BAB III PRINSIP-PRINSIP TAFSIR AL-SYA< T{ IBI<
A. Asumsi dan Pra-anggapan tentang al-Qur ` an
3. Al-Qur ` an Diturunkan kepada Bangsa Arab yang Ummi>
Status al-Qur`an sebagai sebuah kitab yang diturunkan kepada seorang
rasul yang ummi> dan di tengah-tengah bangsa Arab yang juga ummi> ditegaskan sendiri oleh al-Qur`an dalam ayat-ayat, “…maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Nya, [yaitu] Nabi yang ummi>, yang beriman kepada Allah dan kepada
kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat
petunjuk.” (al-A‘ra>f [7]: 158) serta “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada
kaum yang ummi> dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada
78
Contoh-contoh ini terdapat dalam al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 78-82; dan vol. 3, hlm. 282-284.
79
mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan [jiwa] mereka, dan mengajarkan kepada
mereka kitab dan hikmah….” (al-Jumu‘ah [62]: 2).80
Tetapi apa yang sesungguhnya dimaksud dengan kata “ummi>” dan bagaimana terma itu didefinisikan? Menurut al-Sya>t}ibi>, terma “ummi>” adalah nisbat kepada kata “umm” yang bermakna “ibu”. Dengan demikian, “ummi>”
menunjuk kepada kondisi asal manusia ketika dilahirkan oleh ibunya (‘ala> as}l
wila>dah al-umm), sebuah kondisi ketika ia belum mempelajari apa-apa. Ketika
mengulas hadits Rasulullah saw. yang berbunyi “bu‘itstu ila> ummah
ummiyyah”,81 al-Sya>t}ibi> menyatakan bahwa kata “ummiyyah” dalam hadits
tersebut memiliki arti bahwa bangsa Arab saat itu tidak mengetahui ilmu-ilmu para umat terdahulu (‘ulu>m al-aqdami>n). Makna kata “ummi>” itu kemudian diperjelas oleh hadits Rasulullah saw. yang lain, “nah}nu ummah ummiyyah, la>
nah}sub wa la> naktub….”,82 yang memperlihatkan bahwa makna “ummi>” adalah
“tidak berhitung dan tidak menulis”. Makna ini juga didukung oleh sebuah pernyataan dalam al-Qur`an, “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca
sesuatu kitab sebelum [al-Qur`an] dan engkau tidak pernah menulis suatu kitab
dengan tangan kananmu; sekiranya [engkau pernah membaca dan menulis],
niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (al-‘Ankabu>t [29]: 48).83
Al-Sya>t}ibi> menganggap penting kenyataan bahwa al-Qur`an diturunkan
kepada seorang nabi yang ummi> dan di tengah-tengah bangsa Arab yang juga
ummi>. Baginya, prinsip itu juga mencakup pengertian bahwa al-Qur`an
diturunkan sesuai dengan apa yang diketahui bangsa Arab (‘ala> ma‘hu>d al-‘arab) saat itu, sebab jika tidak demikian, maka al-Qur`an tidak akan dikenal dan
80
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 53. 81
Hadits ini diriwayatkan dengan redaksi “ursiltu ila> ummah ummiyyah….” oleh Ah}mad dalam Musnad-nya, bab Ba>qi> Musnad al-Ans}a>r, nomer 22308 dan 22350; keduanya melalui jalur periwayatan H{udzayfah ibn al-Yama>n.
82
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dalam S}ah}ih}-nya, Kita>b al-S}awm, nomer 1780; Muslim dalam S}ah}ih}-nya, Kita>b al-S}iya>m, nomer 1806; al-Nasa>`i> dalam Sunan-nya, Kita>b al-S}iya>m, nomer 2111 dan 2112; Abu> Da>wu>d dalam Sunan-nya, Kita>b al-S}awm, nomer 1975; serta Ah}mad dalam Musnad-nya, bab Musnad al-Muktsiri>n min al-S}ah}a>bah, nomer 4775, 4891, dan 5855; seluruhnya melalui jalur periwayatan ‘Abdulla>h ibn ‘Umar.
