Top PDF Perubahan Nilai Gizi Protein Dendeng Sapi selama Penyimpanan pada Suhu Ruang

Aplikasi Model Arrhenius Untuk Pendugaan Penurunan Masa Simpan Daging Sapi Pada Penyimpanan Suhu Ruang Dan Refrigerasi Berdasarkan Nilai Tvb Dan Ph.

Aplikasi Model Arrhenius Untuk Pendugaan Penurunan Masa Simpan Daging Sapi Pada Penyimpanan Suhu Ruang Dan Refrigerasi Berdasarkan Nilai Tvb Dan Ph.

Berdasarkan uraian hasil perhitungan menggunakan model Arrhenius terhada nilai TVB dan pH daging sapi, maka suhu refrigerasi dapat memperpanjang masa simpan daging sapi dibandingkan dengan penyimpanan suhu ruang, karena pada suhu penyimpanan ini aktifitas mikroorganisme, reaksi kimia dan biokimia di dalam daging dapat dihambat, berlainan halnya pada penyimpanan suhu ruang, tingginya suhu penyimpanan akan mempercepat kerusakan daging. Sebagaimana pernyataan Fenema di dalam Karel et al. (1978) bahwa reaksi kimia diantaranya oksidasi lemak, degradasi pigmen, perkembangan berbagai flavor, degradasi vitamin dapat dihambat pada penyimpanan suhu chilling
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Bakteri Asam Laktat Terhadap Kualitas Dadih Sapi Probiotik Selama Penyimpanan dalam Suhu Ruang dan Suhu Rendah

Pengaruh Jenis Bakteri Asam Laktat Terhadap Kualitas Dadih Sapi Probiotik Selama Penyimpanan dalam Suhu Ruang dan Suhu Rendah

Persentase ketahanan BAL terhadap pH rendah pada dadih sapi dalam penyimpanan suhu ruang ada yang mencapai lebih dari 100%. Hal tersebut berarti bahwa BAL yang ditumbuhkan pada MRSB pH 7 (kontrol) lebih kecil dibandingkan dengan MRSB pH 3 (perlakuan). Dadih sapi yang memiliki nilai persentase ketahanan BAL terhadap pH rendah melebihi 100% adalah dadih dengan starter LC3% dan BL3% pada hari ke30; LA:BL 1:1, LC:BL 2:1, LA3%, dan BL3% pada hari ke34. Hal tersebut menunjukkan bahwa BAL yang digunakan sebagai kultur starter memiliki perbedaan ketahanan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Bender (1987) yang dikutip oleh Hutkins dan Nannen (1993) bahwa pada galur streptokoki yang kurang tahan terhadap asam, ion magnesium (Mg) keluar dari dalam sel ketika pH eksternal di bawah 3,0. Bender (1987) menyatakan bahwa perbedaan ketahanan terhadap kerusakan membran yang disebabkan oleh pengasaman tampak bervariasi untuk setiap organisme dan derajat toleransi asam.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Kemasan dan  Penyimpanan pada Suhu Ruang terhadap Nilai TBA Abon Ikan Sidat

Pengaruh Jenis Kemasan dan Penyimpanan pada Suhu Ruang terhadap Nilai TBA Abon Ikan Sidat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan dan lama penyimpanan pada suhu ruang terhadap mutu abon ikan sidat (Anguilla sp.) khususnya pada TBA (Thiobarbituric acid). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April Tahun 2013 di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Gorontalo, di Stasiun Karantina Kelas I Propinsi Gorontalo, dan di Laboratorium Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian utama menggunakan metode eksperimen (Experimental Method) khususnya nilai TBA dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3 × 4 dan 2 kali ulangan. Penelitian ini terdiri dari faktor I: jenis kemasan (plastik vakum, plastik seal, plastik toples), dan faktor II: lama penyimpanan (0 hari, 14 hari, 35 hari dan 56 hari). Nilai TBA abon ikan sidat selama penyimpanan meningkat. Hasil analisis nilai TBA abon ikan sidat dengan penggunaan kemasan berbeda selama penyimpanan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan nilai TBA. Nilai TBA tertinggi pada abon ikan sidat selama penyimpanan hingga 56 hari adalah TBA pada toples plastik sebanyak 0,3849 mg/kg dan yang terendah pada kemasan plastik vakum sebanyak 0,1439 mg/kg.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU RUANG PENYIMPANAN TERHADAP

