Alih fungsi lahan pertanian

Top PDF Alih fungsi lahan pertanian:

ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN KEBUTUHAN PANGAN DI KABUPATEN JEMBER

ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN KEBUTUHAN PANGAN DI KABUPATEN JEMBER

total produksi tanaman padi di Kabupaten Jember Tahun 2007-2012. Penurunan jumlah luasan areal panen tanaman padi juga mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Sejumlah kecamatan yang mengalami penurunan luas areal lahan panen secara signifikan mengalami penurunan produksi padi secara signifikan pula. Salah satu contoh adalah kecamatan Kaliwates yang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Jember yang merupakan kawasan urban fringe dan kini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi non pertanian mengalami defisit produksi sebesar 104.970 kwintal, yang pada tahun 2009 mampu memproduksi sebesar 188.350 kw pada tahun 2010 hanya mampu menghasilkan sebesar 83.380 kw saja. Hal ini menunjukkan telah terjadinya pola perubahan alih fungsi lahan pertanian untuk tanaman pangan (padi) menjadi sektor non pertanian.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian ke

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian ke

Konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian sebenarnya bukan masalah baru. Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan perekonomian menuntut pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman, hal ini tentu saja harus didukung dengan ketersediaan lahan. konversi lahan pertanian dilakukan secara langsung oleh petani pemilik lahan ataupun tidak langsung oleh pihak lain yang sebelumnya diawali dengan transaksi jual beli lahan pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilik lahan mengkonversi lahan atau menjual lahan pertaniannya adalah harga lahan, proporsi pendapatan, luas lahan produktivitas lahan, status lahan dan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Alih Fungsi Lahan Pertanian menjadi Laha

Alih Fungsi Lahan Pertanian menjadi Laha

Seiring dengan pekermbangan jaman saat ini, timbul mobilitas orientasi lapangan kerja sebagai akibat dinamika yang terjadi. Pekerjaan petani dinilai atau dianggap lebih rendah dari sektor pekerjaan lain. Hal ini menimbulkan suatu dorongan yang amat kuat terhadap alih fungsi lahan pertanian (Windia, 2004). Alih fungsi lahan sawah ke penggunaan non pertanian dapat berdampak terhadap turunnya produksi pertanian, serta akan berdampak pada dimensi yang lebih luas berkaitan dengan aspek-aspek perubahan orientasi ekonomi, sosial, budaya, dan politik masyarakat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TREN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN KLATEN.

TREN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN KLATEN.

Pada kondisi adanya pilihan terbuka bagi para investor untuk menanamkan modalnya maka alih fungsi lahan pertanian pada daerah dengan infrastruktur yang baik dan sekaligus sebagai pusat pasar yang besar tidak dapat dihindarkan. Persoalan sumber daya lahan yang dinilai cukup serius belakangan ini adalah alih fungsi lahan produktif yang cukup besar. Alih fungsi lahan berlangsung secara terus menerus sejalan dengan peningkatan pembangunan yaitu untuk keperluan bidang industri, pariwisata, pemukiman dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat

Alih fungsi lahan pertanian berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat sejalan dengan munculnya berbagai aktifitas ekonomi yang membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Dari hasil uji chi-square terdapat hubungan yang sangat nyata antara alih fungsi lahan dengan pendapatan pada α = 1%. Secara serempak variabel bebas yaitu jumlah anggota keluarga yang bekerja, jumlah jam kerja, pendapatan sampingan, jenis pekerjaan dan alih fungsi lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan pada α = 1%. Kelima variabel ini mampu menjelaskan variabel pendapatan (Y) sebesar 63,78%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bekasi Jawa Barat (Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara).

Analisis Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bekasi Jawa Barat (Studi Kasus Desa Sriamur Kecamatan Tambun Utara).

