• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sri Kusdinah, Sudarno, Ira Pramuda Wardhani, dan I Made Ratih Rosanawati Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Jl. Letjend. S. Humardani No. 1 Kampus Jombor Sukoharjo 57521, Telp. + 62-271-593156, Fax + 62-0271-591065

ABSTRAK: Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa kemerosotan di bidang nilai-nilai

kemanusiaan atau karakter pada generasi muda oleh pemerintah diatasi dengan mencanangkan program penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan. Pencarian metode mengajar yang paling tepat yang bisa meningkatkan pendidikan karakter (budi pekerti) merupakan langkah yang paling tepat. Masalah utama dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah metode discovery inquiry lebih mampu mengembangkan kesadaran sejarah yang akan memberikan kontribusi nyata pada pengembangan karakter dibanding penggunaan metode pembelajaran langsung; (2) Betulkah metode discovery inquiry lebih meningkatkan prestasi mahasiswa dibanding metode pembelajaran langsung. Eksperimen dilakukan di dua program yakni : Program Pendidikan Sejarah Semester II dan IV serta Program Pendidikan Bahasa Indonesia Semester II dan IV Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan rancangan ―2 x 2 faktorial‖. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah : tes prestasi belajar nilai kejuruan dan angket tentang pendidikan karakter. Kedua tes tersebut dibuat sendiri oleh peneliti. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik Analisa Variansi dengan menggunakan taraf signifikansi 5 %. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Prestasi belajar nilai kejuangan mahasiswa yang diajar dengan metode discovery inquiry lebih baik daripada yang diajar dengan metode Pembelajaran Langsung. (2) Prestasi belajar nilai kejuangan mahasiswa yang berpendidikan karakter tinggi lebih baik dari yang berpendidikan karakter rendah.

Kata-kata kunci: metode pembelajaran langsung, discovery inquiry, karakter mahasiswa

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pendidikan merupakan unsur penting di dalam merealisasikan pembangunan Nasional, pembangunan manusia seutuhnya yang menjadi haluan bangsa meliputi unsur lahiriah maupun batiniah, tidak terlepas dari pendidikan tersebut. Upaya untuk mencerdaskan bangsa, sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, tidak dapat tercapai jika bidang pendidikan terbengkalai.

Suatu kenyataan bahwa dalam masyarakat kita dewasa ini tengah mengalami perubahan sosial yang serius di segala bidang. Perubahan yang terjadi begitu cepat sehingga memiliki pengaruh yang begitu luas dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Selain terdapat kemajuan di bidang ilmu dan teknologi (IPTEK) juga terjadi kemerosotan di bidang nilai-nilai kemanusiaan dan humanisme. Ada pergeseran nilai secara besar-besaran dalam kehidupan masyarakat di mana pola-pola kehidupan masyarakat mengalami gangguan sehingga mengakibatkan adanya jurang pemisah antara yang bersifat material dan spiritual,jasmani dan rohani, individu dan kelompok dan sebagainya.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para sejarahwan, pendidik, saat sekarang ini adalah mengajarkan peristiwa masa lampau untuk mempersiapkan peserta didik dan masyarakat untuk memasuki masa depan yang rentan akan perubahan. Pengajaran sejarah di samping melakukan transformasi serta nilai-nilai sosio-kultural. Untuk pengorganisasian

pelajaran sejarah secara efektif harus dipahami 3 komponen dalam sejarah yakni : (1) masa lampau; (2) kisah masa lampau; dan (3) metode inquiri. Sejarah bersifat ilmiah karena sejarahwan menggunakan metode keilmuan dalam bentuk yang dimodifikasikan dan deskripsi yang obyektif tentang ilmu sejarah dibedakan dari ilmu-ilmu sosial yang lain, bukan karena konsep-konsepnya yang spesifik tetapi oleh kaitannya dengan masa lampau dan metode inquiri yang digunakannya.

Gambaran situasi masyarakat bahkan situasi pendidikan di Indonesia dewasa ini sangat memprihatinkan mengingat makin meningkatnya tawuran antara pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya terutama di kota-kota besar, pemerasan/kekerasan (bullying), kecenderungan dominasi senior terhadap yunior, fenomena sporter bonek, penggunaan narkoba dan lain-lain. Bahkan yang paling memprihatinkan keinginan untuk membangun sifat jujur pada anak-anak melalui kantin kejujuran di sejumlah sekolah banyak yang gagal (Tempo Interaktif, 27-08-2009).

