PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN

Top PDF PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN:

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK

Berdasarkan hasil penelitian penulis bahwa pelaksanaan sistem peradilan pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana perkosaan diatur dalam hukum acara peradilan pidana anak terdapat terdapat tahap-tahap proses beracaranya yaitu penyidikan, dalam melakukan penyidikan terhadap perkara anak, penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan setelah tindak pidana dilaporkan atau diadukan, Penuntutan terhadap anak melakukan tindak pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP yang ancaman hukumanya 12 Tahun penjara dan di dalam Undang- Undang No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak diancam hukuman 15 Tahun penjara, yang berarti diatas 7 (tujuh) tahun maka tidak dapat dilakukan diversi dan pemeriksaan persidangan yang pada prinsipnya anak disidangkan dalam ruang sidang khusus anak serta ruang tunggu sidang anak dipisahkan dari ruang tunggu sidang orang dewasa. Bentuk perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dalam sistem peradilan pidana anak yaitu adanya diversi, dalam menangani perkara anak, pembimbing kemasyarakatan, pekerja sosial profesional dan tenaga kesejahtraan sosial, penyidik, penuntut umum, hakim dan advokat atau pemberi bantuan hukum lainya wajib memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan tetap terpelihara dan Setiap tingkat pemeriksaan, anak wajib diberikan bantuan hukum dan didampingi oleh pembimbing kemasyarakatan
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

FAKTOR YANG MEMBERATKAN HUKUMAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan) MARWAN BUSYRO

FAKTOR YANG MEMBERATKAN HUKUMAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan) MARWAN BUSYRO

dengan penjelasan Hakim Pengadilan Negeri Padangsidimpuan ini adalh merupakan dasar pertimbangan untuk kepentingan korban sebagai manusia yang berhak atas perlindungan hokum. Masalah lain yang dapat dijadikan pertimbangan Hakim untuk menentukan hukuman terhadap pelaku tindak pidana perkosaan adalah ditinjau dari unsur kesalahan yang telah diperbuat terdakwa dimana seperti dijelaskan tidak adanya rasa keganjilan dalam diri terdakwa saat melakukan perkosaan yang secara berkelanjutan tersebut terhadap saksi korban Maria yang pada dasarnya bukan istrinya yang sah akan tetapi adalah istri orang lain. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas di dalam Putusan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Nomor, 599/Pid.B/2008/PN. Psp. Gnt tersebut oleh advokat menyebutkan dinyatakan suatu pertimbangan yang berbunyi bahwa benar sewaktu melakukan persetubuhan ataupun tindak pinda perkosaan terahdap saksi korban Maria tersebut terdakwa tidak ada memikirkan akibatnya walaupun saksi koran itu bukan istrinya sendiri. Dengan demikian secara yuridis apabila ditinjau dari sikap terdakwa dalam melakukan tindak pidana perkosaan terhadap saksi korban itu merupakan dasar pertimbangan bahwa Hakim berkewajiban untuk menjatuhkan hukuman yang berat bagi terdakwa dan ini dijadikan sebagai kesimpulan bagi terdakwa untuk dikenakan hukuman yang bersifat pidana penjara.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

Tindak pidana perkosaan antar anak yang terjadi merupakan suatu masalah yang memerlukan perhatian khusus pemerintah, oleh karena berkaitan dengan moralitas para generasi bangsa. Dalam hal ini pengadilan yang merupakan instansi atau lembaga yang menangani masalah hukum perlu memberikan perhatian terhadap kasus yang berkaitan dengan anak-anak terutama pada kejahatan seksual. Pengadilan perlu memberikan sanksi yang paling tepat pada anak-anak yang melakukan tindak pidana terutama kejahatan seksual. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah perspektif hukum pidana Indonesia dalam mengatur penerapan pasal tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur dilihat dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) serta apakah yang menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMBUKTIAN UNSUR DENGAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN KEKERASAN PADA TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Menggala Nomor 92/Pid.B/2008/PN.Mgl)

ANALISIS PEMBUKTIAN UNSUR DENGAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN KEKERASAN PADA TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Menggala Nomor 92/Pid.B/2008/PN.Mgl)

Di Indonesia tindak pidana perkosaan kerap terjadi pada kaum wanita, tindak pidana perkosaan dapat menimpa semua wanita tanpa terkecuali, perkosaan dapat terjadi pada anak di bawah umur sampai wanita yang berusia lanjut. Tindak pidana perkosaan tidak hanya sulit dalam perumusannya tetapi juga sulit dalam hal pembuktiannya. Sulitnya pembuktian unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menyertai persetubuhan terjadi karena kurangnya atau lemahnya alat bukti. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pembuktian unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan pada tindak pidana perkosaan sesuai putusan Pengadilan Negeri Menggala No.92/Pid.B/2008/PN.Mgl, dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana perkosaan.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN

