• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian, Sejarah dan Konteks Kemunculan Fundamentalisme Keagamaan

Dalam dokumen KATA PENGANTAR Pengantar Sosiologi Agama (Halaman 144-148)

GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN FUNDAMENTALISME

A. Pengertian, Sejarah dan Konteks Kemunculan Fundamentalisme Keagamaan

Terminologi fundamentalisme menguat dalam diskursus ilmu sosial dalam tiga puluh tahun terakhir. Istilah tersebut terutama merujuk pada kemunculan gerakan- gerakan ortodoxi keagamaan konservatif pada era itu. Yang fenomenal adalah peristiwa Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang menohok kekuatan Amerika Serikat sebagai kekuaan adi daya dunia, karena syah Iran yang digulingkan oleh gerakan Ayatullan tersebut disokong oleh Amerika Serikat. Adapula fenomena Kristen Evangelis, Yahudi ultra-ortodox, militan Sikh, dan gerakan-gerakan dari kelompok keagamaan lainnya seperti pejuang perlawanan Budha, militan Hindu dan lain sebagainya.

Dalam lima seri buku yang dieditori oleh Gabriel Almond dkk, Fundamentalisme Project (2003: 17), fundamentalisme didefinisikan sebagai berikut:

IXQGDPHQWDOLVP DV ³D GLVFHUQLEOH SDWWHUQ RI UHOLJLRXV PLOLWDQFH E\ ZKLFK VHOI- VW\OHG µWUXH EHOLHYHUV¶ DWWHPSW WR DUUHVW WKH HURVLRQ RI UHOLJLRXV LGHQWLW\, IRUWLI\ WKH borders of the religious community, and create viable alternatives to secular LQVWLWXWLRQV DQG EHKDYLRUV.´

Sementara Antoun (dikutip Emerson dan Hartman 2006: 130) mendefinisikan fundamentalisme sebagai beriktu:

fundamentalism as a religiously based cognitive and affective orientation to the world characterized by protest against change and the ideological orientation of modernism.

Kedua definisi di atas menempatkan fundamentalisme dalam konteks perkembangan sosial yang diakibatkan oleh modernitas dan modernisasi serta sekularisasi sebagai implikasi dari modernisasi tersebut.

Menurut Emerson dan Hartman (2006:131-132) dan William Beeman (2002) istilah fundamentalisme pertama kali digunakan untuk mendsekripsikan ketegangan di kalangan protestan konservatif yang berkembangan di Amreika Serikat dari tahun 1870 sampai 1925 karena menghadapi gejala modernisasi yang melanda Amerikan dengan begitu massif.Amerika Serikat ketika itu dipandang sebagai pemimpin modernisasi dunia. Nama fundamentalisme sendiri diambil dari pamflet atau booklet yang dipublikasi oleh gerakan keagamaan protestan konservatif tersebut yang menggunakan judul atau tagline: ³The fundamentals: A Testimony of the Truth.´

Pamflet ini dipublikasikan sepanjag 1910 sampai 1915. Isi dari pamlet tersebut adalah garis besar fondamen, aspek-aspek yang tidak bisa ditawar-tawar dari keyakinan Kristen, sebagaimana yang disepakati oleh pemimpin Kristen Konservatif saat itu.

Model gerakan fundamentalis saat itu tidak melakukan protes atau perlawanan terhadap negara, tapi lebih kepada sesama kelompok atau organisasi protestan lainnya yang dipandang memodernisasi dirinya, menawarkan pandangan protestan yang progresif. Fundametalisme masa itu melakukan protes militan terhadap upaya- upaya memodernisasi keyakinan Kristen, dan melawan perubahan sosial yang diakibatkan oleh modernisme.

Gerakan fundamentalisme keagamaan di Amerika Serikat kembali muncul pada era 1970an seiring dengan kebangkitan gerakan keagamaan konservatif di seluruh dunia. Gerakan fundamentalisme keagamaan yang muncul kembali secara spektakuler adalah keberhasilan revolusi Iran yang dipimpin oleh para Ayatullan (pemimpin tertinggi agama islam Syiah) yang menggulingkan Syah Reza Pahlevi, pemimpin Iran yang didukung oleh Amerika Serikat. Sejak saat itu gerakan

fundamentalisme sering dikaitkan dengan perlawanan terhadap negara sehingga kajian tentang fundamentalisme banyak dilakukan oleh kalangan ilmuwan politik.

Sosiologi juga tidak ketinggalan mengkaji fenomena fundamentalisme ini.

Lawrence dalam karyanya: Defender of God: The Fundamentalist Revolt Aginst the Modern Age (1989) mendeskripsikan fenomena fundamentalisme di dalam kerangka

perkembangan modernisme. Fundamentalisme merupakan gerakan ideologi ketimbang teologi, sebagai bentuk perlawanan terhadap perkembangan modernisme tersebut. Di sini Lawrence menempatkan fundamentalisme dalam konteks perkembangan historis tertentu dan sebagai kategori sosio-kultural. Sebelumnya, Nancy Ammerman, dalam karyanya Bible Believers (1987), melakukan studi mendalam tentang kehidupan fundamentalis kontemporer dan menggambarkan hubungan antara fundamentalisme dan modernitas.

Menurut Riesebrodt, kajian Sosiologi tentang fundamentalisme membentuk dua arah utama (dalam Emerson dan Hartman 2006: 133). Yang pertama yang menempatkan fundamentalisme sebagai upaya terakhir dari agama melakukan perlawanan kolektif di seluruh dunia terhadap arus modernisasi dan sekularisasi. Aksi kolektif dimaksudkan agar agama dapat bertahan di tengah gelombang sekularisasi tersebut.