83
dipahami serta sama sekali tidak akan menjadi mukjizat bagi orang-orang Arab tersebut. Karena itu, al-Qur`an dalam pandangan al-Sya>t}ibi> tidak akan
menyinggung persoalan apa pun yang sama sekali tidak dikenal oleh bangsa Arab saat ia diturunkan.84 Untuk mendukung argumentasi di atas, al-Sya>t}ibi> merasa perlu mendaftar beberapa pengetahuan yang telah dikenal oleh bangsa Arab saat
itu serta bahwa al-Qur`an menyikapinya dengan membenarkan dan
menambahkan apa yang benar, membatalkan apa yang salah, serta menjelaskan apa yang mendatangkan manfaat dan apa yang mendatangkan bahaya. Daftar itu tersusun sebagai berikut.
Pertama, bangsa Arab telah mengenal ilmu perbintangan yang mereka
gunakan untuk memberi petunjuk arah dalam perjalanan di darat dan di laut serta untuk menentukan waktu dan perjalanan hari. Al-Qur`an mengakui hal ini dalam
ayat-ayat: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah [petunjuk] waktu bagi manusia dan [ibadah] haji’….”
(al-Baqarah [2]: 189), “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu,
agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut….” (al-
An‘a>m [6]: 97), “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui
bilangan tahun, dan perhitungan [waktu]….” (Yu>nus [10]: 5), “…Dan dengan
bintang-bintang mereka mendapatkan petunjuk.” (al-Nah}l [16]: 16), “Dan telah
Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga, [setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir], kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat
mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Ya>si>n [36]: 39-
40), dan sebagainya.85
Kedua, bangsa Arab juga telah mengenal ilmu pengetahuan alam dalam
bentuknya yang sederhana, seperti tentang memperhitungkan waktu hujan serta pergerakan angin dan awan. Karena itu, banyak ayat-ayat al-Qur`an yang
84
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 54. 85
bersinggungan dengan persoalan tersebut, seperti, “Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan
mendung. Dan guruh bertasbih memuji-Nya….” (al-Ra‘d [13]: 12-13), “Dan
Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan [air] itu, dan bukanlah kamu yang
menyimpannya.” (al-H{ijr [15]: 22), “Dan Allahlah yang mengirimkan angin; lalu
[angin itu] menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati
(kering). Seperti itulah kebangkitan [terjadi].” (Fa>t}ir [35]: 9), “Pernahkah kamu
memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari
awan ataukah Kami yang menurunkan?” (al-Wa>qi‘ah [56]: 68-69), “Dan Kami
turunkan, dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya.” (al-Naba` [78]:
14), dan sebagainya.86
Ketiga, bangsa Arab juga telah mengenal ilmu sejarah dan kisah bangsa-
bangsa terdahulu. Al-Qur`an pun mencurahkan perhatiannya untuk menceritakan
kisah-kisah tersebut. Sebagian besar kisah-kisah yang tercantum dalam al-Qur`an
memang tidak dikenal oleh bangsa Arab saat itu, seperti pernyataan al-Qur`an
sendiri, “Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka [untuk mengundi] siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka
bertengkar.” (A<l ‘Imra>n [3]: 44) atau “Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang
Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya
dan tidak [pula] kaummu sebelum ini….” (Hu>d [11]: 49). Meski demikian,
model pengisahan dalam al-Qur`an tersebut, menurut al-Sya>t}ibi>, tidak berada di
luar apa yang dikenal oleh bangsa Arab (min jins ma> ka>nu> yantah}ilu>n). Karena itu, tidak benar jika dinyatakan bahwa al-Qur`an mengisahkan sesuatu yang
bertentangan dengan status ke-ummi>-an bangsa Arab.87
86
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 55. 87
Keempat, salah satu pencapaian intelektual tertinggi bangsa Arab terletak di bidang retorika (bala>gah), fas}ah}ah, dan stilistika (as>ali>b al-kala>m). Maka al- Qur`an pun mendatangkan sesuatu yang melebihi pencapaian mereka itu. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang serupa [dengan] al-Qur`an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain’.” (al-Isra>`
[17]: 88). Bangsa Arab juga terkenal dengan kemampuan menciptakan perumpamaan dan metafor (d}arb al-amtsa>l). Al-Qur`an pun mendatangkan hal
yang sama, sebagaimana terungkap dalam ayat, “Dan sesungguhnya telah Kami
jelaskan kepada manusia dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan….”
