• Tidak ada hasil yang ditemukan

JENIS PERMAINAN TRADISIONAL DI PERKOTAAN

5.2. Anak Perempuan dalam Permainan Tradisional

Permainan tradisional digunakan semua kalangan dari kalangan anak-anak hingga kalangan orangtua, namun yang sering bermain menggunakan permainan tradisional ialah anak-anak baik anak perempuan dan anak-anak laki-laki

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan penulis selama berbulan-bulan, anak-anak yang sering ditemukan bermain adalah anak-anak laki-laki. Penulis jarang menemukan anak-anak perempuan, anak-anak perempuan yang bermain dilapangan, jika mereka ditemukan dilapangan biasanya mereka hanya bermain sepeda dan hanya sekedar lewat dari lapangan, jika anak-anak perempuan yang melintas dan lewat dari lapangan dan melihat teman seumurannya laki-laki bermain dilapangan mereka tidak tertarik untuk larut dan bergabung satu permainanan. Keadaan ini menjadi suatu pertanyaan bagi saya, berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan salah satu informan yang bernama Anyea, Anyea (13 tahun) mengatakan :

“Anyea main-mainnya di halaman rumah saja kak bersama dengan sepupu dan kawan perempuan yang lain. Biasanya kami bermain bonekaan, ABC lima dasar, bermain darama, bermain karet dan masih banyak lagi kak. Kalau mainnya keluar, palingan kerumah teman dan

kalau mainnya lama diluar karena nanti dicuri dan dijual dan anye juga harus jaga kede kalau mamak keluar”.

Berbeda dengan pendapat dan alasan Elsa, dalam proses wawancara seputar keadaan tersebut, Elsa (13 tahun ) berpendapat :

“Elsa bermain hanya di halaman rumah dan digarasi mobil dengan kakak, Elisa dilarang papa main keluar rumah, karena kata papa kalau udah main diluar nanti lupa mengerjakan tugas rumah, aku pernah bermain bersama teman-teman dilapangan tempat bermain, sangkin enaknya dan serunya, yahhh saya jadi lupa kalau ada les sore, akhirnya kenak marah sama papa karena tidak hadir les sore, kalau dirumah permainan kami banyak kak, tapi kami lebih sering bermain anak-anakan, masak-masakan, monopoli, congklak”.

Selain Pendapat Anyea dan Elsa mengenai kondisi tersebut, Farida (12 tahun) juga memberikan pendapat dan mengatakan :

“Kalau Farida kak, lebih suka aja bermain dihalaman rumah karena kalo bermain bersama teman-teman dilapangan permainan kadang sering bertengkar dan aku gak suka kalau ada pertengkaran dan kalo ada temanku yang mengajak main, aku bilang kalau main nya di depan rumah saja kak dan entah kenapa dari dulu sampe sekarang kurang suka melihat keramaian, aku suka dan sering bermain masak-masakan dan boneka-bonekaan”.

Kemudian Jesika, ketika penulis menanyakan kondisi anak-anak perempuan jarang ditemukan dilapangan, maka Jesika (12 tahun) memberikan pendapat :

“Sebenarnya kak, Jesika suka main diluar tapi kalo ikut main-main sama anak laki-laki gak enak kak, mereka mainnya kasar dan ada anak lai-laki suka-suka nya sama perempuan dan permainan mereka selalu permainan laki-laki seperti main bola, main layangan, panjat kelapa, kalo aku ajak main karet, main congklak mereka gak mau, kata mereka itu mainan perempuan. Tidak ada aku jumpai anak perempuan bermain dilapangan kak, makanya aku main dirumah aja lah kak, kalopun aku main diluar itupun hanya lihat-lihat aja kak

Pendapat yang diberikan oleh setiap anak-anak di atas berbeda satu-sama lain, berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa anak-anak yang bersedia diwawancarai, maka dapat diberikan alasan dan penyebab anak-anak perempuan jarang ditemukan bermain dilapangan terbuka adalah sebagai berikut

1.Kontrol dari orangtua

Orangtua merupakan pribadi utama yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, individu yang pertama kali mendidik dan memberikan pengawasan terhadap anak adalah orangtua. Dalam hal bermain, orangtua memberikan pengawasan kepada anaknya seperti halnya dalam waktu atau lamanya bermain, tempat bermain. Terdapat orangtua yang melarang anaknya bermain di ruangan atau di lapangan terbuka, hal ini terjadi karena ketakutan orangtua jika anak terlarut dalam permainan dengan teman-temannya maka pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah terabaikan seperti yang dikatakan oleh Anyea.

