Top PDF KOMPOSISI JENIS DAN CADANGAN KARBON TERS

KOMPOSISI JENIS DAN CADANGAN KARBON TERS

KOMPOSISI JENIS DAN CADANGAN KARBON TERS

Hutan mangrove Kuala Langsa merupakan salah satu tipe ekosistem hutan yang mendominasi daerah pantai berlumpur dan delta estuaria yang memiliki peran penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan cadangan karbon hutan mangrove Kuala Langsa, Aceh. Penelitian dilakukan pada bulan bulan September - Oktober 2016. Pengukuran biomasa pohon dilakukan dengan metode estimasi. Sebanyak 10 buah petak ukuran 10 m x 10 m diletakkan pada lokasi penelitian. Seluruh pohon dengan DBH ≥ 1 cm di ukur diameternya dan dicatat nama jenisnya. Sebanyak 507 individu yang terdiri dari 5 suku dan 9 jenis dengan DBH ≥ 1 cm telah ditemukan di lokasi penelitian. Rhizophora apiculata Bl merupakan spesies dominan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP). Biomasa pohon dan cadangan karbon di lokasi penelitian berturut-turut sebesar 47,2 ton/ha dan 23,6 ton C/ha
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan selain permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan dan vegetasi semak belukar. Jenis-jenis pohon kecil (perdu), semak-semak, dan tumbuhan bawah serta liana perlu dipelajari juga karena merupakan indikator tempat tumbuh, merupakan pengganggu bagi pertumbuhan permudaan pohon-pohon penting, penting sebagai penutup tanah, dan penting dalam pencampuran serasah dan pembentukan bunga tanah. Sebagai bagian dari suatu komunitas, tumbuhan bawah mempunyai korelasi yang nyata dengan tempat tumbuh (habitat) dalam hal penyebaran jenis, kerapatan, dan dominansinya (Soerianegara dan Indrawan 2008 dalam Pananjung 2013).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Hilwan, I. Dadan M. dan Weda P. 2013. Keanekaraaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea saman Merr.) di Lahan Pasca Tambang Batubara PT Kitadin, Embalut, Kutai Kartanagara, Kalimantan Timur. IPB. Bogor.

3 Baca lebih lajut

Komposisi Vegetasi Dan Cadangan Karbon Tersimpan Pada Tegakan Hutan Di Kawasan Ekowisata Tangkahan Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat

Komposisi Vegetasi Dan Cadangan Karbon Tersimpan Pada Tegakan Hutan Di Kawasan Ekowisata Tangkahan Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat

Potensi karbon tersimpan pada kawasan ekowisata Tangkahan sangat tinggi mengingat kawasan ini merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman vegetasi dan potensi jumlah karbon tersimpan pada lokasi Kawasan Ekowisata Tangkahan Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – Juni 2010 dengan menggunakan metode jalur berpetak dan untuk peletakan peta sampling menggunakan metode sistematik sampling with random start. Diperoleh data tercatat 39 family dan 140 jenis yang tersebar dalam tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang dan semai. Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi untuk pertumbuhan pohon adalah Hopea sangal dari family Dipterocarpaceae dengan nilai INP 30,05%, tiang Aglaia latifolia Miq dari family Meliaceae dengan nilai 11,70 %, pancang Adinandra sp dari family Theaceae dengan nilai 18,92 %, sedangkan semai Urophyllum griffithianum suku Rubiaceae dengan nilai 12,05 %.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Selama ini penelitian banyak membahas cadangan karbon pada tegakan berbagai macam jenis. Disebutkan pula biomassa pohon dan vegetasi hutan berisi cadangan karbon yang sangat besar sehingga dapat memberikan keseimbangan siklus karbon keperluan seluruh makhluk hidup dimuka bumi. Namun, jarang sekali penelitian tentang cadangan karbon tumbuhan bawah di suatu kawasan hutan terutama Hutan Produksi Terbatas (HPT). Pengukuran tumbuhan bawah relatif lebih sulit dan kompleks, mengingat variasi vegetasi yang tinggi. Parameter yang diukur pada saat inventarisasi karbon tumbuhan bawah adalah, ketinggian dan kerapatan tumbuhan bawah serta komposisi vegetasi. Diperlukan analisa lanjutan untuk mengetahui hubungan antara parameter tersebut dengan total biomasanya. Selain itu, faktor tipe tutupan lahan, kemungkinan juga berpengaruh terhadap total biomasa tumbuhan bawah.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Cadangan karbon di kebun campuran Hulu D

