LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Teks Cerita Sejarah atau Novel Sejarah
Pendahuluan
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 3.4. Menganalisis kaidah
kebahasaan
cerita atau novel sejarah.
3.4.1. Menganalisis kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah.
3.4.2. Menyeleksi kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah yang rumpang.
4.4 Menulis cerita sejarah
pribadi dengan
memperhatikan kebahasaan
4.4.1. Merancang kalimat berdasarkan struktur teks sesuai dengan kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah.
4.4.2. Memproduksi cerita sejarah pribadi berdasarkan struktur teks cerita sejarah dengan memperhatikan kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah.
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik mampu menganalisis kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah secara tepat melalui diskusi.
2. Peserta didik mampu menyeleksi kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah yang rumpang secara benar.
3. Setelah mampu menyeleksi, peserta didik dapat merancang kalimat berdasarkan struktur teks sesuai dengan kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah secara mandiri.
4. Peserta didik mampu memproduksi cerita sejarah pribadi berdasarkan struktur teks cerita sejarah dengan kaidah kebahasaan cerita atau novel sejarah secara tepat.
5. Setelah memproduksi cerita sejarah pribadi, peserta didik mampu menampilkan cerita sejarah pribadi pada blog masing-masing.
▸ Baca selengkapnya: lkpd teks cerita inspiratif kelas 9
(2)LKPD 1 Petunjuk:
1. Bacalah dengan saksama dan teliti teks di bawah ini!
2. Setelah Anda mencermati teks tersebut, silakan Anda jawab pertanyaan yang terdapat pada LKPD.
3. Berdasarkan teks cerita sejarah di atas, isilah kata rumpang di atas dengan kata-kata yang telah disediakan menjadi teks yang padu!
Arok Dedes
Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar dari pingsan.
Tubuhnya dibopong [1] dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. [2]
digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak [3] meninggalkan bilik besar ini.
Gede Mirah [4] untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu.
Begitu matahari muncul masuk ke [5] seorang tua mengenakan tanda-tanda Brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. [6] Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. [7] tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda Brahmana itu telah menikahkannya. Hanya Gede Mirah [8] sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. [9]
itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik besar ini.
Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. [10] ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar
[11] dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan [12] ke peraduan.
Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga tidak membenarkan.
"Perawan terayu di seluruh negeri," bisik Gede Mirah.
"Tanpa riasan sahaya pun tiada orang lain bisa menandingi."
Bedak telah menutupi sebagian dari kepucatannya. Sekali lagi air mata merusakkan rias itu.
"Jangan menangis. Berterimakasihlah [13] para dewa. Tak ada seorang Wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul
Ametung. Tak pernah Yang Mulia [14] wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama [15] dengan yang diucapkan oleh ayahmu."
Dedes masih juga belum membuka mulut [16] empat puluh hari ini. Ia [17]
terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk [18] brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan. Tunggul Ametung bukan nama pribadi, tapi gelar jabatan gendar-meri, artinya penggada kayu itu oleh Sri Kretajaya [19] menjamin arus upeti ke Kediri.
Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik.
"Mari, Dara," dan ditariknya perawan itu berdiri dari duduknya.
Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai [20] dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, Sebagian menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri [21] dilibatkan tiga kali pada leher untuk [22] jatuh pada perutnya. Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak.
"Mari, Dara," katanya lagi dan dipimpinnya Dedes sang cantik, sang ayu, sang segala pujian itu hendak meninggalkan bilik.
Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan tampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang [23] Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. [24] berubah menjadi kota dan berates desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri.
Dua orang pengawal, [25] gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes.
Gede Mirah menyerahkannya pada rombongan wanita pengiring yang langsung menyerahkannya pada Yang Suci Belakang-ka, Pandita Negeri Tumapel.
Semua menunduk mengikatkan pandang pada lantai. Juga Dedes. Hanya Yang Suci mengangkat muka, memimpin semua meninggalkan keputrian menuju ke
pendopo pekuwuan. Iringan itu merupakan permainan warna dalam siraman sinar matahari sore. Di depan sendiri Dedes dalam intan baiduri gemerlapan.
Rambutnya dimahkotai dengan pita emas dengan matahari intan bertaburan pada kening. Kulit tubuhnya yang dimangir kuning muncul dari balik terawang sutra Mesir dengan sepasang buah dada seperti hendak bertanding dengan matahari.
