• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of OTAK RASIONAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of OTAK RASIONAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

OTAK RASIONAL, EMOSIONAL DAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Nadya Erchan1, Suyadi2

1,2 Universitas Ahmad Dahlan

Corresponding Author: Nadya Erchan, E-mail: [email protected]

ARTICLE INFO Article history:

Received 12, Agustus, 2023

Revised 27, Agustus, 2023

Accepted 05, September, 2023

ABSTRAK

Penelitian tentang kecerdasan rasional, kecerdasan emosional dan juga kecerdasan spiritual sudah banyak di ulas oleh para peneliti. Namun, penelitian tentang otak rasional itu sendiri belum banyak di ketahui. dalam hal ini penggunaan tiga fungsi otak diharapkan mampu menjadi wajah baru dalam upaya memperluas insan cendikiawan yang memiliki daya nalar optimal. Artikel jurnal ini menggunakan metode studi literatur menggunakan berbagai macam sumber, jurnal buku dan juga internet yang mengkaji tentang daya fungsi otak terhadap pendidikan agama Islam. Artikel ini mengulas berbagai tindakan pelaksanaan yang dilakukan dalam upaya menggunakan tiga fungsi otak secara optimal dalam pembelajaran ilmu agama Islam. Optimalisasi daya fungsi otak ini diharapkan mampu menjadi pemicu perkembangan ilmu pendidikan Islam yang lebih luas lagi serta menjadikan pembelajaran agama Islam sebagai pembelajaran yang menarik dan diminati.

Kata Kunci: Fungsi Otak, Daya Pikir, Pendidikan Agama Islam

How to Cite :Nadya Erchan, Suyadi. TAJDID: Otak Rasional, Emosional dan Spiritual Dalam Pendidikan Agama Islam Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 7 (2), 1-11

DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid.v7i1.1851

Journal Homepage : https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/tajdid This is an open acc ess article under the CC BY SA license

:https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

PENDAHULUAN

lmu pendidikan memiliki perkembangan yang begitu pesat, hal ini juga disebabkan dari semakin majunya ilmu pengetahuan dan juga teknologi yang memberikan dampak terhadap ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan memiliki perhatian tersendiri di kalangan cendikiawan dan juga masyarakat, sejauh ini kebanyakan masyarakat tertarik untuk memperhatikan ilmu pendidikan sebagai dasar pengetahuan 1. Pendidikan merupakan upaya sadar dan juga sistematis yang dilakukan dengan tujuan menciptakan kondisi dan lingkungan dalam menuntut ilmu, serta proses belajar dan mengajar dengan

1 Lalu Abdurrahman Wahid, “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM BERBASIS PENGEMBANGAN POTENSI OTAK MENGGUNAKAN TEORI

NEUROSCIENCES,” Https://Medium.Com/ 15 (2022): 54–70.

I

(2)

upaya menumbuh kembangkan kemampuan peserta didik untuk membentuk karakter, dan juga penguasaan diri 2. Perhatian masyarakat terhadap pendidikan tidak terlepas juga dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mulai mendapat tempat penting bagi masyarakat. Pendidikan karakter dalam pendidikan harus mendapat tempat dalam semua kegiatan sekolah 3.Pendidikan Agama Islam merupakan pembelajaran yang dilakukan untuk mentrasfer ilmu pengetahuan yang meliputi aspek keagamaan (kognitif), aspek perilaku (aspek afektif), dan juga sikap (psikomotorik) untuk membentuk karakter manusia dengan utuh 4. Pendidikan Agama Islam tentu memiliki dua pilar penting sebagai rujukan dan juga pedoman dalam mengembangkan dan juga mengajarkan pengetahuan dua pilar tersebut adalah Al-Qur‟an dan Hadist 5. Tentu saja, pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam tidak berjalan dengan mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pendidik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang tidak membosankan dan juga menanamkan pengetahuan dengan cara yang inovatif 6.

Proses kognitif yang terhubung dengan kecerdasan dasar diperlukan untuk belajar. Kecerdasan rasional sering menggunakan keterampilan verbal, logis, dan matematika. Namun, efektivitas seseorang dalam situasi sosial tidak dapat diprediksi menggunakan kecerdasan logis atau kecerdasan intelektual (IQ) seseorang sehingga banyak orang yang memiliki IQ rata-rata namun dia menjadi seseorang yang sukses apabila ingin terus belajar, namun begitu juga sebaliknya banyak orang yang memiliki IQ diatas rata-rata bahkan kalah akan persaingan dunia pekerjaan karena biasanya menganggap sesuatu sepele. Maka dari itu dasar pendidikan agama Islam di sekolah harus dilakukan dengan cara yang kreatif dan juga mengembangkan kemampuan peserta didik, diperlukannya salah satu gagasan pembaharuan pembelajaran yang menarik, salah satunya dengan memanfaatkan fungsi otak untuk menciptakan daya tarik otak dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilakukan 7.

