Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Univet Bantara Sukoharjo Jl. Letjend S. Humardani No. 1 Sukoharjo 57521
Telp. (0271) 593156, Fax (0271) 591065
ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah mahasiswa memiliki kesadaran untuk berbahasa
dengan tingkat tutur krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) masih jarang dilakukan, penelitian yang dilakukan penulis diawali atas dasar keprihatinan fenomena yang terjadi pada kalangan mahasiswa bahasa dan sastra daerah (PBSD) yang keberadaan di kampus Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Target khusus penelitian ini adalah a) gambaran umum objek penelitian yang berasal dari mahasiswa program studi bahasa dan sastra daerah (PBSD), b) Diskripsi kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) dan berbahasa yang tepat, c) mendeskripsikan kesalahan mahasiswa dalam berbahasa Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) dan berbahasa yang tepat yang harus dilakukan dalam berbahasa Jawa Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) sesuai aturan berbahasa pada tingkat tutur. Beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : a) Studi pustaka dan pelacakan hasil penelitian relevan untuk memantapkan rancangan penelitian, b) Studi deskriptif kualitatif untuk menghasilkan deskripsi kemampuan berbahasa mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra daerah semester II dan VI, c) Studi deskripsi kualitatif untuk menghasilkan deskripsi kesalahan berbahasa mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra daerah, d) Focus Group persuassion untuk menghasilkan rancangan model mengatasi kendala-kendala berbahasa yang didalamnya dapat menyelesaikan hambatan mahasiswa berbahasa Jawa, e) Expert judgment melalui seminar / lokakarya untuk uji teoritis rancangan model konseptual.
Kata-kata kunci: Bahasa Jawa, tingkat tutur, kendala berbahasa
PENDAHULUAN
Bahasa Jawa (BJ) merupakan bahasa ibu masyarakat Jawa yang bertempat tinggal terutama dan terbesar jumlahnya di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur, kecuali Pulau Madura. Di samping di tiga provinsi tersebut masyarakat tutur bahasa Jawa juga terdapat di sepanjang pantai utara Provinsi Jawa Barat - kecuali Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan Pamanukan -, di sebagian besar Provinsi Lampung, di dekat Kota Medan, dan di daerah-daerah transmigrasi di beberapa pulau di Indonesia. Masyarakat tutur bahasa Jawa juga terdapat di New Calidonia dan Suriname (Poedjosoedarmo, 1979: 1; dan Nothofer, 1975: 8). Penutur bahasa Jawa diperkirakan seluruhnya berjumlah 80 juta orang (Kongres Bahasa Jawa IV, 2006).
Situasi masyarakat tutur Bahasa Jawa (BJ) yang secara geogrfis saling berjauhan letaknya tersebut menimbulkan terjadinya dialek geografi, sehingga dikenal beberapa dialek Bahasa Jawa (BJ) yang sebutannya sesuai dengan nama geografisnya, misalnya dialek Solo-Yogya, dialek Banyumas, dialek Surabaya, dialek Banyuwangi, dan sebagainya (Suwito, 1983: 3). Di samping itu, bahasa Jawa memiliki tingkat tutur (speech level) atau unggah-ungguhing basa. Tingkat tutur atau unggah-ungguhing basa kosakata dalam Bahasa Jawa (BJ) secara umum dibedakan atas: (1) ngoko (Ng), misalnya mangan, lunga, mulih, turu, nonton, (2) krama (Kr), misalnya nedha, kesah, mantuk, tilem, ningali, dan (3) krama inggil (Kr.I), misalnya dhahar, tindak, kundur, sare, mriksani (Sudaryanto 1991; Maryono Dwiraharjo, 1997).
Perlu diketahui pula bahwa masyarakat Jawa sebagian terbesar termasuk masyarakat dwibahasa (bilingual), terutama Bahasa Jawa (BJ) dan Bahasa Indonesia (BI). Sebagai Bahasa
Nasional, Bahasa Indonesia (BI) jelas mendominasi dalam pemakaian di tengah pergaulan masyarakat luas, dalam dunia informasi melalui media elektronik atau pun cetak, lebih-lebih dalam situasi komunikasi formal. Gunarwan (2006: 99) menyatakan bahwa ada petunjuk yang mengisyaratkan bahwa di ranah rumah tangga semakin muda usia penutur di ranah itu semakin berkurang jumlah pengguna bahasa daerahnya. Hal itu dapat dilihat dalam aktivitas sehari-hari di kalangan generasi muda Jawa lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia (BI) daripada Bahasa Jawa (BJ).
