HASIL PENELITIAN DAN ANALILIS DATA A. NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM CERITA NASRUDDIN HOJA
3) AKHLAK KEPADA ORANG LAIN ( SESAMA) a) Membela rakyat
Manusia diciptakan Allah di muka bumi ini pada dasarnya mempunyai banyak kepentingan baik itu bagi Allah sendiri maupun manusia. Namun dari semua
96 kepentingan tersebut, semuanya bermuara pada satu tujuan menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya sebagaimana tercermin dalam Alquran Surat Adz-Dzariyat Ayat 56.
Tetapi masih perlu dipahami bahwa ayat ini tidaklah menuntut kepada manusia untuk senantiasa hanya melakukan shalat, berzikir maupun berpuasa tanpa mengerjakan hal-hal yang lain. Ibadah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ibadah dalam format yang umum.Yakni segala sesuatu mempunyai orientasi kepada Allah. Dengan kata lain, ibadah di sini adalah segala bentuk tindakan atau aktivitas manusia selagi itu diorientasikan pada tujuan akhir yaitu Allah. Termasuk dalam hal ini menjaga amanat rakyat, menjadi pemimpin yang adil, membela kepentingan rakyat, menjauhkan diri dari praktik korupsi dan lain-lain. Dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
Katakanlah: ”Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al -'Imran (3):26)
Adapun kutipan cerita yang menunjukkan Nasruddin membela rakyat sebagai berikut:
Bakhtiar diajak oleh Nasruddin Hoja berunding dengan empat mata saja. Azir itu disilahkannya duduk diatas kasur yang empuk, lalu dimulainya menerangkan dengan panjang lebar kepadanya tentang apa sebabnya tambahan pajak atas penghasilan tukang besi, tukang loyang dan tukan senjata harus dihapuskan secepat-cepatnya (Iskandar,1995:167).
97 Dan cerita selanjutnya bahwa Nasruddin akan membela rakyat sebagai berikut:
Selama aku masih hidup, selama hayat masih dikandung badan, aku akan tetap memperjuangkan nasib rakyat bokhara sekalian. Dimana jua pun aku tinggal dan bagaimana jua pun keadaanku! (Iskandar,1995:246).
Dari cerita diatas menerangkan bahwa Nasruddin membela rakyat dengan menghapuskan pajak agar rakyat tidak terbebani dengan pajak yang tinggi dan akan tetap membela rakyat bokhora selama masih hidup.
b)Tolong menolong
Manusia adalah makluk yang tidak dapat hidup sendiri. Ketika bayi manusia membutuhkan kasih sayang orang tua untuk merawatnya. Dalam islam diperintahkan agar umat manusia untuk saling membantu, tolong menolong dalam mengerjakan kabaikan/kebajikan dan ketaqwaan. Sebaliknya Allah melarang kita untuk saling menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran.seperti dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan tolong- menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”(Q.S. al Maidah ayat 2 ).
Adapun cerita Nasruddin yang menyangkut tolong menolong:
Tukang-tukang besi memasang tapak besi pada kuku-kuku kedua binatang itu, tukang-tukang pelana memberikan dua buah pelana yang mahal harganya. Sebuah dihiasi dengan brokat bagi Hoja Nasruddin dan sebuah lagi berlapiskan perak bagi Guljan. Golongan orang lepau menganugerahkan dua buah cerek teh dan buah cangkir porselen yang halus. Tukang senjata memberikan sebilah pendang yang terbuat dari waja Kurdis yang kenamaan, supaya Hoja Nasruddin dapat melawan penyamun di tengah jalan (Iskandar,1995:246-247).