(al-Ru>m [30]: 58). Tetapi, menurut al-Sya>t}ibi>, tidak semua matsal tercantum dalam al-Qur`an. Al-Qur`an sama sekali tidak mengandung syi‘r berdasarkan
ayat-ayat, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan
bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran
dan kitab yang jelas.” (Ya>si>n [36]: 69), “Dan mereka berkata, ‘Apakah kami
harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?’. Padahal dia (Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul
[sebelumnya].” (al-S}a>ffa>t [37]: 36-37), serta “Dan penyair-penyair itu diikuti
oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak
mereka kerjakan?” (al-Syu‘ara>` [26]: 224-226).88
Tidak cukup dengan itu, al-Sya>t}ibi> juga menegaskan bahwa ketika hukum-hukum syariat dalam al-Qur`an ditetapkan secara bertahap dan berangsur-
angsur, itu merupakan bukti bahwa al-Qur`an tidak mengajarkan sesuatu yang
sama sekali tidak dikenal oleh bangsa Arab.89 Penjelasannya adalah sebagai berikut.
88
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 57-58. 89
Dalam pernyataan al-Sya>t}ibi> sendiri, “al-syari>‘ah ummiyyah lam takhruj ‘amma> alifathu al-‘arab”. Lihat al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 60.
Al-Sya>t}ibi> mengembalikan seluruh ajaran Islam kepada konsep maka>rim
al-akhla>q. Konsep ini dibaginya lagi menjadi dua: pertama, konsep-konsep akhlak
yang akrab (ma`lu>f) dan bisa diterima oleh akal sehat; dan kedua, konsep-konsep akhlak yang abstrak, yang pada mulanya sulit dipahami secara rasional (ma> la>
yu‘qal ma‘na>hu min awwal wihlah).90 Al-Qur`an terlebih dahulu mengenalkan
dan mengajarkan konsep-konsep akhlak pada kategori pertama, sesuatu yang bangsa Arab tidak merasa asing dengannya. Konsep-konsep tersebut banyak termuat dalam ayat-ayat makkiyyah, seperti “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (al-Nah}l [16]: 90),
“Katakanlah [Muhammad], ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar’….”
(al-An‘a>m [6]: 151), atau “Katakanlah [Muhammad], ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba- Nya dan rezeki yang baik-baik?’...Katakanlah [Muhammad], ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan [melarang] kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan [melarang] kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak
kamu ketahui’.” (al-A‘ra>f [7]: 32-33).91 Konsep-konsep akhlak pada kategori
kedua, yang abstrak dan sulit dipahami, baru dijelaskan belakangan oleh al- Qur`an dengan didasarkan pada konsep-konsep akhlak pada kategori pertama.92
90
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 59. 91
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 58. 92
Bahkan konsep tauhid pun diajarkan oleh al-Qur`an melalui fenomena-
fenomena alam yang mereka kenal, seperti langit, bumi, gunung, awan, dan tumbuh-tumbuhan.93 Demikian pula deskripsi al-Qur`an tentang kenikmatan
yang diperoleh kaum mukminin di surga nanti—al-Qur`an hanya menyebut air,
susu, madu, khamr, kurma (nakhi>l), anggur (a‘na>b), dan tidak menyebut buah kenari (jawz), badam (lawz), apel (tuffa>h}), serta pir (kummatsra>) yang tidak dikenal oleh bangsa Arab saat itu.94
Prinsip tentang ajaran-ajaran al-Qur`an yang bersifat ummi>itu juga
membawa implikasi-implikasi berikut. Pertama, anggapan bahwa al-Qur`an
mengandung segala bentuk ilmu pengetahuan adalah anggapan yang tidak berdasar dan melampaui batas. Al-Sya>t}ibi> berargumen bahwa ilmu-ilmu seperti matematika, fisika, logika, dan lain sebagainya tidak pernah dikenal oleh generasi al-salaf al-s}a>lih}—yakni para sahabat, ta>bi‘i>n, dan generasi setelah mereka, padahal generasi tersebut adalah orang-orang yang paling mengetahui kandungan al-Qur`an. Itu menunjukkan bahwa al-Qur`an memang tidak
diturunkan untuk menjelaskan seluruh ilmu pengetahuan. Terhadap orang yang menggunakan ayat “ma> farrat}na> fi> al-kita>b min syay`” (al-An‘a>m [6]: 38) sebagai argumen, al-Sya>t}ibi> menyatakan bahwa segala sesuatu yang tercakup dalam al-
kita>b itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan ibadah dan ajaran-ajaran agama
(al-takli>f wa al-ta‘abbud), atau bahwa al-kita>b yang dimaksud dalam ayat di atas
adalah al-lawh} al-mah}fu>z}. Dengan demikian, ilmu-ilmu yang bisa kita gunakan untuk membantu memahami al-Qur`an, menurut al-Sya>t}ibi>, hanyalah ilmu-ilmu
