1
2
FACTORS OCCURRENCE OF ILLEGAL LOGGINGINPULASAN VILLAGE TANJUNG GADANG SUBDISTRICT
SIJUNJUNG DISTRICT By :
Dwi Novembria Kartika*Bakaruddin**Rika Despica**
Geography Education College Student STKIP PGRI Western Sumatera*
Geography EducationLecturers of STKIP PGRI Western Sumatera**
ABSTRACT
This research is to find out data or information, discuss and analyze the factors of occurrence of illegal loggingIn Pulasan Village Tanjung Gadang SubdistrictSijunjung District, seen from intern factors (economy, education, science, and family) and extern factors (environment or the influence of friends).
Type research is a qualitative intends to reveal the factors of illegal logging.The technique of taking informants by Snowball Sampling (snowball).Begins by selecting key informants, and conduct interviews with the person, then asked direction, advice, guidance informant who should be the next who has the knowledge, experience, information in the search,and to then performed in the same manner, in order to obtain a lot of information. Time the research was conducted from June 15 to July 15, 2015. Data was collected through observation, interviews and documentation.
Results of research in the field as follows:that the factors occurrence of Illegal Loggingin Pulasan Village Tanjung Gadang SubdistrictSijunjung District,caused by two factors:1) Intern factors,namely: a) The economic problem, because by working as illegal logging, the income received by illegal loggers on average amounted to Rp. 250.000, - until Rp.500.000, - per week.b) Low of education, recent education were mostly illegal loggersis a primary school graduate. Cause to low education also affects the behavior and way of thinking illegal loggers.c) Low Knowledge, illegal loggers were mostly not aware of the benefits and functions of the forest. d) family, the illegal loggers were mostly doing illegal logging is not hereditary from the previous family. 2) Extern factors are environmental, in Pulasan Village were mostly illegal loggers perform illegal logging is on the desire or willingness of the actors themselves are not influenced or persuaded by their friends.
Keyword: Illegal Logging, internfactors and extern factors.
3
FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA ILLEGAL LOGGINGDI NAGARI PULASAN KECAMATAN TANJUNG GADANG
KABUPATEN SIJUNJUNG Oleh:
Dwi Novembria Kartika*Bakaruddin**Rika Despica**
Mahasiswa Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat*
Dosen Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat**
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi, membahas dan menganalisa tentang faktor-faktor Terjadinya Illegal Logging Di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung, yang dilihat dari faktor intern (ekonomi, pendidikan, pengetahuan, dan keluarga) dan faktor ekstern (lingkungan atau pengaruh dari teman).
Jenis penelitian ini adalah Kualitatif bermaksud mengungkapkan kajian faktor-faktor terjadinyaillegal logging. Teknik pengambilan informan dengan cara Snowball Sampling (bola salju). Dimulai dengan memilih informan kunci dan melakukan kegiatan wawancara terhadap orang tersebut, kemudian diminta arahan, saran, petunjuk siapa sebaiknya yang menjadi informan berikutnya memiliki pengetahuan, pengalaman, informasi yang di cari, dan untuk selanjutnya dilakukan dengan cara sama, sehingga diperoleh informasi yang banyak. Waktu penelitian dilakukan mulai dari tanggal 15 Juni sampai dengan 15 Juli 2015.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian di lapangan sebagai berikut: Bahwa faktor-faktor Terjadinya Illegal Logging Di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung, disebabkan oleh dua faktor yaitu: 1) Faktor Intern yaitu: a) Masalah ekonomi, karena dengan bekerja sebagai illegal Logging, pendapatan yang diterima pelaku illegal logging rata-rata berjumlah Rp. 250.000,- sampai Rp.500.000,- perminggu. b) Rendahnya pendidikan, kebanyakkan pendidikan terakhir para pelaku illegal Logging adalah tamatan Sekolah Dasar. Karena pendidikan yang rendah juga mempengaruhi tingkah laku dan cara berfikir pelaku illegal logging. c) Rendahnya Pengetahuan,pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan tidak mengetahui manfaat dan fungsi dari hutan tersebut. d) Keluarga, pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan melakukan illegal logging tersebut tidak secara turun-temurun dari keluarga sebelumnya. 2) Faktor Ekstern adalah lingkungan, di Nagari Pulasan kebanyakkan pelaku-pelaku illegal logging yang melakukan illegal logging adalah atas keinginan atau kemauan dari pelaku- pelaku itu sendiri tidak dipengaruhi atau diajak oleh temannya.
Keyword: Illegal Logging, Faktor Intern dan Faktor Ekstern.
