Top PDF STRESS DAN COPING STRESS PADA MAHASISWA TINGKAT LANJUT

STRESS DAN COPING STRESS PADA MAHASISWA TINGKAT LANJUT

STRESS DAN COPING STRESS PADA MAHASISWA TINGKAT LANJUT

Menurut Johnston (2006) stress adalah tanda kelemahan rohani meskipun iman dapat menjadi sumber kekuatan besar, itu tidak membuat kita kebal terhadap stress, stress adalah seorang motivator alami yang dirancang untuk membantu kita meningkatkan dan menggerakkan kita untuk berbuat lebih baik akan tetapi stress yang sangat kuat atau berlangsung lama dapat melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasi (coping ability) dan menyebabkan distress emosional seperti depresi atau kecemasan, atau kelelahan fisik seperti sakit kepala dan kelelahan.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Antara Coping Stress (Pfc&Efc) Dengan Tingkat Stress Pada Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Antara Coping Stress (Pfc&Efc) Dengan Tingkat Stress Pada Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi

The subject of this research is the students of Information Technology Faculty at Satya Wacana University Salatiga. The subject is male or female student wich still on thesis ( more than 4 years study). The subject is 83 students. Sampling using Purposive sampling method. Hypothesis result wich using korelasi person product moment shows relation between coping stress EFC (Emotion Focus Coping) alasysis is r = 0.892 and sig = 0.000 wich mean there is significant relation between EFC (Emotion Focus Coping) with stress also coefficient relation between Coping stress PFC (Problem Focus Coping) and stress is r = 0.880 and sig = 0.000 wich mean there is significant relation between PFC (Problem Focus Coping) with stress. By that result the hypothesis wich tell there is positive relation between coping stress with stress level on student is acceptable.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Coping Stress Pada Remaja Broken Home

Coping Stress Pada Remaja Broken Home

Abstract. This research was aimed to find the coping stress in a broken home teenage. In this research, the authors used a qualitative research. Informants who participated in this research were three teenagers from broken home family in Kudus. The results of this research showedthat the three in form an tshada broken home, which resulted in a change of behavioral, emotional, cognitive, and physical. Factors that influence the in formants in doing coping stress is physical health, positive beliefs, problem-solving skills, social skills, social support, and material. Forms of coping strategies that are used by third informant consists of emotion focused coping and problem focused coping. Coping stress form of emotion focused copingt ends to be more widely used in the three informants. Such as escape avoidance, self-control, accepting responsibility, positive reappraisal, and seeking for social support. While coping strategies form problem focused coping is more used by informants II because she has a high spirit in solving the problem, it can be seen from the use of active oping, planning, and seeking social support for instrumentalis good.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

STRESS DAN COPING STRESS PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL YANG SUDAH MEMILIKI ANAK

STRESS DAN COPING STRESS PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL YANG SUDAH MEMILIKI ANAK

Segala Puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dengan segala keagungan, karunia, hidayah dan izin-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Stress dan Coping Stress pada Pekerja Seks Komersial yang Sudah Memiliki Anak”, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi

18 Baca lebih lajut

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Secara sederhana coping dapat dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah. Coping stress diketahui untuk mempengaruhi individu dalam situasi stres (Sanjeev & Bhukar, 2013). Coping melibatkan transaksi secara terus- menerus terhadap lingkungannya (Sarafino, 2011). Menurut Weiten dan Lloyd (dalam Indrawati, 2006) mengatakan coping merupakan upaya untuk mengatasi, mengurangi dan mentolerir ancaman yang tercipta karena stres. Menurut Lazarus, Folkman dkk (dalam Taylor, 2006) coping berfungsi untuk mengubah situasi yang menyebabkan timbulnya stres atau mengatur reaksi emosional yang muncul karena suatu masalah. Menurut Lahey (2012) coping stress dapat dibagi menjadi dua strategi yaitu effective coping dan ineffective coping. Effective coping merupakan cara efektif untuk mengatasi baik menghapus stres atau mengontrol reaksi seseorang sedangkan ineffective coping merupakan mengatasi stres yang memberikan solusi sementara dari ketidaknyamanan yang dihasilkan oleh stres, tidak memberikan solusi jangka panjang dan bahkan dapat membuat masalah menjadi lebih buruk lagi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Derajat Stress dan Coping Stress pada Guru di SMP Negeri "X" Bandung.

Hubungan Antara Derajat Stress dan Coping Stress pada Guru di SMP Negeri "X" Bandung.

