PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN

Top PDF PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN:

FAKTOR YANG MEMBERATKAN HUKUMAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan) MARWAN BUSYRO

FAKTOR YANG MEMBERATKAN HUKUMAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan) MARWAN BUSYRO

penjatuhan hukuman terhadap pelaku tindak pidana perkosaan adalah masih besarnya ketergantungan terhadap keluarga terdakwa sehingga bilamana terdakwa dijatuhkan hukuman sebagaimana yang diatur dalam ketentuan hukum pidana justru akan menambah kesulitan bagi Hakim untuk menambah hukuman dari hukuman yang sebenarnya. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas bila dikaitkan dengan persoalan di atas sebagaimana yang dijelaskan oleh seorang advokat kendala ini terus mempengaruhi jalannya musyawarah Hakim dalam menentukan hukuman terhadap terdakwa sehingga menyebabkan Hakim Majelis sering berbeda pendapat untuk menentukan tinggi rendahnya hukuman yang akan dijatuhkan. Sedangkan alasan lain yang menjadi hambatan dalam menentukan hukuman terhadap pelaku tindak pidana perkosaan adalah dengan tidak jelasnya cara terdakwa dalam melakukan tindak pidana perkosaan tersebut apalagi terdakwa membantah semua keterangan saksi-saksi yang diajukan di muka persidangan dan juga disebabkan keterangan para saksi hanya bersifat pengakuan saja seperti pengakuan dari saksi korban sedangkan terdakwa adalah sebagai pihak yang langsung terlibat. Apabila dikaitkan dengan penjelasan tersebut di atas dimana hanya keterangan saksi saja yang dipertimbangkan dan tidak dipertimbangkan hal-hal yang lain sementara saksi tidak melihat secara langsung terjadinya tindak pidana perkosaan yang dilakukan terdakwa, maka apabila Hakim hanya bertahan terhadap keterangan yang bersifat pengakuan saja secara Hukum Acara Pidana tidak berkekuatan hukum, melainkan pengakuan tersebut harus didukung dengan keterangan saksi lainnya serta alat-alat bukti yang digunakan dalam melakukan tidan adanya hambatan dalam penerapan
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERKOSAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK

Berdasarkan hasil penelitian penulis bahwa pelaksanaan sistem peradilan pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana perkosaan diatur dalam hukum acara peradilan pidana anak terdapat terdapat tahap-tahap proses beracaranya yaitu penyidikan, dalam melakukan penyidikan terhadap perkara anak, penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan setelah tindak pidana dilaporkan atau diadukan, Penuntutan terhadap anak melakukan tindak pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP yang ancaman hukumanya 12 Tahun penjara dan di dalam Undang- Undang No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak diancam hukuman 15 Tahun penjara, yang berarti diatas 7 (tujuh) tahun maka tidak dapat dilakukan diversi dan pemeriksaan persidangan yang pada prinsipnya anak disidangkan dalam ruang sidang khusus anak serta ruang tunggu sidang anak dipisahkan dari ruang tunggu sidang orang dewasa. Bentuk perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dalam sistem peradilan pidana anak yaitu adanya diversi, dalam menangani perkara anak, pembimbing kemasyarakatan, pekerja sosial profesional dan tenaga kesejahtraan sosial, penyidik, penuntut umum, hakim dan advokat atau pemberi bantuan hukum lainya wajib memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan tetap terpelihara dan Setiap tingkat pemeriksaan, anak wajib diberikan bantuan hukum dan didampingi oleh pembimbing kemasyarakatan
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

anak di bawah umur yang berkonflik dengan hukum harus memperhatikan Pasal 64 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yang secara tegas memberikan perlindungan dan perlakuan khusus baik selama proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai dengan proses persidangan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 26, Pasal 41 sampai dengan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Faktor yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur antara lain meliputi faktor aparat penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas yang mendukung penegakan hukum, faktor kesadaran masyarakat serta faktor kebudayaan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMBUKTIAN UNSUR DENGAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN KEKERASAN PADA TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Menggala Nomor 92/Pid.B/2008/PN.Mgl)

ANALISIS PEMBUKTIAN UNSUR DENGAN KEKERASAN ATAU ANCAMAN KEKERASAN PADA TINDAK PIDANA PERKOSAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Menggala Nomor 92/Pid.B/2008/PN.Mgl)

