Top PDF Isolasi dan Identifikasi Bakteri dari Daging Bekicot Beku

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Petrofi

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Petrofi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa isolasi dan identifikasi bakteri indigenous dari tanah hasil proses pengolahan bioremediasi di bawah konsentrasi TPH 1% menghasilkan 2 jenis isolat yaitu Pseudomonas putida AK.A dan Pseudomonas diminuta AK.B. Saran dari hasil penelitian ini yaitu diperlukan adanya tahap penelitian lanjutan berupa uji parameter kinetika biodegradasi antara kedua isolat tersebut, serta aplikasi langsung pada reaktor bioremediasi baik dalam bentuk isolat tunggal atau kultur tercampur.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DARI TANAH DI SEKITAR PENAMPUNGAN BESI RONGSOK

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DARI TANAH DI SEKITAR PENAMPUNGAN BESI RONGSOK

Alhamdulillahirrobbil’alamiin, Puji Syukur penulis panjatka n kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Isolasi dan Identifikasi Bakteri dari Tanah di sekitar Penampungan Besi Rongsok”.

15 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI YANG BERSIMBIOSIS DENGAN SPONS YANG MEMILIKI AKTIVITAS ANTIJAMUR TERHADAP JAMUR PATOGEN Candida albicans, Candida tropicalis DAN Aspergillus fumigatus.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI YANG BERSIMBIOSIS DENGAN SPONS YANG MEMILIKI AKTIVITAS ANTIJAMUR TERHADAP JAMUR PATOGEN Candida albicans, Candida tropicalis DAN Aspergillus fumigatus.

Puji dan syukur penulis panjatkan Allah SWT atas segala rahmatNya yang memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga penelitian skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang direncanakan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2016 ialah “ Isolasi dan Identifikasi Bakteri yang Bersimbiosis dengan Spons yang memiliki Aktivitas Antijamur terhadap Candida albicans, Candida tropicalis dan Aspergillus fumigatus ” .

19 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI termofi

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI termofi

bahan/spesimen. Sedangkan identifikasi adalah kelanjutan dari isolasi yang bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat khas dari suatu bakteri, seperti sifat morfologik dan hasil pewarnaan, sifat biakan, sifat fisiologi dan biokimia serta patogenitas kuman. Dengan demikian dapat diketahui nama bakteri yang bersangkutan. Adapun pada identifikasi bakteri dilakukan uji biokimia, uji gula- gula dan uji serologis.

2 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI SEDIMEN WADUK

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI SEDIMEN WADUK

Pengamatan terhadap morfologi koloni menunjukkan bahwa koloni Pseudomonas sp berbentuk sirkular, tepi rata, cembung, mengkilap, semi translusens dan diameter 1-2 mm. Hasil pewarnaan Gram menunjukkan bahwa Pseudomonas sp merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang lurus, sel tersusun tunggal atau berpasangan (Gambar 1.B). Karakteristik spesifik genus Pseudomonas yaitu berbentuk batang lurus, motil dan tidak melakukan fermentasi (Buchanan & Gibbons, 1974). Madigan et al. (2003) menyatakan bahwa karakteristik yang membedakan Pseudomonas dengan bakteri enterik dan Aeromonas adalah Pseudomonas tidak menghasilkan gas dari glukosa. Dalam taksonomi Pseudomonas digolongkan ke dalam fillum Proteobacteria dan genus Pseudomonas (Madigan et al., 2003). Pada umumnya Pseudomonas ditemukan di tanah, air tawar dan laut (Buchanan & Gibbons, 1974).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Isolasi, Seleksi, Dan Identifikasi Bakteri Endofit Sebagai Agens Penginduksi Ketahanan Tanaman Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri

Isolasi, Seleksi, Dan Identifikasi Bakteri Endofit Sebagai Agens Penginduksi Ketahanan Tanaman Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri

membantu menekan perkembangan patogen dengan menghasilkan senyawa anticendawan, antibakteri, siderofor, kompetitor nutrisi, atau induksi ketahanan inang. Dalam penelitian ini bakteri endofit diaplikasikan melalui perendaman benih agar dapat mengolonisasi dan menyebar dalam jaringan tanaman seiring dengan pertumbuhan tanaman. Sedangkan inokulasi patogen X. oryzae pv oryzae dilakukan pada bagian daun dengan cara memotong bagian daun menggunakan gunting yang telah dicelupkan dalam suspensi patogen. Menurut Kloepper dan Ryu (2006) fenomena dimana aplikasi bakteri pada salah satu bagian tanaman berakibat pada penurunan kejadian penyakit atau keparahan penyakit secara signifikan setelah inokulasi patogen pada bagian lain tanaman disebut sebagai induksi ketahanan tanaman. Sehingga penurunan gejala hawar pada tanaman padi yang diberi perlakuan bakteri endofit berdasarkan proses seleksi ini lebih mengarah pada mekanisme pengendalian X. oryzae pv oryzae secara tidak langsung yaitu melalui induksi ketahanan tanaman. Untuk memperkuat dugaan ini maka dilakukan pengujian lebih lanjut. Isolat bakteri endofit kandidat agens penginduksi ketahanan tanaman diaplikasikan pada tanaman padi di rumah kaca, kemudian diamati pengaruhnya terhadap beberapa parameter induksi ketahanan yang meliputi ekspresi gen PR1 dan PBZ1, aktivitas enzim peroksidase, periode inkubasi, serta perkembangan penyakit HDB. Namun sebelum dilakukan pengujian tersebut, bakteri endofit diseleksi kembali berdasarkan uji HR pada daun tembakau untuk menapis isolat yang bersifat patogen tumbuhan.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Isolasi Identifikasi Bakteri Penghasil Xilanase serta Karakterisasi Enzimnya

Isolasi Identifikasi Bakteri Penghasil Xilanase serta Karakterisasi Enzimnya

Identifikasi dilakukan dengan metode identifikasi berdasarkan urutan 16S-rRNA. Alasan yang digunakan untuk memanfaatkan urutan 16S-rRNA ini adalah ka- rena molekul rRNA mengandung urutan yang sangat konservatif secara evolusi. Daerah yang sangat konser- vatif dapat digunakan sebagai situs pelekatan primer sehingga dapat diamplifikasi secara in vitro dengan PCR. Dengan cara ini kita dapat mempelajari adanya keragaman genetik dari suatu lingkungan lebih detil karena mikroba yang tidak dapat dikulturkan pun da- pat diperoleh gen 16S-rRNA-nya. Urutan yang lebih konservatif dapat digunakan untuk menghasilkan po- hon filogenetik yang lebih diskriminatif sehingga dapat membagi organisme ke dalam tiga domain, yaitu Archaea, Bacteria, dan Eucarya. Urutan yang lebih be- ragam dari molekul 16S-rRNA sangat cocok untuk membedakan suatu organisme ke dalam taksa yang lebih rendah seperti genus dan spesies. Urutan 16S- rRNA ini juga menyediakan data yang secara statistik cukup valid (Amann et al. 1995). Di samping itu, me- nurut Han et al. (2002) identifikasi dengan menggu- nakan metode ini lebih cepat dibandingkan dengan metode medium sintetik. Untuk metode mengguna-
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Pembentuk Asam Laktat Dalam Daging Domba.

Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Pembentuk Asam Laktat Dalam Daging Domba.

Dari hasil penelit ian ini, diperoleh isolat bakt eria pembentuk asam lakt at dari daging domba; selanjut nya dilakukan identifikasi. Berdasarkan uji fisiologis dan biokim iaw i, diperoleh hasil berupa Lactobacillus paracasei ssp paracasei 1, Lactobacillus rham nosus, dan Lact obacillus plant arum . Dari hasil isolasi dan identifikasi ini, m enunjukkan bahwa di dalam daging domba, dit em ukan adanya spesies Lactobacillus heteroferment at if.

5 Baca lebih lajut

Isolasi dan identifikasi bakteri termofi

Isolasi dan identifikasi bakteri termofi

Berdasarkan hasil dari uji strict anaerob, diketahui bahwa bakteri tersebut negatif terhadap uji ini karena bakteri tersebut tumbuh pada permukaan media thioglycollate agar. Bakteri yang tumbuh pada permukaan media merupakan bakteri yang bersifat aerob karena pada inokulasi awal oksigen hanya berada di daerah permukaan media. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perbedaan warna pada media awal uji strict anaerob. Pada media thioglycollate agar yang belum ditanami bakteri, media akan memiliki dua warna yaitu merah muda dan kuning. Menurut second edition of Bergeys manual , bakteri yang ditemukan merupakan bakteri dari genus Bacillus sp. Bacillus sp merupakan bakteri yang berasal dari genus Gram positif yang memiliki sifat aerob obligat maupun aerob fakultatif dan membentuk endospora pada kondisi lingkungan tertentu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Isolasi dan Uji EkstrakBA Perairan Tawar dalam Mengendalikan Biofilm Aeromonas salmonicida Pada Berbagai Permukaan Padat

