Konversi lahan pertanian

Top PDF Konversi lahan pertanian:

Alih Fungsi atau Konversi Lahan Pertanian ke Lahan Non Pertanian di Indonesia

Alih Fungsi atau Konversi Lahan Pertanian ke Lahan Non Pertanian di Indonesia

Konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian sebenarnya bukan masalah baru. Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan perekonomian menuntut pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman, hal ini tentu saja harus didukung dengan ketersediaan lahan. konversi lahan pertanian dilakukan secara langsung oleh petani pemilik lahan ataupun tidak langsung oleh pihak lain yang sebelumnya diawali dengan transaksi jual beli lahan pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilik lahan mengkonversi lahan atau menjual lahan pertaniannya adalah harga lahan, proporsi pendapatan, luas lahan, produktivitas lahan, status lahan dan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PERATURAN DALAM MENGENDALIKAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN

EFEKTIVITAS PERATURAN DALAM MENGENDALIKAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN

usual), sekitar 42% lahan sawah akan terkonversi dalam rencana tata ruang. Di Pulau Jawa dan Bali (yang notabene lahan sawahnya sangat subur dan semakin menyusut ini) lahan sawah yang akan terkonversi mencapai 49% (Winoto 2005). Konversi lahan pertanian adalah salah satu sumber shock penting penyebab krisis pangan dalam satu dekade ke depan kalau tidak mendapat solusi tepat. Data menunjukkan konversi lahan pertanian di negara kita adalah seluas 2.917.738 ha sepanjang 1979–1999. Tingkat konversi per tahun ini meningkat sepanjang tahun 1999–2002 mencapai 330.000 ha atau setara dengan 110.000 ha per tahunnya. Pada periode 1999–2002 ini konversi lahan pertanian ke non-pertanian di Jawa mencapai 73,71 ribu ha atau 71,24% dari total konversi lahan pertanian di Jawa. Padahal, lahan pertanian produktif Pulau Jawa adalah lahan relatif lebih subur yang tentu saja berkontribusi signifikan terhadap produksi pangan nasional. Laju konversi lahan pertanian sepanjang tahun 2002 sampai 2008 diperkirakan berkisar 100.000–110.000 ha per tahun (Irawan 2008).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH INDUSTRI TERHADAP KONVERSI LAHAN PERTANIAN

ANALISIS PENGARUH INDUSTRI TERHADAP KONVERSI LAHAN PERTANIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) mengetahui persebaran konversi lahan pertanian di Kecamatan Nguter tahun 2006-2017, 2) mengetahui faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di Kecamatan Nguter tahun 2006-2017, 3) mengetahui kesesuaian pola ruang industri terhadap Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Nguter tahun 2012-2032, 4) mengetahui arahan pemanfaatan pola ruang berbasis ekologis di Kecamatan Nguter.

22 Baca lebih lajut

Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir

Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir

Kabupaten Samosir memiliki kekayaan alam yang berlimpah baik di sektor pertanian dan non pertanian. Namun, jika pembangunan sektor non pertanian di kabupaten ini tidak terarah akan merusak lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis struktur ekonomi di Kabupaten Samosir, mengestimasi besarnya laju konversi lahan pertanian, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Penelitian ini menggunakan metode shift share analysis, laju parsial, analisis regresi linier berganda, analisis regresi logistik, dan content analysis. Sampel diambil dengan purposive sampling. Satu dekade setelah pemekaran menjadi sebuah kabupaten, ternyata Kabupaten Samosir belum mengalami pergeseran struktur ekonomi dan pertumbuhan stuktur ekonomi kabupaten ini mengalami pertumbuhan yang positif. Sektor yang paling besar kontribusinya terhadap PDRB adalah sektor pertanian sebesar 67,35 persen diikuti sektor jasa sebesar 18,62 persen dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,02 persen. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan Kabupaten Samosir memiliki sektor unggul di sektor pertanian. Oleh karena itu, kabupaten ini harus meningkatkan atau mempertahankan produksi pertaniannya khususnya tanaman pangan. Konversi lahan telah terjadi di Kabupaten Samosir setiap tahun. Rata – rata laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir sebesar 1,1 persen per tahun. Pada penelitian ini, luas lahan bangunan, jumlah industri, dan persentase tenaga kerja sektor pertanian merupakan faktor yang menyebabkan adanya konversi lahan di tingkat wilayah. Faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di tingkat petani yaitu lama tinggal, pengalaman bertani, harga pupuk, dan hasil panen. Berdasarkan hasil content analysis draft Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) dan media massa, RTRW tampaknya bersifat konservatif dan prasarana pariwisata memiliki keterkaitan yang luas terhadap pertanian, industri, dan jasa. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mendukung pariwisata yang berbasis pertanian sehingga diharapkan dapat mengendalikan konversi lahan yang terjadi.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI BAGIAN NEGARA AGRARIS

PERKEMBANGAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI BAGIAN NEGARA AGRARIS

sejuk, adanya pemerataan penduduk dan pengembangan potensi daerah yang tadinya minim penduduk. Namun dampak negatif yang ditimbulkan lebih krusial seperti berkurangnya sunber pangan dan cadangan air, bergantinya profesi masyarakat yang semula petani menjadi buruh pabrik, sektor jasa dan lainnya, berkurangnya ekosistem dan mulai tercemarnya tanah, air, udara dari akibat aktivitas masyarakat sekitar. Pemerintah seharusnya lebih serius dengan adanya hal konversi lahan ini bisa dilakukan dengan penetapan lahan hijau dan membuka cetakan sawah baru di area yang tadinya belum termanfaatkan dengan baik. Selain itu perlu juga diperhatikan kesejahteraan petani agar petani pemilik penggarap tidak tergiur akan hasil penjualan tanah yang berakibat pada konversi lahan pertanian.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PENDAPAT PETANI SEBELUM DAN SESUDAH KONVERSI LAHAN PERTANIAN SKRIPSI

PERBANDINGAN PENDAPAT PETANI SEBELUM DAN SESUDAH KONVERSI LAHAN PERTANIAN SKRIPSI

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul “Perbandingan Pendapat Petani Sebelum dan Sesudah Konversi Lahan Pertanian”. Shalawat serta salam tak lupa dihanturkan kepada Rasulullah SAW, sebagai suri tauladan yang baik bagi umat manusia.

17 Baca lebih lajut

Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi Area Pabrik

Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi Area Pabrik

Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah “Konversi Lahan Pertanian Padi Menjadi Area Pabrik” (StudiEtnografi di Desa Sinar Gunung). Penulis menyadari masih banyak kesalahan dalam penyusunan skripsi ini, untuk itu penulis sangat berterimakasih saran dan kritik yang tentunya bertujuan untuk penyempurnaan skripsi.

17 Baca lebih lajut

KAJIAN KETERKAITAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DENGAN PERLUASAN KOTA

KAJIAN KETERKAITAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DENGAN PERLUASAN KOTA

i ABSTRAK Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen memiliki potensi pertanian yang cukup diandalkan, karena memiliki lahan pertanian yang subur, sehingga Kecamatan Peusangan pernah ditetapkan sebagai salah satu wilayah lumbung beras di Propinsi Aceh. Sebagai wilayah yang berdekatan dengan kota Bireuen dan Lhokseumawe serta didukung oleh prasarana transportasi yang memadai (seperti jalan raya sehingga memudahkan pergerakan masyarakat), maka Kecamatan Peusangan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama disektor komersial. Dengan perkembangan ini, kebutuhan akan ruang (lahan) semakin meningkat. Hal demikian akan berdampak kepada pemanfaatan lahan pertanian (walaupun produktif), sehingga akan terjadi konversi lahan pertanian ke kegiatan non pertanian di Kecamatan Peusagan. Konversi lahan pertanian sudah terjadi sejak tahun 2000 hingga saat ini seiring dengan pemekaran kota Bireuen tahun 2000 hingga tahun 2010.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI KECAMATAN GODEAN

ANALISIS KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI KECAMATAN GODEAN

