GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN FUNDAMENTALISME
C. Anatomi Fundamentalisme sebagai Gerakan Sosial Keagamaan
Kelompok fundamentalisme sering diidentifikasi dalam ilmu sosial sebagai gerakan sosial keagamaan. Ini berbeda dengan gerakan keagamaan. Gerakan keagamaan adalah gerakan untuk menyebarkan ajaran keagamaan atau interpretasi baru ajaran keagamaan kepada masyarakat. Sementara, gerakan sosial keagamaan berarti aksi kolektif untuk merubah atau mempertahankan tatanan kemasayarakat sesuai dengan cita-cita keagamaan sebagai ideologi ataupun shared values.
Perubahan tersebut bisa di tingkat mikro yaitu perilaku dan pandangan masyarakat atau komunitas yang dalam teori gerakan sosial disebut sebagai gerakan alteratif atau
redemptive. Bisa pula di tingkat makro yaitu perubahan di tingkat institusi sosial ataupun keseluruhan struktur sosial yang disebut gerakan transformatif atau reformatif.
Fundamentalisme muncul sebagai respon terhadap kondiisi perubahan sosial yang diakibatkan oleh modernisme, leberalisme, kapitalisme dan seterusnya.
Kecenderungan mereka berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip keagamaan di samping karena konteks sosial yang dipandang sebagai telah menyimpang dari prinsip-prinsip kegamaan tadi, juga karena prinsip-prinsip keagamaan tersebut mereka mereka gali dari teks-teks kitab suci. Apa yang tertera dalam kitab suci mereka akan berusaha untuk mewujudkannya. Karena bagi mereka apa yang kitab suci katakan itulah prinsip-prinsip kehidupan yang harus dilaksanakan.
William O. Beeman (2002) mengidentifikasi ada empat unsur suatu gerakan fundamentalisme. Keempatnya adalah: revivalisme, orthodoxy, evangelisme dan aksi sosial. Keempatnya akan diuraikan di bagian selanjutnya.
Revivalisme
Gerakan fundamentalisme diinspirasi oleh mitos ganda. Mitos ini dikaitkan dengan era kejayaan sejarah agama di masa lalu dengan utopia masa depan. Era kejayaan agama di masa lalu dilihat sebagai era di mana anggota gerakan atau yang mereka identifikasi sebagai anggotanya terlihat sangat kuat, vital dan mengontrol dunia. Utopia masa depan berkaitan dengan perasaan tanggungjawab anggota untuk mengembalikan masa kejayaan tersebut dengan kekuatan dan keseluruhan gerakan.
Dua hal ini menjadi mitologis yang membangun spirit mereka untuk menghadirkan kembali peran penting agama di dalam kehidupan masyarakat.
Setiap agama memiliki era kejayaan di dalam sejarahnya. Di dalam era kejayaan tersebut diyakini disebabkan oleh berjalannya prinsip-prinsip keagamaan di dalam sistem kemasyarakatan. Sehingga, hal ini menginspirasi bagi gerakan ini untuk menghidupkan kembali prinsip-prinsip keagamaan di dalam kehidupan saat ini agar kejayaan tersebut dapat diwujudkan kembali di masa depan. Prinsip-prinsip keagamaan menjadi orthodoxy atau ideologi bagi gerakan ini yang diyakini menjadi fondasi sekaligus sebagai cita-cita kejayaan agama.
Menurut Beeman, setiap kebudayaan memiliki gerakan kebangkitan kembali di dalam sejarah mereka. seluruh gerekan tersebut muncul dengan karakteristik yang hampir sama yaitu mengandung kemiripan dalam praktek ritual mereka. Hal ini dikuatkan oleh analisis Wallace (dikutip oleh Beeman 2002) yang menguraikan karakteristik gerakan revivalisme ini. menurutnya perubahan sosial melahirkan ketegangan kultural di antara anggota masyarakat. Karena itu, ketegangan kultural
mengakibatkan lahir usaha-usaha untuk mengakomodasi, mengarahkan pada distorsi dan merubah pola-pola sosial yang mengakibatkan kerusakan sosial. Sebagai respon terhadap ketegangan kultural tadi, fundamentalisme muncul dalam bentuk penegasan ulan tentang orthodoxy yang menjadi pola kebudayaan. Respon ini disebarkan melalui evangelisme atau melalui figur-figur kharismatik.
