Taman Nasional Gede Pangrango

Top PDF Taman Nasional Gede Pangrango:

Penyebaran, Regenerasi dan Karakteristik Habitat Jamuju (Dacrycarpus imbricatus Blume) di Taman Nasional Gede Pangrango

Penyebaran, Regenerasi dan Karakteristik Habitat Jamuju (Dacrycarpus imbricatus Blume) di Taman Nasional Gede Pangrango

Bersama ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Penyebaran, Regenerasi dan Karakteristik Habitat Jamuju (Dacrycarpus imbricatus Blume) di Taman Nasional Gede Pangrango adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan ataupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari skripsi ini.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Persepsi Kualitas Estetika dan Ekologi pada Jalur Wisata Alam Taman Nasional Gede Pangrango

Persepsi Kualitas Estetika dan Ekologi pada Jalur Wisata Alam Taman Nasional Gede Pangrango

Potensi kegiatan rekreasi alam yang dapat ditawarkan pada setiap tempat berbeda, karena karakteristik masing-masing tempat berbeda termasuk dalam hal ekologi dan kualitas visualnya. Karakter ekologi dan kualitas visual yang unik dapat memberi nilai tambah dan daya tarik tersendiri dari suatu kawasan, karena menjanjikan suatu pengalaman yang berbeda pula bagi pengunjung. Taman Nasional Gede Pangrango memiliki karakteristik kawasan yang unik, baik dari segi ekologi maupun kualitas visualnya. Kedua faktor ini menentukan penilaian potensi penyediaan rekreasi pada taman nasional. Penilaian ini sejalan dengan konsep lanskap ekologis sekaligus estetik yang sesuai dengan isu pembangunan yang berkelanjutan. Hal yang ingin dicapai darinya sangat jelas, yaitu terwujudnya keselarasan kepentingan manusia dengan kelestarian alam. Menurut Thorne dan Huang (1990) dasar konsep ini adalah evaluasi pola spasial tapak serta pengaruhnya terhadap integritas ekologi lanskap dan daya tarik estetik. Lebih lanjut dijelaskan dua langkah pokok penerapan konsep tersebut adalah evaluasi kualitas lingkungan, yaitu: kualitas lingkungan fisik, bentuk teknologi dan budidaya, serta evaluasi daya tarik estetik, yaitu: penilaian oleh indera manusia, arti simbolik tapak, dan nilai positif emosional tapak.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Jumlah pengunjung /wisatawan yang datang pada tanggal 3 s/d 14 juni 2005 sebanyak 729 orang, dan 142 orang diantaranya atau 19,48 % dijadikan sampel penelitian (responden) yang dipilih secara acak, kemudian melalui lembar pernyataan (kuisioner) mereka diminta untuk menyampaikan pendapatnya tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan, sarana prasarana, obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA), dan keamanan di Taman Nasional Gede Pangrango. Dari jawaban atau pernyataan responden yang dibuat, kemudian di hitung nilai skornya per responden dan per jenis variabel bebasnya. Untuk keperluan analisis data, dari jumlah nilai skor yang diperoleh berdasarkan jenis variabel bebasnya, nilai tersebut dibuat nilai rata-rata berdasarkan jumlah responden yang di ambil per hari nya (lihat Tabel 3), kemudian data nilai rata- rata skoring tersebut diolah melalui komputer dengan menggunakan proram SPSS for windows versi 12.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) merupakan bagian integral dari pembangunan kepariwisataan nasional, selain daripada itu pengembangan pengelolaan Taman Nasional Gede Pangrango ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut maka pelaksanaan pengembangan pengelolaan kepariwisataan di Taman Nasional Gede Pangrango harus mampu menjadi sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional di Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dapat dicapai atau di raih berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat, pemerintah, media masa, dan pengusaha pariwisata. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan pariwisata alam, yaitu : pariwisata nasional, perencanaan kawasan, pengelolaan lingkungan, sosial ekonomi dan budaya, penataan ruang serta peraturan perundangan. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun strategi peluangusahan di Taman Nasional Gede Pangrango. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam meliputi pengembangan : aspek perencanaan pembangunan, aspek kelembagaan, aspek sarana dan prasarana, aspek pengelolaan, aspek pengusahaan, aspek pemasaran, aspek peran serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Adopsi pohon bertujuan untuk mengembalikan fungsi dan kondisi hutan yang semula hutan produksi menjadi hutan konservasi dengan fungsi konservasi dengan mengikut- sertakan masyarakat, organisasi, pemerintah daerah, perwakilan negara asing, perusahaan lokal maupun asing untuk berpartisipasi (Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 2012) (Gambar 9). Biaya yang dikenakan dalam kegiatan penanaman ini adalah Rp 108.000,-/pohon dalam jangka waktu tiga tahun dengan perincian alokasi dana sebagai ber- ikut: penanaman sebesar Rp 37.800,- (35%), manajemen sebesar Rp16.200,- (15%), dan pemberdayaan masyarakat sebesar Rp 54.000,- (50%) yang akan diserahkan tunai kepada masyarakat. Untuk mengefektifkan pemberdayaan masyarakat, maka dibentuk kelompok tani yang akan menerima uang adopsi secara tunai atau diserahkan dalam bentuk ternak kambing, domba, kelinci, lebah madu, pertanian organik, dan pembinaan pemandu wisata alam (Soemarto, 2013).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN  KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI PLAWANGAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