98 Karena kepergian Nasruddin dan Guljan ketempat lain, karena merasa berterima kasih kepada Nasruddin teman-menan Nasruddin memberikan sesuatu yang ia punya sebagai cidera mata untuk perpisahan.
c) Silaturahim
Silaturahim artinya tali persaudaraan, sementara bersilaturahmi dapat berarti mengikat tali persaudaraan. Dalam tali persaudaraan sangat erat pula dengan tali kasih sayang. Dan dijelaskan sangat besar hikmah silaturahim dalam hadist berikut:
ْنَم بَحَا ْنَا َطَسْبُي ُهَل ىِف ِهِقْزِر َاَسْنُيَو ُهَل ىِف ِهِرَثَا لِصَيْلَف ُهَمِحَر
”Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dan diperpanjang usianya
maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”(H.R Bukhri 5986) (dalam al atsariyah.com diunduh pukul 20:42 tanggal 30 Maret 2016).
Adapun kutipan yang mengandung nilai silaturahim adalah:
“Sejahtera sekali kehidupan penduduk dusun ini, sementara penduduk kotaku sedang kekurangan pangan,“ kata Nasruddin.
“Kebetulan hari ini hari raya kami. Berbeda dengan hari-hari lain, di hari istimewa ini para penduduk sengaja membikin makanan yang enak-enak,“ kata salah seorang penduduk yang kebetulan mendengar ucapan Nasruddin.
Setelah berpikir sejenak Nasruddin berkata,“ kalau saja setiap hari adalah hari raya, tentu aku akan rajin ke sini”(Winardi,2012:79).
Kalimat yang mengandung nilai silaturahim adalah “ kalau saja setiap hari adalah hari raya, tentu aku akan rajin ke sini”.
d) Penyampaian dengan ma’ruf (Rifq)
Rifq (lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan serta selalu mangambil yang mudah). Dalam kisah Nabi Musa Allah berfirman :
ىَشْخَي ْوَأ ُر كَذَتَي ُه لَع ل اًنِّي ل ًلْوَق ُهَل َلوُقَف ىَغَط ُه نِإ َنْوَعْرِف ىَلِإ آَبَهْذا
Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah
malampaui batas maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang
lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut”(QS. Thoha : 43-44).
Dijelaskan pula bahwa berlaku lemah lembut agar tidak menjauhkan diri dari perintah Allah, dalam al-Qur’an sebagai berikut:
99 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159). Adapun teks yang mengandung nilai Rifq adalah:
“Nasruddin! Menurutmu, dimanakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu?“ Tanya Timur Lenk.
Bukan Nasruddin kalau tak dapat menjawab pertanyaan sepelik ini.
“Raja penakluk sepertii Paduka,“ jawab Nasruddin,“ insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah. Saya yakin paduka akan ditempatkan bersama Fir‘aun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.“
Timur Lenk benar-benar puas dan gembira mendengar jawaban itu.
Catatan: beberapa nama yang disebut Nasruddin adalah nama yang disebut dalam Alqur‘an sebagai penghuni neraka (Winardi,2012:102).
Dari teks diatas menunjukkan rifq adalah insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah. Saya yakin paduka akan ditempatkan bersama Fir‘aun dari Mesir, Raja Namrudz dari Babilon, Kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan“.
e)Bohong demi kebaikan
Pada dasarnya, berbohong itu termasuk salah satu dosa besar. Sebagaimana sudah teruraikan di dalam Al-Qu'ran dan Hadis.Namun, ada bohong yang dibolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Yaitu berbohong demi kebaikan.Berbohong untuk memperjuangkan agama Allah Swt.
Dalam Hadis Riwat Imam Bukhari, dari Abu Hurairah r.a. Bahwa Nabi Ibrahim pernah berbohong (Bohong demi kebaikan).
Yang Pertama, Ketika beliau mengatakan "sesungguhnya aku sakit."Ketika beliau hendak mengatur siasat untuk menghancurkan patung berhala milik bapaknya dan kaumnya. Diterangkan dalam al-Qur’an surat ashafat ayat 83-89 sebagai berikut:
100 "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?" Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya aku sakit." Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: "Apakah kamu tidak makan. Kenapa kamu tidak menjawab?" Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). (QS Ash-Shaaffaat [37] : 83-89)
Yang Kedua, Ketika beliau mengatakan "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya."Padahal beliau sendiri yang melakukannya. Yang diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 57-63 diterangkan sebagai berikut:
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim." Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan." Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya
101 patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (QS Al-Anbiya' [21] : 57-63).
