Top PDF Efikasi Ekstrak Daun dan Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap Larva Aedes aegypti

Efikasi Ekstrak Daun dan Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap Larva Aedes aegypti

Efikasi Ekstrak Daun dan Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap Larva Aedes aegypti

Ekstraksi Daun dan Bunga Kecombrang Ekstraksi daun dan bunga kecombrang dilakukan dengan metode maserasi. Sampel daun dan bunga kecombrang dikeringkan dibawah sinar UV, kemudian ditumbuk sampai menjadi serbuk.Diperoleh berat kering sampel daun sebesar 662 g dan bunga sebesar 250 g (simplisia). Kemudian dilakukan maserasi de- ngan menggunakan pelarut etanol 75%. Simplisia dimasukan ke dalam labu kemudian ditam- bahkan etanol 75% lalu didiamkan selama 5 hari. Dilakukan pengocokkan sebanyak 2 kali selama 20 menit (kecepatan 90 rpm). Setelah 5 hari ampas ditambahkan etanol 75% kemudian di- kocok sehingga diperoleh maserat. Maserat lalu diuapkan dengan menggunakan rotary eva- porator pada suhu 60 – 70 0 C sehingga diperoleh
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya ( Annona squamosa ) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ) terhadap larva Aedes aegypti . Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC 50
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya ( Annona squamosa ) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ) terhadap larva Aedes aegypti . Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya ( Annona squamosa ) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC 50
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya (Annona squamosa) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya (Annona squamosa), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC 50
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Indonesia adalah negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terbanyak di Asia Tenggara.DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, oleh karena itu pencegahan harus dilakukan untuk memberantas penularan DBD.Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida sintetis Temefos (Abate).Larvasida sintetis mulai mengalami resistensi dan memiliki efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non-target, sehingga diperlukan alternatif berbahan dasar tanaman.Daun srikaya (Annona squamosa) mengandung zat aktif Acetogenin yang memiliki daya larvasida.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efikasi ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) terhadap larva Aedes aegypti. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan penelitian post test only control group design dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi (0,01%; 0,025%; 0,05%; 0,075%.; 0,1%) ekstrak daun srikaya (Annona squamosa), kontrol positif (abate), dan kontrol negatif (air) serta dilakukan 4 kali pengulangan.Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) memiliki efikasi terhadap larva Aedes aegypti dengan LC 50
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Setelah menghisap darah, nyamuk mencari tempat untuk istirahat untuk menunggu proses perkembangan telur maupun istirahat sementara (Agoes, 2009). Setelah proses pematangan telur selesai, Aedes aegypti betina akan meletakkan telurnya di permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada dinding- dinding habitat perkembangbiakannya. Setiap kali bertelur, Aedes aegypti betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100 telur (Kemkes, 2011).

17 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Larvasida adalah suatu zat yang digunakan untuk membunuh larva nyamuk (WHO, 2002). Larvasida yang umum digunakan saat ini adalah larvasida berbahan dasar kimia sintetis yaitu bubuk abate yang mengandung insektisida temefos (Hoedojo dan Zulhasril, 2008). Resistensi terhadap temefos telah ditemukan di Brazil, Kuba, El Savador, Argentina, Venezuela, Peru, Kolombia (Grisales et al ., 2013) dan Thailand (Jiranjanakit et al., 2007). Resistensi temefos juga terjadi di Indonesia, seperti Banjarmasin (Istiana et al. , 2012)dan Surabaya (Rahardjo, 2006). Berkembangnya resistensi, peningkatan biaya insektisida sintetis, dan efek yang berbahaya terhadap manusia dan populasi non target merupakan alasan pencarian produk-produk berbahan dasar tanaman pada belakangan ini (Ghosh et al ., 2012) (Velu et al. , 2015).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Peserta Seminar dan Workshop Basic Surgical Skills 2013 Lampiran 2 Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian Simplisia daun srikaya Annona squamosa Simplisia dihaluskan menjadi serbuk.[r]

13 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L) sebagai Larvasida pada Larva Aedes aegypti.

Efikasi Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L) sebagai Larvasida pada Larva Aedes aegypti.