Isolasi dan Uji EkstrakBA Perairan Tawar dalam Mengendalikan Biofilm Aeromonas salmonicida Pada Berbagai Permukaan Padat

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat Perairan Tawar Dalam Menghambat Bakteri Aeromonas hydrophila.. Biofilms in Food Processing.[r]

7 Baca lebih lajut

Potensi Bakteri Filosfer Tanaman Ornamental untuk Menghambat Pertumbuhan Mikroorganisme Bioaerosol Berpotensi Patogen dari Lingkungan Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan

Potensi Bakteri Filosfer Tanaman Ornamental untuk Menghambat Pertumbuhan Mikroorganisme Bioaerosol Berpotensi Patogen dari Lingkungan Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan

43 LAMPIRAN Lampiran 1: Bagan Alir Penelitian Isolasi bakteri filosfer pada tanaman ornamental Identifikasi Mikroorganisme Bioaerosol Identifikasi bakteri filosfer yang didapat [r]

4 Baca lebih lajut

Identifikasi, patogenisitas bakteri dan pemanfaatan gen 16S rRNA untuk deteksi penyakit ice ice pada budidaya rumput laut

Identifikasi, patogenisitas bakteri dan pemanfaatan gen 16S rRNA untuk deteksi penyakit ice ice pada budidaya rumput laut

Penyakit ice-ice menyerang sentra budidaya di beberapa negara produsen rumput laut seperti di Filipina, Malaysia dan Tanzania, yang berakibat penurunan produksi rumput laut hingga 70-100%. Gejala penyakit ice-ice umumnya ditandai dengan pemutihan di pangkal thallus, tengah dan ujung thallus muda, yang dahului perubahan warna thallus menjadi putih bening atau transparan. Pengelolaan budidaya rumput laut yang sehat dan bebas penyakit ice-ice merupakan komponen penting dalam peningkatan produksi rumput laut, sehingga diperlukan teknik deteksi penyakit ice-ice secara cepat dan akurat. Selama ini identifikasi dan deteksi bakteri patogen dilakukan berdasarkan pengamatan gejala klinis, riwayat kejadian penyakit di lokasi budidaya, karakteristik morfologi, fisiologi dan biokimia bakteri. Metode tersebut memiliki peran yang cukup penting sebagai studi awal, namun kurang dapat menentukan hubungan filogenetis bakteri dan ekspresinya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam bidang kesehatan ikan, berbagai teknik identifikasi dan deteksi telah dikembangkan, namun kajian tentang penyakit ice-ice pada budidaya rumput laut belum mendapat perhatian yang serius sehingga kuantitas dan kualitas produksi rumput laut fluktuatif. Metode deteksi yang banyak dikembangkan saat ini adalah metode deteksi secara molekuler melalui analisis DNA genom yang berbasis teknik PCR. Pemanfaatan gen 16S-rRNA telah digunakan sebagai parameter sistematik sebagai penanda untuk identifikasi spesies bakteri. Oleh karena itu, beberapa tahap penelitian telah dilakukan, mengenai isolasi, identifikasi bakteri patogen yang menyebabkan penyakit ice-ice, mekanisme patogenisitas bakteri patogen penyebab penyakit ice-ice dan pemanfaatan sekuen gen 16S-rRNA untuk mendisain primer spesifik PCR dalam deteksi cepat dan akurat.
Baca lebih lanjut

152 Baca lebih lajut

ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN RESISTENSI ANTIBIOTIK BAKTERI HASIL ISOLASI DARI PENDERITA PERIODONTITIS

ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN RESISTENSI ANTIBIOTIK BAKTERI HASIL ISOLASI DARI PENDERITA PERIODONTITIS

Metode Penelitian: Jenis dan rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional deskriptif. Isolasi bakteri dilakukan dengan mengambil sampel bakteri dari pasien periodontitis di Rumah Sakit. Uji resistensinya dengan antibiotik amoksisilin, siprofloksasin, sefadroksil, eritromisin, klindamisin. Resistensi bakteri diketahui dengan metode Kirby-Bauer. Identifikasi bakteri dengan uji biokimia.

