BAB II AL-SYA< T{ IBI< : PEMIKIR MUSLIM KONTROVERSIAL
A. Biografi, Profil Intelektual, dan Karya-karya al-Sya> t} ibi>
Al-Sya>t}ibi> adalah pemikir muslim abad ke-8 H./14 M. dari Andalusia, sebuah wilayah di semenanjung Iberia yang saat ini merupakan bagian dari negara Spanyol dan Portugal.1 Nama lengkapnya adalah Abu> Ish}a>q Ibra>hi>m ibn Mu>sa> ibn Muh}ammad al-Lakhmi> al-Garna>t}i> al-Sya>t}ibi>.2 Berdasarkan namanya itu, para sejarahwan menduga bahwa dia berasal dari keturunan keluarga bersuku Arab, Lakhm,3 yang hidup di Sya>t}ibah (Xativa atau Jativa), sebuah kota di sebelah selatan Valencia yang dikenal sebagai penghasil kertas di Spanyol Abad Pertengahan.4
Tidak ada keterangan pasti tentang kapan dan di mana al-Sya>t}ibi> dilahirkan.5 Meski menisbatkan namanya kepada kota Sya>t}ibah, al-Sya>t}ibi>
1
L. Torres Balbás dan G.S. Colin, “Al-Andalus”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam, WebCD Edition (Leiden: Brill Academic Publishers, 2003)
2
Khayr al-Di>n al-Zirikli>, Al-A‘la>m: Qa>mu>s Tara>jim li Asyhar al-Rija>l wa al-Nisa>` min al-‘Arab wa al-Musta‘ribi>n wa al-Mustasyriqi>n, vol. 1 (Beirut: Da>r al-‘Ilm li al-Mala>yi>n, cet. 9, 1990), hlm. 75. Bandingkan dengan ‘Umar Rid}a Kah{h{a>lah, Mu‘jam al-Mu`allifi>n: Tara>jim Mus}annifi> al-Kutub al-‘Arabiyyah, vol. 1 (Beirut: Da>r Ih}ya>` al-Tura>ts al-‘Arabi>, 1957), hlm. 118.
3
Untuk informasi lebih jauh tentang Bani Lakhm, lihat H. Lammens dan Irfan Shahid, “Lakhm”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam,WebCD Edition.
4
Dari segi perkembangan kehidupan intelektual, kota Sya>t}ibah mencapai puncak keemasannya pada abad 6 H./12 M.. Beberapa karya ensiklopedi biografis menyebut kurang lebih 121 nama ulama abad 6 H. yang berasal dari Sya>t}ibah, termasuk Abu> al-Qa>sim ibn Firruh ibn Khalaf al-Sya>t}ibi> (w. 590 H./1194 M.), seorang ulama qira>`ah yang terkenal. Lihat Manuela Marín, “Sha>t}iba”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam, WebCD Edition.
5
Muh{ammad Abu> al-Ajfa>n menduga bahwa al-Sya>t}ibi> lahir sebelum tahun 720 H. dengan alasan karena guru pertamanya, Abu> Ja‘far Ah{mad ibn al-Zayya>t, meninggal pada tahun 728 H.. Namun dugaan ini ditolak oleh H{amma>di> al-‘Ubaydi> karena Abu> Ja‘far sebetulnya tidak pernah menjadi guru al-Sya>t}ibi>. H{amma>di> menduga bahwa al-Sya>t}ibi> lahir sekitar tahun 730-an H.. Lihat H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah (Tripoli: Kulliyyah al-Da‘wah al-Islâmiyyah, 1992), hlm. 12-13.
