• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.2 Analisis Comic Strip

IV.2.6 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 12 Mei 2013 Tabel 6

Signifikasi Tahap Pertama (Macam Leksia) Seluruh bingkai menggunakan medium shot.

Bingkai Tanda Denotasi

1 Koming dan Pailul tengah bernyanyi sambil memainkan alat musik, kendang dan rebana. Not-not balok seakan ikut menari di atas kepala mereka.

2 Selagi bernyanyi dengan lirik sarat makna, seorang abdi melewati mereka berdua. Tampak hanya setengah badan abdi di dalam bingkai. Ia memakai bolero, celana dengan tambahan sarung, selop dan rambutnya diikat.

3 Kemudian abdi yang tengah menyampaikan niat buruknya digambarkan seluruh badan. Pakaiannya terlihat lengkap dengan hiasan kepala dan pinggang. Ia adalah Denmas Ariakendor, dagunya lebih panjang daripada wajahnya. Perut dan pantatnya lebih besar dari badannya sehingga terlihat tidak proporsional. Denmas sedang berjalan, kedua kakinya yang tidak sepenuhnya menjejak tanah menjadi tanda, tangan kanannya menghimpit perutnya yang besar,.

4 Di bingkai ini, Denmas Ariakendor berebut kursi kerajaan dengan abdi lainnya. Lawan berebut kursi Denmas ialah abdi lainnya yang nampak tua, posturnya tidak sebesar dan setinggi Denmas, wajahnya keriput dan dahinya berkerut. Kursi kerajaan tersebut memiliki hiasan berbentuk seperti tiga buah tombak di atas sandarannya. Hiasan tersebut identik dengan mahkota raja pada umumnya.

5 Siluet Koming dan Pailul yang sedang bermusik menyanyikan kalimat “Politik acakadut.”

6 Koming dan Pailul makin asyik bernyanyi menyayikan penggalan lagu di bingkai pertama.

7 Denmas yang gagal merebut kursi, beralih profesi sebagai pedagang kayu gelondongan. Kedua kulinya yang berbadan tambun dan berotot

mendorong gerobak kayu berisi tumpukan kayu. Keduanya terlihat susah, cipratan keringat mereka digambar tepat di atas kepala kuli kedua.

8 Seorang preman, pria yang membawa parang dengan wajah garang menghentikan perjalanan kuli Denmas. Muka kuli pertama ketakutan, semakin banyakkeringat yang keluar dari tubuhnya. Sedang Denmas bersembunyi (juga karena takut) dibalik tumpukan kayu.

9 Siluet Koming dan Pailul hadir kembali menyanyikan “Mau untung malah buntung.”

10 Koming dan Pailul menutup cerita dengan lagu “Dengan berbudaya..,” terdapat kata ‘Dang Ketuplak Dang Dut’ di atas kepala Pailul.

Signifikasi Tahap Kedua (Tataran Konotatif)

1. Hermeneutika:

Koming: “Kita terus berdendang” Pailul: “Dan berkendang”

Koming: “Untuk pencerahan jiwa”

Pailul: “Berbudaya mencerdaskan kehidupan”

Koming dan Pailul saling bersahutan menyanyikan lagu yang mereka ciptakan sendiri dengan tujuan mencerahkan jiwa dan mencerdaskan kehidupan.

Lalu Denmas ditampilkan di bingkai berikutnya, ia dengan sigap melancarkan rencana liciknya, “Ingsun punya jalan pintas berebut kuasa.” Ternyata ia berencana merebut kursi dari seorang abdi yang lebih tua darinya. Ia lanjut berkata, “Musuh jadi teman. Teman jadi musuh,” saat berebut kursi dengan abdi lainnya. Siluet Koming dan Pailul pun lanjut menyanyi dengan kalimat ‘politik acakadut’. Dan dilanjut dengan nyanyian “Kita terus berdendang,” “Dan berkendang.”

Setelah gagal merebut kursi, Denmas Ariakendor berusaha menjadi pedagang kayu gelondong, “Gagal berebut kursi masih bisa berdagang. Semua bisa diperjual-belikan.” Ia memimpin kuli-kulinya yang membawa segerobak kayu. Sayangnya, di tengah jalan mereka dihentikan

oleh seorang preman yang memberi pilihan; nyawa mereka atau kayu yang akan dijual, “Berhenti!! Serahkan kayu-kayu itu atau nyawamu.” Walaupun berbadan besar, kuli tersebut tetap takut dengan pria yang membawa golok. Denmas malah bersembunyi dibalik barang dagangannya. Lalu siluet Koming dan Pailul bernyanyi ‘mau untung malah buntung’, dan nyanyian terakhirnya diibaratkan ‘obat’ untuk kesembuhan negeri ini. “Dengan berbudaya kita akan mencari jalan keluar menghadapi krisis peradaban,” lalu ditutup dengan kata ‘dang ketuplak dang dut’ di atas kepala Pailul.

2. Proairetik :

Nyanyian sesuka hati Koming dan Pailul menjadi pembuka cerita ini. Mereka menganggap jiwa masyarakat tengah mendung dan kehidupan masyaraka sedang berada di titik kebodohan. Nyanyian dan alat musik yang dimainkan Koming dan Pailul merupakan media mereka untuk mengingatkan para pemimpin mengenai krisis peradaban yang sedang terjadi. Persoalan dan nyanyian mereka ditampilkan secara bergantian. Denmas Ariakendor telah menyiapkan rencana licik untuk melengserkan pemimpin (dengan merebut kursi kekuasaan) lama, namun tidak berhasil. Pemimpin sebelumnya yang merupakan temannya, malah menjadi musuh. Sedang musuhnya dahulu berubah menjadi teman, demi memuaskan kebutuhannya.