Cadangan karbon di kebun campuran Hulu D

6 Uji-t rata-rata cadangan karbon pada ketiga lokasi kebun campuran di Hulu DAS Kali Bekasi tersebut menunjukkan bahwa rata-rata cadangan karbon di Bagian Bawah tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% dengan di Bagian Tengah (p-value=0,067) begitu juga dengan di Bagian Atas (p-value=0,302) demikian juga rata-rata cadangan karbon di Bagian Tengah tidak berbeda nyata dengan di Bagian Atas (p-value=0,512). Meskipun demikian berdasarkan Gambar 4, Hulu DAS Kali Bekasi Bagian Bawah mempunyai rata-rata cadangan karbon yang lebih tinggi dibandingkan Tengah dan Atas karena tegakan dengan rata-rata diameter besar lebih banyak terdapat di Bagian Bawah dan memiliki luas bidang dasar yang lebih luas dibandingkan Tengah dan Atas (Tabel 1). Selain hal tersebut proporsi tanaman kayu dibandingkan tanaman pangan lebih besar di Bagian Bawah dibandingkan Tengah dan Atas, hal ini dimungkinkan karena di Bagian Tengah dan Atas sebagian besar kebutuhan masyarakat tergantung pada hasil pertanian sehingga pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertanian semusim lebih besar dibandingkan tanaman tahunan. Hal sebaliknya terjadi di Bagian Bawah dimana mata pencaharian penduduk lebih beragam dan lebih modern sehingga tingkat pemanfaatan kebun campuran untuk tanaman pangan lebih rendah, masyarakat lebih memanfaatkan kebun campuran untuk tanaman buah-buahan tahunan yang tidak memerlukan pengelolaan dan perawatan intensif. Dilihat dari pengaruh komposisi jenis dan bentuk pemanfaatan hasil yang ada, maka kebun campuran dengan proporsi tanaman buah-buahan berkayu yang lebih besar secara potensial cenderung akan memiliki persediaan karbon yang lebih besar dibandingkan dengan agroforestri dengan proporsi tanaman pangan yang lebih besar. Jenis yang lebih beragam pada kebun campuran yang mengkombinasikan pohon berkayu penghasil buah akan menunda petani untuk melakukan penebangan dalam waktu yang lebih singkat. Daya rosot beberapa jenis tanaman yang ditemukan pada kebun campuran di Hulu DAS Kali Bekasi dapat dilihat pada Tabel 4.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Selama ini penelitian banyak membahas cadangan karbon pada tegakan berbagai macam jenis. Disebutkan pula biomassa pohon dan vegetasi hutan berisi cadangan karbon yang sangat besar sehingga dapat memberikan keseimbangan siklus karbon keperluan seluruh makhluk hidup dimuka bumi. Namun, jarang sekali penelitian tentang cadangan karbon tumbuhan bawah di suatu kawasan hutan terutama Hutan Produksi Terbatas (HPT). Pengukuran tumbuhan bawah relatif lebih sulit dan kompleks, mengingat variasi vegetasi yang tinggi. Parameter yang diukur pada saat inventarisasi karbon tumbuhan bawah adalah, ketinggian dan kerapatan tumbuhan bawah serta komposisi vegetasi. Diperlukan analisa lanjutan untuk mengetahui hubungan antara parameter tersebut dengan total biomasanya. Selain itu, faktor tipe tutupan lahan, kemungkinan juga berpengaruh terhadap total biomasa tumbuhan bawah.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 26 jenis tumbuhan bawah. Karbon tersimpan yang terdapat pada tumbuhan bawah pada tegakan Pinus adalah 4,88 ton/ha dan tumbuhan bawah pada Tegakan Salagundi sebesar 4,93 ton/ha. Berdasarkan analisis secara statistik cadangan karbon tumbuhan bawah pada tegakan Pinus dan tegakan Salagundi tidak berbeda secara nyata. Cadangan karbon tersebut lebih dipengaruhi oleh keanekaragaman dan kerapatan jenis tumbuhan bawah, jenis tanah, dan kondisi lingkungan tempat tumbuh.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Pengaruh Struktur Dan Komposisi Tegakan Terhadap Cadangan Karbon Tumbuhan Bawah Di Hutan Desa Simorangkir Julu Tarutung

