• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ajaran-ajaran Moral di Balik Keindahan Teks-teks Tembang Macapat Karya Ranggawarsita

R. Adi Deswijaya, Agus Efendi, dan Nurnaningsih

Program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Jl. Letjend. Soejono Humardani No. 1,

Telp (0271) 593156, Sukoharjo 57521

ABSTRAK: Ranggawarsita sebagai manusia kreatif banyak meninggalkan karya-karya yang

sangat bernilai bagi bangsa Indonesia dan khususnya masyarakat Jawa. Ranggawarsita sebagai seorang ahli sastra dan banyak sekali hasil karyanya, antara lain berisi filsafat, pendidikan, sejarah maupun kebudayaan, maka Ranggawarsita pantas untuk diangkat menjadi pujangga karaton. Ranggawarsita bagi masyarakat Jawa tidak hanya merupakan sastrawan, melainkan juga pujangga dalam arti yang sebenarnya. Mengkaji sastra karya Ranggawarsita, tidak hanya menikmati dari segi seninya saja, melainkan justru lebih ditekankan pada pesan-pesan yang bernilai pedagogis baik untuk bekal hidup di dunia, maupun untuk bekal di akherat. Dalam kacamata ini, Ranggawarsita tidak hanya seorang pendidik, melainkan beliau adalah ahli moral.

Kata-kata kunci: ajaran moral, karya Ranggawarsita

PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa pada masa lampau memiliki khazanah budaya yang bermanfaat bagi pembentukan watak dan pribadi seseorang. Sastra Jawa telah dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan dalam masyarakat. Sastra Jawa dalam kaitan ini penuh muatan ajaran moral, etika, kebenaran, kejujuran, kesucian hati yang akan membawa kesempurnaan dan kebahagiaan hidup yang bersumber pada agama dan falsafah hidup budaya Jawa.

Salah seorang pujangga Jawa yang sangat terkenal di dalam menciptakan karya sastra Jawa adalah Raden Ngabei Ranggawarsita. Ranggawarsita dilahirkan pada hari Senin, 15 Maret 1802 Masehi. Beliau putra sulung dari Mas Ngabei Ranggawarsita, abdidalem carik kadipaten anom, ketika putra sulungnya lahir masih berpangkat jajar serta bernama Mas Pajangswara. Nama kecil Ranggawarsita adalah Bagus Burham. Kata Bagus menandakan sebutan kebangsawanan, sedang kata Burham mempunyai arti yaitu bukti nyata. Ketika kecil dikabarkan bahwa sifat Ranggawarsita sangat nakal. Ia pernah berguru pada Kyai Kasan Besari di Pondok Gebangtinatar Ponorogo sampai akhirnya mendapat wahyu kapujanggan. Ranggawarsita wafat pada tanggal 24 Desember 1873 atau mencapai usia 73 tahun (Kumite Ranggawarsitan, 1931: 10-15).

Karya sastra Jawa seperti dalam Serat Kalatidha, Jaka Lodhang, Sabdatama, Sabdajati

Jayengbaya, Witaradya dan sebagainya merupakan serat-serat yang mengandung piwulang yang dikemas sedemikian rupa oleh Raden Ngabei Ranggawarsita dalam bentuk metrum tembang Macapat. Sebagai implikasinya, melalui pendidikan pembelajaran sastra mendidik siswa untuk dapat mengapresiasikan serta memparafrasekan ke dalam bahasa sehari-hari. Pendidikan pada saat sekarang ini tidak hanya mentransfer pengetahuan/ilmu kepada peserta didik melainkan kemampuan untuk mendidik dalam arti luas. Sistem pendidikan tidak hanya menekankan pengembangan intelektual aspek kognitif atau akademik namun juga menekankan pendidikan karakter sehingga peserta didik memiliki kualitas mental/kekuatan moral, akhlak, budi pekerti yang merupakan kepribadian baik khususnya bagi peserta didik.

Ranggawarsita pantas mendapat sebutan pahlawan sastra, karena banyaknya jasa beliau dalam bidang kesusastraan dan isinya telah banyak dijadikan pedoman filsafat oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai 1) bagaimana ajaran-ajaran moral yang terdapat di dalam teks-teks tembang Macapat karya Ranggawarsita dan 2) Bagaimanakah latar sosiohistoris Ranggawarsita sebagai kreator sehingga banyak menghasilkan karya yang dapat dijadikan pedoman hidup?