Di Indonesia tindak pidana perkosaan kerap terjadi pada kaum wanita, tindak pidana perkosaan dapat menimpa semua wanita tanpa terkecuali, perkosaan dapat terjadi pada anak di bawah umur sampai wanita yang berusia lanjut. Tindak pidana perkosaan tidak hanya sulit dalam perumusannya tetapi juga sulit dalam hal pembuktiannya. Sulitnya pembuktian unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menyertai persetubuhan terjadi karena kurangnya atau lemahnya alat bukti. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pembuktian unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan pada tindak pidana perkosaan sesuai putusan Pengadilan Negeri Menggala No.92/Pid.B/2008/PN.Mgl, dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana perkosaan.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU PEMERKOSAAN  YANG BERUSIA LANJUT  Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU PEMERKOSAAN YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

11 2. Tidak ada perbedaan yang mendasar dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana perkosaan yang berusia lanjut dengan orang dewasa. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana perkosaan terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis. Hal ini sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang diatur dalam KUHP bahwa usia lanjut bukan faktor yang menghalangi seseorang untuk dikenai pidana. Artinya faktor usia lanjut bukan termasuk faktor yang menghapuskan, mengurangi atau memberatkan hukuman. Satu-satunya faktor yang dapat meringankan hukuman adalah pertimbangan sosiologis, ini tergantung pada penilaian hakim terhadap perbuatan terdakwa, dampaknya terhadap korban, apakah sudah ada denda, kondisi terdakwa, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

SKRIPSI  Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

SKRIPSI Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hakim, perbedaan putusan pemidanaan dan proses penyelesaian perkara pidana pada pelaku tindak pidana perkosaan yang berusia lanjut. Penelitian ini termasuk penelitian yuridis normatif yang bersifat diskriptif. Penilitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi di Pengadilan Negeri Wonogiri dan Pengadilan Negeri Purwodadi. Data pada penelitian ini meliputi data primer dan data skunder. Data primer berupa sejumlah keterangan atau fakta yang secara langsung dari lokasi penelitian yang dipilih oleh penulis. Data sekunder digunakan sebagai pendukung data primer. Tehnik pengumpulan data adalah studi kepustakaan dan wawancara setelah semua data terkumpul, dilakukan analisis data. Setelah data terkumpul maka data yang telah ada dikumpulakan dianalisis secara kualitatif.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

ANALISIS TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANTAR ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA INDONESIA

Tindak pidana perkosaan antar anak yang terjadi merupakan suatu masalah yang memerlukan perhatian khusus pemerintah, oleh karena berkaitan dengan moralitas para generasi bangsa. Dalam hal ini pengadilan yang merupakan instansi atau lembaga yang menangani masalah hukum perlu memberikan perhatian terhadap kasus yang berkaitan dengan anak-anak terutama pada kejahatan seksual. Pengadilan perlu memberikan sanksi yang paling tepat pada anak-anak yang melakukan tindak pidana terutama kejahatan seksual. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah perspektif hukum pidana Indonesia dalam mengatur penerapan pasal tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur dilihat dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) serta apakah yang menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana perkosaan antar anak di bawah umur.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN

Para penegak hukum menggunakan KUHP sebagai acuan dalam penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana perkosaan. Akan tetapi, KUHP hanya memuat ketentuan yang berlaku bagi pelaku saja, tidak memuat ketentuan yang berlaku bagi korban perkosaaan, sehingga perlu adanya aturan khusus yang mencakup keduanya, baik pelaku maupun korban. Perlindungan terhadap anak yang menjadi korban perkosaan tidak diatur di dalam KUHP, tetapi di dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, telah diatur tentang perlindungannya secara terperinci, begitu pula dengan penjatuhan pidana terhadap pelakunya. Bagi korban yang sudah dewasa, walaupun KUHP telah mengatur tentang tindak pidananya, tetapi ketentuan-ketentuan yang ada belum melindungi korban perkosaan itu sendiri. Ketentuan perlindungan terhadap korban perkosaan yang sudah dewasa dapat dijumpai di dalam Undang-undang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Di dalam undang-undang tersebut telah diatur perlindungan terhadap perkosaan di dalam lingkup rumah tangga (marital rape). Selain undang-undang di atas, perlu juga melihat Undang-undang No.13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan Rancangan Undang-undang KUHP Tahun 2008 yang diharapkan dapat mengatur lebih jauh tentang perlindungan korban perkosaan.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI  Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