Reaksi-reaksi stress tersebut dirasakan oleh guru SMP Negeri “X” Bandung, terutama dalam menjalankan tugas dan tuntutan dari program PKG. Setiap guru memiliki penghayatan yang berbeda terhadap tugas dan tuntutan pekerjaan yang mereka alami. Pada derajat stress tertentu, stress dapat memicu seseorang untuk melakukan suatu hal dengan lebih baik, namun pada derajat stress yang berlebihan akan menghambat seseorang mencapai tujuannya. Untuk itu dibutuhkan suatu strategi yang disebut coping stress. Coping stress adalah perubahan kognitif dan tingkah laku yang berlangsung terus menerus sebagai usaha individu untuk mengatasi tuntutan eksternal dan internal yang dianggap sebagai beban atau melampaui sumber daya yang dimilikinya atau membahayakan keberadaannya atau kesejahteraannya (Lazarus, 1984). Pada dasarnya, coping stress digunakan untuk mengurangi dan menghilangkan stress yang ditimbulkan dari masalah yang ada. Coping stress ini diharapkan dapat mengurangi stress yang dialami oleh guru SMP Negeri “X” Bandung sehingga tidak akan menghambat atau mengganggu pekerjaan mereka.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Coping stress merupakan cara seseorang untuk keluar dari situasi atau kondisi stres yang dialami. Anna dan Sami (2009) memberikan makna coping sebagai usaha perubahan kognitif atau perilaku individu secara terus-menerus untuk mengolah tuntutan internal maupun eksternal yang dinilai berat atau melebihi kemampuan individu. Coping dilakukan ketika adanya perasaan tidak menyenangkan karena tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino, 2011) menyatakan bahwa coping efektif membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Studi Korelasional Antara Derajat Stress Dengan Coping Stress Pada Karyawan Bagian Operator Tenun Perusahaan X Bandung.

Studi Korelasional Antara Derajat Stress Dengan Coping Stress Pada Karyawan Bagian Operator Tenun Perusahaan X Bandung.

Penggunaan coping stress dalam diri karyawan bagian operator tenun sebenarnya tergantung pada masalah yang dihadapi yang disesuaikan dengan kemampuan karyawan bagian operator tenun. Semakin tinggi coping stress yang dilakukan akan semakin rendah stress yang dialami. Semakin rendah coping stress yang dilakukan akan semakin tinggi stress yang dialami. Bila karyawan bagian operator tenun merasa tidak mampu mengatasi masalah, maka ia cenderung menggunakan emotion-focused coping, yaitu mengatur respon emosi terhadap stress. Pengaturan ini melalui perilaku karyawan bagian operator tenun untuk menghilangkan fakta-fakta yang tidak menyenangkan. Lazarus (dalam Widahastuti dan Tjahjono, 1999) mengatakan emotion-focused coping yaitu upaya untuk mencari dan memperoleh rasa nyaman dan memperkecil tekanan yang dirasakan. Pada tahap ini masalah yang menjadi sumber stress masih belum hilang.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN COPING STRESS PADA SISWA AKSELERASI  Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Coping Stress Pada Siswa Akselerasi.

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN COPING STRESS PADA SISWA AKSELERASI Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Coping Stress Pada Siswa Akselerasi.

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis memberikan sumbangan saran yang diharapkan akan bemanfaat bagi beberapa pihak terkait. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dukungan sosial menjadi salah satu faktor keberhasilan siswa akselerasi dalam melakukan coping stress, dengan dukungan sosial yang rendah maka siswa akan kurang mampu melakukan coping stress dengan baik. Untuk menghindari siswa mengalami tingkat stres yang tinggi, dan menghindari ketidak berhasilan siswa dalam melakukan coping stress maka saran-saran yang dapat diberikan oleh peneliti antara lain adalah:
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Kelompok lanjut usia termasuk rentan dalam situasi bencana sehingga mereka akan mengalami stres ketika terjadi bencana dan berusaha melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran strategi coping stres pada penyintas lanjut usia bencana erupsi Gunung Sinabung. Adapun pendekatan yang digunakan secara kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi yang menggali tujuh strategi coping stress yakni removing stres, cognitive coping, managing stres reaction, withdrawal, aggression, self medication dan defence mechanism. Jumlah responden sebanyak tiga (3) orang wanita lanjut usia yang tinggal di Posko Pengungsian Kabanjahe. Metode pengambilan sampel menggunakan tehnik pengambilan sampel theory based. Hasil penelitian mendapatkan bahwa ketidaknyamanan berada diposko pengungsian, kerugian finansial dan kecemasan masa depan yang menjadi sumber stres pada ketiga responden. Coping stres yang digunakan oleh responden adalah keseluruhan effective coping dan beberapa ineffective coping
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Skripsi Perbedaan Coping Stress...oleh Yaswinto