PENGARUH SUHU RUANG PENYIMPANAN TERHADAP

Hampir semua produk industri sebelum sampai ke konsumen akan mengalami penyimpanan. Bagi produk industri yang peka terhadap kerusakan seperti makanan, kondisi ruang penyimpanan seperti suhu, mendapat perhatian. Salah satu produk makanan tersebut adalah susu bubuk. Susu bubuk merupakan suatu hasil olahan yang terbuat dari bahan dasar susu sapi segar yang telah mengalami proses pengeringan melalui proses spray drying. Setelah itu dilakukan penambahan bahan lain, terutama untuk mengantikan zat gizi yang telah mengalami keruskan selama proses pengeringan (Winarno 1993; Spreer dan Mixa 1998)
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Umur Simpan Brownies Kukus Ampas Tahu Pada Suhu Ruang dan Suhu Dingin

Pengaruh Umur Simpan Brownies Kukus Ampas Tahu Pada Suhu Ruang dan Suhu Dingin

Brownies kukus ampas tahu termasuk kedalam jenis makanan semi basah yang cepat mengalami kerusakan dan mempunyai umur simpan relatif singkat. Setiap bahan memiliki karakteristik masing-masing, maka umur simpan suatu komoditi tidak dapat diasumsikan sama antara satu dengan lainnya, sehingga perlu dilakukan penetapan atau pendugaan umur simpan. Umur simpan dilakukan dengan cara melihat penurunan mutu menggunakan penyimpanan dengan suhu yang berbeda yaitu suhu normal (suhu ruang) dan suhu dingin (lemari es) dan mensimulasikan data yang diperoleh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan terhadap pengaruh umur simpan brownies kukus ampas tahu pada suhu ruangan dan suhu dingin selama 12 hari, terhadap kualitas volume, bentuk, warna, aroma, tekstur dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan brownies kukus ampas tahu pada suhu ruangan terdapat perubahan yang signifikan pada hari ke-4 dan hari ke-12, terhadap kualitas warna, aroma dan rasa, sedangkan pada kualitas volume dan bentuk tidak terjadi perubahan. Umur simpan brownies kukus ampas tahu pada suhu dingin terdapat perubahan yang signifikan pada hari ke-10 dan hari ke-12 terhadap kualitas rasa dan tekstur, sedangkan pada kualitas volume, bentuk dan warna tidak terdapat perubahan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa umur simpan brownies kukus ampas tahu pada suhu ruangan adalah 3 hari, dan umur simpan brownies kukus ampas tahu pada suhu dingin adalah 9 hari.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perubahan Warna Kulit Buah Tiga Varietas Jeruk Keprok dengan Perlakuan Degreening dan Suhu Penyimpanan

Perubahan Warna Kulit Buah Tiga Varietas Jeruk Keprok dengan Perlakuan Degreening dan Suhu Penyimpanan

Warna merupakan kualitas utama yang menentukan tingkat permintaan konsumen terhadap buah jeruk. Konsumen lebih menyukai jeruk berwarna jingga, padahal di Indonesia jeruk yang tinggi produktivitasnya adalah jeruk berwarna hijau. Hal ini menyebabkan jeruk lokal kalah bersaing dengan jeruk impor. Salah satu cara supaya jeruk lokal dapat bersaing dengan jeruk impor adalah dengan melakukan degreening. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari efek degreening dan suhu penyimpanan terhadap perubahan warna kulit jeruk keprok. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni hingga Juli 2013 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika, IPB. Penelitian ini dilakukan pada 3 varietas jeruk keprok (Chokun, Fremont, dan Batu 55) secara terpisah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah suhu degreening (18°C dan suhu ruang) dan faktor kedua adalah suhu simpan (18°C dan suhu ruang). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan degreening suhu 18°C dan penyimpanan suhu ruang pada ketiga varietas jeruk keprok memiliki nilai CCI tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya pada 15 HSP.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Stabilisasi Aktivitas Lisozim Dalam Sediaan Serbuk Beku Kering Pada Serum Otologus Menggunakan Lioprotektan Sukrosa.

Stabilisasi Aktivitas Lisozim Dalam Sediaan Serbuk Beku Kering Pada Serum Otologus Menggunakan Lioprotektan Sukrosa.

