• Tidak ada hasil yang ditemukan

tugas 1 antropologi globalisasi

N/A
N/A
Iqbal Pamungkas

Academic year: 2023

Membagikan "tugas 1 antropologi globalisasi"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama: Muhammad Iqbal Pamungkas Nim: E071201007

Anthropology Globalization or Globalization Anthropology

1. Pendahuluan

Pada awal artikel ini, menjelaskan bahwa Artikel ini dilakukan oleh seorang Sosiolog dari Universitas Binghamton, New York, Amerika Serikat. Dia sebagai seorang yang menempuh ilmu Sosiologi, tetapi juga seorang yang suka menjelajahi ilmu-ilmu humaniora dan ilmu sosial lainnya. Menurutnya, masing-masing disiplin ilmu menjalankan keilmuannya sendirian, tidak melakukan komunikasi antardisiplin tentang apa yang telah dia temukan kemudian bergerak maju secara bersamaan. Seharusnya kita dapat saling belajar satu sama lain dengan mendobrak batasan-batasan keilmuan yang telah memotong antar ilmu sosial dan humaniora. Disiplin ilmu sosial dan humaniora seharusnya tidak mempunyai batasan-batasan keilmuan, malahan terdapat integrasi antara satu disiplin dengan disiplin lainnya. Namun, di sisi lain perlu memerhatikan tentang apa dan siapa dalam komunikasi tersebut. Saya sepakat dengan pendapat penulis bahwa sesama dalam rumpun ilmu sosial dan humaniora, seharusnya terdapat integrasi antar disiplin untuk memecahkan suatu masalah. Batasan-batasan yang memisahkan interdisiplin seharusnya menjadi jembatan menuju titik temu dalam ruang-ruang dialektis. Namun, yang perlu juga dperhatikan adalah tentang apa dan siapa berdiskusi mengenai hal itu. Terdapat beberapa orang yang kurang menerima atau bahkan meninggikan disiplin ilmunya sehingga ruang-ruang dialektis tidak terjadi.

Dalam artikel ini, penulis melihat bahwa sosiologi globalisasi tidak banyak mempelajari yang terjadi, maka dari itu dia melihat apakah ilmu antropologi berjalan lebih baik daripada itu. Dia terkesan dan sangat dipengaruhi oleh karya-karya etnografi, tetapi prihatin dengan konsepsi mengenai budaya yang mengabaikan basis material (fisik, lingkungan, dll) dan reproduksi manusia. Menurut Katz dan Csordas (2003) melihat kedua disiplin ilmu ini melakukan etnografi, namun berbeda dalam metodenya. Perbedaan yang paling mencolok adalah sosiologi jarang melakukan etnografi. Di sisi yang lebih kritisi, antropologi lebih unggul dalam melakukan etnografi karena pengalaman (empiris) atau pandangan subjektif, sementara sosiologi pada model atau struktur teoritis sebagai bentuk “kebenaran” dimana pengalaman lokal harus dijelaskan. Berbicara tentang indikator kebutuhan, ialah integrasi antardisiplin ini yang menggabungkan kekuatan antroplohgi sebagai spesifisitas budaya lokal dengan kekuatan sosiologi dalam analsis komparatif.

2. Isi

Sebanarnya tulisan ini sulit untuk dipahami karena artikel ini merupakan keluaran dari negara luar dan terdapat beberapa kalimat yang kurang dimengerti.

(2)

Menurut Eric Jones (2006: 33-36) yang mengacu pada perjalanan ke luar negeri menggantikan penyelidikan yang lebih dalam. Eric Jones melihat bahwa seseorang dapat belajar lebih banyak tentang (China) di perpustakaan Inggris daripada mengunjungi secara langsung di tempatnya, karena hal-hal yang dapat ditemukan di buku-buku tidak terlihat di lapangan dan buku menawarkan lebih banyak ide daripada yang bisa diimpikan. Seorang antropolog seharusnya terjun langsung ke lapangan untuk mengunjungi tempat-tempat, kemudian mengamati realitas- realitas sosial yang terjadi dibanding dengan belajar melalui buku-buku di perpustakaan. Hal seperti ini dalam antropologi dikenal dengan antropologi kursi yang dilakukan oleh Magareth Smith yang melakukan tulisan etnografi dengan menyatukan tulisan-tulisan oleh pegawai kolonial atau catatan para musafir. Fenomena ini menuai banyak perdebatan pro dan kontra dikalangan para antropolog bahwa menghilangkan substansi dari etnografi itu sendiri.

