Top PDF Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (3)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (3)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (3)

penginderaan jauh. Citra dapat diartikan sebagai gambaran yang tampak dari suatu objek yang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau/sensor, baik optik, elektrooptik, optik mekanik maupun elektro magnetik.Sekarang sudah tersedia sarana satelit yang dapat digunakan untuk mendapatkan data secara sinoptik dan bersifat spasial dalam areal yang luas tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan kondisi (tingkat kerusakan) terumbu karang yang terjadi dalam kurung waktu terakhir serta luasannya dengan menggunakan citra satelit Penelitian ini diharapkan dapat memecahkan masalah kelangkaan data secara sinoptik dan bersifat spasial terhadap distribusi, kondisi dan luasan terumbu karang dengan Teknologi Penginderaan Jauh.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM I (3)

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM I (3)

Pengelolaan wilayah pesisir harus dilakukan secara cepat dan tepat dengan memanfaatkan data yang kontinyu dan teknologi yang mampu menggambarkan wilayah pesisir dengan baik. Integrasi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu cara untuk mengelola wilyah pesisr dengan data yang kontinyu dan sebaran spasial yang bisa menampilkan secara sederhana bentuk kawasan peisisir. Secara sederhana intergrasi antara penginderaan jauh dan SIG dapat memetakan kondisi wilayah pesisir sehingga dapat dipantau kondisinya.

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh Dan Siistem

Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh Dan Siistem

dapat melakukan penebangan seluas 10 – 20 ha, bahkan sampai 40 ha, kemudian bekas tebangan dibiarkan mengering selama 2 – 3 minggu untuk selanjutnya dibakar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi sudah menetapkan tiga kabupaten berstatus darurat bencana kebakaran la han dan hutan. “Kita sudah menetapkan toga kabupaten berstatus darurat kebakaran lahan dan hutan, yakni Kabupaten Muarojambi, Tanjung Jabung Timur, dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat,” kata Kepala BPBD Provinsi Jambi Arif Munandar, Jumat, 21 Agustus 2015. Menurut Arif, dalam sepekan terakhir, terjadi kebakaran lahan dan hutan di sejumlah titik, bahkan ada yang sudah berlangsung empat hari tapi belum mampu dipadamkan petugas.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (4)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (4)

keanekaragaman hayati, tercatat ada lebih kurang 590 spesies karang keras, 76 yang mewakili lebih dari 95% jumlah spesies yang tercatat di Pusat Segitiga Terumbu Karang. Menurut Nurjannah Nurdin, et al., 2013 Ekosistem terumbu karang memiliki peranan yang sangat penting, baik dilihat dari sisi manusia maupun keanekaragaman dan keberlanjutan biota laut. Fungsi alami terumbu karang yaitu (1) Habitat dan tempat berlindung, tempat mencari makan serta tempat berkembang biak biota yang hidup di terumbu karang. (2) sebagai pelindung fisik terhadap pantai dari pengaruh arus dan gelombang, karena terumbu karang berfungsi sebagai pemecah ombak. (3) sebagai sumber daya hayati karena menghasilkan beberapa produk yang memiliki nilai ekonomis penting seperti berbagai jenis
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

3. Jasa-jasa lingkungan, meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sumber energi (seperti: Ocean Thermal Energy Conversion, energi dari gelombang laut dan energi pasang surut), sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, penampungan limbah, pengatur iklim, dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi ekologis lainnya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar dan beragam. Beberapa sumber daya tersebut misalnya sumber daya perikanan tangkap dan perikanan budidaya, hutan bakau yang yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai, terumbu karang yang sangat produktif dan khas terdapat di daerah tropis dan sumber daya lainnya. Perencanaan kawasan konservasi yang memerlukan banyak parameter akan memerlukan analisis yang kompleks dan tidak mudah dilakukan. Namun demikian dengan perkembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan metode analisis spasial seperti sekarang permasalahan tersebut mendapat jalan keluarnya. Misalnya dengan diperkenalkannya perangkat analisis Cell Based Modelling yang secara khusus dapat membantu dalam perencanaan kawasan konservasi laut secara cepat. Analisis Cell Based Modelling di dalam SIG ini akan sangat membantu para perencana, tenaga teknis, para pengambil kebijakan dalam mendesain, mengelola kawasan konservasi laut seperti yang mereka harapkan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