Sementara Eric Sharpe (dikutip oleh Beeman (2002) menerangkan tiga fase perkembangan gerakan fundamentalisme. Pertama adalah penolakan, ketika otoritas- otoritas tradisional seperti moralitas, kepercayaan, pemimpin keagamaan ditentang.
Fase kedua adalah adaptasi sebagai usaha untuk mengakomodasi cara pandangan lama dengan yang baru. Fase ketiga adalah reaksi yaitu dalam mendapat perlawanan dengan kemunculan kelompok fundamentalis.
Orthodoxy
Unsur kedua dari gerakan fundamentalisme adalah orthodoxy. Ortodoxi keagamaan dilihat sebagai paradigma dalam terminologi Thomas Kuhn. Paradigma dalam terminologi Kuhn berarti pandangan dunia yang meliputi seperangkat asumsi dan teori-teori tentang bagaimana dunia bekerja. Bagi gerakan fundamentalis, ortodoxi lebih dari sekedar teori. Ortodoxi merupakan seperangkat keyakinan yang tidak pernah usang yang melingkupi seluruh anggota untuk berserah diri dan berkomitmen di dalam gerakan.
Orthodxy menjadi cara pandang dalam melihat modernitas sebagai sumber dari kerusakan kehidupan masyarakat modern. Ortodoxi juga menjadi cara pandang dalam melihat prinsip-prinsip keagamaan sebagai jawaban tersahih dalam menjawab kerusakan yang dialami masyarakat modern. Agama dan prinsip-prinsip keagamaan menjadi ortodoxi yang membimbing gerakan fundamentalisme dalam melakukan aksi mereka.
Evangelisme
Unsur ketiga gerakan fundamentalisme adalah evangelisme. Gerakan fundamentalis secara umum disebarkan oleh satu atau lebih pemimpin kharismatik.
Mereka memimpin pertemuan para jemaat dan menyampaikan pesan-pesan sentra dari gerakan. Dengan artikulasi yang memukau mereka dapat menginspirasi anggota atau jemaat untuk terlibat dalam gerakan mereka. Gerakan fundamentalis berusaha untuk mengevanjelisasi atau menyebarkan pesan mereka kepada masyarakat secara luas dan meyakinkan mereka tentang kebenaran ortodoxi (ideologi) mereka.
Di awal kemunculannya, evangelisme dilakukan oleh gerakan fundamentalisme melalui cara-cara konvensional dengan mengumpulan orang-orang di suatu tempat tertentu, kemudian sang pemimpin memberikan orasi menyampaikn pandangan-
pandangan ideologis mereka tentang ortodoxi dan revivalisme. Dalam perkembangannya, cara-cara evangelims mengikuti perkemangan teknologi informasi dan komunikasi seperti radio, televisi, televisi komunitas, televisi digital, internet, media sosial. Media komunikasi massa yang berkembang dimanfaatkan oleh aktifis gerakan untuk mengefekifkan penyebaran ideologi mereka secara lebih massif. Yang muncul ke permukaan tidak lagi semata para figur pemimpin kharismatis. Tapi siapa saja dari aktifis tersebut yang bisa tampil melalui media komunikasi massa tersebut.
seperti siapa yang mempunyai kemahiran berorasi dalam pertemuan-pertemuan akbar, kemampuan menjelaskan dalam program-program televisi dan radio, kemampuan mengelola website atau media sosial. Figur kharismatis dalam gerakan fundamentalisme telah digantikan oleh instrumen teknologi komunikasi dan informasi.