Kelemahan dalam sosiologi adalahh sumber daya yang masih sangat kurang atau studinya mungkin disalahgunakan, sementara menurut Lewellen (2002:30) mengklaim bawa studi antropologi jarang mengambil sudut pandang secara global, melainkan mempelajari dari dampak globalisasi dari kelompok tertentu. Maka dari itu, dampak utamanya dari globalisasi adalah menyediakan lapisan kontektualisasi yang dapat membuat etnografi semakin mendalam, bahkan terfokus pada suatu masalah. Menurut saya, sejatinya studi antropologi melihat fenomena dalam sudut pandang secara lokal atau kelompok-kelompok tertentu saja yang cakupannya tidak begitu luas, apalagi global. Ketika memahami maksud Lewellen, antropologi melihat pada dampak atau hasil dari globalisasi yang menjadikan etnografi semakin tajam. Meskpun begitu, menurut saya ketika pakai kacamata antrpologi dampak globalisasi hanya mampu sampai pada masyarakat komunal.

Saya tertarik untuk membahas pada salah satu kalimat dalam artikel ini bahwa relativisme budaya menyebabkan beberapa antropolog menghindari upaya untuk menetapkan hukum yang mirip sains (pasti) menyebabkan kurangnya kriteria untuk memvalidasi pernyataan sama sekali.

Dalam pernyataan ini menjelaskan bahwa prinsip relativisme budaya yang dianut oleh beberapa antropolog sukar untuk menentukan dan membuat validasi argumen-argumen. Pada dasarnya, antropolog seharusnya menggunakan prinsip relativisme budaya –baik buruk, benar salah, etis tidak etis—untuk menjelaskan masyarakat, bukan menentukan nilai yang ditelah disebutkan oleh penulis atau dalam istilah Antropologi adalah etnosentrisme. Dengan demikian, wajar bahwa seorang antropolog sulit untuk memvalidasi atau menentukan standard dalam suatu masyarakat dengan membandingkan masyarakat lainnya.

Pada bab Anna Tsing menjadi ikhtisar pada antropologi globalisasi dengan menganalisis tiga konsep-konsep yang berjalan, yaitu: futurisme (menamakan suatu era, baru, dan memprediksi kemajuan); penggabungan (berbagai proses, mekanisme, hubungan, dan tempat dalam bingkai global); dan sirkulasi pergerakan melintasi batas-batas). Terdapat kritiknya tentang antropologi, yakni berisiko kehilangan penemuannya yang baru terjadi interkoneksi global yang ada sejak lama. Pada penekanannya dalam interkoneksi budaya yang mengikat orang-orang di tempat yang jauh sehingga menciptakan budaya global. Saya rasa yang dimaksud

(3)

adalah orang-orang yang termasuk kedalam media sosial, forum online, dan lain-lain yang menciptakan budaya-budaya majemuk, multikultural, aau bahkan global. dalam hal ini, menurut Anna Tsing antropolog sering mengacuhkan perbedaan antara tempat dan kehilangan perspektif etnografis yang menjadikan antropologi berharga. Maka dari itu, disini Anna Tsing menegaskan bahwa globalisasi menurut ilmuwan lain seperti Hannertz, Kearney, dan Apparudai bahwa antropologi Globalisasi benar-benar berbeda jika dibandingkan dengan yang lain.

Dia menjelaskan bahwa penelitian dalam hal lokasi mash penting dan kita harus melihat tentang lanskap, sirkulasi, serta alirannyaa. Dia menggunakan analogi sungai, yakni kita terpesona oleh aliran air, kita melupakan saluran yang mengarahkan aliran, atau lanskap yang berisi saluran tersebut. Demikian pula dalam masyarakat, komunitas, dan hubungan sosial, kita kehilangan tentang pembuatan objek dari objek dan subjek yang bersikulasi, saluran dimana mereka bersikulasi dan elemen lanskap dimana saluran berada. Dalam pandangan saya, analogi yang ingin disampaikannya ialah aliran air sebagai fenomena masyarakat, saluran sebagai subjek atau objek dalam pembuatan fenomena, dan lanskap sebagai dimana mereka berada, baik itu kelompok, komunitas, atau masyarakat. Secara implisit, menurut penulis tema penting mengalir melalui definisi antropologi globalisasi secara umum. Antropoologi unggul dalam lanskap atau memahami suatu masyarakat, dan penting untuk meminjam beberapa alat ilmu sosial lainnya untuk memahami aliran dapat dilakukan dengan menerapkan etnografi.

