• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.2 Analisis Comic Strip

IV.2.5 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 5 Mei 2013 Tabel 5

Signifikasi Tahap Pertama (Macam Leksia) Seluruh bingkai menggunakan full shot.

Bingkai Tanda Denotasi

1 Kedua tangan Mbah bersedekap di depan dada, bahu dan kedua kakinya yang disila, sedikit terangkat. Mbah menatap Koming dan Pailul yang duduk di sampingnya sambil menunduk. Koming duduk bersila, sedang Pailul berjongkok dan memeluk kakinya.

2 Abdi pertama berdiri di depan Koming dan Pailul yang tubuhnya hanya tampak sebagian saja (dada ke atas). Abdi ini digambarkan berdagu lebih panjang dari pucuk hidungnya, mengenakan hiasan kepala dan hiasan di pinggang. Tangannya disedekapkan di depan dadanya. Wajah Koming terlihat usil, sedang Pailul skeptis.

3 Yang kedua tengah berjalan, bibirnya disunggingkan hingga giginya yang besar-besar terlihat. Tangan kanannya melambai. Pailul yang sedang berbisik kepada Koming nampak geli, wajah Koming terlihat sedang berpikir.

4 Tiga abdi berikutnya sedang berusaha mendahului abdi yang lain. Abdi paling depan bertubuh tambun, giginya rata namun berukuran besar. Tubuh abdi kedua lebih rendah, tapi lebih gemuk. Keduanya sedang tertawa, beda dengan abdi ketiga yang tingginya hampir sama dengan abdi pertama. Wajahnya dihiasi kumis dan terlihat lebih serius. Koming menatap dengan wajah biasa saja, lain dengan Pailul yang melihat dengan takjub.

5 Abdi tambun selanjutnya berlari di tempat seperti kata Mbah “Kalau dia bisanya lari di tempat.” Koming terkikik, Pailul terheran.

6 Seorang abdi dengan badan yang lebih normal terlihat marah. Matanya melotot, gigi dan rahang dirapatkan, tinju dan parang diacungkan. Koming malu melihatnya, garis-garis di wajahnya sebagai penanda. Pailul masih heran, namun dengan wajah yang lebih konyol

7 Satu-satunya abdi perempuan ditampilkan, gayanya kemayu seakan malu-malu. Abdi ini seorang pesolek, alisnya dibentuk, perhiasannya pun banyak (tusuk konde, anting dan kalung), tidak lupa kipas dipegang erat dengan kedua tangannya. Koming menoleh kepada Pailul yang memperhatikan abdi tersebut dengan seksama.

8 Asap dari tungku Mbah semakin membumbung, badan Mbah sedikit mundur dari posisi sebelumnya, tangannya mengarah ke tungku dan ke Koming. Posisi Pailul berubah, ia setengah berdiri sambil bertumpu pada kedua lututnya, memperhatikan Mbah. Koming nampak kaget dan menjauhi asap.

Signifikasi Tahap Kedua (Kode Pembacaan)

1. Hermeneutika:

“Sepertinya orang-orang sudah kebelet duduk di kursi kepemimpinan negeri ini,” kata Mbah dengan tidak suka kepada Koming dan Pailul. Mereka yang duduk dengan tenang di depan Mbah mengatakan “Kita amati biar tidak salah pilih.”

Calon pertama ialah Denmas Ariakendor, menurut Mbah, “Yang ini hanya pura-pura mau menjadi wakil kita padahal mau cari penghasilan besar.” Koming tertawa kecil, sedang Pailul terlihat waspada. Calon berikutnya juga berjalan di atas panggung, senyumnya yang lebar malah mempertegas sifatnya yang serakah. “Wah itu tampak serakah. Lihat dia pamer gigi, “ lanjut Mbah. Koming dan Pailul yang memperhatikan, berbisik dengan geli pada Koming yang sedang berpikir. Ketiga calon selanjutnya nampak tergesa-gesa meninggalkan panggung. Dua di antaranya terlihat gemuk, sedang abdi berkumis tampak tinggi walau badannya tertutup abdi lainnya. “Yaah, mereka sih calon yang rakus, belum-belum sudah saling mendahului,” tambah Mbah. Mata Koming dan Pailul mengikuti mereka.

Di bingkai keempat, seorang abdi tambun tengah melompat di tempat, “Kalau dia bisanya lari di tempat. Mana mungkin bisa membuat

negeri ini maju,” tutur Mbah. Koming terkikik melihatnya, sedang Pailul heran.

Seketika wajah Koming menjadi malu dengan adanya garis bayangan yang menutupi seluruh wajahnya. Pupil Pailul mengecil, tandanya ia sedang kaget sebab melihat calon berikutnya yang membawa parang dengan marah. “Nah itu dia calon yang preman,” kata Mbah.