17 Baca lebih lajut

Kandungan Gizi Mikro (Besi, Seng), Nitrit dan Formalin pada Daging Sapi dari Pasar Tradisional dan Swalayan

Kandungan Gizi Mikro (Besi, Seng), Nitrit dan Formalin pada Daging Sapi dari Pasar Tradisional dan Swalayan

Daging merupakan bahan pangan yang sangat bermanfaat untuk dikonsumsi karena mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan daging akan meningkat pada saat tertentu, misalnya pada hari-hari besar keagamaan atau hari libur. Diperlukan perlakuan khusus antara waktu penyembelihan hewan sampai daging tersebut dikonsumsi, seperti proses pendinginan atau pembekuan. Untuk mengetahui kualitas daging segar dan beku yang ada di pasar tradisional dan daging dingin serta daging beku di swalayan, maka pada penelitian ini dilakukan pengujian gizi mikro (besi dan seng), bahan pengawet (nitrit) dan bahan tambahan pangan yang berbahaya (formalin) terhadap daging sapi bagian lamosir, paha depan dan paha atas. Penelitian ini merupakan penelitian observasi laboratorium dengan desain potong lintang. Hasil pengujian menunjukkan kadar besi, seng dan nitrit pada daging segar dan beku di pasar tradisional dan di swalayan serta pada semua bagian sampel daging tidak berbeda bermakna (p>0.05). Demikian pula kadar besi, seng dan nitrit masih masuk pada rentang nilai normal. Semua sampel daging dan semua bagian daging yang diperiksa tidak mengandung formalin.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

6. DAFTAR PUSTAKA - 12.70.0005 Deanna Suntoro DAFTAR PUSTAKA

6. DAFTAR PUSTAKA - 12.70.0005 Deanna Suntoro DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, D.C. 2014. Identifikasi dan Pengujian Kemampuan Antimikrobia Bakteri Asam Laktat dari Asinan Rebung Kuning Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dalam Fermentasi Larutan Garam 5%. Fakultas Teknologi Pertanian UNIKA Soegijapranata Semarang. (Skripsi).

6 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI KONTAMINASI BAKTERI COLIFORM PADA DAGING SAPI SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR SEKITAR KOTA BANDAR LAMPUNG IDENTIFICATION OF COLIFORM CONTAMINATION ON FRESH RAW BEEF SOLD IN THE MARKET AROUND BANDAR LAMPUNG

IDENTIFIKASI KONTAMINASI BAKTERI COLIFORM PADA DAGING SAPI SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR SEKITAR KOTA BANDAR LAMPUNG IDENTIFICATION OF COLIFORM CONTAMINATION ON FRESH RAW BEEF SOLD IN THE MARKET AROUND BANDAR LAMPUNG

Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01 – 6366 – 2000 merekomendasikan batas maksimal cemaran bakteri Coliform pada daging segar yaitu 1 X 10 2 CFU/gram dan E.coli yaitu 5 X 10 1 MPN/100ml. Namun pada pengambilan sampel yang dilakukan tahun 2007 di pasar Arengka Pekanbaru didapat total koloni melebihi batas maksimal yang direkomendasikan (Hafriyanti dkk, 2008). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rahimma (2012), 100 % daging sapi di kota Padang terkontaminasi bakteri melebihi Batas Maksimum Cemaran Mikroba (BMCM). Tingkat kontaminasi bakteri pada sampel daging sapi dari pasar tradisional adalah sebesar 2.7 x 10 4 CFU/gr. Sementara cemaran pada sampel daging sapi dari kios penjual daging terdeteksi sebesar 4.9 x 10 4 CFU/gr .
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Analisis Kekerabatan Rayap Tanah Macrotermes gilvus Hagen (Blattodea Termitidae) dan Inventarisasi Bakteri Simbionnya di Bogor

Analisis Kekerabatan Rayap Tanah Macrotermes gilvus Hagen (Blattodea Termitidae) dan Inventarisasi Bakteri Simbionnya di Bogor

Rayap tanah M. gilvus yang termasuk ke dalam subfamili Macrotermitinae tersebar luas di Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Myanmar, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Kajian tentang rayap ini sudah banyak dilakukan, akan tetapi kajian tentang hubungan kekerabatan rayap pada beberapa lokasi belum ada, sedangkan keanekaragaman bakteri simbion di dalam saluran pencernaannya masih sedikit informasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kekerabatan rayap tanah M. gilvus dari Cagar Alam Yanlappa (CA Yanlappa), Jasinga dan Kampus IPB Dramaga. Rayap dikoleksi dengan memasang tujuh transek (1m x 10m) pada masing-masing lokasi dan semua rayap yang dikoleksi berada di dalam transek. Rayap hasil koleksi digunakan untuk tiga perlakuan: a) uji agonistik; b) molekuler rayap; dan c) identifikasi morfologi, fisiologi, dan molekuler bakteri simbion.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Studi Peran Interaksi Bakteri Patogen Dan Lingkungan Terhadap Penyakit Ice-Ice Pada Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii.