Disiplin dan tertib lalu lintas, budaya antri, budaya hidup besih dan sehat, kebanggan terhadap jati diri dan kekayaan budaya sendiri juga masih standart. Kondisi seperti inilah yang mengisyaratkan bahwa di Indonesia pelaksanaan pendidikan karakter saat ini dirasakan mendesak (Samani, 2011:2).

Semua sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terasa sakit oleh dahsyatnya pengaruh arus globalisasi, lunturnya nilai-nilai nasionalisme dan solidaritas adalah salah satu penyakit yang diderita anak negeri ini. Faktor ini pula yang melatarbelakangi munculnya kepedulian terhadap pentingnya pendidikan karakter (budi pekerti).

Sungguh memprihatinkan kondisi bangsa dan negara. Nilai-nilai luhur yang tinggi yang bermuatan etika atau akhlak atau budi pekerti yang diwariskan oleh nenek moyang pendiri negeri ini hancur begitu saja oleh arus global yang sangat maju.

Sejak tahun 2010 pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan, baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Program itu dicanangkan sebab selama ini dunia pendidikan dianggap kurang berhasil dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi-pribadi yang bermartabat (Aunillah, 2011:19).

Dalam Tap MPR No. II/MPR/1993 disebutkan bahwa pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, tangguh, cerdas, kreatif, trampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional serta sehat jasmani dan rohani, maka salah satu jalan mencapai ke arah tujuan tersebut adalah menanamkannya melalui proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Kenyataan yang terlihat adalah masih kurangnya ketrampilan guru dalam menggunakan cara/metode tepat guna mencapai tujuan yang diharapkan.

Metode pengajaran merupakan salah satu dari komponen ―Sistem Instruksional‖ sebagai suatu tujuan yang terdapat dalam suatu sistem, tentu saja metode terikat dan tidak dapat dipisahkan dari komonen-komonen lainnya, seperti: tujuan, materi, sumber/alat, kegiatan dan lainnya. Tujuan merupakan komponen utama di mana komponen-komponen lain harus berorientasi kepadanya.

Bila tujuan yang dikehendaki adalah berhubungan dengan perubahan sikap (afektif) yakni berkaitan dengan kesadaran sejarah dan budi pekerti (karakter) anak didik, dalam hal ini cara/metode mana yang lebih efektif untuk mencapai tujuan. Maka akan dieksperimenkan dua metode yang telah ditentukan dalam peningkatan karakter mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah semester II dan semester IV mahasiswa PBSI Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo.

Dalam mata pelajaran sejarah tersebut selain akan dilihat bagaimana perubahan dalam peningkatan belajar juga mahasiswa dituntut sebagai warga negara yang punya karakter baik mencakup: moral knowing, moral feeling dan moral action beserta masing-masing aspeknya. Berdasar indikator-indikator ini akan dilihat bagaimana perbandingan pengaruhnya penggunaan metode-metode tersebut kaitannya dengan pengembangan karakter.

Melibatkan mahasiswa secara optimal dalam melakukan interpretasi dan penilaian historis, hanya dimungkinkan dengan menggunakan metode discovery inquiry, di mana sejarah dipelajari tidak semata-mata bercorak deskriptif tapi juga bersifat deskriptif analistis (Kartodirdjo, 1982:82).

Dengan menerapkan metode tersebut berarti pengajar telah melatih siswa untuk menetapkan suatu sikap kritis dengan fakta yang dipelajari. Dalam kegiatan semacam itu siswa bukan hanya dituntut menggunakan kemampuan dan pengetahuannya saja tapi juga melibatkan penetapan sikap dan emosonalnya. Dengan begitu mahasiswa dapat menilai aspek ositif atau negatif mengenai suatu fenomena masyarakat, peristiwa, fakta dan obyek-obyek tertentu (Ausubel dan Floyd, 1969:369).

Dalam metode discovery inquiry, mahasiswa dituntut aktif menemukan (discovery) dan pemeriksa (inquiry), jadi prinsip pokok pada metode ini adalah: abstraksi, analisis dan generalisasi dilakukan siswa, sehingga mahasiswa terlibat dalam pengolahan informasi, bukan hanya menerima saja dari pengajar.