keanekaragaman hayati, tercatat ada lebih kurang 590 spesies karang keras, 76 yang mewakili lebih dari 95% jumlah spesies yang tercatat di Pusat Segitiga Terumbu Karang. Menurut Nurjannah Nurdin, et al., 2013 Ekosistem terumbu karang memiliki peranan yang sangat penting, baik dilihat dari sisi manusia maupun keanekaragaman dan keberlanjutan biota laut. Fungsi alami terumbu karang yaitu (1) Habitat dan tempat berlindung, tempat mencari makan serta tempat berkembang biak biota yang hidup di terumbu karang. (2) sebagai pelindung fisik terhadap pantai dari pengaruh arus dan gelombang, karena terumbu karang berfungsi sebagai pemecah ombak. (3) sebagai sumber daya hayati karena menghasilkan beberapa produk yang memiliki nilai ekonomis penting seperti berbagai jenis ikan karang, alga, teripang dan kerang mutiara. (4) sebagai sumber keindahan karena menampilkan pemadangan yang sangat indah dan jarang dapat ditandingi oleh ekosistem lain, sehingga
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Penginderaan jauh merupakan akuisisi data sebuah objek oleh sebuah alat seperti Satelit Landsat yang secara fisik tidak melakukan kontak dengan objek tersebut. Citra yang dihasilkan dari penginderaan jauh merupakan citra multispektral. Teknologi Penginderaan Jauh dengan segala kelebihannya merupakan solusi paling efektif karena dapat memberikan data secara akurat dengan penyajian data yang cukup detail dan akses data yang direkam secara periodic.Penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, areal ataupun fenomena geografis melalui analisis data yang diperoleh dari sensor. Citra merupakan masukan data atau hasil observasi dalam proses penginderaan jauh.Sedangkan istem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, aerah atay gejala yang dan dikaji. Terumbu Karang adalah ekosistem bawah air yang sangat beragam yang sering kali disebut “hutan hujan laut.” Dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi biota laut sebagai sumber makanan dan tempat memijah. Terumbu karang terdiri dari dua kata, yakni terumbu dan karang. Istilah terumbu dan karang memiliki makna yang berlainan. Istilah karang merujuk pada sekumpulan binatang. Sedangkan terumbu merupakan struktur kalsium karbonat (CaCO 3 ) yang dihasilkan oleh karang. Dalam bahasa Inggris disebut coral reef.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

dengan rona pink kecerahan dan keunguan dan tekstur halus serta berasosiasi dengan pola sungai yang menjalin. Rona keunguan yang diinterpretasi bahwa terdapat kandungan air dangkal. Sedangkan pada rona pink kecerahan diinterpretasi merupakan lahan terbuka yang dimanfaatkan sebagai lahan tegalan dengan tanaman semusim seperti padi dan tanaman sayur-sayuran. Sehingga pada saat perekaman berwarna cerah dan biasanya berasosiasi dengan pemukiman. Berdasarkan identifikasi dari peta lereng dan kenampakan topografi pada citra, bentuklahan dataran aluvial umumnya mempunyai topografi yang datar dengan kemiringan 0-3% yang berada di daerah dengan ketinggian dari 4-17 m dpl. Material penyusunnya berupa batupasir, konglomerat, napal pasiran, serpih, dan kalkarenit. Bentuklahan ini banyak dimanfaatkan untuk pemukiman, sawah, tegalan, kebun campuran dan semak belukar dengan vegetasi seperti padi, kakao, kelapa, gamal, dan krinyu serta alang-alang. Dataran aluvial menempati areal seluas 1.448,39 ha atau 11,47% dari luas keseluruhan wilayah DAS Moramo. Berdasarkan hasil interpretasi yang dipadukan dengan peta batas administrasi, bentuklahan ini hanya terdapat di Desa Tambosupa, Amohola, dan Lambuea.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