Tindak pidana aborsi telah diatur di dalam Pasal 346-349 KUHP. Pengaturan khusus mengenai tindak pidana ini lebih khusus diatur dalam Undang-undang Kesehatan, yakni Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan sebagai undang-undang lama dan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai undang-undang terbaru (hasil perubahan). Meskipun tindak pidana aborsi ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun masih banyak kasus aborsi yang terjadi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mengemukakan bahwa angka tindakan aborsi terjadi sebanyak 2 juta per tahun dengan 750 angka dilakukan oleh remaja putri. Faktor yang melatarbelakangi para pelaku tindak pidana aborsi diantaranya karena kehamilan akibat seks bebas, kehamilan akibat perkosaan, dan alasan sosio ekonomis. Sehubungan dengan hal itu, maka bagaimanakah sepantasnya pelaku tindak pidana aborsi mempertanggungjawabkan perbuatannya serta bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian yuridis empiris. Penulis akan mengidentifikasikan hukum yang sedang berlaku dan menghubungkannya dengan fakta-fakta yang ada berupa pertimbangan hakim dalam memberikan putusannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis, didapatkan hasil bahwa seorang pelaku tindak pidana aborsi dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya harus memenuhi unsur-unsur kesalahan yang berupa adanya sifat melawan hukum, di atas umur tertentu mampu bertanggungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan, dan tidak adanya alasan pemaaf. Sementara itu, di dalam hukum Islam, seseorang dapat hapus hukumannya apabila terdapat paksaan ( Al-Ikhrah), belum dewasa, mabuk, gila dan halangan-halangan lain. Hakim selama ini memutuskan perkara tindak pidana aborsi dengan memberikan pertimbangan dengan melihat pada peraturan perundang-undangan khususnya pada KUHP bukan pada Undang-Undang Kesehatan sebagai lex specialist nya. Selain itu, hakim juga memberikan pertimbangannya melalui hati nurani hakim tanpa dengan mempertimbangkan nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Tindak Pidana Perkosaan Dari Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana

Tindak Pidana Perkosaan Dari Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana

Lidya Suryani W. dan Sri Wurdani menegaskan KUHAP kurang memberikan perhatian terhadap korban kejahatan khususnya korban korban kejahatan perkosaan sebagai pihak yang paling dirugikan yang juga membutuhkan perlindungan terhadap hak-haknya yang telah dilanggar. Seringkali terjadi, keterlibatan korban dalam sistem peradilan pidana hanya menambah rasa takut yang berkepanjangan, tidak berdaya dan kecewa karena tidak diberikan perlindungan yang cukup. Perjalanan penderitaan yang panjang dalam proses peradilan pidana, lebih banyak berakhir dengan kepedihan. Hukuman yang dijatuhkan hakim atas pelaku perkosaan terlampau ringan jika dibandingkan dengan trauma yang diakibatkan oleh perkosaan itu dalam hidup korban sepanjang hayat. Ancaman hukuman maksimal 12 tahun hanya menjadi sederetan kata-kata didalam KUHP, karena rata-rata hakim menjatuhkan pidana kepada pemerkosa berkosar 5 bulan hingga 2 tahun penjara. Penjatuhan pidana yang relatif ringan, sebagaimana yang sering kita dengar pada praktik peradilan selama ini dikhawatirkan akan membuat pelaku tak takut atau tak jera melakukan kejahatan perkosaan itu lagi dan juga tidak dapat dijadikan peredam makin maraknya kasus perkosaan. Korban dalam pemeriksaan penyidik misalnya lebih
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Kebijakan Legislasi Tentang Tindak Pidana Perkosaan Di Indonesia

Kebijakan Legislasi Tentang Tindak Pidana Perkosaan Di Indonesia

Dengan konsep ”kejahatan terhadap kesusilaan” dengan mudah akan terperangkap dalam situasi melihat kekerasan terhadap perempuan hanya sebagai suatu masalah susila atau moral, yang tidak ditujukan langsung pada individu- individu yang menjadi korbannya. Mengakibatkan ketidakmampuan berempati pada perempuan yang langsung menjadi korban, karena perempuan korbanlah yang sesungguhnya tubuh dan kehidupan psiko-sosialnya dianiaya. Perempuan korban seringkali justru berada dalam posisi yang rentan, karena pelaku dapat mengajukan tuntutan balik tentang mencemarkan nama baik pelaku, atau sanksi moral karena dianggap merusak ”kondisi moral” masyarakat. Kepada perempuan korban perkosaan langsung terlekatkan ”stigma sosial” yang melihatnya sebagai perempuan yang kotor, tidak suci lagi, tidak pantas disebut perempuan baik-baik. Perempuan korban akan menjadi semakin rentan dan mengalami ketidakadilan yang berlanjut.
Baca lebih lanjut

187 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PEMERKOSAAN YANG MELAKUKAN ABORTUS PROVOCATUS.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PEMERKOSAAN YANG MELAKUKAN ABORTUS PROVOCATUS.