Metode discovery inquiry

Metode discovery inquiry dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi, kreativitas dan penalaran siswa. Dalam proses belajar tersebut, pengetahuan faktual dari siswa hanya merupakan langkah awal guna menemukan hakekat dan makna dari fakta-fakta yang dipelajari. Maksudnya model belajar ini lebih mengutamakan pemahaman fakta dari pada pengetahuan fakta tanpa arti. Melalui proses semacam ini lebih terbuka kemungkinan untuk mengembangkan cakrawala berpikir mahasiswa secara positif. Inti dari pada inquiry adalah proses yang berpusat pada mahasiswa. Semua pembelajaran dimulai dari belajar. Apa yang diketahui siswa apa yang ingin mereka lakukan dan pelajari merupakan dasar utama pembelajaran (Jauhar, 2011:64).

Dengan jalan demikian proses belajar mengajar sejarah dapat mengembangkan sikap dan kemampuan siswa sesuai dengan yang ditetapkan dan bantuan masyarakat dan bangsa. Bertolak dari dasar pemikiran di atas dapat diajukan asumsi bahwa pemahaman fakta sejarah dengan baik dapat mengembangkan kemampuan, sikap nasionalisme, kesadaran sejarah dan pengembangan budi pekerti.

Discovery inquiry sebagai suatu metode belajar-mengajar membuka peluang seluas-luasnya bagi pengembangan kreativitas mahasiswa sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Mahasiswa dilibatkan secara langsung untuk mengolah infomasi yang diterimanya baik secara lisan maupun tulisan, menurut Suharjo Danusastro, Discovery ditekankan pada kegiatan individu, di mana individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip dalam proses mental. Keterlibatan secara aktif dapat mendorong mahasiswa mengembangkan potensinya serta menyadari bakat dan kemampuannya (Danusastro, 1984: 2 dan 4).

Inkuiri sebenarnya berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Inkuiri juga dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban pertanyaan. Dengan kata lain inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Jauhar, 2002;65).

Ada beberapa ciri utama dalam pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas mahasiswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan mahasiswa sebagai subyek belajar, mahasiswa tidak hanya sebagai penerima pelajaran tapi mereka berperan untuk menemukan inti materi sendiri. Kedua, pengajar bukan hanya sebagai sumber belajar tapi juga sebagai fasilitator dan motivator aktifitas pembelajaran serta dilakukan melalui tanya jawab, sehingga kemampuan pengajar merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari inkuiri adalah pengembangan intelektual sehingga mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai pelajaran, tapi juga bagaimana mereka dapat menggunakan potensinya.

Medel pembelajaran langsung

Model pembelajaran ini menekankan pada penguasaan konsep. Pengajar tampil sebagai penyampai informasi dengan menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya: film, tape recorder, gambar, peragaan, dst. Informasi yang disampaikan berupa pengetahuan deklaratif (yaitu pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip atau generalisasi (Jauhar: 2011;46). Model pembelajaran adalah menekankan pada perubahan tingkah laku dengan mengutamakan pendekatan deduktif dengan ciri-ciri sebagai berikut (Jauhar; 2011:46):

1. Transformasi dari ketrampilan secara langsung

2. Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu

3. Materi pelajaran yang telah berstruktur

4. Lingkungan belajar yang telah berstruktur

5. Sintaks dan alur kegiatan

6. Distrukturisasi oleh guru

Pendidikan karakter anak bangsa

Pendidikan karakter/budi pekerti dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan peserta anak didik untuk memberi keputusan, baik memelihara yang baik dan mewujudkan kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut akan terwujud bila individu-individu jujur, mandiri, berkata benar, bertanggung jawab, profesional, disiplin, suka menolong, toleransi, taat bermoral, berakhlak mulia sebagai hasil dari internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter/budi pekerti (Amin, 2011; 5).

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti ―to mark‖ atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dan kehidupan.

Budi pekerti/perkembangan karakter dasarnya ditentukan oleh akhlak seseorang. Keluhuran akhlak adalah keluhuran karakter/budi pekerti. Jadi akhlak dapat pula dinamakan sebagai budi pekerti. ―Budi pekerti‖ adalah suatu keluhuran dalam jiwa seseorang yang merupakan unsur pribadi yang mampu memilih dan memilah apa yang baik yang sepantasnya dilakukan. ―Akhlak‖ menurut Imam Al Ghazali adalah sifat yang tertanam dalam hati yang dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik dengan mudah dan tanpa menimbulkan pertimbangan dan pemikiran-pemikiran (Amin, 2011;7).