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui efikasi daun pepaya sebagai larvasida alami pada larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian menunjukkan, daun papaya memiliki kandungan saponin, yaitu zat yang dapat merusak membran sel serangga. Terdapat juga Flavonoid yang bersifat inhibitor pernafasan yang menghambat sistem pernapasan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu tanin dalam daun pepaya bersifat toksik yang dapat mengurangi nafsu makan serangga dengan penghambatan aktivitas enzim pencernaan. Terakhir enzim papanin dalam daun pepaya berfungsi sebagai penghambat metabolisme pada nyamuk. Namun belum ada uji in vivo yang menguji efek larvasida. Temuan dalam penelitian diharapkan dapat memperkuat bukti ilmiah tentang potensi daun pepaya sebagai larvasida alami untuk larva nyamuk Aedes aegypti.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona Squamosa) terhadap Larva Aedes Aegypti

Jirakanjanakit, N., Saengtharatip, S., Rongnoparut, P., Duchon, S., Bellec, C., Yoksan, S., 2007. Trend of Temephos Resistance in Aedes (Stegomyia) Mosquitoes in Thailand during 2003-2005. Environ Entomol 36(3):506-511. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Modul Pengendalian Demam

5 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

Siklus penyebaran virus dengue dapat terjadi dalam beberapa tahap, yaitu perkembangbiakan virus dalam tubuh nyamuk kemudian ditularkan ke manusia. Tahap pertama nyamuk Aedes aegypti menggigit manusia yang terinfeksi virus dengue, kemudian virus akan berkembang di perut dan kelenjar ludah nyamuk Aedes aegypti. Tahap kedua nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue menggigit manusia yang sehat, kemudian virus berkembang pada jaringan dekat titik inokulasi atau lymph node, virus keluar dari jaringan inokulasi dan menyebar melalui darah untuk menginfeksi sel – sel darah putih, lalu virus keluar dari sel darah putih dan bersirkulasi ke darah, sistem kekebalan tubuh merusak sel – sel yang terinfeksi. Jika sel yang terinfeksi sedikit, demam akan berlangsung 6-7 hari. Tetapi jika sel yang terinfeksi banyak demam akan lebih parah dan pendarahan akan lebih banyak (Kristina dkk, 2010).
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

glikosida yang berperan aktif sebagai antioksidan, antilarvasida maupun penolak nyamuk. Flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang memiliki sifat menghambat makan serangga dan juga bersifat toksis (Dinata, 2009). Hasil penelitian Adityo dkk. (2013:163) menjelaskan bahwa batang kecombrang memiliki aktivitas larvasida terhadap larva instar III Aedes aegypti.

6 Baca lebih lajut

Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol 70 % Akar Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Larva Instar III Aedes aegypti sebagai Biolarvasida Potensial Effectiveness of Giving 70% Ethanol Root Extract Kecombrang (Etlingera elatior) against Aedes aegypti lar

Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol 70 % Akar Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Larva Instar III Aedes aegypti sebagai Biolarvasida Potensial Effectiveness of Giving 70% Ethanol Root Extract Kecombrang (Etlingera elatior) against Aedes aegypti lar

Berdasarkan hasil penelitian Naufalin (2005), kandungan fitokimia bunga, batang, rimpang dan daun kecombrang antara lain senyawa alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan glikosida yang berperan aktif sebagai antioksidan maupun antilarvasida. flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang memiliki sifat menghambat makan serangga dan juga bersifat toksis (Dinata, 2009). Tanin merupakan senyawa fenolik dengan berat molekul yang tinggi antara 500 Dalton sampai 3000 Dalton yang terdapat dalam daun tanaman, kulit kayu, kayu, dan akar pada jaringan vakuola. Tanin berkaitan erat dalam mekanisme pertahanan tanaman terhadap mamalia herbivora, burung, dan serangga (Hassanpour et. al., 2011).
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol 70 % Daun Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Larva Instar III Aedes aegypti sebagai Biolarvasida Potensial

Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol 70 % Daun Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Larva Instar III Aedes aegypti sebagai Biolarvasida Potensial

Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara – negara yang memilki iklim tropis, termasuk Indonesia. Penyakit DBD mempunyai perjalanan klinis yang sangat cepat dan sering menyebabkan kematian akibat penanganan yang terlambat. Upaya pengendalian dan pemberantasan terhadap vektor penyakit DBD telah banyak dilakukan. Penggunaan insektisida buatan sebagai larvasida merupakan cara yang paling umum digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikan pertumbuhan vektor tersebut. Namun, penggunaan insektisida buatan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Bahaya penggunaan insektisida buatan tersebut dapat diminimalisir dengan menggunakan insektisida alami, salah satunya tanaman Kecombrang (Etlingera elatior) . Tanaman Kecombrang memiliki kandungan senyawa aktif yaitu saponin dan flavonoid yang memiliki potensi sebagai larvasida.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS FRAKSI n-heksana EKSTRAK BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior)SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP LARVA INSTAR III Aedes aegypti