Sejauh ini pemanfaatan fungsi otak belum begitu diperdaya gunakan dengan baik, pembahasan keterkaitan pembelajaran pendidikan agama Islam ini cenderung hanya berfokus pada daya guna otak rasional saja 8, sehingga itu diperlukannya perpaduan antara dua jenis daya pikir otak lainnya yaitu otak emosional dan juga otak spiritual. Pemanfaatan daya pikir otak ini tentu saja hal yang penting dalam dunia pendidikan untuk mengoptimalkan kepribadian peserta didik dalam menerima ilmu

2 Abd Rahman et al., “Pengertian Pendidikan, Ilmu Pendidikan Dan Unsur-Unsur Pendidikan,” Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2, no. 1 (2022): 1–8.

3 Arip Nurrahman and Ardy Irawan, “Analisis Tingkat Karakter Religius Siswa Sekolah Menengah Pertama,” Al-TA’DIB 12, no. 2 (2020): 171, https://doi.org/10.31332/atdbwv12i2.1575.

4 Dewi Mutmainnah, “Peran Mpk Pai Dalam Membangun Karakter Mahasiswa Stiesia Surabaya,”

Jurnal Piwulang 1 (2019): 105–20.

5 Ghea Silviana Putri and Asif Az-Zhafi, “KONSEP BELAJAR PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR‟AN DAN HADITS,” TARBIYA ISLAMIA: Jurnal Pendidikan Dan Keislaman 10, no. 1 (2020): 34–45, https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.327.

6 A Arifuddin and A R Karim, “Konsep Pendidikan Islam; Ragam Metode PAI Dalam Meraih Prestasi,” Didaktika: Jurnal Kependidikan 10, no. 1 (2021): 13–22.

7 Salmiwati Salmiwati, “Konsep Belajar Dalam Perspektif Pendidikan Islam,” Murabby: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2019): 34–45, https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.327.

8 Surindi, “Pendidikan Agama Islam Ramah Otak Sebagai Upaya Pembelajaran Yang Memberdayakan,” Jurnal Pendidikan 10, no. 3 (2020): 248–53.

(3)

pengetahuan. Dalam pandangan filsafat pendidikan Islam menjelaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya bertujuan membentuk karakter manusia yang dapat mengembangkan seluruh potensinya yaitu otak manusia 9.

Penelitian terkait tema Otak Rasional, Otak Emosional, Otak Spiritual dalam Pendidikan Agama Islam telah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu, di antara nya artikel pertama yang dilakukan oleh Imroatum Muhimmah dan Suyadi dengan judul Neurosains dan Spiritualitas dalam Pendidikan Islam, temuannya ialah menunjukkan bahwa dalam pendidikan Islam tidak hanya mengembangkan intelektual dan moralitas saja, ada empat dimensi yang digabungkan sehingga menghasilkan spiritualitas meliputi makna hidup, emosi positif, pengalaman spiritual dan ritual. Terdapat perbedaan penelitian Imroatum Muhimmah dan suyadi dengan penelitian yang penulis lakukan, jika penelitian Imroatum Muhimmah dan suyadi membahas neurosains dan spiritual dalam pendidikan Islam secara spesifik sedangkan penelitian ini membahas ketiga kinerja otak dalam Pendidikan Agama Islam 10.

Kedua, penelitian terkait tema Otak Rasional, Otak Emosional, Otak Spiritual dalam Pendidikan Agama Islam telah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu yakni penelitian yang dilakukan oleh Siti Nur Sidah dan Suyadi dengan judul Pengembangan HOTS berbasis Neurosains dalam Pembelajaran PAI, temuannya ialah ada nya relevan antara penelusuran jejak akal dan otak dalam Al-Qur‟an. Terdapat perbedaan penelitian Siti Nur Sidah dan Suyadi dengan penelitian yang penulis lakukan, jika penelitian Siti Nur Sidah dan Suyadi membahas tentang neurosains dalam pembelajaran PAI sedangkan penelitian ini membahas secara spesifik tentang kinerja otak dalam Pendidikan Agama Islam 11.

Ketiga, penelitian terkait tema Otak Rasional, Otak Emosional, Otak Spiritual dalam Pendidikan Agama Islam telah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu yakni penelitian yang dilakukan oleh Riris Amelia, Ahmad Irkham Saputro, Eri Purwanti dengan judul Internalisasi Kecerdasan IQ, EQ, SQ dan Multiple Intelligences dalam Konsep Pendidikan Islam (Studi Pendekatan Psikologis) temuannya ialah memiliki implikasi yang signifikan antara pengembangan konsep pendidikan Islam dengan kecerdasan IQ, EQ, SQ dan MI terdapat perbedaan penelitian Riris Amelia, Ahmad Irkham Saputro, Eri Purwanti membahas tentang internalisasi kecerdasan dalam konsep pendidikan Islam sedangkan penelitian ini membahas tentang kinerja otak dalam Pendidikan Agama Islam 12.