METODE

Berdasarkan jenisnya, penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Bogdan R.C dan S.K. Biklen dalam Atar Semi (1993: 24) menyatakan sebagai berikut.

“Pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif ini berpandangan bahwa semua sistem tanda tidak ada yang patut diremehkan, semua penting dan semuanya mempunyai pengaruh dan kaitan dengan yang lain. Dengan mendeskripsikan segala sistem tanda (semiotik) mungkin akan memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif mengenai apa yang sedang dikaji”.

Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk mengungkapkan berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal (individu atau kelompok), keadaan, gejala atau fenomena yang lebih berharga daripada hanya pernyataan dalam bentuk angka-angka dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data (Sutopo, 1996: 8-10).

Sumber data dalam penelitian ini adalah enam karya sastra Jawa yang berbentuk tembang karya Ranggawarsita, yaitu Serat Kalatidha, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang, Serat Jayengbaya dan Serat Witaradya. Adapun alasan praktis pengambilan puisi-puisi tersebut sebagai sumber data antara lain karena puisi tersebut merupakan puisi yang berbobot, terbukti sudah pernah dilakukan penelitian baik berupa skripsi atau tesis dan diantologikan dalam bentuk buku maupun dipublikasikan dan sudah berskala nasional, serta banyak dibaca oleh peminat puisi (terutama pecinta budaya dan sastra Jawa). Alasan lainnya adalah puisi tersebut telah dianggap puisi karya Ranggawarsita, dan puisi-puisi tersebut oleh para peneliti, pecinta budaya dan sastra Jawa maupun Indonesia telah dianggap mewarnai perpuisian di Indonesia, dan puisi tersebut cukup berwibawa di mata para pengamat sastra serat mengandung nilai-nilai ajaran pendidikan budi pekerti yang luhur.

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah teknik pustaka, lalu teknik simak dan catat. Teknik pustaka ialah pengambilan data dari sumber-sumber tertulis oleh peneliti dalam rangka memperoleh data beserta konteks lingual yang mendukung untuk dianalisis. Konteks lingual masih bisa dilengkapi dengan konteks nonlingual, seperti penjelasan dari peminat puisi, latar tempat, situasi, peristiwa dan sebagainya.

Proses analisis data dalam penelitian ini bersifat interaktif, yaitu analisis data dengan menggunakan langkah-langkah: reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam reduksi data, peneliti mengklasifikasi ajaran-ajaran moral dalam serat-serat karya Ranggawarsita. Data lalu disajikan dalam sebuah sajian data dengan dilengkapi berbagai keterangan penemuan. Adapun langkah akhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan temuan yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut R.I. Mulyanto (1985) bahwa mengenai nama Ranggawarsita ternyata penulis menemukan nama-nama itu sebanyak tiga orang, yaitu 1) R. Ng. Ranggawarsita I atau nama lainnya R.T Sastranegara dan lebih terkenal dengan julukan R. Ng. Yasadipura II, merupakan pujangga Karaton Surakarta Adiningrat dengan pangkat bupati anom, 2) R. Ng. Ranggwarsita II atau nama lainnya Raden Mas Pajangswara dengan pangkat panewu carik Kadipaten Anom Surakarta, dan 3) R. Ng. Ranggawarsita III atau nama lainnya Rangga Pajanganom/Rangga Pujangganom dan semasa kecil bernama Bagus Burham. Mulai mengabdi di Karaton Surakarta Adiningrat dengan pangkat carik kadipaten anom, kemudian naik menjadi mantri carik

kadipaten anom bergelar Ki Sarataka. Pada waktu pangkatnya naik menjadi kliwon kadipaten anom Surakarta terkenal dengan sebutan R. Ng. Ranggawarsita III (Hal. 34-37). Adapun yang menjadi bahan penelitian ini ialah R. Ng. Ranggawarsita III.

Ajaran-ajaran moral dalam teks-teks tembang macapat karya Ranggawarsita

1. Berbakti pada Tuhan

Dalam Serat Kalatidha tembang Sinom bait 1, Ranggawarsita menyampaikan ajaran bagaimana manusia harus bisa mesu cipta mati raga ‗mengheningkan cipta dan mematikan raga/mencegah nafsu yang tidak baik‘ dalam rangka mencapai gelar taqwa. Wahywaning arda rubeda, ki pujangga amèngêti, mêsu cipta mati raga, mêdhar warananing gaib, ananira sakalir, ruwêding sarwa tumuwuh, wiwaling kang warana, dadi badaling Hyang Widhi, amêdharkên paribawaning jawata.