Juga dibolehkan untuk berbohong dengan tujuan menakut-nakuti musuh ketika berperang, dan berbohong untuk memuji istri/suami agar hubungan tetap langgeng. “Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsah (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya“. (HR Muslim) diunduh pada pada alamat website http://nopandraadipratama.blogspot.co.id/2012/10/berbohong-demi-kebaikan.html pada waktu 5 maret 2016 pukul 10:38).
Jadi, jelaslah contoh yang diajarkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya bagaimana bohong demi kebaikan.Bohong demi kebaikan hanya semata-mata untuk mencari keridhoan Allah Swt. Dan juga untukmemperjuangkan Agama-Nya.
Adapun yang mengandung nilai bohong dalam kebaikan adalah:
“Jangan perlihatkan barang ini kepada madumu, karena ini tanda cintaku padamu,” pesan Nasruddin baik kepada istri tua maupun istri mudanya.
Pada suatu hari, keduanya melabrak Nasruddin dan bertanya,”Siapa sebenarnya di antara kami yang lebih kau cintai?”
“Aku mencintai yang memakai kalung mutiara warna biru,” jawab Nasruddin. Keduanya berlalu dengan keyakinan masing-masing bahwa dirinya yang lebih dicintai oleh suami mereka(Winardi,2012:173-174).
Yang menunjukkan bohong dalam kebaikan adalah “Aku mencintai yang memakai kalung mutiara warna biru,”.
f) Dermawan
Dermawan diartikan sebagai pemurah hati atau orang yang suka berderma (beramal dan bersedekah), sedangkan menurut istilah dermawan bisa diartikan memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang
102 membutuhkan dengan senang hati tanpa keterpaksaan dan ikhlas (tanpa adanya imbalan).
Allah sudah berjanji apabila seseorang dermawan, maka Allah SWT akan menggantinya, seperti firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an :
ُرْيَخ َوُهَو ُهُفِلْخَي َوُهَف ٍءْيَش ْنِّم ْمُتْقَفْنَاآَمَو َنْيِقِزا رلا
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya
dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”(Q.S Saba’ : 39)
Oleh karena itu bisa kita pahami bahwa agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk memiliki kepedulian terhadap sesama( bersikap dermawan ) terutama kepada orang sedang membutuhkan bantuan.
Adapun teks yang menunjukkan nilai kedermawanan adalah:
“Hai, diam-diam,” katanya kepada bagalnya, yang melihat dia membuka pundi-pundi yang lekat akan pelananya.”Ini hai orang tua beruban yang mulia, uang dua ratus lima puluh dinar perak. Berikan kepada si pemakan ribaitu, usir dia dengan cemeti dari rumah tuan dan tinggallah disitu bersenang-senang sampai ajal tuan”(Iskandar,1995:45).
Adapun menunjukkan kedermawanan adalah uang Nasruddin diberikan kepada orang tua untuk membayar hutangnya.
g)Menghibur
Menghibur adalah membuat seorang riang gembira, tersenyum ataupun tertawa. Dalam menghibur dapat meringankan beban masalah seorang. Dalam hadis Rasulullahpun bernah percanda dan menghibur sahabatnya.