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 26 jenis tumbuhan bawah. Karbon tersimpan yang terdapat pada tumbuhan bawah pada tegakan Pinus adalah 4,88 ton/ha dan tumbuhan bawah pada Tegakan Salagundi sebesar 4,93 ton/ha. Berdasarkan analisis secara statistik cadangan karbon tumbuhan bawah pada tegakan Pinus dan tegakan Salagundi tidak berbeda secara nyata. Cadangan karbon tersebut lebih dipengaruhi oleh keanekaragaman dan kerapatan jenis tumbuhan bawah, jenis tanah, dan kondisi lingkungan tempat tumbuh.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Karakteristik Vegetasi Dan Tanah Serta Cadangan Karbon Pada Lahan Tambang Di Gunung Pongkor, Bogor, Jawa Barat

Karakteristik Vegetasi Dan Tanah Serta Cadangan Karbon Pada Lahan Tambang Di Gunung Pongkor, Bogor, Jawa Barat

Emas adalah salah satu sumber daya mineral yang sangat potensial di Indonesia dan merupakan salah satu sumber devisa negara. Berdasarkan data Badan Geologi ESDM 2013, sumber daya emas di Indonesia mencapai 5386 miliar ton dan menurut data United States Geological Survey (USGS) 2011, cadangannya berkisar 2.3% dari cadangan emas dunia. Salah satu daerah penghasil emas di Indonesia adalah Gunung Pongkor Jawa Barat, yang merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Di lokasi ini terdapat kegiatan penambangan emas legal dengan sistem tambang bawah tanah (underground mining) yang dilakukan oleh PT Antam (Persero) Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor (Antam Pongkor) dan penambangan emas illegal yang dilakukan oleh penambang emas tanpa ijin (PETI) dengan sistem tambang terbuka konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan struktur dan komposisi vegetasi, tanah serta menduga cadangan karbon di atas permukaan tanah pada lahan tidak terganggu, tambang underground dan PETI di lokasi Gunung Pongkor, kemudian mengidentifikasi jenis-jenis vegetasi yang adaptif namun tidak bersifat Invasive serta penting secara sosial ekonomi sehingga dapat menjadi rekomendasi untuk kegiatan penanaman di lahan terganggu Antam serta TNGHS.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon di Kawasan Hutan Cagar Alam Lembah Harau Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat

Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon di Kawasan Hutan Cagar Alam Lembah Harau Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan serta kandungan cadangan karbon yang tersimpan di Kawasan Hutan Cagar Alam Lembah Harau pada tingkat pohon dan tingkat tiang. Intensitas sampling yang digunakan adalah 5% dari luas kawasan 270,5 ha. Sehingga luas areal pengamatan adalah 13,525 ha dengan membuat plot berukuran 20m x 100m sebanyak 68 plot. Pada masing-masing plot dibuat sub-sub plot berukuran 20m x 20m untuk pohon dan 10m x 10m untuk tiang. Analisis vegetasi menggunakan kombinasi metode jalur dan garis berpetak. Sedangkan pendugaan biomassa menggunakan metode non destructive sampling. Dari hasil penelitian diperoleh 80 jenis tumbuhan dengan jumlah individu sebanyak 246 individu/ha. INP teringgi pada pohon ditemukan pada jenis Rhodelia teysmani sebesar 53,33%, sedangkan pada tiang yaitu pada jenis Nephelium mutabile sebesar 46,30%. Jumlah cadangan karbon tersimpan pada pohon dan tiang sebesar 62,57 ton/ha.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Teknik Estimasi Cadangan Karbon Serapan

Teknik Estimasi Cadangan Karbon Serapan

Penentuan areal lokasi Petak Contoh Pengamatan (PCP) dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja yang dianggap representatif. Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang dianggap mewakili dari keragaman berbagai faktor lingkungan di sekitar penelitian. Bentuk PCP yang umum dipakai dalam pengukuran kandungan karbon adalah bujur sangkar atau persegi panjang (Sutaryo, 2009). Hal ini karena kemudahannya di dalam memastikan pohon-pohon yang masuk dibandingkan dengan PCP berbentuk lingkaran (Solichin, 2010).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENDUGAAN CADANGAN KARBON PADA SISTEM PE

PENDUGAAN CADANGAN KARBON PADA SISTEM PE

ditemukan biomassa pohon. Data tabel 8 menunjukkan bahwa cadangan karbon pada hutan primer dan hutan bekas tebangan umur 2 tahun tidak jauh berbeda, yang membedakan adalah pada hutan primer cadangan karbon terbesar berada pada pohon dengan diameter > 30 cm, sementara pada hutan bekas tebangan umur 2 tahun cadangan karbon terbesar pada nekromassa berkayu. Sementara pada ladang masyarakat di sekitar hutan cadangan karbon terbesar berada pada nekromassa berkayu, dan tidak ditemukan adanya biomassa pohon (Gambar 2).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Tugas Akhir T A ii