tampaknya tidak lahir di kota tersebut,6 melainkan di Granada (Garna>t}ah). Karena itu, dia menyebut dirinya “al-Garna>ti>”. Selanjutnya, di sepanjang masa hidupnya, al-Sya>t}ibi> sama sekali tidak pernah meninggalkan Granada.7
Al-Sya>t}ibi> memulai proses intelektualnya dengan belajar ilmu-ilmu bahasa Arab dan qira>`a>t kepada Abu ‘Abdilla>h Muh}ammad ibn al-Fakhkha>r al- Bi>ri> yang dikenal dengan julukan “syaykh al-nuh}h}a>h” di Andalusia.8 Saat itu, al- Sya>t}ibi> kecil telah menunjukkan kemampuannya untuk memahami persoalan- persoalan linguistik yang sangat sulit dipahami oleh anak-anak seusianya— sesuatu yang kerap membuat Ibn al-Fakhkha>r takjub.9 Guru pertama al-Sya>t}ibi> ini meninggal dunia pada akhir tahun 756 H. atau awal tahun 757 H..10 Dan hingga beberapa tahun berikutnya, al-Sya>t}ibi> terus merasa sangat kehilangan sosok guru yang dicintainya itu.11
Saat Ibn al-Fakhkha>r masih hidup, al-Sya>t}ibi> juga belajar ilmu fiqh dan bahasa Arab kepada Abu> Sa‘i>d Faraj ibn Qa>sim ibn Ah}mad ibn Lubb al-Garna>t}i> (w. 782 H.), seorang mufti Andalus dan pengajar di Madrasah al-Nas}riyyah yang juga ahli di bidang syair serta bahasa Arab. Al-Sya>t}ibi> berutang kepada Ibn Lubb,
6
Pada tahun 645 H./1248 M., seluruh penduduk muslim kota Sya>t}ibah terusir dari kota tersebut menyusul invasi pasukan Kristen yang dipimpin oleh Raja James I. Lihat Manuela Marín, “Sha>t}iba” dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam, WebCD Edition. Al-Syatibi sendiri meninggal dunia pada tahun 790 H./1388 M., atau 140 tahun setelah invasi pasukan Kristen tersebut. Berdasarkan hal itu, terdapat indikasi yang kuat bahwa tempat lahir al- Sya>t}ibi> bukan di Sya>t}ibah.
7
Tampaknya, ini terjadi karena al-Sya>t}ibi> tidak memiliki cukup harta untuk membiayai perjalanan ke luar Granada. Lihat H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 13. Di sisi lain, proses intelektual al-Sya>t}ibi> yang sepenuhnya dijalani di Granada itu menyiratkan bahwa, pada abad 8 H., tradisi keilmuan di kota tersebut telah berkembang pesat sedemikian rupa hingga tingkat di mana seseorang tidak perlu lagi pergi ke luar untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman tradisional.
8 Muhammad Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy: A Study of Abu> Ish}a>q al- Sha>t}ibi>’s Life and Thought (Delhi: International Islamic Publishers, 1989), hlm. 99.
9
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 13. 10
Sebagian literatur menyebut tahun 754 H. sebagai tahun wafat Ibn al-Fakhkha>r. Tetapi, berdasarkan kutipan pernyataan al-Sya>t}ibi> sendiri, H{amma>di> memperkirakan bahwa Ibn al-Fakhkha>r meninggal dunia pada akhir tahun 756 H. atau awal tahun 757 H. Lihat H{amma>di> al- ‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 66.
11
terutama dalam persoalan kemampuan memberikan fatwa dan putusan hukum.12 Tetapi, dalam disiplin keilmuan bahasa Arab, al-Sya>t}ibi> tampaknya menempatkan Ibn Lubb sedikit di bawah Ibn al-Fakhkha>r.13
Belakangan, hubungan antara al-Sya>t}ibi> dan Ibn Lubb, gurunya, memburuk. Hal itu dipicu oleh perselisihan pendapat di seputar persoalan fatwa dan pemahaman atas dalil-dalil hukum tertentu. Al-Sya>t}ibi> menganggap Ibn Lubb terlalu longgar dalam memberikan fatwa sehingga banyak hal-hal yang sebetulnya terlarang menurut syariat justru dibolehkannya. Akibat perbedaan pendapat tersebut, Ibn Lubb kemudian justru menjadi musuh dan penentang paling keras al-Sya>t}ibi>.14
Pada tahun 757 H., kota Granada didatangi oleh Abu> ‘Abdilla>h Muh}ammad ibn Ah}mad al-Maqqari> (w. 759 H.), seorang ulama Magrib bermazhab Maliki yang sangat terkenal. Selama dua tahun berikutnya, al-Sya>t}ibi> mempelajari ilmu fiqh, hadits, dan tasawuf di bawah bimbingan al-Maqqari>.15
Al-Maqqari> merupakan salah satu guru yang paling berpengaruh bagi al- Sya>t}ibi>. Darinyalah al-Sya>t}ibi> mengenal pemikiran Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> dalam bidang usul fiqh.16 Kenyataan bahwa al-Sya>t}ibi> mempelajari ilmu tasawuf
12 Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy, hlm. 100. Bandingkan dengan H{amma> di> al- ‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 74.
13
Suatu hari, al-Sya>t}ibi> pernah mengajukan pertanyaan tentang tafsir ayat 13 dan 14 dari surah al-Nisa>` kepada dua orang gurunya (Ibn al-Fakhkha>r dan Ibn Lubb) itu. Jawaban Ibn al- Fakhkha>r ternyata dianggapnya lebih tepat secara gramatikal. Untuk detail yang lebih rinci, lihat H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 73-74.