Pada awal tahun 2000-an, terdapat 23,25 juta ha lahan kritis, 15,11 juta ha diantaranya berada di luar kawasan hutan, dan 8,14 juta ha di dalam kawasan hutan. Selanjutnya, luas lahan kritis tersebut meningkat lebih dari 3 kali lipat, menjadi 77,80 juta ha, dengan rincian 26,77 juta ha berada di luar kawasan hutan, dan 51,03 juta ha berada di dalam kawasan hutan. Apabila diperhatikan, ternyata bahwa total kerusakan lahan di dalam kawasan hutan lebih luas lagi. Dalam kurun waktu yang relatif pendek, luas lahan kritis di dalam kawasan hutan bertambah hampir 2 kali di luar kawasan hutan, dan lebih dari 8 kali di dalam kawasan hutan. Peningkatan luas lahan kritis di dalam kawasan hutan yang sangat besar diperkirakan karena terjadi peningkatan laju deforestasi yang sangat cepat (Kurnia et al LitbangPertanian.go.id).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I (1)

bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, krustacea, ekhinodermata, polykhaeta, dan porifera serta biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk jenis-jenis ikan (LIPI, 1995). Terumbu karang merupakan ekosistem yang subur dan kaya akan makanan (Soekarno, 2001 dalam Sulistyo B, 2007). Keanekaragaman biota dan produktivitas yang tinggi dimiliki oleh ekosistem terumbu karang. Fungsi terumbu karang juga merupakan tempat penyedia makanan, tempat perkembangbiakan, dan tempat berlindung bagi populasi organisme yang hidup di dalamnya. Organisme yang hidup di terumbu karan dengan keanekaragamannya juga merupakan sumber hayati yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti bahan obat-obatan, bahan pangan, dan ikan hias. Terumbu karang juga memberikan sumbangan pada perikanan laut dan pariwisata. Sayangnya, ekosistem terumbu karang sangat peka terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Pertumbuhan terumbu karang dipengaruhi oleh keadaan dari cahaya matahari, suhu, salinitas, kecerahan air, pergerakan air, dan substrat. Dan merupakan faktor pembatasnya meliputi kedalaman (dimana terumbu karang tidak dapat berkembang di perairan yang lebih dalam dari 50 – 70 meter) dan udara (dimana terumbu karang tumbuh pada tingkat pasang surut terendah). Terdapat 3 tipe terumbu karang : Terumbu Karang Tepi/Pantai (Fringing Reefs/Shore Reefs), Terumbu Karang Penghalang (Barrier Reefs) dan Terumbu Karang Cincin (Atol).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM

Negara Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Memiliki wilayah yang didominasi oleh perairan berupa ocean (laut), jangkauan wilayah pesisir Indonesia yang luas tentu memiliki tantangan tersendiri dalam pembangunandan pertahanan. Dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan tenaga yang tidak sedikit untuk mengtahui potensi yang ada didalamnya. Namun hadirnya teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG) telah memberikan pencerahan untuk kemudahan optimalisasi pembangunan sektor kelautan dan pengembangan sistem pertahanan negara maritim. Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan SIG untuk analisis dan kajian wilayah pesisir dan lautan telah banyak dilakukan oleh LAPAN, maupun para akademisi perguruan tinggi yang menggeluti dibidang pemetaan dan optimalisasi pemanfaatan pesisir dan kelautan. Sedangkan karya tulis ini hadir untuk mengarsipkan dan mengulasan kembali beberapa temuan pemanfaatan teknologi Penginderan Jauh dan SIG. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka. Hasil dan pembahasan dalam karya tulis ini meliputi pembangunan sektor kelautan meliputi: 1) pemetaaan, identifikasi dan inventarisasi sumberdaya pesisir dan laut, 2) kesesuaian pemanfaatan pesisir dan pengembangan budidaya laut, dan 3) monitoring ekosistem pesisir dan laut. Serta pembahasan pengembangan sistem pertahanan negara maritim dengan pemanfaatan ZPPI dengan google earth.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi G (1)

Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi G (1)

3) Jalan, menunjukkan bidang mengacu pada nama, panjang, kepraktisan dan tipologi. Pada fase ketiga dan terakhir kelompok riset melakukan penilaian pertama kehadiran asbes di wilayah itu. Sejauh ini kesehatan masyarakat yang bersangkutan, dengan mempertimbangkan parameter asbes semen menghitung persentase asbes pada setiap bagian sensus tunggal. Sejauh ini belum ada hukum apapun yang mengatur batas minimal atau maksimum berbahaya bagi kesehatan manusia, kepadatan asbes di tingkat nasional kemudian dipertimbangkan, yakni sebesar 0,83% [7,8,9]. Pertimbangan menarik muncul dari perbandingan nilai nasional ini dengan kepadatan bagian di daerah penelitian. Sebagai fakta, tercatat empat bagian sensus setidaknya menyajikan kepadatan yang luar biasa dari asbes yang mencapai nilai 3 atau 4 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional.. Akibatnya, perhatian lebih harus diberikan dalam bentuk perlindungan kesehatan masyarakat pada daerah-daerah tersebut (Gambar. 6).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) dengan 2/3 luas wilayah adalah lautan dan terdiri lebih dari17.499 pulau dimana 13.466 pulau yang telah diberi nama. Panjang garis pantai Indonesia adalah ±

4 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

Hasil klasifikasi memperlihatkan bahwa kemampuan pengenalan ODPD di Taman Wisata alam Laut Kapoposang dapat di bagi atas 6 kelas, masing- masing pasir, lamun atau alga, karang mati, pecahan karang, karang hidup, dan perairan (Gambar 3). Persentase tutupan ODPD seperti pada Tabel 2. Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat pengenalan citra satelit SPOT 5 resolusi 10 meter memberikan informasi yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan citra Landsat ETM 7 + (Faizal, 2006). Selain itu persentase tutupan karang hasil obersevasi lapangan (25 – 50 %) dengan citra satelit (40 %) memiliki kemiripan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem I

(3) Analisis citra satelit, meliputi koreksi geometric, cropping, identifikasi obyek dasar perairan dangkal (ODPD). Koreksi geometric di laksanakan untuk memperbaiki citra yang mengalami distorsi selama proses transfer data dari satelit ke stasiun penerima di bumi ke arah gambaran yang lebih sesuai dengan keadaaan aslinya (Jensen, 1996). Identifikasi ODPD di mulai dengan penyusunan algoritma RGB 321 SCC (Specific Color Composite) dan Lyzenga (Lyzenga, 1981, Faizal, 2006).

4 Baca lebih lajut

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM I (5)

TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM I (5)