Tugas Akhir T A ii

c. Semakin besar berat jenis (bulk density) bahan bakar maka laju pembakaran akan semakin lama. Dengan demikian biobriket yang memiliki berat jenis yang besar memiliki laju pembakaran yang lebih lama dan nilai kalor lebih tinggi dibandingkan dengan biobriket yang memiliki berat jenis yang lebih rendah. Makin tinggi berat jenis biobriket semakin tinggi pula nilai kalor yang diperolehnya. Penggunaan biobriket untuk kebutuhan seharihari sebaiknya digunakan biobriket dengan tingkat polusinya paling rendah dan pencapaian suhu maksimal paling cepat. Dengan kata lain, briket yang baik untuk keperluan rumah tangga adalah briket yang tingkat polutannya rendah, pencapaian suhu maksimalnya paling cepat dan mudah terbakar pada saat penyalaannya. [10]
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Pendugaan cadangan karbon (Carbon Stock) dan neraca karbon pada perkebunan karet

Pendugaan cadangan karbon (Carbon Stock) dan neraca karbon pada perkebunan karet

dua pendekatan yaitu pendugaan cadangan karbon total dan pendugaan neraca karbon tanah. Biomassa tegakan karet diduga melalui pendekatan rumus allometrik karet yang ditemukan oleh Kettering (2001) yaitu BK = 0,11 ρ D 2.62 , dimana D adalah diameter setinggi dada (dbh), BK adalah biomassa, C adalah karbon, dan ρ adalah berat jenis pohon karet. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa simpanan C stock pada lahan 20, 25, dan 31 tahun berturut-turut 331.51 ton/ha, 374.23 ton/ha, dan 412.32 ton/ha. Laju emisi yang dilepaskan ke udara semakin menurun dengan bertambahnya umur karet. Berdasarkan penggabungan hasil neraca karbon dengan penelitian sebelumnya yaitu Yulyana (2005) pada lahan karet 5, 10, 15, 20, 25, dan 31 tahun, lahan karet umur 10 tahun memberikan emisi terbesar yaitu 0.70 g/m 2 /th dan hanya menyerap karbon sebesar 0.30 g/m 2 /th, sehingga lahan karet umur 10 tahun merupakan lahan pengemisi karbon. Laju penyerapan karbon tertinggi terjadi pada lahan karet umur 31 tahun sebesar 0.84 g/m 2 /th dengan laju emisi sebesar 0.16 g/m 2 /th. Oleh karena itu, lahan karet yang lebih tua akan menyerap karbon lebih banyak sehingga baik jika direkomendasikan untuk keselamatan lingkungan.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Tehnik Pendugaan Cadangan Karbon Hutan b

Tehnik Pendugaan Cadangan Karbon Hutan b

Seiring dengan proses negosiasi di tingkat internasional, Indonesia juga perlu memperkuat kapasitas dan kelembagaan di tingkat nasional serta meningkatkan kredibilitas di dalam pengembangan sistem MRV, khususnya terkait dengan National Carbon Accounting System. Peningkatan kapasitas dan memperkuat kelembagaan dilakukan dengan mengoptimalkan segala dukungan baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam hal ini, Kementrian Kehutanan telah menyiapkan beberapa peraturan terkait dengan REDD serta mengkoordinir penyusunan Standard Nasional Indonesia (SNI) pengukuran cadangan karbon hutan. Dengan demikian upaya pengembangan sistem MRV yang kredibel, akurat, lengkap, konsisten dan komparabel dapat dilakukan secara bersama-sama dengan para pihak terkait yang terdiri dari unsur lembaga pemerintah, donor, LSM, pihak swasta dan juga masyarakat.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Dengan hutan produksi yang cukup luas, menjadikan lokasi DA pada ketiga kabupaten sangat rawan akan kebocoran emisi dikarenakan aktivitas yang tinggi pada kawasan hutan tersebut. Sehingga kawasan hutan produksi ini menjadi sangat strategis dan penuh dengan pertimbangan matang untuk memasukkannya ke dalam bagian implementasi DA. Bila ditinjau dari cadangan stok karbon yang tersimpan, kawasan hutan produksi memiliki cadangan stok karbon tertinggi yaitu sekitar 271.569.141 ton C (48,30%) di Kabupaten Malinau dan 195.459.521 ton C (59,32%) di Kabupaten Berau (Gambar 2). Sedangkan di Kabupaten Kapuas Hulu cadangan stok karbon pada kawasan hutan produksi adalah sekitar 115.350.000 ton C (24,80%), lebih kecil dibandingkan cadangan stok karbon di kawasan hutan Taman Nasional sekitar 29,15% dari stok karbon keseluruhan di Kabupaten Kapuas Hulu.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