Pengguguran kandungan (Aborsi)selalu menjadi perbincangan, baik dalam forum resmi maupun tidak resmi yang menyangkut bidang kedokteran, hukum maupun disiplin ilmu lain. Aborsi merupakan fenomena social yang semakin hari semakin memprihatinkan. Istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak. Persoaalan aborsi pada umumnya dianggap oleh sebagian masyarakat adalah suatu tindak pidana, namun dalam hokum positif di Indonesia tindakan aborsi pada sebagian kasus tertentu terdapat pengecualiaan. Dalam perlindungan hukum tidak dituntutnya perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus terkait dengan alasan penghapus pidana, sementara itu terhadap perempuan korban perkosaan pelaku abortus provocatus membutuhkan perlindungan lainnya, seperti perlindungan acces to justice and fair treatment, restitusi, kompensasi, dan bantuan baik materi, medis, psikologis, maupun bantuan hukum yang diatur, tetapi ketentuan-ketentuan tersebut dianggap kurang efektif karena adanya konflik norma. Permasalahan dalam penulisan ini adalah apakah korban pemerkosaan yang mmelakukan abortus provocatus dapat dipertanggungjawabkan secara pidana dan perlindungan hukum yang dapat diberikan terhadap korban pemerkosaan. Penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan kontribusi keilmuan secara ilmiah terkait perlindungan terhadap perempuan korban perkosaan yang melakukan perbuatan abortus provocatus..
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

PENDAHULUAN Pemidanaan Terhadap Pelaku Pemerkosaan Yang Berusia Lanjut.

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penulisan yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek dan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak. 16 Alasan-alasan menggunakan penelitian deskriptif untuk memberikan suatu gambaran, lukisan, dan memaparkan segala sesuatu yang nyata yang berhubungan dengan putusan pemidanaan atas tindak pidana perkosaan yang berusia lanjut. 3. Lokasi Penelitian
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN DISPARITAS KONTRUKSI YURIDIS JAKSA PENUNTUT UMUM DALAM PENUNTUTAN PERKARA PERKOSAAN DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA

KAJIAN DISPARITAS KONTRUKSI YURIDIS JAKSA PENUNTUT UMUM DALAM PENUNTUTAN PERKARA PERKOSAAN DI LINGKUNGAN RUMAH TANGGA

Dalam perkosaan di lingkungan rumah tangga, keadaan yang terjadi pada kasus di atas menurut penulis lebih melanggar norma kesusilaan dan kepatutan yang hidup dalam masyarakat, karena menyangkut etika keluarga yang seharusnya tidak patut atau tidak pantas dilakukan oleh seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Kejadian semacam ini sangat tabu untuk dilaporkan pada pihak yang berwajib karena sama dengan membuka aib keluarga itu sendiri. Selain itu, semua tindak pidana perkosaan pada kasus di atas yang selama kurang lebih 3 tahun ini terjadi di tempat tinggal pelaku maupun korban sendiri menunjukkan bahwa harga diri perempuan juga dapat dilanggar dan dilecehkan oleh anggota atau unsur keluarga lainnya dalam lingkungan terdekat sekalipun, yang mana seharusnya keluarga adalah merupakan tempat berlindung. Terlebih lagi bila berbicara dampak psikis yang dialami oleh korban yang mana keperawanannya direnggut oleh ayahnya sendiri dan sampai menghasilkan seorang anak. Ia akan mengalami trauma yang tidak mudah dilupakan, rasa sakit hati, penderitaan dan ketakutan serta aib yang harus ditanggungnya seumur hidup.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERUSIA LANJUT Pemidanaan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Yang Berusia Lanjut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan putusan pemidanaan terhadap putusan pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana yang berusia lanjut. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. Penelitian dilaksanakan di Pengadilan Negeri Ngawi. Sumber data menggunakan data sekunder. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, penyelesaian perkara pidana pada pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada Kitab Undang-Undang Acara Pidana (KUHAP), yaitu dimulai dengan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan; Kedua, Majelis Hakim dalam memeriksa perkara pidana berusaha mencari dan membuktikan kebenaran materil berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis; Ketiga, tidak ada perbedaan dalam putusan pemidanaan pada pelaku tindak pidana yang berusia lanjut dengan orang dewasa lainnya. Faktor usia tidak termasuk dalam faktor yang meringankan hukuman. Pertimbangan hakim dalam memutus tindak pidana menebang atau memanen hasil hutan tanpa ijin terhadap pelaku yang berusia lanjut tetap mengacu pada ketentuan pemutusan tindak pidana secara umum yaitu berdasarkan pertimbangan hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan sosiologis.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISA TINDAK PIDANA YANG TIDAK DILAKUKAN PENUNTUTAN KE PENGADILAN  Analisa Tindak Pidana Yang Tidak Dilakukan Penuntutan Ke Pengadilan (Studi Kasus Polres Ngawi).