yang disandarkan kepada bangsa Arab semata (ma> yud}a>f ‘ilmuhu> ila> al-‘arab
kha>s}s}ah) yang sebagiannya telah dikemukakan di atas. Siapa pun yang mencoba
memahami al-Qur`an melalui hal-hal di luar itu, tulis al-Sya>t}ibi>, “telah
menyimpang dari pemahaman [yang benar] terhadapnya dan telah mengada-ada
(taqawwala) kepada Allah dan Rasul-Nya”.95
93
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 58. 94
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 60. 95
Kedua, penafsiran al-Qur`an hanya boleh dilakukan dalam batas-batas
pengetahuan dan tradisi kebahasaan bangsa Arab yang ummi>. Jika bangsa Arab memiliki tradisi yang berkelanjutan (‘urf mustamirr) dalam penggunaan bahasa mereka, maka pemahaman atas syariat Islam tidak boleh menyimpang dari tradisi tersebut. Jika bangsa Arab tidak memiliki tradisi tertentu dalam hal itu, maka tidak sah pemahaman apa pun yang tidak didasarkan pada apa yang mereka ketahui.96 Al-Sya>t}ibi> menyatakan,
“Setiap orang yang berbicara tentang kita>bulla>h atau Sunnah Rasulullah tidak boleh memaksakan [pemahaman] di luar apa yang mungkin dikandung oleh bahasa Arab. Dia harus memusatkan perhatiannya kepada apa yang biasanya diperhatikan oleh bangsa Arab. Dan dia juga harus berhenti pada batas yang ditetapkan oleh bangsa Arab tersebut.”97
Ketiga, al-Qur`an harus dipandang sebagai sebuah kitab yang makna-
maknanya dapat dipahami oleh semua orang Arab. Artinya, pemahaman terhadapnya harus dilakukan dalam kadar kebersamaan mayoritas (‘ala> wiza>n al-
isytira>k al-jumhu>ri>). Itulah hikmah di balik diturunkannya al-Qur`an dengan
“tujuh huruf” sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang mengisahkan dialog antara Rasulullah saw. dan malaikat Jibril. Dalam hadits tersebut, dikisahkan bahwa,
“Suatu hari, Rasulullah bertemu Jibril. Beliau pun mengadu, ‘Wahai Jibril, aku diutus kepada bangsa yang ummi>. Di antara mereka, terdapat orang yang lemah, orang yang lanjut usia, lelaki dan wanita, serta orang yang sama sekali belum pernah membaca kitab apa pun.’ Mendengar itu, Jibril menjawab, ‘Sungguh, al-Qur`an diturunkan dengan tujuh huruf’.”98
Tidak jelas benar sebetulnya apa yang dimaksud oleh al-Sya>t}ibi> tentang
wiza>n al-isytira>k al-jumhu>ri> di atas. Tetapi, pada bagian lain dari al-Muwa>faqa>t,
al-Sya>t}ibi> menulis bahwa ada dua cara dalam mendefinisikan sesuatu: cara
96
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 62. 97
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 64. 98
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi> dalam Sunan-nya, Kita>b al-Qira>`a>t ‘ala> Rasu>lilla>h, nomer 2868, melalui jalur periwayatan Ubayy ibn Ka‘b. Selain itu, ia juga diriwayatkan oleh Ah}mad dengan redaksi yang sedikit berbeda. Lihat catatan kaki nomer 80 di atas. Bandingkan dengan al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 2, hlm. 65-66.
taqri>bi> yang sesuai dengan pemahaman orang kebanyakan (jumhu>r) serta cara teknis yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka.99 Kedua cara ini bisa digunakan untuk mendefinisikan, misalnya, malaikat. Mendefinisikan malaikat dengan cara pertama akan menghasilkan pengertian bahwa malaikat adalah “salah satu makhluk Allah yang selalu mematuhi perintah-Nya”.100 Sebaliknya, cara kedua akan menghasilkan definisi malaikat sebagai “esensi yang sama sekali terlepas dari materi” (ma>hiyah mujarradah ‘an al-ma>ddah as}lan) atau “substansi sederhana yang berbatas dan memiliki [kemampuan untuk] berbicara secara rasional” (jawhar basi>t} dzu> niha>yah wa nut}q ‘aqli>).101 Cara pertama lebih dekat kepada pemahaman manusia dan lebih sesuai untuk digunakan dalam memahami konsep-konsep al-Qur`an. Sementara cara kedua tidak lazim digunakan dalam
menjelaskan ajaran-ajaran agama karena ia membuat pemahaman menjadi sulit.102 Dari penjelasan tersebut, layak diduga bahwa konsep wiza>n al-isytira>k
al-jumhu>ri> yang dikemukakan al-Sya>t}ibi> mengandung arti sesuatu yang bisa
diterima oleh orang kebanyakan tanpa kesulitan berarti. Tampaknya, konsepsi ini diajukan al-Sya>t}ibi> untuk menentang pendapat bahwa ada makna-makna tertentu dari al-Qur`an yang secara khusus ditujukan kepada sekelompok orang dan tidak
kepada kelompok yang lain.
