• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

1

PENDAHULUAN

Sanggar Palito Nyalo berbeda dengan Sanggar-sanggar yang ada di Minangkabau.

Pada umumnya sebuah Sanggar merupakan milik pribadi dan tidak bertahan lama atau mati. Sanggar Palito Nyalo dikelola secara kelompok (masyarakat) di Limau Manih dan telah mampu bertahan selama 25 tahun lebih.

Nama Palito Nyalo diambil dari kata Palito yang menurut bahasa orang Minangkabau merupakan sebuah lampu minyak, dengan harapan mampu memberikan penerangan walaupun dalam ruang lingkup kecil dalam konsep kebudayaan.

Awal berdiri Sanggar Palito Nyalo hanya beranggotakan keluarga dan beberapa orang teman sesama sekolah dari anak Jamaluddin Umar. Sanggar ini sempat vakum beberapa waktu, yakni pada tahun 2000 sampai pada tahun 2007. Vakum disini maksudnya bukan mati, tetapi tidak mengikuti acara ke luar seperti acara festival yang diadakan oleh Balai Pelestarian Budaya Minangkabau. Acara latihan di dalam Sanggar masih tetap dilakukan, walaupun tidak begitu sering. Terhentinya kegiatan Sanggar Palito Nyalo disebabkan oleh para pengurus Sanggar Palito Nyalo ada yang mengajar kebudayaan Minangkabau di Luar Negeri di antara mereka adalah: Mak Katik dan Saparman.1

Sanggar Palito Nyalo juga mengadakan festival Randai di berbagai daerah dengan tujuan membangkitkan gairah sekolah melakukan berbagai kegiatan-kegiatan Sanggar. Keadaan ini menjadikan Kampuang Tuo dikenal sebagai wisata budaya Limau Manih. Sanggar Palito Nyalo mempunyai andil dalam melestarikan dan memperkenalkan Budaya Minangkabau pada masyarakat banyak, baik di lingkungan Minangkabau itu sendiri hingga sampai ke Luar Negeri seperti ke Hawai City Amerika Serikat.

1.Wawancara dengan Jamaludin Umar di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (27 Oktober 2014)

Sanggar Palito Nyalo ini telah mengagendakanuntukmemperkenalkanBudaya Minangkabau ke Luar Negeri satu kali dalam empat tahun selama enam bulan.2 Bukti dari dari Sanggar ini benar-benar menjadi pengajar ke luar negeri yaitu dengan adanya sertifikat yang diberikan kepada para pengajar yang diutus dari Sanggar Palito Nyalo. Di Kampuang Tuo para pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan seni Minangkabau dan mempelajari kebudayaan, sekaligus dapat memainkan permainan musik tradisional.

Kiprah Sanggar Palito Nyalo merupakan realitas dan fenomena yang menarik diteliti dan diangkat ke kertas sejarah.

Kelompok kebudayaan yang disediakan di Sanggar Palito Nyalo adalah kelompok pelatihan yang berisikan atau menyuguhkan beragam kesenian seperti: silek, saluang, randai, gandang, tambua dan lain-lain.

Inisiatif dari anggota Sanggar Palito Nyalo ini membagi kebudayaan tersebut dalam beberapa kelompok yang memiliki tujuan yang dikenal dengan4M,yaitumenggali,menumbuh,

mengembangkandanmelestarikankebudayaan Minangkabau..3

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:

1. Mendeskripsikan latar belakang berdirinya Sanggar Palito Nyalo 1989.

2. Mendeskripsikan proses perkembangan dari Sanggar Palito Nyalo tahun 1989-2012.

3. Mendeskripsikan Peran Sanggar Palito Nyalo dalam melestarikan budaya Minangkabau

Penulisan ini dimulai dari tahun 1989 Sanggar Palito Nyalo mulai berdiri yang di sahkan dengan akta berdirinya Sanggar Palito Nyalo.