ANALISA TINDAK PIDANA YANG TIDAK DILAKUKAN PENUNTUTAN KE PENGADILAN Analisa Tindak Pidana Yang Tidak Dilakukan Penuntutan Ke Pengadilan (Studi Kasus Polres Ngawi).

Dalam hal ini jika suatu tindak pidana tidak dilakukan penuntutan ke pengadilan maka akan menimbulkan adanya akibat hukum yang ditimbulkan. Akibat-akibat hukum yang timbul tersebut tentunya memiliki ketentuan-ketentuan yang akan berakibat lagi pada kegiatan penyelesaian pidana. di sini akan kita bahas secara jelas tentang akibat hukum yang timbul jika suatu tindak pidana tidak dilakukan penuntutan ke pengadilan. Suatu tindak pidana jika tidak dilakukan penuntutan ke pengadilan maka akan menimbulkan akibat hukum, akibat hukum tersebut antara lain adalah para pelaku tindak pidana tidak akan merasa jera dikarenakan mereka belum tentu dituntut dengan adanya kesalahan yang mereka buat, tidak dilakukannya penuntutan tersebut tentunya ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. 9 Di sisi lain akibat hukum yang akan ditimbulkan adalah membuat lemahnya penegakan hukum yang sudah ada, karena penuntutan suatu tindak pidana tidak dilakukan maka akan membuat masyarakat yang melakukan suatu tindak pidana akan berbuat santai atau menggampangkan saja. Dalam penyelesaian suatu tindak pidana akan melalui beberapa tahapan atau proses yang harus dilalui, maka dari itu dalam penyelesaiannya sampai proses ke pengadilan membutuhkan waktu yang cukup lama. adanya kebutuhan waktu yang tidak singkat tersebut dapat menyebabkan suatu kasus tindak pidana berhenti ditengah-tengah jalan dan tidak diproses sampai selesai dalam arti tidak selesai sampai ditetapkan putusan di pengadilan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114/Pid./2012/PT.TK)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114/Pid./2012/PT.TK)

Pendekatan yuridis normatif digunakan untuk melakukan penelaahan terhadap teori-teori, konsep-konsep, pandangan-pandangan, peraturan-peraturan serta perumusan-perumusan yang berkaitan dengan tindakan turut serta melakukan tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh oknum polri.Secara operasional, pendekatan ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research), studi komparatif dan interprestasi terhadap berbagai literatur.Dengan mengadakan pendekatan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas terhadap permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini mengenai pencabulan yang dilakukan oleh oknum anggota polisi.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN.

Pelapor yang demikian itu harus diberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai atas laporannya, sehingga ia tidak merasa terancam atau terintimidasi baik hak maupun jiwanya. Dengan adanya jaminan perlindungan hukum dan keamanan tersebut, diharapkan tercipta suatu keadaan yang memungkinkan masyarakat tidak lagi merasa takut untuk melaporkan suatu tindak pidana yang diketahuinya kepada penegak hukum, karena khawatir atau takut jiwanya terancam oleh pihak tertentu. Berdasarkan asas kesamaan di depan hukum (equality before the law) yang menjadi salah satu ciri negara hukum, Saksi dalam proses peradilan pidana harus diberi jaminan perlindungan hukum. 12
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...