Alih fungsi lahan pada dasarnya tidak dapat dihindari dalam pelaksanaan pembangunan, namun perlu dikendalikan. Peningkatan kebutuhan lahan akibat semakin tingginya aktifitas perekonomian secara langsung maupun tidak langsung telah menyebabkan terjadinya pengurangan luas lahan pertanian untuk dijadikan industri pengolahan dan pemukiman. Secara umum, masalah alih fungsi dalam penggunaan lahan terjadi karena kriteria kawasan yang belum jelas, koordinasi pemanfaatan ruang yang belum ada, dan penegakan hukum yang masih lemah. Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang terjadi selama ini di Indonesia sebenarnya tidak menguntungkan bagi sektor pertanian. Adanya alih fungsi lahan tersebut dapat menurunkan hasil produksi pertanian. Namun, potensi dampak yang terjadi kurang diperhatikan oleh petani dan pemerintah daerah. Upaya untuk pengendalian terhadap alih fungsi lahan tersebut pun sepertinya terabaikan.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Padi Sawah Terhadap Pendapatan Petani...

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Padi Sawah Terhadap Pendapatan Petani...

Penelitian ini berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Padi Sawah Terhadap Pendapatan Petani (Studi Kasus di Desa Munte Kabupaten Karo)” dibawah bimbingan: Dr. Murni Daulay, SE, MSi sebagai Ketua, Dr. Syaad Afifuddin, SE, MEc dan Drs. H.B, Tarmizi, SU sebagai anggota.

3 Baca lebih lajut

Kajian Alih Fungsi Lahan Pertanian terhadap Swasembada Beras di Kabupaten Bekasi

Kajian Alih Fungsi Lahan Pertanian terhadap Swasembada Beras di Kabupaten Bekasi

Abstrak. Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah yang memiliki wilayah pertanian yang cukup luas yang ikut menyokong pangan dalam skala nasional. Namun perkembangan ekonomi di Kabupaten Bekasi telah mengakibatkan terjadinya persaingan dalam penggunaan lahan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis laju alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Bekasi dari tahun 1988 sampai tahun 2010 dan mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap swasembada beras di Kabupaten Bekasi. Swasembada beras dilihat dari perbandingan produksi beras yang dihasilkan dengan konsumsi penduduk terhadap beras. Teknik analisis digunakan adalah analisis spasial dengan menggunakan ArcGIS untuk mengetahui alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Bekasi. Data luas lahan yang diambil dari peta penggunaan lahan Kabupaten Bekasi tahun 1988 hingga tahun 2010. Adapun perhitungan swasembada beras dilihat dari perbandingan produksi padi dengan jumlah konsumsi beras per kapita penduduk di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan analisis surplus defisit. Hasil perhitungan penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang cukup serius dari alih fungsi lahan pertanian terhadap swasembada beras di Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional tidak swasembada beras.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Non Pertanian Di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Non Pertanian Di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar

Alih fungsi lahan pertanian menjadi masalah ketika lahan pertanian yang dialihfungsikan merupakan lahan pertanian produktif. Alih fungsi lahan pertanian tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan pada kondisi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. Sekali lahan sawah beralih fungsi, tidak mungkin kembali lagi menjadi sawah. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi petani penggarap, buruh tani, penggilingan padi, dan sektor-sektor pedesaan lainnya. Masalah alih fungsi lahan yang semakin meningkat akan membawa dampak yaitu sempitnya lahan pertanian, hal ini disebabkan sebagian lahan sawah digunakan untuk pembangunan industri perumahan yang semakin merajalela. Alih fungsi lahan sawah menjadi industri perumahan tersebut perlu adanya penanganan yang terpadu antara berbagai sektor, apabila tidak ditangani dengan baik, maka akan menimbulkan dampak bagi ketahanan pangan nasional (Fityatul, 2006).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI DESA AJIBARANG WETAN, KECAMATAN  Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

ANALISIS ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI DESA AJIBARANG WETAN, KECAMATAN Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia seperti permukiman, tempat usaha (industri dan jasa) dan fasilitas umum menyebabkan proses alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi karakteristik demografi, sosial dan ekonomi responden (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keinginan petani melakukan alih fungsi lahan pertanian di daerah penelitian, dan (3) menganalisis distribusi tingkat keinginan petani melakukan alih fungsi lahan pertanian di daerah penelitian
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEBIJAKAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI KABUPATEN KARANGANYAR

KEBIJAKAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI KABUPATEN KARANGANYAR

Hasil penelitian menunjukan bahwa kebijakan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di kabupaten karanganyar diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Karanganyar, dengan prosedur pengajuan dimulai dari masyarakat yang ingin mengajukan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian mengajukan permohonan ke kantor BPN Kabupaten Karanganyar dan selanjutnya akan di proses untuk dirapatkan dalam rapat Tim Kerja Perencanaan Ruang Daerah. Hambatan yang ada dalam proses alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Kabupaten Karanganyar terbagi menjadi dua yaitu hambatan dari dalam instansi dan hambatan dari masyarakat.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

alih fungsi lahan pertanian

alih fungsi lahan pertanian

Alih fungsi lahan pertanian terus terjadi menjadi kawasan perkebunan, industri dan perumahan. Meski telah memiliki UU yang mengatur larangan alih fungsi lahan pertanian sejak beberapa tahun lalu, saat ini kurang dari separuh kabupaten/kota menindaklanjutinya. Aba Kumbara, petani, tengah berjalan di pematang sawah di Kampung caringin, Desa Sukamakmur, Cikarang Utara. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya merawat tanaman yang mulai ditumbuhi bulir-bulir padi.

13 Baca lebih lajut

Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan, Kel.Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang (Studi Etnografi Tentang Alih Fungsi Lahan Pertanian Menjadi Lahan Non-Pertanian Di Kel.Tanjung Sari Kec.Medan Selayang-Medan)

Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan, Kel.Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang (Studi Etnografi Tentang Alih Fungsi Lahan Pertanian Menjadi Lahan Non-Pertanian Di Kel.Tanjung Sari Kec.Medan Selayang-Medan)

Latar belakang masalah ini adalah banyaknya penduduk yang semakin lama semakin pesat jumlah penduduk yang menempati kota terutama kota Medan yang khususnya di daerah Tanjung Sari, semakin lama semakin banyak masyarakat yang berdatangan ke wilayah Tanjung Sari tersebut ada hal-hal yang sering dilakukan oleh mastarakat di kelurahan Tanjung Sari itu yaitu alih fungsi lahan yang mereka miliki, maknaya penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut. Permasalahan yang muncul adalah apa alasan masyarakat melakukan alih fungsi lahan pertanian yang dulunya banyak menghasilkan panen yang baik dan memuaskan dialih fungsikan ke lahan non-pertanian, dan siapa-siapa saja yang terlibat pada proses alih fungsi lahan yang terjadi di wilayah kelurahan Tanjung Sari tersebut. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan alasan masyarakat melakukan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian dan untuk mengetahui bagaimana pendapat masyarakat dan pejabat daerah mengenai alih fungsi lahan tersebut di Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai upaya, digunakan penulis untuk menghasilkan kajian antropologi. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa laih fungsi lahan sudah menjadi multifungsi yang dilakukan oleh masyarakat. Alih fungsi lahan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap turunnya produksi pertanian terutama turunnya atau berkurangnya pertanian terutama pangan, serta akan berdampak pada dimensi yang dimana berkaitan dengan aspek-aspek perubahan orientasi ekonomi, sosial, budaya, politik serta lingkungan hidup.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

PENDAHULUAN Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Masalah pangan merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut kebutuhan dasar hidup manusia, untuk menghadapi masalah ini pemerintah harus menjamin ketersediaan lahan. Lahan merupakan faktor produksi utama yang tidak dapat digantikan dalam usaha tani. Penyediaan lahan pertanian berkaitan dengan kapasitas produksi pangan, yang ditentukan oleh luas lahan produksi, produktivitas lahan, tingkatan kebutuhan konsumsi pangan (ketergantungan pada beras), laju luasan konversi, dan jumlah penduduk (Rusdiadi, 2008 dalam Nugraheni, 2009). Proses alih fungsi lahan yang marak terjadi saat ini berdampak pada ketersediaan lahan untuk pertanian semakin menurun, ketersedian lahan untuk masa yang akan datang dapat dilihat dengan mengetahui tingkat keinginan petani untuk melakukan alih fungsi lahan. Tingkat keinginan petani untuk melakukan alih fungsi lahan diklasifikasikan berdasarkan rentang waktu petani mempunyai keinginan melakukan alih fungsi lahan pertaniannya. Berdasarkan Tabel 1.3 terdapat 3 kelas tingkat keinginan petani melakukan alih fungsi lahan pertanian, yaitu tingkat keinginan tinggi, sedang, dan rendah.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat...

Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat...

Alih fungsi lahan mampu menyerap banyak tenaga kerja baik penduduk di wilayah yang mengalami perubahan fungsi lahan maupun penduduk di wilayah yang lahannya belum beralih fungsi. Sebagian besar (40%) anggota keluarga di desa yang kena alih lahan dan 31,5% anggota keluarga di desa yang tidak kena alih lahan bekerja sebagai karyawan.

Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI KABUPATEN SUKOHARJO.

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI KABUPATEN SUKOHARJO.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dihasilkan simpulan bahwa prosedur alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Kabupaten Sukoharjo yang menjadi wewenang Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sukoharjo berganti menjadi wewenang Pemerintah Kabupaten Sukoharjo sesuai dengan Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2011 tentang Izin Pemanfaatan Ruang. Kendala yang dihadapi banyak para pemilik tanah tidak melaksanakan prosedur yang sudah ditetapkan.

15 Baca lebih lajut

PENGENDALIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN UNTUK PERUMAHAN DI KABUPATEN TEGAL

PENGENDALIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN UNTUK PERUMAHAN DI KABUPATEN TEGAL

Problematika pertanahan terus mencuat dalam dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Berbagai daerah di nusantara tentunya memiliki karakteristik permasalahan pertanahan yang berbeda di antara satu wilayah dengan wilayah lainnya keadaaan ini semakin nyata sebagai konsekuensi dari dasar pemahaman dan pandangan orang Indonesia terhadap tanah. Bertambahnya kebutuhan dan permintaan terhadap lahan, baik dari sektor pertanian maupun dari sektor non- pertanian akibat pertambahan penduduk dan kegiatan pembangunan. Penyempitan lahan pertanian tersebut dikarenakan adanya pembangunan perumahan yang semakin bertambah tiap tahunnya. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni. Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman adalah kegiatan perencanaan, pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk di dalamnya pengembangan kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu.
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGATURAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN (Studi Kasus Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Perumahan Di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGATURAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN (Studi Kasus Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Perumahan Di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang)

Berdasarkan ketentuan Rancangan Tata Ruang Wilayah, dari luas dataran di Indonesia sekitar 35,35% harus digunakan sebagai kawasan lindung, dan sisanya sekitar 64,65% digunakan sebagai kawasan budidaya yaitu terdiri dari usaha pertanian dan nonpertanian (pemukiman, daerah industri, dll). Di wilayah Jawa dan Bali sendiri terdapat sekitar 55% yang merupakan lahan pemukiam penduduk dan sedangkan untuk kawasan budidaya yang masih berupa hutan hanya tersisa sekitar 14,96%. Pulau jawa merupakan tempat dimana 7,82 juta ha areal sawah (34,89% total luas sawah nasional), dikatakan sawah nasional dikarenakan merupakan areal penyangga ketahanan pangan nasional yang dapat memproduksi mencapai lebih dari 1,3 kali dari rata- rata produktivitas sawah diluar Pulau Jawa. 3
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

Selama ini berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian alih fungsi lahan pertanian, terutama lahan sawah beririgasi sudah banyak diterbitkan berupa peraturan perundang-undangan, akan tetapi implementasinya tidak efektif karena peraturan perundang-undangan tersebut tidak memuat sanksi pidana. Selain itu, Pemerintah dan pemerintah daerah tidak sungguh-sungguh untuk melaksanakannya.

32 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...