Penelitian ini diakhiri pada tahun 2012, karena pada tahun ini Sanggar Palito

2 Wawancara dengan Hendri Yusuf di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih(27 Oktober 2014)

3 Nanda Anggara. Padang Ekpress, Kamis 9 Oktober 2014 (Pro Sumbar)

(3)

2

Nyalo telah dijadikan sebuah tujuan wisata dan sudah mengalami perkembangan yang pesat dengan adanya kerjasama antara Sanggar Palito Nyalo dengan Dinas Pariwisata Kota Padang

Tulisan atau penelitian mengenai sanggar ini memang sudah ada. Karya ilmiah tentang sanggar yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah:

Hendri Yusuf (2010) Skripsi Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang yang berjudul: Manajemen Seni Pertunjukan Randai Grup Palito Nyalo Kota Padang.

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana cara yang dilakukan untuk mendapatkan dana dan pengolahan dana dalam melestarikan Sanggar Palito Nyalo.4 Skripsi ini terutama berkontribusi dalam membagi pengetahuan tentang menajemen seni pertunjukan di Sanggar.

Tulisan Hamdhani (1999) Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang yang berjudul: Randai dan Tabu Suatu Kajian Simbolik (Studi Kelompok Randai Palito Nyalo Di Desa/ Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Pauh Kota Padang).

Tulisan ini menjelaskan bahwa dalam kelompok Palito Nyalo terdapat beberapa kelompok yang memiliki fungsi dan bidang- bidang yang berbeda, yang mana setiap bidang tersebut memiliki peran dan tugas yang berbeda yang disesuaikan dengan keahlian yang dimiliki oleh setiap kelompok tersebut.5 Kontribusi utama skripsi ini bagi penelitian penulis adalah pada simbol-simbol yang diperankan di kelompok randai di Palito Nyalo Tulisan Rika Amelia Hikmah (2008) Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas

4 Hendri Yusuf (2010). Manajemen Seni Pertunjukan Randai Grup Palito Nyalo Kota Padang. Skripsi Jurusan Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang

5 Hamdhani (1999). Randai dan Tabu Suatu Kajian Simbolik (Studi Kelompok Randai Palito Nyalo Di Desa/ Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Pauh Kota Padang).

Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang.

Negeri Padang yang berjudul: Sistem Pengelolaan Dan Kemasan Pertunjukan Pada Sanggar Tari Sofyani di Kota Padang. Tulisan ini membahas tentang bagaimana sistem atau pola pengelolaan Sanggar tari Syofyani dan bentuk-bentuk kemasan pertunjukan tari yang dilakukan oleh Sanggar tari Syofyani.6 Keberfungsian bagian-bagian dari system yang berlaku di Sanggar Tari Syofyani tersebut tentu penting adanya dalam melihat sumber perbandingannya dengan Palito Nyalo yang menjadi objek penelitian.

Tulisan Dasrul (2013) Thesis Fakultas Kajian Budaya Universitas Hudayana yang berjudul : Komodifikasi Pertunjukan Randai Pada Kelompok Seni Tradisi Palito Nyalo (1997-2008). Hasil penelitiannya pertunjukan kelompok palito nyalo sering tampil dalam mengisi acara-acara kesenian dan tampil dalam acara adat dan acara kesenian lainnya.7 Kontribusi utama penelitian Dasrul terutama pada upaya peneliti randai sebagai komoditas seni yang menggindakan.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau dengan empat tahap yaitu: Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi, dan Historiografi.

Pertama, heuristik yaitu mengumpulkan data atau sumber baik data primer maupun data sekunder yang dianggap relevan dan berhubungan dengan Sanggar Palito Nyalo.

Langkah kedua dari metode sejarah yang harus dilakukan setelah pengumpulan sumber adalah kritik sumber. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dari

6 Rika Amelia Hikmah (2008). Sistem

Pengelolaan Dan Kemasan Pertunjukan Pada Sanggar Tari Sofyani di Kota Padang. Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang.