4
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki hutan terluas didunia yang berguna melindungi dan menjaga ekosistem yang ada, Pemerintah memiliki lembaga dan undang- undang yang mengatur tentang hal ini. Namun pada kenyataannya meskipun ada peraturan dan perundang-undangan tersebut masih banyak ditemukan praktek-praktek kejahatan antara lain seperti: penebangan liar.
MenurutBambang dan Anis (2011:592-593) illegal logging adalah rangkaian kegiatan penebangan dan pengangkutan kayu ketempat pengolahan hingga kegiatan ekspor kayu tidak mempunyai izin dari pihak yang berwenang sehingga tidak sah atau bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku, oleh karena dipandang sebagai suatu perbuatan yang dapat merusak hutan.
Unsur-unsur yang terdapat dalam kejahatan illegal logging tersebut antara lain: adanya suatu kegiatan, menebang kayu, mengangkut kayu, pengolahan kayu, penjualan kayu, pembelian kayu, dapat merusak hutan, ada aturan hukum yang melarang dan bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku.
Menurut Kusmayadi (2013:6) essensi yang penting dalam praktek penebangan liar (illegal logging) ini adalah perusakan hutan yang akan berdampak pada kerugian baik dari aspek ekonomi, ekologi, maupun sosial budaya. Oleh karena kegiatan itu tidak melalui proses perencanaan secara komprehensif, maka illegal logging memiliki potensi merusak hutan yang kemudian berdampak pada perusakan lingkungan.
Berdasarkan hasil pengamatan awal yang penulis lakukan di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung, penulis menduga faktor-faktor terjadinya illegal loggingdi Nagari Pulasan adalah masyarakat yang melakukan praktik Illegal logging yaitu menebang kayu di hutan, hutan yang bukan milik masyarakat dengan menggunakan gergaji mesin (disenso). Ini dikarenakanadanya masalah ekonomi, rendahnya pendidikan,rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap pemanfaatan dan fungsi dari hutan, dan adanya faktor dari keluarga (tidak turun-menurun) yang bekerja sebagai penebang kayu, serta pengaruh faktor lingkungan. Faktor lingkungan di sini yaitu adanya pengaruh dari teman yang mengajak untuk melakukan kegiatan tersebut. Jadi masyarakat di Nagari tersebut banyak terbawa oleh
lingkungan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat tersebut
.
Adanya berbagai kasus di daerah di mana seseorang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi menebang, mengambil membawa dan memanfaatkan sebatang kayu dari hutan tanpa izin pejabat yang berwenang dikenakan tindak pidana illegallogging bila dikaitkan dengan tujuan pemidanaan menimbulkan permasalahan yang dihubungkan dengan tujuan penanggulangan kejahatan (criminal policy) sebagai upaya perlindungan masyarakat untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare), serta peran-peran dari pemerintahan yang berwajib seperti polisi kehutanan tidak berjalan secara efektif karena kurangnya pengawasan terhadap kawasan hutan sehingga pelaku dengan mudah melakukan kegiatan tersebut. Sedangkan peran polisi hutan (Polhut) sangat penting sebagai bagian dari kegiatan pengelolahan hutan yang bersifat pre emtif, preventif, represif, dan yudisif.
Sehubungan dengan permasalahan di atas maka, dengan demikian penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: “Faktor- Faktor Terjadinya Illegal Logging di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung”
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian Kualitatif. Hal ini senada dengan pendapat Moleong (2010:6), bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian minsalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada satu konteks khusus yangalamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Informan penelitian ini diambil secara Snowball Sampling(Bola Salju), dimana Snowball Sampling ini adalah teknik penentuaninforman yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.Dalam penentuan informan, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya,
5
sehingga jumlah informan semakin banyak (Sugiyono, 2013:85).
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan cara sebagai berikut: observasi, wawancara dan dokumentasi.
HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, maka hasil tersebut di atas akan dibahas lebih lanjut dalam bentuk uraian pembahasan faktor-faktor terjadinya illegal logging di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung.
