HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.2 Analisis Comic Strip
IV.2.3 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 21 April 2013 Tabel 3
Signifikasi Tahap Pertama (Macam Leksia)
Seluruh bingkai kecuali bingkai empat, menggunakan jarak pandang keseluruhan (full shot). Bingkai empat menggunakan medium shot.
Bingkai Tanda Denotasi
1 Pada gambar, Mbah bersila sambil menunduk, tangan kiri diletakkan di atas paha dan tangan kanannya mengarah pada Pailul. Mbah hanya mengenakan selembar kain putih yang dibalutkan ke seluruh tubuh dan diikat di bahu kirinya. Pailul yang digambarkan lebih rendah, tengah memperhatikan undur-undur dengan bantuan lidi di tangan kanannya. Asap keluar dari tungku milik Mbah yang berada di antara mereka.
2 Asap masih mengepul. Pailul melihat ke arah kanan, tidak memperhatikan undur-undur lagi. Kedua tangan Mbah bersedekap, kedua bahunya naik. Wajahnya menjadi serius, bibir dikatupkan, pandangan tajam ke Pailul.
3 Denmas Rakryan bergegas sambil membawa kertas di tangan kiri, nampak dari garis tambahan di atas siku kirinya dan lutut kanannya. Tangan dan kakinya digambarkan seperti sedang berjalan ke belakang. Hidung Denmas besar, pakaiannya nampak jauh berbeda dengan Pailul dan kedua anak yang mengikutinya (Bujel dan Trinil). Bolero dan celana hitam yang digunakan kelihatan serasi dengan selop yang ia kenakan.
Bujel, hanya mengenakan celana hitam, Trinil di sampingnya mengenakan kain yang dibalut hingga ke dadanya. Rambutnya diambarkan tidak sampai melewati wajahnya. Mereka juga membawa sesuatu seperti buku di tangannya. Diselipkan di bawah ketiak mereka. 4 Kedua anak tersebut lari terbirit-birit karena dikejar kambing hitam.
Buku-buku yang mereka bawa terlempar ke belakang mereka. Di kaki Bujel ditambahkan garis-garis yang memberi efek terburu-buru, sedang di bagian kaki Trinil digambarkan garis-garis melingkar yang menandakan dia sedang lari dengan cepat. Kambing hitam hanya
digambarkan setengah badan saja tanpa ada efek lain.
5 Kedua tangan Mbah terangkat ke atas, seakan berdoa. Mulutnya terbuka, nampak sedang merapal sesuatu dengan mata tertutup. Anak-anak yang tadi berlari, berhenti di depan Mbah dan memperhatikan Pailul. Kakinya tegak di tanah, tapi ia menunduk dan kepalanya sampai di tanah, masih memperhatikan undur-undur yang mulai berantakan susunannya.
6 Tangan kiri Mbah terkepal, tangan kanannya menumpu posisi duduknya yang sudah berubah. Kepalanya tunduk mengarah ke Pailul yang diapit oleh anak-anak tadi. Ketiganya masih mengamati undur-undur.
7 Tiba-tiba Pailul berteriak kegirangan. Setengah berjongkok kedua tangannya digenggam ke atas, senyuman tersungging di wajahnya. Tangannya digoyang-goyangkan tanda kemenangan. Kedua anak tersebut masih memperhatikan undur-undur. Mbah terkejut dengan sikap Pailul. Ekspresinya nampak heran, terlihat dari alisnya yang mengkerut, posisi badan yang mundur ke belakang dan tangan yang tergantung di depan badannya.
Signifikasi Tahap Kedua (Kode Pembacaan)
1. Hermeneutika:
Pailul sedang memperhatikan undur-undur, larva yang berjalan mundur di tanah. Sambil memainkan undur-undur, ia mengajukan pertanyaan filosofis tidak kepada siapa-siapa, “Hai undur-undur, kenapa kau selalu berjalan mundur?”. Sebelumnya, Mbah menegurnya, “Pailul kau main-main terus.” Setelah itu Pailul menganalogikan undur-undur dengan Denmas Rakryan yang diminta mundur dari jabatan, namun malah berjalan mundur, “Seperti juga Denmas Rakryan Pendidikan itu . Diminta mengundurkan diri kok malah berjalan mundur.”
Di bingkai berikutnya, Denmas tampak berjalan mundur, “Saya yang paling bertanggung jawab pada kekacauan padepokan seluruh negeri.” Hampir saja ia menabrak Bujel dan Trinil, yang membawa buku di belakangnya. “Awas, kita bisa tertabrak kekacauannya,” kata Bujel.