Arah kedua yang disebut sebagai paradigma baru, bahwa modernisasi dan sekularisasi merupakan lahan yang subur bagi kebangkitan kembali agama, khususnya dalam bentuk ketegangan fundamentalis. Di mana tanda-tanda modernisasi menguat, begitu pula di sana terjadi penguatan keterlibatan agama.

Konteks kemunculan fundamentalisme tidak bisa dilepaskan dari perkembangan modernitas dan sekularisasi. Modernisasi di Barat menghadirkan gelombang perubahan yang menghancurkan nilai-nilai tradisional atau nilai-nilai keagamaan, melemahkan ikatan sosial, serta menggerus makna kehidupan. Para fundamentalis mengklaim perjuangan mereka sebagai perjuangan kebenaran, memelihara kehidupan, serta panggilan hidup. Mereka berjuang melawan opresi sekular, kekosongan, anomi dan pembatasan kebebasan (Emerson dan Hartman 2006: 131).

Seperti yang dideskripsi oleh Bruce (2000) bahwa fundamentalisme merupakan respon rasional dari kelompok keagamaan terhadap perubahan sosial, politik dan ekonomi yang merendahkan dan menghalangi peran agama di dalam ruang publik.

³)XQGDPHQWDOLVP is the rational response of traditionally religious peoples to social, political and economic changes that downgrade and constrain the role of religion in the public world Fundamentalists have not exaggerated the extent to which modern FXOWXUHV WKUHDWHQ ZKDW WKH\ KROG GHDU.´ (Bruce (2000: 117 sebagaimana juga dikutip Emerson dan Hartman 2006: 131)

Fundamentalisme sering dikaitkan dengan revivalisme yaitu semangat kebangkitan kembali agama. Dalam modernitas rasionalisasi dan penemuan sains diyakini bakal dapat menjawab problem yang dihadapi manusia. Namun, dalam perkembangannya ada celah-celah dalam kehidupan yang ternyata tidak mampu dihawab oleh sains. Misalnya ada dimensi-dimensi yang tidak bisa dijelaskan oleh sain seperti intuisi, emosi, seperti di dalam dunia manajemen seperti perusahaan, dulu sering dijelaskan menggunakan konsep manajemen organisasi yang rasional yang di dalam sosiologi dikenal dengan birokrasi Weber seperti pembagian kerja, pendelegasian wewenang serta produktifitas. Dalam perkembangannya ternyata banyak organisasi dan perusahaan berkembangan bukan semata-mata karena kalkulasi rasional tersebut, tapi didorong oleh passion (hasrat) untuk melakukan sesuatu. Passion ini tidak bisa dijelaskan oleh rasionaltias modern. Karena, masyarakat modern mulai mencari kembali di luar rasionalitas ilmiyah untuk menjelaskan hidup dan hakikat kehidupan ini. seperti pencarian tentang kecerdasan emosi (Daniel Goleman 2005) atau bahkan kecerdasan spiritual (Danah Zohar dan Ian Marshal 2001).

Fundamentalisme adalah kelompok keagamaan yang menganggap agamanya sebagai suatu penting dan segala-galanya, agama dipandang sebagai orientasi kognitif dan afektif yang berbasis agama yang ditandai dengan protes terhadap perubahan dan orientasi ideologi modernisme ataupun modernitas. Agama tidak hannya diyakini sebagai suatu afeksi, tapi juga sebagai kongnisi berupa kerangka penjelas, sebagai jawaban-jawaban rasional dalam menjelaskan kehidupan, seperti mengapa pendidikan penting menurut agama, mengapa politik harus disesuaikan dengan nilai-nila agama, mengapa berekonomi penting menurut aturan agama.

Kemudian fundamentalisme muncul sebagai protes terhadap persoalan sosial dan kehidupan yang diakibatkan oleh modernisme. Kelompok keagamaan fundamentalisme berpegang teguh pada prinsip-prinsip kegamaan seperti yang tertuang dalam kitab suci. Modernitas dikhawatirkan akan mengakibatkan keaslian agama tergerus oleh rasionalitas modernitas. Perubahan sosial yang diakibatkan oleh modenrisme dianggap merusak tradisi-tradisi keagamaan yang dipertahankan oleh kelompok keagmaaan. Tujuan mereka adalah mempertahankan tradisi-tradisi keagamaan yang mereka anggap sebagai suci. Sementara, tradisi keagamaan telah dirusak oleh modernitas dan oleh kelompok-kelompok lain.

Karena itu, mereka menginginkan masyarakat kembali kepada prinsip-prinsip keagamaan (kitab suci). Modernitas dianggap membuat masyarakat telah menjauhi

agama. Akibat dari modernisme dan sekularisme adalah hancurnya nilai-nilai tradisional keagamaan, merusak keyakinan keagamaan masyarakat, liberalisme individu yang mengakibatkan kehancuran moralitas (seperti kehidupan seks bebas, percintaan sejenis, hedonisme, permisivisme, nilai keluarga yang hancur) yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan seperti yang didasarkan atas prinsip-prinsip keagamaan.

Modernisme dianggap sebagai faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Kerusakan lingkungan dianggap berasal dari cara pandang antroposentrisme dalam modernisme yang memandang manusia sebagai pusat dan penguasa kehidupan sehingga alam boleh dan harus ditaklukkan untuk kepentingan manusia. Ketika alam harus ditaklukkan kemudian dieksploitas maka alam menjadi rusak. Berbeda dengan pandangan agama bahwa meskipun alam diciptakan untuk manusia, tapi harus dijaga oleh manusia.

Dalam dokumen KATA PENGANTAR Pengantar Sosiologi Agama (Halaman 144-148)