14
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 74-76. 15
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 68-69. 16
Fakhr al-Din al-Ra>zi> dianggap sebagai salah satu tokoh yang membangkitkan ketertarikan kepada filsafat di kalangan Sunni. “Razisme” masuk ke dalam mazhab Maliki terutama melalui disiplin ilmu us}ul fiqh. Lihat Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy, hlm. 57. Al-Ra>zi> menulis kitab al-Mah}s}u>l fi> ‘ilm Us}u>l al-Fiqh. T{a>ha> Ja>bir al-‘Alwa>ni> menyatakan bahwa, dari sekian banyak literatur dalam disiplin ilmu us}ul fiqh yang ditulis sejak akhir abad keenam hingga masa modern, karya al-Ra>zi> ini merupakan literatur terpenting. Lihat T{a>ha> Ja>bir al- ‘Alwa>ni>, “Muqaddimah al-Muhaqqiq”, dalam Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, al-Mah}s}u>l fi> ‘ilm Us}u>l al-Fiqh (Beirut: Mu`assasah al-Risa>lah, 1997), hlm. 48. Nilai penting karya al-Ra>zi> itu juga terlihat dalam kenyataan bahwa ia paling banyak dijadikan sumber dari syarh}-syarh} dalam us}ul fiqh. Lihat Hasan Hanafi, Min al-Nas}s} ila> al-Wa>qi‘; Takwi>n al-Nas}s}: Muh}a>walah li I‘a>dah Bina>` ‘Ilm Us}u>l al-Fiqh (Kairo: Markaz al-Kita>b li an-Nasyr, 2004), hlm.433-434. Tetapi tidak jelas apakah al- Sya>t}ibi> mempelajari pemikiran al-Ra>zi> melalui karyanya, al-Mah}s}u>l, atau melalui karya Ibn al-
darinya17 juga adalah sesuatu yang menarik. Tampaknya, corak tasawuf yang dipelajari al-Sya>t}ibi> dari al-Maqqari> adalah corak yang menekankan pentingnya praktik-praktik asketisme dibatasi oleh aturan-aturan syariat. Dan al-Sya>t}ibi> sendiri, dalam karya-karyanya belakangan, mengecam banyak praktik kaum sufi yang dianggapnya sebagai bid‘ah serta bertentangan dengan syariat Islam.
Al-Sya>t}ibi> juga mempelajari ilmu hadits dan fiqh dari Syams al-Di>n Abu> ‘Abdilla>h ibn Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Marzu>q (w. 781 H.), seorang ulama perantau yang berasal dari Tilimsa>n. Ibn Marzu>q adalah salah seorang di antara tiga ulama—dua ulama lainnya adalah al-Maqqari> dan Ibn Lubb—yang paling terkenal di Granada pada abad 8 H..18 Dia mengajarkan kitab al-Muwat}t}a`, karya Imam Ma>lik, di Masjid Jami‘ Granada, di mana al-Sya>t}ibi> kerap hadir dan mengikuti pelajarannya.19
Selain al-Maqqari>, salah satu guru yang memberikan pengaruh paling mendalam kepada al-Sya>t}ibi> adalah Abu> ‘Ali> Mans}u>r ibn ‘Abdilla>h ibn ‘Ali> al- Zawa>wi>, gurunya di bidang us}ul fiqh. Al-Zawa>wi> inilah yang tampaknya membangkitkan minat al-Sya>t}ibi> untuk mencurahkan perhatiannya kepada bagian-bagian paling mendasar dari sebuah disiplin keilmuan. Dalam sebuah kuliahnya, al-Zawa>wi> menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berupa prinsip-prinsip general (kulliyya>t) dan dasar-dasar yang bersifat umum (us}u>l ‘a>mmah). Kulliyya>t dan us}u>l ‘a>mmah itu, menurut al-Zawa>wi>, melingkupi semua persoalan partikular (al-masa>`il al-juz`iyyah) di bawahnya serta menjadikan akal sebagai pengontrolnya.20 Dalam karya-karyanya
H{a>jib, Mukhtas}ar al-Muntaha>—sebuah karya yang juga didasarkan pada al-Mah}s}u>l. Lihat Maribel Fierro, “Al-Sha>t}ibi>”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam.