Yang Suci Belakangka mengenakan jubah hitam berkalung lempengan emas dengan hiasan dudul bergambar lambang serba Wisynu: cakra dan sangkakala.
Kalung jabatan itu diberati dengan patung garuda, juga dari emas. Semua berkilat-kilat memuntahkan pantulan api dari dalamnya.
Di belakang barisan dara pengiring, berselendang aneka warna dengan buah dada penuh menggagahi pemandangan, dengan gelang dan binggal perak dan suasa mengangakan mulut naga.
Iringan itu berjalan selangkah dan selangkah seperti takut bumi jadi rengkah terinjak. Tetap tinggal Yang Suci yang tiada menunduk dengan jubah gemersik pada setiap langkah.
Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang Akuwu. [26] orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan [27] pasukan pengawal, yang mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan menghentakkan pangkalnya ke lantai.
Sangkakala berhenti berseru-seru. Akuwu Tumapel turun dari pendopo menyambut pengantinnya, menggandengnya.
Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak. Mereka mengangkat sembah [28] mempersembahkan kuda mereka.
Tunggul Ametung menolong Dedes naik ke atas kuda yang seekor. Ia sendiri menaiki yang lain. Dan iringan itu mengikuti di belakang berjalan kaki,
[29] meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri menolong pengantinnya, membimbingnya [30] tangga panggung. Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka. Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai. Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersua di bawah.
diturunkan ia diperkenankan menyediakan sejak sekarang
dalam tetapi ia bertindak melepaskannya membawanya
kepada melakukan mengikat dalam selalu menjadi
untuk jatuh ditutup lalu tumapel mendengar
empat oleh kemudian kemudian setelahnya mendaki
NO TEKS AROK DEDES JAWABAN 1 Tubuhnya dibopong [1] dari kuda, dibawa masuk ke ruangan
besar ini juga. [2] digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak [3]
meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah [4] untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. matahari belum terbit. Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu.
1 2 3 4
2 Begitu matahari muncul masuk ke [5] seorang tua mengenakan tanda-tanda Brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. [6] Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. [7] tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya. Orang dengan tanda-tanda Brahmana itu telah menikahkannya. Hanya Gede Mirah [8]
sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. [9] itu ia tidak diperkenankan keluar dari bilik
besar ini.
5 6 7 ia 8 9
3 Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. [10] ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir.
Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar [11] dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan [12] ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga tidak membenarkan.
10 11 12
4 "Jangan menangis. Berterimakasihlah [13] para dewa. Tak ada seorang Wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. Tak pernah Yang Mulia [14] wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama [15]
dengan yang diucapkan oleh ayahmu."
13 14 15
5 Dedes masih juga belum membuka mulut [16] empat puluh hari ini. Ia [17] terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk [18] brahmani, ia tahu Tunggul Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan. Tunggul Ametung bukan nama pribadi, tapi gelar jabatan gendar-meri, artinya penggada kayu itu oleh Sri Kretajaya [19] menjamin arus upeti ke Kediri. Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya.
Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik.
16 17 18 19
6 Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai [20] dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, Sebagian menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri kemudian
[21] tiga kali pada leher untuk [22] jatuh pada perutnya.
Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak.
20 21 22
7 Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan tampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang [23] Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. [24] berubah menjadi kota dan berates desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada Kediri.
23 24
8 Dua orang pengawal, [25] gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai
penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes.
25 26 27
Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang Akuwu. [26] orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan [27] pasukan pengawal, yang mendadak keluar dari samping- menyamping istana, menaikkan tombak dan menghentakkan
pangkalnya ke lantai.
9 Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda dengan hiasan serba perak. Mereka mengangkat sembah [28]
mempersembahkan kuda mereka.
28
10 [29] meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun.
Dua orang prajurit itu menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri menolong pengantinnya, membimbingnya [30] tangga panggung. Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka. Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak- sorai. Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris
bersua di bawah.
29 30
RUBRIK PENILAIAN LISAN Petunjuk :
1. Setelah Anda berdiskusi mengenai pengisian LKPD, silakan Anda jelaskan dan paparkan hasil diskusi mengenai materi yang telah diberikan guru di depan kelas.!