Sediaan serum dengan penambahan variasi konsentrasi sukrosa yang berbeda yaitu 30, 40, 60, 100 dan 150 mM pada penyimpanan suhu 4°C maupun suhu ruang, terlihat bahwa protein dengan penambahan sukrosa 60 mM menunjukkan perlindungan stabilitas total protein maupun aktivitas lisozim yang lebih baik. Penelitian sebelumnya juga menunjukan bahwa 60 mM merupakan konsentrasi optimum untuk menjaga kestabilan protein selama proses liofilisasi dan penyimpanan. 13-15 Sukrosa melindungi protein dengan interaksi langsung dimana protein dan konsentrasi sukrosa yang cukup untuk membentuk lapisan pada monomolekular permukaan protein untuk stabilisasi protein tersebut. Nilai terhadap perlindungan protein oleh gula non pereduksi yang berbeda akan menghasilkan perbedaan yang signifikan tergantung dari komposisi formula konsentrasi dan dari fisik stabilisator dan kompatibilitas dengan protein. Sakarida yang tidak efektif pada stabilisasi protein oleh gula bergantung dari panjang rantai glukosida serta panjang rantai interfasi terhadap intermolekular ikatan hidrogen dan kestabilan gula serta protein.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Mutu Ikan Selais Asap (Ompok hypophthalmus) Unit Pengolahan Tradisional di Teluk Petai, Kampar, Riau

Mutu Ikan Selais Asap (Ompok hypophthalmus) Unit Pengolahan Tradisional di Teluk Petai, Kampar, Riau

Jumlah mikroba yang diketahui setelah dilakukan penyimpanan selama 20 hari yaitu sebesar 1,3 × 10 7 CFU/mL pada suhu ruang dan sebesar 1,8 × 10 6 CFU/mL pada suhu kulkas. Berdasarkan persyaratan mutu yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01 – 2725 – 1992) bahwa jumlah bakteri maksimum ikan asap adalah 5 x 10 5 koloni /gram. ICMSF (1986) diacu dalam Mexis et al. (2009) menyatakan bahwa batas atas mikrobiologi produk makanan nilai TPC tidak boleh lebih dari 7 log cfu/gram. Jumlah kandungan mikroba pada ikan selais asap yang disimpan pada suhu kulkas (10 o C) akan lebih bersifat dorman, dimana aktivitas metabolisme akan terhambat sehingga proses pembelahan selnya juga akan terhambat (Kadir 2004). Dengan demikian jumlah sel mikroba pada suhu rendah akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan suhu yang lebih tinggi. Penggunaan suhu rendah mempunyai pengaruh terhadapproses- proses kimiawi, enzimatis dan mikrobiologis yaitu mampu menghambatatau mencegah reaksi kimia, aktivitas enzim dan mikroorganisme (Suryo 2005).
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Pengaruh Penyimpanan Pada Suhu Refrigerator dan Freezer Terhdahap Jumlah dan Jenis Mikroba Susu Kedelai.

PENDAHULUAN Pengaruh Penyimpanan Pada Suhu Refrigerator dan Freezer Terhdahap Jumlah dan Jenis Mikroba Susu Kedelai.

Susu kedelai sangat mudah tercemar mikrobia dan mudah rusak. Untuk meningkatkan daya simpan susu kedelai dapat dilakukan penyimpanan pada suhu ruang yang steril, suhu dingin (suhu refrigerator dan freezer). Suhu penyimpanan tersebut akan mencegah terjadinya kerusakan bahan pangan atau kebusukan (Budiyanto, 2003). Jenis-jenis mikrobia dapat hidup dan berkembang di berbagai tempat ataupun suhu yaitu golongan psikrofil (tumbuh pada suhu dibawah 20ºC), golongan mesofil (tumbuh pada suhu antara 20ºc-45ºC) dan golongan termofil (tumbuh pada suhu di atas 45ºC) (Gaman dan Sherrington, 1994).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Mutia et al. (2014), terlihat bahwa suhu ruang lebih memicu terjadinya kerusakan umbi busuk/jamur pada bawang merah selama penyimpanan dibandingkan suhu dingin. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat pertumbuhan mikroba pada suhu ruang yang menimbulkan busuk jamur pada bawang merah. Hal tersebut menunjukkan bawang merah terolah minimal sebelum penyimpanan perlu penambahan larutan anti mikroba atau busuk jamur untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh jamur. Penyakit busuk jamur pada bawang merah disebabkan oleh A.niger dan cendawan fusarium berupa miselia hitam pada permukaan umbi. A.niger dan cendawan fusarium berkembang cepat pada kondisi hangat. Sesuai dengan pendapat Nugraha et al. (2012) bahwa kerusakan busuk dan jamur pada bawang merah disebabkan oleh Penicillium spp., Aspergillus spp., Botrytis spp., Fusarium spp., Pseudomonas spp., dan Erwinia spp yang berkembang dengan cepat karena terlalu tingginya suhu dan kelembaban selama penyimpanan.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Pengolahan Limbah Kulit Singkong Menjadi Tepung dengan Lama Waktu Perendaman CaCo3 dan Suhu Oven yang Berbeda.