17
Al-Maqqari> menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul al-H{aqa>`iq wa al-Raqa>`iq, yang juga diajarkannya kepada al-Sya>t}ibi>. Lihat H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al- Syari>‘ah, hlm. 68. Kecenderungan tasawuf al-Maqqari> juga terlihat ketika dia melakukan proses inisiasi yang tidak lazim dalam kuliah-kuliahnya, sebuah prosesi di mana sang guru menyuapkan makanan ke mulut sang murid. Lihat Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy, hlm. 66.
18
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 71. 19
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 76. 20
kemudian, al-Sya>t}ibi> mengembangkan konsep kulliyya>t dan juz`iyya>t itu secara sangat elaboratif.
Dalam al-Ifa>da>t wa al-Insya>da>t, al-Sya>t}ibi> mencantumkan sebuah pernyataan yang kerap diulang-ulang oleh al-Zawa>wi> bahwa seseorang tidak dapat disebut memiliki ilmu tentang sebuah hal kecuali jika ia telah memenuhi empat syarat berikut. Pertama, mengetahui dasar-dasar ilmu tersebut secara sempurna. Kedua, memiliki kemampuan untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Ketiga, mengerti apa yang harus dilakukannya berdasarkan ilmu tersebut. Keempat, memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kerumitan- kerumitan dalam ilmu tersebut. Belakangan, al-Sya>t}ibi> menyadari bahwa pernyataan gurunya itu berasal dari al-Fa>ra>bi>.21
Berbeda dengan al-Maqqari>, al-Zawa>wi> dikenal sangat kritis terhadap Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> yang dianggapnya terpengaruh oleh gagasan-gagasan Muktazilah.22 Dalam hal ini, al-Zawa>wi> memiliki pendirian yang sama dengan guru al-Sya>t}ibi> lainnya, Abu> ‘Abdilla>h al-Syari>f al-Tilimsa>ni> (w. 771 H.), yang dikenal dengan keahliannya di bidang ilmu-ilmu rasional (al-‘ulu>m al-
‘aqliyyah).23 Karena al-Tilimsa>ni> tercatat mengajarkan karya-karya Ibn Si>na> dan
Ibn Rusyd, maka patut diduga bahwa al-Sya>t}ibi> juga mempelajari filsafat darinya.24 Di bidang us}ul fiqh, al-Syari>f al-Tilimsa>ni> menulis Mifta>h} al-Wus}u>l ila>
Bina>` al-Furu>‘ ‘ala> al-Us}u>l,25 sebuah karya yang memperlihatkan
21
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 76. 22
Meski al-Zawa>wi> menganggap al-Ra>zi> dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Muktazilah, namun ia tetap mengajarkan kitab Mukhtas}ar al-Muntaha>, karya Ibn al-H}a>jib di bidang us}ul fiqh, yang dipengaruhi oleh kitab al-Mah}s}u>l, karya al-Ra>zi>. Lihat Maribel Fierro, “Al-Sha>t}ibi>”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam.
23
Ibn ‘Arafah, salah seorang murid al-Tilimsa>ni>, bahkan menyatakan bahwa kematian gurunya itu menandai matinya ilmu-ilmu rasional. Lihat Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy, hlm. 101.
24 Hamka Haq, Al-Syâthibî: Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam Kitab al- Muwafaqat (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 19. Karya-karya filsafat tampaknya juga tidak terlalu asing bagi al-Sya>t}ibi>. Setidaknya, dia mengenal karya al-Fa>ra>bi> sebagaimana terlihat pada bagian terdahulu. Lihat catatan kaki nomer 21.
25
Maribel Fierro, “Al-Sha>t}ibi>”, dalam C.E. Bosworth, dkk. [ed.], The Encyclopaedia of Islam.
kecenderungannya untuk memperhatikan aspek-aspek fundamental dari hukum Islam serta membangun seluruh hukum partikular di atas aspek-aspek fundamental tersebut.