Skripsi Perbedaan Coping Stress...oleh Yaswinto

Skripsi adalah karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa dalam rangka menyelesaikan studi program sarjana strata satu (S1) berdasarkan hasil penelitian mandiri terhadap suatu masalah aktual yang dilakukan secara seksama dan terbimbing. 36 Permasalahan atau fenomena tersebut di tulis dalam bentuk karya ilmiah berdasarkan kemampuan dan ketrampilan dalam ilmu atau bidang tertentu. Penyusunan skripsi dimaksudkan untuk menilai kecakapan mahasiswa dalam memecahkan masalah secara ilmiah dengan cara mengadakan penelitian sendiri, menganalisis dan menarik kesimpulan secara metodologis serta melaporkan hasilnya dalam bentuk skripsi. Masalah yang menjadi pokok bahan skripsi harus disesuaikan dengan jurusan keahlian yang dikembangkan mahasiswa dan dibimbing oleh seorang atau dua orang dosen pembimbing yang ditunjuk oleh ketua jurusan atas persetujuan rektor. Penulisan skripsi sebagai bahan studi harus dipertahankan dihadapan tim penguji. 37
Baca lebih lanjut

133 Baca lebih lajut

PERAN KELUARGA TERHADAP STRESS AKIBAT PERNIKAHAN DINI   Coping Stress Pada Remaja Yang Menikah Di Usia Dini.

PERAN KELUARGA TERHADAP STRESS AKIBAT PERNIKAHAN DINI Coping Stress Pada Remaja Yang Menikah Di Usia Dini.

Mengacu pada pendapat Gotlieb, 1983 dalam Desmita (2010), dukungan orang terhadap pembentukan orientasi masa depan remaja dapat dilakukan melalui pemberian informasi atau nasehat verbal dan non verbal. Hal tersebut (nasehat verbal) didapatkan oleh keempat informan dari teman dekat, orangtua dan saudaranya.Akibat dari dukungan emosional tersebut, dua subjek (HD, NY) merasa mampu menerima keadaan dirinya saat ini namun dua subjek lainnya (DR, LE) belum dapat menerima keadaan dirinya. Desmita (2010) menjelaskan bahwa orientasimasa depan remajaterkait lapangan kehidupan yang paling mendapatkanperhatian adalah pendidikan. Hingga saat ini dapat dketahui jika informan DR masih ingin melanjutkan pendidikan sekolahnya dengan cara ikut kejar paket. Terkait dengan masalah dan stress yang dialami oleh para informan, informan menyangkal permasalahan dengan cara menghibur diri dengan menonton TV, bermain ke rumah saudara dan bermain dengan anak.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Mengenai Coping Stress pada Mahasiswa yang Menyelesaikan Skripsi di Universitas "X" Bandung.

Studi Deskriptif Mengenai Coping Stress pada Mahasiswa yang Menyelesaikan Skripsi di Universitas "X" Bandung.

Pada penilaian kognitif primer, mahasiswa mengevaluasi stressor yang dihadapinya apakah menguntungkan atau merugikannya. Berdasarkan penilaian ini, maka akan dihasilkan salah satu dari tiga bentuk penilaian, yaitu irrelevant, benign positive, dan stressful. Stressor dikategorikan irrelevant apabila dinilai tidak berdampak apapun pada mahasiswa, misalnya mahasiswa menilai bahwa kesulitan menyelesaikan skripsi adalah hal yang wajar dan tidak membebani psikologis mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan. Benign positive apabila stressor dinilai memberikan keuntungan atau hal positif pada mahasiswa, misalnya mahasiswa memandang bahwa menyelesaikan skripsi merupakan suatu tantangan sehingga mahasiswa merasa tertantang untuk menggali lebih dalam mengenai penelitian dalam skripsi yang dikerjakan. Dengan demikian, mahasiswa menilai tugas serta tanggung jawab untuk menyelesaikan skripsi tidak berdampak apapun sehingga mahasiswa tidak mengalami stress.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Hubungan Komunikasi Interpersonal Dan Strategi Coping Dengan Stres Pada Mahasiswa Psikologi Yang Sedang Menyusun Skrips: Jurnal Psikoborneo... Tim Pakar: Tingkat Stres Pengungsi Sinabun[r]

4 Baca lebih lajut

COPING STRESS PADA REMAJA YANG MENIKAH  DI USIA DINI   Coping Stress Pada Remaja Yang Menikah Di Usia Dini.

COPING STRESS PADA REMAJA YANG MENIKAH DI USIA DINI Coping Stress Pada Remaja Yang Menikah Di Usia Dini.