Keempat, penelitian terkait Otak Rasional, Otak Emosional, Otak Spiritual dalam Pendidikan Agama Islam telah dilakukan oleh beberapa penelitian terdahulu yakni penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Jailani, Suyadi, Dedi Djubaedi yang

9 Ahmad Zarkasyi, “Pendidikan Diniyah Kajian Filsafat Pendidikan Islam,” Jurnal Qolamuna 6 (2020).

10 Imroatum Muhimmah and Suyadi Suyadi, “Neurosains Dan Spiritualitas Dalam Pendidikan Islam,” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 15, no. 1 (2020): 68, https://doi.org/10.19105/tjpi.v15i1.2880.

11 Siti Nur Sidah dan Suyadi, “Pengembangan Hots Berbasis Neurosains Dalam Pembelajaran Pai,” PIWULANG: Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. Maret (2022): 134–45.

12 riris Amelia, Ahmad Irkham Saputro, And Eri Purwanti, “Internalisasi Kecerdasan Iq, Eq, Sq Dan Multiple Intelligences Dalam Konsep Pendidikan Islam (Studi Pendekatan Psikologis),” 2020, 34–

43.

(4)

berjudul Menelusuri Jejak Otak dan „Aql dalam Al-Qur‟an Perspektif Neurosains dan Pendidikan Islam di Era Pandemi Covid-19, temuannya ialah adanya jejak neurosains di bidang pemikiran pendidikan Islam secara teologis yang memiliki basis neurobiology yang berimplikasi luas kepada model pembelajaran di masa covid-19, terdapat perbedaan penelitian Mohammad Jailani, Suyadi, Dedi Djubaedi membahas tentang jejak otak dan akal dalam neurosains dan pendidikan Islam sedangkan penelitian ini membahas tentang kinerja otak dalam Pendidikan Agama Islam 13.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode library reseach sebuah penelitian dengan mereview berbagai literature yang bersumber dari hasil penelitian dan data kepustakaan 14. Tujuan penelitian ini ialah memahami bagian otak dalam Pendidikan agama Islam yaitu otak rasional, otak emosional dan otak spiritual sehingga tidak hanya mengembangkan nilai- nilai agama namun dapat mengoptimalkan fungsi dari masing-masing otak yang betujuan agar pembelajaran dapat dikemas dengan menyenangkan tanpa menghilangkan nilai keagamaan. Hal ini menjadi urgensi untuk dilakukan penelitian karena bagaimana Pendidikan agama Islam dalam memahami kinerja bagian otak sehingga menjadi kebaharuan dalam penulisan artikel jurnal ini.

PEMBAHASAN

Pembelajaran PAI akan lebih memiliki daya tarik dan juga penyerapan yang lebih luas apabila menggunakan seluruh daya guna otak, untuk itu penerapan keseimbangan daya guna otak dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam menjadi hal yang sangat penting 15. Daya nalar ini harus digunakan dalam menerangkan pembelajaran pendidikan agama Islam dengan daya tarik yang luas, dan juga pemanfaatan yang lebih ditekankan. Mengenai pembelajaran pendidikan agama Islam ini tentu saja mendapat tantangan dalam mendayagunakan otak, hal ini terjadi karena kekuangan pemahaman pendidik untuk memanfaatkan fungsi otak. Fungsi otak juga disebut sebagai ilmu neurosciences yaitu ilmu yang mempelajari tentang otak. ada hal aru-baru ini dalam psikologi pendidikan disebut "ilmu saraf," dan itu menempatkan penekanan pada cara terbaik menggunakan otak manusia. Sangat menarik untuk meneliti bagaimana ilmu saraf mempengaruhi pembelajaran. 16. Neurosains bukan teori tentang belajar, tetapi teori tantang otak yang cukup berperan dalam proses belajar dan pembelajaran.

Kesiapan otak untuk memulai belajar harus diutamakan ketika proses belajar. Semua tindakan belajar dipengaruhi oleh otak, dan pembelajaran akan terjadi ketika otak siap untuk melakukannya. Proses pembelajaran tidak akan terjadi jika otak tidak dalam

13 Mohammad Jailani, Suyadi, and Dedi Djabedi, “Menelusuri Jejak Otak Dan ‟Aql Dalam Al- Qur‟an Perspektif Neurosains Dan Pendidikan Islam Di Era Pandemi COVID-19,” Tadris: Jurnal Pendidikan Islam 16, no. 1 (2021): 1–19, https://doi.org/10.19105/tjpi.v16i1.4347.

14 Milya Sari and Asmendri, “Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA,” Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA 2, no. 1 (2020): 15.

15 Relly Maulita, Ermis Suryana, and Abdurrahmansyah, “Neurosains Dalam Proses Belajar Dan Memori,” INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan 8, no. 2 (2022): 1–16, https://doi.org/10.55148/inovatif.v8i2.264.