Studi Peran Interaksi Bakteri Patogen Dan Lingkungan Terhadap Penyakit Ice-Ice Pada Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii.

Penyebab timbulnya suatu penyakit tidak hanya akibat perubahan lingkungan, melainkan juga adanya peran bakteri yang saling berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi faktor lingkungan (suhu dan salinitas) dan bakteri diduga dapat memperparah penyakit pada inang termasuk rumput laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek interaksi suhu dan salinitas dengan bakteri patogen terhadap timbulnya penyakit ice-ice pada rumput laut. K. alvarezii ditimbang masing-masing sebanyak 50-51 g, dikultur di dalam akuarium (ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm) dengan suhu air 25 C dan 28 C serta penginfeksian bakteri S. maltophilia dengan konsentrasi 10 0 -10 6 cfu/ml ke media pemeliharaan (salinitas 30 g/L). Perlakuan salinitas 28 g/L, 30 g/L, dan 35 g/L dengan penginfeksian bakteri yang sama (konsentrasi bakteri 10 6 cfu/ml) dan suhu pemeliharaan 28 o C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput laut yang diinfeksi bakteri S. maltophilia dan diinkubasi pada suhu 28 C menunjukkan penurunan bobot lebih besar, dan jumlah cabang talus yang mengalami bleaching lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan suhu 25 C. Pada kedua suhu menunjukkan signifikan terhadap jumlah bleaching pada semua bagian talus, sedangkan perlakuan konsentrasi yang berbeda hanya menunjukkan signifikan terhadap jumlah bleaching di talus sekunder, dan tidak signifikan terhadap jumlah bleaching di talus primer dan tersier. Selanjutnya, untuk interaksi konsentrasi bakteri dan suhu tidak menunjukkan signifikan baik terhadap penurunan bobot basah dan jumlah bleaching pada setiap bagian talus rumput laut K. alvarezii. Lama waktu transmisi penyakit (waktu selama perlakuan) berpengaruh terhadap struktur morfologi K. alvarezii yang menunjukkan kondisi parah di hari keempat. Salinitas 28, 30, dan 35 g/L menunjukkan penurunan bobot yang sama pada talus. Jumlah bleaching yang tinggi pada talus sekunder dan tersier ditunjukkan pada salinitas 28 dan 35 g/L. Kondisi jaringan talus pada awal dan akhir pengamatan dapat dibedakan dengan jumlah protoplasma sel menurun dan jarak antar sel yang sangat renggang. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa suhu dan salinitas berperan terhadap munculnya penyakit ice-ice. Hasil riset ini belum mengungkapkan secara detail interaksi antar faktor biotik dan abiotik dalam menyebabkan penyakit ice-ice sehingga kedepannya perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk menginvestigasi efek interaksi kedua faktor tersebut.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

AKTIVITAS KITINASE, LESITINASE, DAN HEMOLISIN ISOLAT DARI BAKTERI IKAN NILA (Oreochromis niloticus Lin.) YANG DIKULTUR DALAM KERAMBA JARING APUNG WADUK JATILUHUR, PURWAKARTA

AKTIVITAS KITINASE, LESITINASE, DAN HEMOLISIN ISOLAT DARI BAKTERI IKAN NILA (Oreochromis niloticus Lin.) YANG DIKULTUR DALAM KERAMBA JARING APUNG WADUK JATILUHUR, PURWAKARTA

Delapan genus bakteri tersebut yaitu, Aeromonas (isolat A1G, A3J, A4G, A8J, B7G, B9G, B9J, dan C4bOT), Vibrio (isolat A2L, A2G, B4G, B4HB, B9aJ, dan C4aOT), Staphylococcus (isolat A7G), Plesiomonas (isolat A9J), Entero- coccus (isolat B3H, B3HB, dan B3G ), Chromo- bacterium (isolat B4H), Corynebacterium (isolat C5OT), dan Pseudomonas (isolat C8OT). Hasil isolasi dan identifikasi 22 isolat bakteri, delapan isolat terindentifikasi, dan termasuk dalam genus Aeromonas yang merupakan bakteri dominan yang dijumpai pada tubuh ikan nila. Bakteri tersebut sebagian besar diisolasi dari organ ginjal. Menurut Mims (1987) dan Sanders (2004), bakteri dapat dengan mudah mencapai organ ginjal melalui peredaran darah. Apabila fungsi ginjal terganggu oleh invasi dan infeksi bakteri, maka ikan dapat mengalami kematian.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...