Menurut Informan pihak pengembang memilih di Kecamatan ini karena letak yang strategis dan tidak jauh dari pusat kota maka akan cepat laku dijual kembali dalam bentuk perumahan. Memang kecamatan Godean kalau dilihat dari data monografi letaknya tidak jauh dari pusat kota, bahkan jalan godean merupakan jalur alternatif ke kota lain seperti magelang, semarang, muntilan, dan lain sebagainya. Menurut informan pembangun akses jalan raya seperti jalan Godean mempunyai pengaruh besar terhadap konversi lahan pertanian karena dengan adanya jalan maka membuat akses ketempat lain menjadi mudah, dan membuat harga tanah menjadi mahal terutama di pinggiran jalan. Hal ini yang dimanfaatkan penduduk untuk mengkonversikan lahan pertanian menjadi tempat usaha maupun menjualnya karena harga tanah yang menarik.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Analisis konversi lahan pertanian ke pembangunan perumahan di kecamatan Godean.

Analisis konversi lahan pertanian ke pembangunan perumahan di kecamatan Godean.

Menurut Informan pihak pengembang memilih di Kecamatan ini karena letak yang strategis dan tidak jauh dari pusat kota maka akan cepat laku dijual kembali dalam bentuk perumahan. Memang kecamatan Godean kalau dilihat dari data monografi letaknya tidak jauh dari pusat kota, bahkan jalan godean merupakan jalur alternatif ke kota lain seperti magelang, semarang, muntilan, dan lain sebagainya. Menurut informan pembangun akses jalan raya seperti jalan Godean mempunyai pengaruh besar terhadap konversi lahan pertanian karena dengan adanya jalan maka membuat akses ketempat lain menjadi mudah, dan membuat harga tanah menjadi mahal terutama di pinggiran jalan. Hal ini yang dimanfaatkan penduduk untuk mengkonversikan lahan pertanian menjadi tempat usaha maupun menjualnya karena harga tanah yang menarik.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

Analisis Konversi Lahan Pertanian Terhadap Swasembada Pangan Di Kabupaten Sukoharjo

Analisis Konversi Lahan Pertanian Terhadap Swasembada Pangan Di Kabupaten Sukoharjo

Konversi lahan menjadi salah satu permasalahan yang mengancam pada sektor pertanian di indonesia.Permintaan akan lahan untuk kebutuhan manusia akan selalu naik setiap tahunnya dengan pesat.Hal ini di picu adanya pembangunan baik yang dilakukan dari pihak pemerintah maupun pihak swasta.Adanya konversi lahan pertanian berdampak pada swasembada pangan di indonesia khususnya pada kabupaten sukoharjo,karena lahan produksi pangan berkurang sehingga pangan yang di produksi akan menurun yang menyebabkan ketidakmampuan swasembada pangan terhadap suatu kebutuhan pangan penduduknya.Pemerintah kabupaten sukoharjo sebagai representasi dari negara,berkewajiban untuk menyediakan akan kebutuhan bagi masyarakat daerahnya.penelitian ini di lakukan di kabupaten sukoharjo.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konversi lahan dengan kemampuan swasemabada pangan dan mengetahui hubungan percepatan jumlah penduduk dengan percepatan konversi lahan menggunakan deskriptif sosiologis,dengan menggunakan data primer dan sekunder.Teknik pengumpulan data purposive sampling dengan pengelompokan berdasarkan homogenisasi variabel,wawancara dan studi dokumen di analisis secara kuantitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa di kabupaten sukoharjo belum mampu swasembada pangan karena percepatan jumlah penduduk yang tinggi di iringi dengan percepatan laju konversi lahan yang tinggi menyebabkan hasil produksi pangan tidak dapat menutup kebutuhan pangan penduduknya.Saran yang dapat di berikan seharusnya pemerintah membatasi konversi lahan dengan mempertegas dan menekan adanya ijin terhadap suatu pembangunan akan kebutuhan masyarakat,serta memberikan dukungan terhadap para petani untuk meningkatkan produksi pangan agar kedepan kabupaten sukoharjo mampu untuk swasembada pangan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB VI ANALISIS WTP, WTA DAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN

BAB VI ANALISIS WTP, WTA DAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN

Dampak konversi lahan pertanian bukan hanya terhadap hilangnya potensi produksi hasil-hasil pertanian, tetapi juga hilangnya kesempatan kerja, menurunnya ketahanan pangan regional atau nasional dan kualitas lingkungan hidup. Hal yang perlu dicermati adalah dampak negatif konversi lahan tersebut bersifat tidak balik (irreversible) atau permanen, kumulatif, dan progresif. Misalnya, fungsi pengendali banjir, erosi dan sedimentasi dari hamparan lahan sawah yang dikonversi pada suatu wilayah tidak bisa diganti dengan mecetak dan mengembangkan lahan sawah baru di tempat lain. Penggantian fungsi- fungsi lingkungan tersebut secara artifisial mungkin saja dapat dilakukan dengan biaya tertentu yang jika diperhitungkan secara finansial akan berakibat berubah atau berkurangnya kelayakan investasi yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah tersebut menjadi lahan non-pertanian. Besaran atau magnitude hilangnya potensi hasil padi dan palawija, serta kesempatan kerja akibat konversi lahan sawah bersifat kumulatif dan progresif dengan laju pertumbuhannya seperti pola eksponensial positif. Sebagai contoh Gambar 56 menyajikan ilustrasi dampak konversi lahan sawah terhadap penurunan produksi dan peningkatan impor pangan (beras) yang bersifat eksponensial.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI (KASUS DESA CANDIMULYO, KECAMATAN KERTEK, KABUPATEN WONOSOBO, PROPINSI JAWA TENGAH)” ADALAH BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SEMUA SUMBER DATA DAN INFORMASI YANG DIGUNAKAN DALAM TULISAN TELAH DINYATAKAN DENGAN JELAS DAN DAPAT DIPERIKSA KEBENARANNYA.

10 Baca lebih lajut

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI

PENGARUH KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI

Pengertian konversi atau alih fungsi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Konversi lahan pertanian ini tidak terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan. Di negara-negara yang sedang berkembang konversi lahan tersebut umumnya dirangsang oleh transformasi struktur ekonomi yang semula bertumpu pada sektor pertanian ke sektor ekonomi yang lebih bersifat industrial. Proses transformasi ekonomi tersebut selanjutnya merangsang terjadinya migrasi penduduk ke daerah-daerah pusat kegiatan bisnis sehingga lahan pertanian yang lokasinya mendekati pusat kegiatan bisnis dikonversi untuk pembangunan kompleks perumahan. Secara umum pergeseran atau transformasi struktur ekonomi merupakan ciri dari suatu daerah atau negara yang sedang berkembang. Berdasarkan hal tersebut maka konversi lahan pertanian dapat dikatakan sebagai suatu fenomena pembangunan yang pasti terjadi selama proses pembangunan masih berlangsung. Begitu pula selama jumlah penduduk terus mengalami peningkatan dan tekanan penduduk terhadap lahan terus meningkat maka konversi lahan pertanian sangat sulit dihindari (Kustiawan, 1997).
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

Konversi Lahan Pertanian Produktif Akibat Pertumbuhan Lahan Terbangun Di Kecamatan Kota Sumenep

Konversi Lahan Pertanian Produktif Akibat Pertumbuhan Lahan Terbangun Di Kecamatan Kota Sumenep

Penelitian tentang konversi lahan pertanian produktif akibat pertumbuhan lahan terbangun di Kota Sumenep bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan tutupan lahan, faktor-faktor yang menyebabkan konversi lahan pertanian produktif, faktor-faktor yang menyebabkan petani menjual lahannya, serta dampak konversi lahan pertanian produktif terhadap nilai ekonomi produksi tanaman pangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif dengan alat analisis berupa analisis tutupan lahan, analisis perubahan tutupan lahan, analisis faktor dan analisis produktifitas yang hilang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara pertumbuhan luas lahan terbangun dan penurunan luas lahan tidak terbangun. Semakin tinggi pertumbuhan luas lahan terbangun, maka semakin menyusut luas lahan tidak terbangun yang tersedia. Dari data klasifikasi tutupan lahan terlihat bahwa lahan terbangun mengalami peningkatan luas sekitar 9,15 Ha setiap tahunnya dan sebaliknya lahan tidak terbangun mengalami penurunan luas sekitar 9,15 Ha setiap tahunnya. Dari hasil analisis faktor-faktor yang menyebabkan konversi lahan diperoleh enam variabel yang berpengaruh, yaitu lokasi lahan, saluran irigasi, himpitan ekonomi, pertambahan penduduk, kebutuhan tempat tinggal. Sedangkan hasil dari analisis faktor-faktor yang menyebabkan petani menjual lahannya diperoleh enam variabel yang berpengaruh, yaitu luas lahan, pengaruh pihak swasta, generasi muda, tuntutan kebutuhan hidup, tanggungan keluarga, serta kebijakan dan peraturan pemerintah. Untuk dampak konversi lahan terhadap nilai ekonomi produksi tanaman pangan diketahui bahwa selama kurun waktu 5 tahun (2010-2014) diperkirakan telah terjadi perubahan guna lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian dan berdampak terhadap hilangnya penerimaan dari usaha tani padi sebesar Rp 799.839.797.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KONVERSI LAHAN PERTANIAN PRODUKTIF AKIBAT PERTUMBUHAN LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN KOTA SUMENEP