Para penegak hukum menggunakan KUHP sebagai acuan dalam penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana perkosaan. Akan tetapi, KUHP hanya memuat ketentuan yang berlaku bagi pelaku saja, tidak memuat ketentuan yang berlaku bagi korban perkosaaan, sehingga perlu adanya aturan khusus yang mencakup keduanya, baik pelaku maupun korban. Perlindungan terhadap anak yang menjadi korban perkosaan tidak diatur di dalam KUHP, tetapi di dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, telah diatur tentang perlindungannya secara terperinci, begitu pula dengan penjatuhan pidana terhadap pelakunya. Bagi korban yang sudah dewasa, walaupun KUHP telah mengatur tentang tindak pidananya, tetapi ketentuan-ketentuan yang ada belum melindungi korban perkosaan itu sendiri. Ketentuan perlindungan terhadap korban perkosaan yang sudah dewasa dapat dijumpai di dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Di dalam undang-undang tersebut telah diatur perlindungan terhadap perkosaan di dalam lingkup rumah tangga (marital rape). Selain undang-undang di atas, perlu juga melihat Undang-undang No.13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan Rancangan Undang-undang KUHP Tahun 2008 yang diharapkan dapat mengatur lebih jauh tentang perlindungan korban perkosaan.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

Tindak pidana perkosaan antar anak yang terjadi merupakan suatu masalah yang memerlukan perhatian khusus pemerintah, oleh karena berkaitan dengan moralitas para generasi bangsa. Dalam hal ini pengadilan yang merupakan instansi atau lembaga yang menangani masalah hukum perlu memberikan perhatian terhadap kasus yang berkaitan dengan anak-anak terutama pada kejahatan seksual. Pengadilan perlu memberikan sanksi yang paling tepat pada anak-anak yang melakukan tindak pidana terutama kejahatan seksual. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah perspektif hukum pidana Indonesia dalam mengatur penerapan pasal tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur dilihat dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) serta apakah yang menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU PEMERKOSAAN  YANG BERUSIA LANJUT  Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU PEMERKOSAAN YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

11 2. Tidak ada perbedaan yang mendasar dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana perkosaan yang berusia lanjut dengan orang dewasa. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana perkosaan terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis. Hal ini sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang diatur dalam KUHP bahwa usia lanjut bukan faktor yang menghalangi seseorang untuk dikenai pidana. Artinya faktor usia lanjut bukan termasuk faktor yang menghapuskan, mengurangi atau memberatkan hukuman. Satu-satunya faktor yang dapat meringankan hukuman adalah pertimbangan sosiologis, ini tergantung pada penilaian hakim terhadap perbuatan terdakwa, dampaknya terhadap korban, apakah sudah ada denda, kondisi terdakwa, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARATIF TINDAK PIDANA PERJUDIAN DITINJAU DARI SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM PIDANA POSITIF INDONESI

STUDI KOMPARATIF TINDAK PIDANA PERJUDIAN DITINJAU DARI SYARI’AT ISLAM DAN HUKUM PIDANA POSITIF INDONESI

2. Penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana perjudian ditinjau dari syari’at Islam diterapkan dengan uqubat (hukuman) terhadap pelakunya yang berupa ‘uqubat cambuk di depan umum paling banyak 12 (dua belas) kali dan paling sedikit 6 (enam) kali dan uqubat denda paling banyak Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah), paling sedikit Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) sebagai penerimaan Daerah dan disetor langsung ke Kas Baital Mal. Sementara itu penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana perjudian ditinjau dari hukum pidana positif Indonesia diatur dalam Pasal 2 ayat (4) dan Pasal 1 Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, yaitu pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau dengan pidana denda setinggi-tingginya sepuluh juta rupiah
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Penerapan Undang-Undang nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Putusan No.1554/Pid.B/2012/PN.Mdn)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Penerapan Undang-Undang nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Kajian Putusan No.1554/Pid.B/2012/PN.Mdn)

Perdagangan orang yang mayoritas perempuan dan anak, merupakan jenis perbudakan pada era modren ini merupakan dampak krisis multidimesional yang dialami Indonesia. Dalam pemberitaan saat ini sudah dinyatakan sebagai masalah global yang serius dan bahkan telah menjadi bisnis global yang telah memberikan keuntungan besar terhadap pelaku. 8 Dari waktu ke waktu pratik perdagangan orang semakin menunjukkan kualitas dan kuantitasnya. Setiap tahun diperkirakan 2 (dua) juta manusia diperdagangkan dan sebagian besarnya adalah perempuan dan anak. Tahun 2005, ILO (International Labour Organization)Global Report on Forced Labour memperkirakan hampir 2,5 juta orang dieksploitasi melalui perdagangan orang menjadi buruh diseluruh dunia, dan lebih dari setengah berada di wilayah Asia termasuk Indonesia dan wilayah Pasifik, di mana 40 persen (empat puluh persen) adalah anak-anak. 9
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