16 Fuad Arif Noor, “Otak Dan Akal Dalam Ayat-Ayat Neurosains,” MAGHZA: Jurnal Ilmu Al- Qur’an Dan Tafsir 4, no. 1 (2019): 32–52, https://doi.org/10.24090/maghza.v4i1.2329.

(5)

keadaan tidak siap. Oleh sebab itu, teori mengenai otak menjadi sangat populer di masa sekarang 17. Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan (kemampuan potensial) yang berbeda, yang dikembangkan melalui interaksi dinamis antara individualitas seseorang dan faktor sosial. Kemampuan aktualisasi yang berbeda mengalir dari cara kerja otak.

Otak mengontrol banyak perilaku yang mendasar, mengontrol bagaimana tubuh secara keseluruhan berfungsi, dan bertanggung jawab atas semua tindakan yang mengarah pada pengembangan peradaban, musik, seni, sains, dan bahasa. Seiring dengan harapan, ide, dan perasaan, semua berkumpul di satu lokasi di dalamnya 18.

Betapa pentingnya peran otak bagi manusia, karena semua sumber dari otak.

Jaringan sel otak yang bagus ialah otak yang kaya dengan koneksi, berkat rangsangan aktivitas, kecerdasan intelektual dapat distimulasi secara optimal melalui proses pembelajaran, dimana peran guru sangat penting sebagai pemberi stimulus kepada peserta didik. Peserta didik mampu menyerap pelajaran apabila mereka mampu menyerap makna dalam materi akademis yang mereka terima 19. Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan bahwa penggunaan daya fungsi otak dalam pembelajaran diharuskan dengan pemaparan yang juga mengembangkan daya pikir otak, untuk itu pendidik diberikan keleluasaan dalam mengembangkan pembelajaran untuk menciptakan pembelajaran pendidikan agama Islam yang berdaya guna dan juga mengoptimalkan ketiga daya fungsi otak.

Otak rasional tidak akan maksimal tanpa adanya peran otak emosional dan otak spiritual. Rasionalitas dalam pembelajaran harus melibatkan emosionalitas dengan cara mengemas materi pelajaran dalam bentuk gambar, kata dan suara. Berdoa sebelum belajar adalah gerbang utama memasuki dimensi emosi-spiritual. Oleh karena itu, seluruh pendekatan otak akan menunjukkan kesatuan kognisi dan emosi. Dengan demikian otak akan berfungsi lebih efektif secara keseluruhan selama proses pembelajaran di ruang kelas atau area membaca yang kaya akan stimulasi, seperti musik, bau harum atau segar, dan rasa humor. Adapun intuisi memiliki banyak definisi yang berbeda, ada yang memaknai sebagai kapasitas batin yang menjadikan kita mengetahui sesuatu ketika pikiran kita tidak mengetahui atau mencapai kebuntuan dalam berfikir ada yang menterjemahkan bahwa intuisi adalah pikiran alam bawah sadar (the unconcious mind) yang bermakna sesuatu yang kita kerjakan tanpa proses berfikir secara sadar atau sudah merupakan kebiasaan.20

Dalam hal ini juga di butuhkan kecerdasan intuitif, Kemampuan untuk mengingat dan memilih dari antara pikiran yang sudah tersimpan dalam ingatan pikiran untuk secara akurat dan naluriah menanggapi rangsangan dikenal sebagai intuisi.

17 Kasno, “AQL DAN OTAK DALAM KAJIAN NEUROSAINS DAN IMPLIKASINYA PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM,” MUADDIB: Studi Kependidikan Dan Keislaman. 09, no. 02 (2019): 154–77.

18 Ni Wayan Suniasih, “Pengembangan Bahan Ajar Neurosains Bermuatan Pendidikan Karakter Dengan Model Inkuiri,” Mimbar Ilmu 24, no. 3 (2019): 417, https://doi.org/10.23887/mi.v24i3.22542.

19 Zunaidi M. Rasid Harahap and Suyadi Suyadi, “Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Pendekatan Behaviorisme Berbasis Neurosains Di SD Muhammadiyah Purbayan,” Psikoislamedia : Jurnal Psikologi 5, no. 1 (2020): 38, https://doi.org/10.22373/psikoislamedia.v5i1.6199.

20 Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, and Bustomi Arisandi, “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah,” Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (March 26, 2023): 143–67, https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

(6)

Kecerdasan ini menjelaskan bagaimana pengetahuan dapat meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan dan mengambil sebuah tindakan. Ini akan menjadi tantangan ketika kita telah menyelesaikan pertanyaan untuk pertama kalinya. Bekerja dengan perasaan dan memiliki keyakinan yang kuat dalam pilihan seseorang adalah dua karakteristik pemikiran intuitif. Metode yang benar harus digunakan saat membuat penilaian agar mereka dapat secara efektif mengatasi masalah yang dihadapi. Ketika ini tidak terjadi, pemikiran intuitif mungkin berkembang sebagai hasilnya.