UJI EFEKTIVITAS FRAKSI n-heksana EKSTRAK BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior)SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP LARVA INSTAR III Aedes aegypti

Pembuatan ekstrak batang Kecombrang (Etlingera elatior) ini menggunakan batang Kecombrang (Etlingera elatior) yang didapat dari lingkungan sekitar tempat tinggal peneliti. Pelarutnya berupa ethanol 96 %. Batang Kecombrang (Etlingera elatior) sebanyak 20 g yang telah didapat kemudian dibersihkan dengan menggunakan air kemudian dicacah halus atau diblender kering (tanpa air). Setelah diblender potongan batang Kecombrang ditimbang terlebih dahulu baru kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Setelah kering, potongan batang Kecombrang direndam selama 24 jam di dalam ethanol 96 % sebanyak 20 ml. Setelah direndam selanjutnya bahan tersebut disaring sehingga diperoleh hasil akhirnya berupa ekstrak Kecombrang dengan konsentrasi 100%.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

Dengue Fever is a endemic disease in Indonesia. DHF is caused by dengue virus and is transmitted by the mosquito Aedes aegypti. To avoid bites from mosquitoes usually people use repellent containing N, N-diethyl- metoluamida (DEET) that can cause toxic effects if used for long periods of time. Therefore necessary to find natural substances to control mosquitoes, one of the natural ingredients that can used from the leaves kecombrang (Etlingera elatior) in the form of soaps as a repellent.

2 Baca lebih lajut

EFEK FRAKSI KLOROFORM BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior)SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP LARVA Aedes Aegypti INSTAR III

EFEK FRAKSI KLOROFORM BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior)SEBAGAI LARVASIDA TERHADAP LARVA Aedes Aegypti INSTAR III

Ekstraksi dilanjutkan untuk memisahkan senyawa berdasarkan tingkat kepolarannya dengan menggunakan pelarut kloroform. Sebanyak 20 gram ekstrak etanol dilarutkan dalam 500 mL pelarut etanol, lalu dimasukkan ke dalam gelas separasi. Ke dalam larutan tersebut ditambahkan pelarut kloroform sebanyak 500 mL. Setelah itu, campuran larutan tersebut dikocok hingga tercampur sempurna, lalu didiamkan beberapa menit sampai terjadi pemisahan antara kedua larutan yaitu larutan kloroform pada bagian atas dan larutan etanol pada bagian bawah. Kedua larutan tersebut dikeluarkan dan ditempatkan pada gelas erlenmeyer yang berbeda. Pencampuran dan pengocokan dilakukan berulang hingga larutan yang menggunakan pelarut kloroform tampak jernih. Filtrat yang didapat merupakan larutan ekstrak etanol yang telah bebas senyawa nonpolarnya dan larutan fraksi kloroform. Kedua larutan yang diperoleh kemudian dievaporasi sehingga diperoleh fraksi etanol yang telah bebas dari senyawa nonpolarnya dan fraksi kloroform dalam bentuk kental.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

Wahyuni, Sri. 2005. Daya Bunuh Ekstrak Serai (Andropogen nardus) terhadap Nyamuk Aedes aegypti . Skripsi, Universitas Negeri Semarang Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan. Semarang. WHO. 2005. Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah

4 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemis di Indonesia. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Untuk menghindari gigitan dari nyamuk biasanya masyarakat menggunakan repellent yang mengandung N,N-dietil-metoluamida (DEET) yang dapat menimbulkan efek racun jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Oleh sebab itu perlu ditemukan bahan alami untuk mengendalikan nyamuk, salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah dari daun kecombrang (Etlingera elatior)dalam bentuk sabnun sebagai repellent.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

efektivitas pembuatan sabun ekstrak daun kecombrang (eTLINGERA eLATIOR) sebagai repellent nyamuk aEDES aEGEPTY tahun 2015

Peggunaan senyawa kimia nabati disebabkan karena senyawa kimia nabati mudah terurai oleh sinar matahari sehingga tidak berbahaya, tidak merusak lingkungan dan tidak berpengaruh pada hewan target. Penggunaan insektisida nabati seperti bungan krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium) untuk pengendalian sejak beberapa tahun sebelum masehi. Penelitian Campbell dan Sulivan, menyatakan bahwa tanaman yang mengandung senyawa rutaecarpine, nikotin, anabasin, dan lupinin dapat membunuh larva Cx. Quinquefasciatus dan tanaman yang tergolong dalam famili: Pnaceae, Cucurbitaceae, Uml elferae, Leguminoceae, Labiatae, Lilyace, Compositae, dan Euphorbiaceae beracun terhadap nyamuk Cx. Quinquefasciatus.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...