KONVERSI LAHAN PERTANIAN PRODUKTIF AKIBAT PERTUMBUHAN LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN KOTA SUMENEP

Penelitian tentang konversi lahan pertanian produktif akibat pertumbuhan lahan terbangun di Kota Sumenep bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan tutupan lahan, faktor-faktor yang menyebabkan konversi lahan pertanian produktif, faktor-faktor yang menyebabkan petani menjual lahannya, serta dampak konversi lahan pertanian produktif terhadap nilai ekonomi produksi tanaman pangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif dengan alat analisis berupa analisis tutupan lahan, analisis perubahan tutupan lahan, analisis faktor dan analisis produktifitas yang hilang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara pertumbuhan luas lahan terbangun dan penurunan luas lahan tidak terbangun. Semakin tinggi pertumbuhan luas lahan terbangun, maka semakin menyusut luas lahan tidak terbangun yang tersedia. Dari data klasifikasi tutupan lahan terlihat bahwa lahan terbangun mengalami peningkatan luas sekitar 9,15 Ha setiap tahunnya dan sebaliknya lahan tidak terbangun mengalami penurunan luas sekitar 9,15 Ha setiap tahunnya. Dari hasil analisis faktor-faktor yang menyebabkan konversi lahan diperoleh enam variabel yang berpengaruh, yaitu lokasi lahan, saluran irigasi, himpitan ekonomi, pertambahan penduduk, kebutuhan tempat tinggal. Sedangkan hasil dari analisis faktor-faktor yang menyebabkan petani menjual lahannya diperoleh enam variabel yang berpengaruh, yaitu luas lahan, pengaruh pihak swasta, generasi muda, tuntutan kebutuhan hidup, tanggungan keluarga, serta kebijakan dan peraturan pemerintah. Untuk dampak konversi lahan terhadap nilai ekonomi produksi tanaman pangan diketahui bahwa selama kurun waktu 5 tahun (2010-2014) diperkirakan telah terjadi perubahan guna lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian dan berdampak terhadap hilangnya penerimaan dari usaha tani padi sebesar Rp 799.839.797.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Tingkat Konversi Lahan Pertanian Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas

Analisis Tingkat Konversi Lahan Pertanian Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas

Darmokusumo (1964) telah mengadakan penelitian menggunakan teknik pemetaan bentuk penggunaan lahan. Dengan memahami pola keruangan penggunaan lahan, maka dapat memberikan masukan kepada perencana atau perumus kebijakan penggunaan lahan mengenai variasi keruangan dalam hal bentuk penggunaan lahan. Kecamatan Sumbang merupakan daerah yang mempunyai potensi sebagai daerah penyedia lahan pertanian untuk bahan pangan (sawah, tegalan dan kebun untuk tanaman pangan) di Kabupaten Banyumas (Sarjanti dan Suwarno 2006). Penelitian ini mengkaji variasi keruangan tingkat konversi lahan pertanian di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas diharapkan dapat memberikan masukan mengenai data dasar untuk penilaian bentuk penggunaan lahan dalam perencanaan wilayah.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

DINAMIKA MASYARAKAT DAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN SERTA PENGRUHNYA TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG LINGKUNGAN DI KBU.