Otak Rasional dalam Pendidikan Agama Islam

Cortex cerebri atau bagian luar otak besar yang berwarna abu-abu yang memiliki ukuran 80% dari volume seluruh otak yang merupakan tempat otak rasional. manusia mampu berpikir nalar atau secara rasional dapat menjadi manusia yang berbudaya yang dipengaruhi oleh besarnya volume cortex. karena semakin berbudi dan berbudaya, manusia akan menggeser perilakunya lebih ke pusat berpikir rasional 21. Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat hanya menyadari bahwa otak dibagi menjadi dua bagian yakni bagian otak kanan dan otak kiri. namun mengalami perkembangan yakni menjadi tiga belahan yaitu otak kanan, otak kiri, dan otak tengah. Otak penalaran sering disamakan dengan otak kiri. Hal ini dikarenakan otak kiri memiliki secara khusus dengan berpikir rasional, konvergen, digital, sekunder, abstrak, proporsional, analitis, linier dan objektif. Berpikir rasional berarti kemampuan dan kemauan manusia bersikap dan bertindak menggunakan akal sehat dalam menentukan sebuah pilihan. Manusia memiliki beberapa kendala, tetapi dengan menggunakan akal sehat manusia akan dapat mengatasi kendala tersebut 22.

Dari hasil paparan di atas diketahui bahwa cara berfikir rasional termasuk berfikir menggunakan nalar atas dasar data yang ada untuk mencari kebenaran faktual sesuai dengan kegunaan dan kepentingannya. Berfikir rasional dipakai jika menginginkan suatu kemajuan dalam kehidupan dengan mempelajari ilmu. Hal ini juga sangat perlu ketika bekerja untuk kepentingan orang banyak yang bersifat publik, dimana berhadapan dengan bermacam-macam orang, tradisi dan kepercayaan, maka hal tersebut dapat dibuktikan alat ukur dan sumber referensi yang bisa diperdebatkan (argumentasi yang logika dan relevan). Sehingga daya pikir rasional yang digunakan dalam pendidikan agama Islam adalah segala bentuk reaksi terhadap daya fungsi otak dalam menyerap ilmu pengetahuan Islam yaitu dengan berpikir menggunakan akal sehat, dan berpikir menggunakan nalar 23.

Otak Emosional dalam Pendidikan Agama Islam

Kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk mendengarkan bisikan emosi dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami

21 Suyadi, “Pendidikan Islam Dan Neurosains” Menelusuri Jejak Akal Dan Otak Dalam Al- Qur’an Hingga Pengembangan Neurosains Dalam Pendidikan Islam, Pertama (Kencana, 2020).

22 Rida Krisnawati Universitas Adib Al Husein, Dwi Ertanti, M. Wahyudin, Malika Sukmawati, Ricky Jaka Setyawan, “Otak Rasional Dan Otak Intuitif Dalam Pendidikan Islam,” Dirāsāt: Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Islam 4 (2018), https://doi.org/10.22373/jm.v9i2.4211.

23 Sidik Purnomo, “OTAK RASIONAL DAN OTAK INTUITIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM” 9, no. 2 (2019): 265–76.

(7)

diri sendiri dan orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Ini merupakan bagian yang lebih dalam dari otak neo-cortex yakni terdapat pada lapisan lymbic system (lapisan tengah). Pada otak tengah ini terletak pengendali emosi dan perasaan kita. Allah berfirman di dalam Al-Qur‟an:

اْوُطَنْقَ ت َلَ ْمِهِسُفْ نَا ىٰٰٓلَع اْوُ فَرْسَا َنْيِذَّلا َيِداَبِعٰي ْلُق ُرِفْغَ ي َّٰللّا َّنِاۗ ِّٰللّا ِةَْحَّْر ْنِم

ُمْيِحَّرلا ُرْوُفَغْلا َوُه هَّنِاۗ اًعْ يَِجَ َبْوُ نُّذلا

Terjemahnya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.663) Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Az-Zumar :53)

Dalam kecerdasan emosional setidaknya ada lima komponen pokok yakni kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur hubungan soial.

Kecerdasan emosional dalam Islam disebut kognitif, yang terletak di qalbiyah karena hati merupakan pusat pendidikan akhlak, Oleh karena itu hati harus dididik, diperbaiki, diluruskan, sehingga dapat diberi teguran. Pendidikan dan pelurusan hati bertujuan untuk memunculkan kecerdasan yang dimilikinya atau untuk mengobati penyakit- penyakit psikis yang di derita 24. Dengan dilatih dan diluruskan, hati akan dapat menggapai kondisi-kondisi ruhani yang positif dan sifat-sifat kesempurnaan. Para pakar pendidikan telah mengemukakan bahwa pendidikan Islam di samping berupaya membina kecerdasan intelektual, keterampilan dan raganya, juga membina jiwa dan hati nuraninya 25.