7 Dasrul (2013). Komodifikasi Pertunjukan Randai Pada Kelompok Seni Tradisi Palito Nyalo (1997-2008). Thesis Fakultas Kajian Budaya Universitas Hudayana

(4)

3

sumber-sumber yang telah ada, sehingga melahirkan suatu fakta. Kritik ini dilakukan melalui dua cara yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal ditujukan untuk melihat atau meneliti kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasanya, kalimatnya, ungkapan kata-katanya, huruf dan semua penampilan luarnya.8 Kritik internal dilakukan untuk menguji kesahihan isi informasi sejarah yang terkandung di dalamnya.

Langkah ketiga setelah dilakukan kritik adalah interpretasi yaitu fakta yang diperoleh kemudian dianalisis dan diinterpretasikan dengan cara menghubungkan dan membandingkan fakta-fakta yang diteliti terhadap fakta yang disajikan. Dalam proses interpretasi penelitian ini didukung oleh wawasan teoritis sebagaimana terdapat dalam kerangka analisis. Ditahap interpretasi ini, seorang penulis atau sejarawan yang baik harus bisa subjektif dalam menentukan permasalahan.

Langkah keempat, historiografi yaitu penulisan dalam bentuk karya tulis ilmiah setelah diperoleh data dan fakta yang benar- benar akurat dan valid, barulah ditulis dalam bentuk skripsi.9

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendiri Sanggar Palito Nyalo menjelaskan pada bulan Januari 1989 Koto Panjang Limau Manih telah ramai oleh pendatang dari luar di antaranya yaitu pendatang yang berasal dari Pulau Jawa, Batam, Pekanbaru, Medan, Palembang Jambi bahkan ada juga yang berasal dari Kalimantan.

10 Mereka tidak saja berasal dari dalam Daerah Sumatera Barat, akan tetapi ada juga yang datang dari Daerah luar Sumatera Barat.

Mereka datang dengan berbagai macam tujuan dan keperluan. Pendatang tersebut ada yang

8 Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya. Hlm: 99

9Mestika Zed. 1999. Metodologi Sejarah. Padang. Jurusan Sejarah FIS UNP.

Hlm: 37-38

10 Wawancara dengan Djamaluddin Umar di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (15 Agustus 2015)

mencari nafkah hidupnya menjadi buruh bangunan dan ada yang datang menjadi pelajar di Universitas Andalas Kampus Limau Manih.

Banyaknya pendatang tersebut merupakan suatu hal yang wajar akan membawa perubahan pada berbagai macam sisi sosial, ekonomi dan kesenian di masyarakat setempat, di samping perubahan yang disebabkan arus era globalisasi.

Menyikapi hal tersebut timbul pemikiran pemuka masyarakat Koto Panjang seperti Sesepuh, Ninik Mamak, Pemuda Dan Pemerintah untuk mengantisipasi dampak negatif dari perubahan era globalisasi dan pembaruan tersebut, terutama pada sisi pemahaman nilai-nilai seni tradisi Minangkabau sebagai cerminan adat istiadat Minangkabau.11

Tindak lanjut dari keresahan tersebut adalah mencari solusi guna mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh kedua hal di atas, maka di adakanlah rapat Ninik Mamak dan pemuka masyarakat Koto Panjang dan Limau Manih. Rapat di adakan di kantor Balai Pemuda Koto Panjang pada tanggal 14 Maret 1989. Beberapa orang pemuka masyarakat yang menghadiri rapat tersebut adalah Sahur Mangkuto Sati selaku ninik mamak Limau Manih dan Agus Amir Dt.

Sulaiman selaku ketua KAN (Kerapatan Adat Nagari) Limau Manih. Dalam rapat tersebut dihadiri oleh sepuluh sampai tiga puluh orang.