DINAMIKA MASYARAKAT DAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN SERTA PENGRUHNYA TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG LINGKUNGAN DI KBU.

Kedua, Di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, terjadi konversi lahan yang cepat dari pertanian subur ke penggunaan non pertanian terutama dalam wilayah yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh pusat- pusat kegiatan perkotaan. Karena penggunaan lahan lebih diarahkan pada penggunaan yang lebih menguntungkan, yang memiliki nilai ekonomi lahan tinggi, maka perubahan penggunaan lahan di Kawasan Bandung Utara perlu memperhatikan fungsi yang dimiliki kawasan. Sebagai kawasan yang memiliki fungsi lindung dan resapan air bagi dirinya dan daerah di bawahnya, maka konversi lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara perlu memperhatikan peruntukan yang telah ditentukan melalui Rencana Tata Ruang Wilayahnya. Meskipun konversi lahan merupakan hal yang tidak dapat dicegah dalam proses perkembangan perkotaan, namun perlu adanya kebijakan yang lebih tegas yang mengatur perubahan fungsi lahan, dimana konversi diperbolehkan hanya pada lahan-lahan pertanian non-produktif.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Rumusan Insentif dan Disinsentif Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Gianyar

Rumusan Insentif dan Disinsentif Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Gianyar

Abstrak—Pemerintah Kabupaten Gianyar menerapkan pemberian instrumen insentif dan disinsentf untuk mengendalikan konversi lahan pertanian. Namun pemberian instrumen masih belum berhasil untuk menahan konversi lahan pertanian. Hal ini disebabkan karena belum dilibatkannya pemilik lahan secara aktif dalam penentuan insentif dan disinsentif tersebut. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan insentif dan disinsentif lahan pertanian berdasarkan preferensi pemilik lahan dan pemerintah untuk mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Gianyar. Pada penelitian ini dilakukan analisis jenis dan nilai insentif disinsentif yang sesuai untuk diterapkan pada lahan pertanian dengan analisis Probability Unit. Pemberian insentif dan disinsentif dibedakan berdasarkan jenis lahan pertanian berkelanjutan (LP2B) dan lahan pertanian bukan lahan pertanian berkelanjutan. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Probability Unit, diperoleh nilai insentif dan disinsentif pada masing-masing jenis insentif dan disinsentif yang sesuai untuk mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Gianyar. Insentif dan disinsentif untuk lahan pertanian berkelanjutan terdiri dari pengurangan PBB maksimal sebesar 85%, pemenuhan infrastruktur irigasi dan pasar, biaya sarana prasarana maksimal sebesar 84%, subsidi pemeliharaan maksimal sebesar 86%, biaya pendidikan maksimal sebesar 78%, peningkatan PBB minimal 58%, pembatasan infrastruktur listrik dan jalan, peningkatan pajak balik nama minimal 58%, pengaturan perizinan dengan kewajiban penggantian lahan, dan biaya kompensasi minimal sebesar 63%. Sedangkan insentif dan disinsentif untuk lahan pertanian non berkelanjutan adalah pengurangan biaya PBB maksimal 58%, pemenuhan infrastruktur irigasi dan pasar, biaya sarana prasarana maksimal sebesar 59%, subsidi pemeliharaan maksimal sebesar 68%, peningkatan PBB minimal sebesar 58%, pembatasan infrastruktur listrik dan jalan, peningkatan pajak balik nama minimal sebesar 40%, dan pengaturan perizinan dengan kewajiban penggantian lahan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN PERTANIAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN PERTANIAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI

( Studi Kasus di Subak Jadi, Kecamatan Kediri, Tabanan ) Konversi lahan adalah suatu proses perubahan penggunaan lahan dari bentuk penggunaan tertentu menjadi penggunaan lain misalnya ke nonpertanian. Konversi lahan pertanian ke nonpertanian merupakan isu sentral pembangunan pertanian yang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap produksi pangan, aspek sosial ekonomi dan aspek lingkungan. Fenomena konversi lahan ini pada dasarnya terjadi akibat adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan antara sektor pertanian dengan sektor nonpertanian yang muncul akibat adanya tiga fenomena ekonomi dan sosial yaitu keterbatasan sumber daya alam, pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...