Berarti secara umum pendidikan Islam membina IQ, EQ, pendidikan Islam juga membina aspek spiritual (SQ) karena kecerdasan spiritual adalah landasan memfungsikan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) secara efektif, IQ tidak mengukur kreativitas, kapasitas emosi, nuansa spiritual dan hubungan sosial, sedangkan kecerdasan qalbiyah (Kognitif Qalbiyah) apabila telah mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang 26. Kemampuan berpikir secara emosional tentu akan melibatkan perasaan dan juga penyerapan ilmu yang dilandaskan pada kecintaan (hati) untuk itu pendekatan yang dilakukan dalam memberikan ilmu pendidikan Islam berpengaruh terhadap daya tangkap dan juga berpikir peserta didik. Karena itu, diperlukan pendekatan yang menyentuh dan juga

24 Konik Naimah, “Mengembangkan Kecerdasan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Makan Bersama Di Sekolah,” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama 7, no. 1 (2019): 63–85.

25 Muhammad Azam Muttaqin, “Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini Pada Kegiatan Belajar Mengajar,” BUHUTS AL-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Dan Anak Usia Dini 1, no. 2 (2021): 256–68, https://doi.org/10.24952/alathfal.v1i2.4456.

26 Cut Maitrianti, “Hubungan Antara Kecerdasan Intrapersonal Dengan Kecerdasan Emosional,”

Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam 11, no. 2 (2021): 291–305.

(8)

menumbuhkan rasa cinta terhadap ilmu pendidikan agama Islam agar menciptakan daya pikir yang optimal 27.

Otak Spiritual dalam Pendidikan Agama Islam

Pada kenyataannya, otak tengah sering juga disebut sebagai otak intuitif sehingga otak bagian ini yang benar-benar berfungsi selain otak kanan dan otak kiri. otak rasional berlanjut ke otak intuitif melalui otak kreatif. Intuisi akan muncul jika telah melewati masa kelelahan ke dalam sebuah rasionalitas dan kejenuhan kreativitas. Intuisi juga dapat diartikan sebagai alam bawah sadar atau sesuatu yang kita lakukan tanpa proses berpikir secara sadar 28. Dengan kata lain, intuisi ialah sebuah perjalanan antara pemikiran logis dan kreatif. Otak intuitif berfungsi dengan mengahasilkan sebuah solusi untuk sebuah permasalahan yang tidak dapat diatasi oleh kemampuan otak kanan dan otak kiri. Dengan menjelajahi pengalaman spiritual, seseorang akan lebih menyadari akan keterkaitannya dengan Tuhan serta memiliki keyakinan bahwa pengampunan dan pertolongan dari Tuhan 29.

Memahami intuitif atau otak tengah juga memiliki kaitannya dengan kecerdasan spiritual. dengan kata lain, individu dengan otak tengah yang baik dan aktif otak tengahnya akan dianggap sebagai orang yang baik secara kecerdasan spiritualnya.

Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan yang berkaitan dengan fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat dan memahami yang ada dibalik realita. Otak intuitif ini sering dihubungkan dengan nalar spiritual yang dimiliki oleh seseorang 30. Dalam hal ini, pengalaman spiritual dengan pemikiran spiritual individu sangat berkaitan erat atau memiliki hubungan. Ada beberapa pengalaman spiritual seseorang seperti rasa kagum, rasa syukur, kasih sayang, dan keinginan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dengan menjelajahi pengalaman spiritual, akan kesadaran terhadap keterhubungan dengan Tuhan serta memiliki kepercayaan bahwa pengampunan dan pertolongan dari Tuhan.31

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan fungsi otak dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sangat penting untuk diperhatikan. Perpaduan ketiga fungsi otak ini berfungsi untuk menyeimbangkan pemahaman peserta didik dalam menerima ilmu Pendidikan Agama Islam. Berpikir rasional mendorong individu untuk bertindak dan bersikap berdasarkan akal sehat ketika membuat suatu keputusan.

27 Nasarudin, “OPTIMALISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KECERDASAN EMOSIONAL,” “Jurnal Studi Pemikiran Pendidikan Agama Islam” 18 (2020).

28 Amien Rais, Handayani Budi Astuti, and Suyadi, “PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDEKATAN NEUROSAINS” 09, no. 02 (2019): 131–53.

29 Rovi Husnaini, Adnan, and Chyril Futuhana Ahmad, “Urgensi Kematangan Spiritual Terhadap Kesehatan Otak,” Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik 6, no. 1 (2021): 35–41.

30 Hermala Fitriani and Zuhair Abdullah, “Relevansi Konsep Neurosains Spiritual Taufiq Pasiak Terhadap Psikoterapi Sufistik,” JOUSIP: Journal of Sufism and Psychotherapy 1, no. 2 (2021): 141–60, https://doi.org/10.28918/jousip.v1i2.4458.