Hasil rapat memutuskan untuk kembali menyemarakkan kelompok-kelompok seni tradisi Minangkabau yang ada di Limau Manih dan menghidupkan kembali aktifitas kesenian Minangkabau terutama dalam bidang sasaran silek dan sasaran randai ataupun mendirikan kelompok-kelompok kesenian tradisi baru. 12

Tindak lanjut dari hasil rapat tersebut di Koto Panjang adalah munculnya kelompok kesenian tradisi yang di pelopori oleh Djamaluddin Umar Rajo Kuaso dan kawan- kawan. Kelompok ini mulai beraktifitas

11 Wawancara dengan Moris di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (15 Agustus 2015)

12 Wawancara dengan Bukhari di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (15 Agustus 2015)

(5)

4

setelah mendapat persetujuan lisan dari ninik mamak dan KAN (Kerapatan Adat Nagari) Limau Manih. Aktifitasnya adalah pencak silek dan barandai. Kemudian pada pertengahan April 1989 di adakan musyawarah yang kedua. Pada musyawarah pertama yang dihadiri oleh Djamaluddin Umar dan kawan-kawan yaitu Lukman Datuak Rajo Lelo, Bakri, Amri, Safwan, Haus, Samsunir.

Yang mana hasil musyawarah tersebut menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya melahirkan semboyan kelompoknya yang dikenal dengan 4M yaitu : 1. Menggali, 2. Menumbuh, 3.mengembang, dan 4.

Melestarikan.13 Alasan diberi nama dengan 4M yaitu karena mereka ingin membangkitkan serta mengembangkan kembali nilai-nilai kesenian Minangkabau kepada generasi muda agar bisa terus berkembang.

Pada Tanggal 4 Agustus 1989 diadakan musyawarah yang ketiga. Yang dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat yaitu:

Hasil dari musyawarah yang kedua tersebut yaitu diresmikannya nama grup yang dipelopori oleh Djamaluddin Umar Rajo Kuaso dan kawan-kawan. Nama grup yang disepakati adalah Grup Kesenian Tradisi Minang ”PALITO NYALO”. Musyawarah langsung mengumumkan tanda resminya grup Palito Nyalo pada tanggal 4 Agustus 1989 sebagai sebuah lembaga pendidikan seni tradisi nonformal yang disahkan oleh ninik mamak dan KAN (Kerapatan Adat Nagari) Limau Manih. Sejak itu kelompok Palito Nyalo mulai melakukan aktifitas dengan menyandang identitas sebagai pelestari Budaya Minangkabau.

Sanggar Palito Nyalo pertama kali di dirikan pada tanggal 14 April 1989 oleh Jamaluddin Umar. Pada dewasa ini Sanggar Palito Nyalo diurus oleh Saparman sebagai Ketua, dibantu oleh sekretaris Zalimarni dan bendahara Yasirly Amrina, dengan delapan (8) orang koordinator dan tujuh belas (17) orang anggota.14

13 Wawancara dengan Dasril di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (15 Agustus 2015)

14Surat Keputusan Tentang Penetapan Susunan Pengurus Sanggar Palito Nyalo Dari

A. Perkembangan Sanggar Palito Nyalo dari tahun 1989 sampai 2012

Perkembangan Sanggar Palito Nyalo dari tahun ke tahun

Pada tahun 1989 sampai 1992 mengadakan pertunjukan randai di Kota Padang dalam acara pesta perkawinan

Tahun 1993 mengadakan festival randai Kota Padang. Mengikuti pergelaran randai di taman budaya Sumatera Barat. Tahun 1994 mengikuti acara festival randai BP7 ke II di gedung bagindo azis chan memperebutkan piala bergilir walikota Padang. Mengikuti acara hiburan pesta rakyat di bukit camintoran kota padang.

Tahun 2002 sampai 2012 menjadi panitia festival dalam rangka mengadakan festival randai se-Sumatera barat yang di ikuti 14 Kab/Kota se-Sumetera Barat. Menampilkan paket kesenian semalam di ranah minang di balai kota bogor. Tahun 2011 menjadi panitia festival pencak silat seni tradisi tingkat pelajar se-kota padang. Tahun 2012 mengikuti workshop dan coaching clinic pelaku seni pertunjukan untuk tata kelola dan kemasan seni pertunjukan di Jakarta.