Keempat, dalam pemahaman terhadap al-Qur`an, perhatian kepada makna
harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada lafaz. Alasannya, menurut al- Sya>t}ibi>, karena fokus perhatian bangsa Arab dalam berbahasa adalah makna, bukan lafaz. Makna adalah tujuan, sementara lafaz hanya sarana (wasi>lah) untuk menghasilkan makna yang dikehendaki (tah}s}i>l al-ma‘na> al-mura>d). Dan bukan
99
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 1, hlm. 38. 100
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 1, hlm. 38. 101
Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 1, hlm. 39. 102
Dalam hal inilah al-Sya>t}ibi> menolak pendekatan ilmu filsafat —sebuah ilmu yang disebutnya sebagai “tidak dikenal oleh bangsa Arab serta tidak sesuai dengan kondisi ke-ummi>-an mereka”— dalam memahami al-Qur`an. Kalaupun filsafat boleh dipelajari, maka ilmu yang sulit dipahami itu tidak layak digunakan untuk “memahami ayat-ayat Allah dan dalil-dalil tauhid yang diperuntukkan bagi bangsa Arab yang ummi>”. Lihat al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. 1, hlm. 38- 39.
sekedar makna, yang harus dituju adalah makna sintaksis (al-ma‘na> al-tarki>bi>) sebagai lawan dari makna parsial (al-ma‘na> al-ifra>di>).103 Pembedaan dua kategori makna tersebut, berikut contoh-contohnya, telah diuraikan pada bagian sebelum ini. Tetapi perlu diperhatikan bahwa, dengan mengajukan konsepsi di atas, al- Sya>t}ibi> sebetulnya ingin menolak tafsir yang berasyik-masyuk dengan perincian makna dan rahasia linguistik pada tingkat lafaz—sesuatu yang dianggapnya membuat makna al-Qur`an “menjadi tidak jelas (tastabhim) bagi para
pengkajinya serta menjadi sulit dimengerti (tasta‘jim) bagi orang-orang yang tidak memahami kaidah-kaidah bahasa Arab.”104 Dalam bagian lain dari al-
Muwa>faqa>t, al-Sya>t}ibi> menyatakan,
“Setiap orang yang berakal pasti mengetahui bahwa maksud dari khit}a>b
[al-Qur`an] bukanlah pemahaman terhadap ungkapannya (‘iba>rah),
melainkan pemahaman atas makna (al-mu‘abbar bihi>) serta maksud (al-
mura>d) di balik ungkapan tersebut…Tidak benar jika [mereka
berargumen] bahwa kemampuan memahami lafaz dan ungkapan linguistik [al-Qur`an] merupakan sarana untuk memahami maknanya…Argumen
tersebut kita akui kebenarannya secara mutlak. Bagaimana tidak? Bukankah dengan bahasa Arab itulah kita bisa memahami apa yang dikehendaki Allah dalam kitab-Nya? Yang kita tolak adalah [analisa linguistik] yang melebihi batas dan berlebihan…karena tidak ada bukti bahwa bangsa Arab melakukan hal seperti itu, dan tidak pernah tercatat bahwa generasi terdahulu dari umat Islam menyibukkan diri mereka untuk memahami [al-Qur`an] dengan cara tersebut.”105
Uraian-uraian di atas memperlihatkan bahwa status ke-ummi>-an ajaran- ajaran al-Qur`an adalah sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar dalam
pemikiran al-Sya>t}ibi>. Prinsip ini, sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, belakangan kerap dijadikan argumen untuk menentang tafsir saintifik
(al-tafsi>r al-‘ilmi>) terhadap al-Qur`an.106 Tetapi prinsip tersebut juga menuai
kritik, terutama karena ia bisa dibawa ke titik ekstrem untuk menyatakan bahwa