University of Lampung | LPPM-UNILA Institutional Repository (LPPM-UNILA-IR)

University of Lampung | LPPM-UNILA Institutional Repository (LPPM-UNILA-IR)

Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki wilayah laut dengan luas sekitar 70% dari daratan, yang dikenal memiliki keaneka ragaman sumber daya hayati dan non hayati salah satunya perikanan, perikanan adalah semua kegiatan yang berhubunngan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengelolaan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dengan suatu sistem bisnis perikanan, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 mempunyai kedaulatan dan yuridiksi atas wilayah laut teritorial Indonesia, serta kewenangan dalam rangka menetapkan ketentuan tentang pemanfaatan sumber daya ikan, baik itu kegiatan penangkapan maupun pembudidaya Ikan sekaligus meningkatkan kemakmuran dan keadilan guna pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi kepentingan bangsa dengan tetap memperhatikan prinsip kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya serta kesinambungan pembangunan perikanan nasional.Permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana upaya penegakan hukum terhadap pelaku pencurian ikan oleh warga negara asing di wilayah laut teritorial Indonesia, serta bagaimana penerapan sanksi bagi pelaku pencurian ikan oleh warga negara asing di wilayah laut teritorial Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan pendekatan empiris.data primer hanya sebagai pendukung, Data sekunder ialah data yang didapat dari studi kepustakaan, serta pendekatan ini didukung oleh 3 (tiga) bahan hukum yaitu hukum primer, sekunder, dan tersier.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

SKRIPSI  Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

SKRIPSI Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul: PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU PEMERKOSAAN YANG BERUSIA LANJUT, sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta.

12 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

Allah SWT berfirman: “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” Ayat di atas menjelaskan hukuman dipotong tangannya pencuri baik perempuan atau laki-laki sebagai pembalasan duniawi atas perbuatannya. Agar pelaku jera dan orang lain takut melakukan hal serupa. Tetapi jika ia menyadari kesalahannya dan menyesali lalu bertaubat, antara lain dengan mengembalikan apa yang telah dicurinya atau mengembalikan yang senilai kepada pemiliknya, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya sehingga ia tidak akan disiksa di akhirat nanti. 50 ”Tidaklah dipotong tangan seorang pencuri kecuali (jika ia telah mencuri sesuatu) senilai seperempat dinar atau lebih” . ( HR. Muslim No 1684)
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Kartu Tanda Penduduk (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 1649 Pid.Sus 2015 Pn.Mdn

Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Kartu Tanda Penduduk (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 1649 Pid.Sus 2015 Pn.Mdn

Teori ini juga menyebutkan, bahwa memidana bukanlah untuk memutuskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan itu sendiri tidak mempunyai nilai, tetapi hanya sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu menurut J.Andreas, teori ini dapat disebut sebagai teori perlindungan masyarakat (the theory of social defence). Sedangkan menurut Nigel Walker teori ini lebih tepat disebut sebagai teori atau aliran reduktif (the reductive point of view) karena dasar pembenaran pidana menurut teori ini adalah untuk mengurangi frekwensi kejahatan. Oleh karena itu para penganutnya dapat disebut golongan reducers (penganut teori reduktif).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

Sebagai salah satu dari pelaksanaan hukum yaitu hakim diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk menerima, memeriksa, serta memutus suatu perkara pidana. Oleh karena itu hakim dalam mengenai suatu perkara harus dapat berbuat adil sebagai seorang hakim dalam memberikan putusan kemungkinan dipengaruhi oleh hal yang ada pada dirinya dan sekitarnya karena pengaruh dari faktor agama, kebudayaan, pendidikan, nilai, norma, dan sebagainya sehingga dapat dimungkinkan adanya perbedaan cara pandang sehingga mempengaruhi pertimbangan dalam memberikan putusan. 2

19 Baca lebih lajut

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia global telah mendorong meningkatnya kesadaran dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. Peningkatan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia ini membawa pengaruh terhadap pemikiran dalam lingkup kajian dan teori mengenai sistem peradilan pidana, yang ditandai dengan bergesernya paradigma hukum pidana yang semula hanya berorientasi pada pembalasan terhadap pelaku kejahatan dengan fokus perbuatannya semata ke arah fokus berikutnya yang lebih luas yakni perbuatan dan pelaku tindak pidana. Keadaan ini secara keseluruhan masih menampakkan paradigma hukum pidana yang masih berfokus pelaku tindak pidana. 8
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN ARTIDJO ALKOSTAR TERHADAP PEMBERATAN HUKUMAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI.

ANALISIS YURIDIS PUTUSAN ARTIDJO ALKOSTAR TERHADAP PEMBERATAN HUKUMAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI.