SIG untuk pengelolaan sumberdaya kelautan berkembang dengan pesat (Maeden, and DoChi, 1996). Hal ini disebabkan kemampuan SIG dalam memberikan kemudahan untuk (1) mengintegrasikan data dari berbagai format data (grafik, teks, dan data digital); (2) memiliki kemampuan baik dalam pertukaran data; (3) mampu melakukan proses dan analisis data secara cepat; dan (4) mampu dalam pemodelan. Di Indonesia boleh dikatakan masih dalam tahap awal. Pada tahun 2000-an Indonesia mendapat pinjaman dana dari ADB untuk pengelolaan ekosistem terumbu karang melalui proyek CORMAP (Gambar 5) yang didanai dari ADB. Yang dimaksud dengan data dan informasi mengenai luas dan sebaran terumbu karang dalam pemetaan ini mencakup luas dan sebaran pasir karang, rataan terumbu tengah, tubir dan lereng terumbu. Dengan kata lain dalam kegiatan ini terumbu karang terdiri dari binatang karang, derivatnya dan habitat yang ada di dalamnya. Pemetaan terumbu karang menggunakan teknologi inderaja Landsat-TM ini dilakukan sampai batas kedalaman yang dapat dideteksi oleh sensor satelit. Untuk daerah yang datar atau agak landai, penghitungan luas dilakukan secara langsung berdasarkan jumlah piksel. Untuk daerah dengan sudut kemiringan yang agak besar, perhitungan luas terumbu karang dibantu dengan suatu transformasi yang memasukan komponen batimetri. Sedangkan untuk daerah yang sangat curam atau yang berbentuk dinding terjal, penentuan luas terumbu karang dilakukan secara visual dan dengan bantuan echosounder. Adapun batasan-batasan mengenai peristilahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah:
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem

Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem

yang mendukung ke dalam suatu sistem informasi geografis (SIG). Hambatan dalam pemantauan penutupan lahan dapat dikurangi dengan adanya teknologi penginderaan jauh (Nugraha, 2008). Memperoleh data erosi sesungguhnya memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, oleh sebab itu biasanya erosi diprediksi dari suatu model. Universal Soil Loss Equation (USLE) merupakan salah satu model prediksi erosi yang banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Data yang digunakan dalam analisis erosi USLE adalah data vektor, sehingga hasilnya mempunyai tingkat ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi (Sulistyo, 2015).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem (1)

Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem (1)

Dengan demikian, tidak mengherankan apabila penguasaan teknologi di bidang GIS dan penginderaan jauh oleh Australia sangat diutamakan yaitu sejak tahun 1970 . Hal ini diperlukan untuk pemanfaatan dalam melakukan tahapan pengelolaan lingkungan seperti monitoring limpasan air baik laut maupun darat, proses erosi dan lahan kritis, pemantauan vegetasi dan lain-lain berkenaan dengan penanganan permasalahan lingkungan.

5 Baca lebih lajut

SISTEM SATELIT PENGINDERAAN JAUH NASIONA

SISTEM SATELIT PENGINDERAAN JAUH NASIONA

Penggunaan teknologi satelit dan teknologi komputer untuk menghasilkan informasi keruangan (peta) suatu wilayah saat ini semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non-fotografik yang diambil melalui wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurasinya. Di sisi lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secara digital telah mencapai tahap operasional untuk seluruh aplikasi di bidang pengamatan dan pemantauan permukaan bumi.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

PEMETAAN GREENWAYS MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DI KOTA SURAKARTA

PEMETAAN GREENWAYS MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DI KOTA SURAKARTA

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui kemampuan citra satelit QuickBird untuk ekstraksi informasi parameter-parameter greenways, dan (2) Mengkaji greenways Kota Surakarta menggunakan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian ini menggabungkan teknik penginderaan jauh dan SIG. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara pendekatan biner, dan hirarki untuk melakukan klasifikasi greenways. Parameter yang dipertimbangkan dalam pengklasifikasian greenways adalah tingkat tutupan pohon, keberadaan trotoar, tingkat pelayanan jalan, tingkat emisi polutan, dan keberadaan saluran air hujan. Penelitian ini menghasilkan tingkat ketelitian pemetaan untuk lebar jalan sebesar 96,39%, dan tutupan pohon sebesar 72,45%. Analisis SIG juga dilakukan pada proses klasifikasi greenways yang menghasilkan greenways kelas tipe I hingga tipe IX, dan terdapat satu jalur bukan greenways karena tidak memiliki trotoar. Kelas greenways yang ideal adalah tipe I, yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai jalur citywalk, dan jalur sepeda. Konektivits greenways dihasilkan sebesar 72,22%, yang berarti bahwa tingkat konektivitas sangat tinggi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...