Kemudian ia menjual kayu gelondongan secara ilegal yang ditegaskan oleh kalimat “..Semua bisa diperjual-belikan.” Sifat licik Ariakendor terlihat jelas dari senyumnya dan perutnya yang buncit. Ini menandakan sifatnya yang tidak pernah puas (gagal menjadi pemimpin, lalu mencoba usaha lain). Kuli yang ia gunakan tampak kesusahan mengangkut kayu yang banyak dan berat.

Sayangnya, penjualan kayu secara ilegal pun mengalami kerugian sebab masih ada praktik premanisme, “Serahkan kayu-kayu itu atau nyawamu!” seperti kata preman yang digambarkan secara garang dengan membawa parang dan berkumis tebal. Kuli-kuli Ariakendor yang

berbadan besar ketakutan, sedang Ariakendor bersembunyi di balik kayu dagangannya. Akhirnya, Koming dan Pailul memberikan solusi dalam menghadapi krisis peradaban melalui nyanyian. Nyanyian mereka menggunakan musik dangdut (khas Indonesia) sesuai kata yang dicetak di atas Pailul.

3. Simbolik :

• Kendang, rebana dan nyanyian merupakan produk budaya yang dapat digunakan menyampaikan kritik ataupun ide untuk kemajuan masyarakat atau negara.

• Kedua alat musik tradisional tersebut identik dengan masyarakat kecil (sehingga dimainkan oleh Koming dan Pailul yang notabene rakyat yang berada di kelas ekonomi bawah). Selain itu, musik yang bisa diterima segala lapisan (dinyanyikan oleh rakyat kecil untuk pemimpin) ialah musik dangdut (ditampilkan melalui kata: ‘dang ketuplak dang dut’).

• Seperti pada comic strip sebelumnya, orang yang digambarkan dengan tubuh tambun menjadi stereotip sifat rakus, tamak, dan di cerita ini; pengecut (lihat bingkai 8). Sedang preman ialah orang yang senang marah dan membawa senjata tajam (bingkai 7).

Orang berbadan besar dan tidak memakai baju identik dengan kuli, seperti Pailul yang merupakan seorang kuli pembawa rumput untuk kuda kerajaan walau badannya ceking.

4. Kultural :

Musik tradisional dan lagu dangdut dekat dengan keseharian masyarakat, terkhusus bagi rakyat kecil. Melalui lagu dan musik, masyarakat dapat menyampaikan apa-apa yang tidak bisa disampaikan secara langsung kepada orang lain (dalam hal ini, para pemimpin). Selain itu, para tetua dianggap tidak mampu mengurus sebuah negara, sehingga perlu diganti dengan orang yang lebih muda (lihat bingkai 4). Tampaknya, cara licik pun sudah biasa digunakan dalam lini kehidupan. Inginkan jabatan? Gunakan cara licik. Ingin banyak untung? Jual kayu ilegal.

Hal-hal seperti itu telah dianggap biasa oleh pemangku jabatan “Gagal berebut kursi masih bisa berdagang.”

Tidak hanya itu, orang-orang yang tidak memiliki jabatan namun ingin memiliki uang banyak, kini hanya bermodal senjata tajam dan mengancam usaha orang lain.

5. Semik :

Ada-ada saja cara Koming dan Pailul dalam menyampaikan aspirasinya. Pada edisi ini, mereka menghimbau para pemangku jabatan agar menjadi masyarakat yang berbudaya (mempunyai akal dan pikiran yang sudah maju). Sindiran-sindiran terhadap perilaku politik para abdi pun disampaikan dalam satu lagu yang berkesinambungan.

Politik acakadut atau sembarangan yang dimaksudkan Koming dan Pailul ialah cara pergantian kursi kepemimpinan yang tidak wajar (dilakukan dengan serabutan). Kursi kepemimpinan digambarkan melalui kursi yang lain dari biasa, memiliki tombak-tombak di atas sandarannya yang identik dengan mahkota kerajaan pada umumnya. Pemimpin yang tua dianggap tidak kompeten lagi dalam memimpin namun tidak mau melepas singgasananya. Sedangkan calon pempimpin baru malah menggunakan cara-cara curang untuk meraih keinginannya. Selain itu, tujuan memimpin bukanlah untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik, tapi demi keuntungan pribadi.

Oleh sebab itu, sangat mudah bagi Denmas untuk banting setir menjadi pedagang setelah gagal menempati tampuk kepemimpinan. Keinginan untuk memperkaya diri pun ditampilkan dengan usahanya menjual kayu gelondongan di mana sudah menjadi rahasia umum bahwa penjualan kayu ini bersifat ilegal. Selain itu, bisnis kayu terhitung rawan sebab praktik premanisme menjamur. Secara tersirat, Dwi Koen menyentil para calon pemimpin yang memiliki usaha haram untuk menyokong keinginannya menjadi calon pemimpin negeri.

Menurut Koming dan Pailul, para pemangku jabatan tidak berbudaya sebab sedang mengalami krisis peradaban (mengalami

kemunduran dalam sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan). Padahal, dengan berbudaya, masyarakat akan menjadi cerdas dan jiwanya tercerahkan. Budaya yang dimaksud ialah mengimitasi nilai-nilai luhur yang ada, salah satunya melalui seni musik.

IV.2.7 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 26 Mei 2013