Dan sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, dia berkata: ”Rasulullah SAW pernah berkunjung ketempat kami, sementara kami mempunyai adik yang bergelar Abu Umair. Ia (Abu Umair) mempunyai kesenangan (hobi) bermain dengan burung. Suatu ketika burung tersebut mati hingga membuat perasaannya menjadi sedih. Rasulullah masuk dan berkata (kepada
103 keluargaku):’mengapa ia bersedih?’ Mereka menjawab:’(Karena) burungnya mati’. Maka beliau SAW berkata, (menghibur):
؟ُرْيَغنلا َلَعَف َما ٍر َم ْي ُع َابَا اَي
‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh si burung kecil?’(HR. Imam Bokhori, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dengan teks redaksi Hadits berasal dari Abu Dawud dalam Abdul Fattah Abu Ghuddah; 2009:178-179)
Adapun teks mengandung hiburan sebagai berikut:
Suatu saat Nasruddin melihat seorang narapidana dengan kedua tangan dibelenggu rantai panjang. Narapidana itu tampak sangat sedih.
Nasruddin mendekatinya dan berkata,” Mengapa kau tampak sedih, sahabat? Bukankah bila rantai ini lepas dari kedua tanganmu, kau bisa menjualnya dengan harga mahal? Dan dengan memakai bukanlah kau beruntung.”
Narapidana itu tersenyum mendengar kata-kata Nasruddin (Winardi,2012:140). Teks yang mengandung hiburan adalah ” Mengapa kau tampak sedih, sahabat? Bukankah bila rantai ini lepas dari kedua tanganmu, kau bisa menjualnya dengan harga mahal? Dan dengan memakai bukanlah kau beruntung”.
h) Berbakti
Menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada orang tua adalah sesatu bernilai kebaikan dan hal tersebut menunjukkan akan ta’dzim dan kasih sayang kepada sesama manusia. Dalam cerita berikut menunjukkan berbakti sebagai berikut :
“Ya, pak Nias yang mulia,” kata orang yang tertua diantara ketiganya. “Anak bapa perempuan telah pergi menurutkan Hoja Nasruddin, bukan? Tentu bapa takkan bersungut-sungut dan berkeluh kesah, sebab demikian undang-undang abadi di bumi ini. Kuda betina tiada dapat hidup tiada dengan kuda jantan, ya, perempuan pun harus hidup bersama-sama dengan suaminya. Akan tetapi, karena bapa telah tua dan supaya hari tua bapa itu tidak terlalu sunyi, kami bertiga beradik semuanya telah sepakat akan bermohon kepada bapa demikian, Barangsiapa berkaum dengan Hoja nasruddin niscaya berkaum jua dengan anak negeri Bokhara. Oleh sebab itu, mulai hari ini, ya, pak Nias, bapa telah berkaum dengan kami ini. Sejak itu rumah kami telah kosong, yaitu bagian yang didiami almarhum ayah kami dulu itu. Sekarang kami berharap dengan sesungguhnya,
104 agar supaya bapa sudi tinggal bersama-sama dengan kami sebagai ayah kandung kami itu”(Iskandar,1995:250).
Dalam cerita diatas menunjukkan bahwa tiga anak muda yang ingin merawat pak Nias yang hidup sendiri.
i) Memberi salam
Dalam islam mengucapkan salam, “Assalamualaikum,” berarti mendo’akan
kebaikan dan kesejahteraan baginya.
Adapun cerita Nasruddin yang menunjukkan mengucap salam adalah:
Mula-mula ada seorang lelaki tua melewati Nasruddin, Karena Nasruddin terkejut mengapa tempat tinggalnya dulu menjdi rata dengan tanah. Maka Nasruddin bertanya:
“Assamualaikum , ya, Orang tua! Moga-moga Allah memberi kesehatan dan kesejahteraan kepada Tuan beberapa tahun lagi, serta menganugerahi tuan segala macam harta benda dunia”(Iskandar,1995:24).
Kutipan cerita diatas menunjukkan bahwa ketika kita bertemu dengan orang lain maka kita dianjurkan mengucap salam. Dan dalam islam bahwa mengucap salam hukumnya sunnah namun wajib untuk menjawab salam.
Dalam surat an-Nisa' Ayat 86 menjelaskan sebagai berikut:
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu“. b. Akhlak Madzmumah
Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.