B. Peran Sanggar Palito Nyalo Dalam Melestarikan Kebudayaan Minangkabu

Peran Sanggar Palito Nyalo dalam melestarikan kebudayaan Minangkabau yaitu mengembangkan berbagai macam jenis kesenian dari Daerah lain yang ada di Minangkabau.. Selain itu Sanggar Palito Nyalo juga ikut ambil bagian dalam melestarikan

Tahun 2012-2014 yakni : Koordinator : Bidang Randai : Zefri Gusrianaldi, Bidang Silat : Dasril, Bidang Tari : Hendri Yusuf, Bidang Musik : Julian Hanggara, Bidang Pidato Adat :Syafrizal, A, Bidang Seminar/

workshop : Jefri, Perlengkapan :Alhadi Yuliwardi, Humas dan Dokumentasi : Deden Sanjaya. Anggota : Doni Hardiansyah, Wendra, Duke, Seprihandika, Jawahir, Hendra, Yelma, Muhammad Ihsan, Abdullah Rajabsani, Tajri Fibahri, Taufik, Gusnil Adinata, Teguh Yulio Pratama, Lhara Prosa, Lukluil Magnum, Aldi, Neneng.

(6)

5

kesenian tersebut agar tidak punah. Tujuan awalnya Sanggar Palito Nyalo ini yaitu untuk melestarikan kebudayaan Minangkabau dan menghindarkan generasi muda dari kegiatan yang negatif.15 Dalam melestarikan kebudayaan tersebut di Daerah Kampuang Tuo Kelurahan Limau Manih tepatnya di Bukit Camintoran dapat ditemukan juga adanya keahlian para perajin seperti perajin seruling dan bansi.

Peran lain dari Sanggar Palito nyalo ini adalah turut aktif membantu pemerintah dalam membina dan mengembangkan seni budaya khususnya seni budaya Minangkabau.

Sehingga terciptanya generasi muda yang memahami seni budaya sendiri.

Agar bisa mendapatkan kemampuan yang maksimal. Maksud belajar kepada orang lain yaitu adanya anggota Sanggar Palito Nyalo yang pergi menuntut ilmu kesenian Minangkabau seperti ada yang pergi ke Alahan Panjang, Bukittinggi, bahkan ada juga yang datang ke Maninjau untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.16

KESIMPULAN

Latar belakang berdirinya Sanggar Palito Nyalo yaitu di prakarsai oleh masyarakat Koto Panjang yang ingin mempertahankan kesenian tradisi Minangkabau agar tidak hilang karena perkembangan zaman yang menimbulkan dampak negatif dari perubahan era globalisasi.

Pendiri Sanggar Palito Nyalo Djamaluddin umar menjelaskan pada bulan Januari 1989 Koto Panjang Limau Manih telah ramai oleh pendatang. Mereka tidak saja berasal dari dalam Daerah Sumatera Barat, akan tetapi ada juga yang datang dari Daerah luar Sumatera Barat. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukanlah musyawarah selama tiga kali sehingga memunculkan kelompok kesenian tradisi yang di pelopori oleh Djamaluddin Umar Rajo Kuaso dan kawan-kawan

15 Wawancara dengan Djamaluddin Umar di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (02 Juni 2015)

16Wawancara dengan Hendri Yusuf di Koto Panjang Kelurahan Limau Manih (15 Agustus 2015)

Perkembangan yang pesat membuat Sanggar Palito Nyalo di kenal oleh masyarakat luas tidak hanya Kota Padang saja melainkan sampai ke daerah-daerah lain bahkan nama Sanggar Palito Nyalo telah menembus hingga ke Mancannegara bahkan telah mencapai internasional. mendapatkan penghargaan terbaik sebagai kelompok kesenian Minangkabau dari pemerintah Kota Padang pada tahun 2012. Hal tersebut membuat Dinas Pariwisata Kota Padang untuk melakukan kerjasama dengan Sanggar Palito Nyalo.

Peranannya Sanggar Palito Nyalo menggunakan istilah 4M yaitu : menggali, menumbuhkan, mengembangkan dan melestarikan Kebudayaan Minangkabau.

