Dolok Saut

Top PDF Dolok Saut:

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

The need for chemical pesticides was very high in Indonesian agriculture sector, adverse impacts on the environment and health was a very important consideration in the notice so by utilizing as a biopesticide poisonous plants would be the only solution. For that, a study has been conducted in the Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara by using purposive sampling method and sample plots shaped transect plot number as many as 98 plots. This study aims to identify potential poisonous plants as a biopesticide in the nature reserve area Dolok Saut. Parameters that do have three stages: local knowledge aspect, diversity aspect and phytochemical aspect. The results showed that there are 9 types of poisonous plants that were found are Apus Tutung (Clidemia hirta), Modang lalisiak (Ficus sinuata Thunb), Sitanggis (Belamcanda sp) Dong-dong (Laportea stimulant Gaud) Antaladan (Xanthosoma sp) Birah (Alocasia arifolia), Tahul -tahul (Nephentes renwartiana), Bedi-bedi (Callicarpa dichotoma) and Langge (Homalonema javanica). All samples are identified potentially can be used as a biopesticide material because it contains secondary metabolites alkoloid, saponins, tannins terpenes and flavonoids.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keanekaragaman dan potensi tumbuhan obat di kawasan Cagar Alam Dolok Saut. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2015 sampai Desember 2015. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan petak ukur 20x20 m. Jenis tumbuhan obat yang didapatkan di lapangan diidentifikasi dan dicatat. Hasil identifikasi tumbuhan obat diperoleh 12 jenis tumbuhan obat. Keanekaragaman tumbuhan obat di Cagar Alam Dolok Saut pada tingkat semai yaitu sebesar 2,17, tingkat pancang sebesar 0,17, tingkat tiang sebesar 0,43, dan tingkat pohon sebesar 0,58.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Kawasan CA. Dolok Saut berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Dolok Saut register 17. Pada bagian barat batas cagar alam dengan hutan lindung Aek Raut. Letak geografis CA. Dolok saut berada di koordinat 99 o 11’10” Bujur Timur dan 01 o 54’45” Lintang Utara dan pada ketinggian 1.280 s/d 1.360 mdpl. Secara administrasi pemerintah CA. Dolok Saut terletak di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara.

5 Baca lebih lajut

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Sebagai informasi dalam pemanfaatan tanaman obat bagi semua pihak yang membutuhkan dan sebagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang terdapat di Cagar Alam Dolok Saut yang terletak di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.

2 Baca lebih lajut

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Dolok Saut Preserve as a part of protected forest has many forest products potency, especially medical plants. However, data of medical plants that grow in the preserve had not been documented, so that need to be done of research to analyze the biodiversity and potential of medical plants in Dolok Saut Preserve. The purpose of the research was to know the potential and biodiversity of medical plants in Dolok Saut Preserve. The research had been done in November 2015 to December 2015. The method that used is purposive sampling plots with 20x20 meter square width. The result of medical plants biodiversity showed 12 species of medical plants. The biodiversity of medical plants in Dolok Saut Preserve at seedling state was 2,17, saplings state was 0,43, poles state was 0,38, and trees state was 0,58.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Potensi Tumbuhan Obat di Hutan Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara

Dolok Saut Preserve as a part of protected forest has many forest products potency, especially medical plants. However, data of medical plants that grow in the preserve had not been documented, so that need to be done of research to analyze the biodiversity and potential of medical plants in Dolok Saut Preserve. The purpose of the research was to know the potential and biodiversity of medical plants in Dolok Saut Preserve. The research had been done in November 2015 to December 2015. The method that used is purposive sampling plots with 20x20 meter square width. The result of medical plants biodiversity showed 12 species of medical plants. The biodiversity of medical plants in Dolok Saut Preserve at seedling state was 2,17, saplings state was 0,43, poles state was 0,38, and trees state was 0,58.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

The need for chemical pesticides was very high in Indonesian agriculture sector, adverse impacts on the environment and health was a very important consideration in the notice so by utilizing as a biopesticide poisonous plants would be the only solution. For that, a study has been conducted in the Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara by using purposive sampling method and sample plots shaped transect plot number as many as 98 plots. This study aims to identify potential poisonous plants as a biopesticide in the nature reserve area Dolok Saut. Parameters that do have three stages: local knowledge aspect, diversity aspect and phytochemical aspect. The results showed that there are 9 types of poisonous plants that were found are Apus Tutung (Clidemia hirta), Modang lalisiak (Ficus sinuata Thunb), Sitanggis (Belamcanda sp) Dong-dong (Laportea stimulant Gaud) Antaladan (Xanthosoma sp) Birah (Alocasia arifolia), Tahul -tahul (Nephentes renwartiana), Bedi-bedi (Callicarpa dichotoma) and Langge (Homalonema javanica). All samples are identified potentially can be used as a biopesticide material because it contains secondary metabolites alkoloid, saponins, tannins terpenes and flavonoids.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Kawasan Cagar Alam Dolok Saut berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Dolok Saut register 17. Pada bagian barat batas cagar alam dengan hutan lindung Aek Raut. Letak geografis Cagar Alam Dolok Saut berada di koordinat 99 o 11’10” Bujur Timur dan 01 o 54’45” Lintang Utara dan pada ketinggian 1.280 s/d 1.360 mdpl. Secara administrasi pemerintah Cagar Alam Dolok Saut terletak di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara.