(Keluarnya keinginan sulit, ki pujangga memperingati, mengheningkan pikiran mematikan raga, membuka tirai yang gaib, keberadaan semua, kesulitan selalu tumbuh, hilangnya tirai penutup, menjadi kehendak Tuhan, mengajarkan keagungannya Tuhan).

Pendidikan moral dan budi pekerti kaitannya dengan ketaatan hamba kepada Tuhan dalam kutipan bait tersebut adalah hendaknya ketaatan kepada Tuhan ini diwujudkan pula dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari- hari yaitu bisa mesu cipta mati raga ‗selalu mengheningkan cipta dan berusaha mencegah nafsu yang tidak baik. Dalam agama Islam mesu cipta mati raga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk memperoleh derajat taqwa. Ketaqwaan ditunjukkan dengan jalan menjauhi larangannya, mencegah nafsu yang tidak baik dan menjalankan semua perintahnya.

2. Rendah hati

Sikap sederhana, rendah hati di hadapan orang lain merupakan ajaran yang selalu dicontohkan oleh Ranggawarsita. Sikap rendah hati bukan berarti bahwa orang Jawa itu rendah, tapi mengandung makna bahwa dalam bertindak tidak bersikap sombong, tetapi mampu menghormati orang lain. Dalam Serat Sabdatama, bagaimana harus rendah hati menghadapi jaman edan disebutkan dalam bait ke- 2 tembang Gambuh.

Ngajapa tyas rahayu, ngayêmana sêsamèng tumuwuh, wahanane ngêndhak angkara kalindhih, ngendhangkên pakarti dudu, dinuwa luwar tibêng doh

(Capailah tekad baik itu, lindungilah sesama hidup, akhirnya mengurangi dan mengalahkan angkara, menyingkirkan perbuatan yang bukan-bukan, didorong lepas jatuh jauh).

Dalam teks terlihat sikap rendah hati, selalu berusaha menyenangkan hati orang lain diungkapkan dengan kata-kata ngayêmana sêsamèng tumuwuh ‗buatlah tenteram kepada sesama mahkluk‘. Ketika menghadapi jaman kalabendu, diharapkan tidak menggunakan kesombongan, memanfaatkan kesempatan dengan berbuat seenaknya atau aji mumpung.

Beda kang aji mumpung, nir waspada rubedane tutut, akêkinthil anggop anggung atut wuri, tyas riwut ruwat dahuru, korup sinêrung ing goroh

(Berbeda dengan yang aji mumpung, hilang kewaspadaan kesulitan datang, mengikuti diam selalu di belakang, hati bingung mengandung rusuh, pantas diliputi kebohongan).

3. Dapat dipercaya

Sebuah kepercayaan yang harus diemban seorang pemimpin sebenarnya harus dijalankan dengan baik. Dalam Serat Kalatidha, gambaran bagaimana seorang pemimpin yang tidak dapat dipercaya dalam bait ke-2.

Ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pranayaka tyas raharja, panekare becik-becik, parandene tan dadi, paliyasing kalabendu, malah mangkin andadra, rubeda kang ngriribedi, beda-beda ardane wong sanagara.

(Sesungguhnya rajanya termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka- pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan, oleh karena daya Jaman Kalabendu, bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi, lain orang lain pikiran dan maksudnya).

Pendidikan moral budi pekerti dalam bait ke-2 adalah sebagai pimpinan atau abdi negara harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap rakyat, memiliki kemampuan mengamankan, bekerja keras dengan penuh pengabdian dan menjaga kelangsungan hidup masyarakat (amanah).

Lamun nganti korup mring panggawe dudu, dadi panggonaning eblis, mlêbu mring alam pakewuh, ewuh pana ninging ati, têmah wuru kabêsturon.

(Kalau sampai terjerumus pada perbuatan yang bukan-bukan, menjadi tempatnya iblis, masuk ke alam yang sulit, sulit mendapat kejernihan hati, akhirnya mabuk lalu lengah).