Namun, Bujel dan Trinil malah dikejar kambing hitam, “Embaaaah.. Kami dikejar embek hitam,” teriak Bujel sambil berlari kencang. Trinil berada di belakangnya, sedang kambing hitam berada di paling belakang, bersiap untuk menanduk mereka. Mereka pun sampai ke tempat Mbah dan Pailul dan ikut memperhatikan undur-undur, Mbah lalu menasihati para pemangku jabatan, “Hai para pemangku jabatan. Kalian serba tergesa-gesa mempersiapkan anak bangsa. Tanpa jiwa!!” Pailul menjawab nasihat Mbah masih dengan menganalogikan permasalahan dengan undur-undur, “Seperti undur-undur ini malah saling tabrakan.”
“Pailul, engkau asyik dengan undur-undurmu. Kau harus jujur mengakui kesalahan, buka hati, dengarkan kebijakan alam sekitar,” lanjut Mbah. Bujel dan Trinil yang tadinya berada di samping Mbah, kini mengapit Pailul dan makin fokus kepada undur-undur. “Satuhu, Mbah,” jawab Pailul.
Setelah lama memperhatikan, Pailul berteriak kesenangan karena undur-undurnya memakai mahkota, “Mbaah!! Undur-undurnya pakai mahkota!” Mbah terkejut, sedangkan anak-anak hanya diam saja.
2. Proairetik :
Pada bingkai pertama, merupakan bentuk penegasan sifat Pailul yang senang bermain-main dan konyol seperti kata Mbah kepadanya, “Pailul kau main-main terus.” Lalu dilanjutkan oleh pertanyaan filosofis yang terkesan konyol, “Hai undur-undur kenapa kau selalu berjalan mundur?” Terkesan konyol sebab undur-undur ialah serangga yang larvanya memang berjalan mundur.
Setelah itu, Pailul bertanya ke arah pejabat istana yang sedang berjalan mundur laiknya undur-undur, lakunya ditandai dengan badannya yang dibalikkan namun tangannya masih berada dekat dengan undur-undur. Pertanyaan Pailul membuat Mbah tidak suka, sehingga bahunya diangkat ke atas, tangannya bersedekap, alis dirapatkan dan mulutnya
Bujel dan Trinil diibaratkan masyarakat kecil yang hampir diinjak (dirugikan, dilukai) oleh pejabat (Denmas Rakryan) sebab ulah pejabat itu sendiri, “Awas, kita bisa tertabrak kekacauannya,” ungkap Bujel. Setelah hampir diinjak, rakyat kecil pun dituduh penyebab semua masalah. Entitas ini dihadirkan di bingkai 4, di mana kambing hitam mengejar Bujel dan Trinil.
Pada bingkai kelima Mbah nampak bersemangat memberi nasihat, namun Pailul masih serius memperhatikan undur-undur hingga badannya setengah berdiri-setengah tunduk, kedua ponakan Koming pun memperhatikannya. Nasihat Mbah ditujukan kepada para pejabat yang membuat peraturan prematur tanpa memikirkan esensi dari peraturannya, “..serba tergesa-gesa mempersiapkan anak bangsa. Tanpa jiwa!” Pailul menganggap kelakuan pejabat mengalami kemunduran sehingga seperti undur-undur dan bertabrakan (kacau).
Di bingkai selanjutnya, nasihat Mbah ditujukan kepada Pailul yang juga dapat berarti nasihat kepada seluruh masyarakat. Maknanya, masyarakat pun tidak boleh sibuk dengan urusan masing-masing saja. Tiap orang harus berani mengakui kesalahan dan membuka pikirannya untuk berbagai masukan dari orang lain.
Akhirnya Pailul bangkit, walau masih berjongkok sebab ia melihat undur-undur yang mengenakan mahkota. Wajah Mbah kaget karena perkataan Pailul, “Mbaah!! Undur-undurnya pakai mahkota!!” disebabkan perkataan Pailul yang tidak masuk akal. Di sini, Pailul menyindir Adipati (pemimpin kerajaan dan satu-satunya orang yang menggunakan mahkota di kerajaan) berjalan mundur, atau pemerintahannya mengalami kemunduran.
3. Simbolik :
• Tungku yang berasap biasa digunakan dukun atau ‘orang pintar’ untuk meramal. Juga sebagai simbol bahwa pemiliknya mengetahui banyak hal.
• Pada bingkai ketiga dan keempat, Bujel dan Trinil diibaratkan sebagai rakyat kecil yang terombang-ambing keputusan oleh pemerintah. Sekali-kali bisa tergilas oleh peraturan, bahkan bisa dijadikan ‘kambing hitam’ oleh orang yang lebih berkuasa.
• Bujel dan Trinil yang membawa buku pun juga diibaratkan sebagai siswa yang ujiannya diatur oleh Menteri Pendidikan yang menghasilkan peraturan yang merugikan siswa itu sendiri.