I. PENDAHULUAN KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI PLAWANGAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Penelitian yang dilakukan oleh Benyamin (2008) mengenai Keanekaragaman Kupu-Kupu Di Resort Selabintana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman kupu-kupu cukup tinggi dengan ditemukannya 17 jenis kupu- kupu dari enam famili. Famili yang dominan ditemukan adalah Nymphalidae yang banyak terdapat di daerah penyangga.

4 Baca lebih lajut

I. Pendahuluan - Pengembangan Program Pendidikan Konservasi: Sebuah Pembelajaran di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

I. Pendahuluan - Pengembangan Program Pendidikan Konservasi: Sebuah Pembelajaran di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Inisiatif pendidikan konservasi yang dilakukan LSM dimulai dari WWF Indonesia pada tahun 1995. WWF menciptakan program pendidikan konservasi yang ditujukan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan melalui pemutaran film-fim tentang alam dan brosur pendidikan bagi anak-anak sekolah, masyarakat dan pemangku kepentingan (http://www.wwf.or.id/en/about_ wwf / whatwedo / pds/whatwedo/environmental education). Hal serupa juga dilakukan Conservation International Indonesia (CI) yang memulai programnya di kawasan konservasi dan sekitarnya di tiga lokasi berbeda, yaitu di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Gunung, Jawa Barat; di Sibolangit, Sumatera Utara dan program pendidikan konservasi kelautan di Raja Ampat, Papua.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Evaluasi Integritas Lanskap Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus: Jalur Pendakian Cibodas)

Evaluasi Integritas Lanskap Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus: Jalur Pendakian Cibodas)

Berdasarkan hasil kuisioner yang dibagikan kepada 30 orang responden dapat dikatakan pengelolaan TNGGP sudah cukup baik. Namun sebagian besar responden (40%) mengatakan bahwa pengelolaan TNGGP masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya kegiatan vandalisme yang ada didalam kawasan seperti mencoret-coret, membuang sampah sembarangan, memetik bunga/tanaman, membuat bakaran/api unggun, penebangan pohon dan lain sebagainya. Fasilitas yang diketahui responden di dalam kawasan antara lain toilet (38,33%), tempat ibadah/mushalla (28,33%), cottage/penginapan (20%) dain lainnya shelter, bangku taman, tempat sampah, tempat parkir, warung, dan pusat informasi (13,33%). Selain itu responden juga menilai bahwa fasilitas di TNGGP belum memadai (46,67%) karena kondisi fasilitasnya tidak terawat dan banyak yang rusak (kurang pengelolaan yang intensif). Hal ini dapat dilihat dari keadaan fasilitas yang rusak dan tidak layak pakai padahal keberadaan dari fasilitas tersebut sebenarnya sangat vital didalam kawasan. Namun dari pihak pengelola belum ada upaya untuk memperbaiki ataupun mengganti fasilitas-faslitas tersebut.
Baca lebih lanjut