Dalam Serat Sabdajati tembang Megatruh bait 5 di atas, terlihat bagaimana sikap amanah harus selalu dimiliki setiap orang. Apabila tidak amanah, ikut terjerumus perbuatan setan, maka sulit kita mendapat kejernihan hati.

4. Sabar

Dalam mengarungi kehidupan harus selalu mengutamakan kesabaran. Seseorang yang sabar biasanya memiliki pemikiran jauh ke depan. Selalu mempertimbangkan segala akibatnya. Kutipan dalam Serat Kalatidha bait ke-12 sebagai berikut.

Sageda sabar santosa, mati sajroning ngaurip,kali sing reh aruhara, murka angkara sumingkir, tarlen meleng malat sih, sanityasing tyas mamatuh, badharing sapudhendha, antuk mayar sawatawis, borong ngangga suwarga mesi martaya.

(Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah dapat mati di dalam hidup, lepas dari kerepotan,serta jauh dari keangkaramurkaan, biarkanlah kami hanya memohon, karunia pada-Mu, agar mendapat ampunan sekedarnya, kemudian kami serahkan jiwa dan raga kami).

Nilai moral dan budi pekerti kaitannya dengan kesabaran dalam bait ke-12 yaitu dalam menghadapi musibah selalu disertai doa dengan memohon kepada Tuhan. Tindakan yang dilakukan diungkapkan dengan metafora mati sajroning ngaurip ‗mati selagi hidup‘. Ungkapan ini mengandung maksud bahwa kesabaran ditunjukkan dengan kemampuan kita dalam mengendalikan hawa nafsu selagi masih hidup di dunia. Sikap sabar dapat mendidik diri, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan dalam menghadapi kesulitan.

5. Jujur

Kejujuran merupakan langkah awal dalam memperoleh kepercayaan yang dari orang lain. Kutipan dalam Serat Kalatidha yang berisi nilai kejujuran pada bait ke-7. Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, beja-bejaning kang lali, luwih beja kang eling lawan waspada.

(Hidup di dalam jaman edan, memang repot, akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga, akhirnya dapat menderita kelaparan, namun sudah menjadi kehendak Tuhan, bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia, namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada).

Ketika hidup di jaman yang serba tidak menentu, memang merepotkan, akan mengikuti kok tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti gerak jaman, maka tidak akan mendapat apa-apa. Oleh karena itu sebenarnya Ranggawarsita selalu menekankan sifat jujur dalam menghadap jaman edan ini. Kejujuran akan membentuk karakter kepribadian seseorang yang berhubungan dengan segala tindak-tanduk sesuai dengan apa

yang diucapkan. Artinya segala perbuatan yang dilakukan sesuai dengan hati nurani menjadi bagian dari kepribadian orang tersebut.

6. Mawas diri

Pendidikan untuk mawas diri atau selalu instrospeksi terhadap kekurangan maupun kelebihan diri sendiri,terdapat dalam teks Serat Kalatidha pada bait ke- 6 dan ke- 7.

Keni kinarya darsana, panglimbang ala lan becik, sayekti akeh kewala, lalakon kang dadi tamsil, masalahing ngaurip, wahananira tinemu, temahan anarima, muwus pepesthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan.

(Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul, sebenarnya banyak sekali contoh-contoh, dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan, yang dapat mendinginkan hati, akhirnya nrima, dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh).

Mawas diri ditunjukkan dengan sikap mampu menimbang dan menentukan mana perbuatan yang baik dan tidak baik. Seseorang senantiasa memiliki suatu keinginan dalam rangka mencapai kesejahteraan hidupnya. Keinginan dan kebutuhan manusia tidak pernah akan tercukupi selama manusia tidak pernah memiliki rasa syukur. Oleh sebab itu seseorang harus dapat mengukur kemampuan dirinya. Kemampuan seseorang ada batasnya, maka perlu mawas diri supaya keinginan tersebut dapat tercapai dan tidak menjadi beban yang memberatkan. Kisah-kisah lama dapat dijadikan contoh atau teladan. Kisah yang baik dapat dijadikan teladan, adapun kisah yang tidak baik jangan ditiru. Seseorang harus selalu narima dan berserah diri kepada Tuhan.