105 Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Barang siapa menghina salah satu dari sahabatku berarti dia telah mengikatkan tali peperangan denganku”.
Dari keterangan tersebut bahwa Rasulullah akan mengikatkan tali peperangan apabila ada yang menghina salah satu sahabat. Jadi dari hadist tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kita sangat dilarang untuk menghina atau meremehkan orang, orang yang melakukannya di ibaratkan melakukan permusuhan dengan nabi.Oleh karena itu, seharusnya kita senantiasa menghormati dan memuliakan seluruh tingkatan rakyat sesuai dengan keberadaan mereka, khususnya dari keturunan mulia; ahli ilmu, ahli fadhilah dan pemilik sifat wara’ dan takwa.
Hadis Nabi riwayat dari Anas Ra adalah “Perbanyaklah olehmu sekalian kenalan orang-orang beriman, karena bagi setiap orang yang beriman itu ada syafaat (kemampuan memberi pertolongan) di sisi Allah pada hari kiamat”(M Nawawi,1996:77).
Adapun teks yang mengandung akhlak madzmumah adalah:
Setelah bercakap-cakap cukup lama, si ulama yakin bahwa Nasruddin tidak lebih pintar darinya. Ilmunya sejajar dengannya.
“Saya rasa Anda tidak lebih pintar dari saya. Mungkin kita sama. Jadi maaf saya tidak memerlukan Anda untuk menceramahi mereka,” kata ulama itu.
“ Apa pikir ada perbedaan besar antara kita,” tangkis Nasruddin. “Aku kesini berjalan kaki, menempuh jarak selama tiga hari dengan susah payah. Kalau Anda sudah mengalami kesulitan seperti yang aku alami, dan memberiku ganti rugi yang setimpal, baru kita dapat katakan setaraf”(Winardi,2012:151).
Adapun nulai yang menunjukkan meremehkan orang adalah “Saya rasa Anda tidak lebih pintar dari saya. Mungkin kita sama. Jadi maaf saya tidak memerlukan Anda untuk menceramahi mereka,” kata ulama itu.
2) Larangan memubazirkan makanan
Mubbazir adalah suatu yang bersifat berlebih-lebihan atau pemborosan, yang menjadikan sesuatu tersebut sia-sia karena tidak berguna.
106 Seperti dalam Q.S Al-Isra ayat 26-27:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.
(QS.Al-Israa’ : 26-27).
Adapun teks yang menunjukkan mubadzir adalah:
Nasruddin beristirahat sejenak lalu mengambil semangka bekalnya, tetapi ternyata semangka yang dia bawa masih mentah. Nasruddin kecewa dan membuang semua semangkanya.“Semangka mentah ini rasanya tidak enak,“ gumam Nasruddin.
Tengah hari, ketika udara sangat panas, Nasruddin merasa kehausan. Di gunung tidak ada sumber air. Karena kehabisan bekal dia teringat akan sisa-sisa semangka yang dia buang. Meski sudah bercampur kotoran, dia mengambilnya kembali sepotong demi sepotong.
“Ah, semangka mentah ternyata rasanya enak,“ kata Nasruddin sambil memakannya sampai habis(Winardi,2012:77).
Adapun yang menunjukkan kemubadziran adalah Nasruddin kecewa dan membuang semua semangkanya.“Semangka mentah ini rasanya tidak enak,“ gumam Nasruddin 3) Larangan sombong
Sombong yaitu menganggap dirinya lebih dari yang lain sehingga ia berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa lebih besar, labih kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia, dan lebih beruntung dari yang lain. Maka biasanya orang seperti itu memandang orang lain lebih buruk, lebih rendah dan tidak mau mengakui kelebihan orang tersebut, sebab tindakan itu menurutnya sama dengan merendahkan dan menghinakan dirinya sendiri (Yatim Abdullah,2007:66).