31 Halimatus Sa‟diyah et al., “Model Research and Development dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 10, no. 1 (June 19, 2020): 42–73, https://doi.org/10.54180/elbanat.2020.10.1.42-73.

(9)

Akal sehat mendorong individu untuk berpikir berdasarkan pemikiran sesuai dengan fakta yang ada dan logis sehingga apa yang dipikirkan dapat diterima secara logis.

Orang yang aktif otak tengahnya dianggap sebagai orang yang baik secara kecerdasan spiritualnya. Misalnya, jika seseorang beribadah terutama ketika sedang berdoa, maka akan terlihat sungguh-sungguh dan meneteskan air mata. Orang dengan kecerdasan spiritual yang baik mampu memahami setiap mengalami kesulitan hidup dengan memberikannya makna yang positif agar dapat senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan dan mampu dalam memberikan hal-hal positif yang dapat membangkitkan kembali semangat dalam menjalankan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Adib Al Husein, Dwi Ertanti, M. Wahyudin, Malika Sukmawati, Ricky Jaka Setyawan, Rida Krisnawati Universitas. “Otak Rasional Dan Otak Intuitif Dalam Pendidikan Islam.” Dirāsāt: Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Islam 4 (2018).

https://doi.org/10.22373/jm.v9i2.4211.

Amelia, Riris, Ahmad Irkham Saputro, and Eri Purwanti. “INTERNALISASI KECERDASAN IQ, EQ, SQ DAN MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM KONSEP PENDIDIKAN ISLAM (STUDI PENDEKATAN PSIKOLOGIS),”

2020, 34–43.

Arifuddin, A, and A R Karim. “Konsep Pendidikan Islam; Ragam Metode PAI Dalam Meraih Prestasi.” Didaktika: Jurnal Kependidikan 10, no. 1 (2021): 13–22.

Fitriani, Hermala, and Zuhair Abdullah. “Relevansi Konsep Neurosains Spiritual Taufiq Pasiak Terhadap Psikoterapi Sufistik.” JOUSIP: Journal of Sufism and

Psychotherapy 1, no. 2 (2021): 141–60.

https://doi.org/10.28918/jousip.v1i2.4458.

Harahap, Zunaidi M. Rasid, and Suyadi Suyadi. “Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Pendekatan Behaviorisme Berbasis Neurosains Di SD Muhammadiyah Purbayan.” Psikoislamedia : Jurnal Psikologi 5, no. 1 (2020): 38.

https://doi.org/10.22373/psikoislamedia.v5i1.6199.

Husnaini, Rovi, Adnan, and Chyril Futuhana Ahmad. “Urgensi Kematangan Spiritual Terhadap Kesehatan Otak.” Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik 6, no. 1 (2021):

35–41.

Jailani, Mohammad, Suyadi, and Dedi Djabedi. “Menelusuri Jejak Otak Dan ‟Aql Dalam Al-Qur‟an Perspektif Neurosains Dan Pendidikan Islam Di Era Pandemi COVID-19.” Tadris: Jurnal Pendidikan Islam 16, no. 1 (2021): 1–19.

https://doi.org/10.19105/tjpi.v16i1.4347.

Kasno. “AQL DAN OTAK DALAM KAJIAN NEUROSAINS DAN IMPLIKASINYA PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM.” MUADDIB:

Studi Kependidikan Dan Keislaman. 09, no. 02 (2019): 154–77.

Lalu Abdurrahman Wahid. “PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS PENGEMBANGAN POTENSI OTAK MENGGUNAKAN TEORI NEUROSCIENCES.” Https://Medium.Com/ 15 (2022): 54–70.

Maitrianti, Cut. “Hubungan Antara Kecerdasan Intrapersonal Dengan Kecerdasan Emosional.” Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam 11, no. 2 (2021): 291–305.

Maulita, Relly, Ermis Suryana, and Abdurrahmansyah. “Neurosains Dalam Proses Belajar Dan Memori.” INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, Dan Kebudayaan 8, no. 2 (2022): 1–16. https://doi.org/10.55148/inovatif.v8i2.264.

(10)

Muhimmah, Imroatum, and Suyadi Suyadi. “Neurosains Dan Spiritualitas Dalam Pendidikan Islam.” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 15, no. 1 (2020): 68.

https://doi.org/10.19105/tjpi.v15i1.2880.

Mutmainnah, Dewi. “PERAN MPK PAI DALAM MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA STIESIA SURABAYA.” JURNAL PIWULANG 1 (2019): 105–

20.

Muttaqin, Muhammad Azam. “Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini Pada Kegiatan Belajar Mengajar.” BUHUTS AL-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Dan Anak Usia Dini 1, no. 2 (2021): 256–68.

https://doi.org/10.24952/alathfal.v1i2.4456.

Naimah, Konik. “Mengembangkan Kecerdasan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Makan Bersama Di Sekolah.” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama 7, no. 1 (2019): 63–85.