Pertama, Faktor Intern terjadinya illegal logging di Nagari Pulasan yaitu: a) Masalah ekonomi, karena dengan melakukan pekerjaan sebagai illegal logging, para pelaku illegal logging tersebut telah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya seperti: sandang, pangan, dan papan. Pendapatan yang diterima oleh pelaku yang melakukan illegal logging tersebut rata-rata Rp. 250.000,- sampai Rp.500.000,- perminggu. Dengan pendapatan tersebut telah melebihi dari pendapatan yang diterima dari pekerjaan lainnya seperti: petani, motong karet dan mempunyai warung-warung kecil. Sedangkan penghasilan pekerjaan lainnya adalah sebesar Rp. 200.000,- kebawah. Dengan demikian masyarakat di Nagari Pulasan tersebut lebih memilih untuk bekerja sebagai illegal logging karena telah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sutarni dalam Rinova (2013:51) tingkat pendapatan merupakan semua barang, jasa yang diterima oleh seseorang atau golongan masyarakat dalam jangka waktu tertentu. Tinggi rendahnya pendapatan akan dipengaruhi terhadap bentuk-bentuk kehidupan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Semakin tinggi pendapatan semakin banyak kebutuhan yang dipenuhi, karena pendapatan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan primer saja tetapi kebutuhan lain juga terpenuhi.
b) Rendahnya pendidikan, karena dengan tinggi rendahnya pendidikan akan mempengaruhi pola tingkah laku dan pemikiran seseorang. Pelaku yang melakukan illegal logging tersebut tidak mengetahui dampak yang akan terjadi akibat kegiatan illegal logging, baik terhadap lingkungan maupun diri sendiri. Terhadap lingkungan seperti:
kurangnya daerah resapan air, global warming, erosi dan lain-lain, serta terhadap diri sendiri seperti: bisa menyebabkan kehilangan nyawa apabila kayu yang ditebang menimpa dirinya sendiri. Para pelaku illegal logging hanya mementingkan uang saja daripada dampak yang akan terjadi dikemudian hari. Dan juga kurang mengetahui kawasan-kawasan hutan yang dilindungi Pemerintah. Sehingga apabila Pemerintah mengetahui hal tersebut bisa ditangkap bagi pelaku yang melakukan illegal logging tersebut. Hal ini dikarenakan rendahnya pendidikan
pelaku-pelaku yang melakukan illegal logging dan kebanyakan pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Dasar.
Hal ini sesuai dengan pendapatHamdani (2011: 42) pengembangan pendidikan masyarakat di arahkan pada pembentukan perilaku sosial yang dinamis, yaitu masyarakat yang responsif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan sehingga perubahan perilaku sosial tidak dapat dibendung. Dalam pengembangan pendidikan sosial yang secara langsung berhadapan dengan realitas kebutuhan masyarakat yang kompleks, sedangkan status sosial dan ekonomi masyarakat tidak sama sehingga pendidikan sosial berkembang dan dicernatanpa ada yang memfilternya, kecuali masyarakat atau individu masing-masing.
c) Rendahnya Pengetahuan, pengetahuan tidak harus didapatkan melalui pendidikan. Tetapi, bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap alam dan peristiwa atau kejadian yang terjadi di sekitar kita. Karena dengan pengetahuan yang rendah pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan tidak mengetahui manfaat dan fungsi dari hutan tersebut.Hutan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, karena hutan merupakan paru-paru dunia. Dimana hutan berfungsi untuk menyaring racun yang dikeluarkan oleh tubuh manusia (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2) yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Dan hutan juga merupakan perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan lain-lain.
Hal ini sesuai dengan pendapat Jalaludin (2013:87) Proses memperoleh pengetahuan ini terkesan sangat sederhana. Dimulai dari pengamatan terhadap gejala alam ataupun peristiwa yang terjadi di sekitar.Kemudian dicari hubungan sebab-akibat, lalu diambil kesimpulan.Tanpa dilakukan analisis dan pengujian lebih lanjut berdasarkan prosedur keilmuan.Oleh karena itu kesimpulan yang diambil mungkin saja bersifat kebetulanatau kebenaran yang berlaku sesaat. Bisa saja pada fenomena dan peristiwa yang sama, suatu saat memang benar, tapi dikali yang lain dan ditempat lain, ternyata hasilnya berbeda. Hasil kesimpulan sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya secara empiris.
d) Keluarga atau karena turun-temurun, disini maksudnya seseorang dalam keluarga melakukan suatu pekerjaan berdasarkan turunan atau turun-menurun dari keluarga sebelumnya. Di mana suatu keluarga akan mengikuti jejak dari keluarga sebelumnya. sehingga akan berkembang terus-menerus. Di Nagari Pulasanpelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan melakukan illegal logging tersebut tidak secara turun-temurun dari keluarga sebelumnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Narwoko dan Suyanto (2011:92) keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap
6
proses sosialisasi manusia.keluarga merupakan kelompok primer yang selalu tatap muka di antara anggotanya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya.