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

The need for chemical pesticides was very high in Indonesian agriculture sector, adverse impacts on the environment and health was a very important consideration in the notice so by utilizing as a biopesticide poisonous plants would be the only solution. For that, a study has been conducted in the Cagar Alam Dolok Saut, Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara by using purposive sampling method and sample plots shaped transect plot number as many as 98 plots. This study aims to identify potential poisonous plants as a biopesticide in the nature reserve area Dolok Saut. Parameters that do have three stages: local knowledge aspect, diversity aspect and phytochemical aspect. The results showed that there are 9 types of poisonous plants that were found are Apus Tutung (Clidemia hirta), Modang lalisiak (Ficus sinuata Thunb), Sitanggis (Belamcanda sp) Dong-dong (Laportea stimulant Gaud) Antaladan (Xanthosoma sp) Birah (Alocasia arifolia), Tahul -tahul (Nephentes renwartiana), Bedi-bedi (Callicarpa dichotoma) and Langge (Homalonema javanica). All samples are identified potentially can be used as a biopesticide material because it contains secondary metabolites alkoloid, saponins, tannins terpenes and flavonoids.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Penelitian ini memilih tempat di CA.Dolok Saut, karena penulis menduga bahwa hutan tersebut memiliki potensi flora yang tinggi dan diduga memiliki potensi sebagai sumber bahan biopestisida yang melimpah dan belum pernah dilakukan penelitian di lokasi ini. Secara administrasi pemerintah Cagar Alam Dolok Saut terletak di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara. Oleh karena itu, penulis melalukan eksplorasi tumbuhan yang terdapat di CA.Dolok Saut, terutama yang termasuk tumbuhan beracun, agar nantinya dapat diaplikasikan sebagai bahan biopestisida.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH FASILITAS KREDIT DAN SARANA PENYULUHAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET DI DESA DOLOK MERAWAN KECAMATAN DOLOK MERAWAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI.

PENGARUH FASILITAS KREDIT DAN SARANA PENYULUHAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET DI DESA DOLOK MERAWAN KECAMATAN DOLOK MERAWAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh fasilitas kredit dan sarana penyuluhan terhadap pendapatan petani di Desa Dolok Merawan Kecamatan Dolok Merawan Kabupaten Serdang Bedagai. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 117 orang, sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode Random Sampling dengan jumlah 54 orang. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi.

28 Baca lebih lajut

Kajian Kearifan Tradisional Dan Ketergantungan Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Di Sekitar Suaka Margasatwa Dolok Surungan   (Studi Kasus: Desa Lobu Rappa Kec. Aeksongsongan Kab. Asahan Dan Desa Meranti Timur Kec. Pintu Pohan Meranti Kab. Tobasa)

Kajian Kearifan Tradisional Dan Ketergantungan Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Di Sekitar Suaka Margasatwa Dolok Surungan (Studi Kasus: Desa Lobu Rappa Kec. Aeksongsongan Kab. Asahan Dan Desa Meranti Timur Kec. Pintu Pohan Meranti Kab. Tobasa)

Pemanfaatan sumberdaya yang ada di hutan harus sesuai aturan. Hal tersebut terlihat dari pemanfaatan sungai yang mengalir di sepanjang kawasan SM Dolok Surungan. Masyarakat yang ada di sekitar hutan dan memanfaatkan sungai yang mengalir di sepanjang hutan harus menjaga sungai. Masyarakat tidak boleh mengotori sungai dan dilarang untuk berpakaian vulgar ketika berada di sungai. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga sungai tetap bersih dan tidak tercemar serta untuk menghormati penghuni sungai. Masyarakat juga bebas mengambil ikan- ikan yang ada di sungai dengan cara dipancing, dijaring ataupun menggunakan akar tanaman (akar tuba), sejenis tanaman menjalar yang dipercaya bila akarnya diperas maka dapat membius ikan sehingga lama kelamaan ikan akan mati sehingga masyarakat lebih mudah menangkap ikan tersebut. Saat ini masyarakat semakin sulit mendapatkan ikan dari sungai. Hal tersebut disebabkan karena pengambilan ikan yang terus menerus, khususnya ikan Batak (ikan Jurung dan ikan Garing) dan kondisi sebagian sungai yang menjadi kering.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Sastra Wangi Feminisme dan Generasi Baru