Berdasarkan temuan penelitian Edi Subroto dkk. (2007) diketahui bahwa kemampuan pemakaian Bahasa Jawa (BJ) ragam Krama (Kr), termasuk Krama Inggil (Kr.I) di kalangan generasi muda Jawa sangat memprihatinkan. Kualitas pemakaian Bahasa Jawa (BJ) mereka dari waktu ke waktu tidak bertambah baik tetapi semakin mengkhawatirkan. Sering juga terdengar keluhan para generasi tua Jawa, tokoh masyarakat Jawa, pengamat dan pemerhati Bahasa Jawa (BJ), menyatakan bahwa generasi muda Jawa semakin kehilangan ke-Jawannya atau wis ora Jawani karena tidak mampu lagi berbahasa Jawa (BJ) Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) secara baik dan benar. Padahal, kemampuan berbahasa Jawa (BJ) Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) sangat berkailan erat dengan pendidikan budi pekerkti, sopan santun, dan kehalusan perasaan serta tutur sapa.
Hasil pengamatan peneliti selama menjadi salah satu staf pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra. Jawa juga menunjukkan bahwa kemampuan para mahasiswa berbahasa Jawa (BJ) ragam Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) sebagian terbesar masih memprihatinkan, terutama mereka yang tergolong generasi muda, baik mahasiswa reguler maupun ekstensi. Hal itu tampak dari tuturan mereka ketika peneliti mencoba mengajak berbicara langsung atau pun melalui handphone (HP). Contoh seperti berikut ini.
Peneliti (P) : Dalemipun pundi, Mbak! (Rumahnya mana, Mbak?)
Mahasiswa (M) : Dalem kula Purwodadi, Pak. (Rumah saya Purwodadi, Pak)
P : Nitih menapa! (Naik apa?)
M : Nitih sepedha, boncengan.
P : Panjenengan sampun ngasta! (Anda sudah bekerja?)
M : Dereng ngasta kok, Pak. (Belum bekerja kok, Pak)
P : Sampun kagungan garwa! (Sudah mempunyai suami?)
M : Sampun kagungan. (Sudah mempunyai)
P : Garwa panjenengan ngasta wonten pundi! (Suami Anda bekerja
di mana?)
M : Garwa kula swasta kok, Pak' (Suami saya swasta kok, Pak)
Kondisi kemampuan mahasiswa berbahasa Jawa (BJ) semacam tampak di atas ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul Kemampuan Berbahasa Jawa Ragam Krama di Kalangan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dn Sastra Jawa, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo.
Sebagaimana terlihat pada data di atas, mahasiswa dapat ber-BJ Kr akan tetapi tidak dapat berbahasa Jawa (BJ) Krama (Kr) secara tepat. Pemakaian kosakata-kosakata Krama Inggil (Kr.I) oleh mahasiswa tersebut semuanya salah karena memakai kosakata Kr.I bagi dirinya sendiri.
Ragam Krama Inggil (Kr.I) tidak boleh dipakai untuk dirinya sendiri tetapi ditujukan kepada seseorang yang sangat dihormati, misalnya ayah ibunya, mertuanya, gurunya,atau tokoh masyarakat, baik yang sedang diajak berbicara maupun yang dibicarakan. Bagi dirinya sendiri bukan ragam Krama Inggil (Kr.I) melainkan ragam Krama (Kr). Dengan demikian, tuturan mahasiswa di atas seharusnya griya kula bukan dahm kula 'ramah saya', numpak bukan nitih 'naik', nyambut darnel bukan ngasta 'bekerja', gadhah bukan kagungan 'mempunyai', dan semah bukan garwa 'suami/istri'.
Padahal, tingkat tutur Bahasa Jawa (BJ): Ngoko (Ng), Krama (Kr), dan Krama Inggil (Kr.I) merupakan ciri khas yang menandai kemampuan pemakaian Bahasa Jawa (BJ) secara
baik dan benar dan sangat berkaitan dengan rasa hormat, sopan santun, dan budi pekerti dalam kehidupan masyarakat Jawa. Kehilangan kemampuan berbahasa Jawa (BJ) ragam Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) akan mengancam kurangnya rasa hormat pada orang lain, hilangnya sopan santun dan budi pekerti di kalangan masyarakat Jawa, yang pada akhirnya orang Jawa akan kehilangan identitas kejawannya atau wong Jawa ora Jawani.