Adanya perkembangan yang pesat membuat Sanggar Palito Nyalo dikenal oleh masayarakat luas tidak hanya Kota Padang saja melainkan sampai kedaerah-daerah lain bahkan nama Sanggar Palito Nyalo telah menembus hingga ke Mancannegara. Bahkan peran sanggar ini dalam melestarikan kebudayaan Minang telah mencapai Internasional, orang yang diutus oleh Sanggar Palito Nyalo menjadi pengajar di Hawai City Amerika serikat.

DAFTAR PUSTAKA A. Arsip

Akta Berdirinya Sanggar Palito Nyalo Arsip Struktur Sanggar Palito Nyalo

Arsip Daftar Kepengurusan Sanggar Palito Nyalo

Arsip Sanggar Palito Nyalo

Arsip Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga Sanggar Palito Nyalo

Koran Padang Ekpress (Pro Sumbar). Ananda Anggara. Kamis 9 Oktober 2014 Piagam Penghargaan Dari Wali Kota Padang.

Deputi Bidang Pemberdayaan Dan Olahraga

B. Buku

(7)

6

A.A. Navis. 1994. Alam Takambang Jadi

Guru. Jakarta: Grafitri

Azinar Sayuti,dkk.1979. Perkembangan Seni Bela Diri Tradisional Di Sumatera Barat. Jakarta : Proyek Penelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah

Abu Ahmadi. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Adriyetti Amir. Khairul Anwar. Zuriati. 2006.

Pemetaan sastra lisan minangkabau.

Padang : Andalas University

Chairul Harun.1992. Kesenian Tradisi Di Minangkabau. Jakarta : Mendikbud Edi Sedyawati.2006. Budaya Indonesia Kajian

Arkeologi, Seni Dan Sejarah. Jakarta : PT Raja Grafindo

H.B Datuk Tumbidjo.1979.Minangkabau Dalam Seputar Seni Tradisional.

Padang : Majalah Kebudayaan Minangkabau. Sumatera Barat : Gajah Mada University Pers

Helius Sjamsuddin. 2007. Metodologi Sejarah.

Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Luis Gottschalk. 2006. Mengerti Sejarah.

Jakarta: UI

Mursal Esten.1993. Minangkabau Tradisi Dan Perubahan. Bandung : Angkasa Raya Mohammad Neti Imran.1998. Naskah Tari

Randai Dan Piawai. Yogyakarta : Fakultas Kesenian Institute Seni Indonesia

Mursal Esten1999. Kajian Tranformasi Budaya. Bandung : Angkasa Raya Mursal Esten. 1993. Minangkabau Tradisi dan

Perubahan. Padang: Angkasa

Mestika Zed. 1999. Metodologi Sejarah. UNP:

Pers

Tim Prima Pena. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Gitamedia Press.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta : Balai Pustaka

Zulkarnaini.1995.Minangkabau Ranah Nan Den Cinto, Budaya Alam Minangkabau.

Bukittinggi : Usaha Iklas

Soerjono Soekanto. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Zusmelia. et al. 2008. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. Program Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat, dikeluarkan oleh Prodi Pendidikan Sejarah

C. Skripsi

Hamdhani (1999). Randai dan Tabu Suatu Kajian Simbolik (Studi Kelompok Randai Palito Nyalo di Desa/

Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Pauh Kota Padang). Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang.

Hendri Yusuf (2005). Manajemen Dalam Sanggar Palito Nyalo. Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang.

Rika Amelia Hikmah (2008). Sistem Pengelolaan Dan Kemasan Pertunjukan Pada Sanggar Tari Sofyani di Kota Padang. Skripsi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Negeri Padang

D. Thesis

Dasrul (2013). Komodifikasi Pertunjukan Randai Pada Kelompok Seni Tradisi Palito Nyalo (1997-2008). Thesis Fakultas Kajian Budaya Universitas Hudayana

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan temuan penelitian bentuk-bentuk masalah sosial yang terdapat dalam novel Kapak karya Dewi Linggasari yaitu: kemiskinan, kejahatan, disornigasi keluarga, masalah generasi

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data, mengolah, menganalisis dan membahas tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Lahan Rawan Longsor Bukit Kancai Nagari Pulasan