20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dalam dakwaan Pertama : menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Angelina Sondakh berupa pidana penjara selama 12 (dua belas ) tahun dikurangi Selama Terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah supaya Terdakwa tetap ditahan dan ditambah dengan pidana denda sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) subsidiair 6 (enam) bulan kurungan :menjatuhkan pidana tambahan membayar uang pengganti sejumlah Rp12.580.000.000,00 (dua belas milyar lima ratus delapan puluh juta rupiah) dan US $.2.350.000,00 (dua juta tiga ratus lima puluh ribu Dollar Amerika Serikat) selambat-lambat satu bulan setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap, dan apabila uang pengganti tersebut tidak dibayar maka dipidana dengan pidana penjara selama 2 ( dua ) tahun penjara.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA  YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses penyelesaian hukum dalam tindak pidana terhadap pelaku yang berusia lanjut, pertimbangan yang digunakan hakim dalam memutus tindak pidana yang dilakukan oleh lansia, serta perbedaan putusan pemidanaan terhadap putusan pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. Penelitian dilaksanakan di Pengadilan Negeri Ngawi. Sumber data menggunakan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, penyelesaian perkara pidana pada pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada Kitab Undang- Undang Acara Pidana (KUHAP), yaitu dimulai dengan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan. Penyelesaian hukum pada tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin oleh pelaku yang berusia lanjut tetap menggunakan ketentuan umum yang dipersyaratkan dalam hukum pidana formil untuk menjamin kepastian hukum dan memberikan efek jera bagi terdakwa. Pemberian hukuman ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat di kemudian hari agar tidak melakukan perbuatan sama; Kedua, Majelis Hakim dalam memeriksa perkara pidana berusaha mencari dan membuktikan kebenaran materil berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis; Ketiga, tidak ada perbedaan dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Faktor usia tidak termasuk dalam faktor yang meringankan hukuman. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis. Sesuai dengan ketentuan hukum yang diatur dalam KUHP bahwa usia lanjut bukan faktor yang menghalangi seseorang untuk dikenai pidana. Artinya faktor usia lanjut bukan termasuk faktor yang menghapuskan, mengurangi atau memberatkan hukuman.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI  Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

Unsur kesalahan yang dipenuhi oleh terdakwa yakni: (1) Melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum). Tindak pidana dimengerti sebagai perilaku manusia ( gedragingen : yang mencakup dalam hal ini berbuat maupun tidak berbuat) yang diperbuat dalam situasi dan kondisi yang diuruskan di dalamnya perilaku mana yang dilarang oleh undang- undang dan diancam dengan sanksi pidana. 8 Terdakwa bermaksud menggugurkan kandungannya dengan menyuruh DWP untuk membantu menggugurkan. Perbuatannya bertentangan dengan Pasal 346 KUHP; (2) Di atas umur tertentu mampu bertanggung jawab. Terdakwa adalah mahasiswi yang mempunyai akal dan pikiran, mengetahui tindak pidana aborsi adalah perbuatan yang dilarang oleh hukum positif Indonesia; (3) Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan. Terdakwa menghendaki agar bayi dalam kandungannya mati meskipun ia mengetahui bahwa perbuatan menggugurkan kandungan bertentangan dengan hukum. Menurut Jescheck, dengan mengetahui dapat dipersandingkan: mengerti, memahami, menyadari sesuatu. 9 (4) Tidak adanya alasan pemaaf. Terdakwa seorang wanita yang tidak ada
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PEMERKOSAAN YANG MELAKUKAN ABORTUS PROVOCATUS.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PEMERKOSAAN YANG MELAKUKAN ABORTUS PROVOCATUS.

Pengaturan mengenai perlindungan terhadap perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus saat ini terdapat dalam KUHP, UU Kesehatan , PP Kespro, dan Undang- Undang PSK, namun belum ada pengaturan secara jelas tentang perlindungan terhadap perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus. Perlindungan terhadap perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus dalam KUHP hanya memberikan perlindungan secara preventif. Diperlukan aturan hukum yang jelas dan lengkap tentang perlindungan terhadap perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus, sehingga diharapkan agar pemerintah membentuk suatu aturan hukum baik dengan menyempurnakan aturan yang sudah ada atau dengan membentuk aturan baru yang khusus.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

Subjek tindak pidana di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tersebut sebagaimana disebutkan di atas hanya ditujukan kepada orang perorangan atau manusia. Hal itu terlihat pada ketentuan pidananya yang hanya menyebutkan “setiap orang” di dalam pasal tersebut di atas. Namun melihat perkembangan sekarang ini para pelaku tindak pidana terhadap satwa liar yang dilindungi juga telah berkembang, antara lain diakukan juga oleh badan hukum. Hal tersebut menunjukkan kelemahan dari undang-undang tersebut yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan peristiwa hukum yang terjadi di tengah masyarakat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...