• Undur-undur adalah larva yang berjalan mundur. Pada cerita ini, undur-undur menjadi wujud refleksi kepemimpinan kerajaan yang semakin buruk. Bukannya menyongsong masa depan yang lebih baik, tapi bergerak mundur.
• Pailul yang asik bermain undur-undur menjadi cerminan orang-orang pandai di kerajaan, hanya mampu memperhatikan jalannya pemerintahan. Tidak bisa ikut campur, tapi dapet menertawakan kesalahan-kesalahn yang dibuat.
4. Kultural :
Konsep religius namun mistis yang menjadi hakikat hidup masyarakat Jawa tergambar jelas pada Mbah. Pakaian, rupa dan benda pendukung seperti tungku berasap menjadi penanda. Tungku yang berada di depan Mbah menjadi tanda mistis dari masyarakat Jawa yang masih memercayai ramalan. Mbah yang sudah tua mampu memberi nasihat yang sesuai dengan keadaan negeri serta solusi dari itu semua menunjukkan kemampuan Mbah dalam meramal hal-hal.
Konsep tersebut masih hidup hingga sekarang, dapat dilihat menjamurnya praktik perdukunan di Jawa. Agama dan budaya (yang mengusung nilai mistis) sering tampak di media massa. Sebagai contoh, Ki Joko Bodo, seorang peramal yang beragama Islam. Rumahnya dibangun dengan tambahan ornamen-ornamen cerita Hindu seperti patung Rajawali. Ada pula Ki Kusumo, peramal lain yang yang terpengaruh ramalan Cina sehingga mengecat rumahnya dengan warna merah dan emas. Ditambah ornamen naga yang melilit tiang rumahnya.
Selain itu, analogi undur-undur dan kambing hitam merupakan suatu bentuk kosmologi orang Jawa, di mana mereka harus menyelaraskan kehidupan manusia, alam dan Tuhan. Hewan tidak hanya dianggap sebagai makhluk biasa, tapi sebagai pembawa pesan dari Tuhan untuk diambil hikmahnya. Penggunaan unsur alam dan hewan menjadi ciri khas Panji Koming dan masarakat Jawa. Konsep itu dipertegas dengan nasihat Mbah di bingkai 6, “mengakui kesalahan, buka hati, dengarkan kebijakan alam
sekitar.”
5. Semik :
Kali ini, tokoh dibuat lebih beragam. Ada Pailul, sebagai perwakilan pengkritik kebijakan, Mbah selaku penyeimbang, Bujel &Trinil yang mewakili masyarakat dan seorang pemangku jabatan, Denmas Rakryan.
Edisi ini mengangkat tema Ujian Nasional yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya bagi rakyat Indonesia. Digambarkan, Pailul mengkritik jalannya pemerintahan dan menyamakannya dengan undur-undur yang jalannya mundur-undur. Menurutnya, Denmas Rakryan Pendidikan (atau Menteri Pendidikan di Indonesia) yang seharusnya mengundurkan diri, malah semakin menurunkan kualitas pendidikan dengan berjalan mundur. Denmas Rakryan telah mengakui kekacauan yang ia buat di seluruh negeri tetapi tidak memperbaiki kesalahan yang ada, malah memperburuk keadaan dengan mengorbankan rakyat kecil (bingkai 3) dan melimpahkan kesalahan pada rakyat (bingkai 4).
Keputusan yang ia buat dianalogikan dengan langkah mundur yang ia ambil. Langkah tersebut telah merugikan masyarakat dan siswa yang akan ujian pada khususnya. Setelah itu, siswa-siwa tesebut disalahkan sebab tidak mampu mengikuti ujian nasional yang menjadi kebijakannya.
Mbah yang mewakili orang pintar atau orang bijak di negeri menasihati para pejabat untuk mengambil langkah bijaksana dalam mempersiapkan penerus negeri (siswa), yang terpenting ialah memiliki
‘jiwa’. Jiwa yang dimaksud di sini ialah jiwa kesatria yang dipahami oleh masyarakat Jawa yaitu mau mengakui kesalahan, membuka hati dan medengarkan pesan-pesan dari sekitar, tersurat maupun tersirat. Bukan hanya siswa (anak bangsa yang masih muda), pesan Mbah ini pun ditujukan kepada seluruh masyarakat (yang diwakili oleh Pailul).
Penekanan pada bingkai terakhir “Mbah! Undur-undurnya pakai mahkota!” memperjelas bahwa para pemangku jabatan, khususnya pengguna mahkota hanya berjalan mundur selama ini. Seperti yang dipaparkan di atas, berjalan mundur bermakna turunnya kualitas kepemimpinan yang dimiliki para pemimpin dan tercermin dari kebijakan dan keputusan yang mereka buat.
IV.2.4 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 28 April 2013