Ciri-ciri orang yang berakhlak adalah orang yang dapat dipercaya tidak berkata bohong (dusta) berbicara sopan santun dan ramah, berjanji selalu ditepati, tepa selira, menghormati dan menghargai orang lain, tidak membeberkan aib orang lain, dan sebagainya. Jadi jelas bahwa keunggulan suatu bangsa ditandai dengan keluhuran budi, akhlak mulia, berakhlak/budi pekerti kuat.

Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki karakter/budi pekerti yang kuat. Karakter/budi pekerti yang kuat dan unggul itu diwariskan oleh pendahulu kita seperti Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, dan sebagainya. Karakter yang kuat ini nampaknya terabaikan, luntur oleh arus globalisasi yang kuat. Sebetulnya justru dalam arus globalisasi yang kuat ini karakter/budi pekerti bangsa harus kuat. Kondisi ini dinyatakan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono (Amin, 2011;12 mengutip dari Majalah Formula, vol. IV – Juni 2011).

Karakter individu yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila, yang dikembangkan dari Desain Induk Pembangunan Karaker Bangsa 2010 – 2025 antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut (Samani, 2011; 25):

1. Karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain beriman dan bertakwa, bersyukur, jujur,

amanah,adil, tertib, sabar, disiplin, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, punya rasa iba (compassion), berani mengambil resiko, pantang menyerah, menghargai lingkungan, rela berkorban dan berjiwa patriotik.

2. Karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain: cerdas, kritis, kreatif, inovatif,

3. Karakter yang bersumber dari olah raga/kinestetika antara lain bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, cerita, ulet dan gagah.

Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain : kemanusiaan, saling menghargai, saling mengasihi, gotong royong, kebersamaan, ramah, peduli, hormat, toleran, nasionalis, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras dan beretos kerja.

Menurut Lickona nilai-nilai penting yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter antara lain meliputi: nilai amanah, dapat dipercaya (trust worthiness), rasa hormat (respect), sikap bertanggung jawab (responsibility), berlaku adil, dan jujur baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain (fairness), kepedulian (caring), kejujuran (honesty), kebenaran (courage), kerajinan (diignue) berintegritas (integrity) dan kewenangan (citizenship).

Nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan Pendidikan Nasional (Pusat Kurikulum Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, 2009:9-10), yaitu :

1) Religius; 2) Jujur; 3) Toleransi; 4) Disiplin; 5) Kerja keras; 6) Kreatif; 7) Mandiri; 8) Demokratis; 9) Rasa ingin tahu; 10) Semangat kebangsaan; 11) Cinta tanah air; 12) Menghargai prestasi; 13) Bersahabat/komunikatif; 14) Cinta damai; 15) Gemar membaca; 16) Peduli lingkungan; 17) Peduli sosial; 18) Tanggung jawab.

Kesadaran sejarah

Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat tentang kesadaran sejarah antara lain:

1. Kuntowijoyo

Kesadaran sejarah merupakan pemahaman bahwa sekarang termasuk bagian masa depan, dan masa lampau itu menyusub dalam masa sekarang (Depdikbud, 1985:38).

2. Ruslan Abdul Gani

Kesadaran sejarah itu suatu sikap kejiwaan akan mental antitude dan State of Mind yang merupakan kekuatan kesadaran sejarah mencakup: (1) pengetahuan tentang fakta serta hubungan kontaknya; (2) pengirim alam pikiran kita dengan logika; dan (3) pengkatan hati nurani kita dengan hikmah kearifan dan kebijaksanaan, untuk menghadapi dan bercermin kepada pengalaman-pengalaman rasa lampau (Depdikbud, 1985:38).

Demikian beberapa pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kesadaran sejarah adalah kemampuan untuk memahami dan menghayati masa lampau sebagai pedoman bagi masa sekarang, supaya lebih sempurna di masa yang akan datang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bersifat perbandingan. Eksperimen ini mencakup 2 penggunaan metode mengajar yakni: Metode discovery-inquiry dan metode pembelajaran langsung. Penelitian ini bersifat perbandingan dalam arti membandingkan kedua metode itu dengan maksud untuk mengetahui metode yang mana yang paling efektif dalam mata pelajaran sejarah terhadap pembentukan karakter anak didik. Lebih lanjut penelitian ini juga akan meneliti pengaruh kedua metode tersebut dalam kaitannya dengan prestasi belajar dan juga akan meneliti ada tidaknya interaksi antara metode pembelajaran dan hasil belajar.