Nasaruddin, Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, and Bustomi Arisandi. “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah.” Al-Insyiroh:

Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (March 26, 2023): 143–67.

https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

Nasarudin. “OPTIMALISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KECERDASAN EMOSIONAL.” “Jurnal Studi Pemikiran Pendidikan Agama Islam” 18 (2020).

Noor, Fuad Arif. “Otak Dan Akal Dalam Ayat-Ayat Neurosains.” MAGHZA: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir 4, no. 1 (2019): 32–52.

https://doi.org/10.24090/maghza.v4i1.2329.

Nurrahman, Arip, and Ardy Irawan. “Analisis Tingkat Karakter Religius Siswa Sekolah Menengah Pertama.” Al-TA’DIB 12, no. 2 (2020): 171.

https://doi.org/10.31332/atdbwv12i2.1575.

Purnomo, Sidik. “OTAK RASIONAL DAN OTAK INTUITIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM” 9, no. 2 (2019): 265–76.

Putri, Ghea Silviana, and Asif Az-Zhafi. “KONSEP BELAJAR PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR‟AN DAN HADITS.” TARBIYA ISLAMIA:

Jurnal Pendidikan Dan Keislaman 10, no. 1 (2020): 34–45.

https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.327.

Rahman, Abd, Sabhayati Asri Munandar, Andi Fitriani, Yuyun Karlina, and Yumriani.

“Pengertian Pendidikan, Ilmu Pendidikan Dan Unsur-Unsur Pendidikan.” Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam 2, no. 1 (2022): 1–8.

Rais, Amien, Handayani Budi Astuti, and Suyadi. “PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDEKATAN NEUROSAINS” 09, no. 02 (2019): 131–53.

Sa‟diyah, Halimatus, Hanik Yuni Alfiyah, Zaini Tamin Ar, and Nasaruddin Nasaruddin.

“Model Research and Development dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.” EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 10, no. 1 (June 19, 2020): 42–73. https://doi.org/10.54180/elbanat.2020.10.1.42-73.

Salmiwati, Salmiwati. “Konsep Belajar Dalam Perspektif Pendidikan Islam.” Murabby:

Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 1 (2019): 34–45.

https://doi.org/10.15548/mrb.v2i1.327.

Sari, Milya, and Asmendri. “Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA.” Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA 2, no. 1 (2020): 15.

(11)

Suniasih, Ni Wayan. “Pengembangan Bahan Ajar Neurosains Bermuatan Pendidikan Karakter Dengan Model Inkuiri.” Mimbar Ilmu 24, no. 3 (2019): 417.

https://doi.org/10.23887/mi.v24i3.22542.

Surindi. “Pendidikan Agama Islam Ramah Otak Sebagai Upaya Pembelajaran Yang Memberdayakan.” Jurnal Pendidikan 10, no. 3 (2020): 248–53.

Suyadi. “Pendidikan Islam Dan Neurosains” Menelusuri Jejak Akal Dan Otak Dalam Al-Qur’an Hingga Pengembangan Neurosains Dalam Pendidikan Islam.

Pertama. Kencana, 2020.

Suyadi, Siti Nur Sidah dan. “Pengembangan Hots Berbasis Neurosains Dalam Pembelajaran Pai.” PIWULANG: Jurnal Pendidikan Agama Islam 4, no. Maret (2022): 134–45.

Zarkasyi, Ahmad. “Pendidikan Diniyah Kajian Filsafat Pendidikan Islam.” Jurnal Qolamuna 6 (2020).

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemasaran rasional, emosional, spiritual terhadap kepuasan nasabah dan loyalitas nasabah Bank

Skripsi ini membahas tentang Strategi Guru Agama Islam Dalam Pembinaan Kecerdasan Emosional dan Spiritual Siswa di MTs Negeri 1 Kelara Kabupaten Jeneponto. Untuk

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemasaran rasional, emosional, spiritual terhadap kepuasan nasabah dan loyalitas nasabah Bank

Bapak/Ibu/Saudara yang Saya hormati, Saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi kuesioner penelitian saya yang berjudul “Pengaruh Pemasaran Rasional, Emosional,

Otak Spiritual  Spiritual keagamaan  Akhlak mulia Otak Emosional  Pengendalian diri Perserta Didik Aktif SUASANA BELAJAR PENDIDIKAN SISDIKNAS 2003 Otak Rasional 

Bapak/Ibu/Saudara yang Saya hormati, Saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi kuesioner penelitian saya yang berjudul “Pengaruh Pemasaran Rasional, Emosional,

Otak Spiritual Spiritual keagamaan Akhlak mulia Otak Emosional Pengendalian diri Perserta Didik Aktif SUASANA BELAJAR PENDIDIKAN SISDIKNAS 2003 Otak Rasional Pengendalian diri

Hasil penelitian terdahulu memberikan bukti bahwa kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai seperti yang ditunjukkan