Sastra Wangi Feminisme dan Generasi Baru

Ibnu Wahyudi (Dosen UI) menulis dalam salah satu jurnal mengatakan sastra wangi adalah istilah sesaat bagi kepopuleran sastra generasi perempuan yang mengandalkan tubuh. Dari definisi tersebut nampak jelas, bahwa penulis perempuan tersebut tidak hanya mengandalkan karyanya, tapi kecantikan dan seksinya penulis. Suatu Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah, dinamika kesastraan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini diramaikan oleh para pengarang wanita. Dari situlah kehidupan sastra Indonesia semakin riuh — dengan munculnya beberapa penulis wanita — yang usianya relatif cukup muda, dan dengan kecenderungan berkarya yang kian beragam, bebas , dan berani. Sehingga banyak pemikir dan penikmat sastra, mereka disebut-sebut sebagai sastra wangi. Karena merujuk pada karya sastra yang diciptakan kaum perempuan (Lampung Post, Soroso). Tetapi hal yang lebih dasar lagi dari sastra wangi adalah seringnya diwarnai tema seks yang bahkan sedikit vulgar, namun ada semangat feminisme, dengan setting dengan latar belakang yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari (terutama kelas ekonomi atas) dibarengi dengan tumbuhnya individualisme dan ego yang tinggi. Seperti yang pernah ditulis oleh Saut Situmorang dalam ”Politik Kanoniasi Sastra 3” sastra wangi banyak mengangkat seksualitas, dan itu dijadikan sebagai isu yang paling menghantui kepala-kepala jelita para perempuan muda urban Indonesia, para perempuan yang konon berpendidikan tinggi dan mandiri secara ekonomi.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERMAINAN TRADISIONAL ANAK SEBAGAI PEREKAT HUBUNGAN SOSIAL DI WILAYAH PERKEBUNAN (Studi Deskriptif : Masyarakat Perkebunan Karet Dolok Merangir, Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun) SKRIPSI

PERMAINAN TRADISIONAL ANAK SEBAGAI PEREKAT HUBUNGAN SOSIAL DI WILAYAH PERKEBUNAN (Studi Deskriptif : Masyarakat Perkebunan Karet Dolok Merangir, Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun) SKRIPSI

Dolok Merangir kecamatan Dolok Batunanggat merupakan lokasi penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi Interpretasi data dilakukan dengan menggunakan catatan-catatan dari setiap kali turun. Penelitian ini dilakukan terhadap 11 (dua belas) orang informan, yaitu 6 (enam) orang anak yang memainkan permainan tradisional 5 (orang) masyarakat umum.

11 Baca lebih lajut

STUDI TENTANG KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERPUSTAKAAN DI SMA/MA KECAMATAN DOLOK BATUNANGGAR SESUAI DENGAN PERMENDIKNAS NOMOR 24 TAHUN 2007.

STUDI TENTANG KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERPUSTAKAAN DI SMA/MA KECAMATAN DOLOK BATUNANGGAR SESUAI DENGAN PERMENDIKNAS NOMOR 24 TAHUN 2007.

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Studi Tentang Ketersediaan Sarana dan Prasarana Perpustakaan di SMA/MA Kecamatan Dolok Batunanggar Sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007. Adapun tujuan skripsi ini dibuat adalah sebagai kelengkapan tugas dalam memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

22 Baca lebih lajut

Strategi Saut dalam Arena Kultural Sastr

Strategi Saut dalam Arena Kultural Sastr

Berkaca dari situ, Saut Situmorang pun dengan frontal pada visi Jurnal Boemipoetra hendak menyerang Goenawan Mohammad dan komunitasnya, Teater Utan Kayu dan Salihara. Apabila dulu Goenawan Mohammad menyerang dominasi Pram, maka kini Saut memposisikan dirinya untuk menyerang dominasi Goenawan Mohammad. Namun pertanyaan yang paling mendasar adalah apa yang kemudian memfrontasi keduanya? Hal ini pun tidak lepas dari sejarah pergerakan sastra nasional di Indonesia yang berakar dari ideologi yang eksis di tengah masyarakat, yaitu Kapitalisme-Liberal dan Sosialisme-Komunis. Pertarungan dua ideologi ini tampak dalam Lekra dan Manikebu di masa Orde Lama. Kemudian pada Orde Baru tampak dalam korespondensi Pramoedya dan Goenawan. Kini di masa reformasi, Saut Situmorang membawa warna yang sama dalam pertarungannya dengan Goenawan Mohammad.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 761 documents...