Sementaara menurut Erikson, istilah globalisasi adalah kata yang sembarangan dan tidak setia atau selalu berganti yang berhubungan dengan berbagai hubungan-hubungan yang sebaiknya ditangani dengan menggunakan pendekatan yang lebih akurat. Terdapat banyak hal yang berada dalam ruang lingkup globalisasi dan tidak terdapat hal-hal yang spesifik. Maka dari itu, menurut Erikson, kekuatan Antropologi ialah kemampuannya untuk mengkonteptualisasikan kembali dan hal ini ampuh dengan melakukan berkonsentrasi pada aliran ide atau substansi yang meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang hadir dari globalisasi. Antropologi sangat kuat dalam mempeelajari dan menganalisis aliran yang aktual yang terlibat dalam globalisasi. Untuk itu banyak sosiolog yang mengambil apa yang disebut perbandingan menyeluruh dengan menggabungkan perbandingan yang membangun pemahaman tentang sistem dunia, bagian-bagiannya dan hubungannya kemudian mempelajari dan menghubungkannya antara satu dengan yang lainnya dibanding dengan mengamsumsikan kehadiran dan karakter mereka yang terbentuk dengan mekanisme dan proses yang diasumsikan.

3. Kesimpulan

Pada bagian ini, membahas mengenai disiplin-displin ilmu sosial dan humaniora dalam melihat globalisasi. Dalam hal ini, para sosiolog membahas dampak dari peningkaa globalisasi selama dua dekade terakhir dan kembali memerhatikan variasi dan sepsifikasi. Sementara, antropolog dan sejarawan memungkinkan untuk ditinggalkan dalam proyek pembangunan dalam model global serta kehilangan landasan dan jati diri studi mereka. Inti dari pembahasan ini yang penting bahwa kita menantikan antropologi globalisasi yang sebenarnya bukan hanya sekdar globalisasi

(4)

antropologi. Maksud yang dapat saya tangkap adalah globalisasi belum hadir dalam sub-disiplin ilmu antropologi atau belum menjadi fokus dalam antropologi, tetapi hanya meminjam alat displin ilmu lainnya untuk dapat mengkonseptualisasikan dari globalisasi. Dari padangan saya antropologi sukar untuk menjadi bagian dari studinya karena antropolog mempunyai prinsip relativisme budaya yang mana tidak dapat mengambil suatu nilai –baik buruk, benar salah— dan pasar yang pasti. Seolah-olah seorang antropolog dipaksa untuk menjadi seorang yang etnosentrisme dan menghilangkan jati dirinya sebagai orang yang relativisme.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dan.. tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut ; mempelajari masyarakat

Berdasarkan dari pemaparan dan pengkajian tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa; antropologi Islam adalah suatu ilmu yang mempelajari dan mengkaji tentang manusia

Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang variasi manusia baik dalam variasi sosial-budaya maupun variasi biologis yang ada di seluruh dunia, nantinya dua variasi

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan sejarah perkembangan sosiologi dan antropologi pendidikan dengan baik. Yang harus dikerjakan dan

Mempelajari ilmu antropologi, kita akan mempelajari tentang budaya masyarakat dalam memilih makanan sesuai budaya mereka, sesuai kebiasaan yang ada

Antropologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari umat manusia ( anthropos ). Secara etimologi, antropologi berasal dari kata anthropos berarti manusia dan logos

Perkembangan sosiologi antropologi pendidikan di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa

Mahasiswa yang mempelajari Antropologi Kesehatan juga dapat berperan untuk mengurangi ketidaksetaraan penanganan kesehatan pada masyarakat melalui perencanaan program kesehatan yang