DAFTAR PUSTAKA Pengolahan Limbah Kulit Singkong Menjadi Tepung dengan Lama Waktu Perendaman CaCo3 dan Suhu Oven yang Berbeda.

Lidiasari, E., Merynda I. S. dan Friska S. 2006. Pengaruh Perbedaan Suhu Pengeringan Tepung Tapai Ubi Kayu terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. J. Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. 8(2): 141-146. http://www.bdpunib.org/jipi/artikeljipi/2006/141.PDF. Diakses 5 juni 2015.

5 Baca lebih lajut

PENGAWETAN DAN PENYIMPANAN PADA SUHU RENDAH

PENGAWETAN DAN PENYIMPANAN PADA SUHU RENDAH

Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan makanan tidak dapat mematikan bakteri, sehingga pada waktu bahan beku dikeluarkan dan dibiarkan hingga mencair kembali (?thawing?), maka pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba dapat berlangsung dengan cepat. Penyimpanan dingin dapat menyebabkan kehilangan bau dan rasa beberapa bahan bila disimpan berdekatan. Misalnya : ? Mentega dan susu akan menyerap bau ikan dan bau buah-buahan

5 Baca lebih lajut

Resep Dendeng Sapi Kering Manis dan Reny

Resep Dendeng Sapi Kering Manis dan Reny

Maka dari itu, dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai resep dan cara membuat dendeng sapi kering yang renyah dan gurih. Nah sebelum membahas cara membuatnya secara tahap demi tahap, ada baiknya bunda mempersiapkan terlebih dahulu bahan-bahannya agar lebih memudahkan bunda dalam membuat dendeng sapi kering.

3 Baca lebih lajut

Pendugaan Umur Simpan Cookies Nenas Dengan Metode Akselarasi Berdasarkan Pendekatan Kadar Air Kritis

Pendugaan Umur Simpan Cookies Nenas Dengan Metode Akselarasi Berdasarkan Pendekatan Kadar Air Kritis

Hasley Oswin Chen-Clayton Caurie Henderson 0,068 0,0213 0,0257 0,0207 -0,0113 0,0247 0,0173 0,225 0,0415 0,0409 0,0439 0,0380 0,0386 0,0457 0,334 0,0588 0,0511 0,0577 0,0615 0,0516 0,0632 0,432 0,0737 0,0645 0,0741 0,0862 0,0695 0,0835 0,690 0,1319 0,1230 0,1327 0,1546 0,1444 0,1448 0,751 0,1599 0,1509 0,1565 0,1763 0,1717 0,1649 0,836 0,2081 0,2187 0,2081 0,2156 0,2185 0,2011 0,903 0,2884 0,3412 0,2886 0,2627 0,2642 0,2439 Lampiran 23. Kadar air kesetimbangan cookies nenas pada suhu 15 o C dari

37 Baca lebih lajut

Penambahan Isolat Protein Kedelai Pada Pembuatan Dendeng Jantung Pisang Batu (Musa brachycarpa Back)

Penambahan Isolat Protein Kedelai Pada Pembuatan Dendeng Jantung Pisang Batu (Musa brachycarpa Back)

Rasa timbul akibat adanya rangsangan kimiawi yang dapat diterima oleh indera pencicip atau lidah. Rasa adalah faktor yang mempengaruhi penerimaan produk pangan. Jika komponen aroma, warna dan tekstur baik tetapi konsumen tidak menyukai rasanya maka konsumen tidak akan menerima produk pangan tersebut (Rahmawan, 2006). Dendeng jantung pisang memiliki skor rata-rata berkisar antara 3.47-5.07 atau berada pada kisaran agak tidak suka manis dan agak suka manis (Lampiran 14). Dendeng jantung pisang memiliki rasa manis karena gula yang ditambahkan pada produk sebesar 19.16 % (Tabel 3).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...