Al-Ghazali menyebutkan kesombongan itu banyak macamnya. Berdasarkan terhadap apa kesombongan itu ditujukan, maka terdapat tiga macam, yakni sombong terhadap Allah, sombong terhadap para Nabi dan sombong terhadap orang lain (Yatim Abdullah,2007:15).
107 Adapun ayat Al-qur’an yang menjelaskan sifat sombong adalah sebagai berikut:
Artinya: adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah. (Q.S. An-Nisa’: 173).
Teks yang menunjukkan kesombongan adalah:
Nasrudin mendengar ada seorang anak muda yang mengaku tidak bisa ditipu oleh siapapun. Suatu hari Nasrudin bertemu denganya di sebuah perempatan “ Tunggu aku disini. Sebentar lagi akan aku perlihatkan bagaimana aku bisa menipumu,” kata Nasruddin,sambil beranjak pergi meninggalkanya.
“baik, kita buktikan saja,” jawab anak muda itu. Setelah menunggu selama beberapa jam, Nasrudin belum tampak batang hidungnya, dan akhirnya dia menjadi jenuh. Seorang kawannya kebetulan lewat, dan bertanya dengan heran,
“mengapa engkau berdiri disini?”(Winardi,2012:24). Dalam cerita lain tentang Nasruddin sebagai berikut:
“Akan tetapi, engkau tentu maklum .” ujar orang kaya dengan lugas dan
sombong.” Ya engkau sendiri maklum, bahwa engkau tidak patut menunggang
kuda yang serupa itu, sebab bajumu compang camping. Malah amat berbahaya bagimu , karena tiap-tiap orang akan bertanya-tanya, darimana orang meminta-minta itu beroleh kuda yang seindah itu? Dengan mudah engkau diseret ke dalam penjara”(Iskandar,1995:29).
Adapun yang menunjukkan sombong adalah ketika mau ditipu Nasruddin sang mepuda menantang, “Buktikanlah” dan seorang kaya yang merendahkan orang berpakaian jelek menunggang kuda bagus.
4) Larangan menginkari janji
Setiap manusia selama hidupnya pasti pernah membuat janji dengan manusia lainnya. Masalahnya adalah adanya sebagian orang yang mudah membuat janji -karena mengganggapnya perkara remeh-, lalu setelah berjanji ia tidak menepatinya tanpa alasan (udzur) dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
108 Padahal mengingkari janji merupakan kezaliman terhadap orang lain.
Berjanji adalah suatu perkara yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ِدوُقُعْلاِبْاوُفْوَأْاوُنَمآَنيِذ لااَه يَأاَي
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu”.
(QS. Al Maidah : 1).
ًلوُؤْسَمَناَكَدْهَعْلا نِإِدْهَعْلاِبْاوُفْوَأَو
“…dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungjawabnya”. (QS. Al Israa’ : 34).
Kutipan cerita yang mengandung nilai ingkar janji adalah:
Setelah diukur segalanya tukang jahit berkata, “Kembalillah kesini seminggu lagi, dan Insya Allah, bajumu sudah akan selesai dijahit.”
Terpaksa Nasruddin harus menahan diri selamasatu minggu untuk kemudian kembali ke tukang jahit.
“Maaf, bajumu belum selesai. Tapi Insya Alla, besuk sudah jadi.”
Keesokan harinya, Nasruddin datang lagi.”sekali lagi maaf,” kata si tukang jahit, “ sedikit lagi selesai. Cobalah besok datang lagi, Insya Allah, bajumu betul-betul sudah rampung.”
“berapa lama sih waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan bajuku?” Tanya Nasruddin jengkel, “Seandainya Allah tidak turut campur dalam urusan ini?” (Winardi,2012:30).
Adapun yang menunjukkan ingkar janji adalah perkataan menyelesaikan jahitannya seminggu lagi namun si penjahit tidak memenuhinya.
5) Larangan pelit
Kikir dalam bahasa Arab disebut sebagai bakhil dan menurut istilah berarti sifat seseorang yang amat tercela dan hina, tidak hendak mengeluarkan harta yang