Lalu muncul abdi perempuan. Rambutnya disanggul rapi, berdandan cantik dan berpakaian lengkap dengan hiasannya. Ia berdiri malu-malu sambil menggenggam erat kipasnya dengan kedua tangan, menurut Mbah, “Dia dikuatirkan setelah duduk di kursinya , menyeleweng meninggalkan keluarganya.” Koming mengalihkan pandangannya kepada Pailul yang mengamati perempuan tersebut.

Sebagai penutup cerita, Mbah mengatakan hasil ramalannya, “Sulit sekali mencari pemimpin yang pandai, memancarkan keyakinan tinggi, tulus, berjiwa besar dan berani ambil resiko, memancarkan capaian baru yang membuat rakyat bersemangat hidup.” Koming yang kaget dengan asap dari tungku Mbah menumpukan badannya pada Pailul yang berdiri di belakangnya. Di atas kepala Mbah ada tulisan, “Wess... Capai ngomong.”

2. Proairetik :

Badan Mbah yang ditegapkan menunjukkan kedongkolannya terhadap para calon pemimpin, “Sepertinya orang-orang sudah kebelet duduk di kursi kepemimpinan..,” katanya di bingkai 1. Koming dan Pailul yang duduk dan menundukkan kepalanya memperlihatkan keputusasaan mereka dan mencoba mengamati para calon. “Kita amati biar tidak salah pilih,” usul Pailul.

Pada bingkai kedua, abdi yang ditunjukkan menyilangkan tangan di depan dada dan berdagu lebih panjang ke depan dari mulutnya yang bermakna congkak, sombong dan mau menang sendiri. Wajahnya pun digambarkan sedang tersenyum licik. Sesuai dengan deskripsi Mbah.

Bingkai ketiga menampilkan abdi dengan gigi ‘mancung’ tersenyum konyol dan melambai kepada masyarakat. Badannya yang lebih besar dari kakinya berarti ia seorang yang tamak.

Bingkai selanjutnya dihiasi tiga orang abdi yang saling berlomba. Posturnya bermacam-macam, tetapi sama rakusnya, “Yaah, mereka sih calon yang rakus. Belum-belum sudah saling mendahului.” Untuk berjalan di atas panggung saja, mereka berusaha saling mengalahkan, apalagi ketika memimpin nanti?

Berikutnya, abdi tambun lainnya yang menurut Mbah lari di tempat, salah satu kakinya terangkat dan tidak menjejak tanah. Lari di tempat berarti jalannya pemerintahan di bawah kepemimpinannya akan mandek, tidak mengalami perubahan apa-apa. Dilanjut oleh abdi yang seperti preman, membawa benda tajam dan tampak sangat emosional. Kakinya yang diangkat serta tangan erkepal berarti ia sangat marah dan ingin menghajar sesesorang, amarah pun nampak dari wajahnya. Matanya melotot, giginya ditampakkan.

Abdi terakhir ialah perempuan cantik dan suka berdandan, ditunjukkan dari wajahnya yang dipoles, dan hiasan yang digunakan. Perempuan ini dikhawatirkan menyeleweng ketika menjabat karena kecantikannya, “..,menyeleweng meninggalkan keluarganya”

Pada bingkai terakhir, Mbah menyimpulkan kriteria pemimpin yang baik menurutnya, yang masih susah dicari di negerinya. Hal tersebut yang membuat Koming tersentak. Sementara Pailul keliahatan biasa saja.

3. Simbolik :

• Pemilik badan gemuk atau buncit diibaratkan sebagai orang yang rakus dan tamak. Begitu juga dengan seseorang yang salah satu bagian tubuhnya digambar berlebihan; gigi yang besar, mata melotot atau dagu yang kelewat panjang. Orang yang membawa benda tajam dan atau berwajang sangar sudah pasti seorang preman.

• Perempuan dibingkai sebagai makhluk yang tidak mampu memikul tanggung jawab, “Dia dikuatirkan, setelah duduk di kursinya,

menyeleweng meninggalkan keluarganya.” Perempuan juga dianggap hanya tahu bersolek sebab perempuan yang ditampilkan di edisi ini digambarkan secara berlebihan; alis yang dibentuk, bahasa tubuh yang manja.

• Panggung tempat para calon berjalan menandakan tingkat sosial mereka yang berbeda dengan masyarakat biasa (Koming dan Pailul) yang berdiri melihat dari bawah. Di depan Koming dan Pailul, digambar garis setinggi dada mereka sebagai jalur para calon.