METODE
Dengan metode Diskriptif Kualitatif yang digunakan sampel mahasiswa semester II sampai semester VI yang berjumlah 61 mahasiswa. Penelitian ini juga mampu menangkap kebenaran faktual dan empirik yang terdapat pada objek penelitian. Penelitian mengambil lokasi di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dengan alamat Jl. Sujono Humardani Kel. Jombor Kec. Bendosari Kab. Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah. Dengan menggunakan teknik analisis pada mahasiswa non reguler yang jumlah keseluruhan + 260 mahasiswa yang dilibatkan dipilih secara acak. Jumlah tersebut hanya diambil untuk sampel sekitar 20% dengan menggunakan teknik sampling atau simple random sampling. Sampel diambil dari semester II sampai semester VI non reguler dengan wujud ungkapan berbahasa berupa kata-kata dan kalimat yang berkaitan dengan pemahaman dan penguasaan kosakata ngoko (Ng), krama (Kr), dan krama inggil (Kr.1) serta kemampuan pemakaian struktur kalimat ngoko lugu (Ng.l), ngoko alus (Ng.a), krama lugu (Kr.l), dan krama alus. Data juga diambil dengan menggunakan Bahasa Jawa yang baik dan benar tentang unggah ungguhing basa (tingkat tutur) yaitu basa ngoko, basa krama, dan basa krama inggil di kalangan para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah. Metode juga menggunakan observasi atau pengamatan juga menggunakan teknik tes yang mencakup tes lisan, tes tertulis dan wawancara secara mendalam (in depth interviewing) yang mengarah pada keluasaan dan kedalaman mahasiswa dalam berbicara (Sutopo 2006:69).
Gambar 1. Alur kerangka pikir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah semester II dan VI non reguler yang berjumlah 61 mahasiswa yang diambil secara acak memiliki kemampuan berbahasa Jawa ragam
Ragam Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I)
Kesalahan berbahasa Jawa Ketepatan berbahasa
Jawa
Analisis kemampuan berbahasa Jawa mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD)
Kemampuan berbahasa Jawa Krama (Kr) dan
Krama Inggil (Kr.I)
Ketepatan dan kesalahan berbahasa Jawa Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I) yang dilakukan mhs PBSD
krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr. I) sangat kurang walaupun Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa merupakan wadah untuk menimba dan proses belajar dan pembelajaran bahasa. Kenyataan ini berbanding terbalik pada kenyataan yang ada mahasiswa sangat kurang memahami apalagi mampu.
Kemampuan mahasiswa dikarenakan mahasiswa cenderung menggunakan kosakata-kosakata Krama Inggil untuk dirinya sendiri. Ragam Krama Inggil tidak boleh di pakai untuk dirinya sendiri tetapi digunakan kepada seseorang yang sangat dihormati, misalnya ayah, ibu, mertua, guru, tokoh masyarakat yang sedang diajak berbicara maupun yang dibicarakan. Bagi dirinya sendiri bukan ragam Krama Inggil melainkan ragam Krama misal tuturan mahasiswa seharusnya griya kula bukan dalem kula dalam Bahasa Indonesia berarti rumah saya.
Hambatan mahasiswa terletak ada penggunaan krama pengucapannya Krama Inggil. Pada pengucapan sering kali kesalahan pada salah kalimat dan salah kata, rata-rata kesalahan pada mahasiswa semester II sampai semester VI mencapai 70-80% kesalahan berbahasa selain itu mahasiswa merasa kesulitan membedakan penempatan tingkat tutur ngoko, krama, krama inggil sehingga bahasa menjadi tidak trep (tepat).
Kemampuan mahasiswa hanya mencapai 33,2% apabila dirata-rata. Mahasiswa yang berjumlah 61 mahasiswa hanya dapat mengerjakan degan nilai kurang dari 40 (skor). Skor 40 pada tingkatan sangat kurang karena nilai dianggab mampu itu dapat menguasai bahasa 90-100 kategori sangat baik (mampu), 70-80 kategori baik, 50-60 cukup, 40 ke bawah sangat kurang.