Tenaga anak khususnya anak perempuan sangat diperlukan orangtua untuk membantunya dalam mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan dirumah. Bagi keluarga yang membuka usaha kecil didepan rumah seperti kedai, jika orangtua memiliki pekerjaan yang lain yang harus diselesaikan maka kedai dijaga oleh anaknya. Sehingga jika diperhatikan kondisi ini maka anak bermain sambil bekerja, kondisi seperti ini tidak membuat anak memberontak kepada orangtuanya, justru anak tersebut senang karena dia diajarkan bagaimana bisa membagi waktu dengan baik.

mereka kapan memulai dan menyudahi permainan. Jika orangtua merasa waktu bermain sudah cukup maka orangtua bisa menyarankan anaknya untuk menyudahi permainan dan mengerjakan pekerjaan sekolah ataupun les sore. Pada hari libur sekolah seperti hari Sabtu dan hari Minggu, biasanya waktu bermain anak yang diberikan orangtua lebih lama dibandingkan pada hari sekolah yaitu hari Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat.

Bermain diatas kontrol orangtua, membuat anak tidak salah memilih teman dalam bermain sehingga kemungkinan anak untuk nakal lebih sedikit. Orangtua lebih selektif memilih teman yang bermain untuk anaknya, jika orangtua melihat terdapat salah seorang teman anaknya yang nakal maka orangtua menganjurkan anaknya untuk tidak bermain dengan teman tersebut. Jika temannya masih mendekatkan diri kembali agar bermain bersama, maka orangtua tidak memberikan waktu bermain untuk anaknya dan menganjurkan untuk belajar.

2. Tidak ada teman perempuan

Pada umumnya anak-anak dalam bermain khususnya dalam permainan tradisional membutuhkan teman untuk bermain, walaupun terdapat anak-anak yang suka bermain sendiri. Namun yang sering dijumpai anak-anak lebih nyaman jika bermain dengan teman-teman yang lain.

Lapangan sebagai arena bermain bagi anak-anak didominasi oleh anak laki-laki, bagi sebagian anak perempuan bermain dengan anak laki-laki kurang seru dan permainnya lebih kasar, saat-saat tertentu beberapa anak laki-laki memiliki sifat yang mendominasi dalam artian anak laki-laki selalu meminjam peralatan bermain anak

perempuan dan anak perempuan memberikan peralatan bermainnya kepada anak laki-laki walaupun terkadang dalam keadaan terpaksa. Pada kondisi ini terbuktilah toeri Bateson yang mengatakan bahwa sifat dominance memiliki lawan sifat submission.

Anak perempuan yang bermain dilapangan kemungkinan anak-anak perempuan yang lain akan ikut bermain. Kekosongan anak perempuan bermain dilapangan, menyebabkan anak perempuan lainnya enggan untuk bermain dilapangan sehingga mereka lebih memilih untuk bermain di halaman rumahnya atau dihalaman rumah temannya. Hal ini lah yang menyebabkan sulit ditemukan anak perempuan bermain dilapangan, kalaupun mereka ditemukan di lapangan mereka hanya bermain sepeda, bersenda-gurau dengan kedua orangtuanya, atau mengajak adiknya untuk berjalan mengitari lapangan.

Jika ditemukan beberapa anak perempuan yang bermain di lapangan terbuka, maka kemungkinan besar anak perempuan yang lain ikut serta dalam permainan sehingga dalam lapangan tidak hanya kelompok anak laki-laki yang ditemukan dalam bermain tetapi kelompok anak perempuan juga ditemukan bermain bersama.

Jika anak perempuan bermain bersama dengan anak laki-laki maka anak perempuan merasa dikuasai oleh anak laki-laki, dalam arena permainan jika mereka bermain dan berdebat biasanya anak perempuan yang mengalah, selain itu anak peralatan anak perempuan bisa dipakai oleh anak laki-laki, seperti yang diungkapkan oleh Jesika (12 tahun) :

“Main sama anak laki-laki kasar, suka-sukanya sama awak, mau makei barang-barang awak seperti sepeda, suka marah-marah, pokoknya gak

3. Kurang Tertarik Bermain di Ruangan Terbuka

Sebagian besar anak-anak lebih senang bermain bersama teman-teman yang lain dan bermain di lapangan terbuka, namun berbeda dengan Farida. Farida adalah salah satu anak perempuan yang berbeda dengan teman-teman nya, Farida merupakan anak perempuan yang lebih suka sendiri dan tidak suka melihat keramaian. Kategori bermain yang dialami oleh Farida adalah Solitary play yang diungkapkan oleh Parten. Hal ini terjadi dalam diri Farida (12 tahun) secara alamiah, seperti yang diungkapkannya:

“Aku juga gak tahu kak, kenapa aku suka sendiri. Mulai dari kelas satu SD aku suka main sendiri kak, kalaupun aku melihat kawanku bermain tetapi aku tidak suka bergabung kak, aku membaca komik, buku cerita aja dirumah atau bermain sendiri kak”.

Bermain di halaman rumah, membuat anak perempuan lebih menikmati suasana permainan yang dimainkan seperti dalam bermain boneka-bonekaan, anak perempuan bisa terlarut dalam kehidupan nyata dan kehidupan sebenarnya walaupun hanya sekedar memainkan permainan boneka-bonekaan.