• Koming dan Pailul yang memperhatikan dari bawah panggung bermakna; masyarakat sebenarnya tahu dan mengerti kebusukan para calon pemimpin negeri. Hanya saja masyarakat tidak mau (atau tidak bisa) untuk memperbaiki, yang mereka lakukan hanyalah menertawai, malu atau saling berbisik atas apa yang dilihatnya.

4. Kultural :

Pria masih dianggap lebih kompeten dalam bidang kepemimpinan sehingga para calon pemimpin mayoritas pria. Seperti yang terjadi di Indonesia, posisi-posisi strategis dalam pemerintahan masih ‘dikuasai’ oleh pria, walau kaum hawa juga sudah mulai mengisi di sana-sini. Meski begitu, para pria yang mencalonkan diri belum memenuhi kriteria yang baik, dan hanya ditampilkan sifat buruknya. Bukan tidak ada calon atau pemimpin di Indonesia yang bersifat sama dengan para calon di negeri Koming.

Kembali pada masalah gender, kaum perempuan yang diwakili satu orang saja dalam cerita pun, malah dianggap tidak mumpuni dan tersirat makna bahwa perempuan baiknya mengurus keluarga saja, “Dia dikuatirkan, setelah duduk di kursinya, menyeleweng meninggalkan keluarganya.” Antonim dari kalimat tersebut ialah; karena dikuatirkan menyeleweng, baiknya perempuan tetap bersama keluarganya saja. Bersama dengan keluarga berarti mengerjakan urusan rumah tangga yang identik dengan sistem kolot zaman dulu.

5. Semik :

Akan terjadi pergantian kepemimpinan di negeri Koming bernanung. Calon-calonnya pun tampil di atas panggung, beragam sifat, gaya dan penampilan para calon tersebut yang dideskripsikan secara gamblang oleh Mbah melalui balon-balon kata yang ada di bagian atas bingkai. Koming dan Pailul sebagai pengamat, melihat dengan berbagai ekspresi dari bawah panggung. Secara tidak langsung, Dwi Koen menyindir semua calon pemimpin negeri baik pria maupun perempuan yang terburu-buru mencalonkan dirinya sebagai kumpulan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tamak dan mau menang sendiri. Hal tersebut diwujudkan melalui perkataan Mbah di bingkai 1 “Sepertinya orang-orang sudah kebelet duduk di kursi kepemimpinan negeri ini.” Lalu dilanjutkan oleh deskripsi negatif Mbah atas calon-calon yang ada. Seperti inilah tampilan persiapan pemilihan umum yang akan terjadi dalam hitungan bulan di Indonesia.

Bursa calon pemimpin didominasi oleh pria. Sayangnya, walau dianggap lebih kompeten dari perempuan, namun kebanyakan tidak amanah atas jabatan yang diincar. Begitu juga yang terjadi di Indonesia. Pemimpin negara perempuan hanya ada satu, itu pun terjadi sebab presiden saat itu, KH. Abdurrahman Wahid mengundurkan diri. Calon legislatif ataupun pemimpin daerah perempuan yang tidak melenceng dari tugasnya masih bisa dihitung jari.

Mitos bahwa perempuan cuma bisa berdandan pun ditunjukkan dengan jelas di sini. Dengan wajah yang penuh polesan; putih, mata melirik manja, alis dibentuk, bibir terkatup rapat sehingga menimbulkan kesan manja. Ditambah dengan bahasa tubuh yang menunjukkan sisi lemah dan tidak mandiri. Pemimpin kenes ini mejadi cerminan dari anggota legislatif, Angelina Sondakh yang merupakan Putri Indonesia namun melakukan korupsi. Dari redaksi kata, konsep kepemimpinan Jawa meyuruh kaum perempuan untuk hanya mengurus keluarga.

Tungku berasap milik Mbah menegaskan sisi mistik dari Mbah seakan segala pengetahuannya berasal dari ‘dunia lain’ yang dipanggil

melalui tungku. Pada bingkai 1, asap membumbung tinggi masih berasal dari tungku, sedang di bingkai 8, asap sudah pelahan naik ke atas (akhir dari ramalan).

Pada akhirnya, Mbah pun menuturkan kriteria pemimpin yang baik, yang merupakan ciri-ciri Ratu Adil seperti dalam ramalan Jangkar Jayabaya: pandai, memancarkan keyakinan tinggi, tulus berjiwa besar, berani ambil resiko, memancangkan capaian baru dan mampu membuat rakyat beremanat (bersemangat) hidup. Pada bingkai terakhir, Mbah menyampaikan kesimpulan atas seluruh calon.

IV.2.6 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 12 Mei 2013