Ketrampilan berbahasa harus mampu menggunakan tingkat tutur secara morfologis dan secara leksikal. Tingkat tutur secara morfologis dan leksikal mahasiswa sulit menerapkan penanda tersebut kedalam kalimat yang berbentuk krama atau ngoko. Kesalahan bahasa dalam pengucapan membuat kesan meninggikan diri sendiri, menganggab dirinya yang lebih dari orang lain. Misal: 1) Mbah, kula aturi dhahar, kula kala wau sampun dhahar yang artinya: Mbah, saya silahkan makan, saya tadi sudah makan. Ada lagi contoh: kula wau dalu ugi mriksani bal-balan kok pak. Diri sendiri di tinggikan dengan krama inggil. Artinya : tadi malam saya juga menonton pertandingan sepakbola kok pak. Hal di atas tanpa sadar dilakukan mahasiswa semester II sampai semester VI.
Kebiasaan mahasiswa menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa gaul, Inggris salah satu pemicu ketidakmampuan berbahasa Jawa yang baik dan benar. Di Indonesia juga memberlakukan Bahasa Nasional yaitu Bahasa Indonesia sehingga mahasiswa dengan bahasa ibunya sendiri Bahasa Jawa jadi asing. Pada masyarakat Jawa Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari dan itu seolah-olah tidak ada kesalahan secara aturan sehingga apabila dibiasakan akan menajdi faktor penghambat pelestarian Bahasa Jawa pada masyarakat Jawa.
Bahasa Jawa bahasa yang adiluhung dan semua pihak bertanggung jawab untuk melestarikan. Mahasiswa PBSD memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan, staf pengajar bertanggungjawab mata kuliah yang berhubungan dengan ketrampila berbahasa dapat ditambah sks untuk ditempuh mahasiswa Bahasa Jawa baik reguler maupun non reguler.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada hasil pembahasan penelitian ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa (1) Kemampuan menggunakan Bahasa Jawa ragam Krama dikalangan mahasiswa program studi bahasa dan sastra daerah, Universitas Bangun Nusantara Sukoharjo sangat kurang karena hanya memperoleh 33,2% pada kategori sebagai tempat atau wadah resmi dalam pembelajaran bahasa disara sangat kurang. (2) Tingkat kesalahan yang dilakukan mahasiswa dengan menggunakan ragam Krama (Kr) dan Krama Inggil (Kr.I), kesalahan terbanyak pada pengucapan yang menggunakan leksikon dan juga secara morfologis yang didalamnya berupa afiks dan klitik yang tidak pada tempatnya. (3) Tingkat kesalahan mahasiswa terbalik dalam penggunaan ragam Krama Inggil (Kr.I) digunakan untuk diri sendiriseharusnya ragam Krama Inggil (Kr.I) untuk orang lain sesuai dengan tingkat tutur yang digunakan. Dalam aturan tingkat tutur kita tidak boleh menggunakan Krama Inggil (Kr.I) untuk diri sendiri supaya tidak
menimbulkan rasa tidak menghormati orang lain walaupun tidak ada faktor kesengajaan. (4) Kemampuan berbahasa yang kurang pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) tergolong pada generasi mahasiswa non reguler yang usia muda, mahasiswa generasi yang tua (sepuh) relatif mampu terampil berbahasa masih pada tingkatan baik dan sangat baik yaitu 70-80% mahasiswa mampu berbahasa Jawa ditunjang faktor pengalaman, kebiasaan mengajar yang dilakukan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) golongan tua (senior ) sudah puluhan tahun mengajar di sekolah masing-masing. Hal ini berbeda dengan mahasiswa non reguler semester II sampai semester VI pada golongan muda yang belum memiliki pengalaman mengajar, kesalahan yang dilakukan 70-80% pada tingkat tutur, salah kata salah kalimat.
DAFTAR PUSTAKA
Edi Subroto. 2007. Sikap Bahasa Generasi Muda Jawa terhadap Bahasa Jawa di Jawa Tengah. Surakarta : Universitas Sebelas Maret
Maryono Dwiraharjo. 1997. Fungsi Krama bagi Masyarakat Tutur Jawa, Studi Kasus di Kotamadya Surakarta. Surakarta: Pustaka Cakra.
Nothofer, 1975 : 8. The Reconstruction of Proto-Malayo-Jalcanic Gravenhage : Martinusnijhoft
Poedjosoedarmo dkk. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Sudaryanto (Editor). 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Panitia Kongres Bahasa Jawa I Bekerjasama dengan Universitas Duta Wacana.
Sutopo. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press. Suwito. 1983. Sosiolinguistik, Sebuah Pengantar. Surakarta: Henary Offset. Uhlenbeck. 1982.