabupaten Demak”, Jurnal Manajemen dan Pemberdayaan Islam (IMEJ), Vol.1, No.1, Juni 2019.

Teknis Analisa Data

Validasi Data

  • Kredibilitas
  • Transferabilitas
  • Dependabilitas
  • Konfirmabilitas

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umun Tentang Latar Penelitian

Berbagai upaya untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tugas BI senantiasa dilakukan, baik melalui pembenahan organisasi dan sistem kerja, pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Arah pengembangan yang dilakukan adalah mengupayakan terciptanya sumber daya manusia BI yang berkualitas, tidak hanya dari segi kompetensi dan profesionalisme, namun juga dari segi integritas dan moral. Selain kemauan masing-masing individu, diperlukan juga faktor pendukung lainnya, antara lain faktor moral dan spiritual.

Agar pembangunan moral dan mental dapat efektif dan berkesinambungan, diperlukan fasilitas yang memadai untuk mendukungnya. Sehubungan dengan hal tersebut maka keberadaan masjid di lingkungan kantor BI sangat penting sebagai sarana untuk membentuk dan meningkatkan moral dan mental pegawai BI, khususnya yang beragama Islam, dan sekaligus sebagai sarana untuk beribadah. memuja. bagi umat Islam pada umumnya. Keberadaan masjid di kawasan BI, selain sebagai sarana ibadah, diharapkan juga menjadi wadah berkembangnya kegiatan sosial.

Oleh yang demikian, masjid-masjid di kawasan BI selain menjadi objek ibadah juga berfungsi sebagai majlis zikir, majlis ilmu dan majlis uhuvveh yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan mutu keimanan dan ketakwaan dalam kehambaan kepada Allah swt. Walaupun kehadiran masjid di kompleks pejabat BI, sebagai "rumah kebajikan" sudah tentu diharapkan masjid akan dihidupkan dengan aktiviti yang bertujuan mengagungkan dan mengagungkan nama Allah. Justeru, masjid ini boleh dikunjungi oleh umat Islam dari mana-mana dan pada bila-bila masa, bukan sahaja pegawai BI malah masyarakat sekitar pejabat BI dan masyarakat Islam amnya.

Salah satu arah kebijakan Masjid Baitul Ihsan adalah mengoptimalkan HIS (zakat, infaq dan sedekah) dan meningkatkan intensitas dan efektifitas sosialisasi HIS, melalui berbagai media baik berupa kajian, pamflet, foto dan tulisan, serta pengembangan mekanisme. dan efektivitas pengumpulan dan distribusi. Sebelum RASBI masuk ke ranah pengelolaan Masjid Baitul Ihsan, pada awalnya RASBI bernama BP-ZIS (Biro Pengelola Zakat, Infaq dan Sedekah) yang dikelola oleh KORPRI BI (Korps Pegawai Bank Indonesia Republik Indonesia) sejak tahun 1993. Kemudian RAZBI berubah pada tahun 2010. hingga kini namanya menjadi RASBI (Rumah Amal Sosial Baitul Ihsan).

Menjadi organisasi pengelola HIS yang handal, profesional, dan syiar Islam bagi karyawan, keluarga, dan masyarakat sekitar.”

Temuan Penelitian

Pembahasan Temuan Penelitian

Bahwa menurut Pasal 7 ayat (2), bahwa: “Pendistribusian dan penggunaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut hukum Islam dan dilaksanakan sesuai dengan hukum Islam. dengan tanda yang dijanjikan oleh pemberinya.” Namun paling sedikit sebagian besar ashnaf yang dapat menerima “uluran tangan RASBI” yaitu: fakir miskin, fakir miskin, amil, mualaf, fii sabilillah dan ibnu sabil, totalnya berjumlah 6 ashnaf. Namun setidaknya ada banyak ashnaf yang dapat menerima “uluran tangan RASBI”, yaitu: fakir miskin, fakir miskin, amil, mualaf, fii sabilillah dan ibnu sabil, totalnya ada 6 ashnaf.

Kementerian Agama Republik Indonesia, Pedoman Konseling Zakat, (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Direktorat Pemberdayaan Zakat, 2012).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pertama, zakat diharapkan mendatangkan pahala yang bermanfaat, oleh karena itu dinamakan zakat “harta yang diserahterimakan”. Zakat adalah ibadah di bidang harta yang mengandung hikmah dan manfaat yang besar dan mulia, baik terhadap pemberi zakat (muzakki), penerima (mustahik), harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat secara keseluruhan. . Zakat profesi atau yang biasa disebut zakat penghasilan sebenarnya merupakan istilah baru dalam fikih Islam, dan dalam literatur fikih klasik jarang ditemukan penelitian yang khusus membahas tentang zakat.

Meski belum ada kajian khusus mengenai zakat profesi dalam kitab-kitab fiqih klasik, namun bukan berarti zakat yang serupa dengan zakat profesi sama sekali tidak dikenal dalam sejarah fiqh Islam15. Dalam undang-undang no. 23 tentang Pengelolaan Zakat Tahun 2011. Pasal tersebut menjelaskan bahwa zakat adalah harta yang menurut ketentuan agama wajib disisihkan oleh umat Islam atau badan yang dimilikinya dan diberikan kepada yang berhak. Dalam ayat 11 (2) Bab IV UU No. 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat disebutkan bahwa harta yang dikenakan zakat adalah.

Kemudian pengertian zakat menurut hukum adalah harta yang wajib disisihkan oleh badan hukum Islam atau dimiliki. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam Kumpulan Putusan Tarjih Muhammadiyah tentang Zakat Profesi dan Gaji Pensiun menjelaskan bahwa hasil Musyawarah Nasional Tarjih XXV tahun 2000 di Jakarta telah menetapkan zakat profesi itu wajib, dengan syarat nisabnya. dari adalah sama. 85 gram emas 24 karat, dan jumlahnya sama dengan 85 gram emas 24 karat. 2,5%. Topik di atas menyatakan bahwa Zakat Profesi dalam Islam pada dasarnya adalah Zakat yang dikeluarkan dari hasil profesi (pekerjaan) seseorang, baik itu dokter, dosen, guru, kepala sekolah, pegawai, dan lain-lain, yang gajinya dibayar oleh pemerintah. dan cukup, nisabnya harus dibagikan kepada mustahiq zakat.

Saran

Referensi

Dokumen terkait

i LEMBAR PERNYATAAN ORISINILITAS Yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Mutia Pawitri NPM : 2018510043 Program Studi : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Fakultas Agama Islam