Secara garis besar pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sampel penelitian

Sampel penelitian terdiri dari 120 mahasiswa putra dan putri semester IV program Sejarah dan Program Bahasa Indonesia. Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

a. Variabel bebas : Metode discovery-inquiry dan pembelajaran langsung

b. Variabel terikat : Prestasi belajar

2. Perlakuan

Berkenaan dengan perlakuan yang diberikan pada Program Pendidikan Sejarah mendapat metode discovery inquiry, sedang untuk Program Bahasa Indonesia mendapat metode pembelajaran langsung. Materi pelajaran yang diberikan kepada kedua program tersebut adalah sesuai dengan Silabus jiwa, semangat dan nilai-nilai kejuangan ‘45 dalam semester genap.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah data prestasi belajar pendidikan karakter terkumpul, maka diadakan analisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis tersebut berupa: (1) deskripsi data, (2) pengujian hipotesis. Sebelum diadakan pengujian hipotesis, terlebih dahulu diuji persyaratan analisis. Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi (Anava) dengan taraf signifikansi 5%.

Deskripsi data

Kedudukan prestasi belajar mahasiswa dalam mata pelajaran pendidikan karakter diperoleh berdasar skor yang didapat dari mahasiswa dari tes pendidikan karakter. Dari perhitungan skor tingkat pendidikan karakter diperoleh data sebagai berikut: N sebanyak 120, nilai rata-rata atau x sebesar 166,65 sedang simpangan baku (s) sebesar 4,41. Dari nilai-nilai tersebut dibedakan antara mahasiswa yang berpendidikan karakter tinggi dan mahasiswa yang pendidikan karakter rendah dengan klasifikasi sebagai berikut:

1. Tingkat pendidikan karakter tinggi adalah skor yang sama atau lebih besar dari nilai

rata-rata (x) yakni 166,65.

2. Tingkat kesadaran sejarah rendah adalah skor yang lebih kecil dari 166,65.

Adapun data-data hasil penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesis meliputi:

1. Data prestasi nilai kejuangan dari mahasiswa berdasar penggunaan metode discovery

inquiry.

2. Data prestasi belajar nilai kejuangan dari mahasiswa berdasar penggunaan metode

pembelajaran langsung.

3. Data prestasi belajar nilai kejuangan dari mahasiswa dengan tingkat kesadaran tinggi.

4. Data prestasi belajar nilai kejuangan dari mahasiswa dengan tingkat pendidikan karakter

rendah.

Data-data dari hasil penelitian tersebut akan dikemukakan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Prestasi belajar nilai kejuangan berdasarkan penggunaan metode discovery inquiry

menunjukkan nilai rata-rata (mean) sebesar 61,57, standar deviasi sebesar 11,69, Medium (Me) sebesar 59,61, dan Modus (Mo) sebesar 56.

2. Prestasi belajar nilai kejuangan dari siswa secara keseluruhan berdasarkan penggunaan

metode discovery inquiry menunjukkan nilai rata-rata (mean) sebesar 56.82. Standar Deviasi sebesar 10.56. Medium (Me) sebesar 61.83 dan Modus (Mo) sebesar 60.23.

Sesuai dengan hipotesis yang telah diajukan maka pengujian hipotesis ini meliputi:

1. Perbedaan prestasi belajar Nilai Kejuangan mahasiswa yang diberi pelajaran dengan

metode pembelajaran langsung dan mahasiswa yang diberi pelajaran dengan metode discovery inquiry.

2. Perbedaan antara prestasi belajar nilai kejuangan mahasiswa yang tingkat kesadaran nilai

kejuangan tinggi dan prestasi belajar pendidikan karakternya rendah.

Analisis Variansi (ANAVA) dari pengujian hipotesis tertera pada Tabel 1. Untuk menguji hipotesis pertama, dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa F hitung = 9,21 lebih besar bila dibanding nilai F tabel, baik berdasarkan taraf signifikansi 5% (3,93) maupun 1% (6,87). Hasil analisis itu dapat diartikan bahwa penggunaan metode discovery inquiry lebih efektif untuk mencapai prestasi belajar nilai kejuangan dibanding metode pembelajaran langsung. Oleh karenanya hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan efektivitas antara penggunaan discovery inquiry dan pembelajaran langsung terhadap prestasi belajar nilai kejuangan mahasiswa di tolak.

Garis besar

Dokumen terkait