7. Tata krama dan subasita

Dalam Serat Jaka Lodhang Tembang Sinom bait ke 2 disebutkan bahwa besok sudah tidak ada lagi tatakrama ‗berkenaan dengan bahasa‘ dan subasita ‗berkenaan dengan tingkah laku‘. Wong wadon ibaratnya nir wadonira. Pergaulan yang baik harus selalu didasarkan kepada tutur kata yang baik dan tingkah laku yang sopan. Subasita lan tata krama kadya loro-loroning atunggal. Walaupun berbeda dan bisa dipilah tetapi tidak dapat dipisah.

Wong alim alim pulasan, jaba putih jêro kuning, ngulama mangsah maksiyat, madat madon minum main, kaji-kaji ambanting, dulban kêthu putih mamprung, wadon nir wadonira, prabawèng salaka rukmi, kabèh-kabèh mung marono tingalira

(Orang alim, alimnya palsu, luar putih dalam kuning, ulama menempuh maksiyat, madat, melacur minum dan berjudi, haji-haji membanting, surban kopiah putih beterbangan, wanita hilang kewanitaannya, terpengaruh perak dan emas, semua hanya ke sana penglihatannya).

8. Aja dumeh

Aja dumeh merupakan pernyataan agar seseorang selalu ingat kepada sesamanya. Kutipan bait ke- 2 Serat Kalatidha.

Ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pranayaka tyas raharja, panekare becik-becik, parandene tan dadi, paliyasing kalabendu, malah mangkin andadra, rubeda kang ngriribedi, beda-beda ardane wong sanagara.

(Sesungguhnya rajanya termasuk raja yang baik, patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka- pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan, oleh karena daya Jaman Kalabendu, bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi, lain orang lain pikiran dan maksudnya).

Dalam teks di atas sebenarnya Ranggawarsita mengajarkan untuk selalu bersikap aja dumeh. Jangan mentang-mentang menjadi pemimpin, lalu menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan. Diibaratkan pemimpin yang kelihatannyabaik, ternyata

tidak mampu merubah keadaan yang tidak baik dengan istilah parandene tan dadi, paliyasing kalabendu ‗tetapi tidak membuat perubahan pada jaman kalabendu‘.

Latar sosiohistoris Ranggawarsita sebagai kreator karya

Ranggawarsita dalam berkarya sangat dipengaruhi situasi-situasi yang terjadi semasa beliau hidup. Situasi politik yang ada, situasi sosial, situasi sastra, situasi keagamaan, situasi pendidikan, dan situasi budaya sangat mempengaruhi pola pikir Ranggawarsita dalam membuat karyanya.

Situasi politik yang terjadi semasa Ranggawarsita banyak mempengaruhi karya sastranya. Situasi politik sejak pemerintahan Mataram sampai pemerintahan Kerajaan Surakarta sangat tidak menguntungkan. Jaman ini banyak terjadi perang saudara, perebutan kekuasaan, maupun perang terhadap penjajah yang selalu turut campur dengan masalah dalam lingkungan karaton. Banyak abdidalem yang tidak bertanggungjawab dan mencari keuntungan sendiri, seperti digambarkan oleh Ranggawarsita dalam Serat dalam Serat Kalatidha.

Sejak pemerintahan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana II kedaulatan Kasunanan Surakarta semakin berkurang. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya perjanjian-perjanjian yang harus ditandatangani oleh raja-raja Kasunanan kepada pemerintah Kolonial Belanda. Para pembesar-pembesar karaton banyak yang menentang campur tangan Belanda, tetapi ada pula yang ikut mendukung tindakan pemerintah Kolonial Belanda. Akibatnya di dalam negeri timbul perang saudara, muncul orang-orang munafik yang hanya mengejar pangkat dan kedudukan tanpa memperhatikan nasib orang lain atau bangsanya sendiri. Oleh karena itu Ranggawarsita merasa mempunyai kewajiban moral untuk menaikkan derajat kehidupan masyarakat agar menjadi lebih tinggi, menjadi manusia utama dan berbudi luhur. Banyak karyanya yang mengajarkan manusia agar berbuat baik, tetapi ada pula karyanya yang bersifat menyindir, mencemooh, atau mengkritik mereka yang berbuat jahat.