2. Mohon perhatikan intonasi, pelafalan, kelancaran, penampilan, dan kelancaran dalam penampilan Anda!
3. Dimohon teman lain secara aktif mengomentari dan memberi masukan kepada kelompok yang maju ke depan kelas!
No Aspek yang
Dinilai Deskripsi Penilaian Jumlah
Skor 1 Intonasi Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan
intonasi yang tepat.
3 Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan
intonasi kurang tepat 2
Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan
intonasi tidak tepat 1
2 Pelafalan Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan lafal
yang jelas. 3
Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan lafal
yang kurang jelas. 2
Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan lafal
yang tidak jelas. 1
3 Kelancaran Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
lancar. 3
Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
kurang lancar. 2
Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
tidak lancar. 1
4 Ekspresi Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan mimik
yang sesuai. 3
Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan mimik
yang kurang sesuai. 2
Apabila peserta didik menyajikan secara lisan dengan mimik yang tidak sesuai.
1 5 Penampilan Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
penampilan yang baik. 3
Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
penampilan yang baik. 2
Apabila peserta didik menyajikan hal secara lisan dengan
penampilan yang baik. 1
Total Skor 15
Interval Skor
3 : 84-100 2 : 51-83 1 : 1-50
N�������� = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜� 𝑃𝑒�𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎�
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑘𝑜� � 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏
LKPD 1
KD 3.4 Menganalisis Kebahasaan Cerita Sejarah Gajah Mada.
Nama Kelompok : Anggota : 1.
2.
3.
4.
5.
Petunjuk:
1. Bacalah dengan saksama dan teliti teks di bawah ini!
2. Setelah Anda mencermati teks tersebut, silakan Anda jawab pertanyaan di bawah ini!
3. Analisislah kaidah kebahasaan dari teks cerita sejarah yang berjudul Rumah Kaca, kemudian tuangkan dalam tabel dibawah ini
KD 3.4 Menganalisis Kebahasaan Cerita Sejarah Arok Dedes.
Nama Kelompok : Anggota : 1.
2.
3.
4.
5.
Petunjuk:
1. Bacalah dengan saksama dan teliti teks di bawah ini!
2. Setelah Anda mencermati teks tersebut, silakan Anda jawab pertanyaan yang terdapat pada LKPD.
3. Berdasarkan teks cerita sejarah di atas, isilah kata rumpang di atas dengan kata-kata yang telah disediakan menjadi teks yang padu!
diturunkan ia diperkenankan menyediakan sejak sekarang
dalam tetapi ia bertindak melepaskannya membawanya
kepada melakukan mengikat dalam selalu menjadi
untuk dengan ditutup lalu tumapel mendengar
empat oleh kemudian kemudian setelahnya mendaki
NO TEKS AROK DEDES JAWABAN 1 Ia takkan dapat lupakan peristiwa itu pertama kali ia sadar
dari pingsan. Tubuhnya dibopong [1] dari kuda, dibawa masuk ke ruangan besar ini juga. [2] digeletakkan di atas peraduan, dan orang yang menggotongnya itu, Tunggul Ametung, berdiri mengawasinya. Ia tengkurapkan diri di atas peraduan dan menangis. Orang itu tak juga pergi. Dan ia tidak [3]
meninggalkan bilik besar ini. Gede Mirah [4] untuknya air, tempat membuang kotoran dan makanan. matahari belum terbit.
Lampu-lampu suram menerangi bilik besar itu.
1 diturunkan 2 ia
3 diperkenankan 4 menyediakan
2 Begitu matahari muncul masuk ke [5] seorang tua mengenakan tanda-tanda Brahmana. Ia tak mau turun dari peraduan. [6]
Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. [7] tutup mukanya dengan tangan. Tunggul Ametung duduk di sampingnya.
Orang dengan tanda-tanda Brahmana itu telah menikahkannya.
Hanya Gede Mirah [8] sebagai saksi. Kemudian Tunggul Ametung meninggalkan bilik bersama brahmana itu. [9] itu ia tidak
diperkenankan keluar dari bilik besar ini.
5 dalam 6 tetapi 7 ia
8 bertindak 9 sejak
3 Semua berlangsung secara rahasia. Empat puluh hari telah lewat. [10] ini Gede Mirah meriasnya. Ia telah sampai pada riasan terakhir. Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir.
Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar [11] dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa. Semua sia-sia. Hari yang ke empat puluh adalah hari selesainya wadad pengantin, ia menggigil membayangkan seorang lelaki sebentar nanti akan [12] ke peraduan. Dan ayahnya tak juga datang untuk membenarkan perkawinan ini. ia sendiri juga
tidak membenarkan.
10 sekarang 11 melepaskannya 12 membawanya
4 "Jangan menangis. Berterimakasihlah [13] para dewa. Tak ada seorang Wanita yang telah ditempatkan pada satu kedudukan oleh Yang Mulia Tunggul Ametung. Tak pernah Yang Mulia [14]
wadad kecuali hanya untukmu. Pernikahan itu takkan dapat dibatalkan. Yang Suci Belakangka adalah juga seorang brahmana sebagai ayahmu. Mantra-mantranya sama [15]
dengan yang
diucapkan oleh ayahmu."
13 kepada 14 melakukan 15 mengikat
5 Dedes masih juga belum membuka mulut [16] empat puluh hari ini. Ia [17] terkenang pada ayahnya. Tanpa pembenaran dan restunya, semua hanya akan menuju pada bencana. Dan sebagai gadis yang terdidik untuk [18] brahmani, ia tahu Tunggul
16 dalam 17 selalu 18 menjadi
Ametung hanya seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan. Tunggul Ametung bukan nama pribadi, tapi gelar jabatan gendar-meri, artinya penggada kayu itu oleh Sri Kretajaya [19] menjamin arus upeti ke Kediri. Semua brahmana, termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda
terbaik, burung terbaik, perawan tercantik.
19 untuk
6 Dedes tetap tak bicara. Bedak dan mangir itu tak dapat menyembunyikan kepucatannya. Dada telanjangnya mulai [20]
dengan sutra terawang tenunan Mesir tipis laksana selaput kabut menyapu gunung kembar. Peniti pada seutas tali emas membikin sutra terawang itu menyangsang pada lehernya, Sebagian menutup rambut. Dan tali emas itu sendiri [21]
dilibatkan tiga kali pada leher untuk [22] jatuh pada perutnya.
Selembar sutra berselang-seling benang emas dan perak terkaitkan pada kondai dengan tusuk kondai, jatuh melalui kuping kiri ke atas pundak.
20 ditutup 21 kemudian 22 kemudian
7 Gedung pekuwuan itu dalam segala hal meniru istana Kediri, malahan tampak berusaha hendak mengatasi. Juga tatacara yang berlaku. Sepuluh tahun yang [23] Tumapel masih berupa desa sama dengan desa-desa lain. Kini gedung-gedung bermunculan seperti dari perut bumi. [24] berubah menjadi kota dan berates desa bawahannya berubah jadi kumpulan gubuk dan pondok bobrok. Tunggul Ametung Tumapel melambung naik jadi raja kecil, dengan kekuasaan tanpa batas, hanya takluk pada
Kediri.
23 lalu 24 Tumapel
8 Dua orang pengawal, [25] gerincing giring-giring, membuka tabir berat dari potongan ranting bambu petung, menghentakkan pangkal tangkai tombak sebagai penghormatan, membungkuk tanpa memandang pada Dedes.
25 mendengar
Delapan puluh langkah keluar dari keputrian iringan sampai di pendopo istana sang Akuwu. [26] orang prajurit berbareng meniup sangkakala. Dan keluarlah Tunggul Ametung dengan pakaian kebesaran, menandingi pakaian Sri Kretajaya. Ia diapit oleh barisan narapraja, kemudian diiringkan [27] pasukan pengawal, yang mendadak keluar dari samping-menyamping istana, menaikkan tombak dan menghentakkan pangkalnya ke lantai.
26 empat 27 oleh
9 Dua orang prajurit datang membawa dua ekor kuda [28] hiasan serba perak. Mereka mengangkat sembah kemudian mempersembahkan kuda mereka.
28 dengan
10 [29] meninggalkan pekuwuan, langsung menuju ke alun-alun. Dua orang prajurit itu menuntun kuda pengantin. Juga turun dan kuda Tunggul Ametung sendiri menolong pengantinnya, membimbingnya [30] tangga panggung. Janur kuning dan daun beringin menyambut kedatangan mereka. Dan rakyat yang menonton di seputar alun-alun itu hening tanpa sorak-sorai.
Para narapraja ikut naik ke panggung. Para pengiring berbaris bersua
di bawah.
29 setelahnya 30 mendaki