232 Baca lebih lajut

Pola Pergerakan Harian Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) Dengan Menggunakan Metode Radio Tracking di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Pola Pergerakan Harian Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) Dengan Menggunakan Metode Radio Tracking di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pola Pergerakan Harian Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) Dengan Menggunakan Metode Radio Tracking di Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo, Jawa Barat adalah benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini M.Si dan Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani M.Sc. dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasa latau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Kontribusi sumberdaya hutan terhadap pendapatan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: studi kasus di Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir, Kec. Caringin, Kab. Bogor, Jawa Barat

Kontribusi sumberdaya hutan terhadap pendapatan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: studi kasus di Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir, Kec. Caringin, Kab. Bogor, Jawa Barat

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kontribusi Sumberdaya Hutan Terhadap Pendapatan Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Studi Kasus di Desa Cinagara dan Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi maupun lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Tingkat kesesuaian dan freferensi habitat Leptophryne cruentata, Tschudi 1838 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Tingkat kesesuaian dan freferensi habitat Leptophryne cruentata, Tschudi 1838 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Fire Toad (Leptophryne cruentata, Tschudi 1838) is an endemic toad found only in the western of Java especially in Gunung Gede Pangrango National Park. According to the 2009 IUCN Red List of Threatened animal, this species is catogorized as critically endangered species. At present there are not complete data to desribe the habitat of this species. Base on the observation showed that the species founded in Rawa Denok, Rawa Gayonggong and Curug Cibereum. The objectives of this research were to identify the habitat preference habitat and to estimate the extent of suitability habitat of Fire Toad in GPNP. This study was carried out in GPNP on April 2008. Based on analisis factor, the dominant habitat factors prefered fire toad are distance from water, distance from human line dan the elevation. Using Kruskall Waliss analysis, the result distance from human line very significant (p< 0,05). Digital environmental layers such as elevation, slope aspect, temperature, and vegetation type may be incorporated into predicted habitat suitability. Principal Componen Analysis method was used to analyse suitability habitat map using ERDAS Imaginer Ver 9.1 and ArcView Ver 3.3. Based on the scoring and spatial analysis, the estimation of habitat with low habitat suitability is about 16.077,847 ha, habitat with midlle suitability is about 7.686,023 ha and habitat with high suitability is about 653,847 ha.
Baca lebih lanjut

223 Baca lebih lajut

Nilai Ekonomi Pemanfaatan Kawasan Konservasi bagi Masyarakat Sekitar Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Nilai Ekonomi Pemanfaatan Kawasan Konservasi bagi Masyarakat Sekitar Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

11 masyarakat desa dengan membuka lahan hutan untuk dijadikan sebagai sawah dan perkebunan palawija. Pada tahun 1972 dilakukan penanaman pohon pinus (Pinus merkusii), damar (Agathis dammara), kayu afrika (Maesopsis eminii), sengon (Falcataria moluccana) dan rasamala (Altingia excelsa) oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten di lahan Perum Perhutani yang berbatasan dengan kawasan taman nasional (Gambar 7). Kemudian, pada tahun 1980 dilakukan kegiatan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) menggunakan sistem tumpangsari dengan tidak mengganggu pohon utama Perum Perhutani yakni tanaman Pinus (Pinus merkusii). Tanaman tumpangsari masyarakat pada lahan Perum Perhutani antara lain kopi (Coffea robusta), kapulaga (Amomum compactum), kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dan tanaman padi (Oryza sativa). Pada tahun 1990-an masyarakat juga dipekerjakan sebagai penyadap getah pinus. Lokasi penyadapan di Resort Bodogol berada pada blok Batu Karut, Pasir Malang dan Pasir Kuta. Jumlah penyadap pada saat itu sekitar 300 orang yang berasal dari masyarakat desa di sekitar hutan.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Konflik Perluasan Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor

Konflik Perluasan Kawasan Konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor

Diduga terdapat hubungan antara tingkat pengalaman organisasi individu terhadap keterlibatannya dalam konflik. Menurut Mahfud dan Toheke (2010) perempuan yang tergabung di Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro mulai menanamkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang nyaris terkubur karena kebijakan nasional. Kesadaran ini disebabkan keikutsertaan mereka dalam organisasi sehingga berniat menanamkan konsep masa silam masyarakat Adat Ngata Toro di Kecamatan Kulawi tentang posisi perempuan. Selain itu, menurut Khair dan Irawan (2013), seseorang yang punya pengalaman berorganisasi yang matang pasti memiliki cara berpikir sistematis, analisis mendalam, paham situasi dan lingkungan, mahir berkomunikasi dan bernegosiasi. Diduga apabila seseorang mengikuti beberapa organisasi, maka tingkat pengalaman organisasinya lebih tinggi. Selain itu, apalah artinya mengikuti organisasi tanpa pernah berpartisipasi pada pertemuan rapat organisasi dan ikutserta dalam acara organisasi karena melalui pertemuan rapat organisasi maupun ikutserta dalam acara organisasi, seseorang dapat berpikir sistematis, analisis mendalam, paham situasi dan lingkungan, mahir berkomunikasi dan bernegosiasi sehingga jumlah pertemuan yang diikuti juga menentukan tingkat pengalaman organisasi seseorang.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Analisis Permintaan Ekowisata Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Analisis Permintaan Ekowisata Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sihombing (2011) dalam penelitiannya di Taman Wisata Alam Gunung Pancar mengestimasi nilai ekonomi menggunakan metode biaya perjalanan dan prospek pengembangan wisata. Hasil pengolahan data menunjukkan terdapat lima variabel yang berpengaruh terhadap jumlah kunjungan secara signifikan. Adapun variabel-variabel tersebut yaitu: biaya perjalanan, tingkat pendidikan, jenis kelamin, waktu di lokasi, dan lama mengetahui lokasi. Nilai koefisien variabel menentukan kecenderungan dalam meningkatkan atau menurunkan jumlah kunjungan wisata. Guna menentukan nilai ekonomi total dari TWA Gunung Pancar surplus konsumen diestimasi berdasarkan fungsi permintaan rekreasi yang telah terbentuk sebelumnya. Nilai ekonomi merupakan agregat atau penjumlahan Willingness To Pay.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Direktorat PJLHK   Buku Pariwisata Alam Indonesia

Direktorat PJLHK Buku Pariwisata Alam Indonesia

S iapa tak kenal Gunung Gede Pangrango? Kemudahan aksesnya dari Jakarta, Bogor dan Sukabumi membuat taman nasional ini tersohor. Ribuan pendaki, tua-muda, lelaki-perempuan, telah menjejakkan kakinya di tanah terakhir hutan pegunungan Jawa bagian Barat ini. Bagi kebanyakan pengunjung, tak mengejutkan, bertandang ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan perjalanan penuh romansa. Dua gunung kembarnya, Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl) menampilkan bentang alam dataran tinggi Jawa bagian barat yang sempurna.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Dampak Perluasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terhadap Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Desa Ciputri

Dampak Perluasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terhadap Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Desa Ciputri

Penelitian dirancang dengan menggunakan metode survai yang bersifat deskriptif korelasional (Singarimbun 1989). Pengumpulan data dilakukan selama satu bulan pada bulan maret 2013 pada minggu 3 dan 4 serta bulan April 2013 pada minggu 1 dan 2. Data yang dikumpulkan mencakup data primer (data kuantitatif maupun data kualitatif) dan data sekunder.Data primer diperoleh dari pertanyaan terstruktur berupa kuesioner yang ditanyakan langsung kepada responden agar mendapatkan jawaban yang akurat dan wawancara mendalam kepada informan. Informasi dari sumber lain sebagai data pendukung atau untuk verifikasi. Data sekunder diperoleh dari sumber, yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGP), Perum perhutani, Kantor Resort Sarongge, kantor pemda Kabupaten Cianjur dan Masyarakat dalam dan sekitar kawasan resort Sarongge dan KementerianKehutanan serta dokumen-dokumen dan pustaka yang berhubungan dalam menunjang penelitian.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Struktur komunitas berudu anura di Sungai Cibeureum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat

Struktur komunitas berudu anura di Sungai Cibeureum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat

Alhamdulillahirobbilalamin. Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi penelitian yang berjudul “Struktur Komunitas Berudu Anura di Sungai Cibeureum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat” dapat diselesaikan. Karya ilmiah ini merupakan salah satu syarat untuk meperoleh gelar Sarjana Kehutanan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data dasar dalam upaya konservasi amfibi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

gunadarma 10101649 ssm filkom

gunadarma 10101649 ssm filkom

PEMBUATAN WEBSITE TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT FRONTPAGE AZIS ILHAMI, HENNY WIDOWATI Penulisan Ilmiah, Fakultas Ilmu Komputer, 2005 Universitas G[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...