Early marriages happened in adolescents have caused them to lose one of the most important duty in their adolescents period, such as preparing for their marriage and household. Adolescents who married in early age have a new role in their life as an adult. The life of marriage person always encounter problem that may cause stress. Stress can be solved by means of coping in each individual. Coping by Lazarus in Niam (2009) is the way of individuals deal with stressful situations. The purpose of this study was to determine the problems experienced by adolescents married in early age, to find out the form of the stress experienced by them, to find out the stress coping used and determine the impact of coping itself. This study applied a qualitative method with four key informants and three supporting informants. Key informants are adolescents married in early age and they married at the age of less than sixteen years old, besides, the supporting informants are the family or relatives of the key informants. In this study, researchers used interviews and observation methods as a means of data collecting technique. The result of this study determined that the problem occurs in adolescents married in early age is divided into two: internal and external problems. The internal problems experienced by informants are such a negative emotions like feeling sad, regret, and guilty, in addition, the external problems experienced are economic problems and divorce. Due to those problems, the informant experienced some physical, psychological, intellectual and interpersonal stress. The type of coping used to solve the problems is the kinds of coping on issues such as active behavior, planning, seeking instrumental support and emotions focused coping such as seeking emotional support, acceptance, denial and religiosity. Based on those coping, three of the four informants generally used emotion focused coping to solve their problems. The impact of coping that the informant used was feeling relieved after receiving the emotional support but all informants also fell that their current problems are not done yet.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

COPING STRESS PADA MAHASISWA YANG BEKERJA

COPING STRESS PADA MAHASISWA YANG BEKERJA

Adapun strategi coping yang dilakukan kelima responden adalah bersikap terbuka dengan rekan terdekat dan juga keluarga, asertif kepada atasan, dan mencoba melihat masalah secara lebih positif. Pada responden 2 juga melakukan hobi bersama teman dan tidak menunda mengerjakan tugas yang diberikan. Pada responden 3 melakukan antisipasi dengan membolos kuliah dan membuat prioritas yang lebih urgent . Pada responden 4, ia berusaha mengungkapkan keluhan yang ia rasakan, berusaha menghindari masalah dengan tidur, berusaha bersabar, berserah diri pada Tuhan, dan suka menerima nasehat dari orang lain. Sedangkan pada responden 5, mencoba bersyukur atas apa yang ia alami dan mengendalikan emosinya. Dapat dilihat pada responden 1,3, dan 5 bahwa mereka memiliki rekan kerja dan keluarga yang begitu mendukung mereka sehingga mereka dapat menyelesaikan permasalahan baik
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

COPING STRESS PADA PEREMPUAN KORBAN

COPING STRESS PADA PEREMPUAN KORBAN

feminin dan maskulin. Wanita yang telah menikah dan memasuki dunia kerja salah satu alasannya yakni untuk memperoleh penghasilan dan menambah penghasilan suami. Pada ketiga subjek, mereka dituntut untuk bisa menjadi mandiri dan rasional baik dalam mengambil keputusan atau secara financial. Tuntutan-tuntutan yang berasal dari keluarga membuat sifat maskulin pada wanita meningkat. Sifat maskulin dan feminin pada wanita menjadi seimbang. Bem (dalam Pujibodojo dan Prihanto,2001) menyebut hal ini sebagai fenomena androgini. Androgini merupakan pencampuran antara karakteristik maskulin dan feminin yang seimbang dalam taraf yang tergolong cukup tinggi pada seseorang. Individu yang androgin memiliki harga diri yang lebih tinggi, lebih fleksibel dan lebih efektif dalam hubungan interpersonal. Hal tersebut yang membantu ketiga subjek memutuskan untuk melakukan Active Coping selama bertahan menghadapi kekerasan dari suami. Terkait dengan pembahasan di atas ketiga subjek juga lebih terbuka dengan hadirnya informasi-informasi baru yang mungkin dapat membantu subjek dalam mencari pemecahan masalah.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

TEKANAN   STRESS AND COPING STRESS

TEKANAN STRESS AND COPING STRESS

Seperti dinyatakan dalam jadual tersebut saya juga mengalami beberapa simton stress seperti tidak selera makan, menyindiri, kurang member tumpuan, pening dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahawa saya sebagai penuntut Institut Pendidikan Guru Malaysia (IPGM) juga tidak terlepas daripada stress ini. Stress boleh timbul kepada sesiapa pada setiap peringkat usia. Pelbagai keadaan boleh menimbulkan kepada setiap individu. Bagi saya punca-punca yang menyebababkan saya yang selalu mengalami stress ialah suasana keluarga dan alam pembelajaran saya, masalah pergaulan, kekurangan pada diri serta tekanan menghadapi peperiksaan. Oleh itu, saya selalu mengambil pelbagai usaha dan insentif atau langkah yang positif untuk menghadapi tekanan-tekanan yang menganggu emosi saya ini. Pelbagai amalan positif saya amalkan dalam pengurusan stress ini.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Gambaran Coping Stress Pada Penyintas Lanjut Usia Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Emaka adi sekalak ngukurisa labo aku nggit enggak..mencari temannya nenek, biar luas, kalau enggak kemana-mana nenek gtu kan nenek panggil nenek cari teman untuk mengobrol, kalau[r]

192 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...