Aksi Sosial
Unsur keempat adalah aksi sosial. Aksi sosial merupakan unsur terpenting gerakan fundamentalisme. Tanpa aksi sosial keyakinan akan revivalisme, kebenaran cita-cita ortodoxy, kewajiban menyebarkan ortodoxi tidak akan berarti apa-apa. Aksi sosial yang menjadikan fundamentalisme menjadi gerakan sosial. Karena itu, aksi sosial merupakan karakteristik utama yang dimiliki oleh semua gerakan fundamentalisme. Aksi sosial merupakan kegiatan prinsipil dari organisasi.
Aksi sosial bisa menjadi beragama bentuk dan berbeda dari satu kelompok fundamentalisme dengan kelompok fundamentalisme yang lain. Aktifitas bisa mengambil bentuk penyebaran informasi seperti menyebarkan pandangannya melalui media komunikasi massa seperti radion, televisi, internet, media sosial. Bahkan, adapula yang yang membuat dan mengelola radio dan televisi seperti yang dilakukan oleh satu kelompok keagamaan salafi di Indonesia yang membuat radio dan stasiun televisi Rodja. Stasiun radio dan televisi mereka diakses secara luas oleh masyarakat hampir di seluruh pelosok di Indonesia.
Bentuk aksi lainnya misalnya mengembangkan model pendidikan alternatif dan mandiri yang dikelola sendiri oleh komunitas fundamentalisme. Atau, melakukan aktifitas pelayanan seperti membantu mereka yang kelaparan, mitigasi korban bencana alam. Adapula yang melalukan berbagai program pemberdayaan masyarakat seperti pendampingan usaha kecil dan mikro.
Di samping itu, ada pula yang terlibat dalam proses politik baik melalui saluran partai politik formal atau menjadi kelompok penekan yang mempengaruhi kebijakan dan keputusan politik. adapula dalam bentuk aksi-aksi perlawanan yang pasif seperti menkampanyekan penolakan terhadap nilai-nilai yang dianggap tidak benar. Atau aksi-kasi perlawanan yang aktif bahkan dalam bentuk perlawanan dengan
kekerasaan. Dalam bentuk kekerasan yang ekstrim misalnya yang dilakukan oleh kelompok yang disebtu sebagai terorisme.
Menurut Emerson dan Hartman (2006:137) bahwa tidak semua tindakan kekerasan yang didasarkan atas agama dilakukan oleh kelompok fundamentalis.
Terkadang, agama digunakan untuk menjustifikasi kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang sebenarnya tidak spesifik sebagai kelompok keagamaan. kemudian, tidak semua kelompok fundamentalis melakukan kekerasan.
Faktanya, kebanyakan kelompok fundamentalisme tidak melakukan kekerasan.
Emerson dan Hartman menunjukkan data di Amerika Serikat, beberapa kekerasan yang terjadi dilakukan oleh individul tanpa kaitannya dengan kelompok atau organisasi keagamaan tertentu, seperti teror bom yang dilakukan oleh Timothy McVeigh.
Strategi dan pendekatan kelompok fundamentalis bisa berbeda antar wilayah, agama mapun tipe negaranya. Seperti, fundamentalisme muslim melakukan perlawanan politik dan menggunakan kekerasan seperti dalam penggulingan Syah Iran, di Amerika Serikat kelompok fundamentalisme Kristen melakukan aksi melalui saluran sistem dengan mempengaruhi partai politik atau mempengaruhi perubahan via platform partai, pemilihan kandidat legislatif, atau melalui pemilu. Meskipun adapula yang melakukan kekerasan seperti melakukan pemboman terhadap klinik aborsi di Amerika Serikat (Emerson dan Hartman 2006: 138).
Keempat unsur di atas menjadi unsur yang melekat dalam gerakan fundamentalisme keagamaan. Keempatnya menjadikan fundamentalisme menjadi gerakan sosial karena secara terus-menerus melakukan aksi kolektif dalam mewujudkan cita-cita mereka (ortodoxy) dalam kehidupan sosial. Bagaimana dampak dari gerakan fundamentalisme ini terhadap kehidupan sosial akan kita diskusikan pada bagian berikutnya.