DINAMIKA CADANGAN KARBON AKIBAT PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MENJADI LAHAN PERMUKIMAN DI KOTA PADANG SUMATERA BARAT

DINAMIKA CADANGAN KARBON AKIBAT PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MENJADI LAHAN PERMUKIMAN DI KOTA PADANG SUMATERA BARAT

Perkiraan cadangan karbon tahun 1988 adalah sebesar 58.462.483,236 ton, yang tersebar pada lahan hutan sebesar 52.632.255.942 ton, pada lahan semak sebesar 581.212,972 ton, pada lahan kebun sebesar 4.493.110,536 ton, dan pada lahan sawah sebesar 755.903.786 ton. Tahun 1998 perkiraan cadangan karbon berkurang menjadi 56.349.359,972 ton, yang tersebar pada lahan hutan sebesar 51.814.538,101 ton, pada lahan semak sebesar 317.921,944 ton, pada lahan kebun sebesar 3.683.584,872 ton, dan pada lahan sawah sebesar 533.314,055 ton. Kondisi cadangan karbon ini terus berkurang pada tahun 2008, akibat banyaknya lahan-lahan yang berpotensi sebagai penyumbang cadangan karbon di konversi menjadi lahan permukiman. D inamika c adangan karb on di K o ta Padang mempunyai tipe linear negatif, dimana total cadangan karbon selalu menurun dari tahun 1988, tahun 1998, dan tahun 2008. Hal ini disebabkan oleh terjadinya pengurangan luas lahan hutan, semak, kebun, dan sawah secara konsisten akibat bertambahnya luas lahan yang digunakan untuk permukiman.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

30152 ID estimasi cadangan karbon pada t

30152 ID estimasi cadangan karbon pada t

Pada tutupan lahan berupa belukar ini bagian batang pohon tetap merupakan penambat karbon terbesar, massa karbon tersebut berasal dari unsur karbon dalam bentuk CO2 di udara yang diserap oleh vegetasi melalui proses reaksi biokimia yang dikenal dengan proses fotosintesis. Selain tumbuhan bawah, serasah mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan siklus hara di dalam

14 Baca lebih lajut

ANALISIS PENDUGAAN CADANGAN KARBON ATAS PERMUKAAN BERDASARKAN PENDEKATAN BLOK PENGELOLAAN DI TWA SURANADI LOMBOK BARAT ASSESSMENT ANALYSIS OF SURFACE BASED CARBON STOKS WITH BLOCK MANAGEMENT APPROACH IN SURANADI NATURE TOURISM PARK LOMBOK WESTERN - Reposi

ANALISIS PENDUGAAN CADANGAN KARBON ATAS PERMUKAAN BERDASARKAN PENDEKATAN BLOK PENGELOLAAN DI TWA SURANADI LOMBOK BARAT ASSESSMENT ANALYSIS OF SURFACE BASED CARBON STOKS WITH BLOCK MANAGEMENT APPROACH IN SURANADI NATURE TOURISM PARK LOMBOK WESTERN - Reposi

Nilai cadangan karbon atas permukaan di TWA Suranadi sebesar 17472,15 ton dengan nilai rata- rata cadangan karbonnya sebanyak 336,00 ton/ha , terdiri atas dari semua komponen seperti tingkat pohon, tiang, pancang, tanaman bawah, dan seresah. Setiap komponen memiliki nilai karbon yang berbeda, serta ketersediaan jenis disetiap tingkatan atau komponen. Rata-rata cadangan karbon untuk tingkat pohon sebanyak (323,37 ton/ha), tingkat tiang (8,05 ton/ha), tingkat pancang (3,74 ton/ha), tumbuhan bawah (0,24 ton/ha) dan seresah (0,61 ton/ha). Pohon yang berdiameter besar sangat mempengaruhi ketersedian cadangan karbon pada tingkat tiang, pancang, seresah dan tumbuhan bawah sehingga menghasilkan perbedaan cadangan karbon yang cukup besar antara komponen tingkat pohon dengan komponen yang lainnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...