Kedua, Faktor Ekstern terjadinya illegal logging di Nagari Pulasan yaitu: karena lingkungan, lingkungan dimaksud adalah adanya pengaruh dari teman yang mengajak untuk melakukan illegal logging tersebut. Di Nagari Pulasan kebanyakkan pelaku-pelaku illegal logging yang melakukan illegal logging adalah atas keinginan atau kemauan dari pelaku-pelaku itu sendiri, dan tidak disebabkan oleh ajakan atau pengaruh dari teman untuk melakukan illegal logging tersebut. Dan di Nagari Pulasan juga mempunyai kondisi alam (Hutan) yang memadai sehingga terbukanya peluang bagi pelaku-pelaku illegal logging untuk melakukan illegal logging.
Hal ini sesuai dengan pendapat Beroya (2000) dalam Bagus (2013:36)mendefenisikan lingkungan sebagai segala sesuatu yang melingkupi organisme yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya, pada saat yang sama juga dapat mempengaruhi lingkungannya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah melakukan penelitian dan menganalisis masalah yang telah dituliskan pada bab-bab sebelumnya maka diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor terjadinya illegal loggging di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung sebagai berikut:
1. Faktor Intern terjadinya illegal loggging di Nagari Pulasan adalah sebagai berikut: a) Masalah ekonomi, karena dengan melakukan pekerjaan sebagai illegal logging, para pelaku illegal logging tersebuttelah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya seperti: sandang, pangan, dan papan. Dan pendapatan tersebut telah melebihi dari pendapatan yang diterima dari pekerjaan lainnya. b) Rendahnya pendidikan, pelaku-pelaku yang melakukan illegal logging tersebut pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Dasar. Dengan pendidikan yang rendah pelaku-pelaku tersebut tidak mengetahui dampak yang akan terjadi akibat kegiatan illegal logging, baik terhadap lingkungan maupun diri sendiri dan kawasan- kawasan hutan yang dilindungi pemerintah. c) Rendahnya pengetahuan, Karena dengan pengetahuan yang rendah pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan tidak mengetahui manfaat dan fungsi dari hutan tersebut. d) Keluarga, Di Nagari Pulasan pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan melakukan illegal logging tersebut tidak secara turun- temurun dari keluarga sebelumnya.
2. Faktor ekstern terjadinya illegal loggging di Nagari Pulasan adalah lingkungan dimaksud
adalah adanya pengaruh dari teman yang mengajak untuk melakukan illegal logging tersebut, pelaku-pelaku illegal logging kebanyakkan yang melakukan illegal logging adalah atas keinginan atau kemauan dari pelaku-pelaku itu sendiri, dan tidak disebabkan oleh ajakan atau pengaruh dari teman untuk melakukan illegal logging tersebut. Dan di Nagari Pulasan juga mempunyai kondisi alam (Hutan) yang memadai sehingga terbukanya peluang bagi pelaku-pelaku illegallogging untuk melakukan illegal logging.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat di sarankan sebagai berikut:
1. Di harapkan kepada Dinas Kehutanan Kabupaten Sijunjung melakukan peninjauan kembali hutan khususnya hutan yang berada di Nagari Pulasan Kecamatan Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung.
2. Di harapkan kepada Pemerintah dan masyarakat secepatnya menerapkan sangsi hukum dan menangkap bagi masyarakat yang melakukanillegal Logging. Dan selalu menjaga hutan dan tidak menggunakan hasilnya sebagai kebutuhan ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, ArjanaPutri. 2013. Geografi Lingkungan.
Jakarta : Rajawali.
Bambang dan Anis. 2011. Penegakan Hukum Pidana di Bidang Illegal Logging Bagi Kelestarian Lingkungan Hidup dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal Hukum.
2(XXVI). Hlm. 592-593.
Hamdani. 2011. Dasar Dasar Kependidikan.
Bandung: Pustaka Setia.
Jalaluddin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kusmayadi, Hendro. 2013. Penegakan Hukum dalam Penyidikan terhadap Tindak Pidana Peredaran kayu tanpa Izin Di Wilayah Polres Berau. Jurnal Hukum.
Hlm 1-15.
Moleong, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Narwoko, J Dwi dan Suyanto Bagong. 2011.
Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Kencana
Rinova, devi. (2013). Penyebab Tamatan SMA/Sederajat Tdak Dapat Melanjutkan
7
Keperguruan Tinggi di Nagari aie Tajun Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Pendidikan Geografi:
STKIP PGRI Sumatera Barat.
Sugiyono. 2013. MetodePenelitian Kuantitatif Kualitatif dan R dan D. Bandung:
Alfabeta.