Situasi sosial yang terjadi semasa Ranggawarsita banyak mempengaruhi karya sastranya. Struktur sosial masyarakat Jawa mengakui adanya golongan yang menguasai dan yang dikuasai. Golongan penguasa lebih tinggi derajatnya daripada golongan yang dikuasai, seperti abdidalem harus selalu taat kepada raja. Keadaan demikan mempengaruhi Ranggawarsita baik sebagai abdidalem maupun sebagai individu. Ranggawarsita harus bisa menempatkan diri, mengerti tugas-tugasnya baik kepada raja maupun sesama abdidalem. Ranggawarsita sebagai penulis harus mampu melihat mana yang benar dan tidak benar. Cita-cita hidup seorang pengarang adalah Cita-cita-Cita-cita seorang kesatria, yaitu rela berkorban, bijaksana, sederhana, sehingga gambaran-gambaran seorang kesatria sebagai manusia utama banyak tercetus dalam karya-karyanya.

Situsi keagamaan yang berkembang semasa Ranggawarsita hidup juga mempengaruhi pola pikir sang pujangga. Perkembangan agama Islam di Jawa cenderung mengarah ke Islam Kejawen yaitu agama Islam hasil sinkretisme dari paham asli Hindu dan Islam. Pola pikir Kejawen juga mempengaruhi isi karya-karya Ranggawarsita. Petuah-petuah sang pujangga banyak diungkapkan lewat ajaran-ajaran Kejawen, seperti dalam Serat Jayengbaya, Serat Sabdajati dan lain sebagainya.

Situasi pendidikan sangat mempengaruhi pola pikir Ranggawarsita. Ranggawarsita sejak kecil diasuh oleh Ki Tanujaya, beliau adalah ahli ilmu kebatinan dan memiliki banyak kesaktian. Ranggawarsita pernah belajar mengaji di Pondok Pesantren Gebang Tinatar Panaraga. Beliau belajar tata krama, filsafat, sopan santun kepada Yasadipura I, R.T. Sastranagara, Pangeran Buminata dan lain sebagainya, sehingga ilmu yang didapat Ranggawarsita tidak hanya ilmu yang bersifat lahiriah tetapi juga rohaniah. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi cara pandang Ranggawarsita seperti yang terungkap dalam karya-karyanya.

Ranggawarsita paham terhadap ajaran Islam, Kejawen maupun Hindu-Budha, maka dalam karya-karya beliau banyak menampilkan diksi yang bernuansa keagamaan. Adapun contoh dalam data sebagai berikut.

Wus katon nèng Lokilmapul (Sj, Mg I/17/3). 'Telah tampak dalam suratan takdir'. Ing jaman kênèng musibat (Kl, Sn I/6/3). 'Di jaman yang terkena musibah‘. Ya Allah ya Rasulullah (Kl, Sn I/12/1). ' Ya Allah ya Rasulullah'

Kepandaian Ranggawarsita ini diperoleh semasa kecil pernah belajar mengaji di pondok pesantren, maka tidak mengherankan apabila beliau juga paham istilah-istilah yang berasal dari ajaran Islam. Kata-kata yang berasal dari bahasa Arab misalnya Allah ‗Tuhan‘, Lokilmakpul ‗suratan takdir‘, Rasulullah ‗Rasul Allah‘, Jabarail ―Jibril‘, kata alim ‗alim‘ maupun kata kaji-kaji ‗haji-haji‘.

Situasi sastra yang ada sebelum jaman Ranggawarsita sangat mempengaruhi hasil karya-karyanya. Ranggawarsita banyak belajar dari naskah-naskah Jawa Kuna. Isi yang diungkapkan dalam karya sastra Jawa Kuna sangat beraneka ragam. Lewat karya-karya lama, sang pujangga mencoba menimba ilmu dan akhirnya dituangkan dalam karya-karyanya.

Ranggawarsita sebagai seorang parameng sastra ‗ahli dalam hal sastra‘ banyak menampilkan keindahan-keindahan penggunaan purwakanthi-purwakanthi. Kepandaian ini dilatarbelakangi oleh kesenangan beliau membaca kitab-kitab sastra lama, misalnya Jawa Kuna (Kakawin) maupun kitab Jawa Tengahan (Kidung). Kakawin dan Kidung juga banyak menampilkan keindahan-keindahan suara. Karena kebiasaan Ranggawarsita dalam membaca teks-teks indah, maka karya-karya sastra yang dihasilkan tidak kalah hebat dengan pujangga sebelumnya.

Demikianlah kepandaian Ranggawarsita dalam menuangkan karyanya dengan begitu

Garis besar

Dokumen terkait