Selain dari nama-nama di atas, al-Sya>t}ibi> juga mempelajari fiqh dan sastra Arab dari Abu> al-Qa>sim al-H{asani> al-Sabti> (w. 760 H.) yang pernah menjabat sebagai qa>d}i> kepala di Granada;26 bahasa dan tafsir dari Abu> ‘Abdilla>h al-Balansi>; ilmu fara>`id} dari Abu> Ja‘far Muh}ammad al-Syaqu>ri>; sastra Arab dari Abu> ‘Abdilla>h al-Lawsyi>; serta aljabar dari Abu> al-H{asan al-Kuh}ayli>.27
Setelah menyelesaikan masa studinya, al-Sya>t}ibi> kemudian mengajar di Masjid Jami‘ Granada, salah satu pusat kegiatan intelektual, selain Madrasah al- Nas}riyyah, di kota tersebut. Kuliah-kuliah yang diberikannya mencakup lima bidang ilmu pengetahuan: fiqh, us}ul fiqh, hadits, qira>`a>t, dan nah}w.28 Meski dikisahkan bahwa kuliah-kuliah al-Sya>t}ibi> dihadiri oleh banyak murid, namun hanya beberapa orang di antara mereka yang berhasil meraih reputasi intelektual di Andalusia, seperti Abu> ‘Abdilla>h al-Maja>ri>, Abu Yah}ya> ibn ‘A<s}im, al-Qa>d}i> Abu> Bakr ibn ‘A<s}im, Ibn Ja‘far al-Fakhkha>r, dan Abu> ‘Abdilla>h al-Baya>ni>.29
Pada masa al-Sya>t}ibi>, Granada beberapa kali dilanda konflik politik internal. Suksesi kekuasaan seringkali berlangsung melalui perebutan yang berdarah-darah. Tetapi tidak ada data apa pun yang mengindikasikan keberpihakan al-Sya>t}ibi> kepada salah satu pihak yang bertikai memperebutkan tampuk kekuasaan. Dunia politik tampaknya tidak menarik minat al-Sya>t}ibi>. Dia justru mencurahkan seluruh perhatian dan minat intelektualnya untuk
26 Khalid Masud, Islamic Legal Philosophy, hlm. 100. 27
H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 82-84. 28
‘Abdulla>h al-Maja>ri> menyebut daftar kitab yang diajarkan oleh gurunya, al-Sya>t}ibi>. Di antara kitab-kitab tersebut adalah al-Kita>b (karya Sibawayh) dan beberapa syarh} atas kitab Alfiyyah karya Ibn Malik dalam bidang nah}w; Muqaddimah Ibn al-S}ala>h} dalam bidang ‘ulu>m al- h}adi>ts; al-Taysi>r (karya Abu> ‘Amr al-Da>ni>) di bidang ilmu qira>`a>t; al-Muwat}t}a` (karya Ma>lik) dan al-Mudawwanah (karya Sah}nu>n) di bidang fiqh; serta Mukhtas}ar Ibn al-H{a>jib dan karyanya sendiri, al-Muwa>faqa>t, di bidang us}ul fiqh. Lihat H{amma>di> al-‘Ubaydi>, Al-Sya>t}ibi> wa Maqa>s}id al-Syari>‘ah, hlm. 91-92.
29
menyelesaikan dua problem besar yang menyeruak di tengah-tengah masyarakat Granada saat itu: taklid dan bid‘ah.
Mayoritas penduduk Andalusia abad 8 Hijriah adalah penganut mazhab Maliki.30 Hingga tingkat tertentu, mereka memegang afiliasi mazhab tersebut secara fanatik. Akibatnya, para penganut mazhab-mazhab fiqh lain sering memperoleh perlakuan yang buruk. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan al- Sya>t}ibi>. Meski merupakan pengikut mazhab Maliki, al-Sya>t}ibi> mengkritik fanatisme mazhab yang berlebihan. Dia menyatakan bahwa sikap fanatik dalam mengikuti mazhab Maliki merupakan “kecintaan yang berlebihan terhadap mazhab tertentu, padahal pandangan yang adil akan membuktikan bahwa mereka [para pemuka pelbagai mazhab itu] adalah imam-imam yang mulia.”31
Menurut al-Sya>t}ibi>, penyebab terbesar dari menyebarnya taklid dan fanatisme buta di kalangan penduduk Granada adalah kecenderungan mereka untuk membatasi perhatian hanya kepada persoalan-persoalan sekunder (furu>‘) tanpa mau mencoba melacak prinsip-prinsip fundamental (us}u>l) dari ajaran- ajaran Islam.32 Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong al- Sya>t}ibi> untuk menulis karya besarnya, al-Muwa>faqa>t.
Taklid dan pengabaian prinsip-prinsip fundamental ajaran Islam itu berlangsung seiring dengan maraknya praktik-praktik bid‘ah di tengah
30
Mazhab Maliki mulai dianut oleh mayoritas penduduk Andalusia sejak masa kekuasaan Hisya>m I (putra ‘Abd al-Rah}ma>n al-Da>khil, pendiri dinasti Umawiyyah di Andalusia) yang berkuasa sejak tahun 173 H. hingga tahun 180 H.—masa ketika Ma>lik sendiri masih hidup.